
Rejo memilih memulai perjalanan pada siang hari, karena dia takut bertemu begal atau binatang buas.
Tidak henti-hentinya, dirinya merasa was-was, ketika berada di kampung. Dia takut bertemu orang jahat. Untuk itu, pedang kerajaan dan semua tanda pengenal sebagai pendekar disembunyikan rapat-rapat dalam buntalan.
Rejo yang masih berusia belasan ini, memilih berpakaian seperti anak petani.
Rejo berjalan perlahan. Kadang, dia memasuki kampung, dan duduk-duduk di bawah pohon teduh. Banyak orang pergi ke pohon pemujaan. Memuja sang dewa.
Rejo bingung. Andai dia masih hindu, tentu dia ikut pergi sembahyang ke candi atau ke pura atau ke pohon wingit.
Dia kini Islam. Satu agama yang baru dipeluknya. Tapi, dia tak tahu harus melakukan apa dengan agama barunya itu.
Hebatnya Rejo, dia tidak ikut-ikutan. Meski belum mengerti Islam itu apa, yang dia tahu hanyalah bacaan kalimat syahadat. Hanya itu yang diajarkan Syech Belabelu kepadanya.
Maka, dia pun hanya membaca dua kalimat syahadat itu terus menerus, sampai kepada orang-orang yang sembahyang di pohon wingit selesai. Rejo tak tahu harus melakukan apa. Sebab, sepanjang perjalanannya dia, belum pernah menemukan orang Islam.
Kebanyakan, di tiap-tiap kampung yang disinggahi, kalau tak bertemu orang Hindu, Budha, atau pemuja pohon, gua dan gunung.
"Sebenarnya, Islam itu agama apa? Saya tidak diajari apapun oleh Kanjenhg Syech Belabelu. Saya hanya pernah melihat orang gerakan aneh, waktu di pesanggrahannya Syech Belabelu, yang disebut masjid itu," gumam Rejo.
"Tapi, karena saya sudah tidak beragama Hindu, maka, saya harus belajar tentang Islam, dan semua upaya ibadahnya. Tapi, saya harus belajar kepada siapa?"
"Ataukah, saya harus melakukan gerakan-gerakan yang pernah saya lihat itu? Saya harus mengingat-ingatnya lagi."
Rejo mulai mencoba melakukan gerakan seingatnya. Mulai berdiri dan tangan bersedekap, lalu gerakan seperti rukuk, ytang seharusnya iktidal, Rejo tak tahu, dia langsung bersujud, lalu duduk. Selesai.
Maka, sejak saat itu, ketika dia melihat orang berbondong bersembahyang di pura, atau tempat keramat di pagi hari, Rejo mencari tempat yang cukup sunyi, lalu dia melakukan gerakan-gerakan itu. Dia selalu melafalkan kalimat syahadat.
"Saya sebenarnya tak tahu, harus menyembah siapa. Syech Belabelu mengatakan bahwa Allah adalah tuhan maha segalanya. Tapi, saya tak tahu, tuhan Allah ini bersemayam di mana? Kenapa Syech Belabelu tidak mengajarkan saya secara tuntas? Kenapa saya disuruh pergi mencari Syech Subakir?
Kenapa Syech Belabelu tidak mau mengangkat saya menjadi murid?"
"Duh Tuhan Allah, yang saya tak tahu bentuknya seperti apa, Engkau ada di mana, berilah saya ini petunjuk untuk lebih mengenal agama Islam. Saya tak tahu harus bertanya kepada siapa? Sebab, orang kebanyakan masih banyak yang beragama Hindu."
Sepanjang perjalanan, Rejo selalu melakukan 'salat' versinya dia sendiri, dan membaca dua kalimat syahadat saja.
Hingga dia sampai di Desa Candi Siri Kadipaten Panjer (sekarang Kabupaten Kebumen), dia melihat sosok berjubah putih lusuh, sedang duduk diam di sebuah batu ceper, di sungai Karanganyar.
(foto diambil dari: wahyupancasila.com)
Rejo tertegun. Dia melihat sosok itu begitu tenang. Kepalanya geleng ke kiri dan ke kanan.
Karena saking asyiknya, tak terasa kepala Rejo juga ikut bergoyang, meski tak tahu apa yang dibaca. Rejo dengan sabar menunggu orang itu selesai 'geleng-geleng' kepala. Hingga matahari menjelang tenggelam, barulah orang berjubah lusuh itu selesai aktivitasnya.
Dia beranjak menuju ke air, lalu membasuh muka, tangan dan kakinya.
Orang itu, berdiri ke satu arah, dan mengangkat tangannya, lalu membungkuk.
Rejo yang melihat ini terkesiap. Gerakan itu, sama persis dengan gerakannya.
Maka, dari tempatnya, Rejo, sembari berkali-kali menoleh ke arah orang berjubah itu, dia meniru gerakan demi gerakan orang itu, hingga selesai.
Begitu selesai, orang duduk bersila lagi di batu ceper itu, lalu diam.
Hari telah gelap. Rejo tak bisa melihat dalam kegelapan itu.
Maka, mau tak mau Rejo kian mendekat ke orang berjubah itu, agar bisa melihat gerakannya.
