BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 2b: Dakwah Lawan Genderuwo


__ADS_3

"Lalu, saya harus bagaimana dalam berdakwah?"


"Tentunya, tidak mungkin kita merubah kebiasaan turun temurun. Yang bisa kita lakukan adalah mendampingi mereka, dengan kebiasaan mereka. Perlahan, kita luruskan kebiasaan yang salah itu. Lebih lanjut, akan kita kenalkan Islam kepada mereka."


"Bagaimana caranya?"


"Selama itu bersifat muamalah, tidak apa-apa. Kalau terkait dengan syariah dan aqidah. Jangan. Misalnya, Ketika warga kampung hendak menanam padi, mereka pasti melakukan sesaji ke pohon-pohon besar, mempersembahkan hewan korban untuk sing mbaurekso. Itu yang perlahan kita kikis dulu. Misalnya, dengan mengajarkan kepada mereka ucapan bismillahirrochmaanirrochiim, ketika hendak melaksanakan apapun pekerjaan itu," tutur Syech Jumadil Kubro.


"Coba engkau lakukan."


"Baik kanjeng Guru."


"Dan engkau Rejo, tak perlu ikut bersama Donosari. Saya ada permintaan kepadamu. Yaitu, engkau mulai menggali lubang yang cukup besar. Gali terus hingga lubang itu dipenuhi air sedalam dada. Jika sudah jadi, engkau setiap hari ke kali, tangkap ikan sebanyak-banyaknya. Usahakan ikan itu tetap hidup, lalu masukkan ke lubang atau kolam yang engkau buat."


Rejo tak membantah samasekali.


Syech Jumadil Kubro kembali tenggelam dalam zikir. Donosari segera berlalu, menuju ke perkampungan. Sedangkan Rejo, mulai menggali lubang dengan alat seadanya, tak jauh dari gubuk di mana Syech Jumadil Kubro berzikir.


Setiap hari, ada saja orang yang lewat di dekat gubuk, dan selalu bertanya, untuk apa Rejo membuat lubang.


"Untuk dikasih ikan."


Tentu saja, jawaban Rejo ini membuat penduduk kampung tertawa-tawa


Menurut mereka, apa yang dilakukan Rejo ini hanya sia-sia. Sebab, jumlah ikan di kali sangat banyak, dan tak mungkin habis diburu hingga anak cucu.


"Ah... anak muda, engkau ini melakukan pekerjaan yang sia-sia. Aneh. Buat apa lubang itu, toh di kali sangat banyak ikan. Kita tinggal menangkap saja."


"Saya sendiri tak tahu, saya hanya disuruh oleh Kanjeng Guru."


Syech Jumadil Kubro yang mendengar ini hanya tersenyum.


Rejo pun tak menggubris omongan warga kampung. Dia tetap menangkap ikan di kali, lalu ditabur di kolam. Rejo juga kian memperlebar kolam yang dibuatnya. Kian hari kian luas dan dalam. Ikan-ikan pun kian banyak yang ditebar.


Sejalan dengan itu, Donosari juga sibuk ikut berbagai ritual warga. Hanya saja, kerap dia mengucapkan bismillahirrohmanirrohiim dengan suara keras.


"Kang Donosari, ucapan apa itu?"


"Oh, itu ucapan untuk memulai semua pekerjaan."


"Bukankah kita sudah memasang sesaji dan membakar kemenyan, sebelum kita memulai pekerjaan?"


"Untuk tujuan apa?"


"Ya, biar pekerjaan kita lancar. Dan selama ini memang lancar. Panen melimpah, tangkapan ikan banyak, dapat hewan buruan yang banyak. Itu karena kita memberi sesaji sebelum kita bekerja."


"Coba sekarang, akang semua, memberi tambahan mantra hebat, yaitu bismillahirrohmaanirrohim. Ucapkan itu sebelum akang semua berburu, bertani, menangkap ikan. Silakan bandingkan hasilnya."


"Buat apa, toh selama ini kita selalu berhasil dengan sesaji."


"Apa salahnya dicoba?"


Beberapa orang memilih cukup dengan menabur sesaji dan membakar kemenyan, sebelum berangkat bekerja. Yang lainnya, minta diajari mantra bismillah itu.


Allah swt menakdirkan, beberapa orang yang mengucapkan mantra bismillah itu, hasil tangkapannya selalu lebih banyak daripada yang tidak mengucapkan.


"Benar kan, terbukti. Yang mau mengucapkan bismillah, hasilnya lebih banyak. Meski selisihnya hanya sedikit. Andai, akang-akang semua mau mengucapkan bismillah sebanyak-banyaknya, ada kemungkinan hasil tangkapan jauh lebih banyak lagi."


"Apa benar seperti itu?"


"Saya sendiri tak tahu. Tapi, sekali lagi. Apa salahnya dicoba."


Beberapa orang ini, memutuskan untuk mencobanya.


Sepanjang malam, mereka mengucapkan bismillah terus-terusan sampai menjelang pagi.


Meski dalam kondisi loyo karena semalaman mengucapkan bismillah, mereka membakar kemenyan dulu, memasang sesaji, dan tak lupa mengucapkan bismillah, lalu mereka berburu dan menangkap ikan.


