
"Sayang, gimana cuanki nya? Enak gak?" Tanya Juna pada Airyn. Dia khawatir kalau rasa makanan ini tidak sesuai dengan lidah orang kaya seperti Airyn.
"Enak, enak banget malah. Di kota, mana ada yang jualan begini. Kalau ada, aku pasti beli setiap hari, yang." Jawab Airyn sambil tersenyum kecil. Dia menyukai rasa makanan yang dia beli itu, gurih, asin, pedas dan juga kuah yang berkaldu itu menyatu menjadi satu di dalam mulutnya.
Untuk harga lima ribu, ini benar-benar worth it. Ini sangat enak dan juga porsi nya banyak, dia memesan dua porsi sekarang perutnya kekenyangan.
"Aduh, kenyang banget." Ucap Airyn sambil mengusap perutnya. Dia menghabiskan dua porsi cuanki itu dengan cepat, bahkan habis dengan kuah-kuah nya sekalian. Bersih tak bersisa kecuali mangkuk nya.
"Allhamdulilah, sayang."
"Hehe, iya allhamdulilah." Jawab Airyn sambil tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu suka makanan nya, itu makanan khas daerah sini, sayang. Disini banyak yang jualan makanan kayak gini." Jelas Juna sambil tersenyum kecil.
"Banyak? Tapi di pikul kayak gitu juga, yang? Kasian, mana udah bapak-bapak tua lagi."
"Iya, di pikul kayak gitu. Disini aja yang punya motor cuma berapa orang. Makanya, mereka langsung ngerubungi mobil kamu pas kita sampai kesini, yang."
"Ohh gitu tah?"
"Iya, sayang. Kamu tahu gak kalau cuanki itu singkatan?" Tanya Juna membuat Airyn mengernyitkan kening nya dengan heran.
__ADS_1
"Enggak tuh, emang ada singkatan nya? Cuanki tuh makanan kan, hanya itu yang aku tahu, hehe." Jawab Airyn pelan.
"Cuanki tuh singkatan dari cari uang jalan kaki, sayang. Makanya yang jualan nya selalu jalan kaki di pikul gitu."
"Ohh gitu ya? Hahaha, lucu juga." Airyn tergelak mendengar jawaban Juna. Padahal, Juna serius tapi bagi Airyn penjelasan Arjuna sangat lucu.
"Yang.." Panggil Airyn berbisik.
"Apa, sayang?" Jawab Juna, dia masih makan dengan lahap.
"Nana tidur, yang." Ucap Airyn sambil menunjuk Juna yang tadinya sedang duduk bersila sambil memakan cuanki nya malah tertidur.
"Yaudah, aku pindahin dulu Nana nya."
Meskipun harga nya terkadang mencekik petani, sering kali harga nya tidak sebanding dengan apa yang sudah para warga keluarkan. Untuk pupuk, buruh dan juga beberapa alasan lain yang membuat pengeluaran semakin banyak, apalah ok dmusim panas. Mereka harus menyewa pompa air untuk menyiram tanaman mereka agar tetap bisa bertahan di tengah terik nya matahari.
"Sampai Dzuhur, sayang."
"Ohh, setengah hari gitu ya? Bayaran nya berapa?" Tanya Airyn.
"Tergantung sih, kadang yang gak bayar pakai uang gitu, tapi pakai bahan makanan yang di panen. Kayak singkong, ubi sama kacang."
__ADS_1
"Hmm, gitu? Rasanya gak sebanding sama capek nya ya? Kan harus panas-panasan gitu."
"Ya mau gimana lagi, disini rata-rata ya kerja nya kayak gini. Jadi petani, makanya aku milih buat ngerantau. Bukan artinya aku gak mau jadi petani, tapi ya aku pengen aja ngerasain kerja di tempat lain gitu." Jelas Juna panjang lebar sambil tersenyum.
"Kalau mamak mau kerja, terus Nana di rumah sama siapa?"
"Biasanya di titip sama tetangga, yang." Jawab Juna membuat Airyn merasa tertampar, kehidupan Juna dan orang tua nya jauh berbeda dengan nya. Selama ini dia sering mengeluh, tapi ternyata masih banyak orang yang kekurangan dan keadaan ekonomi nya jauh lebih rendah di bandingkan dirinya.
"Kamu tega liat Mamak kamu kerja serabutan gini, Jun?" Tanya Airyn membuat Juna menatap sang kekasih dengan sendu.
"Enggak, sayang. Tapi aku.."
"Pikirkan tawaran Daddy, aku mohon sama kamu, Jun."
"Sayang, tapi aku.."
"Seenggaknya tolong pikirin Nana sama Mamak, sayang. Disana, kehidupan nya akan jauh lebih baik di bandingkan disini."
"Aku akan memikirkan nya, sayang."
"Aku harap kamu mendapatkan jawaban yang tepat, sayang. Aku gak mau adik sama ibu aku tetap tinggal disini, dengan culture seperti ini. Aku gak mau, Jun. Aku ngerasa bersalah kalau aku biarin mamak sama Nana disini terus."
__ADS_1
......
🌻🌻🌻🌻