BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 6c: Pertarungan Kiai Wung Sunggi Lawan Kiai Nogo Sowo


__ADS_3

Termasuk Kiai Wulung Sunggi, bergerak sekenanya mengikuti gerak sembilan santri.


Sang ular, keluar dari sumur, dan mendekati Sunan Kembang Kuning.


Perlahan tubuhnya melingkar, kepala ular tepat di tengah lingkaran.


“Saya mohon maaf, kalau saya mengganggu tapa bratamu,” kata Sunan Kembang Kuning, yang mana pijar tubuhnya mulai meredup.


Perlahan, pijar tubuh itu mulai menghilang sepenuhnya.


Sunan Kembang Kuning tertatih mendekati ular.


Sang ular hanya mendesis. Lidahnya dijulurkan, dan tatap matanya sangat tajam mengarah ke Sunan Kembang Kuning.


“Saya tahu, engkau bisa berbicara, karena engkau sebenarnya bukan ular.”


Sang ular masih hanya mendesis.


“Baiklah, kalau engkau tak mau omong, saya hanya meminta, janganlah engkau bunuhi burung-burung kecil ini, hanya karena ingin memberikan kesan bahwa candi ini adalah angker.”


Sang ular belum menjawab, hanya mendesis.


“Itu saja, permintaan saya. Jika engkau tak mau, kita akan bertarung sampai mati. Karena, ini bagian dari jihad saya. Mari kita sayangi mahluk ciptaan Allah swt. Apa Engkau tak tahu, siapa tahu burung-burung kecil yang engkau bunuh ini, sedang mencarikan makan untuk anak-anaknya di sarangnya? Jika engkau bunuh, lantas siapa yang mengasih makan anaknya?”


“Saya tahu, engkau adalah penjaga candi ini. Dan untuk itulah, sebenarnya engkau bisa berbicara layaknya manusia, karena engkau memang jin. Ayo berbicara sama saya.”


Sang ular agaknya tak senang.


Lidahnya dijulurkan kian panjang.


“Saya tak takut sama sekali padamu. Saya tahu, kelemahanmu berada di ujung jenggot di bawah mulutmu, dan ujung dua cula di kepalamu. Begitu saya pukul tiga tempat itu, engkau akan mati. Hai bangsa jin, tunjukkan rupa aslimu.”


Ekor ular bergerak sendikit, tanda dia hendak mengeluarkan serangan.


“Bagaimana mungkin engkau yang tanpa kaki bisa menang melawan saya yang bisa bergerak bebas dengan kaki? Jika ingin bertarung, ayo kita lakukan sebagai laki-laki.”


Sang ular mengurungkan serangannya.


Sunan Kembang Kuning terdiam.


“Wahai manusia, kenapa engkau menggangguku,” tiba-tiba ular itu bisa berbicara.


Sepuluh orang yang melihat dari kejauhan, didera ketakutan.


Dari mulut ular terlihat keluar kepulan asap upas. Agaknya asapa upas ini beracun.


Asap itu mengarah kepada Sunan Kembang Kuning, yang bertelekan bambu kuning untuk membantunya berdiri.


Sesekali, Sunan Kembang Kuning mengibaskan tongkatnya itu, untuk mengusir kepulan asap yang mengarah ke wajahnya. Upaya ini untuk menghalau agar asap upas itu tidak terhirup hidungnya.


“Siapa yang mengusikmu. Engkaulah yang mengusik alam manusia. Bukankah, alammu adalah alam jin? Kenapa harus membuat onar di alam dunia?” kata Sunan Kembang Kuning, dengan suara pelan tapi mantap.


“Siapa engkau? Siapa yang merusak alam dunia?”


“Kamu?”


“Apa dasarmu?”


“Berapa burung yang mati, ketika melintas di atas candi ini? Bagaimana pendapat penduduk di sini dengan kejadian itu? Bagaimana perasaan Kiai Wulung Sunggi, yang dianggap orang-orang kejam gara-gara ulahmu itu?”


“Burung memang mati karena menghirup upasku, apa urusanku? Tak ada! Bukankah itu salahnya burung sendiri, kenapa dia melintas di atas candi ini?”


“Engkau benar-benar jin laknat. Tidakkah engkau tahu, bahwa di antara burung-burung yang mati itu, ada yang harus memberi makan anak-anak di sarangnya. Dia berangkat keluar sarang untuk mencari makan untuk anak-anaknya. Jika begini, tentu anak-anaknya ikutan mati kelaparan.”


“Aku tak ada urusan dengan matinya burung.”


