
"Contohnya, menghilang itu tadi. Aku tak pernah balajar ilmu menghilang. Aku tak tahu, apakah aku ini digoda jin atau setan, ataukah berupa karomah dari Allah swt. Aku tak peduli, apa aku tadi benar-benar menghilang ataukah hanya digoda jin atau setan. Andai sekarang aku berfikir bahwa aku ini hebat, tentu akan menggerus keimanan yang selama ini kubangun, kupertahankan. Atau sebaliknya, sebenarnya setan atau jin yang menggodamu. Dia menutupi matamu, sehingga engkau tidak bisa melihat aku yang sedang duduk. Tujuannya, agar engkau memandangku dengan takjub, menguasai ilmu yang hebat. Jika itu yang terjadi, engkau kehilangan keimanan yang baru saja engkau pupuk dan bangun. Sungguh, berhati-hatilah dari godaan setan atau jin."
Rejo kaget..
"Angger, ingatlah. Semua yang berasal dari Allah swt itu sangat indah dan mudah. Tidak ada yang aneh dan tak masuk akal. Dalam sirah nabawi, atau sejarah nabi, saat itu beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah. Di perjalanan, nabi dan sahabat Abu Bakar beristirahat di dalam gua Tsur. Padahal kaum kafir mengejar beliau. Dan sampaikan kaum kafir itu di depan gua. Mereka hendak masuk untuk memeriksa. Tetapi, Allah swt memerintahkan kepada laba-laba untuk membangun sarang lebih lebar dan menutupi gua. Pikiran manusia, tak mungkin sarang laba-laba itu utuh jika diterobos manusia. Akhirnya, kaum kafir itu mengurungkan niatnya masuk gua. Itulah cara Allah swt menyelamatkan nabinya. Sebenarnya, sangat mudah bagi Allah swt yang Maha Berkuasa, untuk membuat sosok rasulnya tak kelihatan. Mengapa hal itu tidak dilakukan oleh Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu?
Karena memang Allah menyuruh kita untuk berfikir. Pertama, antara mahluk hidup satu dengan lainnya harus saling melindungi, saling menyayangi. Jangan sekali-kali membunuh mahluk hidup lain jika tidak hak. Kedua, Allah mengajarkan kepada kita, agar kita berfikir bahwa takdir Allah swt itu sangat indah, dan penuh berkah. Kalau hanya untuk menghilangkan seseorang dari pandangan orang lain, sangat mudah bagi Allah swt, tapi telah banyak orang kafir yang menghamba kepada setan melakukan ini. Mereka adalah dukun-dukun sihir, dan tempat mereka adalah neraka."
"Ini yang membedakan kita yang sedang menggali dan terus menggali ilmu, dengan para penghamba jin atau setan. Mereka sangat mudah untuk menjadi sakti, sedangkan kita, para umat Islam, tidak ada yang sakti. Kita hanya berserah kepada Allah swt. Jika Allah berkenan menyelamatkan kita, tentu dengan cara Allah swt. Coba engkau fikir, kalau memang Allah menjadikan orang itu sakti, tentu Rasulullah adalah sosok orang yang paling sakti. Nyatanya, Rasul adalah manusia biasa, yang kadang beliau kalah dalam perang, kadang beliau juga terluka, dan kadang beliau juga terkena sihir. Tapi, ingatlah, Allah selalu memberikan kemenangan kepada hambanya yang disayangi."
Rejo semakin tertarik menyimak.
"Ciri kemanangan berkat pertolongan Allah swt adalah, menang tanpo ngisorake. Menang tapi tidak merendahkan. Sejarah umat Islam, tak pernah menghancurkan sebuah negeri yang dikalahkan, karena negeri itu menantang perang. Islam melindungi lahan pertanian, Islam melindungi anak-anak dan para perempuan. Islam melindungi para penduduk tua renta. Islam melindungi orang yang telah menyerah. Islam menghormati para penganut agama lain."
Rejo takjub.
"Camkan dalam hatimu. Mungkin satu ketika engkau menjadi pendakwah, jangan sekali-kali dengan kekerasan. Karena Islam tak pernah dibangun dengan kekerasan. Islam dibangun dengan cinta kasih, dan penghormatan. Ini menandakan Islam memang agama terhormat."
"Nak. Mungkin satu ketika engkau ditakdirkan Allah swt akan berjumpa dengan keponakanku. Rahmad. Usianya saat ini masih jauh lebih muda darimu. Bantu dia, atau dia yang akan membantu kamu. Semoga Allah mempertemukan kalian, menjadi satu kekuatan pendakwah Islam."
"Nak, bersiaplah. Ayo kita pergi."
Rejo sangat antusias. Dia memang tak membawa apa-apa, kecuali satu buntalan kecil saja.
Hari itu juga, mereka beranjak. Tujuannya, ke arah barat.
Sepanjang hari itu, Rejo dibuat heran.
Ternyata, sosok Syech Jumadil Kubro, yang semula dianggap sangat hebat dan sakti itu, ternyata sangat jauh berbeda dari bayangan Rejo.
