BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7l: Belajar Ilmu Bayu Segoro dari Kawis Guwo


__ADS_3

Kesemuanya terdiam.


Prajurit Majapahit menceritakan, bagaimana Majapahit diambang kehancuran, bahkan, para kalangan bangsawan di Kerajaan Majapahit, banyak yang telah memeluk agama Islam.


“Ini sejak Syech Jumadil Kubro mempunyai murid di Majapahit. Murid-murid beliau menyebarkan ke tetangga dan lingkungan. Syech Jumadil Kubro adalah sahabat raja. Malahan Raden Rahmad yang sekarang tinggal di kerajaan Ampel Dento, tanah yang dikasih raja, dekat Ujung Galuh, masih kerabat raja. Jadi, kalau kalian ingin menghancurkan si orang bungkuk yang kalian sebut tadi, apalagi agamanya, tentu sangat sulit.”


“Lantas, kami harus berbuat apa?”


“Yakini saja agama nenek moyang kita. Kita harus menata hati, agar bisa menerima perubahan ini,” kata prajurit.


Keduapuluh orang dan pedanda ini tak tahu lagi, ke mana mereka harus mengadu. Para orang sakti telah takluk.


Mereka menuju Kolam Segaran. Kesemuanya memilih berendam. Diam terpaku, tak melakukan apapun, menikmati kesejukan air kolam.


Di seberang mereka, sepasang mata teduh mengawasi. Mata ini milik sosok memakai udeng batik, memakai baju koko tanpa kancing, dan celana lusuh di bawah lutut. Kakinya direndam di air Kolam Segaran. Sesekali ikan-ikan kecil mencubit kaki dengan mulutnya.


Memang, kerumunan pedanda dan dua puluh orang ini cukup menyita perhatian, siapa pun yang ada di Kolam Segaran. Namun, hanya sekilas melihat, selanjutnya, tenggelam dalam urusan masing-masing. Namun, tidak dengan pria pakai udeng ini.


Dari kejauhan, pria pakai udeng mencoba menelisik satu per satu orang- orang di kerumunan. Dia bergumam sendiri, “Masih ada kesempatan untuk menjadi mualaf.”


Dia mengangkat kaki, menuju ke seberang Kolam Segaran. Ternyata, dia juga membawa sebuah kain panjang seperti selendang yang ditaruh agak jauh dari lokasi duduknya di pinggir kolam.


Selendang ini punya motif unik. Jika dibentangkan, terlihat banyak gambar perahu di lautan. Selendang warna hitam, sedangkan perahu-perahu itu berbagai warna, ada warna emas, warna perak, warna putih, kuning, atau merah. Sungguh satu paduan warna yang kontras dibanding warna dasar hitam selendang.


Selendang itu dililitkan beberapa kali di leher. Dua ujungnya dibiarkan menjuntai. Dimainkan angin.


Pria pakai udeng kian mendekati kerumunan.


“Permisi, Kisanak.”


“Oh ya, silakan.”


Kerumunan orang itu memberi ruang, agar si pria pakai udeng bisa ikut duduk di pojok. Semua mata menatap penuh selidik.


Si pria pakai udeng santai saja, lalu duduk di paling ujung.


“Saya lihat dari seberang, agaknya bapak-bapak ini habis bepergian dari jauh, atau kah memang orang jauh yang datang ke Majapahit?”


Semua tak menjawab. Hanya menatap tajam. Si pria pakai udeng membalas tatapan semua, satu per satu, dengan tatapan lembut.


“Kok sepertinya, mempunyai masalah yang cukup berat. Kalau boleh tahu, kira-kira masalah apa?”


Semua diam.


“Kalau memang tak boleh tahu, tidak apa-apa. Setidaknya, izinkan saya tetap duduk di sini.”


Semua diam.


Hanya beberapa ocehan burung gereja bersenda gurau di pucuk-pucuk pohon waru.


Beberapa daun kering, jatuh ke air Kolam Segaran. Serasa perahu melaju ke tengah, karena embusan angin.


Diam. Tanpa suara.


“Luar biasa kekuatan angin. Dia tak berbentuk, namun bisa dirasakan. Tidakkah Bapak-bapak tahu, begitu berjasanya angin?”


Yang ditanya diam saja.


“Angin membawa serbuk sari, di putik-putik bunga. Menebarkan ke mana-mana, dan ada yang hinggap di tanah subur, maka tumbuhlah tanaman. Angin membawa air di angkasa, lalu jatuh menjadi hujan di tempat lain. Angin mendorong kapal ke tempat yang dituju. Angin menarik air laut menjadikan surut, dan mendorong air laut menjadi pasang. Betapa hebatnya angin.”


