
Dan serangan Sunan Kembang Kuning nyaris mengenai dirinya, kalau saja dia tidak segera terbang menjauh.
Namun, di saat genting itu, tiba-tiba saja gerakan gasing Sunan Kembang Kuning berubah.
“Kalau gerakan ini, tentu engkau sudah tahu!” teriak Sunan Kembang Kuning.
Sang Sunan memilih memeragakan gerakan Kanjeng Syech Subakir.
Meski sepanjang hidupnya hanya bertemu sekali dengan Syech Subakir, dan itupun tidak ada kaitannya dengan pembelajaran ilmu kedigdayaan, tapi berdasarkan cerita Syech Belabelu maupun Syech Jumadil Kubro, Kanjeng Sunan Kembang Kuning mengira-ngira model gerakannya. Ini dikarenakan kecerdasan dan terlatihnya sosok Sunan Kembang Kuning pada tataran ilmu tingkat tinggi para gurunya.
Efeknya sungguh luar biasa. Meski Kanjeng Sunan Kembang Kuning hanya menirukan saja, tapi sang lawan menunjukkan ketakutan luar biasa. Tiba-tiba saja, gerakan Kiai Nogo Sowo menjadi sangat kacau.
Andai Sunan Kembang Kuning ingin menggebuk tubuh gondoruwo itu, akan sangat mudah. Hanya saja, itu tak dilakukan. Sebab, akan ketahuan bahwa sebenarnya Kanjeng Sunan Kembang Kuning tak menguasai ilmu Syech Subakir, namun hanya tiru-tiru dan mengira-ngira saja.
Gondoruwo segera terbang menjauh.
“Hai bungkuk. Siapa engkau sebenarnya? Kenapa engkau bisa menguasai ilmu Syech Subakir?” kata gondoruwo gusar.
“Saya mewarisi ilmunya. Ayo bertarung!”
“Bagaimana mungkin? Engkau kan murid Resi Swadaraya, tapi kok juga menguasai ilmu Syech Subakir? Bukankah itu tidak bisa digabungkan?”
“Nyatanya, saya bisa menggabungkan. Ayo bertarung. Kalau saya memang menguasai ilmu Syech Subakir, kenapa engkau begitu ketakutan?”
“Manusia bungkuk. Ketahuilah, kalau memang engkau memang menguasai ilmu Syech Subakir, bukannya aku takut kepadamu, tapi aku takut kepada Syech Subakir. Dulu, aku pernah bertarung berhari-hari melawan Syech Subakir. Dan aku akhirnya dikalahkan. Dia menggebuki aku sesuka hatinya, dan mengikat aku sesukanya. Lalu, dia mengatakan, kalau engkau ingin aku lepaskan, engkau harus berjanji, tak akan mengganggu manusia lagi. Khususnya, kepada murid-muridnya, dan yang menguasai ilmunya.”
Sunan Kembang Kuning, meski tetap dalam kuda-kuda, memilih diam.
“Syech Subakir juga ngomong, bahwa aku pasti mengingkari janji, karena memang aku seperti itu. Lalu, dia melepas ikatannya, dan tidak lagi menggebuki aku. Dia pergi begitu saja. Setalah puluhan tahun, kini aku bertemu lagi dengan penerus Syech Subakir.”
“Engkau mengingkari janjimu atau engkau menepati janjimu?” teriak Sunan Kembang Kuning.
“Bukannya aku takut kepadamu. Tapi, aku juga tak punya kepentingan untuk memenuhi janjiku. Tapi, lebih baik aku pergi saja. Tak usah bertarung melawanmu.”
“Apa karena engkau takut aku gebuki lagi?”
“Buat apa aku takut kepadamu?”
“Nyatanya, engkau tak berani bertarung.”
“Bukan karena itu.”
“Lalu, karena apa?"
“Buat apa engkau tahu?”
Begitu berbicara seperti itu, tiba-tiba tubuh gondoruwo melenting. Saat melayang di udara, tubuhnya berubah lagi menjadi ular. Lalu menghujam ke dalam tanah. Ular kembali lagi ke dalam tanah. Mungkin, untuk bertapa.