Karena usianya sudah tua, untuk jalan pun tertatih-tatih. Bahkan, ketika melewati jalanan licin, Syech Jumadil Kubro kerap terpeleset. Untuk melompati lubang selebar dua depa saja, beliau tak mampu. Beliau memilih jalan memutar.
Seharian Rejo tak menemukan hal-hal yang sakti. Semua berjalan wajar sebagaimana manusia biasa.
Yang membedakan, mulut Syech Jumadil Kubro selalu komat-kamit membaca dzikir, dan tangannya memutar tasbih. Rejo tak berani mengajak berbicara. Dia hanya terdiam mengikuti langkah tertatih Syech Jumadil Kubro.
Jarak tempuh mereka sangat lamban. Langkah Syech Jumadil Kubro tertatih karena dimakan usia.
"Kanjeng Syech, bolehkah saya menuntun Kanjeng Syech?" kata Rejo memberanikan diri, begitu dia melihat mulut Syech Jumadil Kubro tidak komat-kamit.
"Buat apa? Bukankah saya tak mau engkau tolong saat terpeleset tadi? Ini adalah sunnatullah. Saya yang sudah tua, tentu tertatih, sedangkan engkau yang masih muda, tentu bisa berjalan lebih cepat. Lebih baik kita menikmati apapun pemberian Allah swt kepada kita, dengan rasa syukur dan ikhlas. Nak. Coba lihatlah aku, benarkah aku ini sakti? Buat berjalan saja tertatih. Nak, tidak sedikit jin atau setan yang ingin membantuku. Mereka akan menggendongku, untuk dibawa ke tempat tujuan dengan waktu yang sangat cepat. Tapi untuk apa?"
Rejo bingung.
"Bukankah jin itu ikhlas membantu Kanjeng Syech?" tanya Rejo.
"Memang benar, mereka ikhlas membantuku. Tapi, orang lain yang melihat bagaimana? Tentu orang itu akan menganggap aku ini sangat sakti. Jadinya, orang itu lebih takut kepadaku daripada kepada Allah. Bukankah bisa menjadi pemicu kemusyrikan atau kesyirikan orang lain?"
Rejo terkesiap.
"Ilmu sejatinya ilmu, adalah ilmu keikhlasan atas pemberian Allah swt. Satu waktu nanti, aku, kamu, atau semua mahluk ciptakan Allah, akan merasakan mati. Mari kita terima itu dengan keikhlasan juga."
Rejo seakan memperoleh hidup baru. Dia selama ini tak pernah mendapatkan pitutur yang begitu menyejukkan. Sebelumnya, yang dia dapat dari gurunya di Gunung Tidar, adalah menjadi jawara terhebat di tanah Jawa. Mengalahkan semua pendekar dan orang sakti di Tanah Jawa.
"Kanjeng Syech. Benarkah mati itu menjadi akhir kehidupan manusia di dunia. Apakah orang yang mati itu tidak balik lagi ke dunia, dalam bentuk mahluk lain. Kalau dia baik, dia nitis menjadi manusia atau menjadi hewan yang baik dan perkasa, dan kalau buruk maka menjadi hewan buas," ujar Rejo, mencoba mengingat kembali pelajaran Resi.
"Nak, tentu tiap agama mempunyai keyakinan masing-masing. Di dalam agama Islam, hidup di dunia adalah ujian untuk meraih hidup selamanya sesudah mati. Akhir dari manusia itu, kalau tidak di surga ya di neraka. Jadi, mati adalah pembatas nafas. Ketika manusia mati, maka, di situ adalah batas dia menggunakan napasnya. Tetapi, ruhnya tetap hidup. Bahkan, dikembalikan ke jasadnya di kuburan. Dan, di kuburan, manusia akan menhadapi ujian pertama, yaitu pertanyaan kubur. Dua malaikat akan menguji si mayit. Jika selama di dunia dia berbuat baik dan beragama Islam, maka tentu dia bisa menjawab pertanyaan kubur. Jika dia berbuat jelek tapi dia beragama Islam, juga akan melalui pertanyaan kubur, jika tidak bisa menjawab, dia akan disiksa hingga datangnya hari kiamat. Tetapi, apapun perbuatannya, baik atau jahat jika dia bukan Islam maka langsung mendapat siksa di alam kubur tanpa ditanya malaikat. Begitu nak," tutur Syech Jumadil Kubro sembari terengah-engah.
"Kanjeng Syech, apa saja yang ditanya di alam kubur?"
"Semua perbuatanmu di dunia. Memang diawali dengan lima pertanyaan pokok, yaitu siapa tuhanmu, siapa nabimu, apa agamamu, apa kitabmu, siapa saudaramu. Jika berhasil menjawab lima pertanyaan pokok ini, akan ditanya, bagaimana mendidik anak, bagaimana mendidik istri, bagaimana sikap kepada tetangga, bagaimana cara mencari rezeki, dan banyak lagi pertanyaan lain."
"Adakah yang tidak ditanya di kubur?"
"Ada Nak. Yaitu para waliyullah yang selama hidupnya tanpa rasa takut kepada apapun. Dia hanya takut kepada Allah swt saja."
"Apakah Kanjeng Syech juga wali?" tanya Rejo, kian tajam.