Semua masih diam saja.


“Angin menjadikan kita bisa merasakan napas. Angin sejuk di pagi hari, menjadikan tubuh kita kedinginan. Angin panas di tengah hari menjadikan tubuh kita merasakan gerah. Angin bisa menyatu dengan panas mau pun dingin. Angin bisa menyatu semua benda. Hanya air saja, yang menjadikan angin begitu tampak walau tak berujud. Angin membuat gelembung yang selalu bulat. Tak ada gelembung berbentuk kotak atau tak beraturan. Itulah angin. Angin adalah keseimbangan, angin adalah selalu bulat.”


Tetap diam.


“Auman macan raksasa, bisa didengar karena ada angin atau udara. Bayangkan, jika tanpa udara, akankah auman macan raksasa bisa terdengar. Bayangkan diri kita, bisakah kita berbicara ketika sedang menahan napas? Tidak! Tanpa angin atau udara, maka tanpa suara terdengar. Sehebat apa pun auman macan raksasa, kalau tak ada udara, maka tak menakutkan atau menggetarkan hati. Auman hanyalah auman.”


Sosok pakai udeng menengadah ke atas, melihat pucuk-pucuk pohon waru yang dihinggapi burung gereja.


Beberapa orang mulai melirik.


“Lihatlah burung-burung gereja di pucuk pohon waru itu. Betapa mereka bersenda-gurau dan kicau tak beraturan, juga karena angin. Andai tak ada angin, tentu burung gereja itu tak akan mencapai pucuk waru. Kepakan sayapnya tak berarti apa-apa. Burung gereja akan tetap di tanah atau di sarangnya.”


Yang melirik bertambah. Agaknya, mereka mulai tertarik dengan omongan si pemakai udeng batik.

__ADS_1


“Baiklah, mungkin kalian tak tertarik dengan burung gereja. Bagaimana kalau elang raksasa?”


Semua orang terkejut.


Masih terbayang di pelupuk mata mereka, bagaimana macan dan elang raksasa piaraan Resi Witjak, Sang Penguasa Penanggungan, dalam pertarungan melawan si Bungkuk. Telinga mereka masih merasakan bagaimana pekak dan menakutkannya suara pekikan elang raksasa, atau pun auman macan raksasa.


“Elang raksasa, tak akan terlihat hebat, jika pekikan di paruhnya tak terdengar karena tak dihantarkan angin. Kegesitan elang akan hilang, ketika kepakan sayapnya dan menabrak angin. Tubuhnya yang raksasa, bentangan sayapnya yang sangat panjang, tak mengartikan apa-apa. Angin, itu adalah berkat angin. Betapa hebatnya angin.”


Semua mata melihat ke arah si pemakai udeng batik. Muncul keyakinan, si pemakai udeng batik bukanlah orang sembarangan. Seakan dia tahu, apa yang terjadi di desa mereka. Si pemakai udeng batik cerita macan dan elang raksasa bukanlah kebetulan, tapi benar-benar tahu apa yang terjadi di desa mereka.


“Kisanak, benarkah engkau tahu yang terjadi di desa kami?”


Satu pedanda tergelitik untuk memulai pembicaraan.


“Saya tidak tahu apa pun. Saya tidak tahu, Bapak-bapak ini dari mana, ke Kolam Segaran ini untuk tujuan apa, apa yang terjadi di desa Bapak, saya juga tidak tahu. Sudi kiranya Bapak-bapak bercerita kepada Saya.”


“Kisanak, siapa gerangan kamu?”


“Oh iya, kita belum kenalan. Nama saya, Kawis Guwo, saya dari Kasultanan Giri Kedaton. Bapak-bapak ini dari mana?”


“Baiklah kisanak, perkenalkan, kami semua adalah warga Desa Watu Gede, Kedipaten Singasari. Kami semua sebanyak 24 orang sedang mencari guru sakti. Empat dari kami adalah pedanda, pemimpin pura desa untuk semua peribadatan.”


“Kenapa cari guru sakti?”


“Untuk itulah, kami ke Majapahit ini, dengan harapan bisa berguru kepada orang sakti, agar bisa membebaskan desa kami dari ancaman orang aneh.”


“Orang aneh?”


“Benar kisanak. Orang aneh. Dia mengacak-acak keyakinan kami. Mempengaruhi orang-orang desa untuk mengikuti kemauannya. Bahkan, beberapa pedanda di desa kami sudah beralih ke agama yang diajarkan. Mereka hidup di gubuk pinggir kali, lalu mereka mengucapkan kata-kata aneh.”


Kawis Guwo manggut-manggut sambil tesenyum.


