
Rejo memilih untuk mencari kapas dan kapuk yang sangat ringan dan lembut.
Berhari-hari, Rejo bermain-main dengan kapas lembut itu. Angin pantai yang kencang, menjadikan dia tak mampu menerjemahkan kelembutan kapas.
"Kalau saya tetap berada di sini, saya sangat sulit menemukan jawabnya, tentang kelembutan kapas ini."
Rejo lalu pamitan kepada Syech Belabelu.
"Terserah kamu. Yang jelas aku tetap di sini. Ingin aku ketahui, apa yang sebenarnya engkau dapatkan dari kapas itu."
"Sendiko, Kanjeng Syech."
Rejo berpamitan untuk menuju ke pedalaman.
Di tempat sepi, yang tak ada angin. Rejo menimang-nimang segenggam kapas itu.
"Lembut.... memang lembut. Tetapi, apa kaitannya dengan hati yang keras atau lembut, atau apa kaitannya dengan air?"
Rejo mencoba menjatuhkan kapas. Kapas jatuh perlahan, karena memang tak ada angin.
Ketika angin sepoi berhembus, kapas jatuh agak menjauh.
"Oh, angin yang lembut, mampu menggeser posisi jatuh kapas yang juga lembut. Angin ternyata juga bisa lembut dan bisa keras.
Ketika di pantai, angin kencang ibarat angin yang keras. Hantaman tenaga dalam yang keras, bisa membongkar dinding, ibarat batu. Padahal hanya angin."
"Tetapi, ketika batu kujatuhkan, tak bisa bergeser karena batu memang berat. Dia hanya bisa digerakkan dengan tenaga kasar angin. Jadi, angin yang lembut bisa menggerakkan benda yang lembut. Angin yang keras bisa memorakporandakan semua. Tetapi, yang relatif aman adalah yang lembut, karena bisa mengikuti semua gerak angin prahara."
"Jadi, lembut bertemu lembut, maka memberikan manfaat dan kelihatan faedahnya, ibarat berpindahnya kapas dari tempatnya jatuh. Sebaliknya, lembut bertemu keras, ibarat kapas dijatuhkan dihempaskan angin kencang seperti di pantai, maka jatuhnya kapas tak beraturan. Atau sebaliknya, batu dijatuhkan, maka angin lembut tak bisa mempengaruhinya."
"Agaknya, saya tahu jawabnya."
Untuk tidak bisa diombang-ambingkan ombak pantai, maka, saya harus seperti ombak pantai. Yaitu seperti air yang lembut tapi keras ibarat gelombang laut."
Rejo pun, memainkan kapas lagi. Diletakkan di telapak tangannya yang terbuka.
"Saya tidak merasakan adanya kapas di tangan ini, karena sangat ringan. Seharusnya, saya bisa merasakan jika saya bisa memosisikan diri saya ini lebih ringan dari kapas. Jika itu bisa saya lakukan, maka saya juga akan bisa seperti air. Baiklah, saya akan menyobanya."
Rejo lalu duduk bersila.
Dia mencoba 'menghilangkan' keberadaan dirinya, dengan merasakan desiran angin. Rejo meyakini, selambat apapun angin bertiup, tentu akan tarasa di kulit. Tujuan Rejo adalah, dia tak boleh merasakan adanya desiran angin, maka dia akan bisa menjadi seperti angin. Jika bisa menjadi seperti angin, maka dia akan lebih ringan daripada kapas. Jika begitu, maka Rejo akan bisa merasakan bobot kapas. Maka, saat itulah, Rejo bisa seakan seperti air.
Namun upaya ini tidak mudah. Rejo masih merasakan sehelai rambutnya dimainkan angin.
Terus dan terus berusaha.
Dalam duduk semedinya, Rejo akhirnya merasakan, dia hanyalah sekecil debu di antara alam semesta yang sangat luas. Titik debu itu, perlahan terbang menjauh, dan hilang entah di mana.
