BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 1c: Pelajaran Pohon Waru Gosong


__ADS_3

Sungai telah kembali pulih mengalirkan air jernih, rumput-rumput juga mulai tumbuh. Beberapa hewan mulai berani mendekati sungai kecil untuk minum. Hanya saja, masih tampak beberapa tempat terlihat gosong, meski terus-terusan dikikis air hujan. Ini tandanya bagian itu terbakar sangat hebat.


Dalam kondisi letih tanpa makan, Rejo masih duduk linglung di dekat pohon waru.


Tak sengaja, matanya menatap satu bagian dari batang pohon waru yang gosong. Ada calon batang menyeruak di antara bagian gosong itu. Sudah muncul satu daun sangat kecil berwarna hijau muda.


Entah karena apa, atau mungkin karena warna hijau muda di antara warna warna gosong hitam, membuat Rejo menatapnya lamat-lamat. Sangat lama, sampai matanya terasa nanar.


Rejo belum menemukan jawabnya.


Bahkan beberapa hari setelahnya, tatapan matanya tak lepas dari pucuk baru di pohon waru itu. Pucuk yang semula sangat kecil ini, hari demi hari sudah menunjukkan perkembangannya. Sudah muncul satu daun muda yang sudah berbentuk. Calon batang juga sudah mulai nampak.



Kian hari kian tumbuh besar. Rejo belum juga beranjak. Setidaknya, sudah berminggu-minggu perutnya belum terisi makanan. Sudah berminggu-minggu itu pula, tubuhnya ditimpa hujan, kedinginan di waktu malam, dan kadang panas matahari menerpa.


Tingkat kesadaran Rejo sudah menurun drastis. Pandangannya mulai kabur.


Di saat itulah, sepertinya dia mendapat ilham.


Tubuhnya seakan mendapat sengatan listrik sangat besar.


Tubuhnya terjingkat bangun, karena sangat gembira.


"Duh Sang Hyang Widi, saya telah menemukan. Saya telah menemukan," teriak Rejo, sambil berjingkrak-jingkrak.


Karena memang kondisi fisiknya sangat lemah, kakinya tak mampu menahan bobot tubuhnya.


Tubuh Rejo jatuh berguling-guling.


Rejo berusaha merangkak menuju ke sungai kecil.


"Saya harus sehat. Karena kalau saya tidak sehat, maka saya tak mungkin bisa menjadi seperti pohon waru," gumam dia sendirian.


Diminumnya air sungai secukupnya.


Lalu, dia mulai merangkak ke berbagai arah secara perlahan-lahan, untuk mencari tumbuhan yang bisa dimakan.


"Saya harus sehat. Saya harus sehat."


Sejak itu, Rejo tak hanya duduk tepekur. Tapi, dia berusaha memulihkan kondisinya. Dia ingin secepatnya menjadi sehat, seakan berkejaran dengan pertumbuhan pohon waru.


Setelah satu minggu berupaya memulihkan kesehatan, kini wajah Rejo mulai bersinar dan segar. Dia sudah bisa menangkap ikan-ikan kecil di kali untuk dimakan. Dia juga bisa berburu kelinci atau kambing gunnung untuk persediaan makanan.


Meski dia tak melatih sama sekali ilmunya, Rejo yakin, dia sudah mendapatkan jawaban kenapa dia berada di tempat ini. Seakan, Rejo tak sabar bertemu dengan Syech Belabelu untuk menyeritakan apa yang dia dapat. Dan, dia sangat yakin, apa yang dipelajari kali ini, adalah benar adanya.


Berhari-hari ditunggu, Syech Belabelu belum lagi datang. Rejo menghabiskan waktu untuk mengamati pohon waru. Batang yang dulu gosong, kini telah tumbuh dahan-dahan baru, dan mulai lebat. Rejo sudah bisa berteduh di bawahnya.


Juga pohon-pohon yang lain, telah tumbuh. Rumput telah lebat, karena hampir setiap hari diguyur hujan. Kesan gosong dan meranggas sudah menghilang, yang ada sekarang hamparan hijau sejauh mata memandang.