“Bukan itu saja, orang itu telah mengalahkan pedanda tertinggi, dan juga mengalahkan Resi Penguasa Gunung Penanggungan, Resi Witjak. Bahkan, katanya telah mengajak Resi Witjak mengikuti agama baru itu. Resi tersakti itu, akhirnya tewas dibunuh elang raksasa. Makanya, ketika kisanak cerita tentang elang raksasa, kami semua terkejut.”


“Iya, saya tahu. Siapa yang tak kenal dengan Resi Witjak, penguasa Penanggungan yang mempunyai macan dan elang raksasa,” kata Kawis Guwo mulai penasaran.


“Benar Kisanak. Atas gangguan orang itu, kami akhirnya meminta bantuan Resi Witjak, lha kok Resi Witjak dikalahkan, bahkan terbunuh oleh elang raksasa.”


“Siapa orang yang kalian sebut itu?”


“Dia Si Bungkuk.”


Tanpa kontrol, Kawis Guwo nyerocos, “Si Bungkuk, yang jalannya tertatih nyaris terjatuh, bawa tongkat bambu kuning. Dia itu setahu saya namanya Pendekar Gunung Tidar. Menguasai Ilmu Gunung Tidar milik Resi Swadaraya, yang terkenal dengan semburan api. Juga menguasa ilmu dingin milik Resi Hitu Dawiya. Saya tahu, saya tahu.”


Kawis Guwo masih menari-nari gembira.


Semua terbengong-bengong.


“Baik... Baik. Jika kalian mencari guru sakti. Saya bersedia membantu kalian untuk mengalahkan Si Bungkuk,” kata Kawis Guwo, dengan mimik serius, dan menghentikan tariannya.


“Kisanak, prajurit Majapahit mengatakan, Si Bungkuk orang paling sakti di Tanah Jawa. Bagaimana kami tahu bahwa Kisanak lebih sakti dari Si Bungkuk?”


“Baik... Baik... Siapa di antara kalian yang menjadi pemimpin?”


Seperti tersihir, atau mungkin karena lega, pencarian guru sakti sudah ditemukan, mereka menurut saja.


“Saya, Kisanak. Nama saya, Resi Sudarno. Saya satu pedanda yang sangat benci kepada Si Bungkuk. Rasanya, saya ingin menghabisi Si Bungkuk.”


“Baik.. Baik.. Saya mempunyai ilmu yang bisa mengalahkan ilmu Si Bungkuk. Jika Bapak semua ingin membunuh Si Bungkuk. Saya pun demikian. Dari pada saya membunuh sendiri, bagaimana kalau Bapak-bapak semua, saya ajari ilmu saya, gunakan ilmu saya untuk membunuh Si Bungkuk yang telah mengacak-acak Desa Watu Gede.”


“Bagaimana kami tahu, ilmu itu sangat sakti dan bisa mengalahkan Si Bungkuk? Bagaimana kalau kami semua yang kalah, dan dibunuh Si Bungkuk?”


“Apakah Bapak mengetahui sendiri, Si Bungkuk membunuh?”


“Tidak.”


“Jadi, Saya yakin, kalau pun bapak semua kalah, Si Bungkuk tak akan membunuh Bapak semua.”


“Bagaimana kami tahu, bahwa Kisanak sakti?”


“Hua ha ha....”


Tawa Kawis Guwo seakan memecah air tenang Telaga Segaran. Seakan air terbelah menjadi dua. Seakan tongkat Nabi Musa membelah lautan.


Pemandangan tak umum ini, menjadikan semua mata terbelalak. Pedanda dan dua puluh warga Desa Watu Gede langsung gemetaran.

__ADS_1


“Bapak-bapak, silakan berdiri di bawah pohon waru. Dan lihatlah ke atas.”


Sebanyak 24 orang itu seakan menurut begitu saja. Mereka beringsut dari duduk, dan berdiri di bawah pohon waru.


“Bapak-bapak, lihatlah beberapa burung gereja yang bermain di pucuk pohon waru. Tolong siap-siap tangan bapak menangkap burung gereja itu, jika terjatuh.”


Semua diam, tak mengerti.


“Jangan sampai terantuk tanah. Kasihan si burung gereja.”


Kawis Guwo lalu memandang ke arah burung-burung gereja itu. Tak lama, satu burung gereja mengepakkan sayapnya hendak terbang.


Apa yang terjadi?


Kepakan sayap burung gereja itu seakan tak menabrak angin. Meski kepakan sayap semakin cepat, burung gereja itu tetap meluncur jatuh.


Orang-orang di bawah waru kaget. Cepat-cepat mereka menangkap burung gereja yang meluncur turun.


