BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode7g: Bertarung Lawan Elang dan Macan Raksasa


__ADS_3

Wajah Resi Witjak mulai berubah. Ada sebersit sinar. Dan sangat mungkin dia akan menang, karena memang selama ini macan raksasa dan elang raksasa begitu menuruti semua kehendaknya.


Ada kans untuk menang.


“Kalau saya menang, engkau harus pergi dari sini,” tiba-tiba Resi Witjak berkata pongah.


Ini dilakukan untuk menutupi rasa malunya.


“Oh, ternyata engkau masih punya nyali toh. Baiklah.”


Lalu, tertatih Sunan Kembang Kuning menuju ke dekat Resi Witjak, dan berdiri duduk berjejer.


“Saya pun akan mengeluarkan ilmu saya. Ayo kita bertarung melalui macan dan elang itu.”


Resi Witjak girang. Dia pasti menang, karena memang dia penguasa macan raksasa dan elang raksasa itu.


“Kraaaaaakkkkk!” Resi Witjak berteriak.


Dilanjutkan dengan siulan keras dan panjang.


Mendengar suara itu, tiba-tiba elang raksasa bangun dari tidurnya, mengembangkan sayapnya.


Matanya terlihat seakan menyala penuh kemarahan.


Mendengar siulan kencang tadi, macan raksasa juga bangun dari tidurnya.


Dia mengaum sekencangnya.


Semua orang di dekat gubuk alang kepalang ketakutan. Mereka segera masuk ke gubuk tanpa dinding itu. Sebab, di dalam gubuk itu, terlihat orang-orang yang tenang dalam sorot matanya. Orang-orang yang yakin, tak akan dilukai oleh dua hewan ganas itu.


Sunan Kembang Kuning dengan segera membuka jurus untuk memberikan perlindungan kepada gubuknya.


Memang macan dan elang segera melanjutkan rencana awal, yaitu menyerang gubuk yang dipenuhi orang-orang itu.


Sunan Kembang Kuning segera memasang sikep untuk gubuk itu.


Macan memang bisa mendekat ke arah gubuk.


Namun, begitu hendak menerkam ke arah kerumunan orang dalam gubuk, tubuh macan raksasa ini terpental. Berkali-kali dicoba, hasilnya tetap sama.


Peluh bercucuran dari sekujur tubuh Resi Witjak, tanda dia memberi tenaga dalam lebih kepada macan raksasa dan elang raksasa.


Elang pun berkali-kali menyerang bagian atap gubuk itu, namun atap rumbiah itu tetap kokoh menempel di gubuk.


Erangan dan lengkingan elang menggetarkan hati.


Para penonton dari seberang kali tegang.


Sedangkan yang didekat gubuk, mulai menjauh ketakutan.


“Resi... kasihan hewan itu. Kalau engkau terus-teruskan menambah tenaga dalam. Bisa-bisa kepala dua hewan ini akan hancur meledak,” kata Sunan Kembang Kuning.


Namun Resi Witjak tak memerdulikan perkataan Sunan Kembang Kuning, dan tetap mengerahkan tenaga dalamnya, ke arah kepala elang dan macan.


Dan sangat kentara bahwa Resi Witjak sangat berhafsu memenangkan pertarungan ini. Dia tak peduli seandainya dua hewan kesayangannya menjadi menderita.


Dua hewan raksasa ini semakin tak terkendali.


Mereka meraung-raung marah. Elang terbang tak beraturan, melengking marah.


Terlihat kepala mereka sangat berat. Mata menyala nyaris berdarah.


“Gila kau ini resi. Bisa mati hewan itu!” teriak Sunan Kembang Kuning.


Sang Sunan memukulkan tongkat bambunya ke batu.


“Duar!”


Sunan Kembang Kuning menjadikan ini sebagai daya lentingan untuk melompat mendekati macan, yang sudah tak bisa mengontrol gerakannya.


Beberapa kali lompatan, Sunan Kembang Kuning bisa hinggap di punggung macan yang sedang kesakitan dan marah besar ini.


Telapak tangan kanan Sunan Kembang Kuning ini segera dipukulkan tepat di bagian kelapa sang macan.


“Blar!”


Suara ledakan muncul ketika telapak tangan itu mengenai kulit kepala sang macan.


Macan semakin tak terarah.


Gerakannya kacau.


Semua mata melihat adegan menegangkan ini. Para warga takjub akan kehebatan Sunan Kembang Kuning.


Apalagi dalam posisi sulit menjaga keseimbangan seperti itu, tetap bisa bertahan di punggung macan. Andai terjatuh, hampir dipastikan, Sunan Kembang Kuning bakalan diterkam macan.


Resi Witjak terus memengaruhi macan dan elang raksasa.


Sunan Kembang Kuning fokus kepada macan, dan mengentengkan kemungkinan serangan elang raksasa.


“Macan ini bisa mati. Hentikan wahai resi kejam!”


Namun Resi Witjak tetap pada keputusannya.

