
"Sayang, pulang yuk? Capek, pengen tidur." Rengek Juna. Airyn pun mengiyakan, kedua nya pun keluar dari restoran dengan Juna yang menenteng dua kresek besar di tangan kanan dan kiri nya berisi bahan makanan tadi. Airyn juga membawa satu kresek berukuran lebih kecil berisi barang yang lebih ringan seperti tissu dan beberapa barang lain nya.
Kedua nya terlihat sangat mesra, sungguh demi apapun kedua nya terlihat sangat serasi. Membuat seseorang yang sedari tadi memantau kedua nya terlihat menyunggingkan senyuman kecil nya, dia terlihat sedikit senang begitu melihat kedua nya keluar dari kawasan supermarket itu dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain, meskipun kedua nya terlihat sangat repot membawa barang belanjaan, namun mereka masih bisa berpegangan tangan.
Pasangan itu pun memasuki mobil dan wanita itu langsung melajukan kendaraan nya dengan kecepatan rata-rata. Juna juga masih mengikuti kursus mobil, namun hari ini dia tidak ingin latihan karena dia sedang ingin berduaan dengan Airyn. Karena besok, wanita itu akan pulang dulu ke rumah nya.
"Sayang.."
"Iya, kenapa sayang?" Tanya Airyn sambil menoleh sedikit ke arah sang kekasih.
"Aku bakalan kangen sama kamu nanti nya, sayang."
"Kita bisa video call, bertukar pesan setiap hari, setiap jam, kalau perlu setiap menit atau setiap detik nya, sayang. Aku juga kan udah janji bakalan sering berkunjung ke apartemen, sayang."
"Iya, tapi malam nya kan.."
"Nanti juga aku bakalan cari kesempatan biar kita bisa tidur bareng, gimana?" Tanya Airyn membuat wajah Arjuna berbinar seketika.
"Oke deh kalo gitu."
"Yaudah, sampai di apartemen kita mandi, beres-beres terus tidur. Oke?"
"Masih siang lho, Bby."
"Manja-manjaan dulu, mau gak?" Tanya Airyn sambil tersenyum kecil.
"Mauu, kalau cium, peluk, sama mainin itu boleh?"
"Boleh dong, sayang. Puas-puasin minum susu nya, oke?"
"Oke, sayang. Aku masih dalam masa pertumbuhan jadi wajar aku suka nyusu." Jawab Arjuna yang membuat Airyn tergelak sendiri. Dia geli mendengar ucapan Arjuna. Dalam masa pertumbuhan katanya? Padahal, kan susu yang ini tidak mempengaruhi pertumbuhan, hanya saja Juna yang doyan.
__ADS_1
"Kamu masih dalam masa pertumbuhan aja udah segede ini, gimana kalau kamu terus minum susu?"
"Jadi, ceritanya gak boleh minum susu lagi aku nya karena udah gede apa gimana?" Tanya Arjuna yang membuat Airyn terkekeh pelan. Bukan itu yang dia maksud.
"Lah, bukan gitu. Kamu sensitif banget deh, Bby."
"Habisnya, tadi katanya boleh tapi sekarang kayak gak ngebolehin, padahal kan enak."
"Tapi kan gak ada air nya, sayang."
"Tapi sensasi nya beda lho sama minum susu pake gelas, sayang." Jawab Juna sambil menyedekapkan kedua tangan nya di dada untuk meluapkan ke kesalan nya.
"Iya iya, kan minum nya dari sumber nya langsung. Gak kebayang kalau kita punya anak nanti deh."
"Gak kebayang kenapa emang nya, Bby?"
"Kayak nya, nanti kamu sama anak kamu bakalan rebutan deh."
Selang setengah jam kemudian, Airyn dan Juna pun sampai di apartemen, kedua nya pun berjalan berdampingan dengan saling bergandengan tangan.
"Pak, tolong bawain belanjaan saya ke apartemen ya? Di bagasi mobil."
