
“Kanjeng Syech Jumadil Kubro adalah paman saya. Dan ketika saya masih anak-anak dulu, saya ingat, Paman pernah mengatakan, bahwa di Majapahit ada seorang anak yang mempunyai bakat luar biasa, mungkin usianya lebih tua dari saya. Paman mengatakan, kalau tak salah, namanya Rejo. Paman mengatakan, ada baiknya, ketika saya dewasa untuk bertemu dengan Rejo itu. Jangan-jangan, yang disebut-sebut Paman, adalah Bapak Rejo.”
Rejo hanya diam.
“Lalu, benarkah bapak berkeliling di beberapa kerajaan di tanah Jawa ini, berniat untuk melenyapkan ilmu warisan Resi Swadaraya?”
“Benar, Kanjeng Raden.”
“Bagaimana dengan ilmu itu, sekarang ini?”
“Masih dalam diri saya. Dan kadang muncul keinginan untuk meletupkan dan bertarung. Hanya dengan melalui sholat dan wirid saja, saya masih mampu mengendalikannya. Namun, saya tak tahu lagi, jika kondisi saya terjepit. Mungkin saya tak mampu menguasainya.”
“Apa bapak mau, saya bantu untuk menghilangkan ilmu dari Gunung Tidar itu?”
“Mau.”
“Dengan beberapa resiko?”
“Baik. Saya mau, meski beresiko pada diri saya.”
“Apapun itu?”
“Saya ikhlas. Apapun itu.”
“Baiklah kalau begitu.”
Lalu, Raden Rahmat menyuruh Rejo untuk mandi keramas dan dilanjutkan salat hajat.
Usai salam, tiba-tiba saja punggung tepat di bawah leher, ditepuk keras-keras oleh Raden Rahmat.
Tepukan ini menjadikan Rejo tersungkur.
Dan Rejo mencoba berdiri.
Tapi, ada yang aneh pada dirinya.
Seakan dia tak mampu berdiri tegak. Tepat di tempat yang ditepuk Raden Rahmat tadi, muncul punuk.
Bahkan, untuk melihat ke arah depan saja, Rejo cukup kesulitan. Lebih-lebih untuk melangkahkan kaki. Rejo selalu terjerembab. Berkali-kali dicoba, Rejo tetap terjerembab.
Raden Rahmat duduk bersila dan wiridan.
Matanya terus mengamati gerak-gerik Rejo yang jatuh bangun.
“Bagaimana dengan kondisi Bapak Rejo.”
“Alhamdulillah. Insya Allah, ini yang saya mau. Tiada lagi tubuh tegap, tiada lagi kesombongan. Tiada lagi tatapan mendongak ke atas. Terima kasih, Kanjeng Raden. Saya menerima keadaan saya yang bongkok ini. Allahu akbar, ternyata penyelesaian ilmu ganas dalam diri saya ini, adalah melalui tubuh bongkok yang tak mampu berjalan ini.”
Lalu, Raden Rahmat bangkit dari duduknya, menuju ke arah rimbunan bambu kuning.
Dipotongnya satu ruas bambu yang cukup dalam genggaman, di bagian akarnya. Diserut akar bambu itu halus-halus, hingga nyaman di genggaman.
Cukup lama raden Rahmat menyerut bambu kuning itu, untuk dijadikan tongkat yang cukup kokoh. Tongkat ini diberikan kepada Rejo yang duduk bersila, dengan kepala yang selalu menunduk karena lehernya tak bisa bergerak bebas terhalangi punuk di punggung atas.
Rejo berdiri perlahan, bertelekan tongkat yang dibuat Raden Rahmat.
“Mohon maaf, Kanjeng Raden. Bisakah saya belajar kepada Kanjeng Raden?”
“Bapak Rejo ingin belajar apa?”
“Mengaji.”
“Insya Allah, akan saya ajari. Namun, tidak sekarang. Insya Allah, waktunya tak lama lagi.”
“Terima kasih, Kanjeng Raden.”
“Sekarang, bolehkah saya meminta kepada Bapak Rejo.”
“Silakan. Selama saya mampu.”
“Saya ingin, Bapak Rejo menemani saya, ke manapun saya pergi. Dan bila perlu, mengawal saya.”
“Hah? Bagaimana mungkin saya mengawal Kanjeng Raden, dengan kondisi seperti ini? Bagaimana mungkin saya menemani Kanjeng Raden, lha untuk berjalan sendiri saja, saya cukup sulit. Jadinya, saya nanti malah membebani dan memperlambat Kanjeng Raden.”
“Saya hanya ingin, apakah Bapak Rejo bersedia menemani saya ke manapun saya pergi?”
Rejo baru tersadar. Bahwa yang dia sampaikan kepada Raden Rahmat hanyalah keluhan atas munculnya punuk di punggungnya itu.
