
Belum sih, sebab semua takut untuk mendekat."
"Apa penduduk di sini, dulunya tinggal di sana?"
"Tidak. Kami orang-orang baru dari berbagai kampung, yang kebetulan beragama Islam. Kami mempunyai masjid, dan kami dari berbagai daerah dan bahasa. Memang dipesan oleh Kanjeng Syech Subakir, suatu ketika kalian akan kedatangan seorang pemuda. Sambut pemuda itu, dan jadikan dia sebagai pemimpinmu."
Rejo diam menyimak.
"Maka, kami tak mengangkat lurah. Kami menunggu apa yang dituturkan junjungan kami. Jadi, di sini hanya ada imam masjid. Dan beliau yang menjadi panutan kami, dan tempat kami bertanya tentang kehidupan sehari-hari dan juga soal agama."
"Jadi.... Kanjeng Syech Subakir mengatakan, akan datang anak muda yang harus mau menjadi lurah. Begitu?".
"Tidak begitu. Kami diberitatahu agar menunggu pemimpin, dan dia pasti datang. Saya sendiri berfikiran, jangan-jangan yang disebutkan Kanjeng Syech adalah kamu, anak muda."
Rejo kaget.
"Begini saja, mari kita ke rumah Pak Imam masjid. Dengan begitu, semua akan jelas dan gamblang. Sebab, kepada Pak Imam masjid, Kanjeng Syech berbicara lebih banyak dan tertutup. Kami tak tahu apa yang mereka bicarakan."
Karena masih diliputi kebingungan dan ingin tahu lebih jelas, Rejo mengiyakan.
Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menuju rumah Imam masjid.
Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan beberapa orang. Uniknya, orang itu langsung membungkuk sangat dalam, seakan mereka berpapasan dengan pemimpin mereka.
Rumah imam masjid, tepat di samping masjid.
Tak lama, mereka bertemu dan langsung berbicara serius.
"Anak muda. Dengarkan saya bicara dulu, dan nanti katakan, apa yang saya omongkan ini salah atau benar," kata sang Imam.
Rejo mengangguk.
"Engkau berasal dari Gunung Tidar dan mendapat julukan Pendekar Gunung Tidar, dan ingin bertemu dengan Kanjeng Syech Subakir untuk menimba ilmu. Lalu, engkau tertidur selama bertahun-tahun di sebuah tanah yang dipenuhi alang-alang. Engkau terbangun, dan engkau bingung lalu engkau menuju ke desa sini. Saya mendapat cerita ini sekitar 4 tahun lalu, dari Kanjeng Syech Subakir. Apa benar yang saya katakan ini, anak muda?"
"Benar, Bapak," kata Rejo terheran-heran.
"Kang... tolong segera kumpulkan warga kampung di depan masjid," perintah sang Imam masjid.
Warga yang mengantar Rejo segera berlalu, untuk memukul bedug dan kentongan titir.
Tak lama, warga kampung sudah berkumpul di pelataran masjid.
"Bapak ibu sekalian, kita kedatangan tamu, sebagaimana yang dijanjikan oleh guru kita, Kanjeng Syech Subakir. Anak muda inilah yang akan memimpin kampung kita."
Semua terdiam.
Rejo tambah bingung dan bengong.
"Apa yang diisyaratkan Kanjeng Syech Subakir, terjawab pada diri anak muda ini. Anak muda, siapa namamu?"
"Rejo," jawabnya singkat, masih dengan mimik bingung.
"Bapak dan ibu sekalian, bakal menjadi saksi, bahwa anak muda ini memang pantas untuk menjadi pemimpin kita. Sebagaimana dititahkan Kanjeng Syech Subakir kepada saya, sebelum membuktikan bahwa nak Rejo pantas menjadi pemimpin, saya diperintahkan untuk mengangkat sumpah pada Rejo. Nak, maukah engkau bersumpah?"
"Untuk apa?"
"Saya tak bisa mengatakan selanjutnya, sebelum engkau bersumpah terlebih dahulu."
"Bagaimana saya bersumpah untuk sesuatu yang saya tidak tahu."
"Perintah Kanjeng Syech seperti itu. Jika engkau mengatakan, ya, maka akan saya lanjutkan."
Warga kampung mulai tegang.
Mereka menunggu apa yang akan dikatakan Rejo.