Sungguh aneh, meski mereka berburu tanpa gairah karena mengantuk, seakan hewan buruan yang mendatangi mereka.


Padahal, awalnya, tidak sedikit yang menyibir mereka.


"Buat apa semalaman membaca mantra aneh itu. Pagi ini, lihatlah, kalian semua loyo tak bergairah. Apa mungkin berburu atau menangkap ikan dengan kondisi tanpa tenaga seperti itu?"


Tapi, beberapa orang yang semalaman mengucapkan bismillah ini, seakan tak peduli. Mereka hanya ingin membuktikan bahwa mantra itu benar-benar sakti.


Nyatanya, ketika sore hari mereka kembali ke kampung, hasil buruan mereka jauh lebih banyak daripada yang sekedar warga kampung yang membakar kemenyan maupun memasang sesaji.


Awalnya, mereka hanya diam-diam saja. Tetapi, ketika terjadi peristiwa hanya mereka yang mendapatkan ikan dan hewan buruan dalam jumlah banyak, sedangkan sebagian besar warga kampung tak ada yang dapat hewan buruan, warga mulai banyak bertanya.


"Benarkah kalian selalu membaca mantra aneh itu tiap malam, sehingga kalian dapat hewan buruan yang banyak?"


"Benar. Bahkan, saat kita istirahat sekali pun, hewan buruan itu seakan datang kepada kita. Lihatlah sendiri, kami masing-masing akhirnya membuat kandang, karena hewan itu seakan jinak dan mendatangi kita. Kita tak tega membunuhnya, dan kita bawa pulang untuk dipelihara. Mantra dari kakang Donosari memang manjur. Coba akang semua baca mantra yang sama. Siapa tahu, manjur juga untuk akang," kata satu orang.


Lalu, dia mengajarkan bagaimana bacaan mantra itu.


Maka, pada malam itu, hampir seluruh penduduk kampung membaca mantra bismillah.


Dibuktikan esok harinya, tangkapan mereka sangat banyak.


Yang bertani pun juga ikut merasakan kemanjuran mantra ini. Hujan turun meski saat itu musim kemarau.


"Mantra yang hebat," gumam mereka semua.


Maka, sejak saat itu, sepanjang malam, warga kampung membaca bismillah. Bahkan, agar mereka tak mengantuk, kadang keluar rumah untuk jalan-jalan. Mereka saling bertemu, dan mulut semua komat-kamit membaca bismillah.


Lambat laun, mereka kerap bangun kesiangan. Dan mereka lupa membakar kemenyan dan memasang sesaji. Tangkapan mereka tetap banyak.


Lambat laun, mereka baru menyadari bahwa kekuatan mantra jauh lebih besar daripada pasang sesaji.


"Iya ya, kita hanya baca mantra ajaib ini, hasilnya luar biasa, meski tanpa bakar kemenyan. Kalau begitu, buat apa bakar kemenyan," ajak satu warga.


Dan, bisa ditebak, saat itu, muncul resi berjenggot dan berbaju putih.


"Kenapa kalian semua tak bakar kemenyan atau pasang sesaji? Bukankah kalian telah melanggar aturan leluhur? Bagaimana kalau dewa marah dan menjadikan kalian semua menjadi miskin?" tanya sang resi, yang tak lain adalah jelmaan gondoruwo.


"Resi yang baik, kami sudah mendapatkan mantra ajaib dari Kakang Donosari. Dengan mantra ini, kita bisa mendapatkan tangkapan yang sangat banyak. Buat apa bakar kemenyan dan memasang sesaji."


"Ingat, sesaji kalian adalah bentuk penghormatan kepada dewa. Ingatlah kemarahan dewa."


Sebagian besar warga ketakutan atas omongan Resi ini.


Bahkan, Resi ini juga pamer ilmu. Ketika dia melambaikan tangan, satu pohon bambu yang besar, seakan menjawab lambaian tangan sang resi. Pohon bambu itu seakan membungkuk.


Warga kian ketakutan, dan mereka berjanji kepada Resi untuk membakar kemenyan lagi.


Hanya sedikit warga yang tak takut.


"Kami juga akan mencoba matra ajaib dari Kakang Donosari untuk membungkukkan bambu."


Sedikit warga ini mulai konsentrasi membaca bismillah. Tetapi, tak ada pohon bambu yang mau membungkuk.


"Ha ha ha. Mana buktinya mantra itu ajaib, mantra itu tidak bisa membungkukkan pohon bambu. Bahkan pohon bambu itu lebih menurut kepada lambaian tanganku."


"Resi, coba engkau biarkan bambu membungkuk ini sepanjang malam," tantang sedikit warga itu.


Gantian Resi yang tak lain adalah Genderuwo ini yang bingung. Tadi, dia bisa membungkukkan pohon bambu, karena dia meminta tolong jin-jin temannya, untuk menarik bambu itu, lalu diduduki bareng-bareng. Tetapi, untuk menjadikan bambu itu merunduk semalaman, tentu para jin dan dedemit itu tak mau. Mereka pasti memilih berkeliaran di kampung-kampung menghirup kembang sesaji dan kemenyan.