“Ya, saya bersedia.” Rejo segera saja menjawab
“Apakah Bapak Rejo ikhlas menjadi pengawal saya?”
“Iya saya ikhlas.”
“Alhamdulillah. Sekarang sepertinya sudah cukup. Silakan simpan lagi pedang Bapak. Mohon maaf, jika Bapak tak bisa lagi menaruh pedang itu di punggung, layaknya dulu-dulu. Insya Allah, saya akan mampir lagi, lain waktu.”
Rejo kaget. Dia semakin yakin akan sosok pemuda berjubah ini. Raden Rahmat bisa mengetahui secara menyeluruh tentang dirinya, seakan sudah mengenal lama. Bahkan kebiasaan menaruh pedang di punggung pun, Raden Rahmat mengetahuinya.
Raden Rahmat pun pamit.
Rejo melepas kepergian sang pemuda gagah ini, hanya dengan lirikan matanya. Sebab, dia sudah tak bisa lagi melihat dalam posisi tegap.
__ADS_1
Ketika sang pemuda sudah tak kelihatan lagi, Rejo mencoba melangkahkan kakinya, sedangkan dua tangannya memegang tongkat bambu kuning itu dengan erat-erat, agar tidak terjerembab.
Rejo memilih untuk tidak kembali ke gubuknya dulu, tetapi dia belajar lagi dengan kondisi tubuhnya yang baru.
Rejo benar-benar sangat bahagia, karena ilmu warisan Gunung Tidar yang selama ini ‘menguasai’ dirinya, kini telah lenyap. Paling tidak, dia tak lagi merasakan aliran hawa panas di pusar, di tulang ekor, bahkan di sekujur tubuhnya.
Hanya saja, Rejo belajar lagi berjalan, dan menyesuaikan keseimbangan tubuhnya, agar tidak terjatuh.
Rejo hanya beristirahat ketika waktu salat tiba. Setelah itu, dia belajar berjalan lagi. Lebih-lebih akan lebih sulit lagi, ketika yang harus dilewati jalanan berbatu, atau berlubang. Namun, ini tak menyurutkan Rejo terus belajar.
Terjerembab demi terjerembab tak menjadikan nyali Rejo susut.
Memang tak mudah bagi Rejo untuk menguasai tubuhnya yang bongkok. Bahkan, punuk yang dirasakan cukup berat.
Ketika beranjak tidur pun, Rejo harus membiasakan tidur dalam posisi miring. Sebab, punuk cukup mengganggu. Hasilnya, ketika subuh datang, persendian seluruh badan Rejo merasa sakit semua. Namun, hal itu tak sebanding dengan perasaan bahagia karena bisa melenyapkan ilmu ganas yang menguasai tubuhnya.
“Saya sudah menghabiskan umur saya berpuluh tahun, untuk menghilangkan ilmu ganas ini. Sungguh, kalau hanya sekedar punuk di punggung, tak menjadikan saya kecewa. Bahkan, untuk lumpuh sekali pun, atau bila perlu, saya mati sekali pun tak masalah,” gumam Rejo sendiri, untuk menghibur diri, ketika kesulitan dalam posisi tidur.
Seakan dia berbicara dengan nyamuk yang mengiang-ngiang di dekat telinganya.
Rejo berlatih berjalan semakin jauh. Bahkan, dengan kondisi punuk di punggungnya ini, dia tak lagi harus mengintip di istana Bungkul.
Dia dengan enaknya berjalan tertatih memasuki regol. Tak ada satu pun prajurit yang menghentikannya.
Mungkin, pikir prajurit, bagaimana mungkin lelaki bungkuk ini bisa membuat keonaran di dalam istana Bungkul?
Jadi, di dalam alun-alun yang tak terlalu luas inio, Rejo dengan santainya melihat para santri berlatih kanoragan atau pencak silat, di bawah arahan langsung sang Adipati Bungkul.
Karena memang kondisinya mengenaskan, malah kebanyakan orang merasa kasihan kepadanya. Bahkan, ada yang memberinya uang. Namun, dengan halus, pemberian itu ditolak.
Rejo benar-benar dalam satu kebahagiaan lahir batin. Dia tak lagi punya kekhawatiran terhadap orang-orang yang ingin menantangnya bertarung.
Rejo sangat menikmati menjadi orang yang bukan siapa-siapa.
Rejo sangat bergembira, karena saat berjalan dia selalu menunduk takdim. Karena kedua matanya hanya mampu menatap dua tapak jalan di depannya.
Namun, orang yang melihat kondisi Rejo, umumnya menimbulkan perasaan kasihan, iba, bahkan tak tega. Namun, semua rasa empati orang-orang itu, dibalas dengan senyuman bahagia oleh Rejo.