Ketika beberapa hari tak lagi turun hujan, tiba-tiba Syech Belabelu muncul dari kejauhan.


Kali ini, dia sudah tersenyum lebar, dan tertawa terbahak-bahak.


"Ha ha ha, engkau telah menemukan jawabnya. Sungguh hebat engkau anak muda. Belum tentu guru sufi setingkatku bisa menemukan jawabnya begitu cepat. Tapi, kami lebih banyak berkarya dan bertindak, sedangkan seusia kamu, lebih banyak berfikir."


Rejo sangat gembira, dan segera duduk bersimpuh, menjura hormat. Meski Syech Belabelu masih jauh.


"Rejo, kalau melihat dari segarnya dirimu, agaknya engkau sudah mendapatkan jawabnya. Coba ceritakan kepadaku."


"Begini Kanjeng Syech. Saya menemukan pelajaran hidup di sini. Yaitu dari pohon waru."


"Ada apa dengan pohon waru?"


"Saat itu, pohon waru gosong dan mengering semua, karena terkena api dan pukulan saya. Saat itu, seakan-akan pohon waru itu mati," kata Rejo sambil melihat pohon waru yang tumbuh rimbun.


"Lalu?"


"Meski tubuhnya gosong, tiada masalah, selama akar dari pohon itu tetap hidup. Maka, perlahan demi perlahan, pohon waru berupaya untuk tumbuh. Akhirnya, tunas mampu menembus di sekitaran gosong, untuk menumbuhkan daun-daunnya. Dengan daun-daun itu, pohon waru bisa tumbuh lebih subur. Hingga seperti sekarang ini."


"Pelajaran apa yang kamu dapatkan?"


"Untuk menjadi orang baik, yang paling penting adalah berangkat dari hati. Jika hatinya bisa menerima perubahan, maka hati orang itu tidaklah mati, tidaklah mengeras, tidaklah membatu. Sama seperti pohon waru, yaitu akar. Selama akar masih hidup dan segar, maka, akan ada harapan untuk tumbuh."


"Engkau benar. Lalu apa lagi?"


"Pada batang pohon waru yang gosong, ibaratnya kita sebagai manusia yang tampak di permukaan. Batang pohon waru itu ibaratnya perbuatan kita. Di sini adalah perbuatan saya. Segosong apapun batang pohon waru, tetap ada harapan untuk tumbuh, selama akar masih segar. Seburuk apapun perbuatan kita, kalau hati kita melunak, maka ada harapan bagi kita untuk menjadi pribadi yang baik. Bahkan kita bisa menjadi jauh lebih baik, layaknya pohon waru yang sekarang, jauh lebih subur daripada sebelum gosong."


"Alhamdulillah, engkau benar. Lalu ada pelajaran apa lagi?"


"Dari daun pohon waru."


"Ada apa dengan daun waru?"


"Ketika batang pohon gosong, yang bisa menembus adalah pucuk daun muda yang sangat kecil. Calon daun ini seakan ringkih dan seakan tak mampu bertahan. Tapi nyatanya, karena sifat lembut dan kecilnya itu, calon daun itu bisa menembus dari dalam batang yang keras, perlahan demi perlahan bisa menembus bagian yang gosong. Ketika sudah di luar, barulah dia merekah, dan membentuk daun waru yang ukurannya semakin besar dan besar."


"Alhamdulillah. Engkau benar. Apa artinya?"


"Untuk menjadi pribadi baik, dibutuhkan perubahan yang kecil dulu. Saya yang dikenal sebagai pembunuh berdarah dingin, tidak mungkin serta merta berubah menjadi sosok resi. Segelap apapun perbuatan kita, selama ada benih kebaikan yang terus tumbuh, maka sangat mungkin menjadi baik, selama benih itu dijaga untuk terus tumbuh."


Syech Belabelu manggut-manggut.


"Perbuatan baik itu memang harus dipupuk sedikit demi sedikit. Nanti dia akan berbuah dengan sendirinya."