__ADS_1


Dia tetap mengarahkan tenaga dalam kepada dua hewan raksasa piaraannya itu.


Elang raksasa mengalihkan perhatian dari gubuk kepada sosok Sunan Kembang Kuning.


Kibasan sayapnya yang kuat menjadikan angin menderu-deru.


Sunan Kembang Kuning kaget alang kepalang. Ada hembusan tenaga dalam dalam kibaran elang itu.


Tak ingin celaka, Sunan Kembang Kuning segera menghimpun tenaga dalam sebesarnya, lalu dipukulkan ke arah kepala elang raksasa itu.


“Kaaaaaaaak!” teriak elang raksasa.


Tiba-tiba terjatuh berdebum.


Tak bangun lagi.


Ada efek yang terjadi pada Resi Witjak. Tiba-tiba dia merasa agak limbung.


“Oh... jadi, engkau menaruh satu sukma di setiap hewan piaraan ini. Begitu aku lumpuhkan, engkau pun limbung. Terlalu berani, wahai engkau Resi jahat. Andai macan ini saya pukul, engkau akan lebih limbung. Tolong, engkau tarik sukmamu, daripada saya yang memaksa untuk mengeluarkannya,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Agaknya, teriakan ini membuat resi Witjak keder.


Dia tak menyangka, sang lawan mempunyai ilmu yang begitu tinggi sehingga mengetahui sampai persoalan sukma segala.


Perlahan, Resi Witjak mengendorkan tenaga dalamnya.


”Bagus. Cepat tarik sukmamu.”


Resi Witjak semakin mengendorkan tenaga dalamnya, dan perlahan dia menarik sukmanya.


“Bagus. Biarkan macan dan elang ini menjadi hewan biasa. Biarkan dia menentukan arah hidupnya sendiri.”


Macan raksasa itu mulai limbung, dan perlahan kemudian ambruk.


Macan pingsan seperti elang raksasa.


“Para bapak ibu semua, mohon menjaga jarak.Begitu macan ini siuman, dia akan menjadi hewan liar, dan tidak ada yang bisa mengendalikan. Bukan saja Resi Witjak, saya juga tak akan bisa. Tolong semua siap-siap menyelamatkan diri,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Resi Witjak mulai dihinggapi rasa takut.


Sunan Kembang Kuning memilih tempat yang agak lapang, agar bisa menjadi perhatian dua hewan ganas itu.


Sementara orang-orang ada di gubuk, diminta menjauh sejauh-jauhnya.


“Resi, Pak Lurah, dan siapa saya yang mempunyai ilmu. Ke sini, berdiri di samping saya. Kita harus mengalihkan perhatian macan dan elang ini dari penduduk kampung. Jangan sampai mereka menjadi korban,” ajak Sunan Kembang Kuning.


Hanya resi Witjak yang berani mendekat.


“Bagus Resi. Kita berdua akan menghadapi macan dan dan elang ganas ini. Apapun yang terjadi, tetap kita alihkan perhatian dua hewan ganas ini kepada kita. Kita harus bisa menyelamatkan penduduk kampung sebanyak-banyaknya,” tandas Sunan Kembang Kuning.


Resi Witjak sudah membuka kuda-kuda.


Macan mulai menggeliat bangun, disusul elang juga mulai menggerak-gerakkan sayapnya.


Dua hewan ini mulai menguasai diri. Begitu sepenuhnya sadar, dua hewan merasa sangat lapar. Macan dan elang seakan bangun dari tidur, dan secara insting, mencari makanan.


Di hadapan mereka banyak sekali manusia yang bisa dimangsa.


Semua ketakutan.


Orang-orang mulai berlarian semburat.


“Tenang, Resi, tunggu waktu yang pas untuk menghajar. Ingat, sedapat mungkin kita halau ke hutan. Untuk sementara elang silakan tangani, sedangkan saya fokus kepada macan,” kata Sunan Kembang Kuning.


“Enggih,” jawab Resi Witjak pendek.


Dia mulai menyiapkan tenaga dalamnya.


Sunan Kembang Kuning pun mengerahkan tenaga dalam terbesarnya, untuk segera ditembakkan ke arah macan.


Begitu macan mulai bergerak pelan, dan tujuannya adalah ke arah sungai, Sunan Kembang Kuning segera siap menyerang.


Sang Macan ternyata menuju ke sungai untuk minum.


Usai puas minum, macan mulai menatap ke arah kerumuman orang-orang.


Macan mulai menggeram.


Di saat hendak melangkah ke arah kerumunan. Sunan Kembang Kuning segera melepaskan pukulan jarak jauh.


“Bles!”


Macan kaget dan menoleh.


“Lawan aku macan!” teriak sunan Kembang Kuning.


Macan mulai menggeram.


“Para penduduk, cepat jauhi lokasi ini. Berbahaya,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Sunan Kembang Kuning juga segera menghentakkan kaki menjauh, sebab, dia tak ingin konsetrasi Resi Witjak yang siap-siap menghadapi elang raksasa, terganggu.