“Ini menjadi urusan saya!” kata Sunan Kembang Kuning kian tegas.


Matanya tajam menatap ular raksasa berjenggot itu.

__ADS_1


“Ilmumu hanya segitu, hendak melawanku, yang telah tapa brata ribuan tahun?”


“Saya tak peduli. Yang jelas, kelakuanmu itu harus dihentikan, agar tak lagi ada burung yang mati saat melintas di atas candi ini. Juga kasihan Kiai Wulung Sunggi, dia tak tahu apa-apa, jadinya malah ditakuti orang banyak.”


“Siapa yang engkau sebut. Si tua ringkih itu? Yang kerjanya hanya tapa brata sepertiku, tapi tak dapat ilmu apa-apa, gara-gara hanya percaya satu dewa?”


“Benar.”


“Hmmm. Sebenarnya, aku punya urusan dengan dia, bukan denganmu. Kalau dia bisa mengalahkanku, maka aku tak akan lagi menebar upas di alam manusia.”


“Tidak. Engkau adalah lawan saya. Ayo kita bertarung.”


“Aku tak ada urusan denganmu. Aku ada urusan dengan si tua ringkih itu.”


“Kenapa?”


“Dia tak dapat ilmu dewa. Namun dia mengganggu tapa brataku, dengan kepercayaannya kepada satu dewa itu. Aku akan membunuhnya.”


“Tentu aku akan menghalangimu,” kata Sunan Kembang Kuning, dan mulai membuka jurus.


“Aku akan melayanimu, jika aku sudah bertarung melawan si tua ringkih itu.”


Tiba-tiba, dengan mengesot, Kiai Wulung Sunggi mendekat.


”Nah, ini orangnya, yang mengganggu tapa brataku.”


“Kanjeng Kiai. Sebenarnya ada apa?” tanya Sunan Kembang Kuning.


“Memang, selama tapa brata di sini, saya merasa ada yang tidak pantas di sini, namun, saya tidak tahu. Dan baru tahu kali ini, ternyata berasal dari ular jadi-jadian ini. Saya pun berupaya menghalau sebisa-bisanya. Namun, ternyata ilmu saya tak mampu lagi. Untuk itu, saya hanya bisa mengumpulkan mayat-mayat burung itu, dengan tenaga dalam, agar tidak berserakan di mana-mana.”


“Kanjeng Sunan. Mungkin ini adalah jihad yang bisa lakukan di usia senja. Mohon izinnya.”


Sunan Kembang Kuning tercenung sejenak.


Sunan Kembang Kuning sudah bisa mengukur, bahwa ilmu si ular jelmaan jin ini jauh lebih tinggi daripada ilmu yang dikuasai Kiai Wulung Sungi.


“Mohon maaf Kanjeng Sunan. Selama puluhan tahun saya bertapa di candi ini, saya lah yang melihat kekejaman dari ulah ular ini. Jadi, sungguh, seandainya saya tahu ini ulah ular, pasti sudah saya ajak bertarung sejak dulu. Mungkin Allah masih menyayangi saya, kenapa kok akhirnya setelah saya menjadi muslim, diberi kesempatan oleh Allah untuk bertarung melawan jin jahat ini. Mohon izinnya.”


Sunan Kembang Kuning pun tak bisa berkata lagi, selain mengangguk.


Segera Kiai Wulung Sunggi duduk bersila. Dia segera mengerahkan ilmunya paling tinggi.


Hanya saja, karena Kiai Wulung Sunggi sudah menjadi mualaf, dia memilih untuk tidak merapal mantra-mantra Hindu. Dia hanya mengandalkan bacaan bismillah, dan kalimat tayyibah lain.


Tentu saja, olahan tenaga dalamnya tidak sedahsyat jika dia merapal dengan mantra Hindu.


Pertarungan pun sampai pada detik-detik gebrakan.


“Ha ha ha. Ilmu segitu dangkal hendak menghadapi ilmu Kiai Nogo Sowo? Terimalah kematianmu.”


Dalam posisi bersila, Kiai Wulung Sunggi mulai mengangkat dua tangannya, tanda dia menghimpun tenaga langit sebesar-besarnya.


Sang ular raksasa bernama Kiai Nogo Sowo ini pun berdesis kencang, tanda dia menghimpun tenaga dalam sebesarnya. Kepulan asap dari hidungnya menghilang, tanda dia menghimpun lebih banyak lagi upas di dalam rongga hidungnya.