Syech Belabelu terus manggut-manggut sambil tersenyum.


"Saya ingin berubah menjadi baik. Maka, saya harus menumbuhkan sifat baik dalam diri saya. Termasuk sifat ingin tetap sehat, maka saya harus makan. Jika sehat, maka saya bisa berfikir jernih, bisa berbuat baik yang lainnya yang membutuhkan tenaga."


"Alhamdulillah. Engkau benar. Berarti, engkau sudah bisa menerima perubahan besar dalam dirimu. Yang semula seperti batang pohon gosong, kini mulai tumbuh benih-benih kebaikan, layaknya daun waru yang menyeruak di antara batang gosong."


Rejo tertunduk.


"Sepanjang hidupmu yang masih seumur jagung ini, engkau telah direncanakan menjadi malaikat pencabut nyawa yang bengis, ganas. Hatimu dijadikan keras, panas, bagai batu. Tujuan hidupmu dijadikan sebagai sosok penghancur dan perusak," kata Syech Belabelu.


Rejo tetap tertunduk.


"Sekarang terserah kepadamu. Yang jelas, ilmu saya dan Syech Subakir, serta para syech-syech yang lain, sangat bertentangan dengan ilmumu. Agama kita juga berbeda. Kalau agama kami, Islam, mengajarkan rahmatan lil alamiin, yaitu menjadi rahmat dan berguna bagi alam semesta, bukan malah merusak alam."


Rejo memberanikan diri berbicara.


"Saya ingin belajar ilmu dari panjenengan, Kanjeng Syech."


"Hmm. Ibaratnya, dalam tubuhmu saat ini sedang mendidih, sedangkan ilmu kami butuh sejuk laksana embun pagi. Bagaimana bisa ketemu?"


Rejo diam.


"Tentunya, sangat tidak mudah untuk belajar dari saya. Tentunya, yang mendidih itu harus didinginkan dulu, baru kemudian dijadikan sejuk."


"Tidakkah bisa digabung?" tanya Rejo memberanikan diri.


Syech Belabelu diam.


"Sebab, ketika saya di bawah asuhan Resi Hitu Dawiya, penasehat agama di Kadipaten Mataram, saya diajari ilmu halus, sedangkan oleh Resi Sadaraya saya diajari ilmu yang keras dan kasar. Nyatanya saya bisa. Tidak mungkinkah saya juga memadukan ilmu yang saya punya ini dengan ilmu dari Panjenengan?"


"Nak Rejo. Ketahuilah, sehebat apapun ilmu yang kamu pelajari, itu hanya untuk tujuan duniawi. Sebenarnya, usiamu belum matang untuk saya ajak berbicara lebih dalam mengenai hidup. Begini nak, jika ilmu yang engkau pelajari hanya berguna untuk kehidupanmu di dunia ini, tetapi, kami berupaya menimba ilmu untuk kehidupan kami di akhirat nanti. Yaitu berdasar syariat agama Islam."


"Mohon maaf Kanjeng Syech, saya benar-benar ingin memelajari ilmu seperti Panjenengan itu."


"Tentunya, ada syaratnya, kamu harus menjadi Islam dulu. Kamu harus menanggalkan agama Hindu."

__ADS_1


Bagi Rejo, dia belum tahu sepenting apakah yang namanya agama itu. Bagi dia, yang penting adalah menguasai ilmu kanoragan tingkat tinggi. Dia ingin menjadi pendekar pilitanding di tanah Jawa.


Karena itu, dia dengan enteng saja mengatakan mau berpindah agama.


"Nak. Engkau belum tahu atau memang tidak mau tahu, bahwa memeluk satu agama itu ada kewajiban dan haknya. Kalau engkau memang ingin beragama, ya tentu harus baik dan taat kepada perintah agama yang engkau peluk itu. Jangan setengah-setengah. Kita saat ini, membicarakan tentang ilmu digdaya. Semua ada lambarannya, seperti akar pohon waru tadi. Selama akar pohon waru masih hidup, maka ada kesempatan bagi pohon waru untuk tumbuh dan terus tumbuh. Jadi, hati yang lembut dan islami, akan menumbuhkan pribadi agung, yang tumbuh dan terus tumbuh."


