BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7: Pencak Silat Kuning Seduluran


__ADS_3

BAB VII


PENCAK SILAT KUNING SEDULURAN


Sunan Kembang Kuning, yang sudah lama meninggalkan Sidoarjo, mengarah ke selatan. Satu waktu dia mendapat panggilan untuk mengawal Sang Junjungan Sunan Ampel, melalui mimpi.


Dan untuk bisa sampai ke Ampel Dento secara cepat, dengan mengenakan bakiak yang diberikan Sunan Ampel, langsung bisa sampai ke pelataran Pesantren Ampel Dento.


Sembari menunggu Kanjeng Sunan Ampel dari Ndalem, Sunan Kembang Kuning, yang hadir dengan mengenakan ikat kepala kuning ini, duduk-duduk di beranda masjid.


Sunan Kembang Kuning terlihat gagah, otot kekar, dengan pedang kebangsawanan Mataram di punggung. Kadang koncer pedang dimainkan angin.


Mata Sunan Kembang Kuning menatap beberapa santri, yang agaknya baru datang ke Pesantren.


"Angger semua, iya kalian yang bergerombol, silakan ke sini," panggil Sunan Kembang Kuning, sambil menggerakkan isyarat tangan, agar mereka mendekat.


Yang dipanggil, tak lain adalah para kader Kuning Seduluran.


Kader Kuning Seduluran tak pernah tahu, bahwa sosok Sunan Kembang Kuning adalah guru dari guru-guru mereka.


“Hei kalian, siapakah yang merupakan utusan dari Kuning Seduluran?” tanya Sunan Kembang Kuning, di sela persiapan akan mengawal Kanjeng Sunan Ampel.


Para kader Kuning Seduluran ini tak tahu, yang berdiri di depan mereka adalah sang maha guru dan sesepuh Kuning Seduluran. Sebab, mereka mendapat cerita, bahwa gurunya guru mereka bernama Kanjeng Sunan Kembang Kuning. Tubuhnya bongkok dan jalannya tertatih. Sedangkan yang mereka lihat saat ini, adalah sosok gagah dengan ikat kepala kuning berkibar, dan di punggungnya terselip pedang bangsawan Mataram.


“Saya, Kanjeng Pengawal. Kami semua dari Sidoarjo, dan para guru menunjuk saya untuk menjadi ketua,” kata satu orang santri Ampel.


“Coba sekarang engkau lawan aku dengan ilmu pencak silat Kuningan,” kata Sunan Kembang Kuning.


Tentu saja sang kader tak berani menolak, karena yang meminta adalah pengawal Sunan Ampel.


“Dan tolong, langsung keluarkan ilmu paling dahsyat yang engkau kuasai.”


Sang santri mengangguk.


Sunan Kembang Kuning pun membuka jurus.


Santri langsung membuka ilmu tingkat tinggi Pencak Silat Kuningan.


Beberapa gerakan aneh menunjukkan dia sedang membuka jurus andalan.


“Oh, jadi gabungan antara air, blekok dan cangkul, dijadikan jurus andalan. Bagus juga anak-anak, menggabungkan unsur alam, mahluk hidup dan gerak manusia. Baik, saya ingin, sedahsyat apa jurus bikinan anak-anak ini,” gumam Sunan Kembang Kuning.


Sunan Kembang Kuning langsung merengsek menyerang.


Sang lawan tetap tenang. Gerakannya mengalir seperti air, gesit seperti blekok, dan stabil seperti orang mencangkul.


Dia hanya bergeser sedikit untuk menghindari serangan Sunan Kembang Kuning.


Santri melihat gerakan sang lawan seakan sangat lamban dan sangat mudah dihindari.


“Saya tahu, engkau pasti melihat gerakanku sangat lamban, dan dengan mudah engkau hindari. Tapi, jangan engkau senang dulu. Terimalah seranganku sebenarnya.”


Sunan Kembang Kuning segera mengubah dirinya seakan batu.


“Blap!”


Pandangan seakan gerakan lawan menjadi lamban, menghilang.


Santri agak bingung, karena gerakan lawan menjadi sangat cepat.


“Ilmu andalan Pencak Kuningan ini ada kelemahan!” teriak Sunan Kembang Kuning, untuk memberitahukan kepada semua yang menonton.


“Yaitu, ketika sang lawan mengubah dirinya menjadi benda mati. Saat ini, saya mengubah diri saya seakan batu. Maka, dengan mudah saya akan memukulmu, karena engkau tak gesit lagi.”


Perkataan ini disertai dengan satu pukulan terukur yang tak melukai.


“Des!”


Satu pukulan mengenai dada santri.


Santri kaget.


Dia terjengkang.


“Ayo. Bangun lagi. Lawan aku lagi,” kata Sunan Kembang Kuning.


Kali ini, santri segera bangkit dan membuka lagi jurus yang tak kalah aneh.

__ADS_1


Laksana menari dan berputar seperti gasing.


Para pendekar pencak Kuningan sudah paham, bahwa yang diperagakan adalah ilmu tersulit di Pencak Kuningan. Hanya santri dan murid pilihan saja yang dibekali ilmu ini.