"Ha ha ha, engkau ini bisa saja. Kebanyakan sosok wali itu, yang tahu hanya Allah swt saja. Biasanya, ketahuan sosok itu adalah wali setelah setelah meninggal dunia. Sang wali akan selalu dikenang kebaikannya. Mungkin, pada waktunya nanti, akan ada di tanah Jawa ini orang-orang yang menyebut dirinya wali, atau bangga disebut bahwa dirinya adalah wali. Maka, itu perlu dipertanyakan. Lihat dulu bagaimana perbuatannya, bagaimana amal ibadahnya, bagaimana hubungan dia dengan manusia lainnya, bagaimana hubungan dia dengan alam sekitarnya," kata dia.
"Bagaimana upaya menjadi wali?"
"Apa engkau ingin menjadi wali?"
Rejo terdiam, dan menunduk sambil berjalan.
"Tidak bisa, Nak. Wali itu pilihan Allah swt. Jadi, hanya Allah yang tahu."
"Apa wali itu pasti sakti?"
Syech Jumadil Kubro menjawab singkat. "Apa Rasulullah juga orang paling sakti di dunia?"
Tentu saja Rejo tak bisa menjawabnya, karena dia memang belum mengetahui sirah nabawi.
"Nak. Rasulullah adalah sosok yang paling dikasihi Allah swt. Tetapi, beliau adalah orang biasa. Rasul juga pernah disihir atau diteluh dukun Yahudi. Sosok yang paling dikasihi Allah ini sakit hingga beberapa hari. Barulah ketahuan Rasul sakit setelah malaikat memberi tahu bahwa beliau disihir atau diteluh oleh dukun Yahudi. Coba bayangkan dengan sosok wali, yang jelas-jelas derajatnya di bawah Rasul."
Rejo diam. Berfikir keras.
"Jadi, kesaktian seseorang itu tidak mengukur derajat orang itu di hadapan Allah swt. Semua terserah Allah swt."
"Nak. Akan muncul orang-orang sakti di sekelilingmu nanti. Itu untuk urusan duniawi belaka. Jika dia menjadikan kesaktiannya itu untuk beribadah, maka bernilai ibadah. Jika tidak, ya tentu saja dia hanya mendapatkan pujian di dunia, tetapi di akhirat nanti dia akan merugi. Untuk itu, sangat penting untuk menjadi orang baik daripada orang sakti. Kalau engkau mendengar saya mempunyai kesaktian yang macam-macam, engkau bisa lihat sendiri bagaimana saya saat ini. Benarkah saya orang sakti?"
Rejo terdiam.
"Kadang sosok wali itu dibukakan tabir oleh Allah swt, tapi dia tak mudah untuk cerita macam-macam. Dia jadikan pengetahuan itu untuk introspeksi dirinya sendiri, untuk kian mendekat kepada Allah swt. Kadang, wali Allah itu diselamatkan oleh Allah dengan cara Ilahiah, yang sangat sulit dinalar. Itu bukanlah sebuah kesaktian. Misalnya, sosok wali tak segera beranjak dari tempat duduknya hingga berhari-hari untuk berzikir kepada Allah, eh ternyata, di jalanan sedang terjadi gempa. Jadi, wali itu selamat dari musibah gempa. Orang melihat itu sebuah kesaktian, tapi sebenarnya tidak. Itu adalah pertolongan dari Allah, atau maunah."
Rejo, yang pengetahuan keislamannya masih dangkal, tentu saja sangat menikmati pitutur Syech Jumadil Kubro. Meski, ada beberapa di antaranya, Rejo tak paham samasekali.
Sebenarnya, bukan tanpa alasan Syech Jumadil Kubro memberi pelajaran tentang Islam yang langsung menusuk ke nilai-nilai sufi kepada Rejo. Syech Jumadil Kubro melihat bakat luar biasa ada pada diri Rejo.
Apalagi ada tanda-tanda yang sangat gamblang. Pertama, Syech Subakir sampai-sampai memutuskan meninggalkan pedang bengkoknya, Syech Belabelu juga memberi kesan. Kini giliran Syech Jumadil Kubro yang memberikan pelajaran tentang Islam.
"Tidak mungkin rasanya saya bisa bertemu dengan Rejo, yang sebelumnya sudah bertemu dengan Syech Belabelu dan Syech Subakir. Ini memang takdir Allah swt, bahwa anak ini memang pilihan. Insya Allah anak ini menjadi salah satu penerus perjuangan kami, untuk syiar Islam di tanah Jawa ini, di kerajaan yang pernah disegani, Mojopahit. Mungkin, pada masanya nanti, saat Mojopahit bisa menemukan kembali kejayaan atau malahan sebaliknya, Mojopahit hancur, anak ini muncul sebagai pendakwah yang tangguh, semoga," gumam Syech Jumadil Kubro, sembari melirik ke arah Rejo.
Rejo yang ilmu kanoragannya terkunci, tentu tak tahu kalau sedang ditelisik Syech Jumadil Kubro. Dia asyik saja berjalan di samping sang Syech.
Sepanjang perjalanan, mereka selalu salat berjamaah. Kadang Rejo masih merasakan muncul panas di tulang ekornya, akibat reaksi ilmu Hindu yang dikuasainya.
