BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7o: Gambar Perahu seakan Bergerak


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban, Kawis Guwo berlalu.


Kini, semua mata memandang bentangan kain di dua kayu, seakan layar atau beberan pagelaran wayang kulit.


Hanya saja, di bentangan kain itu penuh gambar-gambar perahu berwarna cerah. Warna emas, perak, putih, warna-warna muda.


“Kakang, itu kan gambar perahu. Sepertinya di lautan hitam,” ujar salah satu di antara mereka.


“Iya. Kata Adi Kawis, ada cerita. Apa ya?”


“Mungkin kita diminta untuk menceritakan apa yang terjadi pada perahu-perahu itu.”


“Lantas, apa hubungannya dengan latihan kita yang pertama?”


“Iya... ya..”


“Tentu ada tujuan yang lebih penting, dari pada hanya melihat gambar-gambar perahu itu.”


“Apa?”


“Ya, tidak tahu. Kita disuruh untuk melihat dan menemukannya.”


Seharian mereka semua memandangi beberan kain hitam dengan gambar perahu itu, namun tidak ada yang bisa menceritakan apa maksudnya. Karena lelah berkonsentrasi, mereka pun memilih istirahat dan tidur dalam kecapekan.


Di gelap malam buta, satu di antara mereka terbangun. Cahaya dari api mengenai permukaan kain terbentang. Yang dilihat, seakan perahu itu muncul dan bersinar.


“Kakang semua, bangunlah. Lihatlah, perahu itu seakan bersinar dan muncul ketika terkena cahaya api.”


Semua terbangun, dan melihat bentangan kain.


Benar, muncul gambar-gambar perahu yang seakan menyala. Indah.


“Mungkin ini yang dimaksud oleh Adi Kawis, agar kita bisa menceritakan bahwa perahu ini menyala jika kena sinar. Bahkan, ketika sinar itu tak ada, gambar-gambar perahu itu masih menyimpan sinar."


Mereka semua puas dengan temuan ini, dan sangat yakin inilah yang diharapkan Kawis Guwo. Karena saking asyiknya, mereka menikmati gambar perahu menyala itu sampai fajar.


Matahari hingga meninggi, Kawis Guwo tak datang. Ditunggu sampai sore pun, tak datang.


“Yang kemarin itu, ketika kita salah, Adi Kawis tidak datang. Jangan-jangan, yang kita ketahui itu adalah salah. Bukan itu yang dimaksud Adi Kawis,” kata Pedanda Sudarno kepada teman-temannya.


“Ah, sepertinya tidak Kakang. Kita kan tak pernah mengetahui hal ini. Sepanjang hidup, saya baru kali ini melihat gambar yang bisa menyala. Bahkan, ketika sinar hilang pun gambar tetap menyala. Kalau sore begini, tak terlihat nyalanya.”


“Lantas, apa hubungannya dengan kita berlatih melihat bulatan bening? Apa hubungannya kita berlatih melihat wujud angin?”


Semua terdiam.


Diamnya, seakan mengatakan, “Benar juga.”


Semua pun terdiam.


Menjelang malam, ketika remang senja memagut hening. Pedanda Sudarno berinisiatif untuk semadi, duduk mengarah ke beberan kain hitam.


Awalnya, seakan hujaman ribuan jarum panas menerpa ubun-ubun. Hanya sejenak terasa, dengan membuat area rambut dan ubun-ubun hampa udara, akhirnya rasa panas menghilang.


Lamat-lamat, Pedanda Sudarno mulai melihat butiran bening, dalam jumlah tak terhingga di sekitar mereka. Pandangannya diarahkan ke kain hitam.


Ada butiran bening, yang ditembus gambar perahu.


Hanya itu,


Tak terjadi apa-apa.


Angin berhembus. Menimpa permukaan beberan kain hitam.


Butiran bening jumlahnya berbeda-beda di permukaan kain hitam. Ada kumpulan butiran bening yang berputar-putar laksana angin guruh, ada kumpulan yang bergerak sangat cepat, ada kumpulkan yang diam. Pemandangan unik dan indah luar biasa ini dinikmati Pedanda Sudarno.


Yang mengejutkan, ketika kumpulan butiran bening menimpa permukaan kain yang ada gambar perahu, terlihat seakan-akan perahu diombang-ambing ombak. Naik turun, timbul tenggelam.


Bukan itu saja, seakan gambar perahu itu melaju, mengarah ke satu titik, sebuah gambar perahu berukuran lebih besar, yang berada di pojok atas.