Sunan Kembang Kuning segera melepas ikat kepala kuningnya, lalu menyimpan ke dalam buntalannya lagi. Termasuk pedang kerajaan miliknya.
Lalu, Sunan Kembang Kuning menghampiri jenazah Kiai Wulung Sunggi. Ditatapnya jenazah sosok renta yang sudah muallaf ini.
“Kanjeng Kiai. Sungguh, Panjenengan telah berhasil mengarungi ujian di dunia ini. Jenengan telah lulus. Dalam kondisi masih bersih, karena dosa, Insya Allah, diampuni Gusti Allah, Jenengan meninggal,” kata Sunan Kembang Kuning, sambil meletakkan jenazah Kiai Wulung Sunggi.
Ditatapnya jenazah sang murid. Terlihat jelas mulut tersungging senyum.
Sungguh terlihat damai.
Lalu, diambilnya baju dari buntalan, ditutupkan di bagian muka dan badan Kanjeng Kiai yang penuh debu.
Sunan Kembang Kuning membaca tahlil, di samping jenazah, sambil menunggu kedatangan santri-santrinya.
Begitu datang, Sunan Kembang Kuning menyuruh para santri untuk memandikan jenazah Kiai Wulung Sunggi. Untuk kafan, memakai kain yang dimiliki oleh santri-santrinya.
Jenazah Kiai Wulung Sunggi akhirnya dimakamkan, di lubang tempat Kiai Nogo Sowo menghujam ke bumi. Kebetulan, ukurannya, pas dengan ukuran jenazah. Usai pemakaman, dilakukan pembacaan talqin.
“Ketahuilah para santri, yang dimakamkan di sini, adalah sosok yang lulus ujian dunia. Memang nama beliau Kiai Wulung Sunggi. Namun, tanpa sepengetahuan kalian, beliau sudah berbicara kepada saya, meminta namanya diganti menjadi Kiai Sedo Anyar. Saya pun bertanya, kenapa minta nama diganti? Beliau mengatakan, tidak tahu. Rasanya, beliau hanya ingin menggunakan nama itu. Ya sudahlah, lalu saya berdoa kepada Allah, semoga dengan nama baru itu, beliau mendapat barokahnya.”
Semua muridnya,masih duduk melingkar di sekitar makam baru itu.
“Ternyata, beliau adalah sosok winarah. Seakan beliau mengetahui bahwa umurnya tak akan lama lagi di dunia ini. Setelah berganti nama itu, barulah muncul sosok Kiai Nogo Sowo yang membunuhnya.”
“Insya Allah, maqom beliau sudah mencapai waliyullah, meski baru saja belajar tentang Islam, dan mengerjakan amalan Islam, masih dalam hitungan hari.”
“Kanjeng Sunan, kalau boleh kami tahu, sebenarnya, bagaimana jalannya pertarungan tadi?”
“Pertarungan yang mana? Saya tidak bertarung.”
“Kok, ular siluman itu tak ada? Apa Kanjeng Sunan kalahkan?”
“Tidak.”
“Kemana ular itu?”
“Masuk ke dalam tanah.”
“Berarti, Kanjeng Sunan Kalahkan?”
“Tidak. Bukan saya yang mengalahkan, tapi yang pernah mengalahkan adalah Kanjeng Syech Subakir.”
“Bagaimana mungkin? Siapa Kanjeng Syech Subakir itu?”
“Kanjeng Syech Subakir, adalah penyebar Islam pertama kali di Tanah Jawa ini. Dia adalah anggota Wali Songo generasi pertama. Tugas dari Syech Subakir adalah mengalahkan seluruh dedemit di tanah Jawa ini. Di mana, oleh penganut Hindu atau Budha, mereka mendapat perlakuan yang sangat istimewa.”
Semua menyimak.
“Oleh Kanjeng Syech Subakir, para dedemit yang berasal dari kalangan setan ini dikalahkan. Tujuannya, adalah membuka jalan bagi para Sunan lain dan para Wali Songo generasi berikutnya, untuk lebih mudah dalam syiar Islam, tanpa mendapat gangguan dari para dedemit itu.”
