BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 5g: Sehari, Sunan Giri Menikah 2 Kali


__ADS_3

Dipilih, pernikahan keduanya digelar di Bungkul, dengan hari yang sudah ditentukan.


Sunan Ampel pun menyampaikan kesepakatan ini kepada Umi Nyai Karimah.


Di mana Ainul Yaqin diminta untuk berangkat bersama ibunya, Nyi Ageng Pinatih, dan ditemani Umi Nyai Karimah. Sedangkan Sunan Ampel sendiri akan berangkat dari Ampel Denta dengan mengajak seluruh santrinya.


Adapun Sunan Ribang Kuning diberi tugas mengajak Murtosiyah ke Bungkul, dengan pakaian terbagus dan riasan wajah tercantik.


Di saat waktunya tiba, Kanjeng Sunan Ampel dan seluruh santri Ampel Denta sudah datang duluan. Mereka bahu membahu membantu penduduk Bungkul untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan, termasuk hidangannya.


Wardah, yang menjadi mempelai putri, dipingit dalam ruangan. Dia sudah menjalani mandi kembang, ratus, luluran, dan didandani serta dirias sangat cantik. Dia terlihat bingung. Dia tak tahu, apakah bahagia ataukah sedih. Bahagia, karena dia bakal mempunyai suami, sedih karena bakal berpisah dengan sahabatnya, Murtosiyah.


Agak siangan, rombongan Nyi Ageng Pinatih hadir. Tampak Ainul Yaqin dengan dandanan yang sangat gagah. Mereka disambut di paseban istana Bungkul. Di sinilah akan digelar ijab-qabul Ainun Yaqin.


Disusul kemudian kedatangan rombongan Sunan Ribang Kuning dengan Murtosiyah yang sudah didandani sangat cantik. Sunan Ribang Kuning pun duduk bersama Sunan Ampel dan Sunan Bungkul


Usai bersalaman dengan semuanya, Murtosiyah segera menuju ke kamar sahabatnya, Wardah.


"Wardah, sebentar lagi, engkau akan menjadi istri. Jangan lupakan saya," kata Murtosiyah.


"Saya tak akan melupakan kamu, selamanya. Toh, katanya, kamu juga sebentar lagi akan menikah," jawab Murtosiyah.


Beberapa ibu-ibu yang menemani mereka di kamar, melihat antara Wardah dan Murtosiyah sekan saudara. Keduanya cantik jelita.


Bahkan, orang-orang tak akan percaya, kalau dikatakan bahwa mereka bukan saudara. Lebih-lebih dengan dandanan dan riasan yang sangat anggun seperti ini. Bajunya pun, mereka telah sepakat untuk memakai baju dengan warna sama, yaitu hijau muda.


Agaknya, dua putri bersahabat ini sudah menyiapkan semuanya. Mereka ingin, saat menikah, atau salahsatunya menikah, memakai gaun yang sama.


Ainul Yaqin sendiri tak tahu, harus berkata apa. Dia hanya pasrah kepada Allah, dan akan menuruti semua titah sang guru, Sunan Ampel.


"Ainul Yaqin, saya sudah berbicara dengan Abah Bungkul. Dan memang kami sepakat untuk menikahkah putri kami kepadamu. Kami juga sepakat bahwa yang akan menikahkan putrinya dulu adalah Abah Bungkul, kemudian baru saya yang akan menikahkan. Jadi, Wardah akan menjadi istri tua, dan Murtosiyah menjadi isri muda."


Ainul Yaqin menunduk.


Tapi, hampir seluruh santri Ampel yang hadir terjingkat. Mereka tak tahu, bahwa teman mengaji mereka akan menjalani dua proses pernikahan di waktu yang sama. Dan dua istri Ainul Yaqin juga bukan orang sembarangan.


Akhirnya, prosesi ijab qabul pun dilaksanakan. Setelah kedua saksi ditentukan, Kanjeng Sunan Bungkul menikahkan putrinya, Wardah dengan Ainul Yaqin.


Dilanjutkan dengan Kanjeng Sunan Ampel menikahkan putrinya, Murtosiyah, dengan Ainul Yaqin.


Tentu saja, hati Nyi Ageng Pinatih sangat berbunga, karena putra angkatnya langsung mempersunting dua putri dari tokoh pilihan.


Dan kabar telah berlangsungnya akad nikah ini, disampaikan kepada Wardah, yang ditemani Murtosiyah di dalam kamar. Wardah hanya menunggu perintah untuk keluar dan dipertemukan dengan suaminya. Sedangkan Wardah sendiri, minta ditemani dan diantar Murtosiyah, sebagai sahabat karibnya.