"Rejo, kita sudah berhari-hari berjalan bersama, salat berjamaah, tapi kita belum pernah mendirikan salat Jumat, karena hanya kita berdua saja. Saya ajak engkau ke desa Jurangjero, di situ tinggal satu santri saya. Insya Allah, di situ, kita bisa mendirikan salat Jumat," ajak Syech Jumadil Kubro.
Syech Jumadil Kubro mengajak mendaki beberapa gunung kecil hingga di puncaknya.
foto: merajawisata.wordpress.com
"Lihatlah ke bawah sana itu. Itulah Desa Jurang Jero, di situ tinggal santri saya, namanya Donosari. Dia juga berasal dari Mataram, seperti dirimu. Saya tugaskan untuk menyiarkan Islam di Jurang Jero ini, karena desa ini merupakan salahsatu pancer tanah Jawa bagian tengah."
"Nak, ketahuilah, saya dan kalangan walisanga, julukan para Resi kepada kami, yang bersembilan orang ingin siar Islam di tanah Jawa, saya ditugaskan untuk membuat pathok-pathok wilayah, membuat pancer, membuat tetenger, atau semacam prasasti di agama Hindu, saya menempatkan satu pancer saya di Desa Jurang Jero ini, karena letaknya yang memang sangat unik dan tersembunyi."
Rejo mulai terengah-engah.
"Bukankah engkau pernah tinggal di Gunung Tidar?"
Rejo mengangguk.
"Saya juga menempatkan satu pancer di gunung tidar itu, sebagai pemersatu wilayah timur, tengah dan barat pulau Jawa ini.
Pancer di Gunung Tidar itu, akhirnya tertutup oleh kesaktian Resi Swadaraya, gurumu yang bengis itu. Kadang Kakang Syech Subakir yang melihat dan memeriksa pancer yang saya pasang itu, apakah masih kuat dan kokoh ataukah sudah lapuk."
"Kanjeng Syech, rupa dari pancer itu apa sih?"
"Doa, dan rajah di kain putih, dan aku pendam di tempat-tempat yang sekiranya bisa menjadi titik-titik pertahanan, jika terjadi serangan atau bencana."
"Berapa pancer yang Panjenengan pasang di tanah Jawa ini?"
"Banyak Nak. Pancer-pancer yang saya pasang, bertujuan untuk menjaga, memagari, mendoakan, agar tanah-tanah itu diberi Allah swt keberkahan. Saya membayangkan, satu ketika nanti, Islam akan jaya di tanah Jawa ini, dan pancer-pancer itulah, yang menjadi prasasti. Tentunya, bagi orang yang mempunyai tata krama dan akhlaqul karimah, tentu pancer-pancer yang saya pasang nanti, dihormati, setidaknya, tidak dirusak."
"Memang, tiap orang mempunyai kesan yang berbeda-beda dari pancer yang saya tanam, ada yang melihat seperti macan putih, ada yang melihat seperti ular besar, ada yang melihat seperti elang putih. Macam-macam. Itu hanya bayangan orang-orang itu saja, tak lebih."
"Apa membuat pancer itu tidak dosa, Kanjeng Syech?"
"Hmm, pinter juga kamu Nak. Ketahuilah, setiap huruf hijaiyah itu ada malaikat yang menjaga. Pancer yang saya bangun, selalu didasarkan kepada huruf-huruf hijaiyah. Karena ini tanah Jawa, tentu saya tak meninggalkan huruf-huruf sansekerta. Ini perpaduan, dan ini tidak syirik. Sebab, Allah itu adalah tuhannya seluruh mahluk di dunia. Bukan hanya untuk orang arab saja. Kita di tanah Jawa ini juga mempunyai tuhan yang sama, yaitu Allah swt. Allah maha adil. Memang, Allah menjadikan huruf dan bahasa Arab, agar kita mudah memelajarinya. Bukan berarti huruf-huruf dan bahasa selain Arab tidak diperhatikan Allah. Sungguh Nak, Allah Maha Perhatian kepada mahluknya."
__ADS_1
Rejo diam, dan dia konsentrasi menuruni bukit. Dia juga berjaga-jaga, seandainya Syech Jumadil Kubro yang sudah sepuh ini, terjatuh.
"Nak, biasanya, ketika saya menanam pancer, dan jika kebetulan saat itu saya mempunyai murid atau santri yang sudah bisa saya lepas untuk berjuang, akan saya suruh untuk menjaga pancer. Caranya, bukan setiap hari harus menyapu, atau selalu memeriksa apakah pendaman pancer itu masih ada atau tidak, tetapi, dengan cara menyiarkan agama Islam di wilayah sekitar pancer itu."
Rejo dan Syech Jumadil Kubro, semakin mendekati desa.
"Untuk pancer saya di desa Jurang Jero ini, saya percayakan kepada Donosari. Dia orang Mataram sepertimu. Oleh orang tuanya, Suryadiningrat, dua anaknya dititipkan kepada saya, untuk diberi wawasan tentang Islam. Adik Donosari bernama Suryanagoro. Padahal, mereka berdua masih Hindu, dan sangat jarang yang beragama Islam. Saya katakan kepada Suryadiningrat bahwa Islam adalah ilmu tentang tata krama. Dua anaknya ini cukup bandel, makanya, dititipkan ke saya agar diajarkan tentang tata krama."