"Saya siap."


"Benar?"


"Benar, Kanjeng Syech."


"Saya tanya lagi, dan saya perlu penegasan lagi, apa benar?"


"Benar, Kanjeng Syech."


"Sekarang, saya ingatkan. Bahwa sebenarnya, engkau ingin berlatih kepada Kakang Syech Subakir, bukan kepada saya."


Rejo tertegun.


Dia tak bisa ngomong.


"Karena engkau sudah menegaskan ingin belajar? Engkau perlu membaca kalimat syahadat dulu, yaitu pengakuan tiada tuhan selain Allah, dan nabi Muhammad rasul Allah."


Rejo akhirnya membaca kalimat syahadat dengan bimbingan dari Syech Belabelu.


"Nah, karena engkau telah menjadi Islam, maka, ilmumu perlu dikunci."


Rejo diam saja.


Tiba-tiba saja, Syech Belabelu meraih ranting kecil, lalu dipukul-pukulkan ke tubuh Rejo.


Reaksi yang muncul, Rejo kelojotan ke tanah. Dia kesakitan luar biasa.


"Panaaaa...s, panas... panas.......!"


Syech Belabelu membiarkan saja.


Rejo tetap berguling-guling ke sana- ke mari. Akhirnya, Rejo tak sengaja berguling ke arah sungai kecil.


"Cooos.....!"


Bunyi tubuh Rejo ketika menyentuh air.


Ternyata, tubuh Rejo benar-benar panas. Untuk itu, ketika terkena air, air di sekitarnya seakan mendidih.


Uap mengepul dari sekitaran tubuh Rejo, kian lama kian banyak.


Untungnya, kali kecil itu airnya mengalir terus, sehingga tak sampai mendidih. Hanya saja, aliran air setelah melewati tubuh Rejo menjadi hangat.


Rejo merasakan perbedaan suhu antara badannya dengan air, menjadikan dia tambah kesakitan. Tetapi, dia tak ingin kelojotan lagi, karena tak mungkin tengkurap. Dia takut tak bisa bernafas dan tak punya tenaga untuk balik telentang lagi.


Hanya kaki dan tangannya yang digerak-gerakkan sebagai upaya untuk mengurangi rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Rejo juga berupaya keras tak lagi teriak. Dia menggigit bibir bawahnya sendiri.


Syech Belabelu lalu berjongkok di pinggir kali.


"Rejo, coba engkau lawan hawa panas di tubuhmu, dan cobalah tetap bertahan semaksimal mungkin. Dan coba engkau usir panas dari tubuhmu itu, atau engkau simpan di satu tempat dalam tubuhmu, dan tutup rapat-rapat, jangan sampai dibuka lagi," kata Syech Belabelu.


Rejo mendengar tapi tidak cukup bagi dia untuk berkonsentrasi, karena hawa panas dalam tubuhnya tak terkendali.


Syech Belabelu bangkit dan berlalu.


Tinggal Rejo tetap kesakitan luar biasa di dalam kali kecil ini.


Bahkan, seharian dia merasakan panas yang terus bertambah dan bertambah.


Penduduk kampung yang dilewati kali ini, dibuat cukup kaget. Air kali menjadi hangat, dan mereka melihat ada kepulan asap di sekitar pesanggrahan Syech Belabelu.


Mereka takut mendekat akan keganjilan ini.


Tentu saja, hangatnya air kali, dimanfaatkan maksimal oleh penduduk sekitar. Mereka mandi dan mencuci di air hangat. Bahkan, hewan-hewan ternak pun ikut dimandikan.


Hari demi hari, mereka menikmati air kali yang hangat.


Saat yang sama, Rejo berusaha mengendalikan panas tubuhnya sebisa mungkin. Beberapa hari tak makan, tidak menjadikan tubuh Rejo lemas, bahkan dia tak merasa lapar samasekali.


