BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7k: Siuman, Langsung Jadi Empu


__ADS_3

Agak lama, keduanya mulai siuman nyaris bersamaan.


Dan mereka pun mulai duduk, dan mencoba berdiri.


“Selamat Pak. Bapak kini adalah Mpu yang hebat.”


Semua terbengong.


“Maksud Kanjeng Sunan?”


Sunan Kembang Kuning menyuruh satu orang membawa lempengan baja yang putih mengkilap.


“Buatlah pedang dari dua lempengan ini,” perintah Kanjeng Sunan.


Dua orang itu agaknya belum pulih betul.


Begitu tangan keduanya menerima masing-masing lempengan baja putih itu.


Seakan baja itu melumer.


“Segera bentuk seperti pedang!”


Mereka berdua pun mulai menarik, memipihkan, dan membentuk seperti pedang.


Semua terbelalak.


Tanpa terasa panas, dan memang tak panas.


Agak lama kemudian, dua pedang itu benar-benar jadi.


“Ini adalah ilmu milik Nabi Daud yang langsung diajarkan oleh Allah SWT. Oleh para waliyullah, ditemukan cara berdasar maunah dan ilham. Semata-mata untuk membantu perjuangan umat Islam dalam penghadapi perang. Agar dengan cepat menyediakan anak panah, pedang, tombak. Dan akhirnya ilmu ini sampai kepada saya. Lalu, saya ajarkan kepada kalian semua. Silakan kalian membuat pisau, peralatan pertanian, atau peralatan berburu. Lalu jual,” kata Sunan Kembang Kuning.


Betapa gembiranya dua murid ini. Tak sabar mereka ingin mencoba membuat peralatan lain.


Tentu saja pemandangan ini, membuat para murid lain seperti melihat sosok empu sakti, yang bisa membuat keris dengan tangannya.


Namun, mereka segera sadar bahwa, mereka pun sebenarnya mampu dan bisa. Bukankah caranya sudah dipandu Kanjeng Sunan.

__ADS_1


Bahkan, dua teman mereka sudah membuktikan.


Untuk itu, mereka pun segera berlatih keras mengatur nafas yang sangat aneh ini.


Beberapa orang terjungkal. Muntah-muntah.


Hanya karena semangat ingin menguasai ilmu aneh ini, menjadikan mereka segera bangkit, dan berlatih lagi.


Semua bersemangat.


Tak berapa lama, yang muntah-muntah hampir semuanya.


Ada di antaranya langsung terjungkal, pingsan.


Dan dilanjutkan kelojotan seakan sesak napas. Uniknya, semua ingin merasakan kejadian menakutkan itu.


Dan memang, tak seberapa lama setelahnya, semua kelojotan di tanah, seakan sesak napas yang tak tertahankan. Mata hingga terbelalak. Mereka memegangi tenggorokan yang seakan tak bisa untuk dilewati udara.


Dan dilanjutkan pingsan.


Tak seberapa lama, akhirnya ada yang siuman.


Sunan Kembang Kuning mengulurkan besi untuk dibentuk.


“Allohu Akbar, besi itu seakan menurut. Bahkan bisa dipipihkan.”


Satu persatu yang siuman, diberi besi, dan ternyata sangat mudah mereka membentuk besi dan baja itu. Ada yang membuat keris, ada yang membuat pisau, pedang, bahkan kampak.


“Alhamdulillah, kalian semua telah menguasai ilmu ini. Silakan pulang, dan mulai membuat alat pertanian atau senjata. Pada waktunya nanti, kalian semua akan dikerahkan untuk membuat anak panah, ketika memang ada ancaman bagi kelangsungan hidup kita, sekarang pulanglah...”


Para murid suka cita segera membubarkan diri.


Di rumah masing-masing, mereka pun mulai mencari-cari besi atau baja, untuk dibentuk menjadi senjata atau barang pertanian.


Tentu saja istri dan anak mereka terkagum-kagum, atas kemampuan meneluk besi ini.


“Pak e, hanya beberapa hari, engkau sudah menjadi sakti begini?”

__ADS_1


“Benar Mak e, sepertinya, ini adalah ajaran yang benar. Dewa-nya Kanjeng Sunan, sepertinya lebih hebat dari dewa-dewa kita. Apa kita lebih baik mengikuti Kanjeng Sunan saja.”


Dan omongan seperti itu, banyak dialami oleh semuanya. Bahkan, tetangga mereka pun menggerumbul melihat kehebatan menekuk besi.


Tak pelak, esok harinya, pengikut latihan semakin membludak.


Ini yang menjadikan para pedanda kebat kebit, dan kalang kabut.


“Bagaimana ini, Dewa yang di bukit suci, kenapa tak segera membakar gubuk laknat itu? Warga kampung sudah mulai kepengaruh si tua bungkuk itu. Bayangkan, dalam beberapa hari saja, warga kampung sudah bisa mengukir batu layaknya pembuat candi, dan melemaskan besi layaknya empu. Kalau diteruskan, kita bakalan tersisih. Agama nenek moyang kita juga akan musnah. Kita harus melakukan sesuatu,” kata satu pedanda, dalam sebuah pertemuan petinggi agama di Singasari.


Namun, semua pedanda tak ada yang berbicara, sebab mereka tahu bagaimana kesaktian sosok bungkuk itu.


“Kita harus meminta bantuan majapahit untuk menaklukkan orang itu,” timpal si pedanda itu.


“Tidakkah kalian tahu. Cerita di Majapahit, dan sepertinya yang diceritakan ya si bungkuk ini. Dia telah menaklukkan seluruh orang sakti di Majapahit,” kata lainnya.


“Ah, cerita dari mana itu?”


“Lho, sosok pendekar macan yang tangguh, bukankah dia? Dia bisa mengajak macan raksasa menjauh dari kita. Lalu apa lagi?”


“Yang jelas, kita harus membuat perlawanan melawan si bungkuk itu.”


Akhirnya, suara pedanda terpecah. Sebagian besar memilih tetap beribadah di candi, dan tak terpengaruh si bungkuk, sedangkan sebagian kecil, memilih melakukan perlawanan dengan mengumpulkan warga kampung yang militan.


Memang, akhirnya rencana itu dilakukan. Setiap hari mereka bergerilya mencari warga kampung yang mau diajak melawan kelompok siu bungkuk.


Setidaknya, terkumpul 20 orang yang sangat benci dengan kehadiran si bungkuk.


Dua puluh orang dan beberapa pedanda ini, sepakat meminta bantuan kepada Majapahit untuk dilatih ilmu peperangan. Maka, berangkatlah mereka menuju ke Majapahit.


Dan dalam beberapa hari, mereka sudah sampai di Mojosari.


“Kalian hendak belajar ilmu perang? Untuk apa?”


“Di desa kami ada sosok bungkuk, yang menyebarkan ajaran sesat. Pengikut mereka tambah banyak.”


“Oh, maksud kalian agama Islam? Di Majapahit sudah banyak yang mengikuti kok. Bahkan, pemimpin mereka masih anggota keluarga raja. Kalau boleh saya sarankan, urungkan saja niat kalian untuk melawan. Mereka semakin kuat,” kata prajurit.

__ADS_1


__ADS_2