Kulitnya yang digigit nyamuk tak lagi dirasakan, karena Rejo begitu berdebar-debar dan gembira bertemu dengan sosok yang diyakini beragama Islam itu. Rejo berharap dia mendapat pelajaran tentang agama barunya itu.
"Anak muda, aku tahu engkau sembunyi di balik batu. Kesinilah," tiba-tiba sosok berjubah itu menyapa, dengan suara yang pelan, tapi cukup berat.
Rejo perlahan keluar dari balik batu, dan berjalan mendekat.
"Sini, duduk bersama saya," ajak pria berjubah.
Setelah duduk berhadapan, barulah Rejo bisa melihat sosok berjubah itu dengan jelas.
Wajahnya lembut, dengan alis cukup tebal. Jenggotnya cukup lebat menutupi rahangnya yang masih terlihat kokoh itu. Hidungnya mancung, namun matanya sipit, menandakan dia bukan orang Jawa. Gurat-gurat otot kokoh di kedua lengannya, terlihat ketika baju jubahnya tersingkap. Dua bahunya juga cukup bidang, tanda dia sebenarnya terlatih.
"Nak, engkau siapa?"
"Saya Rejo."
"Engkau terlalu muda untuk menjadi petualang."
Rejo menunduk.
Belajar dari pertemuan dengan Syech Belabelu yang pilitanding, Rejo didera rasa sungkan dengan sosok berjubah.
"Hmm, saya melihat ada keraguan dalam dirimu. Tapi saya juga melihat sinar aneh di dahimu. Engkau ini sebenarnya siapa? COba ceritakan kepadaku."
Tanpa rasa curiga, Rejo mulai menyeritakan siapa jati dirinya. Tentang guru-gurunya, dan tentang pertemuannya dengan Syech Belabelu, dan diakhiri, dia melakukan gerakan ibadah.
"Oh... engkau ternyata sudah bertemu dengan Adi Belabelu?"
Mata Rejo langsung berbinar. Dia meyakini sosok berjubah ini, pasti ada kaitan dengan Syech Belabelu atau Syech Subakir.
"Engkau sekarang sedang mencari Adi Subakir juga?"
Rejo tambah bergembira, mendengar sosok ini memanggil Syech Subakir dengan sebutan Adi.
"Anak muda, ketahuilah, nama saya Jumadil Kubro. Orang-orang memanggil saya dengan sebutan Syech Jumadil Kubro. Kalau ditilik dari usiamu, paling terpaut lima atau tujuh tahunan jauh dengan keponakanku, Raden Rahmat. Kalian sama-sama putra kerajaan. Bedanya, di usiamu saat ini, engkau sudah berpetualang, Rahmat saat ini masih hidup di kerajaan Campa. Saya berdoa kepada Allah, semoga pada masanya nanti, kalian bisa dipertemukan sebagai seorang sahabat," kata Syech Jumadil Kubro.
Rejo tentu saja tak mengerti dengan apa yang diomongkan.
"Saya melihatmu, langsung teringat kepada keponakanku. Ini karena saya melihat sinar yang aneh juga di dahi Rahmat. Persis. Makanya saya jadi ingat dia."
Rejo tetap menunduk.
"Jadi, engkau sekarang sudah beragama Islam?"
Rejo mengangguk.
"Tapi, oleh Adi Belabelu, engkau tidak diajarkan apapun selain dua kalimat syahadat."
Rejo mengangguk lagi.
"Assalamualaikum, Adi Belabelu. Engkau ada-ada saja, melimpahkan tanggung jawabmu kepadaku, untuk mengajari anak muda ini," kata Syech Jumadil Kubro, seakan-akan di depannya ada Syech Belabelu.
Rejo tentu saja kaget. Sebab, di sekelilingnya tak ada siapa-siapa, selain hanya dia dan Syech Jumadil Kubro.
Fikiran Rejo langsung mengarah kepada ilmu Ngrogo Suksmo. Satu ilmu tingkat tinggi yang tidak semua orang bisa menguasainya. Ilmu untuk 'bepergian' jauh, dengan wadah jasad tak beranjak dari tempatnya tinggal atau duduk, atau berbaring.
Kali ini, rejo disuguhkan dengan 'atraksi' ilmu Ngrogoh Suksmo, dalam kondisi tersadar penuh.
"Ha ha ha... engkau katakan, anak ini mempunyai bakat luar biasa? Ya saya tahu itu. Tapi, saya melihat ada secercah sinar di dahinya, persis seperti sinar yang saya lihat pada Rahmat. Iya.. pangeran Cempa itu. Putra dari Maulana Makdum Ibrahim Asmarakandi. Persis... benar-benar persis... Semoga Allah mempertemukan mereka, pada zamannya nanti. Tapi, anak ini agaknya lebih tua."
Setelah itu, Syech Jumadil Kubro, diam. Tapi, kadang tersenyum, tegelak, dan manggut-manggut.
"Oh, jadi engkau tak mengajari anak ini, karena engkau merasa ilmumu tak cocok dengan wadag anak ini? Trus, ilmu Hindu itu engkau kunci dalam dirinya? Apa ilmu Adi Subakir bisa cocok?"
Rejo diam. Otak cerdasnya langsung mereka-reka, apa yang sebenarnya diomongkan dua orang sakti yang berjauhan itu.