"Setelah mengikuti saya, seperti kamu saat ini, akhirnya mereka berdua baru mengerti bawha Islam bukan hanya sekedar ilmu tentang tata krama, tapi agama, seperti halnya Hindu, yang saat itu mereka anut. Mereka berdua akhirnya bersyahadat, dan kian serius belajar agama Islam."
"Setelah pelajarannya sudah cukup. Saya suruh Suryanagara pulang ke Mataram untuk menyiarkan agama baru ini. Suryanagara ini sangat menguasai ilmu kesusastraan, ilmu mengatur negara. Jadi, saya suruh dia pulang ke Mataram. Apa engkau pernah mendengar tentang agama Islam saat di Mataram?"
"Tidak Kanjeng Syech. Sebagai putra adipati, pendidikan saya sangat terjaga di lingkungan Istana. Bisa jadi yang Kanjeng Syech ceritakan itu di tingkat kawedananan, jadi saya tak pernah mendengar tentang Islam."
"Hmm begitu. Nak, kakaknya, yang sebenarnya sangat berbakat pada ilmu kewaskitaan dan ilmu kedigdayaan, saya suruh berdiam di desa Jurang Jero ini, untuk menjaga pancer yang saya tanam. Dia harus melaksanakan syiar Islam di Jurang Jero ini. Sebentar lagi kita akan bertemu dia. Saya sendiri, belum pernah bertemu sejak saya tinggal sendiri di sini. Semoga dia berhasil mengajak penduduk di Desa Jurang Jero ini untuk memeluk agama Islam."
"Kamu tahu, apa yang terjadi kemudian antara kakak dan adik ini?"
"Begitu tahu bahwa Islam adalah agama, dan dua anaknya lebih memilih Islam daripada Hindu, Suryadiningrat murka. Dia memaksa Suryanagara untuk kembali memeluk Hindu, tapi paksaan sang ayah ini tak digubris. Dan ayahnya tak tega menjebloskan anak sendiri ke penjara atau dibunuh. Jadi dibiarkan saja. Hanya saja, pihak kerajaan memunculkan fitnah bahwa, antara Suryanagara dan Donosari terjadi pertengkaran. Ini sangat wajar, karena awalnya mereka berangkat bersama saya berdua, sedangkan saat pulang, kok hanya Suryanagara."
Rejo mengajak mengaso barang sejenak. Tetapi, Syech Jumadil Kubro mengajak terus berjalan, karena sudah mendekati desa Jurang Jero.
"Padahal, keduanya mengemban tugas yang berbeda-beda dari saya. Bahkan, kabarnya, hingga sekarang pun keduanya kerap difitnah."
Akhirnya mereka berdua sampai juga di desa Jurang Jero.
Syech Jumadil Kubro mulai asyik mengamati apa pun yang ada di desa ini. Begitu berpapasan dengan warga desa, Syech Jumadil Kubro selalu menanyakan, di mana rumah Donosari.
Semua menunjuk ke arah gua kecil di pinggiran desa.
"Kenapa Donosari tinggal di gua? Padahal pancer saya tanam di tengah desa? Saya dulu juga telah mengenalkan Islam kepada penduduk desa sini. Donosari saya tugaskan untuk melanjutkan, dan berusaha mengislamkan semakin banyak orang."
"Nak, ayo kita ke gua itu. Dan, jika engkau lihat di desa ini, kan kebanyakan masih terlihat persembayangan Hindu. Saya tak menemukan tempat ibadah di sini. Ada apa ini?"
Syech Jumadil Kubro mengajak Rejo ke gua kecil.
"Assalamualaikum," teriak Syech Jumadil Kubro.
Dada Rejo bergetar, sebab teriakan itu, tentu disertai tenaga dalam tataran sempurna.
Rejo hanya berani melirik ke arah Syech Jumadil Kubro. Otak cerdas Rejo menimbang, Kanjeng Syech Jumadil Kubro tentu dalam kondisi tidak biasa. Entah marah, kecewa atau menantang.
Dari cerita Kanjeng Syech Jumadil Kubro, rejo tahu bahwa Donosari lebih berbakat kepada kanoragan daripada ilmu pemerintahan. Bagi Rejo, wajar jika Donosari lebih memilih tinggal di gua untuk bertapa, daripada bertemu orang-orang untuk syiar Islam.
Karena tak terdengar jawaban dari dalam gua kecil ini, Syech Jumadil Kubro berteriak kedua kalinya.
"Assalamualaikum. Yang datang ini adalah orang tua renta."
Tetap tak terdengar jawaban. Syech Jumadil Kubro berteriak ketiga kalinya.
"Assalamualaikum. Yang datang ini orang tua renta yang minta pertanggungjawaban."
Tetap saja tak muncul jawaban dari dalam gua.
"Nak, tunggu di sini. Saya akan masuk ke dalam gua."
Tertatih-tatih Syech Jumadil Kubro memasuki gua.
Dilihat sekeliling gua sempit, dan tak dalam itu. Tak ada siapa-siapa.
