
"Aahh maaf, silahkan masuk. Tapi maaf, rumah nya berantakan." Ucap wanita paruh baya itu, dia mengusap-usap tangan nya untuk bisa berjabat tangan dengan Airyn.
"Salam kenal, saya Mirna. Mamak nya Juna."
"Airyn, Mak." Jawab Airyn sambil tersenyum, tanpa ragu dia menjabat tangan Mirna dan juga memeluk nya.
"Aduh, Nak. Maaf, pakaian Mamak lusuh, habis nyuci."
"Lho, gapapa Mak." Jawab Airyn, lagi-lagi dengan senyum manis nya.
"Mari masuk, Nak." Ajak Mirna dengan ramah. Airyn melirik Juna dan menganggukan kepala nya. Kedua nya pun masuk ke dalam rumah sederhana itu, sedangkan Bima memilih duduk di luar sambil menikmati pemandangan yang asri. Maklum di pedesaan, masih di dominasi banyak kebun, sawah dan hutan. Udara nya juga masih terasa sangat sejuk.
"Masuk, Nak." Ucap Mirna.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya betah disini, udara nya sejuk." Jawab Bima.
"Mau ngopi?" Tawar Mirna.
"Boleh deh, Bu. Kopi hitam saja."
"Tunggu sebentar ya, Ibu beli dulu kopi nya di depan." Jawab Mirna. Wanita paruh baya itu pun pergi ke depan untuk membeli kopi dan beberapa cemilan, maklumlah kedatangan Juna kan mendadak, mana ada persiapan kan?
Di dalam rumah, Airyn duduk lesehan di atas karpet tipis yang lusuh. Wanita itu mengedarkan pandangan nya menatap ke sekeliling rumah, sedangkan Juna sedang berada di kamar mandi yang ada di belakang.
"Rumah nya sederhana, tapi rapih dan bersih." Gumam Airyn. Dia beranjak dari duduk nya, lalu melihat sebuah poto yang terpajang di dinding bambu. Nama nya juga rumah panggung, dinding nya terbuat dari bambu yang di anyam atau disebut dengan bilik.
"Ini Juna? Dia tidak berubah sama sekali, dari dulu sampai sekarang dia tetap menggemaskan. Hanya saja sekarang, dia terlihat jauh lebih tampan dan dewasa." Gumam Airyn sambil tersenyum. Dia mengusap bingkai poto yang terdapat poto seorang anak kecil.
"Lagi apa, yang?" Tanya Juna yang baru saja kembali dari belakang.
"Ini liat poto, yang. Ini kamu pas masih kecil bukan?" Tanya Airyn sambil tersenyum.
"Hehe, iya. Dulu itu pas ada acara lomba di sekolah, bokem banget gak sih aku vibes nya?"
"Hahaha, iya bokem."
"Tapi tetep gemesin kan?" Tanya Juna sambil tersenyum kecil. Airyn terkekeh, memang Juna ini sangat menggemaskan, dari dulu sampai sekarang. Wajah nya tidak berubah sama sekali, masih lucu dan tampan. Beda nya, sekarang dia menjelma menjadi pemuda yang tampan berbadan kekar. Airyn malah tidak percaya kalau Juna ini masih berusia 19 tahun, tapi ketika melihat kartu identitas nya, barulah dia percaya. Begitupun sebaliknya, Juna juga tidak percaya ketika Airyn mengatakan kalau usia hampir kepala tiga.
"Iya, dari dulu sampai sekarang kamu gemesin banget deh."
"Sekarang bukan gemesin, tapi aku ganteng kan? Jangan lupa, aku juga bisa bikin kamu mendesaah keenakan lho."
__ADS_1
"Juna heh.." ucap Airyn sambil menggeplak manja lengan besar Juna. Itu membuat Arjuna tergelak.
"Kenapa kamu mukul? Kan bener, yang. Kamu suka banget tuh manggil-manggil aku sambil merem melek."
"Ckkk, dasar bocil mesuum!"
"Mesuum-mesuum gini, aku ini pacar kamu lho. Ralat, calon suami gak sih? Kan kita kesini tujuan nya mau minta restu."
"Mimpi apa ya aku nikah sama berondong?"
"Dream comes true, baby. Mau gak mau, kamu harus nikah sama aku."
"Ya iya, lagian siapa yang gak mau nikah sama kamu?" Tanya Airyn sambil tersenyum.