Sudarno terperangah. Mulutnya terbuka. Takjub alang-kepalang.

__ADS_1


“Saya menemukan!” teriak Pedanda Sudarno.


Mengejutkan semua teman-temannya, yang saat itu mengirim puja kepada Sang Hyang.


“Apa?”


“Cerita di kain hitam itu.”


“Apa?”


“Cerita tentang, sebuah perahu yang berlayar menuju ke perahu berukuran besar, di ujung kanan atas itu.”


“Kok bisa?”


“Bisa saja. Coba kalian semadi, lalu munculkan butiran bening di depan kalian. Kita tunggu angin berhembus agak kencang. Maka, gambar-gambar perahu ini, seakan sedang berlayar di air laut yang jernih. Perahu-perahu itu berlayar menuju ke sebuah perahu besar. Wow! Sungguh indah dan luar biasa.”


Serta-merta, ke-23 orang itu segera semadi.


Tak lama, decakan kagum meluncur dari setiap mulut.


“Ternyata, gambar-gambar perahu yang beraneka warna itu, hakikatnya hanya satu perahu, yang melaju menuju ke perahu besar. Ketika hembusan angin dengan kecepatan tertentu, dan kumpulan bulatan bening yang berbeda-beda gerak, bisa menghilangkan perahu yang mempunyai warna tertentu, tapi memunculkan perahu dengan warna lain di dekatnya. Demikian seterusnya, sehingga seakan satu perahu melaju menuju ke perahu besar.”


Semalaman mereka menikmati sensasi luar biasa ini. Mereka pun bergantian membakar kayu cukup banyak, agar sinarnya mencapai kain hitam itu. Esoknya, Kawis Guwo datang.


“Bagaimana Bapak-bapak? Sudah menemukan cerita di beberan kain hitam ini?”


“Sudah, Adi Kawis. Kami melihat bahwa sejatinya, gambar perahu di kain hitam ini, adalah satu perahu yang bergerak menuju ke sebuah perahu ukuran besar di pojok kanan atas.”


“Hmmmm. Lumayan.”


“Maksudnya?”


“Bapak-bapak hanya mendapatkan separuhnya saja. Itu hanya sekedar cerita gerak. Tapi bukan cerita inti. Temukan intinya.”


Semua terbengong,


Kawis Guwo pergi. Ke-24 orang hanya memandang, dalam diam.


Mereka kembali tenggelam dalam sensasi perahu bergerak. Lebih-lebih siang hari, gerak perahu sangat kentara dan indah.


Kejadian ini berlangsung beberapa hari, sampai mereka semua sudah bosan melihat perahu bergerak. Kawis Guwo tak pernah datang.


Lagi-lagi, Pedanda Sudarno menemukan hal yang tak lazim.


“Adik semua. Tidakkah kita mengadari, bukankah kain ini hitam penuh gambar perahu warna warni cerah.”


“Iya.....”


“Kenapa kita tak menyadarinya.”


“Menyadari apa?”


“Kain hitam.”


“Iya. Kenapa kain hitamnya?”


“Lah, coba lihat lagi. Ketika butiran bening sudah kita lihat, dan kita melihat perahu. Kemana warna hitamnya? Semua permukaan berubah seakan warna bening air, seakan perahu itu mengapung dan tenggelam dalam air. Kemana warna hitamnya?”


Lagi-lagi, mereka semua segera semadi.


Benar adanya, warna dasar hitam pada kain itu berubah jadi warna bening.


Kali ini, mereka semua yakin, telah menemukan inti dari beberan kain itu. Dan mereka tak sabar untuk menyampaikan kepada Kawis Guwo.


“Benar. Bapak telah menemukan satu inti. Kain hitam itu menghilang, ketika butiran bening memenuhi permukaan kain. Lantas apa artinya?”


Semua diam.


Sambil tersenyum, Kawis Guwo berkata, “Inilah gambaran hati kita. Ketika tak ada cahaya kebaikan, hati kita hanya hitam seperti warna dasar kain beberan ini. Namun, ketika hati kita dipenuhi dengan cahaya kebaikan, layaknya butiran angin, maka yang muncul adalah warna bening, jernih, dan indah.”


“Berarti, kita telah bisa berlatih ilmu bayu Segoro?”

__ADS_1


“Belum. Masih satu inti. Temukan lagi inti lainnya.”


Kawis Guwo berlalu. Semua mata hanya memandang punggungnya, tanpa suara.


“Apa lagi?”


