BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode4b: Bersahabat dengan Macan


__ADS_3

“Kalau engkau sendiri tak tahu apa yang akan engkau pelajari, bagaimana aku akan mengajarimu?”


Rejo tetap tak berani berbicara.


“Baiklah, mungkin engkau sendiri juga bingung untuk mempelajari ilmu apa.”


Rejo tetap diam.


Dia hanya tak tahu harus berkata apa. Sebab, sebenarnya Syech Belabelu sudah tahu bahwa dia disuruh untuk mempelajari ilmu macan putih. Sebab, penerus kerajaan Padjajaran menguasai ilmu macan.


“Hmm. Aku tahu, engkau ke sini, sebenarnya ingin memelajari tentang ilmu macan putih. Benar kan?”


Rejo mengangguk pelan.


“Kalau begitu, bawakan satu harimau ke sini.”


Rejo agak kaget atas pemintaan aneh ini.


“Hanya saja, engkau dilarang membunuhnya, dilarang melukainya. Entah bagaimana caramu agar harimau itu bisa kamu bawa ke sini, tanpa melukainya. Silakan pergi ke hutan sana. Bawa satu harimau ke sini.”


Rejo tak berani membantah.


Dia menjura hormat, lalu mencium tangan sang guru.


Dia berlalu.


“Ya Allah, bagaimana caranya saya bisa mengajak harimau ke sini? Bukankah itu hewan buas, dan bisa-bisa dia akan menerkam saya. Daripada saya diterkam, tentu saya akan melawan. Dan jika saya melawan, tentu harimau itu terluka atau mati, itupun kalau tidak, saya yang mati duluan.”


Terdengar suara terkekeh dari arah gubuk.


Rejo berjalan menuju hutan, dengan sesekali melihat dengan pandangan sejauh-jauhnya, siapa tahu dia bisa menemukan harimau.


Jauh masuk ke dalam hutan, Rejo tak menemukan satu macan pun.


“Bagaimana mungkin saya bisa menemukan macan di sini? Ya Allah. Bimbinglah macan kepadaku, atau bimbing saya menuju macan,” bisik Rejo sendiri.


Rejo terus berjalan menusuri hutan, dan terus berjalan, hingga dia menemukan gua. Dan Rejo yakin, di dalam gua itu tinggal macan.


Rejo tak langsung memasuki gua, tapi memilih memanjat pohon, untuk mengamati.


Dua hari Rejo tetap bertengger di dahan pohon untuk mengamati pintu masuk gua. Memang belum terlihat muncul macan, tapi dia sudah melihat ada jejak macan di sekitar pintu masuk gua.


Barulah pada hari ketiga, Rejo melihat macan loreng. Agaknya dia berjenis betina. Dia berjalan pelan menuju gua. Dia diiringi dua macan kecil, yang melompat-lompat sambil bermain.


Rejo senang, bahwa penantiannya selama tiga hari ini, tak sia-sia. Hanya saja, Rejo belum tahu, bagaimana dia harus bisa mendekati macan. Tentunya, macan betina ini akan marah besar jika gua tempat tinggalnya didekati. Sebab, dia pasti peranggapan, akan mengancam dua anaknya.


“Bagaimana saya bisa mengajak macan liar ini ke Kanjeng Syech Belabelu? Untuk mendekatinya saja, saya rasa cukup sulit.”


Rejo merenung di dahan pohon. Fikirannya setengah kosong.


Dalam kondisi setengah sadar, seekor burung prenjak hinggap tak jauh darinya. Rejo belum sadar, karena fikirannya mencoba mencari tahu cara mendekati macan.


Burung prenjak melompat-lompat kecil sambil bernyanyi. Bahkan, burung prenjak mulai hinggap di lengan Rejo yang merangkul batang pohon. Seakan burung prenjak itu tak tahu bahwa yang dhinggapi adalah mahluk asing.


Rejo pun tak sadar, jika lengannya dicengkeram kuku-kuku prenjak.


Burung prenjak mulai hingga di kepala Rejo.


Barulah Rejo tersadar dari lamunannya.


Burung prenjak kaget, dan segera terbang menjauh.