"Kenapa harus semalaman?"


"Karena sebenarnya kami sudah diberitahu oleh Kakang Donosari sebelumnya. Dia mengatakan, mungkin satu ketika, kalian akan didatangi Resi sakti. Resi itu akan pamer ilmu kesaktian. Yang paling gampang adalah menundukkan pohon bambu. Jika itu memang benar terjadi, coba minta dia untuk merundukkan pohon bambu itu dalam semalam saja," kata satu orang, yang memang rutin membaca bismillah.


"Apa?! Donosari ikut-ikut?" teriak sang Resi.


Bentakan ini, disertai dengan seakan tenaga dalam yang menimbulkan gemuruh angin di sekitar Resi.


Ini membuat beberapa warga yang hadir di tempat itu ciut nyali, kecuali beberapa orang yang sudah meyakini kekuatan bismillah.


Beberapa orang tetap melafalkan mantra ajaib ini. Uniknya, mereka samasekali tak dihinggapi rasa takut samasekali kepada Resi.


Tiba-tiba, dari arah kejauhan, terdengar mantra ajaib ini diucapkan orang.


"Bismillahirrochmaanirrochiim."


Meski pelan, tapi semua orang bisa mendengar.


Perlahan, semakin terdengar jelas.


Sosoknya muncul dari balik rerimbunan semak.


Donosari berjalan dengan tenang, menghampiri kerumunan orang ini.


"Resi, bukankah kita sudah ada perjanjian, engkau dilarang mengganggu dan saya juga tak akan mengganggumu."


Yang hadir kaget alang kepalang. Mereka tak menyangka bahwa dua orang ini sudah pernah bertemu sebelumnya.


"Resi, dengarkan permintaan orang-orang kampung. Coba engkau buat pohon bambu ini merunduk sepanjang malam. Kalau engkau bisa melakukan itu, jangankan orang kampung, saya pun akan mengikutimu."


Resi gamang.


"Buktikan, bahwa engkau benar dan engkau sakti."


Resi tercekat. Diam membisu.

__ADS_1


Donosari mendekati pohon yang merunduk. Donosari tahu, bahwa pohon itu sedang diduduki berpuluh jin.


Begitu Donosari mengibaskan tangan sekali saja, puluhan jin itu langsung lari tunggang-langgang. Mau tidak mau pohon bambu itu kembali tegak.


"Sekarang, ada saya di sini, coba lambaikan tanganmu lagi ke arah pohon bambu itu, apa dia mau merunduk lagi?" tantang Donosari.


Resi diam.


Orang-orang yang ada di situ tegang.


"Ayo lakukan."


Resi diam. Tapi mukanya merah padam menahan marah.


"Siapa yang sebenarnya melanggar? Engkau atau saya?"


Resi segera membalik badan, dan berlalu.


Langkahnya diikuti beberapa orang yang percaya akan kehebatan sang Resi atau yang menyukai pasang sesaji dan bakar kemenyan.


"Nah, bapak-bapak. Ini adalah bukti bahwa, sesuatu yang kita yakini benar, harus kita pegang teguh selamanya."


Beberapa orang itu menunduk. Mereka mengakui bahwa Donosari lebih sakti daripada Resi.


"Bapak-bapak, ketahuilah mantra bismillah yang saya ajarkan kepada Bapak-bapak semua, masih belumlah lengkap. Saya masih banyak lagi mantra-mantra yang jauh lebih hebat lagi. Kalau memang bapak berkenan, silakan temui saya di gua, atau di dekat sungai," kata Donosari.


"Anu Kakang, tadi saya baca mantra ini dengan keyakinan teguh, tetapi, kenapa pohon bambu itu tak mau menunduk. Sedangkan, Resi hanya dengan melambaikan tangan saja, pohon bambu itu mau merunduk."


Donosari tersenyum.


"Itu menunjukkan bahwa kita sebagai manusia memang lemah. Hanya ada satu yang maha hebat, yaitu Allah swt. Jika Bapak-bapak ingin tahu lebih dalam, bisa kita bicara-bicara nantinya. Yang jelas, Resi tidak sendirian. Banyak mahluk jin dedemit yang membantu dia, untuk memegangi pohon bambu. Untuk itu, ketika saya kibaskan tangan untuk mengusir jin dedemit itu dari pohon bambu yang diduduki, pohon bambu kembali tegak, dan Resi tak mau melambaikan tangan lagi. Sebab, tak mungkin pohon bambu mau merunduk lagi, karena jin dedemit itu sudah lari dari sini," tutur Donosari.


"Jadi..."


"Benar. Kalau tidak dibantu dengan kekuatan jin dedemit, Resi tak bisa apa-apa. Jadi, bapak jangan takut, sebab kita sebenarnya dilindungi oleh Allah swt. Termasuk yang mendatangkan ikan atau hewan buruan kepada Bapak."


"Anu Kakang. Siapa Allah swt itu?"


"Dia adalah tuhan yang wajib disembah. Kalau di agama Hindu, seperti dewa. Tetapi, hanya ada satu tuhan, yaitu Allah swt. Tak mungkin rasanya dunia ini diatur oleh banyak dewa. Bapak-bapak bisa bayangkan, kampung Jurang Jero ini dipimpin oleh lebih dari satu lurah atau petinggi. Apa yang terjadi?"