__ADS_1
“Kanjeng Syech Subakir melanglang seluruh tanah Jawa, untuk menaklukkan semua dedemit. Agaknya, Kiai Nogo Sowo adalah salah satu dedemit yang pernah dikalahkan oleh Kanjeng Syech Subakir.”
“Jadi, bagaimana cara Jenengan bisa mengalahkan dedemit tadi?”
“Saya hanya menirukan gerakan Kanjeng Syech Subakir, untuk menakut-nakuti saja. Nyatanya, dedemit itu benar-benar ketakutan.”
“Mohon maaf, Kanjeng Sunan, apa Jenengan pernah bertemu dengan Kanjeng Syech Subakir?”
“Tidak secara khusus. Ceritanya, waktu kecil saya diasuh oleh dua resi, Yaitu Resi Hitu Dawiya di Kerajaan Hindu Mataram, yang beraliran putih, dan Resi Swadaraya yang beraliran hitam dan tinggal di Gunung Tidar. Saat di Gunung Tidar itu, Resi Swadaraya bisa dikalahkan oleh Kanjeng Syech Subakir. Dan meninggalkan sebilah pisau. Saya, sebagai murid sang Resi, ingin sekali bertemu dengan sosok yang bisa mengalahkan guru saya, namun tak pernah bertemu.”
“Saya malah bertemu dengan dua anggota Wali Songo lainnya, yaitu Syech Belabelu, dan Syech Jumadil Kubro. Dari beliau, saya mendapat polesan bathiniah yang sempurna.”
“Dan juga, saya bertemu dua raja diraja tanah Jawa, yaitu Raja Wikrama Wardhana dari Majapahit, dan Raja Pajajaran Surawisesa. Saya mendapat beberapa pelajaran tentang hidup, dari beliau berdua. Meski secara kaitan sejarah, antara keduanya mempunyai dendam kesumat, namun, saya bisa menggabungkan dua ilmu yang tak bisa bertemu ini. Kalian semua, meski menjadi santri saya, saya tak akan mengajari sedikit pun ilmu yang saya kuasai. Kalian harus mengembangkan ilmu kalian sendiri.”
“Kenapa Kanjeng Sunan? Apa karena tenaga dalam kami tidak mencukupi?”
“Bukan karena itu. Saya bisa melakukan ini, karena memang tubuh saya ditakdirkan untuk pertemuan dua hal yang berseberangan. Antara ilmu Resi Swadaraya dan Resi Hitu Dawiya, dan juga antara Raja Wikramawardhana dan Raja Surawisesa. Tentu saya tak bisa mengajarkan salahsatunya, dikarenakan pasati tercampur dengan ilmu yang berseberangan.”
Semua terdiam.
“Kalian semua, harus menemukan ilmu dan gerak pencak silat kalian sendiri. Mana Ki Sipang?”
“Saya, Kanjeng Sunan.”
"Sekarang, engkau tolong berbalik arah, dan jangan melihat gerakan saya samasekali.”
“Baik Kanjeng Sunan.”
Ki Sipang membalikkan badan. Bahkan dia memilih memejamkan mata, agar benar-benar tak bisa melihat yang dilakukan Sunan Kembang Kuning.
“Ketahuilah, bertemunya saya dengan Kiai Sedo Anyar, dan demi melihat gerakan yang dipraktikkan Kiai Sedo Anyar, saya bisa menyimpulkan gerakannya. Saya akan peragakan, dan saya gabung dengan gerakan dari Kiai Nogo Sowo. Perhatikan baik-baik. Setelah itu, Ki Sipang juga akan memeragakan gerakan ilmu yang dipelajari dari Kiai Sedo Anyar.”
Lalu, Sunan Kembang Kuning membuka kuda-kuda. Meski dalam kondisi bungkuk, tertatih dan nyaris jatuh. Gerakan Sunan Kembang Kuning sungguh terlihat kokoh. Mulai dari kembangan, menyerang dengan pukulan, menendang, meliuk layaknya ular, bahkan teknik menghindar. Agak lama Kanjeng Sunan Kembang Kuning memeragakan, sebelum dia menghentikan karena ngos-ngosan.
