BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7i: Pak Lurah Jadi Mualaf


__ADS_3

Mereka juga merasakan aroma wangi yang berasal dari tubuh Resi Witjak. Sungguh satu sensasi yang sangat tak lazim.


Dan karena kurang hati-hati, daun pembungkus jenazah Resi Witjak sobek, dan kepala Resi Witjak yang memang lepas dari leher menggelinding.


Betapa orang-orang yang melihat peristiwa ini menjerit sekencang-kencangnya. Termasuk para pedanda yang kaget alang kepalang.


Semua mata menatap ke arah kepala yang lepas itu.


Semua terbelalak.


Mereka semua melihat senyum mengembang di bibir Resi Witjak.


Wajahnya sangat lembut, dan mengeluarkan aroma wangi kesturi.


Tak berani mengambil kepala Resi Witjak, akhirnya mereka memutuskan untuk membangunkan Sunan Kembang Kuning dan para mualaf lainnya.


Begitu dibangunkan, betapa kaget mereka semua. Sebab, sudah ratusan warga kampung di situ, belum lagi, matahari sudah bersinar terik.


Segera Sunan Kembang Kuning berwudlu, dan mengajak semua mualaf untuk melaksanakan salat subuh qadla.


Para pedanda tak berani menyela.


Mereka menunggu sampai selesai salat.


Usai wiridan, Sunan Kembang Kuning dan para mualaf menghampiri para pedanda.


“Mohon maaf Mbah Bungkuk. Kami tak berani memegang kepala Resi Witjak. Tadi menggelundung dan kami biarkan.”


“Lho? Belum jadi abu?”


“Belum Mbah Bungkuk. Kami menyerah. Terserah Mbah Bungkuk saja, kami serahkan jenazah Resi Witjak kepada jenengan.”


“Jadi, kami akan mengubur jenazah Resi Witjak, ya.”


“Monggo."


Maka, Kanjeng Sunan Kembang Kuning menjumput kepala Resi Witjak dengan hati-hati, membersihkan dari abu, dan membopongnya.


Kepala dengan bibir tersenyum serta beraroma sangat wangi itu ditunjukkan kepada orang-orang kampung.


Ada berbagai reaksi. Ada yang menjerit, ada yang menangis dan ada takjub.


“Bapak ibu semua, ketahuilah. Menjelang kematiannya, Resi Witjak memperoleh hidayah. Ceritanya begini, saat menghadapi elang raksasa tadi, sebenarnya Resi Witjak bisa mengalahkan sang elang, jika mau mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang dilatih selama ini, yaitu dengan rapalan dari agama Hindu. Tetapi, Resi Witjak memilih tidak menggunakan, dan mengandalkan tenaga kasarnya saja. Kenapa Resi Witjak enggan memakai ilmu Hindu? Dikarenakan beliau telah mengucapkan kalimat Syahadat, yaitu pengakuan bahwa Tiada tuhan selain Allah dan Nabi muhammad utusan Allah.”

__ADS_1


“Resi Witjak menjadi sebagai muslim sejati. Dan dalam pertarungan melawan elang, tentu saja sangat mudah dikalahkan, dikarenakan elang memang hewan perkasa. Saya menemukan di puncak bukit, usus terburai, dan kepala sudah terlepas dari leher. Tapi, lihatlah, beliau tersenyum menjemput kematian. Sebab, beliau telah ditunjukkan nikmat surga sebenarnya.”


Semua terdiam menyimak.


“Bahkan, Allah tak rela, jika tubuh sang wali ini, terbakar. Untuk itu, seberapa besar api membakar, tubuh Resi Witjak tetap tak tersentuh, meski sehelai rambut. Jadi, kami akan menguburkan jenazah Resi Witjak secara Islam.”


Lalu, jenazah Resi Witjak dibopong menuju ke sebuah bukit kecil, lalu beberapa orang menggali lubang kubur sesuai perintah Sunan Kembang Kuning.


Warga kampung yang baru mengetahui prosesi pemakaman secara Islam, berbondong-bondong ikut melihat, termasuk para pedanda.


Usai lubang siap, jenazah Resi Witjak dikuburkan dengan tubuh miring dan kepala di bagian utara.


Sunan Kembang Kuning mengumandangkan adzan, disusul dengan iqomah.


Lalu ditimbun tanah.


Usai pemakaman, Sunan Kembang Kuning membacakan talqin, dalam bahasa Jawa.


Sengaja disuarakan dengan sangat kencang, disertai tenaga dalam.


Harapannya, seluruh warga turut terdengar.


Beberapa warga asyik menyimak, lebih-lebih para mualaf, hingga proses pembacaan talqin selesai.


Sunan Kembang Kuning dan mara mualaf, kembali ke gubuk. Istirahat sebentar, lalu mereka kerja bakti membersihkan abu bekas aben, hingga kembali bersih lagi.