"Ngger. Apa engkau telah siap untuk melihat istrimu, yang tuli, bisu, buta, dan lumpuh?"


Dengan malu-malu, Ainul Yaqin mengangguk.


Lalu, Kanjeng Sunan Bungkul memberi isyarat, agar Wardah dijemput dari kamarnya.


Rombongan pengantin putri berarak menuju ke Istana Bungkul.


Ainul Yaqin berdebar. Dia tak berani melihat ke arah arak-arakan pengantin itu.


Semua santri Ampel terheran-heran, sebab mereka tak menemukan sosok perempuan yang buta, atau berjalan tertatih. Mereka melihat, dua putri begandengan tangan, yang sama-sama cantik, dan berkebaya warna sama, hijau.

__ADS_1


Wardah kemudian di suruh duduk disamping Sunan Bungkul, tepat di depan Ainul Yaqin yang menunduk dalam-dalam.


Wardah menunduk. Tangannya masih menggenggam tangan Murtosiyah. Keringat dingin membasahi tangan Wardah.


"Nak Ainul Yaqin, sekarang, lihatlah istrimu, yang buta, tuli, bisu dan lumpuh itu? Silakan," tutur Kanjeng Sunan Bungkul.


Begitu melihat ke arah wanita yang duduk di depannya, sambil menunduk, Ainul Yaqin langsung terjingkat.


"Aaa....bah, bukankah istri saya itu buta, tuli, bisu, lumpuh?" tanya Ainul Yaqin memberanikan diri.


Wardah tetap menunduk.


"Ya... di samping saya ini adalah istrimu. Dialah Wardah."


"Tapi, kok sepertinya tidak buta? Tidak tuli, tidak bisu, tidak lumpuh?"


Sunan Bungkul tersenyum. Melihat ke arah Sunan Ampel.


"Begitu engkau datang kepada saya, sambil membawa delima yang telah engkau gigit, saya teringat kisah Ayahanda Abu Hanifah An-Numan, yaitu Tsabit bin Ibrahim, di tahun-tahun awal Hijriyah. Berasal dari ide itu, saya karang bahwa putri saya, Wardah, adalah sosok yang tuli, bisu, buta dan lumpuh. Selain untuk melihat kesungguhanmu meminta maaf. Ternyata engkau benar-benar ingin meminta maaf. Nah, inilah istrimu, tidak buta, tidak tuli, tidak bisu, dan tidak lumpuh. Silakan engkau bawa. Semoga kalian diberi Allah swt putra seperti halnya Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit," kata Sunan Bungkul.


Ainul Yaqin menunduk lagi.


"Wardah, angkat wajahmu, dan lihatlah suamimu. Ayo, engkau salim dan cium tangannya, bagian luar dan dalam," perintah Sunan Bungkul kepada Wardah.


Sementara, Murtosiyah yang merasa hanya menemani, sempat melirik ke arah Ainul Yaqin.


"Sungguh gagah dan tampan suami sahabat saya ini. Semoga mempunyai akhlaq yang indah pula," kata hati Murtosiyah.


"Bagaimana dengan calon suami saya? Apa juga segagah suami Wardah ini?"


Pipinya bersemu merah, karena malu.


Dilihatnya sosok pemuda tegap, gagah, dan sangat tampan.


Wardah malu, dan tak segera beranjak dari duduknya. Apalagi meraih tangan Ainul Qaqin untuk bersalaman dan mencium tangannya luar dan dalam.


Murtosiyah pun mendorong punggung Wardah, agar segera beranjak dari duduk dan bersalaman dengan suaminya.


Sejenak kemudian, Sunan Bungkul memegang tangan Ainul Yaqin untuk dijulurkan kepada Wardah, bersalaman dan dicium tangannya. Lalu, keduanya merunduk lagi.


Santri Ampel ini pun terkesima dengan kecantikan Wardah.


Sejenak kemudian, mereka bertanya-tanya, seperti apa wajah Murtosiyah, sang putri dari Sunan Ampel.


"Walaupun putrinya Kanjeng Sunan, kami tak pernah bertemu. Karena sejak bayi sudah ikut Mbahnya, Sunan Kibang Kuning. Lebih cantik mana Murtosiyah dengan Wardah?"


Kanjeng Sunan Ampel segera menimpali.


"Ainul Yaqin, saya sudah menikahkan kamu dengan putri saya. Murtosiyah. Sekarang lihatlah istri keduamu," kata Sunan Ampel.


"Di samping Wardah, adalah Murtosiyah, istri keduamu."