“Sekarang, silakan Ki Sipang memeragakan gerak yang dipelajari dari Ki Sipang.”
Begitu Ki Sipang memraktikkan gerakan pencak silat, semua mata terbelalak. Hampir semua gerakannya nyaris sama dengan Sunan Kembang Kuning.
‘Kok bisa?”
“Ya tentu saja bisa. Sebab pada dasarnya gerakan pencak silat itu, tak berbeda jauh. Yang ada adalah, siapa meniru siapa. Dan siapa menurunkan siapa. Kalau hanya meniru, ya tentu saja seperti yang saya lakukan tadi. Tetapi, Ki Sipang mengerti, kenapa harus bergerak ke sana atau kemari. Semua ada dasar pengetahuannya. Dan dalam Islam, menambah pengetahuan itu wajib.”
“Namun, Ki Sipang tetap Ki Sipang. Dia hanya bisa menirukan gerakan dari Kiai sedo Anyar. Artinya, Kiai Sedo Anyar jauh lebih bagus dan kuat daripada Ki Sipang.”
Semua belum mengerti maksud dari Sunan Kembang Kuning.
“Karenanya, temukan ilmu kalian sendiri. Temukan gerak kalian sendiri. Dengan begitu, kalian yang menjadi terhebat dengan gerak itu.”
“Pelajaran hari ini cukup bermakna. Meski melatih puluhan tahun, nyatanya, Kiai Sedo Anyar cukup mudah dikalahkan Kiai Nogo Sowo. Tetapi, memang ini cara beliau menjemput syahid. Namun, kita yang masih hidup, harus benar-benar berjuang sampai titik tertinggi yang mampu kita raih.”
“Mohon maaf Kanjeng Sunan. Lalu, bagaimana dengan Kanjeng Sunan Ampel?”
Semua hanya melongo.
“Bagaimana mungkin, yang dikawal lebih sehat dan kuat? Sedangkan yang mengawal bungkuk?” pikir mereka.
“Semua pasti berpikir, yang dikawal lebih sehat daripada yang mengawal. Ya kan?”
Semua menunduk malu.
Semua mengangguk.
“Ya, memang seperti itu maqom Waliyullah, pikirannya jauh ke depan, hatinya bening. Saya juga tak tahu, kenapa saya yang dipilih menjadi pengawal, padahal ilmu agama saya masih sangat dangkal.”
“Mungkin karena kesaktian Kanjeng Sunan?”
“Saya tidak sakti. Karena, kalau kita sakti, maka kita harus menjaga diri kita sendiri dengan kesaktian kita. Kalau kita pasrahkan kepada Allah swt, maka Allah lah yang akan menjaga kita. Allah itu Maha Perkasa, sedangkan manusia hanyalah mahluk yang sangat lemah. Buat apa kita merasa hebat dan kuat.”
“Lalu, kenapa kita harus belajar kanoragan? Bukankah untuk mencapai kesaktian itu? Dan dengan kesaktian itu, kita bisa membela agama, keluarga, dan negeri kita?”
“Tidak seperti itu. Karena memang belajar kanoragan adalah sunnatullah. Itu wajib kita lakukan saat ini, karena memang ini zaman kita. Zaman nabi dulu, setiap orang harus bisa naik kuda, memanah, memainkan pedang, bergulat, bahkan berenang. Tapi, untuk baca tulis, masih belum semua orang bisa melakukan.”
“Di zaman kita ini, semua orang harus bisa kanoragan. Tapi ada yang sekedar bisa, tapi ada yang mendalaminya. Mungkin, saya termasuk salah satu yang mendalami.”
“Mungkin ada di antara kalian yang berbakat untuk belajar kanoragan. Memang, untuk sementara Ki Sipang yang telah belajar dari Kiai Sedo Anyar. Nanti kita lihat, apakah kalian mempunyai keinginan kuat untuk belajar ilmu kanoragan.”
“Yang membedakan, saya tidak ingin menjadikan kalian hanya meniru atau menyontoh ilmu kanoragan yang saya kuasai. Kalian harus mengembangkan ilmu dan kesukaan kalian sendiri. Keluarkan kemampuan tersembunyi yang selama ini kalian miliki. Saya hanya memandu kalian untuk menemukan kehebatan tersembunyi.”