“Allahu akbar. Bagaimana mungkin saya tidak tahu ada burung prenjak hinggap di kepala saya?”


Rejo langsung berfikir keras.


“Burung prenjak... macan....? Apa bedanya? Tentu saya bisa mendekati gua itu, jika saya dianggap tidak membahayakan anak macan. Dan tentunya, tak membahayakan, jika saya menjadi sesuatu yang sudah jamak ada dalam gua itu. Buktinya, burung prenjak menganggap saya sebagai bagian dari pohon, sehingga dia tak takut. Begitu saya menjadi manusia lagi, dia takut. Jadi, agar bisa mendekati macan, maka, saya harus berada dalam gua itu, dan menjadi bagian dari gua. Paling gampang adalah sebagai batu,” pikir Rejo.


Rejo pun memutuskan memasuki gua, begitu macan dan dua anaknya pergi mencari makan.


“Hanya ini satu-satunya jalan. Baik, saya tak boleh gagal. Saya tak boleh membuat macan betina itu marah-marah,” gumam Rejo sambil berjalan menuju gua.


Di dalam gua yang gelap, Rejo memilih tempat di pojokan, dan bisa mengarahkan mata ke pintu masuk gua. Dia duduk bersila di tanah. Dan mulai bersemedi, dan menjadikan dirinya seakan tanah.


Sebagaimana biasanya, dia mencoba menjadi sekecil debu, dalam alam semesta. Rejo mencapai titik ketiadaan.


Meski matanya terbuka, Rejo tak lagi tahu, seberapa lama dia duduk bersila. Rejo sudah tak merasakan apapun.


Entah berapa lama, akhirnya macan betina masuk gua bersama dua anaknya.


Dengan ketetapan hati yang sangat kuat, Rejo tak bergerak, meski matanya melihat ke arah macan betina itu.


Perlahan, macan betina duduk. Bahkan lutut Rejo dijadikan tempat bersandar. Dua anak macan, mulai menyusu induknya.


Rejo diam tak bergerak.


Rejo mengamati dua anak macan menyusu ke induknya, hingga ketiganya tertidur.


Rejo diam.


Rejo merasakan, dengus napas sang macan betina, disusul nafas pendek dua anak macan.


Dia mencoba menyelaraskan nafasnya, seperti macan betina.


Tarik, tahan, hembus. Tarik, tahan, hembus.


Rejo melakukan hal itu terus menerus.


Perlahan, Rejo merasakan dirinya, tak lagi seperti batu gua, tetapi sudah menjadi seperti macan. Getaran Rejo dan macan lama-lama menjadi selaras.


Dengan keyakinan penuh, dan menyiapkan segala kemungkinan, Rejo mencoba menggerakkan kakinya.


Sang macan menggeliat. Dua ****** susu, terlepas dari kenyotan dua anaknya. Dua anak macan segera mencari lagi ****** susu induknya.


Kaki Rejo telah lepas secara keseluruhan.

__ADS_1


Rejo beringsut sangat perlahan. Dia tak ingin menjadikan induk macan kaget. Yang Rejo inginkan, induk macan puas beristirahat dan terbangun dengan sendirinya, bukan terbangun karena kaget.


Dan benar, yang diharapkan sampai juga. Induk macan menggeliat bangun, disusul dua anaknya ikutan bangun.


Rejo sudah berdiri, dengan sikap membuka kuda-kuda. Dia menyiapkan kemungkinan terburuk. Hanya saja, dia tetap fokus kepada nafas macan. Sedapat mungkin, napasnya sejalan dengan nafas macan.


Cara yang dilakukan Rejo ini, membuahkan hasil.


Macan betina, tak melihat ada ancaman di rumahnya. Dia hanya duduk sambil menjilati tubuh anaknya, satu per satu.


Rejo pun menutup kuda-kudanya.


Perlahan, dengan nafas yang masih selaras dengan nafas macan, Rejo beringsut mendekat.


Satu tangan Rejo mengelus kepala macan.


Dia tak bereaksi.


Rejo kian berani. Dia mengelus bagian leher macan betina.


Tampak sang macan malah menikmati elusan Rejo.