Murtosiyah dan Wardah langsung terjingkat kaget.


Mulutnya ternganga. Matanya terbelalak saling berpandangan.

__ADS_1


Reaksi Ainul Yaqin, tak kalah serunya.


Saking kagetnya, dia langsung terjengkang dan pingsan.


Para santri Ampel dan undangan, langsung geger.


Mereka berusaha membuat Ainul Yaqin tersadar dari pingsannya.


Wardah dan Murtosiyah lalu berpelukan.


Mereka berdua menangis sejadi-jadinya.


Air mata yang mengucur deras, menjadikan riasan mereka amburadul.


Mereka tetap berpelukan sangat erat.


"Ya Allah, terima kasih Ya Allah, tidak Panjenengan pisahkan saya dengan sahabat," kata mereka sambil terus berpelukan dan menangis.


Suasana menjadi sangat haru.


Sunan Ampel dan Sunan Bungkul tersenyum.


Ainul Yaqin tak segera sadar dari pingsannya.


Semua santri Ampel sepakat bahwa Ainul Yaqin sangat beruntung, karena dalam sehari menikah dua kali, dan istri kedua-duanya, sangat cantik. Keduanya putri tokoh terbaik.


Suasana cukup hening, sembari menunggu Ainul Yaqin siuman dari pingsannya.


Begitu siuman, semua berucap takbir.


Namun, begitu melihat dua istrinya, masih berpelukan, dan menangis.


Ainul Yaqin pingsan lagi.


Barulah, setelah siuman yang kedua, Ainul Yaqin bisa menguasai hatinya.


"Wardah, dan Mutosiyah, salaman sama suamimu, cium tangannya," perintah Sunan Ampel.


Kedua sahabat ini, sambil tetap bergandengan tangan, beringsut menuju Ainul Yaqin, satu per satu menyalami satu suami ini, dan dicium tangannya luar dan dalam.


"Ainul Yaqin, dengan mempunyai istri ini, saya nyatakan, engkau telah menyelesaikan belajarmu di Pesantren Ampel. Saya ingin, engkau berdakwah. Untuk lokasinya, ada baiknya kita tanya kepada Kanjeng Syech Maulana Malik Ibrohim, yang hadir di sini. Tetapi, sebelumnya, mohon Kanjeng Syech berkenan mendoakan keluarga baru ini," tutur Sunan Ampel, sambil melihat ke arah Syech Maulana Malik Ibrohim.


"Alhamdulillah, saya berdoa, semoga Ainul Yaqin besama dua istrinya yang cantik-cantik ini, ditakdirkan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah," kata Syech Maulana Malik Ibrohim.


Dan doa pun dipanjatkan kehadirat Allah swt, dan diamini seluruh yang hadir.


"Saya tahu dari Ananda Sunan Ampel, bahwa pembelajaran Ainul Yaqin di Pesantren Ampel sudah cukup, dan dirasa sudah waktunya kembali ke masyarakat. Untuk itulah, saya meminta petunjuk kepada Allah swt, melalui salat istikharah. Isyarat yang muncul dalam mimpi saya, terlihat sebuah gunung kapur. Dan Insya Allah gunung kapur itu tak jauh dari Gresik. Yaitu gunung Giri. Jika saya diminta saran, di manakah Ainul Yaqin berdakwah, saya jawab, di Gunung Giri. Bagaimana Ananda Sunan Ampel, sebagai guru?" kata Syech Maulana Malik Ibrohim.


"Kita tahu, daerah Gunung Giri masih belum terjamah. Sangat angker karena dipenuhi setan-setan seantero Tanah Jawa, untuk melakukan rencana menggoda manusia. Gunung Giri juga digunakan untuk orang-orang bertapa, agar bisa mengikat perjanjian dengan setan. Ini tentu tak mudah bagi orang yang ilmunya belum sempurna. Saya yakin, Ainul Yaqin, dengan ilmu yang dikuasainya, mampu menjadikan kawasan Gunung Giri, dari angker menjadi Islam," tutur Kanjeng Syech Maulana Malik Ibrohim.


Mendengar usulan membuka pesantren di Gunung Giri ini, Nyi Ageng Pinatih wajahnya berseri, sebab, anak angkatnya ini, tak jauh-jauh darinya. Meski dia tahu, Gunung Giri sangat angker. Bahkan, saking angkernya, siapa mendekat, akan mati.


Nyi Ageng Pinatih menatap ke arah Sunan Ampel, dan berharap, semoga Ainul Yaqin benar-benar diizinkan membuka pesantren di Gunung Giri.


Sunan Ampel tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2