BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
Episode 4: Pendadaran Syech Belabelu


__ADS_3

BAB IV


Mempelajari Ilmu Macan Putih


Rejo berjalan di antara bebatuan sungai, kawasan pantai selatan. Dia melihat padepokan Kanjeng Syech Belabelu dalam kondisi kosong.


"Kemanakah kanjeng Syech?" pikir Rejo.


Dia mendekati padepokan.


Dilihatnya, ada kepulan asap dari bakaran kayu. Artinya, ada seseorang di sekitar padepokan ini. Tetapi, di manakah gerangan Kanjeng Syech Belabelu?


Rejo celingukan. Tak menemukan siapapun. Dia hanya mendengar deburan ombak betalu, yang memukul pasir pantai.


Dicoba menelisik jejak kaki di pasir. Tak ditemukan apapun.


"Tidak mungkin tanpa jejak, karena tubuh Kanjeng Syech Belabelu yang sangat gemuk itu, pasti meninggalkan jejak kaki di pasir. Ke manakah beliau?"


Rejo memutuskan untuk duduk di pelataran padepokan yang beratap daun pisang ini.


Menjelang salat asar, tetap saja yang ditunggu tak muncul-muncul.


Rejo pun tak ingin kehilangan salat dzuhur, segera menuju pantai untuk mengambil air wudlu, dan mengerjakan salat di pasir, pelataran padepokan.


Di sela wirid, Rejo mendengar lamat-lamat namanya dipanggil. Rejo sangat hafal dengan pemilik suara itu.


"Kanjeng Syech Belabelu?"


Yang muncul hanya tertawa terkekeh.


Rejo menyegerakan wiridnya, dan segera beranjak ke bibir pantai.


Rejo masih mendengarkan suara terkekeh di antara deburan ombak.


"Di manakah beliau?"


Rejo menatap ke arah laut lepas. "Apa mungkin beliau di perahu?"


Tak ada satu pun perahu di laut lepas.


"He he he, temukan, di mana aku. Bukankah engkau ke sini mau belajar tentang ilmu macan putih?"


Suara itu sangat dekat dengan telinganya, seakan yang berbicara tepat di sampingnya.


Rejo langsung menoleh, tapi tak menemukan siapa pun.


"Ha ha ha, engkau pasti mencari aku, benar kan?"


Rejo masih celingukan.


"Ha ha ha, ayo temukan aku. Untuk menemukan aku saja, engkau kesulitan, apalagi hendak belajar ilmu macan putih. Mana kehebatan murid Resi Swadaraya dan Resi Hitu Dawiya. Dan anak muda yang bisa mengalahkan Raja majapahit itu. Ha ha ha.... ayo temukan aku," kata sebuah suara, tepat di telinga Rejo.


Rejo pun mulai serius.


Dia mengabaikan suara yang muncul di telinganya.Rejo segera duduk bersila, dan menghadap ke arah laut selatan. Rejo mencoba bermeditasi. Dibiarkan dirinya setenang mungkin. Diabaikan suara deburan ombak memukul pasir pantai.


Diabaikan suara yang mencemooh dia.


Rejo ingin menemukan suasana dalam kesendirian.


Dia tak peduli. Tubuhnya dihajar ombak pinggir pantai.


Dia berusaha tetap duduk bersila, dan sangat tenang.


Agak lama Rejo akhirnya bisa menemukan suasana ketenangan.


Perlahan, suara deburan ombak mulai menghilang.


Yang ada hanya keheningan. Bahkan, hembusan angin kencang di pantai pun tak terasakan sama sekali.


Rejo dalam kesendirian.


"Allah... Allah... Allah," zikir hati Rejo.


Terus menerus.


Dia tak ingin terganggu apapun.


Lamat-lamat suara menghilang, dan yang ada hanyalah Rejo sendiri. Bahkan, deburan ombak pun tak lagi terdengar.


Hanya karena faktor hari mulai gelap, yang membuat Rejo gelagapan. Sebab, dia belum salat asar.


Maka, semedinya pun diakhiri, dan segera mengambil air wudlu di pantai, lalu salat asar.