"Bisa jadi, lurah-lurah itu akan berkelahi sendiri."


"Betul. Seperti itu gambarannya. Jadi, dunia dan alam semesta inbi hanya diatur oleh satu zat saja, yaitu Allah set, yang maha berkuasa atas segala sesuatu."


Semua terdiam.


"Jadi, apa mungkin pohon bambu yang tumbuh tinggi itu, merunduk dengan sendirinya? Tentu tidak. Karena itu menyalahi aturan alam atau sunnatullah. Tetapi, jika Allah menghendaki, tentu tidak ada yang tidak mungkin. Semua serba mungkin bagi Allah swt."


Semua tetap diam.


"Sudahlah bapak-bapak. Kalau ingin bicara-bicara, bisa temui saya di gua atau di pinggir kali. Yang penting, amalkan mantra itu dengan ikhlas, apapun yang terjadi.


"Baik kakang."


Beberapa warga kampung, dengan penuh semangat dan keyakinan mengamalkan mantra bismillah. Bahkan, mereka tak segan mengintip di sekitaran sungai, di mana mereka melihat gerakan-gerakan aneh secara bersama. Dipimpin Syech Jumadil Kubro dan dua di belakang, mereka melakukan gerakan aneh itu, di waktu-waktu tertentu.


"Kakang Donosari, siapakah orang berjubah itu?"


"Oh, beliau adalah guru saya. Namanya, Kanjeng Syech Jumadil Kubro."


"Ooooh....."


"Kami mengintip, Kakang Donosari dan Rejo, mengikuti gerakan guru panjenengan. Apa itu mantra baru? Apa itu bisa memberikan kesaktian?"


"Oh... itu namanya salat. Jika di agama Hindu sama dengan sembahyang di rumah. Kalau di Islam ada yang namanya masjid, yaitu tempat ibadah salat berjamaah, kalau di Hindu namanya Pura."


"Oh begitu."


Kanjeng Syech Jumadil Kubro melirik sejenak, lalu melanjutkan wiridnya lagi.


"Yang kami lakukan adalah salat berjamaah, di mana pahalanya dijanjikan dilipatgandakan 27 kali. Salat itu murni untuk menyembah Allah swt. Tidak untuk tujuan kesaktian atau kedigdayaan. Jadi, dengan salat itu, kita menyadari bahwa kita sebagai manusia yang lemah, sedang Allah Maha Kuat dan Perkasa. Sebenarnya, salat itu untuk keperluan kita sendiri, demi kebaikan kita sendiri sebagai manusia," kata Donosari.


"Apakah Kakang Donosari mau mengajarkan kami tentang salat?"


"Oh tentu saya mau. Tetapi, ada tahapan yang harus dilalui. Itupun jika kalian mau."


"Mau. Kami sungguh-sungguh mau."


"Pertama, kalian semua harus mengucapkan dan mengikrarkan kalimat syahadat. Yaitu kalimat pengakuan bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah rasul Allah."


"Siapa itu Muhammad?"


"Muhammad adalah rasul atau utusan Allah, yang menyampaikan berita gembira dari Allah, yaitu agama Islam. Agama Keselamatan."


"Agama Keselamatan? Apa itu?"


"Akhirat? Apa pula itu?"


"Akhirat adalah kehidupan abadi. Manusia akan ditempatkan sesuai dengan perbuatannya di dunia ini. Jika dia baik akan dimasukkan surga, dan jika dia jahat, kafir, akan dimasukkan ke dalam neraka. Selamanya."


"Jadi, yang namanya Muhammad itu mengajarkan agama Islam. Begitu?"


"Benar. Jika kalian mau, saya akan menyeritakan tentang kehidupan nabi Muhammad yang penuh berkah."


"Di agama Hindu, apa punya utusan?"


"Saya tidak tahu. Yang saya tahu, ada banyak dewa di agama Hindu. Di Islam tidak. Hanya ada satu tuhan, yaitu Allah swt. Selain Allah, kesemuanya adalah mahluk ciptaan Allah swt. Kadang banyak manusia tertipu oleh godaan setan, iblis, atau jin. Dan memang tugas mereka menggoda manusia. Untuk itulah, kita hidup di dunia ini sebenarnya adalah ujian untuk membidik kehidupan abadi di akhirat nanti."


Semua terdiam.


"Pemisahnya adalah kematian. Di Islam, jenazah dikubur dalam tanah, setelah dilakukan beberapa kewajiban terhadap jenazah itu, yaitu dimandikan, dikafani, disalati, lalu dikuburkan. Jika di Hindu kan dibakar."


"Iya, dengan diaben, maka roh bisa sampai kepada nirvana, yaitu swarga loka," kata mereka.