Agak lama berfikir.
Hening.
Semua tak ada yang berani berbicara. Semua mata menatap ke arah Rejo.
Ditatap seluruh warga kampung, membuat Rejo risih.
Maka, Rejo akhirnya mengiyakan.
"Baiklah. Karena engkau telah berani bersumpah, maka tirukan apa yang saya omongkan."
"Saya bersumpah...."
"Saya bersumpah...."
"Akan menunjukkan kemampuan saya sebenarnya."
Rejo tak segera menjawab.
Sang Imam masjid mengulang perkataannya lagi hingga dua kali. Akhirnya, Rejo menirukan perkataan itu.
"Akan menunjukkan kemampuan saya sebenarnya."
"Baiklah Nak Rejo, engkau telah bersumpah untuk menunjukkan kemampuan sebenarnya. Para warga kampung, di pojok masjid ada batu besar, di mana, batu itu tak bisa kita pindah saat membangun masjid ini.
Ketahuilah, batu itu sengaja ditaruh di situ oleh Kanjeng Syech Subakir, sebagai sarana untuk membuktikan bahwa siapa pun yang bisa memindahkan batu besar itu, layak untuk menjadi lurah di Desa Sugih Waras ini."
Lalu, satu per satu Imam masjid memanggil warga untuk mencoba mengangkat batu sebesar kerbau itu. Jawabannya sudah pasti, yaitu tak mungkin terangkat. Sebab, saat membangun masjid dulu, hampir seluruh warga bergotong royong untuk menyingkirkan batu sebesar kerbau itu, tak mampu.
Meski begitu, yang dipanggil Imam masjid tetap mencoba mengangkat batu besar itu. Satu per satu gagal.
"Nak. Engkau telah bersumpah akan menunjukkan kemampuanmu sebenarnya. Di bawah batu itu, ada sumur yang dibuat oleh Kanjeng Syech Subakir. Sumur itu tentu sangat bermanfaat bagi kita semua. Sekarang, perintah dari Kanjeng Syech Subakir yang disampaikan kepada saya, engkau diminta untuk memindahkan batu besar itu. Silakan nak."
Rejo kaget.
Sesaat dia tak bergerak samasekali.
"Ingat Nak, engkau sudah bersumpah. Jika engkau telah memindahkan batu besar itu, ada satu lagi perintah dari Kanjeng Syech Subakir. Tetapi, beliau berpesan, perintah itu baru disampaikan setelah engkau memindahkan batu itu."
Karena dibuat penasaran, mau tidak mau, Rejo maju mendekati batu sebesar kerbau itu.
Karena sudah terbiasa memindahkan batu besar di kali, dengan mudahnya Rejo mengangkat batu sebesar kerbau itu, lalu memindahkannya di tempat yang agak jauh dan tidak mengganggu.
Semua mata terbelalak.
Di bawah batu itu, ada lubang sumur, yang airnya sangat jernih.
Usai menaruh batu, Rejo kembali ke kerumunan warga desa.
"Satu perintah dari Kanjeng Syech Subakir yang disampaikan kepada saya, engkau ditugasi untuk membuat desa ini gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, warganya sugih dan warganya waras."
Rejo langsung jatuh terduduk. Semua persendiannya seakan lemas.
"Bagaimana mungkin, saya bisa membuat desa ini gemah ripah loh jinawi? Allahu akbar. Saya ini masih terlalu muda untuk memimpin bapak-bapak yang sudah sepuh?" gumam Rejo.
"Anak muda, engkau memang pantas menjadi pemimpin kami. Kami yakin, engkau akan bisa melindungi kami dari berbagai ancaman. Buktinya batu besar tadi bisa engkau angkat dengan mudah. Kami percaya kepadamu anak muda," kata Imam masjid.
Tak menunggu lama, Rejo diajak ke masjid, lalu mereka salat sunah berjamaah, dan dilanjutkan dengan mengangkat Rejo sebagai lurah di desa Sugih Waras.
Sebenarnya. Rejo sangat tidak siap dengan kejadian yang menimpanya ini. Dia tak bisa membayangkan, dalam usia yang begitu muda dan tak punya pengalaman, dia harus mengendalikan satu desa. Di mana, dia harus mengambil keputusan-keputusan penting dan menjaga keamanan desa dari berbagai bahaya.