Saat itu Rejo tak merasakan keberadaannya, meski sebenarnya dia masih bisa mendengar tarikan nafasnya sendiri. Bahkan, suara seritan ringan aliran darah di setiap pembuluh, juga dirasakan.
Rejo seakan hilang. Dia tak merasakan apapun.
Rejo membuka matanya.
"Byar!"
Desiran angin dirasakan lagi.
"Saya sebenarnya sudah bisa menghilangkan rasa desiran angin. Hanya saja, ketika mata ini terbuka, desiran angin terasa lagi. Maka, saya harus mencobanya dalam posisi mata terbuka."
Rejo duduk bersila lebih rileks lagi. Kali ini, matanya terbuka.
Rejo mulai menjadi seakan debu. Matanya terbuka, tapi rejo seakan tak melihat apapun. Tatapan mata kosong, bahkan bola mata tak bergerak sama sekali. Dan benar, Rejo tak merasakan hembusan angin.
Hanya, saja, ketika Rejo menggerakkan bola mata, desiran angin terasa lagi.
"Jadi, tak boleh menggerakkan otot sama sekali, bahkan otot mata sekalipun. Jika itu terjadi, maka, saya tak lagi seperti debu. Tapi kembali utuh."
"Lalu, kalau hanya diam terpaku, bagaimana saya nantinya bisa menjahit jubah Kanjeng Syech Belabelu?"
Rejo pun terus menerus mencoba. Dan selalu gagal. Hingga satu ketika, Rejo mencoba menggerakkan bola mata dengan sangat berlahan. Bahkan tatapan mata kosong dan nanar, dengan sangat perlahan diubah menjadi tatapan tajam. Pandangan mata yang awalnya kabur, perlahan mulai berbentuk.
Saking pelannya, hingga untuk menggerakkan bola mata dari kiri ke kanan saja, butuh waktu yang sangat lama.
Namun, dengan gerakan yang sangat lamban ini, menjadikan Rejo tetap seperti debu. Dia tak merasakan apapun, termasuk hembusan angin.
Rejo mencoba menggerakkan tangannya, dengan sangat perlahan.
Dia berhasil seakan tanpa bobot, dia berhasil seakan menjadi angin.
Namun, begitu gerak tangan akan cepat sedikit, hembusan angin sudah dirasakan lagi.
"Oh, jadi memang harus perlahan, agar bisa menjadi tiada. Ibarat bumi yang bergerak sangat perlahan berputar, agar gunung, rumah, pohon tidak tercabut dari tanah, dan air laut tidak tumpah. Jadi, ini sebenarnya inti dari ilmu angin."
Rejo menikmati sensasi ketiadaannya, meski matanya dalam posisi terbuka, dan bisa melihat apa yang ada di depannya.
Dan untuk meningkatkan kemampuannya, Rejo mulai belajar dalam posisi berdiri. Ketika ketiadaan itu sudah merasuki dirinya, secara perlahan, Rejo mulai menggerakkan kakinya, dengan sangat perlahan. Bahkan mulai dari menapak, mengangkat telapak kaki, dan mulai berpijak lagi, butuh waktu yang sangat lama. Namun, Rejo tetap merasakan ketiadaan dirinya.
Sepnjang hari itu, Rejo hanya berhasil menggerakkan kaki sejauh tiga langkah saja.
"Sungguh aneh. Umumnya, pendekar menempa diri untuk melatih kecepatan, namun, agar bisa menyatu dengan alam, menjadi seperti angin, justru harus sangat lambat. Padahal, angin pun berhembus sangat cepat. Allahu akbar."
Karena telah mempunyai keyakinan kuat, Rejo mulai mencoba mengetahui bobot kapas.
Sejumput kapas digenggam. Lalu Rejo mulai memosisikan dirinya dalam ketiadaan.
Perlahan, Rejo mulai merasakan bobot kapas.
Kian lama, bobot kapas kian berat.
Bahkan, dalam satu kesempatan, Rejo benar-benar tak kuat menahan tangannya yang menggenggam kapas. Sebab, dia merasakan ada benda yang sangat berat dalam genggaman.
