Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO

Berondong Posesif Kesayangan Nona CEO
Bab 87 - Keputusan Airyn


__ADS_3

Singkatnya, pagi harinya mereka sampai di kota tempat Airyn dan Juna bertemu. Airyn langsung mengarahkan supir menuju ke apartement. Agar Mamak dan Nana beristirahat dulu, nanti malam rencana nya Airyn akan mengajak Mamak untuk bertemu dengan orang tua nya. 


Mamak melongo saat melihat ke dalam apartemen, ini adalah tempat dia tinggal saat ini? Tempat yang sangat luas, rapih, bersih dan juga mewah. Sudah jelas tempat ini pasti berharga fantastis, bukan? Tapi ini bukanlah apartemen tempat Airyn dan Juna sempat tinggal bersama, tapi ini adalah apartemen milik Jonathan.


"Nak, ini tempat yang kamu sebut apartemen?" Tanya Mamak Mirna sambil mengedarkan pandangan nya. Airyn tersenyum lalu menganggukan kepala nya, dia masih menggenggam tangan Nana. Juna? Dia sudah masuk terlebih dulu, dia masih mendiamkan Airyn saat ini. 


"Iya, Mak. Ini tempat Mamak dan Nana sama Juna sekarang, untuk sementara waktu sih. Soalnya nanti, kita pindah lagi ke rumah." 


"Tempat nya terlalu luas, Nak."


"Gapapa, Mak. Biar Mamak sama Nana lebih leluasa disini. Kalian beristirahat saja dulu, nanti malam Airyn jemput buat ketemu Daddy sama Mommy." 


"Aduh, mendengar nya saja, Mamak udah gugup, Nak."


"Jangan gugup, Mak. Daddy gak bakalan ngapa-ngapain Mamak kok, Airyn cuma pengen kalian saling mengenal saja." Jawab Airyn sambil tersenyum. 


"Ayo, Airyn antar Mamak sama Nana ke kamar." Ajak Airyn sambil tersenyum. Dia pun mengajak Mamak dan Nana ke kamar utama. Disini ada dua kamar yang cukup besar. 


"Wah, Mamak kasur nya empuk banget lho." Nana berteriak kesenangan sambil meloncat-loncat di atas kasur yang katanya empuk itu. 


"Sayang, jangan seperti itu. Nanti kasur nya rusak."


"Gapapa, Mamak. Jangan larang Nana, nanti dia sedih lho."


"Tapi, Nak.."


"Cuma kasur bisa di beli lagi, tapi kesenangan Nana? Tidak bisa di beli kan? Jadi, biarkan saja apa yang membuatnya senang." Jawab Airyn membuat Mamak tersenyum. Airyn benar-benar wanita yang tulus dan baik hati. 


"Yaudah, kalau begitu Airyn keluar dulu ya. Nanti malem Airyn kesini lagi buat jemput Mamak sama Nana."


"Terimakasih ya, Nak."


"Sama-sama, Mamak. Istirahat dengan nyenyak ya.." 

__ADS_1


"Dadah kakak cantik.."


"Dadah anak cantik, selamat bobok ya. Nanti malem ikut kakak cantik makan malam di rumah kakak cantik. Oke ya?"


"Oke, kakak cantik." Jawab Nana sambil tersenyum manis. 


Airyn pun menutup pintu secara perlahan, meskipun begitu Mamak nampak melihat ada sesuatu yang aneh dengan Airyn. Firasat seorang ibu pastinya tidak pernah meleset, dia melihat ada sesuatu yang berbeda dengan tubuh Airyn. 


'Apa ini? Semoga saja penglihatan ku salah.' 


Di luar kamar, Airyn melihat Juna lagi-lagi tengah memainkan ponsel nya. Dia terlihat sangat fokus menggerakan jarinya di atas layar ponsel. 


"Juna.."


"Hmmm." Juna hanya menjawab dengan deheman, tanpa melirik sama sekali ke arah Airyn yang menatap ke arahnya dengan sendu. 


"Lihat aku, Juna." Ucap Airyn. Mendengar hal itu, Juna menghela nafas nya dengan kasar lalu mematikan ponselnya dan meletakan nya di atas meja. Dia menoleh ke arah Airyn dan menatap nya.


"Aku sudah menatap mu, apa yang ingin kau katakan?"


"Lalu, setelah kau tahu kalau sedang hamil, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Juna sambil menatap Airyn. 


"Tentu aku akan merawat nya dengan baik dan meminta pertanggung jawaban mu, Jun."