Rejo tak beranjak sampai waktu salat maghrib tiba, hingga salat isya.


Barulah, seusai salat Isya, Rejo bertekad menemukan keberadaan Syech Belabelu.


"Insya Allah, saya akan menemukan Panjenengan," bisik Rejo, disertai dengan lontaran tenaga dalam.Harapan Rejo, suaranya bisa didengar Syech Belabelu, di manapun dia berada.


Benar!


Di telinga Rejo, dia mendengar suara terkekeh-kekeh.


Rejo segera duduk bersila di pasir pantai. Rejo mengambil segenggam pasir, dan dia segera melakukan gerakan mengisi tenaga dalam sebesar-besarnya. Ditambah lagi, pengumpulan tenaga dalam melalui hembusan angin pantai yang sangat kencang. Ilmu yang didapat dari raja Majapahit ini sangat efektif digunakan di pantai yang mempunyai angin kencang.


Usai diyakini setiap butiran pasir mengandung tenaga dalam besar, Rejo segera melemparkan segenggam pasir itu, sekuat-kuatnya, menuju berbagai arah. Termasuk ke atas, agak atas.


Hebatnya, setiap butir pasir itu melesat sangat kencang layaknya jarum. Setiap butir pasir menerjang apapun apapun yang menghalangi. Beberapa pohon kelapa pun mampu dilubangi oleh butiran-butiran pasir itu.


Namun, suara terkekeh masih terdengar di telinga Rejo.


Artinya, lemparannya tak mengenai Syech Belabelu.


Rejo mengulangi lagi. Kali ini, dia melempar lebih banyak arah.


Begitu usai dilempar, Rejo mendengar suara jatuh berdebum.


"Kena, akhirnya," teriak Rejo, sambil berlari menuju suara berdebum.


Namun, yang didapat hanya bekas orang jatuh, dari puncak pohon kelapa, namun sosoknya tak ada.


"Oh, jadi, panjenengan sepanjang hari ini tadi, ada di puncak pohon kelapa," bisik Rejo disertai tenaga dalam.


Rejo mendengar suara terkekeh lagi.


"Caramu sudah tak akan mempan kedua kali. Coba tembak dengan pasir lagi. Itu hanya mainan anak-anak yang baru belajaran kanoragan," kata suara di telinga Rejo.


Malam gelap, menjadikan pandangan mata Rejo tak bisa lepas mengamati seluruh area.


Rejo pun tak mengandalkan kekuatan matanya. Dia malah memejamkan matanya, dan membuka mata bathinnya selebar-lebarnya. Ditunjang dengan pengerahan tenaga dalam yang sangat besar, sangat mudah bagi Rejo untuk mendeteksi apapun dalam kegelapan melalui getaran gelombang.


Anehnya, Rejo tak menemukan adanya getaran manusia di sekitarnya.


"Ha ha ha, kalau kemampuanmu hanya segitu, tak mungkin engkau bisa menemukanku. Ayo, kerahkan semua apa yang kamu punya," kata satu suara di telinga Rejo.


Rejo meyakini, Syech Belabelu tak jauh dari dirinya. Sebab, Kanjeng Syech bisa mengetahui apa yang dilakukannya. Tetapi, Rejo tak tahu, di manakah sang Kanjeng Syech.


Rejo duduk bersila, dia mencoba menelisik hingga sejauh yang dia mampu. Benar-benar tak menemukan kehadiran sosok manusia.


Rejo sendiri heran.

__ADS_1


Tetapi, dia bisa mendeteksi keberadaan hewan di kegelapan malam.


"Di manakah Kanjeng Syech?" gumam Rejo sendiri.


Dia mendengar suara terkekeh di telinganya.


"Mestinya beliau tidak jauh dari sini. Tapi, kenapa kehadirannya tidak bisa saya ketahui? Benarkah beliau mempunyai ilmu unik yang bisa menghilangkan getaran?"


"Ilmu apa? Ha ha ha? Engkau saja yang kurang pinter mamanfaatkan kemampuanmu," kata sebuah suara, sangat dekat dengan telinganya.