Sungguh, andai ada orang yang pernah bertarung atau mengetahui kehebatan ilmu Rejo sebelum bunguk, pasti pingsan, begitu tahu bahwa Sang Pendekar Gunung Tidar yang menjadi jawara tanah Jawa Dwipa ini, kini sangat ringkih. Bahkan untuk berjalan saja, nyaris terjerembab.
Biasanya, untuk mencapai istana Bungkul dari gubuknya, hanya butuh waktu sebentar saja, namun kali ini, dengan cara berjalan tertatih, Rejo hampir menghabiskan waktu separuh pagi.
Yang membuat orang-orang heran, selalu tersungging senyum di bibir Rejo, dan dengan tatapan mata teduh.
Pun demikian ketika Rejo mendatangi istana Ribang Kuning untuk melihat sabung ayam.
Tak ada seorang pun yang mengenal.
Acap Rejo terjerembab ke arena sabung ayam, karena penonton yang ada di belakangnya terdorong ke depan.
Namun, siapa sih yang marah?
Tidak ada.
Rejo tertatih berdiri, di antara dua ayam yang saling gebrak.
Bahkan, semua penonton merasa iba dan kasihan. Ada beberapa penonton yang membantunya berdiri. Dan akhirnya Rejo diberi tempat agak longgar dan aman dari dorongan.
Rejo merasakan, ketika dia terjerembab ke tengah arena sabung ayam tadi, dia merasakan terpaan tenaga dalam luar biasa yang berasal dari ayam milik Ki Wiroseroyo.
“Tenaga dalamnya sangat kuat. Andai dilontarkan ke arah tubuh manusia, belum tentu manusia itu bisa selamat. Tak salah, jika Majapahit memilih dia dan Adipati Bungkul sebagai palang pintu, untuk memukul serangan dari arah laut,” gumam Rejo sambil melirik ke arah Ki Wiroseroyo yang melihat santai ke arah arena sabung ayam. Ki Wiroseroyo sangat yakin, ayamnya bakal menang.
Dan memang begitu adanya. Tak lama setelahnya, ayam lawan menggelepar meregang nyawa.
Seakan sudah tahu tuannya, ayam milik Ki WIroseroyo berjalan gagah menuju tuannya. Dan duduk di bawah kursi sang tuan.
“Ada lagi yang ingin melawan ayam milik saya?” tanya Ki Wiroseroyo lantang.
Setiap dibuka sabung ayam, pasti ada yang penasaran. Beberapa putra bangsawan maju dengan menenteng ayam jagoannya.
Mereka pun disuruh memilih sendiri satu di antara sebelas ayam milik Ki Wiroseroyo, untuk diadu melawan ayam jagoannya.
Setiap minggu, selalu saja ayam Ki Wiroseroyo yang menang.
Rejo perlahan bergeser sedikit demi sedikit, untuk mencapai tempat terdekat dengan Ki Wiroseroyo.
Semakin dekat, Rejo merasakan hawa panas dan terpaan angin halus, tanda bahwa Ki Wiroseroyo mempunyai energi tenaga dalam yang sangat besar. Bahkan, Rejo juga merasakan terpaan angin lembut dari tiap-tiap ayam aduan dalam kurungan.
Semakin dekat, Rejo semakin merasakan energi panas.
Namun, gelagat ini ditangkap Ki Wiroseroyo.
“Hei bungkuk! Engkau sepertinya orang baru di sini. Kenapa kian mendekat kepadaku!” teriak Ki Wiroseroyo, mengagetkan para pangeran dan penonton sabung ayam.
Rejo cukup terperanjat. Dia pun langsung jatuh terjerembab ke arena sabung ayam.
Rejo merasakan terpaan tenaga yang sangat menyakitkan sekujur tubuhnya.
Namun, dengan terjerembabnya Rejo, para pangeran, bangsawan dan penonton sabung ayam, tertawa terbahak-bahak. Mereka melihat Rejo jatuh bergulingan, dan kesulitan untuk berdiri.
Barulah Rejo bisa berdiri setelah dibantu dua prajurit yang berjaga di sekitar arena sabung ayam.
__ADS_1
“Mohon ampun, Kanjeng Adipati. Bukan berarti saya lancang, saya hanya orang kampung yang mencari hiburan di sini,” kata Rejo, sambil menjura hormat, juga sambil berpegangan tongkat bambu kuningnya.
“Bungkuk, siapa namamu?”
“Rejo,” kata dia, tetap di posisi merunduk takdim.
“Rumahmu mana?”
“Saya tinggal di gubuk, di antara tanah perdikan Ribang Kuning ini, dan tanah Perdikan Bungkul.”
“Oh, jadi engkau tinggal di tengah-tengah wilayah kami. Apa maksudmu?”