Untuk pendadarannya pun dibutuhkan waktu khusus dengan dihadiri seluruh murid Kanjeng Sunan Kembang Kuning, yang tak lain adalah para guru besar Pencak Kuningan.


Semua murid tahu, ketika berlatih ilmu pusaran gasing ini, pohon-pohon kecil di sekitar tempat latihan bisa tercabut sampai akarnya. Batu-batu kecil pun bisa terangkat dan membentuk prahara lokal. Belum lagi pukulan dan tendangan secepat kilat bakal menghancurkan anggota tubuh lawan.


“Oh, jadi ini ilmu paling tinggi yang dimiliki oleh Pencak Kuningan?”


Sunan Kembang Kuning juga membuka jurus yang hampir sama. Semua mata terbelalak.


Bagaimana mungkin, ilmu yang sangat rahasia itu, bisa ditirukan dengan begitu saja oleh sang pengawal Sunan Ampel. Bahkan untuk melakukan latihan saja di tempat tersembunyi.


“Bagaimana mungkin?” tanya mereka keheranan.


Santri semakin mempercepat gerakan aneh seperti gasing.


Sunan Kembang Kuning menirukan dengan gerakan nyaris sama, dan juga aneh.


Semua mata yang melihat begitu takjub.


Benturan bakal terjadi.


Dua manusia laksana gasing sama kuat putarannya itu, pun berbenturan.


“Blar!”


Suara begitu memekakkan telinga.


Dua tubuh terjengkang.


Dari mulut santri Pencak Kuningan memuntahkan darah.


Sementara tubuh Sunan Kembang Kuning bergulingan, dan dia segera duduk bersila mengatur napas.


Sedikit darah segar juga mengalir dari ujung bibirnya.


Cukup lama Sunan Kembang Kuning mengatur nafas, sebelum dia bangkit mendatangi pendekar Pencak Kuningan, untuk menotok dan mengurut di beberapa bagian anggota tubuh sang lawan.


“Ketahuilah. Jurus terbaik Pencak Kuningan memang bukan isapan jempol. Sunguh jurus gasing menggabungkan berbagai unsur ini sungguh sangat mengagumkan. Saya tidak bisa membayangkan, andaikan yang terkena pukul, adalah orang lain. Tolong, jurus ini jangan sekali-kali dimunculkan, sekali pun dalam perang,” kata Sunan Kembang Kuning, di hadapan para santri Pencak Kuningan.


Belum lagi Sunan Kembang Kuning melanjutkan perkataannya, dari arah Ndalem muncul Sunan Ampel.


“Rejo. Ayo kita berangkat,” ajak Sunan Ampel.


“Enggih, Kanjeng Sunan.”


Sunan Ampel berjalan mendekati para santri.


“Santri semua, kalian yang berasal dari Pencak Kuningan?”


“Enggih, Kanjeng Sunan,” jawab mereka serentak.


“Jadi, kalian tak tahu, siapa yang kalian lawan tadi?”


Sebagian menunduk takdim.


“Pengawal Panjenengan Kanjeng Sunan.”


“Ini namanya Rejo, meski usianya lebih tua dari saya, dia saya jadikan pengawal, kalau saya berpergian jauh. Dan ketahuinya, Rejo ini adalah gurunya, guru kalian semua. Saya memanggil dengan sebutan Sunan Kembang Kuning.”


Semua terkesiap.


“Benarkah hal itu, Kanjeng Sunan?” satu orang memberanikan diri berkata.


“Kata Romo guru, guru beliau orangnya bungkuk.”


“Guru kalian tak salah. Rejo ini memang bungkuk. Rejo, coba engkau copot ikat kepalamu.”


Sunan Kembang Kuning menjura hormat kepada sang junjungan.


Perlahan, dilepas pedang kerajaan yang melilit di punggung dilepas. Dan Sunan Kembang Kuning melepas ikat kepala warna kuning itu.


Perlahan, di punggung Rejo mulai tumbuh punuk, dan kian membesar.


Hingga akhirnya dia nyaris terjerembab, kalau saja tidak bertelekan tongkat bambu kuning yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Semua mata terbelalak.


“Bagaimana mungkin?”


Kanjeng Sunan Ampel tersenyum.


“Rejo. Waktunya masih lama kok untuk acara pertemuan Giri Kedaton. Engkau tak perlu pakai ikat kepala. Saya lebih senang kita jalan pelan-pelan sambil menikmati hari,” kata Sunan Ampel kepada Sunan Kembang Kuning.


Sunan Kembang Kuning menjura hormat. Lalu memilih duduk, karena memang disuruh oleh Sunan Ampel.


“Tolong panggil santri semua, untuk datang ke sini,” perintah Sunan Ampel.


Tak lama, seluruh santri Ampel sudah berkumpul di halaman.


Ada yang tergopoh-gopoh dari sawah, ada yang dari pantai.


“Para santri saya semua. Lihat baik-baiklah, sosok bungkuk ini. Kenalkan kalian? Yang sudah tahu, mohon diam.”