"Baik, Nona. Akan saya ambil dan akan saya antarkan ke apartemen anda." Jawab petugas keamanan itu. Juna menganggukan kepala nya dengan sopan, dia juga tersenyum ramah saat melihat petugas keamanan itu, entahlah perasaan nya terasa sedikit sedih saat melihat sosok pria paruh baya dengan setelan putih dan hitam, khas ala satpam.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Tidak, sayang. Tapi melihat nya, membuat hati ku sedikit berdebar."
"Hmm, memang nya kenapa?" Tanya Airyn lagi. Dia tau ekspresi apa yang di tunjukkan oleh Arjuna, terlihat sendu.
"Aku merindukan bapak, sayang."
__ADS_1
"Lho, memang nya bapak kamu kemana?" Tanya Airyn membuat Arjuna menoleh, lalu menatap wajah cantik Airyn dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bapak udah gak ada, sayang. Dia pergi ke langit tinggi dan menjadi bulan." Jawab Juna sambil tersenyum kecil, namun di balik senyuman itu ada rasa sakit yang bisa Airyn lihat. Juna tidak pandai menyembunyikan perasaan nya sendiri, jadi Airyn tahu kalau saat ini pemuda itu sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang.."
"Tidak apa-apa, sayang. Aku baik-baik saja, hanya mungkin sedikit merindukan bapak. Tidak banyak moment kebersamaan antara aku dan bapak, itu yang aku sesalkan." Jelas Juna membuat Airyn mengusap lengan besar sang kekasih dengan perlahan dan penuh kelembutan.
"Bapak kamu pasti bangga lho liatin kamu dari atas, kamu kan anak yang sangat di bangga-banggakan oleh Mamak kan? Bapak pasti bangga karena melihat putra kecil nya kini tumbuh dewasa dan menjadi tulang punggung keluarga." Lirih Airyn membuat Juna menganggukan kepala nya.
"Bapak kamu juga pasti senang melihat putra nya menjadi sosok pemuda yang tampan dan bertanggung jawab."
"Terimakasih, sayang. Tidak terhitung berapa kali aku bersyukur karena mengenal dan bertemu dengan mu, sayang." Jawab Arjuna sambil tersenyum. Airyn juga membalas senyuman sang kekasih tak kalah manis nya, dia pun memeluk lengan besar sang kekasih dan menyandarkan kepala nya disana.
Sandaran yang sangat nyaman bagi Airyn, sudah lama dia tidak bersandar senyaman ini pada orang lain, karena dia khawatir kalau dia tengah nyaman bersandar di pundak seseorang, dia pergi dan membuat nya hilang keseimbangan, seperti yang sudah-sudah. Dia tidak ingin mengulangi nya lagi, namun saat bersama Juna rasanya sangat jauh berbeda.
Pemuda itu memberikan semua yang dia butuhkan, dia memperhatikan nya, dia juga memanjakan nya. Tidak perlu dengan materi atau kemewahan, Airyn tidak membutuhkan itu semua, karena dia sudah memiliki semua nya. Apa yang dia inginkan dari sosok seorang pria, hanya kasih sayang, tanggung jawab dan sudah jelas dia tidak melihat dari apa yang Airyn miliki dan Juna adalah orang nya.
Di lain sisi, di sebuah rumah besar milik Jonathan. Pria paruh baya itu melangkahkan kaki nya dengan langkah tegap, namun wajah datar nya menghilang entah kemana. Wajah nya nampak berseri-seri, terlihat jelas kalau dia tengah merasakan kebahagiaan saat ini.
"Sudah pulang, Mas."
"Hmm, kemarilah." Ajak Jonathan, wanita paruh baya berstatus istri nya itu mengernyitkan kening nya, namun dia tetap mengikuti ucapan sang suami. Kedua nya duduk berdampingan di sofa yang ada di ruang tamu.
"Ada apa, Mas? Wajah kamu terlihat berbinar, kamu sedang bahagia?"
"Iya, kamu tahu Sintia? Anak kita sudah memiliki kekasih."
........
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1