"Di Islam tidak. Manusia meninggal itu berarti dia memasuki alam barzah atau alam kubur. Di alam ini, adalah masa penantian bagi manusia itu hingga datangnya hari kiamat, yaitu kehancuran alam semesta raya karena memang diperintahkan oleh Allah swt untuk hancur. Setelah itu, ada hari penghitungan amal ibadah. Bagi yang beragama Islam, tentu amal ibadahnya akan mengantarkan dia ke surga. Bagi yang bukan muslim, tentu saja, sebesar apapun amal ibadah mereka di dunia, pasti masuk neraka."


"Kakang Donosari, kami kok takut ya...."


"Saya sendiri juga takut," jawab Donosari.


"Kalau begitu, tolong cepat-cepat ajarkan kami tentang Islam dna bimbing kami kepada Agama Islam. Kami takut masuk neraka."


"Baiklah, mari kita membaca kalimat syahadat bersama-sama."


Lalu, beberapa orang itu membaca kalimat syahadat bersama-sama.


Tak terasa, semuanya meneteskan air mata. Termasuk Syech Jumadil Kubro dan Rejo.


Mereka akhirnya berpelukan satu sama lain.


Donosari akhirnya mengajarkan mereka tentang gerakan salat, dan waktu-waktu salat wajib. Dan mereka memilih ikut salat berjamaah.


Mereka memilih selalu melaksanakan salat berjamaah di gubuk di pinggir kali itu.


Kian lama, mereka sangat menikmati salat. Rasanya, mereka ingin terus berada di gubuk dan melakukan salat dan salat.


"Ingat bapak-bapak semua memiliki istri dan anak, yang menjadi tanggung jawab Bapak. Kalau Bapak hanya beribadah di sini terus menerus, kasihan anak istri di rumah bapak-bapak. Bapak harus berburu atau bekerja."


"Selama kami membaca mantra bismillah, jumlah buruan yang kami dapatkan sangat banyak. Mungkin sampai sekarang belum habis."


"Kalau bapak hanya beribadah di sini, bagaimana bapak bisa mengenalkan Islam kepada tetangga-tetangga Bapak yang masih Hindu? Lebih baik bapak kembali pulang, dan bekerja seperti biasanya. Hanya saja, saya berpesan, bapak harus lebih sopan, lebih mempunyai tata krama yang agung. Sebab, Islam itu agama penuh dengan tata krama agung. Bersikaplah dari hati nurani Bapak. Dengan demikian, bapak tidak akan bohong. Jadilah manusia baik."


Diberi pitutur seperti itu, beberapa warga kampung pun pulang. Hanya saja, ketika waktu salat tiba, mereka datang ke pinggir kali, untuk melaksanakan salat berjamaah.


"Jika bapak selalu salat berjamaah di sini, bagaimana dengan kegiatan berburu yang jauh masuk ke dalam hutan? Jika bapak yakin waktu salat telah tiba, lakukan di dalam hutan saja. Jangan terpaku salat di sini."


Beberapa penduduk kampung pun menurut.


Meski begitu, ada saja satu atau dua orang yang melaksanakan salat berjamaah di gubuk pinggir sungai. Hanya saja, ketika salat maghrib dan Isya, selalu berjamaah. Setelah salat, biasanya, mereka diberi pengetahuan agama oleh Donosari atau Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Hanya saja, mereka masih bertanya-tanya tentang kolam yang setiap hari diperlebar oleh Rejo. Sudah begitu, selalu diisi ikan hidup oleh Rejo. Ikan-ikan itu ditangkap di kali, lalu dipindahkan ke kolam besar.


"Kakang Donosari, apa sebenarnya gunanya kolam besar itu dibuat Nak Rejo?"


"Saya tidak tahu. Sebab, Rejo melakukannya atas perintah Kanjeng Syech Jumadil Kubro."


"Oh, kalian akan tanya tentang kolam besar itu?" tiba-tiba Syech Jumadil Kubro ikutan nyeletuk, lalu duduk bergeser dari posisi zikirnya, mendekat ke orang-orang.


"Berdasarkan kepada mimpi dari salat istikharah yang saya lakukan, saya mendapat isyarat dari Allah, bakal terjadi pagebluk yang cukup parah di desa ini. Di mana hewan-hewan mati, dan air kali tak bisa digunakan karena beracun. Hanya saja, saya tidak tahu, kapan peristiwa itu bakal terjadi. Hanya Allah swt yang tahu."


Beberapa mualaf ini terperanjat.


"Apa perlu kami juga membuat kolam di rumah kami masing-masing?"


"Tak perlu. Biar kolam ini kian diperlebar oleh Rejo, dan untuk kebutuhan penduduk kampung, jika pagebluk itu benar-benar terjadi. Kalian semua bisa saja juga melakukan persiapan, yaitu keringkan daging-daging hewan buruan kalian, untuk persiapan makanan ketika pagebluk terjadi."


Semua manggut-manggut takdim.


Sejak saat itu, mereka memerintahkan kepada istrinya, mulai menjemur daging dari hewan buruan yang berhasil dibawa pulang.


Kian banyak daging cadangan yang mereka peroleh.


Warga kampung lain yang masih beragama Hindu mulai mencibir.

__ADS_1


"Lihat mereka yang suka jentat-jentit itu, mereka mulai mengumpulkan daging-daging kering. Yang didekat kali, juga membuat kolam dan setiap hari diisi ikan. Buat apa? Memang mereka itu aneh-aneh saja. Bukankah sangat banyak hewan buruan,dan banyak ikan di kali?"