Dibuka tangannya secara perlahan, dan sejumput kapas itu jatuh, dan segera diterbangkan angin berhembus.
"Allahu Akbar. Saya telah mengerti. Saat ini, saya akan bisa menyatu dengan air laut. Dan saya bisa menjahit lubang di jubah Kanjng Syech."
Belum hilang rasa gembira Rejo, muncul Syech Belabelu.
"Berarti engkau bisa mengetahui berapa bobotku," kata Syech Belabelu sambil tertawa.
Rejo kaget. Dia tak menyangka ada yang melihat apa yang dilakukan.
"Katanya, Panjenengan ada di gubuk, dan akan menunggu cerita dari saya?"
"Benar. Aku digubuk."
__ADS_1
"Lho kok, jenengan ada di sini?"
"Aku ada di gubuk. Tak percaya, silakan lihat sendiri di gubuk sana."
Rejo bingung.
"Bukankah jenengan ada di sini?"
"Ya aku ada di sini."
"Lho, katanya, Jenengan ada di gubuk?"
"Iya, benar. Aku ada di gubuk."
"Lho, kan Jenengan sekarang ada di sini?"
"Benar, aku ada di sini, dan di gubuk."
Rejo tercenung.
"Benarkah?" dalam hati Rejo berbisik.
"Benar. Coba lihat di gubuk, aku kan ada di sana."
Rejo memilih diam.
"Sudahlah, sekarang coba tebak berapa bobotku?"
"Mohon maaf Kanjeng Syech. Dengan tubuh besar seperti itu, tentu bobot jenengan sangat berat."
"Benarkah?"
"Siapa pun akan tahu, Kanjeng Syech."
"Coba engkau mendekat."
Rejo pun mendekat.
"Berjongkoklah, dan lihat, apa yang ada di bawah kakiku."
Rejo melihat dari jarak sangat dekat di kaki Kanjeng Syech Belabelu.
Rejo langsung terperanjat dan jatuh terjengkang, karena saking kagetnya.
Rejo melihat, satu kaki Syech Belabelu hinggap di sejumput kapas, dan kapas itu tidak terinjak. Seakan yang hinggap di kapas hanyalah sebutir debu.
"Jadi......"
"Benar, Nak. Jika dilihat dari bentuk tubuh, tentu bobotku sangat besar. Tetapi, nyatanya, tubuh ini tak bisa memipihkan kapas yang aku injak. Ini artinya bobot tubuhku sangat ringan."
Rejo takjub.
"Apa yang bikin engkau kagum?"
Rejo gelagapan.
Tak ada yang perlu dikagumi. Ini hanyalah setitik ilmu dari Allah swt untuk seluruh umat manusia. Sungguh, tak ada yang hebat di sini. Coba tebak, berapa bobotku. Coba tiup aku, sekuat engkau bisa meniup."
Rejo pun menghembuskan angin sekencang-kencangnya melalui mulut.
Tubuh Syech Belabelu yang tambun itu, terbang seperti kapas. Bahkan berputar-putar, dan berjumpalitan di udara.
"nak, jika engkau melihat secara fisik, engkau akan banyak tertipu. Tetapi, lihatlah dengan mata hati, engkau akan menemukan jawabnya. Persis seperti yang engkau pelajari dari kapas. Nyatanya, engkau merasakan kapas di tanganmu sangat berat. Meskipun secara fisik, kapas ini sangat ringan. Sekarang, cepat jahit lubang-lubang di jubahku."
"Tetapi, Kanjeng. Saya belum menjawab berapa bobot Kanjng Syech. Saya juga penasaran tentang ilmu menjadikan diri seringan kapas."
"Jahit jubahku, engkau akan mendapat jawabnya sendiri."
Rejo memlilih menurut.
Mereka berjalan beriringan menuju bibir pantai, tanpa bicara apapun.
Uniknya, ketika berjalan menuju ke gubuk, dari kejauhan, Rejo melihat ada seseorang di dalam gubuk. Dari kejauhan terlihat dia sosoknya tambun.
