
Jadi, cukup sulit bagi Rejo untuk mengorek keterangan seputar keberadaan Raja dan keluarga kerajaan. Tentunya, Rejo tak mampu mendekati istana. Dan lagi-lagi, datang bersama tiga macan, tentu tak mudah bagi Rejo dengan leluasa memasuki kota.
Rejo memilih tinggal di gunung bersama tiga temannya, yaitu macan yang ketiganya sudah beranjak dewasa itu.
Rejo dengan sabar setiap hari memasuki ibukota, dan mulai mengawasi serta memahami perilaku warga kota. Bahkan, Rejo juga mulai memahami sedikit demi sedikit apa yang diomongkan orang-orang di warung, pasar atau alun-alun.
Rejo juga mengamati sebuah telaga luas yang diberi nama Maharena Wijaya. Di berbagai sudut telaga ini banyak dibangun pamujan. Warga sekitar banyak yang memasang sesaji di pamujan, atau melarung sesaji.
“Ini adalah buah karya maharaja kami semasa hidup, Sri Baduga Maharaha,” kata seorang warga.
Rejo hanya manggut-manggut.
Sri Baduga Maharaha tak lain adalah Prabu Siliwangi, yang dipercayai telah Moskwa, atau menghilang begitu saja. Warga meyakini Sri Paduka Prabu Siliwangi dan ketiga putranya menjelma menjadi harimau putih. Rejo mendapat kabar bahwa yang bertahta saat ini adalah Prabu Surawisesa.
Kehebatan Prabu Siliwangi yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Jaya Dewata sudah disejajarkan dengan ‘dewa’. Perang Bubat menjadi bukti kehebatan Prabu Siliwangi.
Menyadari hal itu semua, Rejo tak mau gegabah.
Dia ingat, tujuannya datang ke Pajajaran ini tak lain adalah menantang sosok terhebat di tanah Jawa. Prabu Siliwangi yang berhasil meluluhlantakkan prajurit Majapahit pimpinan patih Gajah Mada menjadi jaminan kehebatan calon lawannya. Bila perlu, Rejo menghindari pertarungan langsung.
Lukisan Prabu Siliwangi di Keraton Kasepuhan Cirebon (Tri Ispranoto/detikcom)
Lama termenung di pinggir telaga Maharena Wijaya, membuat rejo teringat pengalaman hebat ketika dia berjibaku mengatasi ilmu Raja Majapahit Wikramawardhana. Sampai detik dia berada di Pajajaran ini, masih tidak menyadari bahwa sang Raja Majapahit sudah menitipkan ilmunya kepada Rejo.
“Jangan-jangan.... bisakah cara Pertapa Wikramawardhana saya pakai di telaga ini? Tapi bagaimana caranya menjadikan air telaga berubah warna?”
Rejo bergumam sendiri.
Namun, dalam posisi melamun ini, dalam kelebatan di otak Rejo, tergambar beberapa gerak yang aneh. Gerak yang tidak mirip pencak silat, namun, lebih banyak gerak ala semedi.
Awalnya, Rejo mengabaikan gerak demi gerak yang muncul di otaknya itu, tapi ketika terlihat buah kelapa, Rejo langsung terjingkat.
“Allahu Akbar!” teriak Rejo sendiri.
“Jangan-jangan, gerak yang muncul di alam pikiran saya ini, adalah gerak dari pertapa Wikramawardhana, ketika membuat kolam Segaran berubah warna, bahkan ikan-ikan seakan mati.”
Rejo mulai berkonsentrasi.
Kelebatan gerak tetap tergambar di pikiran.
Maklum, sebenarnya Rejo sudah dititipi ilmu tenaga dalam Raja Wikramawardhana. Bisa jadi, karena memang ada dendam kesumat kepada Pajajaran sehingga sang Resi yang Raja ini mau membantu Rejo. Tetapi, yang jelas, Wikrama Wadhana melihat pulung di dahi Rejo. Bahwa, anak muda ini adalah penerus raja. Bahwa anak muda ini mempunyai budi luhur, kejernihan pikiran, dan kebeningan hati.
Karena memang sudah dirasuki ilmu sang Resi, saat Rejo berendam di Kolam Segaran dulu, maka, dengan mudah mulai muncul kelebatan gerak sang resi di pikiran Rejo.
Akhirnya, Rejo memutuskan untuk mencobanya.
Tinggal di hutan bersama tiga macan, menjadikan Rejo dengan leluasa menirukan gerak demi gerak semadi itu perlahan demi perlahan. Bahkan Rejo sudah menyiapkan buah kelapa, yang nantinya akan ditaruh di Telaga Maharena Wijaya.
Berkali-kali mencoba, akhirnya Rejo meyakini bahwa langkahnya tak salah. Sebab, dari buah kelapa yang disiapkan tadi, muncul suara mendesis.
Rejo segera membawa buah kelapa itu ke sungai kecil. Begitu dicelup, dari arah buah kelapa muncul gelembung, dan perlahan warna jernih air berubah menjadi merah.
Rejo segera mengangkat buah kelapa tadi dari air.