Agaknya semangat mereka mulai melemah. Hanya Pedanda Sudarno yang cukup cerdas menyikapi ini.


“Kenapa bingung?”


“Ya bingung lah. Ini kan sulit.”


“Ingat tujuan awal kita disuruh memandangi beberan kain hitam penuh gambar perahu ini?”


“Apa?”


Sepertinya mereka malas berpikir, dan menyerahkan semuanya kepada Pedanda Sudarno, yang memang paling sakti, dan paling cerdas itu.


“Jawabnya, ya gerak perahu itu.”


“Gerak perahu. Benar! Gerak perahu.”


Semua diam.


Akhirnya, Sudarno memandangi beberan itu, dalam posisi berdiri. Ketika angin berhembus, dan gambar perahu mulai bergerak. Kaki Sudarno mulai melangkah, mengikuti gerak ke mana gambar perahu itu. Jika gambar perahu yang muncul di sebelah kiri, Pedanda Sudarno melangkah ke kiri.


Dia mengikuti terus, kiri, kanan, maju, mundur, sesuai munculnya gambar perahu.


Ini dilakukan, terus dan terus, sampai perahu itu mencapai perahu besar di pojok kanan.


Semua hanya melihat apa yang dilakukan Pedanda Sudarno.


Pedanda Sudarno mengulangi hingga berkali-kali, sampai dia benar-benar hapal langkah demi langkah.


Di tempat yang agak lapang, Pedanda Sudarno melakukan gerak langkah kaki itu dengan sangat cepat. Berkali-kali, dan kian cepat, hingga dia terengah-engah.


Hasilnya, luar biasa. Dan hanya Pedanda Sudarno yang bisa merasakan. Tatapan matanya yang tertuju ke satu titik, bisa membelah kumpulan butiran bening. Antara mata Pedanda Sudarno dan titik yang dipandang, ada garis hampa udara.


“Wow!” teriak Sudarno.


“Benar-benar ilmu luar biasa. Betapa saktinya Adi Kawis Guwo!”


“Ada apa, Kakang?”


Tak dijawab oleh Pedanda Sudarno.


Tapi, tatapan matanya, dialihkan ke permukaan air Kolam Segaran. Dia memandang, dari ujung dekat dia berdiri, menuju ke ujung seberang.


Yang terjadi adalah, air itu terbelah. Persis seperti yang dilakukan Kawis Guwo sebelumnya.


“Kok bisa?”


“Sangat bisa. Ternyata, gerak perahu itu adalah langkah kaki untuk melatih cara menghadirkan ruang hampa, antara mata kita sampai titik yang kita pandang. Ayo kalian berlatihlah.”


Semua mulai memandangi beberan hitam, dan akhirnya kaki bergerak melangkah, demi langkah, sampai semua menghapal langkah-langkahnya. Tak lama, mereka pun bisa membelah air kolam segaran.


Mereka pun bergembira, dan siap menjelaskan kepada Kawis Guwo.


“Mengikuti gerak perahu adalah benar. Ini langkah menguasai ilmu bayu Segoro. Intinya apa?” balik Kawis Guwo bertanya.


Tentu saja, semua tak siap ditanya balik.


Diam.


“Sudahlah, Bapak-bapak, kalau gini-gini terus, kapan kita berlatih. Inti ke dua adalah perahu ukuran besar di pojok kanan atas. Itulah inti dari tujuan hidup. Kita harus mempunyai keinginan kuat untuk menuju ke perahu besar. Apa itu? Surga.”


“Jika hati kita hitam, tanpa ada kebaikan layaknya bulatan atau butiran bening, kita tak akan bisa melangkahkan kaki kita menuju surga. Karena itu adalah tujuan yang utama. Agar kita bisa mencapai surga, bukanlah karena perbuatan baik kita, tetapi karena Maha Pemurahnya Tuhan, Sang Hyang. Kenapa seperti itu? Karena Tuhan lah Sang Pemilik Angin, Sang Pemilik semua yang ada di bumi, angkasa, dan semesta. Tuhanlah yang menggerakkan angin, sehingga kita bisa melihat butiran bening berkumpul, seakan bisa melajukan perahu menuju ke perahu besar. Tanpa kehendak Tuhan, kita tak mungkin bisa bergerak. Kita harus mengakui, betapa tidak berdayanya kita semua.”


Semua terdiam.


“Baiklah, mulai besok, kita akan berlatih ilmu Bayu Segoro sebenarnya.”

__ADS_1


Semua lega. Semua gembira. Semua tak sabar menunggu esok hari.


__ADS_2