"Bapak dan ibu, kita sekarang mempunyai lurah. Apapun keputusan Nak Rejo, kami semua akan menghormati dan melaksanakan. Karena kami yakin, apapun keputusan itu, akan membawa manfaat bagi desa ini. Apakah bapak dan ibu siap dipimpin Nak Rejo?" tanya imam masjid.
"Siaaaaaap."
"Alhamdulillah. Silakan sekarang Nak Rejo bicara di hadapan warganya," suruh imam masjid, menyilakan Rejo berdiri.
Sedikit enggan, Rejo memang akhirnya berdiri.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
"Bapak ibu, saya tak menyangka ada kejadian seperti ini. Kalau bukan karena titah dari Kanjeng Syech Subakir, tentu saya menolak. Bagaimana mungkin saya yang masih sangat muda ini, harus menjadi pemimpin desa?
Sungguh ini beban yang sangat berat. Hanya karena titah Kanjeng Syech Subakir saja, saya berkenan. Tetapi, permintaan saya, jika saya berhasil membawa desa ini seperti yang diinginkan, izinkan saya mengundurkan diri, karena sungguh saya tidak pantas," tutur Rejo.
Tidak ada yang menjawab.
"Bapak ibu, perlu diketahui bahwa saya hanya bertemu dengan Kanjeng Syech Subakir sekali saja, yaitu sebelum saya tertidur lama itu. Saya ingin bertanya, di manakah sekarang posisi Kanjeng Syech Subakir atau Kanjeng Syech Jumadil Kubro?" tanya Rejo.
Tetap tidak ada yang menjawab.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu. Lebih baik kita sudahi dulu acara ini," pinta Rejo masih kebingungan, dengan diamnya warga desa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab penduduk serempak.
"Kalau ditanya diam, kalau diberi salam langsung dijawab. Ada apa ini?" pikir Rejo.
Rejo memilih tidur di masjid, meski sebenarnya sudah dibuatkan rumah layak oleh warga kampung. Rumah yang memang disiapkan untuk seorang pemimpin, di mana dengan pelataran yang sangat luas dan ruang pertemuan yang layak juga.
"Tidak usah, saya tidur di serambi masjid saja," tolak Rejo.
Rejo diminta tidak perlu memikirkan kebutuhan sehari-hari, karena akan dicukupi oleh warga desa. Namun Rejo menolak. Dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Rejo memilih bertanam di sebidang tanah dekat masjid. Rejo juga berburu di hutan sekitar. Selain itu, waktunya dihabiskan untuk berkumpul dengan warganya.
Dalam usia yang masih sangat muda, Rejo mulai mendengarkan keluhan warganya. Ada yang mengeluh tentang binatang perusak sawah, ada yang mengeluh tentang dedemit yang suka mengganggu desa baru ini, dan ada yang mengeluh tentang bega-begal di sekitar luar desa, yang mengancam warga.
Termasuk dikeluhkan tentang ancaman desa-desa lain yang masih menganut Hindu, Budha atau pemuja batu dan tumbuhan.
"Baiklah, Bapak-bapak, kita urai satu per satu persoalan desa ini, Mungkin ada yang bisa saya upayakan untuk saya selesaikan sendiri, tapi tentu ada yang saya tidak mampu.
Semisal yang terkait dengan pertanian, tentu saya tidak mampu. Mungkin, bisa saya selesaikan soal begal, binatang pengganggu, dedemit itu. Soal ancaman warga desa lain yang masih beragama Hindu, tentu itu menjadi tanggung jawab kita semua. Kita harus menunjukkan bahwa kita adalah muslim yang santun, dan mempunyai akhlaqul karimah," tutur Rejo.
Semua tampak puas, akan jawaban Rejo.
Direncanakan, dalam waktu dekat Rejo mengajak imam masjid yang bernama Syuaibi, untuk menemaninya bersilaturahim ke kepala desa tetangga.
"Semua lurah perlu kita jalin persahabatannya. Jadi, tidak ada musuh di sini," ajak Rejo.
Dalam hati kecil, Rejo sebenarnya ingin masalah ini cepat selesai, dia segera bisa mundur dari jabatan lurah, yang dirasa cukup memberatkan itu. Untuk itu, dia sangat ingi menyelesaikan begal yang kerap mengganggu warga desa.