Satu demi satu burung gereja itu terjatuh, Hingga semua orang menangkap satu burung gereja di tangkupan tangannya.


“Bapak semua. Burung gereja ini adalah burung liar. Sekarang ada di telapak tangan bapak masing-masing. Akankah dia bisa terbang?”


Semua mata terbelalak, melihat burung gereja hanya bisa mengepak-ngepakkan sayap di telapak tangan, namun tak bisa terbang.


“Kenapa? Karena tak ada angin di bagian bawah sayap burung gereja itu. Ilmu inilah yang akan saya ajarkan kepada Bapak semua, dan ilmu inilah yang akan mengalahkan ilmu Si Bungkuk.”


“Kami bukan hanya ingin mengalahkan, tapi ingn membunuh si Bungkuk.”


“Iya.. Iya... membunuh Si Bungkuk. Bapak-bapak semua, mau saya ajari ilmu ini?”


“Mau,” jawab mereka bareng, sembari mata tak lepas dari burung gereja yang terus mengepakkan sayap, namun tak bisa terbang.


“Baik kalau begitu. Mulai besok kita berlatih di Sini. Sebab, di sini pula, tempat si Bungkuk mendapatkan ilmu dari Raja Majapahit Wikrama Wardana. Sekarang, kita istirahat saja.”


Kawis Guwo, yang terlihat usianya jauh lebih muda dari semuanya ini, mulai beranjak pergi. Sejalan dengan itu pula, burung gereja yang berada di telapak tangan, bisa terbang menjauh.


Semua kaget.


Wajah mereka tampak sangat puas, bahwa pencarian guru sakti menunjukkan hasil. Mereka rasanya tak ingin menunggu besok.


“Kakang Sudarno, Sampeyan paling sakti di antara kami semua. Benarkah ilmu milik orang yang bernama Kawis Guwo itu mampu mengalahkan Si Bungkuk?”


“Saya tidak tahu. Tetapi, kalau bisa membuat burung gereja tidak bisa terbang, tentu sangat sakti. Sebab, saya baru tahu ada ilmu yang seperti itu,” jawab Sudarno sambil menunduk.


Tanda dia berpikir.


“Kakang, apa merasakan tenaga dalam Kawis Guwo?” tanya lainnya.


“Tidak, saya tidak merasakan tenaga dalam. Semua seakan normal saja. Sama sekali tak terasa getaran ilmu. Ini yang aneh.”


“Bisa menjatuhkan burung gereja dari pucuk pohon waru, masa sih tak kentara tenaga dalamnya?”


“Benar, sama sekali tak terasa.”


“Mungkin, kita menemukan guru yang sakti, dan bisa mengalahkan Si Bungkuk.”


Mereka pun memutuskan istirahat dan tidur di sekitaran Telaga Segaran. Tak sabar menunggu esok hari, untuk memulai belajar ilmu dari Kawis Guwo.


Pagi harinya, mereka melakukan puja di Telaga Segaran, dilanjutkan menunggu kedatangan Kawis Guwo.


“Bapak-bapak semua, jangan panggil saya Guru. Sebab, saya tak pantas dipanggil sebagai guru. Kita semua adalah murid, karena memang saya masih sebagai murid. Siapa guru saya, tak perlu saya sebutkan. Panggil saja saya Adi Kawis, atau Kawis saja, sebab usia saya masih muda, dan terpaut jauh dengan usia Bapak-bapak.”


Semua sepakat.


“Sebelum kita memulai latihan ilmu yang bernama Bayu Samudro ini, Saya mempunyai permintaan, dan harus Bapak-bapak semua luluskan.”


“Baik, kami semua akan meluluskan permintaan Adi Kawis,” kata Sudarno mewakili teman-temannya.


“Permintaan saya hanya satu, dan harus diluluskan. Kalau tidak diluluskan, lebih baik saya tak mengajarkan ilmu Bayu Segoro.”


“Pasti kami luluskan. Kami berjanji demi dewa-dewa.”


“Permintaan Saya, saya tulis di daun lontar, dan saya simpan di bungkusan daun pisang. Tolong dibaca apa permintaan saya, ketika Bapak-bapak semua sudah mengalahkan si Bungkuk. Silakan buka bungkusan daun pisang, baca permintaan saya, dan lakukan. Setelah itu, silakan Bapak-bapak semua membunuh si Bungkuk.”


Semua terperangah.

__ADS_1


“Baik, pasti kami luluskan. Pasti permintaan Adik Kawis, ingin memenggal kepala si Bungkuk, atau memotong tangan kakinya, pasti akan kami lakukan.”


Kawis Guwo tersenyum, sambil membuka buntalan.


__ADS_2