
Juna terlihat melamun saja, entah apa yang dia pikirkan namun hal itu membuat Dika keheranan sendiri. Padahal biasa nya, Juna tidak pernah seperti ini disaat dia sedang bekerja. Itu membuat Dika heran, jelas sekali kalau Juna sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa, Jun?" Tanya Dika sambil duduk, kebetulan saat ini mereka bisa bersantai sejenak karena tidak terlalu banyak pelanggan yang datang.
"Gapapa, pelanggan udah pada balik?"
"Masih ada beberapa sih, Jun. Tapi di handel sama yang lain, pinggang gue sakit banget anjir lah." Jawab Dika sambil mengusap-usap pinggang nya.
"Masih muda udah encok aja lu."
"Ckkk, Lo nggak gitu?"
"Hehe, sama aja sih. Tapi gue mah bukan pinggang yang sakit, tapi punggung." Jawab Juna sambil terkekeh.
"Lo kenapa? Gue perhatiin Lo bengong aja tadi, sehabis makan sama cewek Lo. Kenapa?" Tanya Dika lagi membuat Juna menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Insecure gue, Dik."
"Insinyur kenapa Lo?"
"Insecure anjir, apa-apaan Lo!"
"Hahaha, iya iya lah. Lidah gue terlalu melokal, jadinya salah denger. Jadi, Lo insecure kenapa?" Jawab Dika sambil meminum minuman yang dia pesan untuk menemani nya. Dika juga menyalakan sebatang rokok lalu menyesap nya, di tempat ini area bebas merokok.
"Ngerokok gak Lo?" Tawar Dika sambil mengulurkan sebungkus rokok namun Juna dengan cepat menolak, dia tidak ingin bibir nya terkontaminasi dengan nikotin. Itu akan membuat rasa bibir nya berbeda, bahaya nanti kalau Airyn tidak mau lagi berciuman dengan nya, padahal ciuman dengan Airyn rasa nya sangat candu.
"Gak lah, cewek gue gak suka kalo gue ngerokok."
"Kenapa?"
"Dia suka sama bibir gue, katanya manis. Kalo campur sama rokok, nanti dia komplen terus gak mau ciuman lagi sama gue kan berabe." Jawab Juna sambil tertawa.
"Hmmm, bucin amat Lo."
"Cinta banget emang gue sama Airyn, Dik."
"Sabi gue tikung kali ya?" Goda Dika sambil memainkan alis nya naik turun.
__ADS_1
"Lo pulang lewat mana btw?"
"Haha, gak jadi deh."
"Ckk.." Juna berdecak kesal saat mendengar ucapan Dika.
"Gue sebenernya gak percaya diri pacaran sama Airyn, Dik." Lirih Juna akhirnya. Dika menoleh lalu tersenyum kecil.
"Gak pede kenapa? Lo ganteng begini."
"Ganteng doang gak cukup, gue cuma pelayan restoran tapi cewek gue direktur anjir. Bahkan bukan direktur lagi, dia mah CEO, Dik." Jawab Arjuna yang membuat Dika terkekeh.
"Gue ngerasa gak pantes aja gitu buat pacaran sama cewek sekelas Airyn."
"Gue nanya nih, Lo cinta gak sama Airyn?" Tanya Dika sambil menatap mata Juna. Pemuda itu menganggukan kepala nya pelan, pertanda kalau jawaban atas pertanyaan Dika adalah iya.
"Kalo kalian sama-sama cinta, sama-sama nyaman, gak usah insecure, Jun. Gak usah ngerasa Lo pantes atau gak pantes, kalian bahagia kan? Udah, jalanin aja dulu."
"Tapi orang-orang pasti mikirin yang enggak-enggak sama gue, Dik. Gue gak mau di cap manfaatin cewek gue, kita beda."
"Gak usah dengerin apa kata orang, pentingin aja perasaan kalian berdua. Lo cinta sama Airyn kan, begitu juga sebaliknya."
"Ya gak salah sih tapi salah."
"Kalo gak salah ya berarti bener, Dik."
"Intinya, kalo kalian emang saling mencintai jalanin aja. Pasti ada jalan keluar nya, kita gak tahu gimana ke depan nya kan?"
"Hmm, gue takut hubungan ini berakhir gak baik, Dik."
"Gak usah mikir macem-macem, Juna. Lo harus percaya sama cinta kalian, terutama sama Airyn." Jelas Dika membuat Juna menoleh lalu tersenyum kecil. Dia menganggukan kepala nya.
"Iya, Dik. Thanks ya, sedikit lega gue sekarang."
"Santai aja, kita kan temenan." Jawab Dika sambil tertawa, hingga asap rokok nya menguar kemana-mana.
"Bau Lo.."
__ADS_1
"Enak aja, gue udah mandi tadi pagi."
"Dihh, bau rokok. Udah, ayo matiin rokok nya kita balik kerja."
"Oke." Jawab Dika, dia memutar puntung rokok nya di atas asbak lalu pergi mengikuti Arjuna. Dia memang selalu mengintili Juna kemana-mana.
"Gak usah ngintilin gue bisa gak?"
"Lah, emang kenapa? Suka-suka gue dong."
"Dih, gue gak mau nya di cap jadi cowok pelangi karena Lo ngikutin gue kemana-mana."
"Enak aja, gue masih lurus. Cuma kalo ada yang nanya kenapa sampai sekarang masih jomblo, ya alesan nya karena belum nemu aja yang cocok." Jawab Dika sambil terkekeh.
"Gak usah banyak pilih-pilih, Dik. Muka Lo pas-pasan gini."
"Iya deh si paling tampan." Jawab Dika, dia tidak tersinggung sama sekali. Mereka sudah biasa bercanda seperti ini, jadi bagi Andika sudah biasa dan dia sama sekali tidak merasa sakit hati. Lagian karakter Juna memang seperti ini, sekalinya bicara suka pedes kayak sambel seblak level sepuluh.
"Seenggaknya gak good looking ya good rekening, Dik."
"Kena mental gue, Jun." Jawab Andika sambil tertawa. Lagi-lagi dia tidak merasa tersinggung sama sekali, bahkan dia masih bisa tertawa setelah mendengar ucapan Arjuna.
"Haha, udah yok kerja lagi." Ajak Arjuna, dia mengambil kain lap dan juga semprotan untuk mengelap meja yang cukup berantakan setelah pelanggan nya pergi. Juna bekerja dengan sepenuh hati, dia tidak merasa di bebankan sama sekali.
"Hai Jun.."
"Apa lagi sih, Nis? Bisa gak jangan ganggu gue?" Tanya Juna dengan ketus, berbeda sekali dengan cara dia berbicara pada kekasih nya, Airyn. Dia selalu berkata dengan lembut dan penuh kasih sayang, tidak pernah dia berbicara ketus seperti ini meskipun dia sedang marah karena cemburu tadi.
"Cewek tadi siapa, Jun? Keliatan nya kalian deket banget. Jangan-jangan dia pacar kamu ya, Jun?"
"Kalo iya memang nya kenapa?"
"Lho kok kamu gitu sih, Jun? Terus aku gimana?" Tanya Nisa. Gadis itu terus saja mengejar-ngejar Juna, padahal pemuda itu tidak merespon nya sama sekali.
"Bukan urusan gue."
"Wah-wah, bibit pelakor nih kayaknya." Celetuk Dika sambil menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
.......
🌻🌻🌻🌻🌻