"Ha ha ha. Mereka telah merusak adat leluhur kita. Mereka telah mengingkari para Dewa. Ingatlah, akan muncul kemarahan dewa-dewa agung kepada mereka," kata Sang Resi, yang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar.


Mendapat semangat dari Resi ini, para penganut agama Hindu semakin yakin bahwa mereka bakal mendapat perlindungan para dewa. Mereka kian mencibir perilaku sekitaran delapan mualaf yang semakin getol bekerja dan berburu. Para mualaf yang menyiapkan diri sebaik-baiknya, untuk menyongsong pagebluk, kian dicibir dan diejek.


"Dewa telah memberi kita banyak rejeki. Hewan buruan tak akan habis meski diburu tujuh turunan. Ikan melimpah di sungai. Air jernih tak kurang-kurang. Lalu, buat apa kalian menjemur daging, memperbanyak memperoleh hewan buruan dan mengandangkannya. Itu lagi, si anak muda Rejo itu, buat apa bikin kolam yang kian hari diperlebar dan diisi ikan. Sungguh satu pekerjaan yang sia-sia. Dewa pasti marah karena kalian sekarang sudah tak pernah membakar kemenyan lagi, tak pernah memasang sesaji lagi. Dewa juga merasa dihina, karena kalian setiap hati jentat-jentit bersama orang berjubah itu," kata satu orang kepada tetangganya yang mualaf.


"Ndak apa-apa Kang. Ini keyakinan kami. Kami melakukan ini juga untuk Kakang nantinya. Kami meyakini, satu saat nanti akan muncul pagebluk yang menyebabkan air kali tak bisa diminum lagi, para hewan lari, dan ikan-ikan mati. Untuk itulah, kami giat bekerja untuk persiapan itu semua. Nanti, Kakang juga akan kami kasih daging keringnya kok," kata sang mualaf.


"Ha ha ha. Resi sudah mengatakan kepada kami, kalian lah yang bakal terkena bencana. Bukan kami. Nanti kalau kalian semua terkena bencana, jangan lupa untuk memasang sesaji lagi dan membakar kemenyan. Kamu ini aneh-aneh saja."


Sebanyak delapan mualaf itu, rata-rata diolok gila oleh tetangga masing-masing. Tapi, mereka bergeming. Bahkan, kini mereka sudah bisa mengislamkan istri dan anak-anak mereka. Hanya saja, untuk salat berjamaah, hanya sang suami saja yang datang ke gubuk pinggir sungai. Sedangkan sang istri, salat di rumah. Bahkan, sang istri cenderung menyembunyikan keislamannya karena menjaga hubungan dengan tetangga.


"Bapak-bapak semua, Allah telah memberikan hidayah kepada keluarga bapak-bapak semua, dengan mengajak istri dan anak menjadi muslim, semoga kehidupan bapak semua menjadi lebih baik. Tapi, agar pengetahuan agama antara Bapak dan istri tidak timpang, ada baiknya, setelah kita mengaji di sini, bapak sampaikan juga kepada Istri. Termasuk mengajari bacaan salat, mengajari doa-doa, dan mulai belajar bersama mengeja Alquran," kata Donosari.


Para mualaf ini terlihat lega dan bersyukur.


"Hanya saja, ada yang belum bisa kita lakukan secara sempurna. Yaitu kita melaksanakan salat jumat. Selama ini, kita tetap salat jumat tapi jumlah kita masih sangat terbatas. Memang, yang bagus adalah, jumlahnya minimal 40 jamaah. Jumlah kita hanya sebelas. Bapak semua, saya dan Rejo. Sedangkan yang menjadi khotib adalah Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Sungguh, alangkah bahagianya kita, seandainya penganut agama Islam jumlahnya cukup banyak, minimal 40 orang," tutur Donosari.


Tanpa diminta pun, para mualaf yang kian mengerti makna agama Islam ini, mulai mengenalkan kepada tetangga-tetangga, meski mereka dicibir gila.


Meski begitu, mereka tetap sabar, tersenyum dan selalu bergembira.


Tentu ini menjadikan tetangga-tetangga bertanya-tanya. Kok bisa, diolok malah bergembira.


"Karena kami dijanjikan surga yang sebenarnya. Bukan surga dunia, dan juga bukan surga semu. Kami kian meyakini bahwa agama Islam yang benar. Dengan Agama Islam ini kami merasa hidup bahagia. Islam mengajarkan kepada kebersihan hati dan kebersihan tubuh. Islam mengajarkan kepada kita menjadi pribadi yang rendah hati. Sungguh Kang, kami merasa menemukan sesuatu yang selama ini kami cari," kata satu mualaf kepada tetangganya.


Dan akhirnya memang terbukti.


Karena satu hujan badai melanda kampung Jurang Jero. Beberapa pohon tuba ukuran besar roboh ke sungai di bagian hulu. Racun tuba yang ada di akar-akar gantung pohon ini, mulai merasuki air sungai. Jika dalam kondisi sedikit mungkin tak memberi dampak apapun. Tetapi, jika jumlahnya sangat banyak, tentu membawa dampak.


