BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 1: Gonjang Ganjing Mataram


__ADS_3

Sekitar tahun 928, Raja Mataram Hindu Mpu Sindok memindahkan istana Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Medang). Perpindahan pusat pemerintahan ini dikarenakan gempuran Kerajaan Sriwijaya dan meletusnya gunung Merapi.


Tetapi, tidak semua bangsawan Mataram Hindu boyongan ke Medang Kamulan. Beberapa keluarga Bangsawan, khususnya yang mempunyai trah Dinasti Sanjaya, memilih tetap berada di Mataram, untuk menjalankan roda pemerintahan, dan menghadang serangan dari Sriwijaya.


Para bangsawan inilah, yang menjadi nenek moyang Raden Sumowirejo, sosok yang nantinya menjadi salah satu murid kinasih Kanjeng Sunan Ampel, dan diberi julukan Sunan Kembang Kuning.


Dikisahkan, Mataram hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit, ketika terjadi perang saudara, yang dikenal dengan perang Paregreg, di mana Istana Kulon melawan Istana Etan.


Wikramawardhana yang menjadi raja di Istana Kulon berselisih melawan Bhre Wirabhumi, sang penguasa Istana Timur. Akhirnya mereka berperang dahsyat pada tahun 1405.


Pada tahun 1406 pasukan istana barat dipimpin Bhre Tumapel menghancurkan istana timur. Bhre Wirabhumi tewas di tangan Raden Gajah alias Bhra Narapati. Wikramawardhana menjadi penguasa tunggal Mojopahit.


Hanya saja, kerugian Majapahit sangat besar dengan adanya perang Paregreg ini. Yaitu, wilayah kekuasaan hasil jerih payah Patih Gajah Mada, satu per satu, berusaha melepaskan diri.


Pemberontakan mulai bermunculan sporadis di berbagai kadipaten. Salahsatunya, yang ingin lepas dari kekuasaan Majapahit adalah Kadipaten Mataram.

__ADS_1


Tentu saja Majapahit tak tinggal diam. Pertempuran sporadis kadang terjadi antara pasukan Mataram melawan Pasukan Majapahit. Di antara para prajurit Mataram itu, ada sosok anak kecil. Dialah Raden Sumowirejo.


Dia bukan anak sembarangan. Sebagai keturunan Raja Mataram, Raden Sumowirejo sudah menunjukkan jiwa kepemimpinan luar biasa. Ilmu kanoragannya juga sudah setara dengan para biksu, pendeta, dan para jawara yang ada di Kadipaten Mataram.


Untuk itu, ketika ada seruan untuk berangkat perang, Meski usianya masih 12 tahun, Raden Sumowirejo tetap diperbolehkan berangkat berperang. Pasalnya, seluruh senopati yang dimiliki Mataram, tak mampu mengalahkannya.


Permintaan berperang ini, sebenarnya cukup memberatkan keluarga kerajaan, mengingat Raden Sumowirejo, ketika dewasa nantinya, digadang-gadang menjadi pimpinan tertinggi di Kadipaten Mataram.


Tetapi, siapa yang berani menentang keinginan Raden Sumowirejo?


Kenapa bisa?


Sebab, selain berlatih berbagai ilmu agama Hindu, dan ilmu kanoragan kepada Resi Hitu, diam-diam Raden Sumowirejo juga berlatih kepada Resi Swadaraya, yang khusus memuja Dewa Shiwa, sang Dewa Perusak.


Biasanya, latihan kanoragan dilaksanakan pada malam hari. Dengan kemampuannya, Resi Swadaraya, bisa muncul di depat istana Mataram. Di situ, raden Sumowirejo sudah menunggu untuk dilatih.

__ADS_1


Resi Swadaraya memang mencari sosok yang paling cocok untuk meneruskan ilmunya. Dalam wisik, dia harus mendatangi istana Mataram, dan menemukan manusia yang mempunyai tanda tahi lalat di bawah telinga kiri. Ternyata, Resi Swadaraya menemukan tanda itu pada sosok Raden Sumowirejo, yang kala itu masih berusia 5 tahun.


Sejak saat itu, tanpa sepengetahuan penghuni istana, Raden Sumowirejo sudah dalam gemblengan Resi Hitu, untuk menguasai satu-satunya ilmu Gunung Tidar, yang mempunyai kekuatan merusak, dan beraliran hitam.


Tetapi, di siang hari, giliran Resi Hitu mengajar Raden Sumowirejo dengan pelajaran budi pekerti, tata tutur bahasa santun, juga ilmu kanoragan aliran putih.


Sebagai sosok anak kecil, semua pelajaran ditelan mentah-mentah, tanpa tahu itu baik atau jahat. Semua ilmu yang diajarkan oleh dua Resi ini, dipraktikkan dan dicamkan kedua-duanya.


Maka, jadinya, muncul satu kekuatan ilmu kanoragan baru yang sangat sulit ditemukan tandingnya.


Itulah sebabnya, ketika Raden Sumowirejo menyatakan ikut perang, tiada yang berani melarang.


Perang inilah, yang menjadikan Raden Sumowirejo bisa menghirup udara di luar tembok istana. Sisi lain yang belum pernah dia lihat, adalah kondisi rakyat yang sangat sengsara. Hidup dalam keterbatasan, dan pakaian compang-camping serta kelaparan, akibat negara dan kadipaten sibuk berperang.


Pemandangan demi pemandangan yang mengenaskan itu, sungguh begitu membekas di benak raden Sumowirejo. Maklum, selama ini dia hidup dalam gemerlap istana Mataram. Tak jarang, dia meneteskan air mata, jika melihat penderitaan rakyat.

__ADS_1


__ADS_2