Rejo semakin tertantang.


"Gunakan otak cerdasmu."


"Berfikirlah seperti tikus tong-tong."


Setelah itu, Rejo tak mendengar suara apapun, kecuali suara deburan ombak bertalu.


"Ada apa dengan tikus tong-tong?"


Rejo merenung.


"Apa yang membedakan tikus tong-tong dengan hewan lain? Atau, apa yang membedakan tikus tongtong dengan tikus lain?"


Rejo lalu tersenyum sendiri.


"Ha ha ha. Kanjeng Syech, tak lama lagi saya akan menemukan Panjenengan," teriak Rejo sambil menari-nari.


"Yang membedakan tikus tong-tong dengan tikus biasa, adalah, bentuk tubuhnya. Tikus tong-tong gemuk, sementara tikus biasa kurus. Maka, ketika terjepit tikus biasa pasti akan mengandalkan kecepatan berlari. Sedangkan tikus tongtong, yang badannya tambun, pasti laju larinya tak kencang. Untuk itu, dia memilih diam di tempat, untuk melihat situasi."


"Jadi, saya disuruh berfikir seperti tikus tong-tong, hanyalah tipuan saja. Yang benar adalah, saya harus berfikir bahwa yang saya kejar saat ini adalah tikus tong-tong, bukan tikus biasa yang bisa cepat berlari. Ini artinya, Kanjeng Syech yang bertubuh tambun itu, mengibaratkan dirinya seperti tikus tong-tong, yang tidak ke mana-mana. Intinya, Kanjeng Syech Belabelu sebenarnya, tetap berada di sini. Itu pasti."


"Tapi di mana?"


Rejo kembali termenung lagi.


Memang tak butuh waktu lama bagi Rejo untuk menemukan jawabnya.


"Alhamdulillah. Saya sekarang tahu, di mana panjenengan," kata Rejo disertai dengan pengerahan tenaga dalam.


Harapannya, Syech Belabelu mendengar.


"Coba temukan."


Ada suara berbisik di telinganya. Ini menandakan apa yang diomongkan Rejo didengar.


"Saya memang harus belajar dari tikus tong-tong. Tempat yang paling disukai tikus tong-tong adalah tempat yang paling aman. Yaitu di dalam lobang. Dan itu adalah, dalam tanah. Kanjeng Syech, saya tahu di mana Njenengan. Yaitu dalam tanah," teriak Rejo.


Rejo memutuskan ini, karena begitu mengerahkan tenaga dalam di sekitar, dia tak merasakan adanya manusia. Tentu saja, tenaga dalam akan netral kembali, begitu menyentuh tanah. Dengan begitu, tak mungkin bagi Rejo mendeteksi keberadaan Syech Belabelu.


Pikiran Rejo, untuk menggali tanah, butuh waktu panjang bagi Syech Belabelu, padahal sempat terdengar suara terjatuh. Artinya, keberadaan Syech Belabelu, tentu tak terlalu jauh dari tempatnya terjatuh tadi. Ini alasan kenapa Rejo tak menemukan sosok Syech Belabelu, begitu dia menghampiri sumber suara. Yang dilihat Rejo hanyalah bekas orang terjatuh di pasir.


Rejo berjalan menuju tempat orang terjatuh tadi.


Dikorek-korek pasir.


Benar. Dia menemukan kain.


Begitu dikorek lebih banyak, barulah terlihat sosok tambun terkubur dan hanya bagian lubang hidungnya tak terkubur.


Dia tersenyum terkekeh.


Rejo segera duduk bersila, dan menjura hormat.


"Lumayan... lumayan... engkau ternyata tak terlalu bodoh," kata Kanjng Syech Belabelu sambil menepuk-nepuk pundak Rejo.


Rejo hanya diam, tetap dalam posisi menghormat.


Di gubuk, Rejo hanya diam.


Dia tahu, betapa hebatnya orang yang ada di depannya.