Hanya saja, rasa sakit itu muncul dari hawa panas yang meletup dari dalam tubuh, terkena air kali.


"Saya harus bisa mengandalikan hawa panas dari tubuh ini. Kok bisa ya, tubuh ini menjadi sangat panas," pikir Rejo sendiri.


"Jangan-jangan, ini adalah jenis ilmu yang selama ini saya kuasai. Bukankah, ketika saya berlatih yang muncul adalah guntur, halilintar, petir?"


"Duh betapa ilmu ini sebenarnya menyiksa diriku sendiri. Tapi, bukankah dengan ilmu ini, saya bisa menjadi pendekar pilitanding? Tetapi, bukankah guru saya bisa dikalahkan Syech Subakir, dan ilmu saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengn ilmu Syech Belabelu? Uhhhfffff, panaaaaaas," gumam Rejo sendirian, sembari kesakitan.


"Bagaimana saya bisa lepas dari derita ini?"


Berhari-hari Rejo kepanasan, sehingga di hari ke dua puluh, rasa sakit yang dimunculkan dari panas ini, sudah menjadi hal biasa dirasakan. Rejo kini berani duduk bersila di dalam sungai kecil itu. Dia membuat kubangan cukup dalam, sehingga dia bisa duduk bersila, sedangkan air bisa sampai sebatas leher. Hanya kepala Rejo saja yang tidak terendam.


Rejo mencoba mengatur nafas. Mencoba mencari di mana sumber panas dalam dirinya.


Semakin dicari, semakin terasa panas di sekujur tubuh.


"Jangan-jangan, panas ini memang merata di sejukur tubuh saya?".


Dicoba berkali-kali, panas di tubuh kian terasa dan terasa. Setidaknya, ini bisa dilihat dari air yang mendidih di sekitar tubuhnya. Selain itu, kepulan uap air juga semakin banyak.


Setelah dicoba mengatur pernafasan berkali-kali, tetap saja Rejo tak mampu mengenali sumber panas, apalagi mengendalikannya.


Rejo memutuskan untuk diam saja, meski tetap dalam posisi bersila.


Tak sengaja, Rejo melihat sepasang ikan gabus. Ikan ini ikut arus kali yang menuju ke arah Rejo.


Satu ikan gabus sudah merasakan adanya perubahan suhu air, dia langsung berputar balik dan berenang melawan arus. Dia berusaha sejauh-jauhnya berenang, agar tak mendekat ke area mendidih.


Sedangkan satu ikan gabus yang ukurannya lebih besar tak menyadari bahwa bahaya mengancam.


Semakin mendekati tubuh Rejo, semakin suhu air meningkat. Ikan gabus besar tak menyadari, atau bahkan dia merasa mampu bertahan di dalam air panas itu. Dia tetap berenang menuju ke arah tubuh Rejo.


"Coooos!"


Tiba-tiba saja tubuh ikan gabus besar ini terbalik. Dia mati dalam kondisi terebus air mendidih.


Rejo yang sedari mengamati, juga kaget melihat ikan itu benar-benar matang terebus.


Bangkai ikan perlahan melewati tubuh Rejo.


Awalnya, Rejo hanya mengamati.


Tetapi, segera diraihnya bangkai ikan gabus besar ini, setelah dia tahu dia belum makan puluhan hari belakangan, sejak dia berendam di air sungai.


Diambilnya bagian daging ikan, lalu dimakannya, hingga habis. Bagian kepala ikan ini dibiarkan mengapung menjauhi tubuh Rejo.


Mendapat asupan rebusan daging ikan gabus, menjadikan tubuh Rejo agak merasa segar. Tapi, tak lama setelahnya, tiba-tiba perutnya mual luar biasa.


Rejo muntah-muntah. Semua daging ikan gabus yang dilahapnya, kembali termuntahkan. Bedanya, kondisi daging ikan yang semula putih saat dimakan, begitu dimuntahkan menjadi hitam legam, seperti gosong.


"Ini apa? Daging ikan gabus yang tadinya putih, setelah saya makan, kok warnanya menjadi hitam seperti itu? Jangan-jangan, sepanas itukah perut ini, sehingga daging ikan menjadi gosong?"