"Oh, jadi, Kanjeng Syech Belabelu tidak mengajari saya, karena karakter ilmunya tidak cocok dengan wadag atau jasad saya. Oh, begitu. Sungguh saya tak tahu, kenapa saya sudah mempunyai prasangka buruk kepada beliau," fikir Rejo.
Hatinya lega.
"Bagaimana kalau dia saya ajari?"
Syech Jumadil Kubro lalu manggut-manggut.
"Baiklah. Waalaikum salam."
Rejo tetap menunduk.
"Nak, engkau dengar sendiri. Saya baru saja berbicara dengan Belabelu. Dan memang benar engkau tidak diajari ilmu Belabelu, karena wadagmu tak cocok. Baiklah, tinggallah engkau beberapa hari bersamaku. Akan aku ajari engkau barang satu dua ilmu, sambil aku ajari engkau apa itu Agama Islam."
Rejo langsung menjura hormat.
"Sebelum engkau belajar Islam. Sana, engkau mandi keramas. Bersihkan dan sucikan tubuhmu."
Rejo tetap menjura hormat, lalu mundur.
Rejo segera menyeburkan dirinya ke dalam kali.
Betapa dingin menyergap di setiap pori-porinya.
Rejo berusaha bertahan.
"Engkau akan terus kedinginan jika engkau tidak mengetahui rahasia hidup. Bukankah engkau pernah melihat dua ikan gabus, ketika tubuhmu panas membara. Satu selamat dan satu lainnya matang. Temukan jawabannya dari peristiwa itu. Sekarang, engkau jangan keluar dari air, selama engkau tak bisa menemukan rahasia hidup pada peristiwa ikan gabus itu," kata Syech Jumadil Kubro, lalu dia melanjutkan salat Isya.
Rejo segera berfikir keras dan mengingat peristiwa ikan gabus.
"Satu ikan gabus matang, dan saya memakannya. Tapi karena perut saya seperti bara, saya muntahkan lagi, dan daging ikan itu menjadi gosong. Apa dari peristiwa itu," gumam Rejo sambil tubuhnya menggigil.
Giginya gemeratuk menahan dingin yang menghujam di setiap kulitnya.
"Ah, tentu tidak. Sebab ikan itu mati karena dia tak menyadari bahaya mengancam dirinya, pada air panas itu. Jadi, saya seharusnya menemukan rahasia hidup dari ikan gabus yang hidup, dan berenang menjauhi air panas. Ya.... saya harus menemukan dari peristiwa selamatnya satu ikan gabus itu. Tapi, apanya?"
Rejo sudah mulai meracau. Dia omong sendiri, sebagai upaya mengusir rasa dingin.
"Satu ikan gabus yang hidup karena dia segera menyadari bahwa ada bahaya mengancam dirinya. Untuk itu dia selalu waspada. Tapi, apa kaitannya dengan air dingin atau air panas? Yang air dingin, ikan gabus selamat, yang air panas ikannya mati."
"Saya harus bagaimana?"
Rasa dingin kian mendera, padahal Rejo belum membasahi seluruh rambutnya.
"Saya harus segera menemukan jawabnya. Kalau terlalu lama, saya bisa mati kedinginan."
Rejo benar-benar memutar otak sebisanya, di antara mulutnya yang meracau.
"Ini sungai. Airnya dingin. Pasti ada ikan yang hidup di sini. Kenapa ikan di sini masih bisa hidup, meski dalam kondisi air sangat dingin? Tentunya, ikan gabus bisa hidup, dengan suhu yang tetap. Begitu terkena panas, dia sulit menyesuaikan diri. Untuk itu, dia mati!"
"Apa kuncinya ya?"
Gigi Rejo kian gemeretak tak karuan. Bibirnya membiru.
Syech Jumadil Kubro tetap tenggelam dalam wiridnya.
"Tentu di sini ada ikan. Dia bisa hidup. Saya harus menjadi seperti ikan itu."
Sebenarnya, kalau saja ilmu Rejo tak dikunci dalam tubuhnya, sangat mudah baginya untuk mengatasi dinginnya air ini. Namun, begitu ilmunya tak bisa difungsikan, Rejo tak bisa melakukan apapun.
Jadinya, dia sekarang berjuang seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Tertatih dan terjatuh.
Dicoba untuk mengatur pernafasan sesuai dengan arahan ilmu. Hasilnya nihil. Badannya tetap menggigil ditusuk suhu air yang dingin. Berbagai cara pernafasan dilakukan, tetap saja tak mampu menghangatkan tubuhnya.
"Saya harus bagaimana?" gumam Rejo, kian mendekati hilang akal sehatnya.
"Jadilah seperti ikan. Mengalirlah seperti air," kata Syech Jumadil Kubro, tiba-tiba.
"Jadi seperti ikan dan mengalir seperti air? Apa itu?"
Tak ingin mati konyol, Rejo segera melakukan sebisanya.
Dibiarkan tubuhnya kedinginan apa adanya. Rejo berusaha menikmati rasa dinginnya air yang menghujam kulitnya. Gemeratuk giginya, dibiarkan berbunyi apa adanya. Tak ada satupun yang ditahan atau dilawan.
