
Huekk.. huekk..
Pagi-pagi sekali suasana rumah sudah di warnai kepanikan karena Airyn muntah-muntah di kamar mandi. Juna sebagai kekasihnya, langsung berlari menyusul Airyn ke kamar mandi dan memijat tengkuk belakang perempuan itu.
"Sayang, kamu kenapa?"
"G-gak tahu, Jun. Rasanya mual-mual banget dari tadi subuh." Jawab Airyn lirih.
"Keluarlah, jangan disini, Jun." Ucap Airyn lagi.
"Kenapa, sayang?"
"Jijik, yang. Aku muntah-muntah lho, bau."
"Gapapa, aku gak jijik kok. Udah muntah nya?" Tanya Juna lagi.
"Kayaknya udah, tapi aku lemes banget, Jun." Jawab Airyn, hampir saja dia ambruk kalau saja Juna tidak sigap menahan tubuh sang kekasih.
"Sayang.."
"Aku gapapa kok, yang. Cuma lemes aja, tenggorokan aku pahit banget rasanya."
"Nak, mamak bikinin teh jahe. Yuk di minum dulu biar perut nya agak enakan." Ucap Mamak Mirna dari luar kamar mandi. Juna langsung menggendong tubuh Airyn keluar dari kamar mandi dan mendudukan nya di karpet yang ada di ruang depan.
"Kakak cantik, kenapa?" Tanya Nana yang melihat Airyn terkulai lemas di pelukan sang kakak.
"Gapapa kok, sayang. Kakak baik-baik saja, cuman lemes habis muntah."
__ADS_1
"Kakak cantik kenapa muntah-muntah? Masuk angin?" Tanya Nana lagi, terlihat kalau dia sedang mengkhawatirkan keadaan kakak cantik nya.
"Iya, kakak masuk angin." Jawab Airyn.
"Ini, di minum dulu, Nak." Ucap Mirna sambil memberikan gelas berisi teh jahe, Airyn menerima nya dan meminum nya secara perlahan.
"Enak, Mak. Hangat.."
"Ini obat Juna yang paling ampuh kalau dia lagi capek, pasti Mamak bikinin teh ini biar badan nya enakan."
"Kamu kenapa sih, yang? Ada salah makan atau gimana?" Tanya Juna, dia khawatir sekali dengan keadaan Airyn yang lemas di pangkuan nya.
"Aku cuma masuk angin doang kayaknya."
"Tapi kok bisa sampai muntah-muntah gini sih?"
"Mana aku tahu, yang. Tapi gapapa kok, aku baik-baik saja. Istirahat bentar, nanti juga baikkan."
"Makan yang asem, kayaknya enak deh, yang."
"Husshh, jangan makan yang asem-asem dulu. Kamu habis muntah-muntah gitu juga, nanti kena penyakit lambung. Lagian kamu kok tiba-tiba pengen makan yang asem, kayak orang ngidam aja." Ucap Mamak Mirna sambil beranjak dari duduknya.
Deg..
Airyn terdiam, mendengar ucapan Mamak membuat nya dia teringat sesuatu. Dia menatap Juna, begitu juga dengan pemuda itu. Dia menatap Airyn dengan tatapan yang sama.
"Yang.." panggil Juna sambil menatap Airyn.
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Apa kamu sudah datang bulan?" Tanya Juna lagi.
"Aku lupa, tapi kayaknya belum deh. Soalnya kan kalau aku datang bulan, biasanya suka gigitin kamu."
"Jangan-jangan.."
"Aku hamil, sayang?" Tanya Airyn. Juna menganggukan kepala nya pelan, entah kenapa dia berpikiran kesana. Tapi akan selalu aja kemungkinan bukan? Bagaimana kalau semisal dia benar-benar hamil saat ini?
"Aku gak tahu, tapi bisa aja kan?"
"Terus gimana, yang?" Tanya Airyn rusuh.
"Pas sampai ke kota, kita cek dulu ya. Tenang, jangan panik dulu. Kalaupun benar kamu hamil, aku pasti bertanggung jawab dengan kehamilan kamu, sayang. Jangan khawatir, atau kamu belum siap hamil?" Tanya Juna lirih.
Airyn terdiam, membuat Juna mengerti kalau mungkin saja Airyn belum ingin hamil dulu untuk saat ini karena karir nya.
"Jun.."
"Tidak apa-apa, kalau semisal nya kamu belum siap hamil, aku gapapa. Tapi bagaimana dia sudah terlanjur tumbuh di rahim kamu? Tidak mungkin kamu membunuh nya, bukan?" Tanya Juna yang membuat Airyn diam.
"Aku mohon, sayang. Aku memang gak bisa maksa kamu kalau belum siap untuk hamil, tapi aku mohon jangan egois dan tolong pikirkan ke depan nya. Kalau dia memang sudah tumbuh, terimalah. Aku mohon, sama kamu."
"Tapi Jun.."
"Aku keluar dulu." Ucap Juna, lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Airyn sendirian di ruang tamu. Dia menundukkan kepala nya, dia merenungkan semua ucapan Juna tadi. Tapi jujur saja, Juna merasa sangat kesal saat ini pada Airyn. Berani melakukan hal itu ya berarti harus berani dengan konsekuensi nya yaitu hamil.
__ADS_1
.....
🌻🌻🌻🌻🌻