Rejo tak berani berkata apapun, tetapi matanya menatap tajam ke arah gubuk untuk memastikan bahwa ada seseorang di gubuk Kanjeng Syech Belabelu.
Rejo semakin yakin, karena jaraknya semakin dekat.
Rejo tetap meyakini, bahwa dia sedang berjalan beriringan dengan Syech Belabelu. Hanya saja, karena ada sosok mirip dengan Syech Belabelu di gubuk, konsentrasi Rejo kepada gubuk, dan lupa kepada sosok di sampingnya.
Begitu menoleh ke samping, ternyata sosok Syech Belabelu sudah tak ada. Rejo kebingungan menoleh kiri-kanan, bahkan melihat sekeliling, benar-benar tak ada orang.
Rejo tak kekurangan akal, dia melihat bekas telapak kaki yang membekas di pasir pantai.
Dia menemukan bekas telapak kaki yang melesak lebih dalam, tanda yang melangkah adalah orang tambun. Namun, jejak itu menghilang begitu saja.
Rejo tercenung, dan menghentikan langkahnya.
"Ayo le, cepetan. Dari tadi kok masih sampai di sana!?" teriak Syech Belabelu dari gubuk.
Rejo kaget.
Dia segera berlari menuju ke gubuk.
Diamati lekat-lekat sosok tambun di depannya.
Rejo tak bisa menemukan satu ciri pun yang bisa menjadi kesimpulan bahwa Syech Belabelu yang di gubuk ini, adalah Syech Belabelu yang menemaninya berjalan dari pedalaman.
"Ayo sana, cepat jahit jubahku di lautan," perintah Syech Belabelu.
Rejo hanya garuk-garuk kepala, dan ngeloyor menuju pantai.
Dicopot bajunya, dan segera dia msauk ke air laut.
Rejo tak membawa jubah Kanjeng Syech Belabelu, karena dia ingin menyelaraskan diri dengan ombak laut dulu. Targetnya, dia bisa sekokoh karang, dan menyatu seperti air laut. Yang tetap kokoh meski dihempas ombak besar.
Rejo memilih duduk bersila, dan hanya menyisakan bagian kepala, dengan ketinggian air laut seleher. Ketika ombak datang, tentu saja kepala Rejo dihantam ombak, dan membuat dia gelagapan.
Namun, setelah belajar dari kapas, yaitu menjadi sebutir debu di antara angkasa raya, Rejo mulai bersemadi.
Dia membayangkan hanyalah setitik embun, yang bakal sirna diterpa matahari pagi.
Menjadikan dirinya tiada, meski sebenarnya ada.
Benar!
__ADS_1
Perlahan, ketika Rejo merasakan ketiadaan dirinya, dia mulai membuka mata. Yang dilihat bukanlah gelombang besar air laut yang bakal menghantam kepalanya, namun hanya seakan segayung air yang disiramkan secara pelan-pelan.
Padahal, faktanya, ombak besar menghantam tubuh dan kepala Rejo berkali-kali. Rejo bisa sekokoh karang, Rejo bisa menyatu dengan air laut.
Duduknya tak berubah, bahkan seakan air laut memecah diri, ketika hendak menghantam tubuhnya.
"Alhamdulillah. Saya bisa menguasai ilmu unik ini," gumam Rejo.
Rejo pun bertindak agak nyeleneh. Dia ingin sujud syukur dalam pantai, atas keberhasilannya menyelaraskan diri dengan air laut.
Rejo pun merubah posisi duduknya, dan segera bersujud di dalam air.
Rejo mampu melaksanakan seperti di daratan, tanpa terpengaruh sama sekali ombak besar yang menghantam dirinya.
Usai sujud syukur, Rejo segera ke gubuk untuk mengambil jubah Syech Belabelu yang akan dijahit bolong-bolongnya.
"Saya kira engkau sudah mengerti. Tetapi, ada permintaan saya lainnya, yaitu, engkau harus menjahitnya seperti sedia kali, yaitu seakan tanpa bolong-bolong," tutur Syech Belabelu, ketika melihat Rejo mengambil jubah yang ditaruh di pojokan.