__ADS_1
Dibiarkan tubuhnya kedinginan apa adanya. Gemetaran kian hebat, kalau tidak boleh dikatakan nyaris seperti menggelepar.
Rejo tak melawan sama sekali.
Dicoba 'berteman' dengan air dingin itu.
Hampir sepuluh menit berusaha, menjadikan tubuh Rejo sudah benar-benar mati rasa. Tapi, kali ini sebaliknya. Rejo hanya mampu menguasai akal sehatnya saja. Dibiarkan tubuhnya menyatu dengan air dingin, kecuali akal sehatnya.
Lambat laun, Rejo tak lagi merasa kedinginan. Otaknya bisa mendengar dengan tajam gemericik air menabrak batu. Seakan, Rejo hanya terdiri dari kepala dan akal sehatnya saja.
"Saya sudah tidak merasakan kedinginan samasekali. Apa ini yang disebut dengan menyatu dengan air dingin seperti ikan, dan mengalir seperti air?"
"Benar. Engkau sudah bisa melakukannya dengan baik. Benamkan kepalamu. Menyatulah dengan air seperti ikan, dan mengalir layaknya air."
Rejo menuruti perintah Syech Jumadil Kubro.
Begitu kepalanya dibenamkan ke dalam air, hingga seluruh tubuhnya tak terlihat di permukaan, rasa dingin langsung menusuk di kepalanya. Pening kepala langsung mendera luar biasa. Belum lagi dia harus menahan nafas agar tak kemasukan air.
Rejo hanya sebentar bertahan, dan segera muncul di permukaan lagi.
Kali ini, rasa dingin kembali menghajar seluruh tubuhnya.
"Aneh. Tadi tak terasa dingin, kenapa sekarang terasa dingin?"
"Karena engkau berusaha melawan dingin itu, begitu kepala engkau masukkan ke dalam air. Coba jangan dilawan."
Rejo memulai lagi. Dia berusaha berkawan dengan air dingin. Begitu tubuhnya kembali mati rasa, perlahan, Rejo menenggelamkan kepalanya. Hujaman air dingin mulai menusuk kulit pipinya, seluruh kepalanya, dan langsung memunculkan rasa pening.
Rejo berusaha berkawan dengan dingin, begitu kepalanya masuk semua ke dalam air.
Tapi, dia harus menahan bernafas. Tak lama, Rejo menarik kepalanya, dan dia langsung terengah-engah.
"Nak, engkau harus benar-benar menyatu dalam air. Lakukan itu, jangan fikirkan engkau harus bernafas, jangan fikirkan engkau kedinginan. Menyatulah dalam air seperti ikan, dan mengalir seperti air."
Rejo mengikuti.
Dia lalu memasukkan kepalanya ke dalam air lagi. Tak terasa dingin. Rejo merasa dia bisa menyatu dengan air layaknya ikan. Rejo tak berfikir dia butuh menarik nafas. Rejo melakukan dengan santai.
Meski Rejo sadar, dia tak tahu, seberapa lama dia bertahan di dalam air tanpa bernafas itu. Andai rejo tetap terpejam, dia tak tahu bahwa hari telah menjelang pagi. Sinar matahari sudah menghujam tanah, membakar embun pagi.
Begitu mata Rejo terbuka, dia kaget, melihat alam sekitarnya sudah terang benderang. Rejo melihat Syech Jumadil Kubro dalam duduk bersila di batu ceper, sembari geleng-geleng kepala. Tangannya memutar tasbih.
"Engkau berhasil, nak. Keluarlah dari air, dan sini, mendekat kepadaku," kata Syech Jumadil Kubro.
Namun, Rejo tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Tubuhnya kaku.
"Bagaimana ini?"
"Sekarang, menyatulah engkau dengan udara dan alam sekitar. Maka, tubuhmu akan bisa engkau gerakkan lagi."
Rejo menuruti yang diomongkan Syech Jumadil Kubro. Dia mengatur nafasnya.
Hembus, tarik, hembus, tarik.
Rejo membuat tubuhnya rileks. Fikirannya diarahkan kepada sekujur kulitnya. Dia mencoba merasakan embusan angin. Dia tahu, ada angin berhembus karena wajah dan rambutnya bergoyang.
"Ada angin. Harusnya saya bisa merasakannya," kata Rejo lirih.
Perkataan ini terdengar Syech Jumadil Kubro.
"Bagus. Begitu memang caranya. Coba satukan dirimu dengan udara sekitar. Hampir sama caranya, saat engkau menyatu dengan air."
Namun, apa yang dilakukan Rejo menemui kegagalan, ketika sudah sampai di titik dia hendak menggerakkan anggota tubuh.
"Engkau tak akan bisa melakukannya, kalau engkau menggunakan cara-cara pencak silat. Ingat, engkau harus mengalir seperti air, dan mengapung seperti angin berhembus."
Rejo yang memang cerdas dan jenius ini, dengan mudah menemukan jawabnya.
"Oh, jadi saya dilarang mengatur nafas. Baiklah, akan saya coba."
Rejo membuat fikirannya serileks mungkin, lalu mulai bernafas normal.
Dibuat tubuhnya menerima lingkungan apa adanya..