Santri yang baru datang menggelengkan kepala.


“Kalau kalian tak tahu, saat ini, kita mendapat pelajaran yang sangat berharga. Coba engkau perhatikan baik-baik. Benarkah kalian tak pernah bertemu dengan bapak bungkuk ini?”


Semua memerhatikan si bungkuk yang menunduk takdim.


Satu tangan kirinya memegang tongkat bambu kuning, untuk menyangga tubuhnya.


Semua menggeleng, dan menegaskan bahwa mereka tidak mengetahui sosok bungkuk itu.


“Rejo, angkat pedangmu dengan tangan kanan. Tunjukkan kepada para santri.”


Rejo pun mengangkat pedangnya di bagian tengah.


“Adakah yang mengenal pedang ini?”


Ada suara kasak kusuk, menandakan ada beberapa santri yang mengetahui keberadaan pedang itu.


“Yang sekiranya tahu, tolong berbicara.”


“Mohon ampun Kanjeng Sunan. Kalau saya tidak salah, pedang itu milik pengawal Panjenengan yang gagah,” kata salah satu santri.


“Apa yang kalian pikirkan, saat melihat pengawal saya itu?”


“Kami ingin menjadi seperti beliau. Bertubuh kekar, dan garis wajah yang tegas. Tentu, Panjenengan merasa aman dikawal oleh sosok perkasa itu.”


“Baiklah. Para santri semua. Mempunyai cita-cita tinggi itu harus. Berusaha mencapainya itu harus. Tapi, ketika kita sudah sampai kepada cita-cita kita itu, jangan sekali-kali melupakan asal muasal kita sebagai orang yang tidak bisa apa-apa. Kalau kita sudah berada di langit, jangan sampai melupakan bumi. Kalau kita sudah di pucuk pohon, janganlah lupa akan akar.”


“Artinya, ketika sudah berhasil meraih cita-cita dan menjadi pendekar hebat, janganlah lupa asal muasal kita ketika bodoh. Janganlah memunculkan kesombongan, tapi kita harus semakin rendah hati dan rendah diri. Biarlah Allah yang mengangkat derajat kita, bukan kita yang ingin meraihnya dengan berbagai cara.”


Semua santri menyimak dengan seksama.


“Sosok pengawal saya, adalah pendekar terbaik di zamannya. Dia telah bertarung melawan dua raja terhebat di tanah Jawa, yaitu Raja Majapahit dan Raja Pasundan. Dia dalam tempaan syeh-syeh terbaik di tanah Jawa. Bukan itu saja, dia juga ditempa dua resi Hindu yang luar biasa. Namun, ketinggian ilmunya malah menjadi beban baginya, karena sulit baginya untuk bersikap andap asor.”


“Wajar, dengan gerak gagah dan sangat perkasa, semua orang akan kagum dan bahakan takut. Padahal, dia tidak ingin itu terjadi. Dia ingin bergaul dengan sesama dan sederajat. Tapi, sangat tidak memungkinkan, karena ketinggian ilmunya. Bahkan, dia ingin membuang semua ilmu yang dipelajari sejak kecil itu. Sang perkasa ingin menjadi rakyat jelata. Tapi itu sudah tak mungkin lagi.”


Semua terdiam.


“Rejo berdirilah, dan pakai ikat kepalamu.”


Perlahan Sunan Kembang Kuning tertatih bangkit, dengan berpegangan kepada bambu kuning. Pedangnya ditaruh di tanah.


Lengan kirinya segera mengepit tongkat bambu, agar tak terjatuh. Kedua tangannya mulai mengikat kepalanya dengan kain kuning.


Begitu terikat.


Perlahan, punuk di punggung mulai menghilang, tubuh seakan bertambah tinggi, dan otot-otot mula terlihat kekar.


Tak lama, berdirilah sosok sangat gagah. Perlahan, sang gagah ini, mengambil pedang, lalu diikat di punggungnya.


“Nah, inilah pengawal saya, yang selama ini kalian kenal.”


Semua mata menatap melongo. Termasuk beberapa santri yang sebelumnya sudah mengetahui proses munculnya punuk itu.


Sungguh sangat berbeda. Saat bungkuk, sungguh terlihat ringkih, sedangkan saat bertubuh kekar, cara berdirinya sangat tegap dan kokoh seakan menghujam ke tanah.


“Dialah Rejo, sang pengawal saya, yang tak lain adalah Sunan Kembang Kuning si bungkuk. Dia bisa menjadi teladan kalian untuk bersikap rendah hati, sepi ing pamrih, rame ing gawe. Kerjanya ikhlas, tapi tak malas. Lihatlah.”


Mata santri masih melotot.

__ADS_1


“Andai Rejo masih memakai tubuh tegapnya, setan masih punya kemungkinan sangat besar untuk menggodanya, agar menjadi sosok sombong, takabbur.”


“Sudahlah Rejo, copot lagi ikat kepalamu, karena saya ingin engkau temani dengan jalan santai saja. Toh Giri Kedaton tak jauh,” kata Sunan Ampel.


__ADS_2