"Jelas kamu mau, kamu kan bucin setengah mati sama aku." Jawab Juna sambil merangkul sang kekasih.
"Iya, aku bucin. Puas kamu?"
"Puas banget, seneng banget denger kamu bucin."
"Dihh, kamu tuh ya." Airyn mencubit perut rata sang kekasih, membuat Juna meringis. Meskipun cubitan nya itu kecil, tapi terasa cukup menyakitkan.
Tak lama kemudian, Mirna datang dengan menenteng sebuah kresek berisi kopi dan beberapa cemilan.
"Kopi hitam aja, Mak."
"Iya, mau kopi juga Nak Airyn?" Tanya Mirna sambil tersenyum.
"Gak usah, Mak. Jangan repot-repot, Airyn bukan tamu disini."
"Tidak apa-apa, Nak. Kalau tidak mau kopi, biar Mamak bikinin teh manis aja ya?" Tawar Mirna lagi. Airyn menganggukan kepala nya pelan. Dia merasa tidak enak kalau menolak tawaran calon mama mertua nya itu.
Mirna pun pergi ke dapur yang ada di bagian belakang, Juna tersenyum kecil sambil menaik turunkan alis nya dengan genit.
"Apa sih?" Tanya Airyn ketus.
"Cieee, kamu gugup ya sama Mamak?"
"Dih, enggak ya. Lagian, tumben kok kamu minum kopi hitam? Biasa nya juga kopi susu atau latte."
"Kan susu nya ada di kamu, sayang."
__ADS_1
"Mesuum! Dahlah, aku mau nyusulin Mamak aja deh." Ucap Airyn, dia pun pergi ke bagian belakang rumah, untuk membantu Mirna membuat kopi.
"Mamak.." Panggil Airyn.
"Ehh, nak Airyn. Ada apa, Nak? Mau ke kamar mandi? Itu disana." Tunjuk Mirna ke arah pintu kayu yang terlihat sudah lapuk.
"Enggak kok, Mak. Airyn mau bantuin Mamak, boleh ya?"
"Gak usah, Nak. Ini tinggal nyeduh kopi nya."
"Yaudah, nanti Airyn bantuin bawa ke depan aja deh." Jawab Airyn sambil tersenyum.
"Ya sudah." Pasrah Mirna, dia tersenyum ketika melihat wajah cantik Airyn. Dia tidak menyangka kalau kekasih sang putra ternyata cantik seperti artis Korea yang sering dia lihat di televisi. Cantik, putih, tinggi, dengan rambut panjang bergelombang. Hidung nya bangir dengan mata nya bulat, sempurna. Pantas saja, Juna selalu menyebut-nyebut nama Airyn ketika mereka bertukar kabar melalui telepon.
Setelah selesai, Airyn pun membantu Mirna membawakan kopi dan teh untuknya, sedangkan Mirna membawa segelas kopi untuk Bima.
"Sayang, ini kopi nya." Ucap Airyn dengan mesra.
"Makasih, ayang."
"Iya, sama-sama." Jawab Airyn sambil tersenyum, dia kembali duduk lesehan di samping Juna. Tidak ada sofa disini, rumah nya juga terbilang kecil namun tertata rapih dan bersih.
"Nak, ini kopi nya. Masuk atuh, ngopi nya di dalem sama Juna."
"Iya, Bu. Sambil ngerokok soalnya, Nona Airyn gak tahan asap rokok. Dia batuk-batuk nanti." Jawab Bima, akhirnya Mirna pun mengiyakan. Akhirnya dia memilih masuk dan duduk di hadapan pasangan kekasih yang enggan berjauhan itu. Mereka duduk berdempetan seperti perangko, kelihatan benar kalau Juna maupun Airyn sama-sama bucin.
"Mamak.."
"Iya, Jun. Ada apa?"
"Begini, Mak. Juna sama Airyn pulang kesini mau izin sama Mamak."
"Izin apa, sayang? Jangan bikin Mamak khawatir dong."
"Juna mau menikahi Airyn." Ucap Juna to the point.
"H-aahh? Kamu gak salah, Jun?"
"Enggak, Mak. Daddy nya Airyn juga udah setuju kalau Juna nikah sama Airyn, malahan Juna sama Airyn kesini tuh atas suruhan Daddy nya Airyn." Jelas Juna, membuat Mirna terdiam. Sudah sejauh itukah hubungan putra nya dengan wanita yang kini duduk di samping nya itu?
......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