Semua terlihat girang.
“Baiklah, saya putuskan, di sini saja kita berlatih, sekalian mengirim tahlil untuk almarhum Kiai Sedo Anyar. Untuk itu, saya minta kalian membuat pondokan yang muat untuk kita semua. Jangan tinggal di candi. Kita perlu menghormati candi ini, meski kita tak menyembahnya. Ini hanya sekedar bangunan. Jadi, tak penting perlu atau tidak perlu dihancurkan.”
“Sudahlah, mari kita siap-siap.”
“Mohon maaf Kanjeng Sunan, lalu, bagaimana cara kita mengetahui, kita ini sudah punya kemampuan atau tidak?”
"Ya sangat mudah. Apa kalian satu per satu bisa mengalahkan siluman ular Kiai Nogo Sowo. Nanti, saya yang akan menantangkan siluman itu, untuk kalian lawan.”
Semua terbelalak.
Perlahan, muncul perasaan ketakutan.
“Kenapa? kalian takut? Bukankah kalian sudah menjadi muslim, kenapa harus takut kepada ciptaan Allah? Bukankah kita hanya takut kepada Allah semata?”
Semua menunduk.
"Sudahlah. Mari membangun pondokan. Dan nanti setelah salat Isya, kita membaca tahlil di makam Kanjeng Kiai Sedo Anyar,” kata Sunan Kembang Kuning.
__ADS_1
Mereka pun mulaiu bahu membahu membangun pondokan dan musala.
Malam hari, mereka membaca tahlil di sekitar malam Kiai Sedo Anyar.
Karena memang pondokan belum jadi, mereka memilih mencari tempat sendiri-sendiri untuk mengaso dan tidur.
Karena memang dikerjakan secara gotong-royong dan bahu membahu, akhirnya pondokan dan musala bisa segera berdiri, dengan bahan ala kadarnya.
“Nah, tugas saya adalah mendidik kalian semua, untuk menemukan jurus masing-masing. Tolong, sekarang, kalian segera menyebar di kampung-kampung. Temukan jurus kalian sendiri.
“Bagaimana caranya?”
“Nanti semua akan tahu,” kata Kanjeng Sunan.
Dan, memang untuk mengisi hari, sembilan santri Kanjeng Sunan Kembang Kuning ini, menyebar ke kampung-kampung, hutan, sungai, ladang. Menjelang sore, mereka pulang, dengan berbagai cerita atau membawa sesuatu.
Ki Sipang yang pernah belajar kanoragan, banyak menghabiskan waktunya di sungai. Dia mengolah pernafasan sambil berendam. Dia berhenti saat salat dhuhur, dan melanjutkan lagi sampai salat ashar.
Dia kembali ke candi, untuk salat ashar berjemaah.
Delapan santri lain, melakukan yang berbeda-beda.
“Saya bertemu dengan sosok tua yang masih kuat mencangkul ladang. Saya bantu dia, dan saya berjanji setiap hari akan membantu bapak tua itu sampai semua tercangkuli,” kata satu santri.
“Berarti, engkau sudah menemukan jalanmu. Saya berpesan, sebelum melakukan pekerjaan mencangkul bacalah bismillah, dan ketika berakhir mencangkul bacalah Alhamdulillah,” saran Kanjeng Sunan Kembang Kuning.
“Kalau saya, Kanjeng Sunan, saya hanya jalan-jalan di padang. Saya berkali-kali bertemu burung blekok. Gayanya unik. Dia hanya terlihat kepalanya saja. Begitu terlihat ada bahaya mengancam, dia segera menarik kepalanya ke rerimbunan. Ketika didekati, barulah dia berlari masuk ke rimbunan lain,” kata santri lainnya.
“Baiklah. Tolong, bawakan ke sini satu burung blekok, tapi dalam kondisi hidup dan tidak tersakiti. Entah bagaimana caramu. Burung Blekok yang kamu bawa ke sini, tak boleh meronta, tak boleh kamu ikat,” timpal Sunan Kembang Kuning.
Tentu saja sang santri bingung dan melongo.