"Malam ini, Bapak dan Ibu, usai salat Isya, mohon di rumah masing-masing. Tolong disiapkan senjata di dekat pintu, untuk berjaga-jaga. Saya akan mendatangi para begal, kalau masih ada waktu, juga akan saya datangi para dedemit, termasuk jika ada waktu, saya coba untuk menghalau hewan perusak pertanian itu. Biarkan saya sendiri, jangan ada satu pun dari bapak, ibu, yang keluar rumah, apapun yang terjadi, sampai dengan waktu subuh," perintah Rejo.
Semua mengiyakan.
Maka, usai salat Isya itu, Rejo berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan desa, termasuk melewati ruas jalan menuju hutan. Rejo berharap bisa bertemu begal, atau dedemit. Setidaknya, bertemu dengan hewan pengganggu.
Namun, beberapa jam berjalan sendirian, tak ada satu pun yang ditemui.
"Ada apa ini? Katanya ada begal, rampok, dedemit atau hewan pengganggu. Mana? Saya kok tidak bertemu."
Bahkan hingga datang waktu subuh, Rejo hanya sendirian.
"Tidak ada satu pun yang saya temui. Ini sebenarnya ada apa?" tanya Rejo kepada Syuaibi, usai salat subuh.
Syuaibi tersenyum.
"Bisa jadi, karena orang-orang kampung mengatakan, bahwa lurah desa ini adalah murid dari Syech Subakir. Dengan menyebut nama itu, orang kampung berharap kondisi kampung aman. Dan bisa jadi, semalam, orang kampung sudah woro-woro bahwa lurah sudah hadir. Ini mungkin alasan kenapa engkau tidak bertemu siapapun semalam," tutur Syuaibi.
"Baiklah, kalau memang begitu. Berarti keluhan sudah tertangani," jawab Rejo.
Syuaibi pun berharap demikian.
Malam harinya, Rejo tak lagi berjalan-jalan di kampung. Rejo memilih tidur di beranda masjid. Namun, pagi harinya, Rejo mendapatkan cerita yang cukup mengejutkan. Beberapa warga kampung yang pulang kemalaman, akhirnya dibegal. Bahkan, ada yang terkena sabetan golok.
"Bagaimana ini, Pak Lurah?" tanya satu warga.
Rejo sendiri tak segera menjawab, tapi sedang serius menangani pendarahan dari luka warganya, dengan menutup beberapa jalan darah dengan pijatan.
Usai memijat, Rejo membalikkan badan, dan menatap ke arah kerumunan warga.
Sorot mata Rejo sangat tajam.
Seluruh yang hadir di pelataran masjid itu, langsung ketakutan.
Mereka tak menyangka, kemarahan dalam diri sang lurah baru ini, menjadikan wajah yang semula lembut menjadi sangat menakutkan.
Warga tak ada yang berani berbicara. Warga memilih menunduk.
"Bapak dan ibu semua, ini sudah kelewatan. Bukankah mengambil harta sudah lebih dari cukup. Kalau sampai melukai, saya tidak terima. Kenapa para begal tahu, kalau saya tidak berrjaga. Jangan-jangan ada mata-mata begal di kampung kita. Ingat, kita ini sesama muslim, harus saling menjaga. Saya, sebagai lurah yang di sini, tak segan-segan akan membunuh mata-mata itu, kalau memang ketahuan."
Semua menunduk.
"Sekarang waktu saya memimpin desa ini. Saya ingin membawa kampung kita baldatun toyyibatun warabbun ghofur. Saya tidak memberi toleransi kepada pengkhianatan. Lebib baik mengaku saja sekarang, selagi warga kampung belum ada yang mati karena dibunuh begal. Saya memberi jaminan, kalau mengaku sekarang, kita semua akan memaafkan. Tetapi, kalau tidak mau mengaku, silakan tanggung sendiri akibatnya."
Semua masih menunduk.
"Pengkhiat, ayo bangun dari dudukmu. Saya berjanji tak akan mengapa-apakan kamu. Saya akan melindungimu dan keluargamu. Insya Allah seluruh warga kampung akan memaafkanmu. Tetapi, kalau tak mau mengaku, sungguh, saya tak segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri."
Semua masih menunduk.
Namun, sebelum sempat bubar, satu orang segera berdiri.
"Saya, Pak Lurah."