Bahkan, Rejo semakin berani memeluk macan betina. Dia tak marah.


“Allahu akbar. Terima kasih, Ya Allah.”


Rejo sangat menikmati bercengkrama dengan macan betina, dan dua anaknya. Seakan, dia adalah bagian dari keluarga macan ini.


Dengan demikian, Rejo pun diterima oleh sang macan.


Berhari-hari Rejo hidup bersama dengan macan betina dan dua anaknya. Bahkan, Rejo yang menyiapkan minum bagi macan-macan itu. Hanya saja, soal makan, macan betina dan anaknya, kerap meninggalkan gua, dan mereka berburu sendiri.


“Bagaimana caranya, agar saya bisa mengajak tiga macan ini ke Kanjeng Syech Belabelu?”


Rejo belum menemukan jawabnya.


Hingga berhari-hari berikutnya, Rejo tetap tak menemukan jawabnya.


Hingga satu saat, macan betina pulang ke gua dengan menenteng seekor bangkai anak rusa. Bangkai anak rusa itu digeletakkan di dekat Rejo, yang saat itu sedang duduk santai.


Rejo merasa ini kejadian ganjil.


“Jangan-jangan, macan betina ini memberikan makanan kepada saya? Saya sudah dikira sebagai bagian keluarganya. Kalau memang seperti itu, tentu ada jalan bagi saya untuk mengajak tiga macan ini menghadap Kanjeng Syech Belabelu,” gumam Rejo sendiri.


Tentu saja, Rejo tak memakan bangkai anak rusa itu. Hanya saja, demi menghormati sang macan betina yang membawakan dia makanan, anak rusa itu dibawa keluar oleh Rejo. Seakan untuk dilahap, padahal, Rejo mengubur bangkai anak rusa itu.


Beberapa hari kemudian, Rejo memilih ikut berburu. Dia berjalan beriringan dengan macan betina dan dua anaknya. Bahkan, kadang-kadang anak macan itu diajak bermain, dan digendong Rejo. Sang macan betina tak marah, hanya melihat sekilas, lalu melanjutkan berjalan.


Mereka menuju padang safana, di mana ada kerumunan rusa sedang merumput. Macan betina menempatkan dua anaknya di bawah pohon, sedang dia mulai mengendap.


Sebagaimana cara berburu singa atau macan, Rejo pun ambil bagian. Rejo berjalan memutar, seakan dia menjadi anggota keluarga dari macan betina. Rejo mencoba mengerti setiap gerakan macan betina.


Terlihat, macan betina pun seakan memelajari gerakan Rejo.


Mereka seakan menjadi satu tim padu.


Dan itu yang dilakukan Rejo. Ketika sudah berada berseberangan dengan macan betina yang dalam posisi siap menerkam, Rejo segera berlari menuju ke arah rusa.


Kawanan rusa pun kaget. Mereka berlarian menuju ke arah macan betina. Macan betina mengincar satu anak rusa yang berlari mendekatinya. Dalam jangkauan, macan langsung menerkam anak rusa itu tepat di lehernya.


Menggelepar sejenak, anak rusa itu pun mati.


Rejo melihat dengan terbengong takjub.


“Allahu akbar. Inilah hukum di hutan ini. Tentu saja yang kuat dialah yang menang. Tetapi, Allah sungguh Maha Pemurah. Meski selalu dimangsa hewan buas, toh jumlah rusa tak pernah berkurang.”


Rejo sebenarnya tak tak tega, mengarahkan anak rusa menuju area terkam macan betina.


Namun, kalau tidak demikian, tentu dia tak bisa semakin dekat dengan tiga macan ini.


Memang pernah sekali, saat berburu, Rejo bertemu dengan kawanan macan lain. Yaitu, satu jantan dan dua betina. Agaknya, sang macan jantan ini adalah ketua dan pemilik area. Bisa jadi, macan jantan ini adalah induk dari dua anak macan yang selama ini sudah akrab dengan Rejo.


Macan jantan sangat tidak bersahabat dengan Rejo. Bahkan, nyaris saja Rejo diterkam oleh macan jantan ini. Rejo pun menyiapkan jurus pamungkas, seandainya dia benar-benar diterkam macan jantan.