Ikan-ikan di kali mulai mengambang, mabuk.


Ikan yang sehat segera melarikan diri mencari air bersih.


Warga kampung yang belum menyadari, tetap meminum air sungai. Mereka dilanda sakit perut yang amat sangat. Bahkan, beberapa orang sampai mati.


Mereka menyadari, kampung mereka dilanda pagebluk.


Lambat laun, warna air sungai berubah menjadi coklat kemerahan.


Hewan-hewan yang tinggal di hutan, mulai berpindah, karena tak ada lagi sumber air untuk diminum.


Warga mulai kebingungan. Mereka kian kiat memasang sesaji, meembakar kemenyan. Mereka berharap mendapat pertolongan dari dewa.


Namun, bukannya pertolongan yang didapat, tapi kian parah. Entah karena apa, matahari kian terik dan suhu panas mendera, padahal mereka ada di kawasan pegunungan. Ini menyebabkan tanaman kering.


Berhari-hari, warga mencoba bertahan, dan mereka masih sungkan untuk meminta air kolam milik Rejo.


Sementara delapan orang mualaf yang sudah melakukan persiapan, tetap irit mengonsumsi daging kering. Mereka juga membagikan kepada tetangga-tetangga yang kesulitan.


Alam kian ganas. Bukan hanya paceklik, namun tanah mulai merekah. Anehnya, kolam bikinan Rejo tetap penuh, dan airnya kian jernih. Anehnya lagi, air kali tetap memerah, meski warga kampung sudah menyingkirkan beberapa pohon tuba yang roboh ke air sungai.


Warga kampung mulai mencari-cari keberadaan resi yang dinilai sakti. Mereka ingin meminta pertolongan agar bisa dibebaskan dari pabebluk dan paceklik berkepanjangan ini.


Lebih-lebih, ketika persediaan air hanya ada di kolam buatan Rejo. Ikan-ikan yang ditanam mulai beranak pinak. Warga kampung yang masih sungkan, hanya bisa memandangi, meski mereka dipersilakan untuk mengambil air dan memancing ikan.


Mereka malu, sebab, selama ini mereka mengolok-olok Rejo, Syech Jumadil Kubro, Donosari dan delapan mualaf lain, dengan sebutan gila.


"Silakan ambil airnya dari kolam ini, dan silakan pancing ikannya. Tidak apa-apa kok. Kolam dan ikan ini memang disiapkan untuk menghadapi kondisi paceklik seperti saat ini. Kalau bapak-bapak masih sungkan, nanti Bapak-bapak akan susah sendiri. Silakan," kata Donosari.


Tetapi, warga kampung masih bergeming. Mereka masih berkeyakinan, sang Resi akan bisa membawa mereka keluar dari kesulitan ini. Sementara sang Resi sendiri, tak lagi pernah menampakkan batang hidungnya.


"Oh Dewa, kami kian giat memasang sesaji, dan membakar kemenyan, di manakah pertolonganmu?" keluh warga kampung.


Keadaan kian menyedihkan dalam beberapa minggu kemudian. Warga kampung sudah tak punya daya apapun. Persediaan makanan sudah tak ada lagi, selain mengandalkan pemberian delapan mualaf. Mereka pun mendatangi gubuk di pinggir sungai.


"Kanjeng Syech, Kakang Donosari, kami meminta izin untuk mengambil air di kolam Rejo ini. Apa boleh?" kata Lurah kampung, dengan kondisi yang cukup menyedihkan.


"Silakan, Bapak-bapak. Rejo malah sudah membuat beberapa lokasi yang berbeda, untuk mandi dan untuk diambil airnya. Ikannya juga boleh Bapak Ibu pancing. Silakan. Ini kolam memang disiapkan untuk keperluan paceklik. Jadi, Bapak-bapak semua jangan sungkan," kata Donosari.


Syech Jumadil Kubro tersenyum.


Tidak ada kata-kata mengumpat atau menghina dari delapan warga mualaf.


Mereka malahan kian dermawan memberikan persediaan daging keringnya.


Tentu saja, ini membuat warga kampung yang terhimpit ini bersimpati.


"Kakang, saya melihat Kakang sangat berubah setelah mengikuti Kakang Donosari. Apa benar yang diajarkan Kakang Donosari itu benar?" tanya seseorang kepada satu mualaf.


"Insya Allah benar. Yang diajarkan adalah agama Islam, satu agama yang benar, satu agama yang akan membawa kita kepada keridlaan Allah swt, dan agama yang membawa kita kepada surga sebenarnya."


"Bagaimana caranya, agar saya bisa mengikuti agama Islam?"


"Membaca kalimat syahadat."


"Sekarang, bisa?"


Maka, sang mualaf ini menuntun membaca syahadat, teramasuk melafalkan artinya dalam bahasa Jawa.


"Kakang sekarang sudah menjadi seorang muslim. Untuk selanjutnya, mari kita setiap malam berkumpul di gubuk pinggir sungai, untuk mendapatkan pelajaran dari Kakang Donosari atau Kanjeng Syech Jumadil Kubro."