“Ampun Kanjeng Adipati, saya tak punya maksud apa-apa.”
“Mana mungkin? Engkau pasti bukan orang sembarangan.”
“Ampun Kanjeng Adipati. Mana mungkin saya berani?”
Ki Wiroseroyo tak berbicara lagi. Tapi, tatapannya sangat tajam menghujam wajah Rejo.
Rejo tetap merunduk.
“Mohon maaf Kanjeng Adipati, kalau memang tak ada yang ditanyakan lagi, perkenankan saya undur diri.”
Ki Wiroseroyo tak berbicara, namun tetap menatap tajam.
“Orang bungkuk ini sangat aneh. Meski saya tak merasakan adanya tenaga dalam sama sekali, tapi saya yakin dia orang sakti. Tidak ada yang bisa menahan pukulan jarak jauh yang saya lontarkan tadi. Siapa sebenarnya orang bungkuk ini?”
Rejo beringsut mundur.
Tetapi, belum lagi tiga langkah mundur, Ki Wiroseroyo berteriak.
"Rejo. Jangan pergi!"
Rejo menghentikan langkah mundurnya.
"Mohon ampun Kanjeng Adipati."
"Sudah. Mohon maaf, untuk sabung ayam hari ini cukup sekian saja. Akan kita adakan lagi minggu depan," kata Ki Wiroseroyo sambil menggerakkan tangan untuk mengusir orang-orang dari halaman istananya.
Ketika semua sudah pergi, hanya tinggal beberapa prajurit dan Rejo yang masih di arena sabung ayam itu.
"Rejo, silakan duduk di sini."
Ki Wiroseroyo menarik sebuah kursi untuk didekatkan singgasananya.
Rejo dengan tertatih menaiki trap-trapan tangga, lalu duduk di kursi yang disediakan.
"Engkau adalah orang baru di sini. Saya tidak pernah melihatmu. Tolong, ceritakan siapa dirimu sebenarnya."
Rejo cukup waspada.
Dia tak ingin bercerita dengan sebenarnya, siapa sebenarnya dia.
Memang, Rejo sempat menyeritakan masa mudanya, tapi dalam cerita itu, tidak muncul sama sekali yang terkait dengan kesaktian.
"Saya hanyalah pengelana yang sudah tua. Saya memang sudah sampai di banyak kota dan kampung."
"Apa mungkin engkau melakukan dengan tubuh bungkuk dan jalan tertatih seperti itu? Belum lagi jika ada bahaya rampok dan begal?"
"Mohon maaf Kanjeng Adipati, bagaimana mungkin saya dirampok? Wong saya ini orang miskin. Bagaimana mungkin saya tidak bisa mencapai kota-kota itu, wong saya masih mampu berjalan, meski tertatih. Bahkan, saya juga pernah sampai di Gunung Tidar."
"Hah? Engkau sampai Gunung Tidar? Gunung yang terkenal angker itu? Gunung yang ditinggali resi jahat. Dan Gunung yang terkenal namanya karena ada sosok pemuda yang menyebut dirinya Pendekar dari Gunung Tidar?"
Rejo mengangguk pelan.
"Rasanya tak mungkin, sebab, untuk berjalan saja engkau kesulitan dan bisa tersungkur seperti itu."
"Mohon ampun Kanjeng Adipati. Saya benar-benar sampai di Gunung Tidar. Kalau Kanjeng Adipati mau, saya bisa bercerita dengan detail tentang Gunung Tidar. Bahkan, saya juga sampai di Kerajaan Besar Pajajaran, saya pun bisa dengan persis menyeritakan kondisi di sana," tandas Rejo.
Ki Wiroseroyo seakan tak percaya.
"Lalu, buat apa saya harus berbohong. Tiada guna bagi saya."
Akhirnya, Ki Wiroseroyo mengalah.
"Baiklah, saya lebih baik percaya saja. Tapi, saya tak yakin kalau engkau hanya mengandalkan jalan tertatih hingga sampai ke Pajajaran. Engkau pasti mempunyai ilmu tertentu. Dan saya menduga itu ilmu yang hebat."
Rejo gantian terdiam sesaat.
"Kanjeng Adipati, bagaimana mungkin saya mempunyai ilmu. Coba bayangkan, bagaimana saya harus melatih ilmu dengan kondisi saya seperti ini?"
Ki Wiroseroyo gantian berpikir sejenak.
"Iya... ya..."
"Saya hanya orang biasa, yang sudah tua, dan bungkuk lagi."
"Lalu, bagaimana mungkin engkau bisa menahan seranganku tadi?"
"Serangkan yang mana?"
__ADS_1
"Saat saya berteriak kepadamu tadi, hingga kamu jatuh tersungkur."