BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 3c: Titisan Dewa Shiwa


__ADS_3

"Mohon maaf Kanjeng, kami semua yang hadir di sini, adalah orang yang melihat pemuda titisan dewa, menghormat kepada Panjenengan. Jika sang titisan dewa saja menghormat kepada Panjenengan, berarti Panjenengan adalah dewa."


"Oh...., jadi kalian semua ini tadi melihat peristiwa di Kolam Segaran, di mana anak muda itu bertarung melawan pertapa?"


"Benar, Kanjeng."


"Ohhhh...."


Orang-orang terdiam dan menunduk.


Kanjeng Syech Jumadil Kubro melihat satu per satu orang yang datang kepadanya.


"Jadi, kalian melihat saat anak muda itu melakukan salat?"


"Apa gerakan yang aneh itu?"


"Benar. Itu namanya salat."


"Kata sang Titisan Dewa, itu adalah menyembah Maha Dewa. Benarkah seperti itu?"


"Benar. Dialah Allah, Tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia menguasai Anda semua, saya, dan seluruh isi alam ini."


"Tapi, bukankah Anda tadi disembah oleh Sang Tititan Dewa?"


"Tidak. Sama sekali tidak. Menyembah tidak seperti itu. Itu hanya menghormat. Sembahyang secara Islam, ada tata caranya. Persis seperti yang kalian lihat saat dikerjakan oleh anak muda tadi."


Semua terdiam.


"Trus, kalau saya bukan dewa, apa yang akan kalian lakukan? Saya jelas-jelas tidak bisa memberikan keselamatan kepada kalian, sebab, saya hanya manusia, dan saya juga meminta keselamatan kepada Allah. Tuhan seru sekalian alam."


Semua terdiam.


"Tetapi, kalau memang bukan titisan dewa, dan Kanjeng bukan dewa, ke napa pemuda di pinggir kolam itu begitu sakti?"


"Bukankah kalian dengar sendiri, dia itu murid dari resi Swadaraya dan juga murid dari Resi Hitu Dawiya. Karenanya ilmu kanoragannya sangat bagus. Dia ditempa sejak dari kecil hingga tumbuh menjadi pemuda. Apa itu kurang?"


Semua terdiam lagi.


"Sudahlah. Saya dan dia manusia biasa seperti kalian. Tak lebih," tandas Kanjeng Syech Jumadil Kubro, lalu mengajak mereka semua memasuki rumahnya, untuk diajak makan.


Kebetulan saat itu disuguhkan masakan dengan bahan dasar daging sapi.


"Daging apa ini?"


"Sapi."


"bagaimana Panjenengan mendapatkan sapi?"


"Berburu."


"Kami tak makan sapi, tapi makan ****."


"Sebaliknya, di Islam, tak makan **** tapi makan sapi. Tapi, saya tak mempunyai hidangan lain, selain ini."


"Mohon maaf kanjeng, kami tak akan makan."


"Baiklah. Tetapi, kalau buah, apa kalian mau makan?"


"Mau, kanjeng."

__ADS_1


Lalu, hidangan masakan daging sapi itu, ditutup kain oleh Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Tak lama, kain dibuka.


Masakan daging sapi itu sudah berganti dengan buah berbagai rupa.


Semua tercengang.


Bahkan sebagian dari buah itu, bukan musimnya.


Semua kian menunduk takut, dan kian meyakini bahwa di depannya adalah Dewa yang menjelma menjadi manusia.


"Saya tahu, kalian pasti berfikir bahwa saya adalah Dewa yang menjelma menjadi manusia. Betul kan?"


Warga yang ada di situ, kian takut. Dan semakin kental pendapat mereka, bahwa di depannya adalah Dewa yang menjelma, sebab bisa membaca fikiran dan hati.


"Saya tidak membaca hati kalian, tapi dari raut muka yang ketakutan seperti itu, jelas bahwa, kalian mengira saya adalah dewa."


Orang-orang hanya merunduk takut.


"Silakan dimakan buahnya."


Tak ada yang berani mengambil.


"Silakan dimakan buahnya."


Dua kali Syech Jumadil Kubro menyuruh tamunya untuk mengambil hidangan.


Tetap tidak ada yang berani mengambil.


"Tolong hormati tuan rumah, silakan mengambil buahnya."


Barulah setelah disuruh yang ketiga, orang-orang ini berani mengulurkan tangan untuk mengambil buah.


Tetapi, mereka tak memakannya, hanya memegang buah itu di tangan kanan.


"Kenapa tidak dimakan?"


"Kenapa tidak dimakan?"


Usai ditanya dua kali, barulah satu orang berani berbicara.


"Anu, Kanjeng. Buah ini tak akan kami makan, tapi akan kami taruh di pelinggian, karena buah ini buah surga."


"Hah?"


"Mohon maaf, Kanjeng."


"Tidak apa-apa. Terserah kalianlah. Tapi, saya beri tahu, buah itu adalah buah biasa. Kalau tidak kalian makan dalam beberapa hari, akan membusuk dan berulat. Tidak ada buah sakti, tidak ada buah dari surga."


"Bukankah, dalam wadah tadi adalah daging sapi, setelah Kanjeng tutup, berubah menjadi buah. Bukankah buah itu didatangkan dari surga."


"Tidak. Buah itu berasal dari hutan di Jawa ini. Dan hanya karena ridlo Allah swt belaka, buah itu bisa hadir di sini. Sebab, saya ingin menjamu kalian, sebagai tamu saya. Itu saja," tutur Syech Jumadil Kubro.