Semua tak jadi berdiri.
Sang lelaki ini berjalan mendekati Rejo.
Rejo menatap dengan sangat tajam. Dia adalah lelaki yang ditemui Rejo saat pertama kali masuk kampung.
"Oh, ternyata jenengan mata-mata begal itu?"
Lelaki seperuh baya ini mengangguk.
"Kenapa?"
"Keluarga saya diancam. Kalau saya tak memberikan informasi tentang kampung kita ini, keluarga saya akan dibunuh satu per satu."
"Jadi, bapak mengorbankan orang lain demi keselamatan sendiri? Lihat itu, saudara kita, dia terluka bacok seperti itu."
Sang mata-mata menunduk.
"Baiklah, sesuai dengan janji saya, saya akan melindungi bapak sekeluarga. Baik dari ancaman begal atau dari warga kampung yang tidak terima. Siapa yang menyakiti bapak ini, akan berhadapan dengan saya. Saya ingin seluruh warga memaafkan kesalahan bapak ini."
Semua tetap menunduk.
"Bapak, silakan meminta maaf kepada seluruh yang hadir."
Lalu, orang itu berjalan menuju satu per satu orang, bersalaman, bahkan berpelukan, dan meminta maaf.
Bahkan dia menangis sesegukan.
"Sekarang, bapak harus cerita kepada kita semua di sini. Di manakah markas begal?"
Sang lelaki petani ini menggeleng.
"Lalu, bagaimana caranya Bapak memberi kabar kepada begal?"
"Mereka menghampiri saya di sawah atau di kebun."
"Kapan waktunya bapak akan bertemu mereka lagi?"
Dia menggeleng.
"Tidak terjadwal. Tiba-tiba saja mereka datang ke kebun."
"Baiklah, kalau seperti itu. Tolong, kalau mereka mendatangi bapak lagi, katakan bahwa Pak Lurah yang baru mendatangkan harta simpanannya. Harta itu berupa emas, yang akan dibawa ke sini untuk membangun desa. Emas itu rencananya dijemput dengan kereta kuda, dan ditaruh dalam peti kayu. Diperkirakan sampai ke desa, usai salat Isya."
Sang lelaki mengangguk.
"Kalau bapak sudah bertemu begal, segera temui saya."
Dia mengangguk.
"Baiklah, semua bubar."
Memang akhirnya, sang lelaki ini bertandang ke serambi masjid untuk menemui Rejo.
"Assalamualaikum Pak Lurah."
"Waalaikum salam. Bapak sudah bertemu begal."
Sembari ketakutan, dia mengangguk.
"Anak saya dilukai begal. Mereka mengatakan, kali ini hanya membacok lengan anak saya, tapi kalau nanti informasi yang saya sampaikan bohong, mereka akan menebas leher seluruh anggota keluarga saya."
"Apa? Mereka tega membacok lengan anak bapak?"
Dia mengangguk.
__ADS_1
Amarah dalam diri Rejo seakan tak tertahankan. Matanya berubah menjadi sorot sangat tajam, tangannya mengepal. Keringat bercucuran.
"Sungguh sangat kejam, mereka itu."
Lelaki petani akhirnya cerita tentang pertemuannya dengan begal.
Rejo pun mengajak mereka berdua ke rumah imam masjid Syuaibi.
"Bapak Syuaibi. Dalam dua hari ini, saya akan meninggalkan desa. Tolong semua urusan desa sampean tangani dulu."
Rejo meminjam kuda dan gerobaknya, baju dan beberapa peralatan lain.
Dalam waktu yang tak terlalu lama, Rejo sudah menyamar menjadi sosok yang lebih tua. Rejo segera menaiki gerobak kuda, lengkap dengan peti kosong.
Rejo membawa bambu yang sudah diserut.
"Nak Rejo, buat apa bambu serut itu?"
"Buat senjata," jawab Rejo sekenanya.
Syuaibi dan petani agak tercenung. Gerobak mulai berjalan perlahan keluar desa.
"Pak, setahu bapak, apa begal yang kerap menyantroni desa kita ini, orangnya sakti-sakti apa nggak?"
"Insya Allah sakti-sakti, Pak. Saya benar-benar ketakutan jika mereka datang. Bahkan, saat mendatangi saya, kadang diselingi hadirnya angin kencang, kadang orang yang lain ditemani srigala. Kadang mereka pamer kekuatan, merobohkan pohon besar memukul dengan sekali pukul."