Untungnya, macan betina menghalau macan jantan ini, dan akhirnya mengurungkan niat menerkam Rejo.


“Oh, jadi, saya ini dianggap anak ketiga oleh macan betina ini. Saya perlu dilindungi. Untuk itu, ketika macan jantan hendak menerkam, macan betina ini menghalangi,” pikir Rejo.


Kala itu, Rejo memanfaatkan kehadiran tiga macan di padang savana itu. Perlahan, meski diawasi macan betina, Rejo mulai mendekati macan jantan. Meski dengan geraman marah, agaknya macan jantan ada rasa takut kepada macan betina yang beranak dua itu.


Rejo kian dekat dengan macan jantan. Ketika Rejo berhasil mengelus leher macan jantan ini, geraman mulai menghilang. Bahkan terlihat macan jantan menikmati elusan di bagian lehernya.


Kian lama, akhirnya antara Rejo dengan macan-macan itu, seakan tanpa jarak. Bahkan, Rejo berani tidur lelap dengan berbantalkan perut macan jantan.


Sayangnya, pertemuan mereka di padang rumput itu hanya sekali itu saja. Setelahnya, setiap kali perburuan, yang ada hanya Rejo dan macan betina serta dua anaknya saja.


Mereka kian akrab dan Rejo juga kerap kena cakar dari anak-anak macan, karena bergurau.


Tentu saja, cakaran itu menimbulkan luka berdarah.


Meski begitu, keluarnya darah dari tubuh Rejo tak membuat tiga macan ini beringas.


Keakraban yang sungguh aneh.


Satu ketika, Rejo sengaja bersembunyi.


Diawali melaburi seluruh tubuhnya dengan lumpur, Rejo lalu naik ke pohon. Membaluri tubuh dengan lumpur ini, sebagai upaya menghilangkan bau tubuh, yang sebenarnya sudah diakrabi oleh penciuman macan.


Macan betina terlihat bingung ketika mendapati Rejo raib dari gua. Dia keluar masuk gua, sambil melihat ke sekeliling gua.


Sang macan betina melolong, seakan dia kehilangan anaknya.


Rejo melihat ini dengan perasaan terharu. Dia tak menyangka, bahwa dalam diri sang Raja hutan ini, ada sisi kelembutan yang luar biasa.


Perlahan, Rejo akhirnya turun, dan segera membersihkan lumpur di sekujur tubuh, lalu masuk ke dalam gua.

__ADS_1


Melihat kehadiran Rejo, sang macan betina terlihat sangat gembira. Rejo langsung diterkam, lalu kepala Rejo dijilati. Rejo diam saja.


Rejo muncul keyakinan, bahwa sudah waktunya mengajak tiga macan ini menghadap kepada Syech Belabelu.


Rejo pun memeluk leher macan betina, dan mengajak mulai berjalan. Macan betina dan dua anaknya mau melangkah. Akhirnya, mereka berjalan beriringan menuju ke arah pesisir.


Begitu memasuki sebuah perkampungan, tentu saja, membuat penduduk kampung kalang kabut. Mereka berhamburan menjauh, begitu melihat sosok manusia berjalan beriringan dengan macan, dan dua anak macan.


“Mohon maaf kisanak semua, bukan niat saya menakuti. Tetapi, memang jalan ini satu-satunya menuju ke pesisir. Saya hanya numpang melewati saja,” teriak Rejo kepada orang-orang yang berkerumun di kejauhan.


Warga kampung menatap dengan rasa takut, kagum, bergidik.


Rejo tetap saja berjalan menuju ke gubuk Syech Belabelu.


“Assamualaikum,” teriak Rejo dari kejauhan.


“Waalaikum salam,” jawab Syech Belabelu, sambil keluar dari gubuk.


Dia tersenyum melihat Rejo berjalan beriringan dengan tiga macan. Tampak Syech Belabelu tak menunjukkan mimik ketakutan.


Bahkan dia tersenyum, lalu duduk santai di pasir pantai. Tubuhnya yang tambun seakan berdentam dan membuat pasir pantai melesak.


Tangan Syech Belabelu melambai. Dan tiga macan ini segera berlarian menuju ke arah Syech Belabelu.


