BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 3e: Resi dan Pendekar Tewas Mengenaskan


__ADS_3

Hal yang menyadarkan Rejo adalah, ketika dia melakukan gerakan seperti menggali, tidak seperti biasanya, yang membuat badannya terasa enteng dan bugar. Kali ini, dia seakan mendapat sengatan listrik yang sangat tinggi.


Tentu saja, cukup sekali Rejo merasakan ini. Dia memilih duduk-duduk di bibir kolam, sembari berfikir.


"Bagaimana caranya agar saya bisa mengembalikan air menjadi jernih?" tanya Rejo sendiri.


Rejo duduk memandangi air kolam menjadi biru.


"Sewaktu berwarna merah, saya bisa memasuki air ini tanpa mengerahkan tenaga dalam. Tetapi, kenapa saat air berwarna biru seperti ini, saya seakan tersengat listrik?"


"Atau mungkin sebaliknya. Saya harus mengerahkan tenaga dalam maksimal? Baiklah, perlu saya coba juga."


Usai salat dluhur, ketika para pertapa dan pendekar memilih mencari tempat teduh, Rejo malah membuka baju, dan mulai membuka jurus untuk mengumpulkan tenaga dalam hingga maksimal.


Sengatan matahari menjadikan Rejo dengan mudah mengorganisasi tenaga dalam terbesarnya. Tenaga dalam itu dikumpulkan di ujung jari kelingking tangan kanan.


Lalu, perlahan, kelingking penuh tenaga dalam itu didekatkan ke air. Rejo tak merasakan daya tolakan. Malah sebaliknya, Rejo merasakan seakan kelingkingnya tersedot magnit sangat besar yang berasal dari kolam.


Rejo sempat kaget.


Namun, karena otak cerdasnya saja sehingga Rejo cepat bisa menemukan jawabnya.


"Berarti, tenaga dalam saya, sejalan dengan energi yang ada di kolam. Hanya saja, energi dalam kolam ini cukup besar sehingga saya saya seperti ditarik. Jadi saya hanya perlu mencari tahu, di mana pusat energi di kolam ini," gumam Rejo.


Tak terlalu sulit juga bagi Rejo untuk menemukan pusat energi. Rejo segera mengumpulkan buah gayam yang sudah mengering.


Satu buah gayam itu digenggam sangat erat. Dialirkan tenaga dalam ke cangkang buah gayam itu.


Buah gayam dilempat sejauh-jauhnya ke tengah kolam.


"Plung."


Buah gayam mengambang.


Perlahan, buah yang di bagian cangkangnya dialiri tenaga dalam Rejo ini, mulai bergerak ke satu arah.


"Bisa jadi karena hembusan angin."


Rejo segera menggenggam satu buah gayam lagi.


Begitu terisi tenaga dalam yang cukup besar di bagian cangkang, Rejo melemparkan lagi ke kolam. Kali ini, hanya di dekat Rejo berdiri.


Perlahan, buah itu mulai bergerak. Bahkan menentang arah angin.


"Benar perkiraan saya. Gayam yang berisi tenaga dalam ini tertarik ke arah sumber energi di kolam ini. Baiklah, akan saya coba dengan banyak buah gayam, dan saya lemparkan ke segala penjuru kolam."


Rejo mencari bunga-bunga yang wangi sebanyaknya.


Kelopak bunga wangi itu diusap-usapkan di tiap buah gayam. Harapannya, wewangian, akan menjadi pengikat bagi tenaga dalam, agar tak cepat netral.


"Lihat orang gila itu. Saat warna air kolam merah, dia malah masuk ke dalam kolam. Saat air kolam ini warnanya biru, malah melempar-lemparkan buah gayam ke kolam," kata warga sekitar kolam.


Memang, Rejo melemparkan puluhan buah gayam yang sudah terisi tenaga dalam, di berbagai penjuru kolam.

__ADS_1


Perlahan, buah gayam itu mulai bergerak ke arah satu titik.


Rejo tersenyum.


"Oh ternyata di situ, pusat energi di kolam ini."


Rejo baru ingat, bahwa titik berkumpulnya buah gayam itu, tak lain ada di permukaan di mana di bagian dasarnya terikat kelapa yang mengeluarkan gelembung.


"Jadi, pusat energi di kolam ini, tak lain berasal dari buah kelapa yang mengeluarkan gelembung itu. Satu sudah terjawab, di situ sumber energi kolam ini."


"Hanya saja, bagaimana agar energi kolam ini saya netralkan, dan air bisa kembali jernih. Dan bagaimana ribuan ikan ini bisa kembali hidup."


Rejo mendekati lokasi buah kelapa yang mengeluarkan gelembung. Dicoba untuk menembakkan tenaga dalam ke arah permukaan yang bergelembung.


Benar! Tenaga dalam yang dilontarkan seakan terserap begitu saja.


"Jadi, seandainya saya masuk ke dalam air, tentu saya tak akan terlontar. Patut untuk saya coba."


Rejo segera melangkahkah kaki masuk ke dalam kolam Segaran yang berwarna biru itu.


Belum lagi Rejo menuruni tangga ke dua, sosok pertapa mendatangi Rejo.


"Anak muda. Engkau jangan sok. Bolehlah engkau sebelumnya mengalahkan pertapa dengan caramu dan menunjukkan engkau murid dari resi hebat. Tapi, tidak dengan urusan menangani kolam ini. Minggir anak muda, biar aku saja yang menyelesaikan."