"Secepat itu kau berubah pikiran? Padahal aku masih ingat kalau kau mengatakan belum ingin hamil kan?" Tanya Juna lagi, dia menyedekapkan kedua tangan nya di dada. Matanya terus menyorot tajam ke arah Airyn yang kini menundukkan kepala nya dalam. 


"Iya, aku salah. Tapi aku.."


"Masih ingin mengejar karir mu yang cemerlang di perusahaan?" Telat sasaran, itu memang salah satu alasan yang membuat Airyn belum siap untuk hamil dulu. Dia masih ingin mengejar karir nya, tapi Juna merasa kurang setuju. Kalau semisal dia hamil, lalu apa yang akan dia lakukan? Tak mungkin jika harus membunuh janin yang tidak berdosa bukan? Tapi saat Juna mengatakan hal itu, Airyn malah terdiam. 


"Jun, bukan begitu.."


"Lalu? Aku tidak melarang mu untuk bekerja, tapi kalau semisal dia memang hadir di rahim mu, lalu kau bisa apa hmm? Jangan bertindak gegabah, pikirkan nasib anak kita. Aku bisa menggantikan mu mencari uang, Airyn. Dan kamu bisa diam di rumah sebagai istri yang bertugas melayani suami nya. Kau paham sampai disini?" Tanya Juna. Airyn mendongak, namun dia tidak bisa menjawab pertanyaan Juna. Dari sekian banyaknya pertanyaan, Airyn tidak bisa menjawab satupun.

__ADS_1


"Kamu tidak siap untuk menikah juga?"


"Aku siap, Jun. Hanya saja untuk hamil.."


"Kalau kau tidak siap untuk hamil, harusnya hari itu kau tidak perlu menawarkan diri untuk memuaskan hasraat ku padamu, Airyn." 


"Aku kira kamu akan mengizinkan aku menggunakan kontrasepsi." Lirih Airyn lagi.


"Apa aku pernah mengatakan kalau aku melarang mu menggunakan barang seperti itu, Airyn? Jawab!" Bentak Juna dengan nada tinggi, membuat Airyn terlonjak kaget. Sungguh, ini adalah pertama kalinya dia mendengar Juna meninggikan suara nya seperti ini. Artinya Juna benar-benar marah.


"J-juna.."


"Aku takut tak bisa mengontrol emosiku, sebaiknya aku pergi."


"Tidak, jangan. Aku mohon, Juna." Ucap Airyn, air matanya akhirnya menetes juga. Dia tidak bisa menahan nya lagi, Juna kembali duduk dan menghela nafasnya dengan berat. Dia ikut sakit melihat Airyn meneteskan air mata nya karena dirinya.


"Maaf.." lirih Juna, dia menangkup wajah Airyn dan mengusap air mata yang menetes dari kedua mata bulat berbulu mata lentik itu. 


"Aku hanya tidak ingin kamu salah mengambil keputusan, ingat sayang. Anak itu tidak berdosa, kitalah yang bersalah disini. Kita sudah salah karena melakukan hal itu sebelum menikah, jangan kamu menambah dosa lagi dengan membunuh janin yang sama sekali tidak bersalah."


"Suatu saat nanti, kamu boleh bekerja lagi, kamu boleh mengejar karir lagi, tapi setelah anak ini lahir, sayang. Kita rawat, kita besarkan anak ini sama-sama."


"Maafkan aku, Juna. Aku terlalu kekanak-kanakan, maaf.." Ucap Airyn sambil memeluk Juna. Pemuda itu membalas pelukan Airyn dan mengusap-usap punggung perempuan cantik itu dengan lembut. 


"Tidak, sayang. Jangan menyalahkan diri sendiri, kamu juga gak boleh nangis kayak gini. Kelihatan jelek banget deh kalo nangis kayak gini."


"Juna.."


"Iya iya, kamu selalu cantik buat aku. Jangan menangis ya? Test dulu, beritahu aku besok ya? Apapun hasilnya, tolong beritahu aku."


"Iya, Jun." Jawab Airyn, dia kembali menduselkan wajahnya di dada bidang Juna. Airyn merasa kalau Juna benar-benar dewasa menyikapi permasalahan nya yang cukup rumit saat ini. Bahkan dengan sabar dia menghadapi nya, meskipun dia seringkali hanya diam dan meminta Airyn memikirkan semuanya dengan baik agar tidak ada penyesalan di kemudian hari.


.......

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2