Sebenarnya, tak pantas disebut gua, karena tidak ada cekungan samasekali, tapi hanya tonjolan batu, yang bagian ceruknya bisa untuk berteduh. Itu saja.
Karena tak menemukan siapapun, barulah Syech Jumadil Kubro menyadari, bahwa ada yang aneh di gua kecil ini.
Syech Jumadil Kubro duduk bersila, memenangkan diri, dan memejamkan mata.
Dua mencoba menelisik keberadaan Donosari, yang katanya ada di sini.
Benar! Syech Jumadil Kubro merasakan adanya Donosari di sekitaran gua, tapi dia tak menemukan siapapun.
Kian lama tenggelam dalam zikir, barulah disadari bahwa posisi Donosari memang sedang bertapa. Hanya saja, entah bagaimana ceritanya, tubuhnya tergulung batu kapur.
"Nak, segera kesini. Bantu saya memecah dinding kapur ini, tapi hati-hati, di dalam dinding gua ini ada Donosari yang masih hidup."
Perlahan Syech Jumadil Kubro dan Rejo mengeruk sedikit demi sedikit dinding batu kapur itu.
Rejo merasakan ada degup jantung, meski lemah. Rejo juga merasakan ada embusan nafas dari hidungnya, tanda dia masih bernapas.
Perlahan, Syech Jumadil Kubro melantunkan adzan di telinga kanan, disambung iqomah di telinga kiri.
Perlahan, mata sang pertapa terbuka.
Tak lama, dia ambruk.
Rejo segera membopongnya ke tempat datar.
Rejo menyuapkan air ke mulut sang pertapa. Diteguk perlahan-lahan.
Mata sang pertapa melihat ke arah Syech Jumadil Kubro, tapi dia belum bisa berbicara. Hanya mulutnya bergerak-gerak tapi tak mengeluarkan suara.
Butuh dua hari merawat sang pertapa, hingga dia bisa mandiri, dan berbicara normal lagi.
"Donosari. Ceritakan kepada saya, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Ampun Kanjeng Guru, saya mengecewakan guru. Andai tidak ada guru, tentu saya akan mati dan terkubur selamanya di dinding gua itu."
"Bukankah saya tugaskan engkau untuk syiar Islam di Jurang Jero?"
"Benar Kanjeng Guru, saya memang menjalankan perintah syiar Islam di Desa Jurang Jero, tapi wilayah ini cukup wingit. Agaknya mahluk gaib tak terima, dan setiap malam saya selalu dihantam. Untuk itu, saya lebih baik menangani yang wingit dulu. Karena ilmu saya masih kalah hebat, karenanya saya bertapa di gua, tempat tinggal saya. Saat bertapa itu, para mahluk halus itu meruntuhkan pintu gua, dan mengalirkan lumpur. Namun, saya berusaha tak putus harapan dari rahmad Allah swt. Saya terus melaksanakan perintah salat, berzikir, hingga saya benar-benar tak bisa bergerak samasekali. Untuk itu, saya pasrah kepada Allah swt. Sekiranya Allah menakdirkan saya tetap hidup, maka akan ada yang menolong saya. Ternyata Kanjeng Guru yang menolong saya, alhamdulillah."
"Bagaimana dengan salatmu, selama ini?" tanya Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
"Alhamdulillah Kanjeng Guru, saya masih bisa melaksanakan salat, meski seluruh tubuh saya terkubur lumpur dan tak bisa bergerak samasekali. Yaitu salat melalui isyarat hati, dan membaca dalam hati, karena, mulut saya tak bisa digerakkan samasekali."
Syech Jumadil Kubro tersenyum.
"Alhamdulillah, selama saya terkubur, seakan ada yang memberitahu kepada saya, kapan waktu salat wajib tiba. Saya juga diberi Allah pendengaran yang cukup kuat. Jadi, waktu Kanjeng Guru mengucapkan salam, sebenarnya, dalam hati saya sudah membalas salam Kanjeng Guru."
Syech Jumadil Kubro menepuk dua pundak Donosari.
"Lebih baik kita istirahat dulu, lalu kita cari mahluk halus yang ingin menyelakakan kamu itu."
Dan mereka bertiga akhirnya beristirahat di gua, yang jadi tempat tinggal Donosari.
Seminggu setelah istirahat, barulah Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengajak Rejo dan Donosari mencari mahluk halus yang jahat itu.
Mereka bertiga menyusuri jalan-jalan desa, dan memasuki hutan. Di sebuah pohon besar, Syech Jumadil Kubro mengajak berhenti. Dia memandangi dengan tatapan tajam ke arah pohon besar itu.
"Kamu yang tinggal di pohon. Keluarlah!" teriak Syech Jumadil Kubro.
Teriakan ini mengagetkan Rejo. Andai ilmu Rejo tak terkunci di tulang ekornya, tentu dia sudah tahu mahluk halus yang yang tinggal di pohon besar itu.
Bau wangi merebak.
"Engkau jangan bohongi saya! Tak usah pakai bau-bauan. Keluarlah dengan baumu yang asli!" teriak Syech Jumadil Kubro, sambil memukulkan tongkatnya ke pohon besar itu.
Bau wangi menghilang.