Setelah sepuluh menit dalam kondisi sangat rileks, barulah Rejo merasakan ada embusan angin meraba lengan tangannya.
"Kenapa hanya lengan tangan dan kepala? Kenapa bagian kaki dan perut belum merasakan embusan angin?"
"Karena engkau sudah merasa bisa, begitu engkau merasakan embusan angin. Itu kesalahan fatal. Kalau manusia sudah merasa bisa, maka, selanjutnya bisa ditebak. Dia akan teledor, kalau gak gitu, dia akan malas, kalau gak gitu dia akan menjadi sombong. Itu yang engkau rasakan saat ini."
Rejo kaget.
Dia ingat, bukankah ketika menenggelamkan diri di air tadi, dia hanya merasakan sebentar saja. Ternyata, dia tak bernafas hingga pagi.
"Jadi, kuncinya adalah membiarkan apapun yang terjadi?"
"Kuncinya adalah, engkau kembalikan semua kepada Allah swt. Kepasrahan total. Itu yang sebenarnya menjadikan manusia menjadi kuat dan waspada."
Rejo segera memosisikan dirinya sebagai sosok yang bukan apa-apa. Tubuhnya dijadikan serileks mungkin, dan berusaha membiarkan apapun yang terasa di kulitnya.
Sepuluh menit berikutnya, tiba-tiba saja kakinya bisa bergerak bebas. Rasa nyeri hilang, tak kaku, juga tak kedinginan.
"Alhamdulillah, engkau telah bisa melakukan semua dengan benar. Ayo, sana mandi lagi, keramas lagi. Lalu ke sini."
Rejo menuruti perintah Syech Jumadil Kubro, dan cukup bersemangat untuk segera mendapatkan pelajaran tentang Islam.
"Nak. Islam mengajarkan kita menjadi sosok yang berguna bagi alam semesta. Untuk itu, sedapat mungkin kita menjadi manusia yang berilmu. Apapun jika didasarkan ilmu, tentu ada gunanya. Tetapi, jika segala sesuatu tanpa ilmu akan sia-sia."
"Dan yang paling dasar dari Islam adalah, melaksanakan lima rukun. Dan ini sebenarnya bukan sekedar kewajiban, tapi itu menjadi kebutuhkan kita sebagai manusia. Nak, usiamu terlalu muda untuk mendalami ilmu-ilmu tingkat tinggi. Gurumu yang hindu itu, sangat bernafsu menjadikan kamu sosok pembunuh nomor satu. Itu yang kini jadi masalah, sebab, bukan hanya ilmu yang dimasukkan ke dalam dirimu, tapi juga termasuk makanan dan minuman yang sudah dirapal mantra. Dana itu semua ikut dalam darahmu. Jika engkau melaksanakan rukun Islam, maka, sejatinya adalah pembersihan darah dan jiwamu."
Rejo diam. Menunduk.
"Ketika engkau melaksanakan rukun Islam, tentu tubuhmu akan memberikan reaksi yang luar biasa. Minimal engkau akan sakit. Itu tidak apa-apa, asalkan tidak membuat kerusakan dan merugikan orang lain. Camkan ini nak!"
"Ingat-ingat pesanku, sampai kapanpun. Engkau harus membersihkan dirimu terus menerus. Sebenarnya, ini juga pengingat bagi aku. Islam mengajarkan kepada kita untuk bertindak tanduk santun. Itu contoh dari Nabi kita. Sedapat mungkin, kita harus meniru akhlaq Nabi."
"Apa engkau sudah siap?"
Rejo mengangguk.
"Coba engkau ucapkan dua kalimat syahadat di depanku."
Rejo mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Tahukah engkau, apa artinya?"
Rejo mengangguk.
"Coba sebutkan."
"Saya bersaksi, tidak ada tuhan selain Alloh, dan saya bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Alloh."
"Sudahkah arti itu merasuk dalam hatimu?"
Rejo terdiam.
"Coba sekarang, engkau ucapkan arti kalimat syahadat itu dalam hatimu, dan resapilah."
Rejo melakukan perintah itu.
Begitu hatinya mengucapkan kalimat syahadat dan mengartikannya, sepenuh konsetrasi.
Tiba-tiba muncul rasa panas dari tulang ekornya. Panas itu lalu merembet ke arah perut, paha. Dilanjutkan ke arah dada dan betisnya. Tak lama lagi, sekujur tubuhnya sudah merasa panas.
Kian lama, kian membara.
"Sekarang, terserah engkau. Panas itu adalah reaksi dari ilmu lamamu. Engkau akan kian tersiksa. Tapi, jika engkau mengingkari Gusti Alloh sebagai tuhanmu, maka panas itu akan menghilang. Ini adalah reaksi yang paling ringan dari ilmumu. Bagaimana Rejo?"
Rejo menggeleng.
"Coba pikirkan lagi."
Rejo tetap menggeleng.
"Engkau akan menderita seumur hidupmu. Padahal, ini adalah paling ringan. Camkan lagi. Apa engkau mau mengingkari Islam?"
Rejo tetap menggeleng.
Dia tak mampu berbicara. Rejo menggigit bibir bawahnya, sebagai upaya menahan sakit luar biasa di tubuhnya, yang muncul gara-gara panas membara.
Syech Jumadil Kubro diam.