"Terima kasih Kanjeng, mohon maaf, tetap tidak kami makan. Tetap akan kami taruh di Pelinggian," tutur satu orang mewakili teman-temannya.


"Terserah kalian. Yang jelas, kalian agaknya tak menghormati tuan rumah. Saya persilakan kalian makan hidangan suguhan saya, malah dibawa pulang," gumam Syech Jumadil Kubro, seakan menggerutu.


Beberapa orang ketakutan, dan langsung menggigit buah yang sedari tadi dipegang.


"Nah, seperti itu bagus. Silakan habiskan."

__ADS_1


Karena ada beberapa orang yang memakan buah, maka lainnya juga ikut-ikutan memakan buah.


Tetapi, begitu buah habis dimakan, mereka segera mengambil lagi buah dari wadahnya.


Kali ini, mereka tak memakannya. Hanya digenggam.


"Terserah kalian, yang jelas itu buah biasa. Jika tidak kalian makan dalam beberapa hari akan membusuk dan ada ulatnya."


Semua yang hadir menunduk.


"Jika itu memang buah dari surga, tentu tak bisa membusuk. Atau sebaliknya, jika saya ini dewa, tentu buah itu juga tak membusuk. Tapi, silakan nanti dibuktikan, saya yakin buah itu akan membusuk," tandas Syech Jumadil Kubro.


Tak lama orang-orang pun pamit.


Orang-orang pun menempatkan buah yang diberi Syech Jumadil Kubro itu di pelinggian.


Mereka meyakini bahwa Syech Jumadil Kubro adalah dewa sedangkan buah yang dibawa berasal dari surga.


Syech Jumadil Kubro yang semestinya hanya sebentar mampir di tlatah Majapahit, memutuskan untuk berdiam lebih lama.


Sebab dia meyakini, orang-orang yang pernah bertamu ke rumahnya, pasti akan kembali lagi.


Ternyata memang benar. Secara berkala, mereka datang bertamu lagi. Bahkan, mereka juga mengajak tetangga atau keluarganya.


Syech Jumadil Kubro secara perlahan memasukkan unsur agama Islam dalam setiap cerita.


Memang cukup sulit untuk mengajak keseluruhan memeluk agama Islam. Dari tamu-tamu yang datang, hanya lima orang saja yang menerima hidayah Islam, dan mereka memeluk agama Islam beserta istri dan anaknya.


Kelima orang ini, akhirnya setiap hari datang ke rumah Syech Jumadil Kubro untuk mendapatkan pengajaran tentang Agama Islam.


"Coba kalian lihat di Kolam Segaran, apa yang dilakukan oleh pemuda Rejo?" perintah Syech Jumadil Kubro.


Memang sengaja Syech Jumadil Kubro tak mendatangi Kolam Segaran, dikarenakan takut akan mengganggu Rejo, atau orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Anak muda itu sekarang sudah dianggap gila oleh orang-orang di sekitaran Kolam Segaran. Sebab, setiap hari, kata orang-orang, kerjanya seperti orang menggali tanah, sambil berendam di pojokan kolam Segaran," kata Condro Mowo, satu murid Syech Jumadil Kubro, usai melihat kondisi di sekitaran Kolam Segaran.


"Alhamdulillah. Dia sudah mengerti apa yang harus dilakukan."


"Kanjeng Syech, sebenarnya, siapa sih pemuda bernama Rejo itu?"


"Dia pemuda yang kami siapkan untuk menjadi penerus perjuangan kami, para pendakwah di tanah Jawa ini. Selain ilmunya didapat dari dua resi tersakti di tanah Jawa ini, Rejo menyimpan bakat luar biasa. Kami sepakat untuk mengawal dia untuk menjadi sosok yang pilitanding."


Lima murid Syech Jumadil Kubro terkesima.


"Saya berdoa, semoga dia bisa bertemu dengan keponakan saya, Raden Rakhmat. Usianya mungkin hanya terpaut tak terlalu jauh, tapi lebih tua Rejo."


"Jadi, pemuda Rejo itu pemuda pilihan?"


"Benar. Itu sudah keputusan kami, para pendakwah, untuk menyiapkan Rejo menjadi pendakwah yang militan."


Orang-orang pun terhenyak kaget.


"Memang pantas pemuda itu menjadi orang pilihan. Di usia yang begitu muda, sudah mempunyai kesaktian luar biasa," gumam satu mualaf.


"Kanjeng Syech, trus, kenapa air Kolam Segaran berubah warna. Awalnya berwarna biru, sekarang warnanya merah?" tanya mualaf lainnya.


"Perubahan air kolam itu, tak lepas dari tingkah polah Rejo sendiri. Dia datang ke istana Majapahit, dan menantang tanding para pendekar kerajaan. Dan yang dihadapi Rejo ternyata adalah Raja Wikramawardhana yang sakti itu. Akhirnya, sang manantang bertarung, bukan dengan kekuatan fisik atau adu kesaktian, tapi merubah warna air Kolam Segaran. Rejo diminta mengembalikan menjadi jernih. Jadi, itu memang pertarungan Rejo," beber Syech Jumadil Kubro.


"Kanjeng Syech kok tahu?"

__ADS_1


"Ya, karena Raja Wikramawardhana bercerita sendiri kepada saya, sambil tersenyum geli. Saya salahsatu sahabat Raja kalian.Tapi beliau tak pernah cerita, bahkan mengaku tidak kenal saya.."


Semua manggut-manggut.


__ADS_2