Perlahan, dari balik pohon muncul sosok tua, kurus, hitam legam, rambut panjang nggimbal awut-awutan. Tertatih dia berjalan mendekati mereka bertiga.
Rejo dan Donosari tertegun.
Rejo tak tahu harus berbuat apa.
Donosari segera membuka kuda-kuda.
"Engkau masih membohongi saya. Dasar mahluk jahat! Tunjukkan bentuk aslimu!" hardik Syech Jumadil Kubro.
Secara tiba-tiba sosok kurus itu, berubah menjadi sosok hitam legam raksasa berbulu sangat lebat.
"Hhm, jadi kamu yang mengacak-acak Desa Jurang Jero ini. Engkau harus cerita apa adanya. Kalau tidak, engkau harus menghadapi aku!"
Sosok bertubuh lebat yang ternyata genderuwo ini, wajahnya agak ketakutan.
__ADS_1
"Engkau harus cerita!"
Sang genderuwo diam.
"Kalau engkau tak mau cerita, aku lempar engkau ke laut selatan!"
"Anu......."
Suaranya menggelegar memenuhi seisi gendang telinga.
"Tak usah pamer ilmu!"
"Anu..... aku tak berniat mengganggu atau mengacak-acak."
"Lalu, kenapa sampai Donosari tak bisa menyiarkan Islam di Jurang Jero ini, karena engkau halang-halangi terus."
"Begini, Kanjeng............."
"Panggil saya Jumadil Kubro!"
"Begini Kanjeng Jumadil Kubro, kenapa aku tak rela orang itu menyiarkan agama Islam di sini, karena itu akan menghapus kepercayaan dan kebiasaan penduduk desa untuk memasang sesaji di pohon, batu, atau tempat-tempat wingit. Padahal, aroma kembang adalah makanan kami, para mahluk halus. Kami biasanya dimanjakan oleh manusia-manusia yang menyembah pohon dan batu. Dengan adanya Islam, maka kami tak akan dapat makanan gratisan lagi. Untuk itu, aku menghalang-halangi orang itu menyebarkan Islam."
"Oh begitu....."
"Enggih Kanjeng Jumadil Kubro."
"Apa engkau masih menghalangi lagi, setelah kita bertemu?"
"Tidak berani, Kanjeng Jumadil Kubro."
"Daripada mengganggu manusia seperti itu, lebih baik engkau bekerja, atau menjadi murid dari Donosari, untuk diajak memeluk Islam secara benar."
"Anu, Kanjeng Jumadil Kubro. Tidak, lebih baik aku seperti ini saja."
"Tapi, engkau jangan mengganggu lagi. Kalau mengganggu, urusannya dengan saya!"
"Baik, Kanjeng Jumadil Kubro."
"Untuk selamanya."
"Untuk selamanya, Kanjeng Jumadil Kubro."
"Baiklah kalau begitu. Engkau juga jangan pengutak-atik panjer yang saya tanam di desa ini."
"Baik, Kanjeng Jumadil Kubro. Hanya saja, siapa yang memberi makan kepadaku, dan teman-teman sebangsaku? Bukankah selama ini, aku dan teman-teman bisa makan sepuasnya, dari bunga-bunga sesajen yang penduduk desa taruh di tempat wingit?"
Syech Jumadil Kubro terdiam.
Dia melirik ke arah Donosari dan Rejo.
"Mungkin ada baiknya Rejo diberi pelajaran, bagaimana perjuangan dalam syiar Islam itu," fikir Syech Jumadil Kubro.
"Hmmm. Baiklah. Lebih baik kita tidak saling mengganggu. Gagaimana kalau bersaing sehat. Donosari akan menyiarkan agama Islam di Desa Jurang Jero ini, tapi engkau boleh menjelma menjadi manusia, terserah mau mamakai rupa seperti apa, untuk mengajak warga desa tetap mempertahankan agama lama?"
Sang genderuwo terdiam sejenak.
"Memang adanya aku di dunia ini, untuk mengganggu manusia. Baik. Aku setuju. Aku akan menjelma menjadi apapun sesukaku."
"Baik. Tapi ingat, kalau engkau mengganggu Donosari dalam syiar Islam, engkau akan berhadapan dengan saya. Ingat itu."
"Baik. Kita sepakat."
Gondoruwo itu menghilang.
Rejo menghela napas panjang. Ternyata, saat dialog antara Syech Jumadil Kubro dan gondoruwo itu, Rejo tak berani bernapas.
Kalaupun bernapas, sungguh sangat hati-hati.
"Donosari dan Rejo, ayo kita kembali ke desa."
Sepanjang jalan, memang belum tampak suasana Islam. Banyak kemenyan dibakar, banyak kembang-kembang sesajen di pohon-pohon.
"Donosari, silakan engkau berdakwah. Ajak warga desa untuk memeluk agama Islam. Saya tak akan beranjak, kalau engkau tak berhasil mengajak sedikitnya 40 orang pria dari penduduk desa ini memeluk agama Islam. Dengan begitu, kita bisa mendirikan salat Jumat," perintah Syech Jumadil Kubro.
"Baik, Kanjeng guru."