“Kenapa bingung? Itu memang jalanmu. Temukan caramu. Kalau engkau?” tanya Sunan Kembang Kuning kepada santri lainnya.
“Saya tak menemukan apa-apa. Saya tak suka siang hari. Bolehkah saya melihat bintang pada malam hari?”
“Boleh. Kenapa tidak? Temukan caramu melalui bintang gemintang.”
Sembilan santri sudah menyampaikan satu persatu apa yang mereka dapat pada hari itu. Dan semua mendapat arahan dari Sunan Kembang Kuning.
Hari-hari berikutnya, mereka melakukan apa yang disarankan sang Guru. Ada yang mulai mencangkuli ladang, ada yang mulai berburu blekok di rerumputan, dan berbagai upaya dilakukan sesuai saran.
Dalam tiga minggu melakukan hal sama, ternyata tak ada satupun perkembangan yang didapat.
“Apa yang kalian lakukan masih kurang tepat. Kalau kalian memulai dari apa yang tampak, maka kalian semua tak akan mendapatkan apapun, kecuali yang terlihat saat ini saja,” kata Sunan Kembang Kuning.
“Jadi, kami harus bagaimana?”
“Temukan inti dari apa yang kalian lakukan. Tarik sampai ke perihal paling dasar, dari setiap apa yang kalian lakukan. Semua tahu, mencangkuli ladang itu menggunakan alat cangkul, mengayunkan ke arah tanah, cangkul tertancap, lalu tarik. Tanah pun tercangkul. Tapi, itu hanya pekerjaan kasarnya. Ada inti dari pekerjaan mencangkul. Untuk bisa menemukan jurus atau pencak silat kalian sendiri, harus bisa menemukan inti dari mencangkul. Temukan.”
“Selama kita melakukan sesuatu hanya pada kulitnya, maka yang ada hanyalah bagian luar saja. Padahal, yang kita inginkan adalah perubahan sedari dasar, pondasi, hingga menjulang. Dengan demikian, akan muncul pribadi baru, bangunan baru, dan tentu saja pasti kokoh. Mengerti yang saya maksudkan?”
Semua menggeleng.
“Contohnya, saya ingin dibawakan satu burung blekok, tapi tak boleh diikat, dan tak boleh menyakiti blekok itu. Kan, rasanya tak mungkin. Benar?”
Semua mengangguk.
“Sangat mungkin.”
Semua diam.
“Caranya, ya jadilah blekok itu sendiri.”
Semua melongo.
“Caranya?” tanya mereka berbareng.
“Ya, pelajari tentang tindak-tanduk keseharian dari blekok itu. Setelah tahu, carilah inti dari kehidupan burung blekok.”
“Kami masih bingung.”
“Semoga Allah memudahkan kalian untuk menemukan jawabnya.”
Semua mengamini doa sang Sunan.
Sejak itu, sembilan santri ini bukannya melakukan kegiatan yang dilakukan setiap hari, malah banyak merenung untuk menemukan inti dari apa yang mereka lakukan.
Sang santri yang menyukai blekok, demi menyelami kehidupan blekok, dia mulai menutupi dirinya dengan jerami dan alang-alang.
Diam tanpa bergerak. Kadang menjulurkan kepalanya ke luar jerami, untuk melihat sekeliling. Lalu masuk kembali ke dalam tumpukan jerami dan alang-alang.
Memang tak ada yang didapat, kecuali gatal-gatal di kulit.
Dia pun menggaruk sana, menggaruk sini.
Banyak menimbulkan luka karena garukan.
Dia tak peduli.
Ketika waktu salat dhuhur tiba, dia keluar dari sarang jerami, mandi, lalu ke candi, untuk melakukan salat berjamaah. Setelah itu, dia masuk lagi ke dalam sarangnya. Tumpukan jerami.
Sunan Kembang Kuning manggut-manggut dan tersenyum melihat ulah satu santrinya ini.
“Semoga engkau menemukan apa yang kamu lakukan.”
Di hari pertama hingga hari ke lima, yang didapat hanya gatal-gatal di kulit.
__ADS_1
Permukaan kulitnya sudah penuh luka berdarah di sana-sini.