"Sekarang, saya meminta pertanggungjawabanmu. Engkau tadi melemparkan pasir bertenaga dalam. Lihat, apa yang terjadi dengan jubah saya ini," kata Syech Belabelu, sambil menunjukkan jubahnya yang bolong di sana-sini, ditembus pasir.


"Ampun, Kanjeng Syech."


"Tak apa-apa, bukan salahmu. Saya hanya meminta tolong, engkau jahit lagi, lubang-lubang di jubah ini. Jika lubang di jubah ini sudah engkau jahit semua, maka saya akan mengajarkan apapun yang engkau minta."


"Enggih, Kanjeng Syech."


"Tapi, ada syaratnya. Yaitu, jahitannya harus rapi. Yang kedua, engkau harus menjahitnya sambil berendam di laut, dan yang ketiga, engkau baru boleh menjahit jubah ini, ketika malam hari. Sudah, ayo kita tidur. Nanti dini hari, ayo bangun untuk salat malam."


Rejo hanya melongo.


Syech langsung merebahkan diri di pasir, dalam gubuk, dan membelakangi Rejo.


Rejo hanya menatap bagian punggung Kanjeng Syech.


Rejo segera memejamkan mata, karena sangat tidak sopan memandangi punggung sang guru.


Rejo memilih keluar dari gubuk, sambil membawa jubah yang banyak berlubang itu di tangan kanan. Rejo memilih tidur di bawah pohon waru, berselimutkan pasir pantai.


Hanya bagian muka saja yang tampak. Sedangkan jubah penuh lubang itu, dilipat rapi di samping kepalanya.


Dini hari, dia dibangunkan Syech Belabelu untuk diajak salat malam berjamaah hingga pagi hari.


"Sekarang, kita bagi tugas. Saya mencari ikan untuk makan, engkau masuk ke hutan sana, cari serat kapas atau yang lainnya, untuk dipakai menambal jubah bolong-bolong itu."


Rejo pun ngeluyur pergi. Rejo mencari sebanyak-banyaknya kapas, untuk dipintal menjadi benang. Rejo juga menyiapkan jarum.


Dalam waktu dua hari, benang dan jarum sudah siap.


"Usai salat isya, silakan engkau masuk ke air pantai, dan mulai menjahit lubang-lubang di jubah ini," perintah Syech Belabelu.


Rejo mengangguk.


Dan, usai salat Isya, dengan bertelanjang dada, Rejo mulai masuk ke dalam air laut yang dingin, dan dia mulai duduk bersila, dengan ketinggian air sekitar pusar sampai dada.


Rejo mulai mencari-cari lubang di jubah, untuk dijahit.


Ombak terus menerus menghajar perut dan dadanya. Ini yang menjadikan rejo kesulitan untuk menusukkan jarum di tempat yang pas. Belum lagi pintalan benang dari kapas yang disiapkannya, kusut terkena ombak.


Berkali-kali Rejo gagal menusukkan jarum di tempat yang dikehendaki, barulah Rejo menyadari, bahwa menjahit lubang jubah, dalam kondisi dihempas ombak, sangatlah tidak mudah.


"Allahu Akbar. Ternyata tidak mudah menjahit dalam kondisi seperti ini. Belum lagi jubah yang hendak saya jahit ini, terseret ombak. Padahal, saya diminta menjahit secara rapi. Sungguh, saya tak mengira sesulit ini, meski hanya sekedar menjahit lubang. Apa sebenarnya yang hendak dilakukan Kanjeng Syech Belabelu terhadap diri ini?"


Semalaman, Rejo benar-benar tak mendapatkan hasil apapunh. Jangankan menutup satu lubang dengan rapi, untuk menusukkan jarum saja, cukup sulit. Belum lagi kondisi gelap gulita, kian menambah kesulitan Rejo.


"Berapa lubang yang telah engkau jahit semalam?" tanya Syech Belabelu, usai salat subuh berjamaah.


"Tidak ada satupun Kanjeng Syech. Selain gelap, saya kesulitan menusukkan jarum di tempat yang saya bidik, karena tubuh dan jubah ini dipermainkan ombak."