Rejo mengurungkan masuk ke dalam kolam. Dia balik menaiki tangga.


"Sejak engkau melemparkan buah gayam tadi, aku sudah tahu. Bahwa engkau sebenarnya mencari titik energi tertinggi dalam kolam ini.


Rejo menyilakan.


Rejo memilih duduk bersantai di bawah pohon waru.


Sang pertapa segera duduk bersila di bibir kolam. Mulutnya komat-kamit membaca mantra.


Kelakuan sang pertapa ini, akhirnya mengundang pertapa lain dan pendekar untuk mendekat. Maklum, mereka semua sudah membuang waktu berminggu-minggu hanya untuk menangani Kolam Segaran yang aneh ini.


Ketika semua pertapa dan pendekar melihat gayam kering itu mengambang dan berputar-putar di satu titik, mereka baru menyadari bahwa sumber masalah air kolam yang berubah warna berawal dari situ.


"Bukankah di dasar kolam di situ, ada buah kelapa yang bersesis dan mengeluarkan gelembung. Itu buktinya, gelembung masih keluar. Mestinya, gelembung itu memecah buah gayam yang bergerumbul itu. Nyatanya, tidak. Seakan buah gayam itu terikat di situ."


Semua segera duduk bersila di dekat pertapa, dan mulai tapa brata. Beberapa pendekar segera memilih tempat agak lapang untuk membuka jurus andalan.


Yang jelas, mereka hendak membidik pusat gelembung itu.


Melihat ini, Rejo kaget. Segera dia beringsut menjauh.


"Apakah para pendekar dan pertapa ini tidak tahu, begitu besarnya energi di air itu.


Jangan-jangan, para pendekar dan pertapa ini hendak menembakkan tenaga dalam ke arah pusat gelembung itu. Wah... sungguh berbahaya. Bisa jadi menimbulkan ledakan hebat, dan bisa jadi akan muncul korban," fikir Rejo.


"Bapak pertapa dan para pendekar semua. Saran saya, jangan sekali-kali menembakkan tenaga dalam ke arah gelembung itu, sebab, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan dari gelembung itu. Bisa jadi bapak-bapak semua jadi korban," saran Rejo dengan suara kencang.


Tapi, tak ada yang menggubris.

__ADS_1


Rejo segera berlari kepada kerumunan orang-orang yang melihat aksi para pendekar ini.


"Bapak dan ibu semua, cepat segera menjauh dari sini. Lihat dari jauh saja. Saya takut akan muncul ledakan sangat hebat dan saya tidak ingin bapak dan ibu semua menjadi korban," kata Rejo sambil menghalau orang-orang agar pergi menjauh.


Rejo pun ikut-ikutan menjauh.


"Anak muda, kenapa engkau tidak ikut bersama para pertapa itu?" tanya satu warga.


"Tidak. Terlalu berbahaya dan terlalu gegabah. Para pertapa dan pendekar itu tak tahu, seberapa besar kekuatan dari air kolam segaran ini. Sebenarnya tidak terlalu berbahaya jika dilaksanakan secara sendiri-sendiri, dari jarak yang saling berjauhan. Tetapi, kalau mereka berkumpul di satu titik, dan akan mengerahkan tenaga dalam secara bersamaan, tentu tenaga dalam itu sangat besar. Jika dua tenaga besar dibenturkan, maka akan muncul ledakan luar biasa. Mungkin, dari suaranya saja, bisa menimbulkan kematian. Belum lagi lontaran tenaga besar yang akan membawa batu, kayu kerikil berterbangan. Bisa jadi melukai dan membunuh orang-orang."


Semua terkejut.


"Ada baiknya, kita tiarap saja," ajak Rejo.


Rejo segera terngkurap.


Warga-warga yang ada di sekitar Rejo juga melakukan hal sama.


Rejo memerintahkan orang-orang menyumpal telinga orang-orang dengan rumput yang sudah dilembutkan. Lalu ditutup dengan kedua tangan.


Semua menurut.


Mereka semua tegang menunggu apa yang akan terjadi.


Agak lama ditunggu, air kolam di sekitaran gelembung mulai menggelegak. Kian lama kian kencang, menjadi gelombang yang cukup dahsyat. Seperti air dalam mangkok yang secara sengaja digoyang-goyang. Air kolam berwarna biru itu berkecipak semburat ke mana-mana. Termasuk tubuh Rejo dan orang-orang yang tiarap basah kuyup oleh cipratan air kolam.


Uniknya, ribuan ikan mengapung itu, tak ada satupun yang terlempar keluar kolam.


"Wow, orang-orang gila itu, mulai mengerahkan tenaga dalam," fikir Rejo.


Rejo tegang.


Warga mulai ketakutan.


Tiba-tiba......


"Blar!"


Ledakan sangat kencang terjadi.


Kilatan sinar menyilaukan muncul dari pusat gelembung.


Buah gayam yang tadi terkumpul ambyar entah kemana.


Sejenak mata orang-orang tak bisa melihat karena terkena silauan yang luar biasa tadi.


Sejalan dengan ledakan kencang tadi, hembusan hawa panas membara, membakar apapun yang ada di dekatnya.


Ketika mata orang-orang mulai bisa melihat lagi karena efek silau menghilang, mereka melihat pemandangan yang memilukan.


Mereka melihat tubuh bergelimpangan.


Darah membanjiri sekitar.

__ADS_1


__ADS_2