__ADS_1
Diletakkan kelapa, dan dipandangi terus.
“Tapi, bagaimana saya menaruh buah kelapa ini di telaga tanpa diketahui orang? Bukankah Resi Wikramawardhana bisa menaruh kelapa di Kolam Segaran tanpa harus mendatanginya? Jadi. Saya harus bisa mengirim kelapa ini ke telaga Maharena Wijaya dari hutan ini. Tapi bagaimana caranya?”
“Kalau saya bisa memraktikkan membuat kelapa berdesis, tentunya ada cara bagaimana mengirim kelapa ini ke telaga tanpa harus saya datang ke sana.”
Rejo pun mencoba berbagai ilmu yang dia kuasai untuk bisa mengirimkan buah kelapa berdesis ini ke Telaga Maharena Wijaya. Rejo berfikir sederhana saja, jika dia bisa menguasai ilmu yang bisa membuat buah kelapa berdesis dan merubah warna air, tentu dia juga bisa mengirimkan buah kelapa itu ke telaga.
"Tentu ini satu kesatuan. Baiklah, saya harus menemukan caranya," tutur Rejo.
Tapi, sangat berbeda ketika dia menemukan cara membuat buah kelapa mendesis. Tidak muncul lagi kelebatan-kelebatan gerak di otaknya. Meski Rejo berupaya konsentrasi tinggi, tetap saja tak muncul apa pun di benaknya.
Akhirnya, Rejo mencoba lemparan yang disertai dengan tenaga dalam.
Sejauh-jauhnya dia melempar, tentu tak mungkin bisa mencapai telaga Maharena Wijaya. Belum lagi untuk mencari titik sasaran di tengah telaga. Rasanya tak mungkin dengan cara melempar.
Berhari-hari Rejo mencari cara untuk menempatkan buah kelapa berdesis itu. Namun tetap saja gagal.
Satu malam, Rejo menatap tiga temannya, yaitu macan.
"Apa sebaiknya saya titipkan macan saja, ya... untuk menempatkan buah kelapa ini di tengah telaga? Apa itu pula yang dilakukan oleh Pertapa Wikramawardhana? Lalu, hewan apa yang disuruh oleh pertapa itu?"
Pikiran Rejo melayang ke pengalamannya di Majapahit. Dicoba diulang kembali di otaknya, dialog antara dia dengan pertapa Wikrama Wardhana. Setelah lama mengorek kenangan itu, akhirnya Rejo mendapatkan jawabnya.
"Allahu Akbar, kenapa saya tak menyadari saat itu? Bukankah di sekitar Pertapa Wikramawardhana saat itu banyak burung merak? Jangan-jangan, burung merak itulah yang disuruh untuk menjatuhkan dari atas, buah kelapa berdesis ini ke kolam Segaran?"
Rejo memang hanya menduga, tapi dia sudah kehilangan akal untuk bisa menempatkan buah kelapa itu ke tengah Telaga Maharena Wijaya. Maka, Rejo pun seakan mengajak tiga macan ini berbicara, dan mengajari mereka agar mau membawa buah kelapa berdesis ke tengah telaga. Tentu saja, pada malam hari di mana tidak orang yang tahu.
Berhari-hari Rejo mengajari tiga macan ini untuk saling membantu membawa buah kelapa berdesis. Sedangkan satu macan induk, diminta Rejo untuk berenang ke tengah telaga sambil menggigit buah kelapa berdesis. Dan melepaskan buah kelapa berdesis itu di tengah telaga.
Dini hari, ketika suhu sangat dingin, dan tak mungkin ada manusia yang masih berjaga. Tiga macan ini, berjalan menuju ke Telaga Maharena Wijaya.
Tanpa ada manusia yang mengetahui, satu macan induk berenang ke tengah kolam, dan melepas kelapa berdesis itu.
Tak lama, kelapa sudah tenggelam dan mengeluarkan gelembung. Sang macan pun berenang lagi menepi.
Di tepi kolam, seperti yang direncanakan Rejo, tiga macan ini, berdiri di tiga ujung telaga. Mereka mengaum sekencang-kencangnya. Berkali-kali mereka melakukan itu, lalu pergi ke hutan.
Auman macan ini membuat warga sekitar ketakutan. Macan adalah hewan suci, karena penjelmaan dari Raja Siliwangi. Dan tak ada yang berani keluar rumah malam itu.
Lebih-lebih auman macan itu sangat kencang dan bersaut-sautan. Ini artinya, tidak hanya satu macan saja.
Dan memang paginya, penduduk Pajajaran sangat terkejut setelah melihat air telaga Maharena Wijaya berubah menjadi merah darah.
"Saya mendengar auman macan bertalu-talu, tadi malam. Saya sekeluarga ketakutan luar biasa. Saat itu, kami sekeluarga berfikir, ada apa ini, kok ada macan mengaum bertalu-talu dari berbagai tempat. Jangan-jangan, akan ada bencana besar. Ternyata, air telaga ini menjadi darah. Jangan-jangan dewa telah murka," kata satu warga.
Warga lain pun sepakat.