"Baik, Kanjeng Syech."
Rejo tak berani menentang samasekali, meski dia tahu, bahwa dia tak mempunyai ilmu tentang jahit menjahit. Apalagi mengembalikan jubah bolong-bolong ini, menjadi tak berlubang, tapi tak meninggalkan bekas seperti jahitan. Jadi, seperti benang dipintal menjadi kain.
Rejo masuk ke air, bersemedi sebentar, setelah dia bisa selaras dengan air laut, dan telah kokoh bagai karang meski dihantam ombak, dia mulai menjahit.
Jubah panjang yang dimainkan air laut, menjadikan dia kesulitan menusukkan jarum tempat yang benar. Meski dia berhasil menambal satu lubang di jubah, hasilnya sungguh acak-acakan.
Rejo menunjukkan kepada Syech Belabelu.
"Saya kan sudah memintamu untuk menambal lubang jubah ini, seakan menjadi tanpa tambalan. Lha ini, hasilnya kok acak-acakan begini?"
"Mohon maaf kanjeng, sebab kain jubah ini dimainkan ombak, jadi saya kesulitan untuk menusukkan jarum di lokasi yang semestinya. Maka, jadinya kurang bagus."
"Ini bukan kurang bagus. Tapi tidak bagus."
"Mohon maaf, Kanjeng Syech."
"Le, ketahuilah. Memang sulit untuk menjahit di dalam air yang penuh ombak. Tetapi, kita diberi akal oleh Allah, dan kita diberi ilmu oleh Allah, harus kita gunakan maksimal. Selama engkau mengandalkan mata, engkau tak akan bisa menjahit dengan baik. Coba gunakan mata hatimu. Bukankah engkau telah bisa menjadikana dirimu seakan sekecil debu?"
Rejo tak menjawab. Hanya mengangguk saja, dan dia menuju ke bawah pohon waru. Duduk bersantai, dan membuka lagi hasil jahitannya.
"Dengan menggunakan mata hati. Tentunya, saya harus menjahit dalam posisi mata terpejam, agar mata ini tak mempengaruhi. Dan kata Kanjeng Syech tadi, kuncinya, sama dengan menjadikan diri seperti karang kokoh, yaitu menjadi seakan sekecil debu. Baiklah, saya akan mencoba di sini."
Usai mencopoti semua jahitannya, Rejo segera duduk bersila lagi. Rejo masuk ke alam bawah sadar, di mana dia seakan hanyalah setitik debu dalam jagat raya yang luas.
Jika sebelumnya, Rejo membuka matanya, kali ini Rejo tetap memilih terpejam. Rejo berupaya bisa melihat jubah yang hendak dijahit. Sangat sulit menemukan sehelai jubah di 'alam raya' yang besar-besar dan luas itu. Rejo terus berusaha.
Tangannya yang menggenggam jubah, seakan tak bisa menuntun dia menemukan jubah Sang Syech Belabelu di alam raya yang gelap.
Rejo tetap tak mampu menemukannya. Terpaksa dia membuka matanya.
"Wahai jubah, bagaimana saya bisa menemukanmu di alam raya?" kata Rejo sendiri, kepada jubah yang masih dipegangnya.
Usai istirahat secukupnya, Rejo mencoba lagi. Tetap saja gagal.
"Kecuali, saya mempunyai tempat pijakan. Yaitu, jubah ini sendiri. Jadi, saya harus menduduki jubah ini, lalu bersemadi. Tetapi, bukankah saya menjadi murid yang lancang, berani menduduki jubah guru."
Tiba-tiba dari arah gubuk, terdengar suara teriakan.
"Itu yang menjadikan dirimu tak maju-maju. Engkau telah mengotak dirimu, akalmu, hatimu, dalam kungkungan kekerdilan. Engkau harus lepaskan itu. Hakikat guru dan murid, bukanlah pada penghambaan yang terlihat. Tetapi, hakikat guru dan murid adalah menjalankan apa yang diperintahkan guru, dan memegang teguh pitutur buru. Bukan hanya sekedar menghormati jubah saja. Ayo Rejo, kalau kamu benar-benar yakin bisa melakukan apa yang saya perintahkan, duduki saja jubah itu."