Dia membiarkan Rejo kesakitan.
Karena sudah rak tahan, Rejo segera menjura hormat, dan akan masuk ke dalam sungai.
"Jangan masuk ke dalam kali. Sebab, hanya akan menambah panas dalam tubuhmu. Kendalikan panas dalam dirimu."
Mata Rejo menatap ke arah Syech Jumadil Kubro. Mulutnya terkunci rapat.
"Yah, engkau belum tahu. Bacalah, astaghfirullahaladziim. Itu bacaan istighfar. Yaitu meminta pengampunan kepada Allah swt."
Rejo segera berusaha membaca istighfar.
Ternyata mulut Rejo seakan bara api. Ada hembusan angin membara dari mulut Rejo. Seakan ada api yang menyembur dari mulutnya.
"Astaghfirullahal adziim."
"Astaghfirullahal adziim."
Rejo terus-terusan membaca istighfar.
Berjam-jam Rejo membaca istighfar, hingga akhirnya dia merasakan panas tubuhnya mulai menurun. Rasa sejuk mulai dirasakan di kepala dan kaki, lalu merambat ke leher dan betis. Hingga akhirnya Rejo hanya merasakan panas di bagian tulang ekornya saja.
Tak lama, panas itu lenyap.
"Jadi, di tulang ekor inikah, ilmu-ilmu lamaku terkunci?" gumam Rejo heran.
"Benar Nak. Sekarang engkau sudah tahu. Dan memang seperti itu reaksi ketika engkau beribadah kepada Allah swt."
Rejo menunduk takdim.
"Aku bangga atas kegigihanmu melawan panas, dan kegigihanmu mempertahankan keimanan kepada Allah swt, meski engkau kesakitan. Baiklah. Engkau sekarang sudah tahu resiko yang kamu dapatkan jika kamu belajar tentang Islam."
Rejo bergembira. Dan dia siap untuk mendapatkan pelajaran Islam lebih jauh.
Syech Jumadil Kubro mengajarkan tentang salat, dan Rejo diminta menghafalkan seluruh bacaan, termasuk artinya.
Hanya saja, baru sekali membaca, Rejo sudah merasakan panas mulai mengalir dari tulang ekornya. Mau tak mau, Rejo kembali berkonsentrasi membaca istighfar.
Begitu membaca istighfar, panas kembali 'masuk' ke tulang ekornya.
"Saya harus menemukan jalan, bagaimana caranya agar panas di tulang ekor ini tidak menyebar lagi. Saya harus segera menghafal bacaan salat, agar saya bisa beribadah secara benar," gumam Rejo..
Lalu, Rejo memilih bisa terus menghafal bacaan salat, meski tubuhnya didera panas. Untuk mengurangi panas, dia memilih masuk lagi ke dalam air.
Syech Jumadil Kubro tersenyum.
Ketika Rejo sudah berendam sedalam leher, dia menghafal bacaan salat itu, atas arahan Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
__ADS_1
Memang terasa panas, tapi Rejo tak menghiraukan. Dia berkonsentrasi menghafal bacaan salat.
Panas mulai menyebar ke seluruh tubuh. Karena Rejo berendam di air yang sangat dingin, Rejo tak merasakan kedinginan.
"Nak... Nak.... Kadang kesulitan itu akan membawa kita kepada kemudahan, dan keberkahan. Kenapa engkau memilih menghafal sambil berendam?"
"Biar saya segera bisa menghafal."
"Coba, bacaan aapa yang sudah engkau hafalkan?"
"Bacaan iktidal."
"Keluarlah dari air. Dan coba kamu lafalkan lagi bacaan iktidal yang sudah engkau hafal itu."
Begitu keluar dari sungai. Rejo berusaha melafalkan bacaan iktidal. Ternyata, semua yang sudah dihafal di luar kepala saat berada di dalam air itu, hilang begitu saja.
"Nah, engkau sudah tahu, kenapa engkau bisa lupa di saat engkau keluar dari sungai?"
"Tidak."
"Sebab, saat engkau di dalam air, fikiranmu bisa dengan tenang bisa menghafal. Tetapi, ketika engkau di luar sungai, fikiranmu sebenarnya sudah didera ketakutan akan hawa panas yang muncul dari dirimu. Untuk itu, apa yang sudah engkau hafal, menghilang begitu saja."
Rejo manggut-manggut.
"Untuk itu, kenapa aku katakan tadi, engkau tak usah masuk lagi ke dalam air."
"Lalu, saya harus begaimana?"
"Lakukan sebisamu, sebagai manusia biasa."
"Seperti manusia biasa?"
"Ya, benar! Seperti manusia biasa."..
Rejo segera duduk bersila di salah satu batu, dan dia mulai melafalkan lagi bacaan salat, dengan bimbingan Syech Jumadil Kubro.
Rasa panas mulai terasa.
Rejo segera membaca istighfar.
Panas masuk lagi ke tulang ekor.
Dan begitu seterusnya.
Akhirnya, posisi bacaan kebalik. Umumnya, Rejo membaca istighfar dulu, baru merapalkan bacaan salat. Dan selalu, diawali dengan istighfar. .
Panas bisa ditekan.
Syech Jumadil Kubro tersenyum.
