
"Alhamdulillah, saya memang akan memerintahkan Ainul Yaqin untuk berdakwah. Dan saya menghormati dua hal. Pertama, usulan Kanjeng Syech Maulana Malik Ibrohim, dan kedua, keinginan Nyi Ageng Pinatih sebagai ibu angkatnya," kata Sunan Ampel, sambil melihat ke arah Nyi Ageng Pinatih.
Yang dilihat, menunduk malu.
"Saya perintahkan, Ainul Yaqin untuk membuka pesantren di Gunung Giri. Itu keputusan saya, sebab ini juga hasil istikharah Kanjeng Syech Maulana Malik Ibrohim, dan keinginan Nyi Ageng Pinatih. Untuk itu, mulai hari ini, Ainul Yaqin yang sudah sempurna imannya, dengan beristri ini, saya beri sebutan sebagai Sunan Giri," tutur Sunan Ampel.
Semua yang hadir mengucapkan takbir dengan lirih, dilanjutkan kalimat syukur.
Selanjutnya, walimah nikah, digelar di dua tempat, yaitu di Bungkul selama tiga hari, dan menginap selama sepasar, di Ribang Kuning digelar perayaan tiga hari, dan menginap sepasar. Sunan Giri dan dua istrinya, menginap selama sepasar di Pesantren Ampel, dan menginap sepasar di rumah Nyi Ageng Pinatih.
Barulah di hari ke-21, Sunan Giri, bersama dua istrinya, dan puluhan pegawai Nyi Ageng Pinatih menuju ke Gunung Giri. Mereka bertujuan memulai membangun masjid untuk mengajarkan ilmu agama, dan dua rumah untuk istrinya.
Karena memang mengerahkan banyak pegawai, dibantu warga sekitar, santri Kanjeng Syech Maulana Malik Ibrohim, dan pengerahan santri Pesantren Ampel, masjid sederhana bisa segera didirikan. Begitu selesai, Kanjeng Syech Maulana Malik Ibrohim mengawali menjadi imam salat wajib, sedangkan azan dikumandangkan Sunan Ampel, dan iqomah dikumandangkan Sunan Giri.
Sementara dua rumah, masing-masing untuk Murtosiyah dan Wardah, ditempatkan di sisi kiri dan kanan masjid. Dibuat sederhana pula.
Setelah semua selesai, Sunan Giri tak segera membuka pesantrennya. Namun, dia melakukan tafakkur di masjid barunya. Juga berjalan-jalan di sekitar kawasan Gunung Giri, untuk menaklukkan dedemit di kawasan ini.
Bagaimana dengan Wardah dan Murtosiyah? Meski mereka mempunyai suami yang sama, tak pernah dibakar api cemburu. Bahkan, mereka selalu berdua.
Ini juga yang menyulitkan Sunan Giri. Meski sudah dibuatkan rumah di sisi kiri dan kanan masjid, umumnya, Wardah dan Murtosiyah selalu bersama di salah satu rumah. Mereka memasak bersama, mereka makan bertiga dengan suaminya.
Ini juga yang membuat Sunan Giri pusing.
"Kanda, sebagaimana pembagian waktu untuk kami. Kanda membagi tiga hari untuk saya, dan tiga hari untuk Murtosiyah. Sedangkan satu hari Kanda gunakan untuk bermunajat di masjid. Apa sebaiknya tidak diubah?" tanya Wardah, satu ketika.
"Dirubah bagaimana?"
Murtosiyah yang menjawab.
"Saya dan Wardah sudah bicara-bicara. Bagaimana kalau begini, satu hari untuk saya, dan satu hari untuk Wardah, dan sisanya, Kanda gunakan untuk munajat atau mengajar ngaji di masjid."
"Hah?"
"Dengan demikian, Saya dan Wardah bisa punya banyak waktu bersama."
"Hah?"
"Tidak. Keputusan saya tidak demikian. Tiga hari saya menginap di rumah Adi Wardah, dan tiga hari saya menginap di rumah Adi Murtosiyah. Satu hari, saya menginap di masjid. Ini keputusan saya," kata Sunan Giri tegas.
Murtosiyah dan Wardah pun merajuk dan sedikit ngambek.
"Tidak. Ini keputusan saya, demi agar saya adil."
Namun, memang keputusan itu yang dijalankan. Hanya saja, namanya sahabat, usai salat berjamaah di masjid pun, mereka acap bercengkrama. Termasuk usai salat isya, masih meluangkan waktu untuk bercengkrama.
"Adi Wardah dan Adi Murtosiyah. Saya perintahkan, usai salat Isya, kalian harus masuk ke rumah masing-masing, untuk istirahat," perintah Sunan Giri.