"Masya Allah, apa benar Nak Rejo akan melawan mereka dengan bersenjatakan bambu serut yang sebesar kelingking? Jika memang benar, apa mungkin bisa mengalahkan begal yang sakti-sakti itu?"
Akhirnya, Syuaibi menyuruh agar memukul kentongan titir. Tujuannya, mengumpulkan warga kampung.
"Bapak-bapak semua. Baru saja lurah kita, Nak Rejo berangkat sendirian untuk memerangi begal. Tahukah bapak-bapak semua, apa yang dijadikan senjata? Bambu serut. Padahal, begal yang bisa mengganggu kita, umumnya sakti-sakti. Sekarang, saya tawarkan kepada bapak-bapak semua. Apa tega kita membiarkan lurah kita bertarung melawan begal-begal sakti? Kalau saya sendiri, saya akan membantu. Mungkin ada di antara bapak-bapak yang juga berkenan membantu?"
Ternyata, tidak ada satu pun yang memberanikan diri.
Syuaibi agak gamang.
Satu orang maju, tak lain adalah petani yang menjadi mata-mata.
"Saya bersedia membantu lurah kita. Sudah cukup rasa ketakutan saya. Saya sudah terlalu banyak dosa kepada tetangga. Saya ingin menebusnya, dengan membantu Pak Lurah bertempur melawan begal, meski saya tahu, tak mungkin saya menang melawan begal yang memang sakti-sakti itu. Tetapi, saya ikhlas berjuang. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya."
"Alhamdulillah. Ada lagi yang ingin membantu?"
Dua pemuda maju. Setelahnya, tidak ada yang berani.
"Baiklah, sekarang bubar."
Tinggal mereka berempat yang ada di masjid.
"Kita pulang dulu, untuk pamit istri. Usai salat Isya, kita akan berangkat di perbatasan desa. Ingat tujuan kita adalah membantu Pak Lurah. Bukan kita yang akan membasmi mereka, karena kita pasti kalah. Bantuan kepada Lurah itu, kita lakukan jika memang lurah kita kepepet dan terjepit atas serangan begal. Silakan pulang, dan silakan bawa senjata masing-masing."
Dan memang benar, usai salat Isya, mereka sudah siap berjihad. Perlahan, mereka mengendap hati-hati menuju ke luar desa. Mereka tidak ingin para begal memergoki. Jika itu terjadi, tentunya tak ada ampun lagi.
"Biasanya. Begal bersiap di sekitar sini."
"Baiklah, kalau begitu, ayo kita panjat pohon yang cukup tinggi. Dan kita diam di pohon itu, menunggu apa yang terjadi," ajak imam masjid Syuaibi.
Empat orang ini memanjat satu pohon yang cukup rimbun, tapi bisa melihat dengan leluasa ke bawah. Empat orang ini tak ada yang berani bergerak.
Lebih-lebih, tak lama setelah mereka memanjat, muncul beberapa, dan mereka bersembunyi di semak-semak.
Segerombolan lainnya, bergerombol di tempat yang lebih jauh. Agaknya, orang-orang yang berkerumun di tempat yang agak jauh itu bertugas menghadang seandainya, orangt yang disergap hendak melarikan diri.
Syuaibi dan tiga orang lainnya tegang. Nyaris mereka tak berani bernafas. Mereka tidak ingin mati konyol karena ketahuan.
Menjelang tengah malam, sari arah luar kampung, terlihat gerobak berjalan perlahan.
Syuaibi tambah tegang. Tak terasa mereka meraba lalu mencengkeram gagang golok atau keris masing-masing. Mereka tahu, yang datang adalah sang Lurah. Rejo.
Gerobak kian mendekat, Syuaibi dan teman-teman kian sesak napas.
Gerobak kian mendekati gerombolan begal.
Dalam kegelapan, Syuaibi mulai menghitung. Jumlah begal ada sekitaran 50 orang. Bahkan lebih, jika ditambah dengan beberapa orang bersenjatakan panah, yang bersembunyi agak lebih jauh. Mereka akan melakukan serangan mematikan, dengan menghujani anak panah, seandainya teman-teman mereka kalah.
"Berhenti!"