Di hadapan Syech Belabelu, tiga macan ini langsung duduk manis. Kaki Syech Belabelu dijilat-jilati oleh induk macan.


Rejo yang masih berjalan santai, tercengang melihat pemandangan ini. Padahal, rejo pun sudah terbiasa kakinya dijilat-jilat macan betina. Hanya saja, itu butuh waktu lama agar mereka bisa saling kenal. Namun, dengan Syech Belabelu, yang baru saja bertemu, macan betina dan dua anaknya bisa langsung akrab.


“Engkau telah berhasil membawa macan di hadapanku. Jadi, saya harus mengajarkan ilmu apa lagi?”


“Ilmu macan putih, sebagaimana titah dari Kanjeng Syech Jumadil Kubro,” jawab Rejo, dengan tetap menjaga sikap menjura hormat.


“Apa bedanya macan putih dengan macan loreng, atau macan lainnya?”


Rejo diam.


“Tidak ada bedanya. Yang membedakan adalah, macan putih itu pada hakikatnya tetap macan, putih di sini adalah urusan hati. Yaitu, bagaimana kita menghilangkan sikap ujub atau pamer, sombong, dan sok jagoan.”


Rejo diam saja.


“Bukankah, saat engkau melewati kampung tadi, orang-orang berlarian menjauh setelah melihat engkau berjalan bersama macan. Bagaimana hatimu saat itu? Engkau bangga, engkau merasa hebat, engkau merasa paling sakti. Engkau merasa layak dipuja. Engkau harus jujur. Bukankah perasaan seperti itu yang muncul tadi?”


Rejo kaget. Seakan dia mendapat guyuran air sedingin es. Dia gemetaran, dan tak mampu berkata apapun.


Rejo menunduk.


“Nak, tak ada lagi yang bisa saya ajarkan tentang ilmu macan putih. Jika engkau sudah bisa bergaul dengan macan, maka, sebenarnya engkau telah menguasai ilmu macan. Hanya saja, hatimu masih hitam. Ada rasa ujub, ada rasa sombong. Coba engkau renungkan. Sungguh, saya belum pernah bertemu dengan macan ini, lebih-lebih dengan dua anaknya. Tetapi, jika seseorang sudah bisa menguasai ilmu macan, maka dia dengan sendirinya akan bisa bergaul dengan macan. Lebih tinggi, dia bisa seakan berkomunikasi dengan macan. Engkau lihat tadi, aku melambaikan tangan ke arah macan, dia datang ke sini sambil berlari, seakan kita bertemu teman lama.”


Rejo diam.


“Nak, sungguh, tak ada yang bisa kuajarkan tentang ilmu macan, karena engkau telah menguasainya. Hanya saja, untuk menjadikan ilmu macan putih, harus disertai rendah hati, dan sikap sirri, yaitu menyembunyikan ilmu kita dari orang-orang, sehingga orang-orang tak takut kepada kita. Ingat itu.”


Rejo tetap diam.


“Yang perlu engkau lakukan sekarang adalah, banyak-banyak baca istighfar, merenung, dan membersihkan hati dari sifat-sifat yang disukai setan.”


Rejo diam.


“Sana istirahat di gubuk. Biar tiga macan ini bersamaku di sini.”


Rejo menjura hormat, lalu masuk gubuk.


Di dalam gubuk, jangankan untuk tidur. Rejo diliputi rasa malu luar biasa kepada Syech Belabelu. Dia tak menyangka Syech Belabelu bisa mengetahui sedetail itu.


“Jadi, hakikat ilmu macan putih ini adalah, bagaimana menepis kesombongan dalam diri manusia. Bukankah manusia itu sangat lemah, dan yang berhak sombong hanyalah Allah swt. Astaghfirullah,” gumam Rejo.


“Jadi, bayangan awal saya mengenai ilmu macan putih ini, adalah semacam jurus pamungkas dengan gerakan seperti macan. Karena ketinggian tenaga dalam, maka seakan-akan dia adalah macan putih, ternyata tak terbukti. Yang benar, soal ilmu macan putih ini, adalah tataran tertinggi ilmu untuk andap asor. Ilmu untuk rendah hati, ilmu untuk mengalah. Duh... betapa tingginya ilmu ini. Tapi, kenapa kok diberi nama ilmu macan putih? Bukankah bisa diberi nama ilmu rendah hati saja?”