Mereka berdua merajuk dan ngambek.
__ADS_1
Namanya juga bersahabat, meski dengan beberapa keputusan Sunan Giri yang sebenarnya ingin agar keduanya mempunyai tanggung jawab sebagai istri, namun yang tejadi, mereka berbagi tanggung jawab itu secara bersama.
Kalaupun memasak, bukan keduanya memasak sendiri-sendiri di rumah masing-masing, tapi mereka memasak bareng untuk dimakan bertiga. Apapun dilakukan bersama, demi berbakti kepada satu suami.
Jika Sunan Giri cukup pusing, karena kedua istrinya sangat akur, selalu bersama, dan tak ada cemburu, tidak demikian kepada beberapa santri atau warga sekitar. Mereka melihat rumah tangga Sunan Giri sangat harmonis, tenang dan penuh rahmat Allah.
Karena dukungan dua istrinya ini, Pesantren Giri akhirnya bisa menjadi Kasultanan Giri, yang sangat disegani hingga ke kerajaan Goa, menjadi pelindung Pesantren Ampel, dan nantinya mendukung Kasultanan Demak, dalam memerangi Majapahit.
Sementara itu, bagaimana dengan Sunan Ribang Kuning? Sepeninggal cucunya mengikuti suami, hidup Kanjeng Sunan Ribang Kuning menjadi sepi. Hidupnya dihabiskan untuk mengajar mengaji, atau bermain di rumah Sunan Kembang Kuning. Bahkan, kini, di usia rentanya, dia menyapu sendiri rumah sahabatnya itu. Dia sangat berharap, sang sahabat datang menjenguknya.
Namun yang ditunggu tak pernah datang.
Beberapa tahun menjadi pemangku masjid, akhirnya Sunan Ribang Kuning wafat, menyusul Sunan Bungkul yang wafat lebih dulu. Jenazah Sunan Ribang Kuning dimakamkan di tanah perdikan, yang dulunya sebagai arena sabung ayam, di bawah pohon asem.
Rumah Sunan Kembang Kuning, juga dengan sendirinya tak ada yang merawat, dan akhirnya roboh rata tanah.
Kemanakah Sunan Kembang Kuning?
Dia mengarah ke Singasari. Sesekali, Sang Sunan hinggao di teklek pemberian Sunan Ampel untuk bisa sampai ke Ampel Denta dalam waktu singkat.
Selain silaturahim, juga kemungkinan ada tugas mengawal Kanjeng Sunan Ampel dalam bepergian.
Dalam forum-forum rapat Wali Songo, ketika para wali rapat, para pengawal ini, umumnya bercengkrama. Kadang mereka saling bertukar ilmu. Satu ilmu, diajarkan kepada semua pengawal, demikian seterusnya.
Sunan Kembang Kuning pun berkenalan dengan para pengawal. Sunan Gunung Jati, selalu dikawal ditemani Kang Parmin, satu pendekar murid Ki Sapu Jagat yang terkenal seantero Jawa. Atau Sunan Giri, yang kerap dikawal putranya yang usianya masih belia, yairu Sunan Prapen atau Kawis Guwo yang menjadi panglima perang yang sangat handal di lautan, dengan mengendalikan ratusan kapal perang. Atau Sunan Kali jogo yang selalu dikawal Sunan Pandan Aran. Wajar, jika para pengawal kanjeng sunan ini mempunyai ilmu yang lengkap, karena saling tukar ilmu. Mulai kanoragan, aji-aji, bahkan strategi perang, maupun ilmu mantiq dan tipu muslihat.
Jika Kanjeng Sunan Ampel menginginkan cepat sampai di tujuan, umumnya menyuruh Sunan Kembang Kuning mengenakan ikat kepala kuning, sehingga punuk di punggung lenyap.
Jika Kanjeng Sunan Ampel tak ingin cepat sampai di tujuan, maka Sunan Kembang Kuning tetap sebagai si bungkuk, yang untuk jalan saja kerap terjerembab.
Jika tidak dalam tugas mengawal Kanjeng Sunan Ampel, Suna Kembang Kuning lebih memilih sebagai si bungkuk. Dan Sunan Kembang Kuning melanjutkan pengembaraan dan dakwah ke pesisir selatan pulau Jawa.
Tentu bukan perkara mudah. Untuk berjalan saja tertatih-tatih, bahkan nyaris terjerembab. Justru dengan kondisi yang mengenaskan ini, dijadikan oleh Sunan Kembang Kuning sebagai kelebihan.
Siapapun yang melihat cara berjalan sang sunan, pasti memunculkan rasa iba. Dan saat itulah Sang Sunan mengajarkan tentang Islam dan keindahannya.