__ADS_1


Tetapi, tak butuh waktu lama bagi Rejo untuk menemukan pertalian dengan peristiwa sebelumnya. Dia ingat akan pohon waru yang awalnya gosong terbakar lalu sekarang rimbun. Rejo ingat akan akar pohon waru yang masih bugar, meski tertancap dalam tanah.


"Kata Syech Belabelu, akar pohon waru laksana hati manusia. Selama hati manusia itu masih hidup, maka, akan ada jalan untuk menjadi orang baik."


"Jadi, kunci dari tubuh yang panas ini, sebenarnya bisa diselesaikan melalui hati. Baiklah, saya akan mencoba menelaah hati saya sendiri.


Rejo lalu berkonsentrasi untuk bisa menemukan 'hati'nya. Dicoba menelaah ke dalam dirinya sendiri, tetapi, yang muncul hanyalah panas dan panas.


"Tentu saja, seluruh tubuh ini panas, karena selama hidup saya belajar ilmu yang ternyata sebenarnya panas. Baiklah, saya akan mencoba memulai ilmu dingin, seperti yang diajarkan Kanjeng Syech Belabelu."


Rejo berusaha mengingat-ingat kalamat syahadat yang diucapkannya, ketika dia memutuskan berpindah agama.


Akhirnya, kalimat ini dibaca terus menerus melalui mulut Rejo. Memang, perlahan demi perlahan, Rejo mulai merasakan ada yang sejuk dalam dirinya.


Dicoba dicarinya, di antara panas membara dalam tubuh.


Rejo bisa menemukan.


"Oh... ini agaknya anggota tubuh yang bernama hati itu.... Ini adalah akar dari sifat dan sikap manusia. Kalau hati ini baik seperti akar pohon waru, maka akan tumbuh subur. Baiklah, sekarang saya fokus kepada hati ini."


Rejo terus menerus melantunkan syahadat di mulut, dan dicoba diikuti dilafalkan dalam hatinya.


Ada hawa sejuk menyeruak dari hati, dan mulai menyebar ke seluruh tubuh.


Semakin diresapi dan hati-hati dalam mengucapkannya, hawa sejuk semakin terasa.


Sebaliknya, ketika Rejo cepat-cepat melafalkan syahadat, rasa sejuk itu hanya sedikit.


"Jadi, yang penting dilafalkan pelan-pelan dan diresapi."


Rejo dalam posisi bersila dalam air, mulutnya melafalkan syahadat dengan pelan-pelan. Lambat laun, Rejo bisa menikmati lafal syahadat itu.


Beberapa hari melafalkan syahadat, tubuh Rejo tak lagi panas. Bahkan, dia mulai terasa kedinginan terus berada dalam air.


Kulitnya mulai mengeriput, tangannya pias seakan tanpa darah.


Rejo menggigil.


Dia segera berangkak keluar dari sungai kecil.


Sejalan itu pula, air kali menjadi sejuk lagi. Ini menjadi pertanyaan bagi warga desa yang dilewati alur sungai kecil ini.


Rejo berusaha melawan hawa dingin dengan mengerahkan ilmu yang selama ini dikuasainya.


Tak bisa.


Tenaga dalam yang sebelumnya sangat dahsyat itu, seakan terkunci atau menghilang.


Rejo kebingungan.


Karena tak ingin kedinginan, terpaksa Rejo berlari-lari di tempat agar badannya hangat.


Belum lama Rejo menghangatkan badan, dari kejauhan muncul tubuh tambun Syech Belabelu.


Dia bertiak: "Nak, selamat. Engkau telah mengerti sekarang."


Rejo tertegun.


"Sangat hebat Kanjeng Syech Belabelu ini. Dia selalu datang ketika saya bisa menyelesaikan masalah. Saya sangat ingin diangkat menjadi muridnya," gumam Rejo, yang langsung duduk bersimpuh, dan menjura hormat, meski Syech Belabelu masih sangat jauh.


