BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7e: Sunan Kembang Kuning Tantang Penguasa Gunung Penanggungan


__ADS_3

Dan dari udara, terbang berputar-putar elang raksasa.


“Dua binatang inilah senjata andalanku. Kalian segera pergi atau kalian akan diterkam macan,” usir Resi Witjak.


Para pedanda semburat berlarian menjauhi macan loreng raksasa itu. Mereka semua bergembira, karena si Mbah Bungkuk akan mendapat lawan setara.


Resi Witjak segera naik ke punggung macan loreng raksasa itu, sementara elang raksasa terbang berputar-putar mengikuti.


Perlahan melangkah menuju ke arah Singasari.


Sepanjang perjalanan, penduduk semburat begitu melihat macan loreng raksasa. Mereka sebenarnya sudah dapat isyarat bahwa Resi Witjak bakal lewat. Sebab, di angkasa terbang elang raksasa berputar-putar.


“Tentu sebentar lagi Resi Witjak akan turun gunung Penanggungan. Ada urusan apa resi sakti ini turun gunung?”


Umumnya, penduduk segera menyingkir, menutup pintu dan berdiam dalam rumah.


Sebab, mereka yakin, Resi Witjak tentu akan mengajak pula macan raksasa.


Memang benar adanya.


Pekik elang di angkasa seakan peluit membahana, agar warga tahu, Resi Witjak bakal lewat di desanya.


“Tentu Resi akan mendapatkan lawan berat. Siapakah bakal lawannya itu?”


Itu pertanyaan yang selalu muncul pada setiap warga desa yang dilewati Resi Witjak.


Ini tak lain, kedahsyatan ilmu Resi Witjak sudah tak ada lawannya.


Menjelang malam, Resi Witjak sudah sampai di dekat gubuk Sunan Kembang Kuning.


Resi Witjak memilih duduk bersila di atas air mengalir. Tubuhnya bercahaya. Dia melihat ke arah gubuk dengan tatapan tajam.


Sementara beberapa jamaah salat maghrib agak ketakutan, karena melihat macan raksasa sedag minum air kali. Padahal, mereka hendak mengambil air wudlu.


“Kanjeng Sunan, bagaimana ini? Kami takut ambil air wudlu di sungai. Ada macan raksasa.”


“Biar saja. Wudlu di sini saja.”


Sunan Kembang Kuning mengulurkan kendi air.


“Silakan wudlu, gantian ya.”


Beberapa jemaah berpandangan. Bagaimana mungkin mereka bisa berwudlu hanya dengan sekendi air?


“Sudahlah, tetap wudlu saja. Semoga Allah menjadikan cukup.”


Lalu, setiap orang mengambil air wudlu melalui air kendi itu.


Uniknya, air dalam kendi tak habis-habis hingga semua berwudlu dengan sempurna.


Beberapa jemaah kagum akan kemampuan guru barunya ini. Setidaknya, dengan adanya peristiwa air kendi yang tak habis-habis, mampu menaikkan mental semuanya, karena mereka tahu, ada Resi Witjak duduk bersila di atas permukaan air mengalir.


“Kalian tak perlu takut kepada macan. Ada Allah yang melindungi kita. Ayo kita salat dengan tenang. Jangan sampai terpengaruh erangan macan, atau pekikan elang. Itu nanti menjadi urusan saya, setelah kita melaksanakan salat,” kata Sunan Kembang Kuning, sesaat sebelum salat berjemaah dimulai.


Usai salat pun mereka masih melantunkan zikir berjemaah.


Semakin kencang suara zikir, semakin kencang pula erangan macan dan lengkingan elang.


Meski dikhusu-khusukan tetap saja, tak bisa berkonsentrasi.


Agaknya disengaja, mereka terus wiridan hingga salat Isya dan dilanjutkan wiridan.


“Bapak-bapak. Saya minta bapak tetap di gubuk ini. Apapun yang terjadi, jangan sekali-akali menginjakkan kaki di tanah, dan keluar dari gubuk. Ingat! Apapun yang terjadi. Jangan takut kepada macan atau elang raksasa,” tandas Sunan Kembang Kuning, sembari beringsut turun dari gubuk.


Semua mata jemaah mengikuti gerak gurunya yang tertatih menuju bibir kali.


Ada rasa cemas seandainya gurunya mengalami kekalahan.


“Kisanak. Ada gerangan apa engkau berada di atas sungai itu?”


“Hai Bungkuk. Datanglah ke sini dengan cara seperti aku!”


“Saya gak bisa.”


“Ha ha ha, dengan ilmu segitu saja mengacak-acak kali sini.”


“Saya tidak mengacak-acak, saya hanya ingin bermukim sebentar di sini. Apa sebaiknya Panjenengan tidak ke sini saja?”