Maka, tak lama, berita air telaga berubah menjadi darah segera menyebar ke seantero negeri Padjajaran. Warga berbondong-bondong melihat air telaga. Banyak yang menangis tersedu bahkan meraung-raung. Ini menjadikan suasana di tambah mencekam sekali gus haru biru.
Rejo pun keluar dari hutan, dan berbaur dengan kerumunan orang yang melihat air telaga berubah menjadi darah.
Rejo menunggu, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Padjajaran.
Tak berbeda jauh. Orang-orang mulai melempar sesaji, membakar dupa, dan menghatur sembah ke arah telaga.
__ADS_1
Rejo hanya tersenyum.
Sepanjang hari itu, jumlah warga yang datang ke telaga sangat banyak. Yang datang tak segera pulang, yang baru datang ingin mendekati telaga, karena hendak menghatur sesaji.
Sore menjelang malam, yang datang kian banyak saja. Hampir-hampir tidak ada tempat untuk duduk dengan tenang, karena sangat rapat.
Sejauh ini, belum ada reaksi apapun dari para pendekar, pertapa, apalagi kalangan kerajaan.
Rejo pun tak bereaksi apa pun. Dia akhirnya memilih duduk-duduk agak jauh dari telaga, di bawah beringin.
Matanya terus mengawasi orang-orang yang mendekati bibir telaga.
Memang ada yang mengambil air darah itu untuk dibawa pulang, tapi tak ada satu pun yang berani mandi di telaga darah.
Malam itu, memang suasana sekitar telaga luas ini, sangat ramai.
Dan Rejo segera beranjak. Dia ingin berada di dekat tiga temannya, yang macan itu.
Tujuannya, untuk melindungi macan, sekiranya, ada yang ingin mencelakakannya. Sebab, sesuai rencana, malam itu tiga macan tetap mengaum di kawasan telaga.
Dan memang itulah kejadiannya. Ketika malam kian dingin, warga yang masih bertahan di sekitaran telaga dikejutkan dengan auman macan bertalu-talu, yang tak jauh dari telaga.
Sebagian dari warga langsung semburat berlarian pulang. Tapi ada sebagian lagi yang berani mencoba mendekati sumber suara.
Rejo yang bersembunyi di pohon, tak menginginkan tiga temannya menjadi korban, melempar tengkuk orang-orang yang mulai berdatangan itu dengan kerikil-kerikil kecil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Tidak sedikit yang bertumbangan pingsan.
Demi melihat puluhan orang tiba-tiba saja terjatuh dan tak bangun lagi, ratusan orang yang mendatangi suara auman itu, langsung berbalik, dan berlarian menjauh.
Mereka ketakutan luar biasa.
Bayangkan, hanya mendekati titik suara aumannya saja, orang-orang pada berjatuhan dan tak bangun lagi.
Sebuah peristiwa yang bertubi-tubi dan saling tekait. Setelah terdengar auman macan, air telaga menjadi darah, dan ketika auman itu muncul lagi, orang-orang bertumbangan.
Meski hanya sekedar pingsan, karena bagian tengkuk terkena lembaran kerikil kecil, tapi yang beredar di seluruh negeri Padjajaran, berita orang-orang itu mati setelah mendengar auman macan.
Maka, sejak peristiwa ini, penduduk ibukota Pajajaran didera ketakutan. Malam berlangsung mencekam. Karena auman macan bertalu-talu muncul sporadis di berbagai penjuru kota.
Belum lagi air telaga berubah menjadi darah. Menambah ketakutan dan kengerian.
Rejo yang tetap tinggal di hutan bersama tiga macan, terus menunggu perkembangan. Tujuan untuk menantang keturunan Prabu Siliwangi menjadi target utama.
Hingga satu ketika, kesempatan memasuki istana kerajaan muncul ketika muncul sayembara, pihak kerajaan mengundang seluruh orang sakti di Padjajaran untuk mengatasi teror auman macan dan menangani air telaga darah.
Rejo pun satu di antara orang-orang yang akan mengikuti sayembara ini. Rejo sudah di regol alun-alun, namun, dia segera menghentikan langkah, ketika fikirannya mencapai satu kesimpulan, jangan-jangan, ini adalah upaya pihak kerajaan yang ingin mencari biang keladi teror.
Jadi Rejo mengurungkan niatnya. Dia memilih hanya duduk-duduk di bawah pohon besar, agak jauh dari alun-alun.
Matanya mengawasi orang yang masuk ke alun-alun. Tak banyak. Memang ada pertapa, sosok pendekar yang terkesan sakti. Tak satu pun ditemukan sosok berjubah atau orang muslim. Rejo mengamati, yang datang masihlah pertapa, resi, dan pendekar-pendekar, yang kemungkinan masih beragama Hindu, Budha atau animisme.
Setiap pagi, ini yang dilakukan Rejo. Atau kadang dia mendatangi telaga darah untuk melihat perkembangannya. Sementara setiap malam, tiga macan temannya meluaskan daerah teror. Aumannya sudah mencapai berbagai penjuru kota Padjajaran.
Teror terus berlanjut.
__ADS_1