Tiba-tiba kawanan ini menghadang gerobak, dari arah depan dan belakang.
Syuaibi melihat Rejo dalam kondisi tenang. Hanya saja, karena gelap, wajah Rejo tak kelihatan mimiknya.
"Ada apa kalian menghentikan gerobak ini. Saya mengantar barangnya Pak Lurah. Nanti kalian akan saya adukan kepada lurah," kata si sais gerobak.
"Ha ha ha. Kami sudah tahu. Cepat turun dari gerobak. Gerobak ini sekarang milik kami, ha ha ha," teriak satu orang.
"Apa kamu pemimpinnya?" tanya sais gerobak.
"Buat apa tanya-tanya! Kamu cari mati saja."
"Saya mau turun dari gerobak, kalau yang menyuruh pemimpin kalian. Mana pemimpin kalian, suruh ke sini."
"Ha ha ha. Baru kali ini, kita bertemu orang kampung yang sok jagoan. Cari ****** saja."
"Tolong pemimpin kalian suruh datang ke sini. Kalau tidak mau, saya yang akan mendatangi dia dengan gerobak ini," nada tegas Rejo.
"Mana pemimpin kalian?"
"Ha ha ha, sudahlah pak tua, turun, atau kami paksa turunkan!"
"Kalian saja yang naik sini."
Beberapa anggota begal, yang meremehkan sang lawan, berusaha naik gerobak.
Tanpa berubah posisi duduk, tangan kanan Rejo yang memegang bambu sekelilingking, segera dipukulkan ke arah orang-orang yang hendak naik gerobak itu.
"Cethar!"
"Cethar!"
"Cethar!"
Suaranya cukup menggelegar.
Empat orang yang ada di pohon, sempat kaget dan nyaris melepaskan pegangan dari dahan.
Tiga anggota begal jatuh terjengkang, lalu kelojotan berguling-guling di tanah.
"Aww... sakiiiiiit.... ampun... ampun... ampun... !" teriak mereka berbarengan.
Ini menjadikan anggota begal yang lain sempat tercenung.
Namun, mereka segera menguasai diri, dan menjadi sosok garang lagi.
"Kurang ajar. Mau pamer ilmu ya? Kalau begitu, engkau memang pantas untuk dibuat ******....! Ayo, teman-teman, Serbu!"
Namun, anggota begal yang mengepung gerobak tak ada yang bergerak menyerang. Mereka melihat ke arah tiga teman mereka yang masih kelojotan berguling-guling di tanah sembari teriak-teriak.
"Rupanya kalian punya rasa takut juga," pikir Rejo.
"Kalian ini terlalu kejam kepada penduduk kampung. Sudah berapa orang yang kalian bunuh. Saya sarankan, sudahi saja kalau ingin selamat. Dan tolong jangan buat saya marah. Sungguh, kalau saya marah, saya tak tahu, apa yang bakal terjadi pada diri kalian semua. Saya tidak bisa mengontrol diri saya. Sungguh, tolong, jangan membuat saya marah. Sungguh, tolong," tutur Rejo.
"Tolong, pemimpin kalian suruh ke sini saja. Kalau tidak, sungguh, akan saya datangi dia. Entah di gerombolan yang ada di ujung jalan sana itu, atau yang bersenjatakan panah di sana itu," tutur Rejo sambil menunjuk di dua arah.
Tentu saja yang mengepung kaget. Sebab, rasanya tak mungkin Rejo bisa mengetahui ada tiga kelompok begal di lokasi itu.
Empat orang yang ada di pohon juga kaget.
"Jangan-jangan Pak Lurah juga tahu bahwa kami ada di pohon?" pikir Syuaibi.
Tak perlu waktu lama untuk mengetahuinya.
Tiba-tiba saja, Rejo menjalankan gerobaknya. Beberapa orang yang berada di depan gerobak menyingkir dan mulai menyabet bagian kuda.
Rejo sudah memperhitungkan kemungkinan ini. Secepat kilat Rejo melenting ke depan, hinggap di punggung kuda, dan memukulkan bambunya ke arah orang-orang yang hendak membacok kuda.
Gerakan yang cukup cepat ini, tak diperhitungkan kawanan begal.
"Thak!"
"Thak!"
__ADS_1
"Thak!"
Tiga orang begal terjengkang. Yang lainnya mundur.