“Egkau yang ke sini, bungkuk!”


“Saya tidak bisa.”


“Harus bisa, kalau engkau benar-benar ingin berurusan denganku. Kalau engkau tak mau atau tak berani, lebih baik engkau pergi saja dari sini. Bawa sekalian gubuk dan orang-orangmu.”

__ADS_1


Suara geraman macan dan lengkingan elang semakin keras.


“Saya tanya dulu kepada orang-orang. Bapak-bapak, apa mau diusir dari tanah kelahiran bapak?”


Semua tak ada yang berani bicara.


Hanya saja, macan raksasa semakin mendekati gubuk.


Wajah orang-orang ketakutan.


“Ingat! Bapak-bapak, apapun yang terjadi, jangan sekali-kali turun dari gubuk!”


Teriakan ini mengejutkan orang-orang yang ketakutan.


“Jangan terpejam!”


“Tatap mata macan itu., Jangan takut!”


Semua akhirnya memberanikan diri menatap ke arah mata macan.


Macan berjalan pelan menuju ke arah gubuk.


Tepat di tengah dahi macan itu, terdapat sinar mencorong. Tanda bahwa macan ini dalam kendali Resi Witjak.


Uniknya, begitu kian dekat gubuk. Pancaran sinar itu mulai meredup.


Dan tepat di bawah gubuk, sinar itu hilang sama sekali, dan macan duduk manis.


Tak lama, macan berbaring, bahkan tertidur.


“Mbah Boger! Bangun!” teriak Resi Witjak kepada macan piaraannya.


Namun, yang diteriaki tetap saja tidur.


Memang awalnya, para jemaah di gubuk itu agak ketakutan, namun, karena macan raksasa itu benar-benar tidur, lega para jemaah di gubuk itu.


“Binatang kesayanganmu tertidur. Biarlah. Dia mungkin kecapekan karena terlalu sering engkau paksa dengan ilmumu. Sekarang, dia telah terbebas dari pengaruh ilmumu. Jadi, biarkan dia tertidur,” kata Sunan Kembang Kuning, di pinggir kali.


Betapa kagetnya Resi Witjak.


“Jangan engkau kerahkkan elang raksasamu, sebab, dia saat ini kecapekan luar biasa. Nanti, jika dia mendekat ke sini, tentu akan tertidur pulas juga,” kata Sunan Kembang Kuning.


Tujuannya, memang agar Resi Witjak terpancing untuk mengerahkan elang raksasanya.


Dan pancingannya memang berhasil.


Tujuannya, ke arah gubuk.


Sunan Kembang Kuning merasa, dengan kecepatan menukik seperti itu, sangat sulit untuk dipengaruhi. Setidaknya, elang raksasa itu bisa mati.


Untuk itu, Sunan Kembang Kuning segera mengibaskan tongkat bambunya ke arah atas.


“Blar!” benturan keras tenaga dalam memunculkan suara kencang.


Dan tiba-tiba elang raksasa memekik sangat kencang. Terlihat dia sangat kesakitan.


Sayapnya yang tertekuk, seakan dipaksa untuk terentang.


Maka, otomatis kecepatan menukiknya sangat berkurang.


Elang raksasa tampak kebingungan akan sayapnya tak bisa digerakkan.


Turun elang kian melambat.


Dalam beberapa jarak tombak, tiba-tiba sayap itu bisa digerakkan lagi. Tentu saja, elang raksasa berusaha mengerem laju tubuhnya.


Berhasil!


Elang raksasa bisa hinggap di atap gubuk.


Sinar matanya merah, menunjukkan dia dalam pengaruh ilmu Resi Witjak.


Sekali lagi Sunan Kembang Kuning mengibaskan tongkat bambunya. Kali ini diarahkan tepat di mata sang elang.


Tak lama, sinar merah di mata elang meredup, dan akhirnya menghilang.


Elang segera mengantuk, dan tertidur di atap gubuk.


“Dua hewan kesayanganmu telah tertidur, karena kecapekan.”


“Sudahlah. Buat apa engkau mengganggu kami. Bukankah kami tidak menggangumu?”


Mendengar kabar bahwa dua hewan andalannya tertidur, membuat Resi Witjak marah besar. “Kurang ajar!”

__ADS_1


“Engkau belum tahu berhadapan dengan siapa?”


“Mohon maaf, Resi, Saya tidak tahu jenengan sinten. Apa sebaiknya kita tidak kenalan dulu?” timpal Sunan Kembang Kuning.


“Ha ha ha . Engkau belum tahu siapa aku?” teriak Resi Witjak dari tengah sungai.


”Saya memang belum tahu.”


“Aku adalah Penguasa Gunung Penangggungan. Akulah Resi Witjak.”


