
"Dia adalah pemuda yang Papa ceritakan itu, Ma." Ucap Jonathan yang membuat kedua bola mata Indah terbelalak.
"A-apa?"
"Kenapa? Dia adalah pemuda yang bersama Airyn hari itu, Ma." Jawab Jonathan lagi yang mana membuat Sintia terlihat shock. Kenapa dia bisa shock? Karena melihat wajah nya saja, Sintia sudah bisa menebak kalau usia pemuda itu masih sangat muda.
"Sulit di percaya, Pa. Bagaimana dan dimana Airyn bertemu dengan pemuda ini?"
"Mana Papa tahu, tapi memang nya kenapa, Ma? Mereka serasi-serasi aja kok, putri kita cantik dan dia tampan." Jelas Jonathan. Memang, kedua nya akan terlihat serasi, tapi bagaimana dengan perbedaan usia mereka?
"Rasa nya perbedaan usia mereka terpaut sangat jauh, Pa. Apa tidak masalah?" Tanya Sintia lagi, membuat sudut bibir Jonathan terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman simpul.
"Tentu tidak, sayang. Kamu ragu? Bukankah kamu yang bilang kalau pemuda itu terlihat mandiri?" Tanya Jonathan lagi.
"Iya, memang. Tapi usia nya masih sangat muda, berbeda dengan Airyn, Pa."
"Kalau putri kita bahagia dengan nya, kenapa tidak? Lagi pula, Airyn pasti memiliki alasan tersendiri kenapa dia memilih pemuda itu untuk menjadi kekasih nya, bukan?"
Sintia menganggukan kepala nya, benar. Airyn pasti memiliki alasan tertentu, kenapa dia memilih Juna sebagai pasangan nya. Padahal, mereka ingin mengenalkan Airyn dengan banyak pemuda dewasa dan mapan, sebanding dengan nya lah. Tapi Airyn selalu menolak dan mungkin inilah jawaban nya, karena dia sudah memiliki kekasih.
"Kita lihat saja nanti, tapi kita harus memberikan dukungan pada mereka. Ingat, kebahagiaan Airyn adalah yang utama, kan?"
"Iya, Pa. Mama setuju." Jawab Sintia sambil tersenyum. Dia tidak masalah dengan siapa pun putri nya menjalin hubungan, tapi sedikit heran saja kenapa Airyn tidak memilih laki-laki yang usia nya sama dengan nya, kenapa malah memilih pemuda yang usia nya lebih muda? Tapi, apapun alasan nya pasti Airyn sudah memikirkan nya dengan baik.
"Permisi, Tuan dan Nyonya. Ini makanan nya, selamat menikmati." Ucap Arjuna dengan membawa dua hot plate berisi steak mahal yang di pesan oleh pasangan suami istri itu. Masih dengan senyum ramah nya, Juna menyajikan makanan itu.
"Nama mu, Arjuna?"
"Iya benar, Tuan." Jawab Arjuna.
"Berapa usia mu?" Tanya Sintia, jujur saja dia ingin mengetahui usia pemuda ini.
"Sembilan belas tahun, Nyonya."
Shock. Lagi-lagi, Sintia di buat shock mendengar jawaban pemuda di depan nya. Sembilan belas tahun? Artinya, berbeda sepuluh tahun dengan Airyn?
"Ada apa, Tuan dan Nyonya? Apa ada hal yang aneh?"
"Kau tidak kuliah?" Tanya Jonathan membuat sudut bibir Arjuna terangkat sedikit membentuk senyum kecil yang terlihat di paksakan.
"Tidak, Tuan."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak melanjutkan pendidikan mu dan malah bekerja?"
"Tidak ada biaya nya, Tuan. Saya bekerja disini juga untuk menyambung hidup."
"Ayah mu?"
"Sudah lama meninggal, jadi tanggung jawab ada pada saya sebagai anak pertama." Jawab Arjuna masih dengan senyum tulus nya.
"Orang tua mu ada disini?"
"Mereka di desa, Nyonya."
"Mereka?"
"Iya, ibu dan adik perempuan saya, Nyonya." Jawab Juna.
"Sudah punya kekasih?" Tanya Jonathan membuat Juna terlihat sedikit kaget.
"Sudah, Tuan."
"Cantik?"
"Sangat, dia terlihat seperti bidadari, Tuan. Hehe." Jawab Arjuna yang membuat Jonathan tersenyum, begitu juga dengan Sintia, kedua nya kompak tersenyum manis begitu mendengar jawaban Juna.