"Engkau telah menemukan cara. Ya sudahlah, berusahalah menghafal semuanya. Saya akan pergi dulu. Nanti saya kembali. Dan engkau jangan sekali-kali pergi dari sungai ini. Lakukan salat lima waktu. Saya pasti kembali. Untuk rencanamu mencari Syech Subakir, tangguhkan dulu. Melaksanakan salat dengan benar itu lebih penting. Engkau kan sudah bisa gerakan salat dengan benar kan? Ya sudah," kata Syech Jumadil Kubro.
Tubuh Kanjeng Syech Jumadil Kubro langsung melesat, dan segera menghilang.
Tinggal Rejo sendiri.
Dia sangat antusias dan bersemangat menghafal, dipadu dengan istighfar.
Tak cukup dengan menghafal, Rejo juga langsung praktik melaksanakan salat. Dia sudah hafal di luar kepala tentang gerakan salat.
Hanya saja, dia tak bisa berkonsentrasi lebih serius lagi, karena dia panas yang menyebar melalui tulang ekor cukup mengganggu.
Rejo berusaha dan terus berusaha.
Satu malam, saat tidur dia bermimpi bertemu dengan Syech Belabelu..
Kanjeng sunan yang bertubuh tambun ini mengelus dua pundaknya.
"Nak, engkau harus belajar khusu dalam salat. Dengan begitu, engkau tidak akan merasakan panas. Khusu adalah, engkau merasa dilihat Allah swt, atau engkau seakan-akan melihat Allah di depanmu. Atau berfikirlah bahwa engkau besok akan mati, maka beribadah dan salatlah secara sungguh-sungguh. Insya Allah engkau akan bisa merasakan khusunya salat," kata Syech Belabelu, dalam mimpi.
Ketika bangun, Rejo masih merasakan aroma harum di dua pundak yang dielus Syech Belabelu.
"Jadi, saya sebenarnya tak mimpi. Buktinya, saya merasakan aroma harum di dua pundak ini," gumam Rejo sendiri.
Rejo belum mengerti, bagaimana 'rupa' Allah swt itu. Tetapi, dia bisa merasakan bahwa dia selalu diawasi oleh sesuatu.
"Mungkin, ini yang dimaksud Kanjeng Syech Belabelu, bahwa saya selalu diawasi. Benarkah ini wujud perasaan saya sedang diawasi Allah?"
Lalu, Rejo segera melaksanakan salat. Dia dia mempertahankan perasaan bahwa dia sedang diawasi Gusti Allah.
Efeknya memang luar biasa. Dia tak merasakan panas di tulang ekornya. Tapi, tetap saja, Rejo sebenarnya belum bisa khusu, karena fikirannya diarahkan ke tulang ekornya.
"Inikah yang dikatakan salat khusu itu? Yaitu saya tak merasakan panas di tulang ekor?"
Rejo memang benar-benar tak tahu.
Meski begitu, dia sudah bisa menikmati sensasi salat. Dia merasakan bahwa salat ini sebenarnya untuk dirinya sendiri. Bukan untuk siapa-siapa.
"Luar biasa benar Agama Islam ini. Saya tak salah pilih. Gerakan salat sungguh sederhana, tapi ini adalah inti dari semua gerakan pencak silat yang pernah saya pelajari. Sungguh, ini cara meditasi yang terbaik dan benar," gumam Rejo sendiri.
Maka, sejak saat itu, Rejo semakin getol melaksanakan salat dan salat. Sepanjang hari, dia bisa melaksanakan berkali-kali salat.
Bahkan, saking asyiknya menjalankan salat dan salat hingga dia luap sudah beberapa lama dia berdiam di kali itu. Bahkan, nyaris saja dia lupa tujuan awalnya dia ada di tempat itu, kalau saja Syech Jumadil Kubro tidak menyapanya.
"Assalamualaikum," sapa Syech Jumadil Kubro.
"Assalamualaikum," jawab Rejo.
"Nak, kalau ada yang mengaturkan salam, yaitu yang berbunyi, Assalamualaikum, maka jawabnya adalah Waalaikum salam. Ayo kita coba lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Rejo.
"Nah, itu baru betul."
Syech Jumadil Kubro lalu duduk di samping Rejo.
"Apa yang engkau lakukan di sini?"
"Salat."
"Selain itu?"
"Menangkap ikan untuk makan."
"Selain itu?"
"Tentu saja mandi."
"Selain itu?"
"Tidak ada,"
"Nak. Tahukah, berapa lama engkau tinggal di sini?"
"Tidak tahu."
"Sekitar tiga tahun."
Barulah Rejo tersentak.
"Selama itulah saya tinggal di sini?"
"Ya. Engkau tidak terasa, karena engkau sebenarnya telah menemukan keindahan dan kelezatan salat itu."
Rejo langsung menangis sesegukan.
Dia sendiri tidak menyangka, sudah selama itu dia berdiam di kali, dan melakukan salat dan salat.
"Rejo, engkau belum lengkap menjalankan salat, karena selama tiga tahun ini engkau belum melaksanakan salat Jumat. Ingatlah, ketika Syech Belabelu berdiri di depan orang-orang, lalu dia berbicara atau berkhotbah. Itulah namanya salat Jumat. Hanya saja, karena penganut agama Islam masih sangat sedikit, cukup sulit untuk mendirikan salat Jumat."