Rejo kaget, tapi bercampur gembira.
Perlahan, dia membentangkan jubah sang guru, lalu mendudukinya.
Rejo duduk bersemadi. Kembali dia menjadikan dirinya, seakan sebutir debu di alam raya.
Hanya saja, Rejo berpijak kepada jubah. Dia meyakini, kalaupun dia menjadi seakan debu, tentu tak jauh dari jubah. Bahkan menempel di jubah.
Dan benar adanya. Ketika Rejo menjadi bukan apa-apa, dia seakan berada di antara pilihan benang kapas-benang kapas raksasa. Bahkan anyaman antar satu benang kapas dengan lainnya, terdapat lubang yang sangat besar.
"Allahu Akbar."
"Inilah jubah Kanjeng Syech. Dengan cara seperti ini, saya bisa menemukan lubang mana yang harus ditusuk oleh jarum."
Rejo membuka matanya. Menjura hormat ke arah gubuk, lalu menuju ke laut.
Terdengar tawa terkekeh dari gubuk.
"Engkau telah mengerti, Le..."
Di pantai, Rejo membeber jubah itu, lalu diduduki tepat di bagian yang berlubang dan hendak dijahit.
Rejo mulai menerapkan hasil latihannya.
Ketika tubuhnya sudah seperti sekokoh karang, Rejo mulai menjahit. Hanya saja, mata Rejo tetap terpejam, dan dia yang memilih menyelam ke air laut.
Rejo melihat lubang-lubang raksasa di jubah, bahkan butiran pasir seakan batu sebesar kerbau. Dengan mudah Rejo memilih lubang di antara pintalan kain. Rejo bahkan bisa memilin benang kapas, seperti dipintal.
Rejo sekali-kali muncul di permukaan untuk mengambil nafas, lalu mulai menjahit lagi.
Demikian seterusnya, hingga dia bisa menutup satu lubang di jubah.
Ketika Rejo membuka matanya, dia sendiri dibuat takjub dengan hasil jahitannya sendiri. Lubang jubah telah hilang, dan seakan tanpa jahitan. Hanya saja warnanya yang berbeda.
"Allahu Akbar."
Rejo lalu sujud syukur di dalam air.
Hasil jahitan ini, segera ditunjukkan kepada Syech Belabelu.
"Hm. Sungguh bagus jahitanmu. Memang inilah yang aku inginkan. Ayo segera selesaikan semua lubang.Engkau atur sendiri, jika kurang benang, ya silakan engkau memintal sendiri benangnya."
Rejo kian bersemangat.
Benang habis tak menjadikan dia putus asa. Dia segera menuju ke pedalaman untuk mengumpulkan kapas. Untuk memintal kapas pun, rejo memilih menggunakan mata hati. Justru dengan memintal dalam posisi mata terpejam, hasil pintalannya luar biasa. Benang yang dibuat cukup halus, dengan ketebalan rata.
Rejo menyiapkan benang cukup panjang, agar dia tak lagi kehabisan.
Rejo menuju ke pantai, dan mulai menjahit lubang-lubang di jubah Syech Belabelu.
Selama satu minggu, pekerjaan menjahit lubang ini selesai, dan jubah itu kembali utuh, seakan tidak pernah berlubang.
"Rejo, sebenarnya engkau telah memelajari ilmu yang saya miliki ini, setidaknya sudah setengahnya."
Rejo hanya menunduk takdim.
__ADS_1
“Saya sudah diberitahu oleh Syech Jumadil Kubro, bahwa engkau akan menuju ke tlatah Pajajaran, dan akan menantang bertarung raja di sana. Memang benar, siapapun yang engkau tantang, dia adalah keturunan Prabu Siliwangi, yang sudah terkenal kesaktiannya. Sebenarnya, apa yang ingin engkau pelajari?”
Rejo tak menjawab.