"He he he.... kalau engkau menggunakan cara seperti itu terus, tentu sampai satu tahun pun lubang-lubang di jubah itu tak akan selesai engkau jahit. Bisa-bisa, jubah itu malah hancur karena terus-terusan terkena air laut. Sudah, usai salat dluha, engkau istirahat dulu. Terlihat engkau kecapekan."


Barulah sore hari, Rejo mempunyai waktu untuk berfikir dan merenung. Dia mencoba masuk ke air laut, dan mengerahkan tenaga dalam. Ternyata, gelombang energi ait laut, jauh lebih hebat. Tenaga dalam Rejo seakan tak ada arti samasekali.


"Tentu tak perlu pengerahan tenaga dalam. Tetapi, harus dengan cara seperti apa?"


Rejo mencoba berdiri biasa saja di air laut. Ketika ombak besar datang, tubuhnya tergulung.


"Juga tidak dengan apa adanya. Lalu, saya harus melakukan apa?"

__ADS_1


Rejo bertekat, akan menjahit lubang-lubang di jubah itu, ketika dia benar-benar yakin bisa kokoh ketika dihantam ombak.


Untuk itu, rejo mencoba menemukan caranya. Menggunakan cara keras, yaitu pengerahan tenaga dalam, tak ada artinya samasekali.


"Saya harus bagaimana?"


Rejo mencoba berbagai cara agar bisa tetap tegak dalam gempuran ombak. Namun tetap saja gagal.


Satu waktu, dia melihat sebuah tiang bambu yang tertancap kuat di laut. Tonggak bambu itu begitu tegar meski terkena hempasan ombak sebesar apapun.


"Apa perlu saya mengubur sedikit dari tubuh saya, agak tak goyah digempur ombak?"


Begitu dicoba, ternyata tak membuahkan hasil apapun. Dangkalnya Rejo membenamkan bagian bawah tubuhnya dalam pasir, tetap saja, budah digoyang ombak.


Bahkan, ketika Rejo mengubur tubuhnya hingga sedalam pusar, tetap saja ombak laut mampu menggoyang dia.


"Nak, lagi-lagi engkau selamanya tak akan bisa menyelesaikan menjahit jubahku, jika engkau masih berfikir seperti itu. Engkau telah bisa memecahkan tikus tong-tong. Sekarang temukan pelajaran dari air laut," kata Syech Belabelu, usai salat berjamaah.


"Berpikir tentang air laut? Ada apa dengan air laut?"


"Benar. Ada apa dengan air laut? Sangat gamblang dan mudah. Sebab, engkau setiap hari akan menceburkan diri di dalamnya. Ayo temukan."


Rejo pun mulai mengarahkan kecerdasannya untuk mengetahui rahasia air laut.


"Nak. Saya beri tahu sedikit, air laut bisa mengombang-ambing kamu dengan ombaknya. Tidakkah engkau tahu, kenapa?"


"Karena air laut mempunyai energi."


"Salah."


"Karena air laut digerakkan angin berhembus."


"Tambah salah."


"Karena......"


"Karena air laut itu mempunyai dua kekuatan yang sama besar, yaitu kekuatan lembut dan kekuatan kasar. Temukan."


Rejo pun pamit untuk menceburkan diri ke air laut lagi.


"Air laut mempunyai kekuatan sama besar antara halus dan kasar. Kalau kekuatan kasar sudah terbukti, dengan cara menghembaskan tubuh saya. Tetapi, di manakah kekuatan lembut air laut?"


Kata Rejo sambil tangannya memainkan air laut.


"Sisi lembut air laut.... sisi lembut air laut. Yang mana ya?"


Rejo melihat nanar kepada tangannya, yang menggayung air laut selatan, lalu air jatuh dari tangannya.


Lama dilihat, akhirnya Rejo baru menyadari, bahwa sisi lembut air adalah, dia tak berbentuk. Dia mudah dicerai-beraikan, tapi sangat mudah untuk menyatu lagi.


Bahkan, ketika ada energi lain yang menyokong air, maka kekuatan lembut itu bisa menjelma menjadi kekuatan kasar, atau kekuatan keras, layaknya gelombang karena dibantu energi air, air mendidih karena disokong api, air membeku karena didukung suhu dingin.