Peristiwa ini tidak cukup sekali. Mereka yang putus asa menunggu pertolongan Dewa, akhirnya memutuskan berpindah agama menjadi mualaf. Jadi, dalam waktu yang relatif singkat, penganut agama Islam di desa Jurang Jero semakin banyak.


Mereka juga aktif mengikuti pelajaran agama yang diajarkan Kanjeng Syech Jumadil Kubro atau Donosari.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa mengerjakan salat jumat dengan jumlah yang ideal. Saudara seagama kita, jumlahnya sudah lebih dari 40 orang," tutur Syech Jumadil Kubro.


Mereka akhirnya membangun masjid di bekas gubuk pinggir sungai.


Usai masjid jadi, Syech Jumadil Kubro malah mengajak warga mualaf ini, untuk pergi ke tanah lapang, untuk melaksanakan salat istisqa.


"Bapak-bapak, kita akan melaksanakan salat istisqa, yaitu salat meminta hujan kepada Allah swt. Semoga Allah mengabulkan permohonan kita," ajak Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Allahu Akbar! Usai melaksanakan salat istisqa, bahkan para warga belum beranjak dari tempat duduknya, mendung mulai berkumpul tepat di atas mereka, dan menutupi sinar matahari.


Tak lama, rintik hujan turun. Kian lama kian deras.


"Allahu Akbar!" pekik mereka.


Perlahan, satu per satu dari makmum ini menangis sesegukan.


Mereka perpelukan, dan akhirnya semua sujud dalam guyuran hujan.


Beberapa hari setelahnya, air kali mulai berangsur jernih lagi.


"Donosari, agaknya, kami akan melanjutkan perjalanan lagi. Engkau tinggal di sini, dan lakukan dakwah hingga seluruh warga kampung Jurang Jero menjadi muslim. Pesan saya, jadilah pemimpin yang amanah. Ingatlah, bahwa kenikmatan duniawi hanya sementara sedangkan akhirat selamanya."


"Kanjeng Syech dan Rejo mau ke mana?"


"Saya mau mengantar Rejo mencari Kakang Subakir."


"Untuk apa?"


"Ini nih, Rejo ingin menjadi muridnya."


Donosari kaget.


Bukankah ilmu dari Kanjeng Syech Jumadil Kubro, juga tak kalah hebat dibandingkan Kanjeng Syech Subakir.


Donosari memberanikan diri bertanya.


"Bukankah, Kanjeng Syech bisa mengajari Rejo? Kenapa harus mencari Kanjeng Syech Subakir?"


"Itu keinginan Rejo sendiri. Bahkan, sebelumnya, Rejo sudah bertemu dengan Adi Syech Belabelu. Kalau memang harus diajari, semestinya Rejo sudah diajari oleh Adi Syech Belabelu duluan. Bukankah begitu?"


Rejo hanya menunduk. Tak berani berbicara. Padahal, dalam hati Rejo terbersit satu keinginan berguru kepada siapa pun, termasuk kepada Syech Jumadil Kubro.


"Kenapa saya dan Rejo ke sini? Karena saya ingin mengajak Rejo melaksanakan salat Jumat. Setelah sekian lama, barulah kami benar-benar bisa melaksanakan salat Jumat secara lengkap. Alhamdulillah," kata Syech Jumadil Kubro.


Donosari agak linglung. Maklum, beberapa bulan terakhir, dia mempunyai teman. Yaitu Rejo yang masih belia dan sang guru, Kanjeng Syech Jumadil Kubro.


Sebentar lagi, dia akan sendiri mengemban tugas yang ckup berat, yaitu membimbing umat.


"Baiklah. Ayo kita bertiga pergi menemui gondoruwo yang dulu itu," ajak Syech Jumadil Kubro.


Mereka berjalan beriringan menuju satu pohon besar, di mana gondoruwo tinggal.


"Hei Resi gadungan, kaluarlah!" teriak Syech Jumadil Kubro.


Dari balik pohon besar itu, perlahan muncul sosok tua renta berpakaian resi.


"Tunjukkan wajah aslimu."


Perlahan, sosok resi berubah menjadi mahluk berbulu lebat dengan ketinggian sekitaran 2 meteran.


"Saya dan Rejo akan pergi. Yang tinggal di sini adalah Donosari. Apa engkau tidak terima, kalau Islam mulai dianut warga Jurang Jero?"


Gondoruwo itu menunjukkan wajah tak senang.


"Tidak. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi, jika engkau mengganggu manusia, maka engkau akan menghadapi Donosari. Bukankah engkau pernah dikalahkan Donosari, ketika engkau merundukkan bambu?"

__ADS_1


"Engkau pergilah. Tapi, selamanya aku tak akan diam. Akan aku goda dan habisi manusia itu satu per satu, hingga mereka menganut agama Hindu lagi. Yang aku pentingkan bukan agamanya, itu terserah manusia, tapi mereka mau membakar kemenyan dan memasang sesaji lagi," ancam Gondoruwo.


"Daripada ancam-ancam seperti itu, lebih baik bertarung sekalian saja. Kalau engkau berani, hadapilah Rejo. Anak yang masih muda itu," tantang Syech Jumadil Kubro.


__ADS_2