"Engkau tak bisa menjadi muridku," kata Syech Belabelu, ketika sudah dekat, sambil mengelus kepala Rejo, yang masih dalam posisi menjura hormat.


Rejo kaget.


Dia tak menyangka, meski jaraknya sangat jauh, ternyata Syech Belabelu bisa mendengarkan gumamannya yang sangat lirih.


Rejo tak berani mengangkat wajahnya.


"Tole, ketahuilah. Saat ini, ilmu yang pernah engkau pelajari sedari kecil hingga di Gunung Tidar, kini terkunci di dalam dirimu. Ilmu itu tak hilang, hanya saja dia tersembunyi di salah satu bagian tubuhmu. Sebab, ilmu itu belum cocok untuk dirimu saat ini, karena engkau baru mengenal Islam. Tubuhmu kembali suci, ibarat air itu, engkau kini masih sangat bening tanpa daki, tanpa kotoran. Dan engkau sudah terkena kewajiban sebagai orang Islam, yaitu melaksanakan rukun Islam. Dan ilmu yang engkau kuasai, akan mengajak kamu ke jalan setan," tutur Syech Belabelu.


"Tole, saya tak pantas menjadi gurumu.


Kenapa?"


Rejo diam.


"Karena engkau sebenarnya mencari Kakang Syech Subakir untuk engkau jadikan gurumu. Maka, carilah Kakang Syech Subakir."


Rejo kaget alang kepalang. Tapi, dia tak berani mengangkat wajahnya.


"Engkau kini tak bisa menggunakan ilmumu. Jadi, engkau kini menjadi manusia kebanyakan yang tak menguasai ilmu apapun. Sekarang, beranjaklah engkau mencari Kakang Syech Subakir, pemilik pedang melengkung yang engkau kubur di Gunung Tidar."


Rejo gamang.


Dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Di luar sana banyak begal."


"Ya engkau hadapi."


b


"Saya tak bisa menggunakan ilmu saya."


"Ya terserah kamu, bagaimana kamu bisa menghadapi mereka."


"Tapi... mereka ganas-ganas."


"Bukankah engkau Pendekar Gunung Tidar sayang sangat menakutkan itu?"


Rejo tak lagi berani bertanya.


Tak disadari, dalam hati Rejo muncul perasaan takut.


"Duh... seperti inikah yang namanya perasaan takut itu? Selama ini saya tak pernah merasakan."


Syech Belabelu tersenyum. Lagi-lagi, mengelus kepala Rejo.


"Bagus le... bagus le...."


Rejo tetap merunduk takdim.


"Akankah seperti ini perasaan orang-orang yang dulu bertemu dengan Pendekar Gunung Tidar?"


.


"Ha ha ha!" tawa Syech Belabelu lepas, dan dia mulai beranjak pergi.


"Rejo. Belajarlah mengenai hidup dengan menjadi orang biasa. Engkau akan menemukan sejatinya hidup. Carilah Kakang Syech Subakir. Beliau berjalan ke arah matahari terbenam. Saat ini Kakang Syech Subakir ada di Kadipaten Pasundan. Datanglah ke sana, sampaikan salamku, dan memintalah menjadi muridnya. Ha ha ha... itupun kalau engkau bisa sampai ke sana, dan Kakang Syech Subakir ada di sana. Itu pun kalau engkau masih hidup. Jangan-jangan engkau mati dibunuh begal atau dimakan binatang buas dalam perjalananmu ke sana. Ha ha ha," kata Syech Belabelu berlalu menjauh.


Rejo masih duduk menjura hormat takdim.


"Tak ada gunanya engkau di sini. Cepatlah pergi," usir Syech Belabelu.


Perlahan, Rejo mulai berani bangkit dan mulai berkemas-kemas.


Diputuskan pergi ke arah matahari terbenam.


Mencari calon gurunya, Syech Subakir.

__ADS_1


Rejo menyadari. Kini dia bukan pendekar pilitanding, tapi hanya anak muda yang ringkih, tanpa bisa beladiri.


__ADS_2