Rejo tetap rebahan di gubuk.


Dia sempat melirik keluar, tampak Syech Belabelu mengelus kepala macan betina, sedangkan dua anak macan menyusu ke induknya. Sang macan betina tidur.


Terasa sekali, elusan tangan Syech Belabelu ini dengan ketulusan hati, dengan cinta kasih, dengan kelembutan. Desiran getaran sampai ke tempat Rejo berbaring.


“Hmmm, jadi seperti ini cara menyayangi binatang,” bisik Rejo sendiri.


Lambat laun, Rejo yang diterpa desiran getaran cinta kasih Syech Belabelu kepada macan betina ini, pun terlena. Rejo pun tertidur.


Dia dibangunkan Kanjeng Syech Belabelu ketika hendak salat berjamaah.


“Rejo buat apa engkau ke sini. Engkau telah menunjukkan kepadaku, bisa mengajak harimau ke sini. Ya sudah. Berarti ilmu macan telah engkau kuasai. Ingat, ilmu macan putih bukanlah gerakan seperti macan, dengan jari-jari seperti cakar macan. Tidak seperti itu. Kita ini manusia, martabat kita jauh lebih tinggi daripada macan. Tentunya, andai macan mempunyai akal, tentu dia ingin mempunyai jari-jari seperti manusia, yang bisa menggenggam, meraba, dan memeluk dengan sempurna. Jadi, hakikat ilmu macan putih adalah, bagaimana kita bisa merasakan kedekatan diri kita, dan emosi kita dengan macan. Namun, ketika kita sudah bisa bersahabat dengan macan, hati kita tidak sombong, dan tidak membuat orang lain bergidik ketakutan. Kita harus tetap rendah hati, mengalah. Itu, hakikat ilmu macan putih.”


Rejo terdiam sejenak.


“Lantas, bagaimana dengan rencana saya menantang orang tersakti di tanah Jawa? Yaitu keturunan dari Raja Siliwangi itu? Bukankah beliau menguasai ilmu macan, dan bagaimana mungkin saya melawan dengan ilmu macan putih?”


“Itu urusanmu. Temukan caranya, bagaimana engkau bisa menantang orang lain, tapi dengan kerendahan hati dan mengalah. Namun engkau tidak kalah. Aku tidak ikut-ikutan. Temukan sendiri caramu.”


Rejo bingung.


“Sudah, usai salat ini, silakan engkau pergi dari sini. Silakan engkau menuju ke tanah Pasundan sana. Aku pikir, bekalmu sudah lumayan untuk menantang pendekar tersakti di tanah Jawa ini.”


“Dan satu hal. Terserah tiga macan ini. Jika mereka memilih pulang ke rumahnya di hutan, jangan dilarang. Tetapi, jika memilih ikut kamu, juga jangan dilarang. Tetapi, engkau harus mengerti, bagaimana caranya agar warga kampung yang engkau lalui, tidak takut kepada tiga macan. Atau, bisa saja engkau melewati hutan-hutan yang jauh dari perkampungan.”


Rejo hanya mengangguk, meski dia sendiri kebingungan.


Dan usai bersiap-siap, Rejo mengelus tiga macan ini. Rasanya berat bagi Rejo berpisah dengan tiga macan.


Tetapi, tak disangka, usai berpamitan dengan Syech Belabelu, Rejo melangkah pergi. Dan, ternyata tiga macan mengikuti.


Rejo berhenti. Berjongkok. Tiga macan mendekati. Bahkan menjilati kepala Rejo.


Dielus kepala tiga macan ini.


Begitu Rejo melangkah lagi, tiga macan mengikutinya.

__ADS_1


“Ha ha ha. Ini artinya tiga macan itu, ingin ikut dalam perjalananmu. Sudah, terima saja. Itu memang takdirmu. Terima dengan lapang dada,” teriak Kanjeng Syech Belabelu.


__ADS_2