Rejo agak kecewa. Dan cukup tergambar di wajahnya.
"Baiklah, engkau ikut aku saja. Untuk sementara, rencanamu menemui Syech Subakir ditangguhkan dulu."
Mendengar ini, Rejo langsung sumringah. Dia tak menyangka, kalau dia akan diajak Syech Jumadil Kubro.
"Baik, Kanjeng Syech, saya bersedia ikut Panjenengan."
"Mandi sana."
Rejo segera mandi.
Tetapi, ketika dia selesai mandi, sudah tidak menemukan Syech Jumadil Kubro.
Rejo celingukan, menoleh ke kiri dan kanan. Muka dan belakang. Namun, keberadaan Syech Jumadil Kubro tak kelihatan.
"Saya harus kok ditinggal ya? Kata Kanjeng Syech tadi, saya mau diajak pergi, dan disuruh mandi dulu. Kemana ya? Perginya Kanjeng Syech Jumadil Kubro?" gumam Rejo sendiri.
Dicoba mencari petunjuk, ke arah mana Kanjeng Syech Jumadil Kubro pergi. Namun sia-sia. Dia tak menemukan apapun petunjuk di sekitaran kali.
Rejo memutuskan untuk menyusuri jalan setapak di satu arah. Jalannya dipercepat, dengan harapan bisa segera menyusul Syech Jumadil Kubro.
Namun, di jalan setapak itu, Rejo tak menemukan. Rejo memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnya, dengan harapan bisa menyusul Syech Jumadil Kubro. Tetap saja tak ditemukan.
"Jangan-jangan, Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengambil arah sebaliknya. Masih cukup waktu untuk mengejar beliau," gumam Rejop sendiri.
Rejo segera berbalik arah. Berlari sekencang-kencangnya. Dia sampai di tempat semula, di kali. Lalu, rejo menyeberangi kali melalui batu-batu, dan terus berlari di jalan setapak seberang kali.
Namun, hingga nafas Rejo habis, tetap saja tak menemukan Syech Jumadil Kubro.
"Kalau di sini tak ada, berarti tak mungkin beliau melewati jalan ini. Lalu, lewat jalan mana?"
Rejo memutuskan untuk kembali ke sungai, sebab, di sungai banyak air untuk bersuci, kalau dia ingin melaksanakan salat.
Namun, ketika sampai lagi di sungai Karanganyar, Rejo tertegun.
Dia melihat Syech Jumadil Kubro duduk tafakkur di batu ceper.
"Kanjeng Syech, Panjenengan tadi ke mana?"vtanya Rejo memberanikan diri, sembari masih terengah-engah.
"Lho, ke mana? Aku tidak ke mana-mana? Ada apa?"
"Sehabis mandi, saya tidak melihat Panjenengan. Lalu, saya kejar ke arah jalan sana, tak ketemu. Dan saya balik ke sini lagi, Panjenengan juga belum ada, lalu saya kejar ke arah sebaliknya, juga tidak ada. Saya putuskan balik lagi ke sungai ini, tapi Panjenengan duduk di sini."
"Ngger... ngger... Aku tidak ke mana-mana. Sedari tadi aku duduk di sini, tak ke mana-mana. Aku wiridan. Memangnya engkau tidak melihatku?"
"Tidak."
"Benar?"
"Sungguh Kanjeng Syech, saya tidak melihat panjenengan. Buat apa saya berlari-lari ke sana-ke mari, kalau Panjenengan ada."
"Benar juga. Aku tak ke mana-mana. Juga buat apa aku pergi-pergi, dan mempermainkan kamu?"
Syech Jumadil Kubro sendiri juga heran, kenapa dia jadi tak kelihatan.
"Kanjeng Syech. Ilmu apa tadi, kok bisa menghilang seperti itu?"
"Lho, engkau tanya seperti itu, aku yang tak bisa menjawab. Lha wong aku ini tak mempunyai ilmu yang bisa untuk menghilang seperti itu. Angger, ada perbedaan ilmu yang sejati, dengan ilmu yang seakan-akan sejati. Ilmu yang seakan-akan sejati itu, biasanya meminta pertolongan kepada mahluk gaib, yaitu jin atau setan. Ilmu bisa menghilang dengan sengaja itu, umumnya dengan bantuan jin atau setan. Entah dia dipindah ke mana untuk sesaat, atau dia dirangkul jin sehingga tak kelihatan, atau penglihatan orang lain yang dipengaruhi jin sehingga seakan orang itu bisa menghilang. Padahal orang itu masih di tempat sama. Itu ilmu seakan-akan sejati."
__ADS_1
Rejo terdiam. Asyik mendengarkan.
"Kalau ilmu sejati, yaitu ilmu yang bertujuan untuk mencari keridlaan Allah swt. Aku berlindung kepada Allah swt, dari godaan ilmu setan atau jin. Memang menjaga keikhlasan itu sangat berat. Ketika berlatih ilmu, ujiannya sangat berat. Yang terberat dari ujian itu adalah rasa bangga, sombong, dan merasa hebat, atau memuji guru atau lawan kita hebat. Padahal, yang maha hebat hanyalah Allah swt."