"Jadi, saya harus mempunyai sifat lembut seperti air, agar saya tidak bisa dihempaskan begitu saja oleh gelombang air laut ini."


"Tetapi, bagaimana caranya agar saya bisa menyatu dengan air?"


Rejo mencoba bersemadi di bibir pantai. Dibiarkan dirinya tenggelam dan terguling-guling dihempas ombak. Namun, dia tak mendapatkan pelajaran apa-apa. Selain beberapa kali harus meneguk air laut, dan kepalanya pusing karena berguling.


"Tentu ada caranya, untuk membangkitkan sisi lembut dalam diri ini."


Karena sudah menghabiskan waktu sepasar tak menemukan jawaban, maka Rejo memberanikan diri bertanya kepada Syech Belabelu.


"Kanjeng Syech, saya tak tahu, bagaimana saya harus bisa menjadi seperti air?"


"Ha ha ha, tentu saja engkau tak bisa."


"Kenapa?"


"Karena engkau punya ujud, sedangkan air tak berujud."


"Maksudnya?"


"Karena sifat lembut air itu, dia akan mengikuti bentuk dari wadah. Sedangkan engkau, meski berada di wadah manapun, wujudmu tak berubah. Itu bedanya."


"Jadi, saya harus bagaimana?"


"Ya belajar dari air, tapi tak perlu menjadi seperti air."


"Maksudnya?"


"Mempunyai sisi lembut yang maksimal dalam wadag jasad yang padat. Air memang bisa menjadi padat, ketika terkena angin yang sangat dingin. Misalnya di puncak gunung. Tetapi, dia kembali menjadi air ketika terkena panas. Kita sebagai manusia, tak bisa seperti itu. Biar pun kita di puncak gunung maupun di panasan, ujud kita tetap padat."


"Saya masih belum mengerti."


"Kita mempunyai wadag yang tak berubah, tapi bisa tumbuh. Kenapa bisa tumbuh? Karena dalam diri kita mengalir darah. Kenapa darah bisa mengalir? Karena banyak mengandung air."


"Jadi, saya harus melakukan apa?"


"Dalam wadag padat kita, didalamnya banyak terdapat air, yaitu dalam darah. Dan darah itu mengikuti wadag kita. Jadi, sebenarnya, kita bisa bisa bejara dari air dengan mudah, tapi tak bisa menjadi seperti air, karena darah kita dihalangi dan disaputi kulit. Jadi, ada yang membedakan antara air di luar tubuh, dengan air di dalam tubuh. Tetapi, sebenarnya, keduanya masih bisa selaras."


"Saya masih belum mengerti."


"Wah, sulit bagiku untuk menjelaskan kepadamu. Begini saja, menurutmu, apa yang paling lembut, tapi mempunyai wujud?"


"Kapas dan kapuk."


"Lainnya?"


"Bulu."


"Lainnya?"


"Rambut."


"Lainnya?"


"Saya tidak tahu."


"Kenapa kamu tidak tahu?"


"Saya tidak tahu."


"Saya beri tahu, benda padat yang bisa lembut, adalah hati."


Rejo terperangah.


"Mohon maaf Kanjeng Syech, apa hubungannya air yang lembut dengan hati?"


"Hati itu memang benda berujud, yang ada di dalam tubuh manusia. Dia bisa sekeras baja, bisa sekeras batu. Tapi, bisa selembut air, selembut kapas. Tinggal bagaimana akal dari si pemilik hati."


"Lalu, bagaimana bisa dihubungkan dengan perintah Jenengan untuk menjahit jubah di dalam air laut?"


"Engkau ini ternyata bebal juga. Temukan sendiri."


Rejo tercenung.


Dia tak lagi berani bertanya.


Rejo memilih untuk menemukan jawabnya sendiri. Hati manusia sangat keras, tetapi juga sangat lembut.


"Tetapi, bagaimana saya bisa tahu, hati ini keras atau tidak, kalau tidak bisa dipegang tangan?"

__ADS_1


__ADS_2