“Oh, jadi Penjenengan penguasa gunung?”


“Benar. Engkau seharusnya lari terbirit-birit."


“Buat apa aku lari terbirit-birit. Lha wong untuk berjalan saja saya cukup kesulitan. Hik hik hik.”


“Engkau jangan main-main sama aku, Bangs*t!”


“Saya tidak main-main. Saya memang tak bisa lari terbirit, lha wong memang saya bungkuk. Untuk jalan saja tertatih.”


“Kalau begitu, kesini kamu. Ayo kita bertarung di tengah sungai.”


“Lha saya juga tak bisa terbang seperti dirimu.”


“Kalau begitu, mengakulah kalah.”


“Lho bagaimana saya bisa mengaku kalah, wong bertarung saja belum.”


Sementara orang-orang di dalam gubuk kian tegang.


Mereka ketakutan bakal mati. Karena semua pun tahu, bagaimana kehebatan Resi Witjak.


Meski mereka sebelumnya agak tenang, karena macan dan elang raksasa sudah tertidur.


“Wahai penguasa Gunung Penanggungan, kalau memang kamu tak mau mengalah dan saya pun demikian, bagaimana kalau kita bertarung,” tandang Sunan Kembang Kuning.


Mendengar tantangan guru barunya ini, langsung pucatlah beberapa mualaf yang ada di gubuk.


“Ha ha ha ha, hei bungkuk! Engkau menantangku? Resi Witjak, sang penguasa Gunung Penangggungan. Baik. Pertarungan dilakukan di mana?”


“Di sini. Di tempatmu berdiri.”


“Katanya, engkau tidak bisa ke sini?”


“Memang benar. Tapi saya bisa ke situ, jika untuk bertarung melawanmu. Tapi ada syaratnya.”


“Sebutkan, apa syaratnya?”


“Pertarungan kita ditonton warga kampung. Dan yang kalah, harus mengakui dengan kebesaran jiwa.”


“Ha ha ha. Engkau bakal mempermalukan dirimu sendiri. Baik. Undang warga kampung untuk melihat pertarungan kita!”


“Baik.”


“Mohon bapak-bapak yang ada di gubuk. Undang Pak Lurah, pedanda, dan warga kampung ke sini. Katakan, akan ada pertarungan hebat.”


“Tapi, Mbah... ada macan dan elang besar.”


“Jangan khawatir. Macan itu akan tidur lama di situ, juga elang, karena keduanya sudah lama tak merasakan tidur nyenyak setelah terkena ilmu Resi Witjak.”


Perlahan, beberapa mualaf yang ada di gubuk berjingkat turun gubuk, lalu berhamburan ke berbagai arah.


Memang tak lama kemudian, berbondong warga kampung, termasuk pedanda, sudah ada di pinggir kali. Mereka ingin menyaksikan pertarungan antara si bungkuk melawan Resi paling sakti.


Melihat Resi melayang di atas permukaan air, para penduduk takjub dan berdecak kagum.


Warga kampung, termasuk Pak Lurah dan pedanda, merasa sangat yakin, tak lama lagi si Mbah bungkuk akan pergi dari kampung ini. Bahkan, mereka yakin Mbah Bungkuk akan menemui kematiannya di sini.


Setelah semua berkumpul, Mbah Bungkuk meminta kepada beberapa mualaf untuk dicarikan bambu, dan ditata sedemikian rupa menuju ke arah Resi Witjak.


Setelah bambu-bambu itu siap, perlahan, Sunan Kembang Kuning melangkah perlahan. Dia tertatih dan nyaris jatuh. Begitu sulitnya bagi Sunan Kembang Kuning bisa mencapai dan berhadapan langsung dengan Resi Witjak.


Resi Witjak memermainkan Sunan Kembang Kuning, dengan cara melayang ke arah sebaliknya. Sangat sulit bagi Sunan Kembang Kuning memutar tubuhnya.


Penonton menertawakan gerak tertatih Sunan Kembang Kuning yang hampir jatuh itu.


“Kenapa engkau harus mutar-mutar, wahai musuh Allah!”


“Ha ha ha, lucu. Untuk berdiri di bambu saja engkau kesulitan saja, kok ingin melawan diriku. Ha ha ha.”


Dan putaran tubuh Resi Witjak semakin kencang.


Karena kecapekan mengikuti putaran musuhnya, Sunan Kembang Kuning atau Mbah Bungkuk hanya diam saja.

__ADS_1


Penonton pun tertawa terpingkal-pingkal.


Pasalnya, sesekali waktu, Resi Witjak menginjak bambu mambu mengapung di air sungai dengan agak kencang, sehingga Mbah Bungkuk kesulitan menjaga keseimbangan dan hampir jatuh.


__ADS_2