Tak lama, tiba-tiba tubuh Kiai Wulung Sunggi, dengan posisi masih bersila, melenting maju. Kepalan dua tangannya sudah penuh tenaga dalam.


Kiai Wulung Sunggi mengincar kepala Kiai Nogo Sowo.


Sunan Kembang Kuning terperanjat. Dia tak menyangka jika Kiai Wulung Sunggi hendak mengincar kepala.


“Jangan! Jangan incar kepalanya. Jangan adu kekuatan!” teriak Sunan Kembang Kuning.


Namun, semua sudah terlambat.


Tubuh Kiai Wulung Sunggi melesak mengarah ke kepala ular.


Jarak sudah semakin dekat.


Mata Sunan Kembang Kuning terbelalak.

__ADS_1


Sembilan orang yang mengikuti pertarungan dari jarak aman, mulutnya ternganga. Dada bedegup kencang.


“Allahu Akbar!” teriak Kiai Wulung Sunggi, sembari melancarkan dua pukulan kepalan tangan ke arah kepala Kiai Nogo Sowo.


Sang ular pun agaknya sudah siap dengan kemungkinan ini. Sengaja jin pertapa ini membiarkan kepalanya untuk diserang.


Dibiarkan pukulan Kiai Wulung Sunggi melesak sangat dekat.


“Duar!”


Suara ledakan muncul ketika pukulan dua kepalan tangan Kiai Wulung Sunggi nyaris mengenai dua mata Kiai Nogo Sowo.


Namun, benteng gaib yang melindungi sang ular, mampu membuyarkan himpunan tenaga dalam dalam kepalan Kiai Nogo Sowo.


Begitu kepalan itu tanpa tenaga dalam lagi, saat itulah Kiai Nogo Sowo membalas serangan. Dibukanya mulut selebar-lebarnya.


Dengan hempasan angin dari perut sekencang-kencangnya, disertai dengan kepulan asap upas dari lubang hidungnya, diarahkan ke tubuh ringkih Kiai Wulung Sunggi, yang berada di posisi melayang.


“Wessss!”


Tubuh Kiai Wulung Sunggi terkena hembusan angin kencang dari mulut ular ini.


Efeknya sungguh luar biasa.


Seakan terkena hempasan angin prahara.


Tubuh Kiai Wulung Sunggi terlempar ke belakang.


Kiai Wulung Sunggi merasakan seakan sekujur tubuhnya terkena terpaan ribuan jarum.


Meski tak berdarah, tapi dia merasakan perih luar biasa.


“Allahu Akbar,” keluh Kiai Wulung Sunggi lirih, saat melayang di udara.


Tubuhnya terhempas di tanah, lalu berguling-guling.


Posisinya tak lagi duduk bersila. Dua lutut dan kakinya hancur.


Beberapa tulang rusuknya pun patah.


Serta merta, sembilan santri segera berlarian ke arah tubuh Kiai Wulung Sunggi, yang diam tak bergerak, dalam posisi tengkurap.


Dalam posisi kepala di pangkuan Ki Sipang, nafas Kiai Wulung Sunggi terasa sangat berat. Kiai Wulung Sunggi merasa upas Kiai Nogo Sowo sudah merasuk di sekujur tubuhnya. Tusukan jarum semakin mendekat jantung.


Namun, di antara sakit yang tak tertahankan itu, Kiai Wulung Sunggi seakan melihat kenikmatan yang luar biasa.


Mulutnya, perlahan mengalirkan darah segar.


Agaknya, paru-paru Kiai Wulung Sunggi sudah hancur.


Nafasnya sudah bercampur darah dari mulutnya.


Hidung, telinga, hidung, semua mengeluarkan darah.


“La ilaha Illallah,” bisik Kiai Wulung Sunggi, dengan tatapan mata ke atas, lalu meredup.


Kepala Kiai Wulung Sunggi terkulai.


Kiai Wulung Sunggi meninggal dalam pangkuan muridnya, Ki Sipang.


“Inna lillahi wa Inna ilaihi Roojiun,” kata mereka bersembilan.


Ki Sipang memeluk rubuh gurunya, sambil menangis sesegukan.


“Kanjeng Sunan, Kanjeng Kiai wafat.”


“Inna lillahi wa Inna ilaihi Roojiun.”


“Engkau sebentar lagi akan mengikuti si tua ringkih itu. Selanjutnya, jika kamu sudah mati. Sembilan orang itu akan aku kunyah hidup-hidup. Ha ha ha. Itu akibat kalau mengusik Kiai Nogo Sowo.”

__ADS_1


__ADS_2