Macan mengikuti ke mana Sunan Kembang Kuning bergerak.

__ADS_1


Semakin dijauhkan dari lokasi. Macan raksasa itu mengejar.


Namun sesekali melihat ke samping, ke arah kerumunan massa.


Jika sudah begitu, Sunan Kembang Kuning segera menembakkan tenaga dalamnya ke arah macan, agar perhatian macan tertuju kepadanya.


Dapat pukulan yang cukup mematikan itu, menjadikan macan kembali mengarahkan mata ke Sunan Kembang Kuning.


Sunan Kembang Kuning berupaya keras memancing agar macan raksasa itu mengikutinya. Tapi tak mudah. Sebab, macan lebih memilih mangsa di kerumunan. Tinggal memilih.


Penduduk mulai ketakutan, dan mereka semburat.


Ini yang menjadikan macan semakin tertarik mengejar kerumunan.


Di saat genting itu, Sunan Kembang Kuning mengerahkan tenaga dalamnya ke kerongkongan, lalu mengeluarkan geraman ala macan.


Sunan Kembang Kuning sendiri pernah berteman dengan tiga macan, hingga ke kerajaan Pasundan.


“Grrrrmmmrrrrrr,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Macan yang sudah mulai berlari mengarah ke kerumunan ini, segera menghentikan larinya.


Dia menoleh ke arah suara.


Seakan dia menemukan teman.


“Grrrrmmmrrrrrr.”


Macan menatap tajam ke arah Sunan Kembang Kuning.


“Grrrrrrr.”


“Grrhhrr.”


Macan berjalan lambat ke arah Sunan Kembang Kuning.


Perlahan, Sunan Kembang Kuning mengendorkan tenaga dalamnya.


Ini suatu pilihan yang terlalu berani. Andai macan itu berniat menyerang, tentu Sang Sunan tak akan siap.


Sunan Kembang Kuning memilih untuk bersahabat dengan macan raksasa itu.


“Grrrerrr.”


“Geerrrr.”


Jarak antara macan dan Sunan Kembang Kuning semakin dekat.


Sunan memberi isyarat agar semua orang yang hadir di situ tidak bersuara. Suara kaget saja, bisa berakibat fatal bagi Sang Sunan.


Ternyata, macan malah mengeluskan kepalanya di bagian dada Sunan Kembang Kuning.


Perlahan, Sang Sunan mengelus kepala dan leher bagian bawah sang macan.


Perlahan, macan diajak melangkah pergi memasuki hutan.


Semua mata memandang dengan takjub.


Sunan Kembang Kuning dan macan raksasa berjalan beriringan menuju hutan.


“Resi... hati-hati terhadap cakar elang,” teriak Sunan Kembang Kuning.


Tak lama, Sunan Kembang Kuning dan macan telah hilang dalam tikungan.


Giliran mata memandang ke arah Resi Witjak, yang harus menghadapi elang raksasa lapar.


Resi Witjak memang memilih berpijak di puncak batu, agar menjadi perhatian elang. Dengan demikian, dia lah yang dipilih elang untuk dimangsa daripada kerumunan massa.


Resi Witjak menyiapkan ilmu tertingginya. Dia baru merasakan, bahwa dengan genapnya sukma dalam tubuhnya, terasa sangat ringan.


“Kenapa dulu aku taruh sukma di macan dan elang? Dan harus mengalami badan loyo bertahun-tahun? Dengan sukma penuh seperti ini, badan saya sangat segar. Ilmu yang saya gunakan juga sangat kuat,” fikir Resi Witjak.


Elang di angkasa, sengaja digoda dengan tembakan-tembakan tenaga dalam, agar perhatiannya tertuju kepada Resi Witjak.


Elang pun marah, dan memang benar-benar mengarahkan serangan kepada Resi Witjak.


Sang Resi tahu, yang menjadi fokus adalah cakar elang. Apapun bentuk gerakan yang dilakukan elang, yang pasti mata sang resi tak lepas dari cakar.


“Saya memang tak boleh membunuh. Tapi, tentu saya masih boleh untuk melukai cakar elang,” tukas Resi Witjak.


Tenaga dalam disiapkan sepenuhnya.


Namun, belum lagi ditembakkan, Resi langsung mengurungkan niatnya.


“Kalau saya hancurkan kaki dan cakarnya, bagaimana nanti dia akan mencari makan?”


“Bagus Resi, engkau telah menemukan makna hidup,” begitu suara yang begitu dekat dengan telinga sang resi.


Resi sempat kaget. Dia hapal betul, suara itu tak lain dari suara Sunan Kembang Kuning yang sedang mengantar macan menuju hutan.


Wajah Resi Witjak langsung bersinar.


Dia tak menyangka, satu sosok musuh yang hendak dibinasakan, dengan begitu mudah menjadi teman yang perhatian.

__ADS_1


Resi tambah bersemangat.


__ADS_2