"Sama-sama, Tuan. Kalau tidak ada lagi yang anda tanyakan, saya permisi dulu." Ucap Arjuna. Dia pun berpamitan, Juna kembali ke dapur dengan perasaan yang sedikit aneh.
"Mereka siapa ya? Gak biasa nya pelanggan bertanya-tanya seperti ini." Gumam Arjuna. Dia merasa aneh sendiri, tapi tidak apa-apa kan? Yang penting mereka tidak menanyakan hal-hal lain nya.
"Jun, ngelamun ya?"
"Enggak kok, mana ada ngelamun?"
"Kalo lu gak ngelamun, mana mungkin itu ponsel bunyi Lo gak denger." Celetuk Andika yang membuat Juna terkekeh pelan, dia pun merogoh ponsel nya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari sang ibu di desa.
"Hallo, Mak. Ada apa?" Tanya Arjuna, dia menyelipkan ponsel nya di telinga yang di apit oleh pundak nya, karena tangan nya sibuk mengelap piring-piring yang baru saja di cuci.
'Jun, apa kabar?'
"Juna baik kok, Mamak sama Nana gimana?"
'Mamak juga baik, Nana juga sudah membaik. Berkat uang yang kamu berikan sama Mamak hari itu, untung saja Nana cepat di tangani.' Jelas Mamak Juna di telepon, membuat Juna tersenyum kecil. Ini berkat Airyn, kalau saja wanita itu tidak memberikan nya uang, entah akan seperti apa keadaan Nana sekarang jika hari itu terlambat di tangani.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kalian berdua baik-baik saja, Juna senang mendengar nya."
'Tapi Nak, dari mana kamu memiliki uang sebanyak itu? Kamu kerja apa di kota?'
"Jadi pelayan restoran, Mak. Uang itu Juna dapatkan dari teman Juna."
'Kamu meminjam uang sebanyak itu, dari mana mau balikin nya, Nak?'
"Teman Juna memberikan nya, bukan meminjamkan." Jawab Arjuna lagi.
'Astaga, benarkah?'
"Iya, Mak. Dia sangat baik, kan?"
'Iya, dia baik sekali. Apa dia pacar mu, Nak?' Tanya nya yang membuat Juna menguluum senyum nya.
"Bisa di bilang seperti itu, Mak."
'Wah, anak Mamak udah dewasa ya sekarang, udah punya pacar.'
"Mamak ihhh, kan wajar Juna punya pacar." Rengek Juna dengan manja, membuat sang ibu tertawa di sana.
'Ya sudah, kalau pulang kampung jangan lupa di bawa kesini ya, Mamak mau kenalan sama pacar kamu.'
"Iya, kalau dia nya mau. Nanti Juna ajakin, udah dulu ya Mak, ini Juna lagi di tempat kerja."
'Baiklah, hati-hati disana dan jaga dirimu dengan baik, Nak.'
"Mamak juga." Balas Juna. Panggilan pun selesai, Juna memasukan kembali ponsel nya ke dalam saku lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Pemuda itu kembali memikirkan perkataan sang ibu yang meminta nya untuk membawa Airyn ke kampung untuk bertemu dengan nya, tapi Juna ragu apakah Airyn akan bisa menyesuaikan diri nya sendiri dengan suasana di kampung yang jauh dari kata modern seperti di kota.
Dia khawatir Airyn akan merasa tidak nyaman jika Juna membawa nya ke desa. Nanti, dia akan membicarakan hal ini dengan Airyn saja jika mereka bertemu. Sekarang, Juna harus fokus bekerja agar tidak kena teguran.
Malam hari nya, Juna memilih untuk tetap berada di restoran. Ya, malam ini dia akan lembur seperti ucapan nya pada Airyn tadi pagi. Sedari tadi pagi, kedua nya tidak bertukar kabar sama sekali, itu membuat Juna khawatir.
"Airyn kemana ya? Kok ada ngirim pesan atau telepon, tumben. Biasa nya suka spam chat." Gumam Arjuna. Dia pun berinisiatif untuk mengirim pesan pada Airyn, namun setelah beberapa menit berlalu, tidak kunjung ada jawaban juga. Airyn tidak membalas pesan nya, nomor nya bahkan tidak aktif, membuat Juna khawatir terjadi sesuatu pada kekasih nya.
'Semoga kamu baik-baik saja, sayang.'
.......
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