Mereka akhirnya memutuskan pindah tempat tinggal, yang awalnya di gua ke tengah desa. Mereka membangun rumah sederhana, tanpa kamar dan terbuka. Hanya cukup untuk berteduh saja.
"Dengan begini, siapapun bisa datang ke sini untuk berbicara tentang Islam. Baiklah, Donosari, silakan engkau mulai melakukan dakwah, dan saya tinggal di sini. Rejo, silakan ikut Donosari, pelajari, bagaimana mengajak warga desa memeluk agama Islam," tutur Syech Jumadil Kubro.
Donosari dan Rejo mulai mengemban tugas yang sangat berat. Yaitu, mengajak warga kampung Jurang Jero untuk memeluk agama Islam. Di manapun ada warga kampung, selalu didatangi Donosari dan Rejo. Rejo yang masih remaja, hanya melihat, mendengar dan menyimak apa yang disampaikan Donosari kepada warga kampung. Sebab, Rejo sendiri adalah mualaf, dengan pengetahuan agama Islam yang masih dangkal.
Syech Jumadil Kubro sendiri, kadang berjalan tertatih ke luar kampung, atau berdzikir di seantero penjuru kampung. Kebanyakan tetap tinggal di gubuk terbuka itu, dan melaksanakan salat.
Acap penduduk kampung berhenti agak lama, melihat Kanjeng Syech Jumadil Kubro salat. Bagi penduduk kampung, hal ini cukup aneh. Ada beberapa orang yang memberanikan diri bertanya.
"Ini namanya salat. Yaitu menyembah kepada Allah swt. Bukankah kisanak sudah mendengar dari Donosari?"
"Benar, Mbah. Jadi, ini praktik dari agama baru itu? Tak pakai kemenyan atau kembang?" tanya satu penduduk desa.
"Pakai kemenyan lebih baik, karena Allah sangat menyukai kebersihan dan harum. Tapi, tidak pakai tak apa-apa. Karena inti dari ibadah adalah pasrah kepada Allah swt," kata Syech Jumadil Kubro.
Ketika asyik bercengkrama ini, dari kejauhan, terlihat sosok tua berbaju putih yang sangat bersih, dengan udeng juga putih. Sosok ini berjenggot putih sangat panjang. Sosok tertatih ini mulai mendekati gubuk.
"Hai penduduk kampung. Kenapa kalian percaya kepada orang yang tidak kalian kenal dan ingin merubah agama kalian, juga dianut bapak-bapak dan kakek-kakek kalian," kata si tua tertatih, di dekat gubuk.
Penduduk kampung yang sedang berbicara dengan Syech Jumadil Kubro ini, kaget, dan langsung menoleh.
"Oh Resi. Ini lho, saya sedang bertanya kepada si mbah ini."
Syech Jumadil Kubro tersenyum. "Ini tentu gondoruwo yang menjelma menjadi resi."
Syech Jumadil Kubro diam. Memberi kesempatan kepada si resi gadungan ini untuk berbicara.
"Ayo ikut aku saja," ajak si Resi kepada satu penduduk kampung.
"Resi ini siapa ya? Saya kok tidak pernah bertemu di kampung."
"Aku ini sudah lama tinggal di sini, tapi aku tak kelihatan. Itu karena ilmuku yang tinggi. Engkau kalau mau, nanti aku ajari. Kenalkan, namaku resi Narada."
"Hah..., panjenengan Betahara Narada?" tanya si penduduk kampung, langsung bersimpuh dan menangkupkan tangan, menyembah.
Si Resi melirik ke arah Syech Jumadil Kubro sambil tersenyum.
"Silakan," tutur Syech Jumadil Kubro, sembil memberi isyarat tangan.
"Ayo ikut aku, nak!" ajak si resi, sambil memegang pundak penduduk kampung itu.
Yang dipegang pundaknya menurut saja diajak pergi.
"Ya Allah, berilah hidayah kepada penduduk kampung ini, dan mudahkanlah hati mereka menerima kebenaran Islam," doa Syech Jumadil Kubro, sambil melihat sang resi dan satu penduduk itu berjalan beriringan menjauh.
Tak lama, terlihat sosok Donosari beriringan dengan Rejo, berjalan mendekat.
"Donosari, apa yang engkau lakukan pada hari ini?"
"Kami berjumpa dengan orang-orang kampung, bertamu, dan berbincang di gubuk. Saya bercerita tentang Islam," kata Donosari.
Rejo diam. Menyimak.
"Ketahuilah, baru saja ada sosok resi datang saat ada warga kampung menanyakan tentang Islam. Dan warga kampung itu memilih untuk pergi bersama resi itu. Tahukah engkau, siapa resi itu?"
"Benarkah dia genderuwo yang bertemu dengan kita itu?"
"Benar."
"Dan jika engkau mengenalkan Islam dengan kata-kata, apa sudah pas?"
"Saya tidak tahu, kanjeng Guru."
"Bagaimana kata-kata bisa mengikis kebiasaan lama yang telah mengakar turun temurun? Menurutmu, apa bisa?"
Donosari diam berpikir.
__ADS_1
Rejo, kian bersemangat mendengarkan.
"Sebenarnya, jawabnya sangat mudah. Tentu sangat sulit, atau bahkan nyaris tidak mungkin."