Ketika perjalanan sampai di kawasan bekas Kerajaan Jenggolo di Sidoarjo, Sunan Kembang Kuning dihadang puluhan orang, tepat di pinggir kali kecil.
“Hei, Si Mbah. Kalau engkau melewati jembatan ini, harus bayar. Kalau enggak mau, lompati saja kali kecil ini,” kata Ki Sipang, yang agaknya menjadi pemimpin puluhan orang itu.
Sunan Kembang Kuning hanya tersenyum kecil.
“Anak-anak muda, engkau kok tega menggoda orang tua seperti saya ini. Untuk berjalan saja saya kesulitan, apalagi harus melompati jembatan kecil ini,” jawab Sunan Kembang Kuning.
Tak hanya itu, ketika berjalan tertatih itu, satu ranting dijadikan penghalang kaki sang Sunan. Tak pelak, sang Sunan jatuh terjerembab.
“Ha... ha... ha....”
Puluhan orang itu tertawa terbahak, karena melihat si bungkuk jatuh. Mereka melihat hal ini sebagai kejadian lucu.
__ADS_1
Perlahan, Sunan Kembang Kuning beranjak berdiri, dengan bertelekan tongkatnya. Ketika sudah berdiri penuh, Sunan Kembang Kuning berjalan tertatih lagi menuju ke arah jembatan kecil.
Ki Sipang tiba-tiba tidur telentang menghalangi jalan.
“Si Mbah, lompati saya saja, agar bisa menyeberang.”
“Anak-anak muda. Kalian sungguh tidak sopan. Kenapa harus mengganggu saya yang sudah tua ini?”
“Lucu... Mbah.... benar-benar lucu....Cara mbah berjalan sangat lucu dan menggemaskan,” teriak Ki Sipang sambil tetap tiduran.
“Ya tidak mungkin saya melompati dirimu. Badanmu besar seperti itu. Saya juga tak mungkin melompati sungai. Untuk berjalan saja, saya harus tertatih seperti ini.”
“Kalau kalau tidak bisa, ya jangan lewat sini.”
“Anak muda, tolong kasih tahu saya, di mana ada jalan lain?”
“Ha ha ha, si Mbah. Ini adalah satu-satunya jalan, kalau Mbah mau ke Gedangan.”
“Anak muda. Sungguh saya tak bisa. Dan agaknya memang tak ada jalan memutar. Ya sudahlah, saya tunggu di sini, sampai kalian semua mengizinkan saya untuk melewati jembatan,” kata Sunan Kembang Kuning.
Dua telapak tangannya dipakai untuk menutupi ujung bambu kuning, lalu kepalanya diletakkan di bagian atas kelapak tangannya.
Tak lama, Sunan Kembang Kuning tertidur dengan posisi berdiri.
Sedikit dengkurnya menjadikan puluhan pemuda pimpinan Ki Sipang ini kaget. Mereka seakan tak percaya, bahwa orang yang digodanya, tertidur dengan posisi berdiri.
Bahkan, beberapa pemuda mendekat hingga nyaris wajahnya menempel. Dia ingin mendengarkan dengkur dari jarak dekat.
“Benar! Si Mbah tertidur. Kok bisa ya?”
Lalu, ada satu pemuda yang cukup bengal, mendorong tubuh Rejo yang tidur pulas itu. Harapannya, si bungkuk terjatuh dan bangun dari tidurnya.
Pemuda itu menyiapkan tenaga sebesar-besarnya untuk mendorong.
Begitu telapak tangannya menyentuh punggung Rejo. Jangankan mendorong dan membuat tubuh Rejo terjatuh, malahan dia terpental ke belakang dan jatuh berguling-guling.
Satu orang ini berteriak kesakitan.
Tubuhnya seakan disengat ribuan kalajengking.
Tiba-tiba saja tubuhnya penuh bintik merah.
Kejadian ini sangat mengejutkan pemuda lain. Mereka segera mendatangi temannya yang berguling-guling kesakitan itu. Tetapi, begitu memegang tubuh berbintik merah itu, sang teman langsung ketularan. Setidaknya, kini ada empat orang yang berguling dan berteriak-teriak kesakitan.
Ki Sipang bingung, dan segera bangun dari posisi berbaringnya.
Diamati empat temannya yang berguling kesakitan. Dia tak berani menyentuh kulit temannya itu.
“Kurang ajar, punya kesaktian juga engkau, si Mbah. Belum tahu ya, engkau akan menghadapi pewaris ilmu Jenggolo,” teriak Ki Sipang.
__ADS_1
Ki Sipang mulai membuka rapalan.