Kehidupan berjalan normal, tak ada lagi yang berani mengusik keberadaan gubuk Sunan Kembang Kuning.


Malah, dibuat gubuk lebih luas lagi, dikarenakan jumlah mualaf semakin bertambah.


Para Pedanda tak berani lagi mengusik gubuk itu.


Bahkan, Pak lurah beberapa kali, mencuri-curi kesempatan untuk mendengarkan ngaji yang disampaikan Sunan Kembang Kuning kepada para mualaf.


Bukan itu saja, di tempat tersembunyi, pak Lurah ikut-ikutan salat, ketika tiba waktunya salat berjamaah.


Sunan Kembang Kuning mengetahui hal ini, namun dibiarkan saja.


Hingga beberapa kali Pak Lurah mengikuti salat dan mencuri dengar pengajian dan wirid dari gubuk, Sunan Kembang Kuning menyuruh satu anggota jemaahnya, untuk bersembunyi dan memergoki Pak Lurah.


Tentu saja dipilihkan orang yang sangat disukai Pak Lurah. Dia disuruh mengajak omong pak lurah secara sembunyi-sembunyi, agar tak membuat Pak Lurah malu, atau dipergoki warga lain.


Dan benar, saat salat maghrib, satu santri ini mengendap di belakang Pak Lurah. Ketika salat digelar, Pak Lurah mengikuti gerakan salat itu. Dan tiba-tiba saja, di sampingnya, ada orang lain juga ikutan salat.

__ADS_1


Tentu saja Pak Lurah kaget, dan nyaris saja dia meninggalkan tempat itu. Namun cukup gamang.


Setelah dilirik bahwa yang berdiri di sampingnya adalah satu orang yang dipercaya, Pak Lurah mengurungkan niat untuk pergi. Tapi, tetap mengikuti gerakan salat di gubuk itu.


Usai salat, Pak Lurah digeret menjauh di tempat kegelapan.


“Kanjeng Sunan sudah tahu, kalau Pak Lurah mencuri dengar. Untuk itu, saya diminta untuk menemui bapak.”


“Oh kamu, Ladi. Ia, saya tertarik dengan agama baru yang namanya Islam ini. Sepertinya saya cocok dengan agama ini. Kalau sedang menyembah, saya ikut di sini. Rasanya bagaimana gitu,” jawab Pak Lurah.


“Sekarang terserah Pak Lurah. Mau menemui langsung Kanjeng Sunan, atau tidak, juga tak apa-apa.”


“Kalau saya menemui sekarang, tentu kampung akan gempar. Bagaimana dengan para pedanda?”


“Lho, terserah Pak Lurah. Kalau memang mengambil resiko, ya tentu saja bisa terang-terangan. Kalau menurut Pak Lurah masih terlalu riskan, ya sembunyi-sembunyi juga tak apa-apa. Tapi, untuk menjadi muslim, harus mengucap kalimat syahadat. Yaitu kalimat persaksian tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah Nabi Allah.”


“Baik, saya ingin menjadi muslim. Saya sudah mantap. Tapi, jangan sampai orang-orang tahu.”


“Baik Pak Lurah. Ikuti kalimat yang saya ucapkan.”


Lalu Pak Lurah mengucap kalimat syahadat sebagaimana dibimbing Ladi.


Pak Lurah Ki Serono Puspodiloro telah menjadi muslim, dan disarankan dia menggunakan nama muslim. Pak Lurah awalnya tak mau, tapi setelah diberi penjelasan oleh Ladi, Pak Lurah memilih nama Ahmad Muttaqin.


Namun, keislaman Ki Serono Puspodiloro tetap disembunyikan.


Dan pada satu malam, Pak Lurah ingin menemui Sunan Kembang Kuning, untuk membicarakan perkembangan agama barunya itu.


“Kanjeng Sunan, saya ingin menjadikan ini adalah kampung muslim. Bagaimana caranya ya?”


“Islam dibangun dengan kecintaan. Islam itu rahmatan lil alamiin. Maka, tak perlu khawatir, nantinya Islam akan diterima apa adanya. Buktinya, jenengan akhirnya memilih memeluk Islam.”


“Karena Islam bagi saya adalah agama yang bisa diterima oleh akal manusia.”


“Saya sebenarnya sudah berjanji akan mengajarkan ilmu dari Resi Swadaraya untuk para pedanda dan warga. Mungkin bisa dilakukan melalui itu.”


Pak Lurah diam.


“Lalu, ada baiknya, Pak Lurah yang saya ajari dulu. Saya berharap, ilmu kanoragan Pak Lurah harus jauh lebih hebat daripada penduduk dan pedanda, agar Pak Lurah bisa dihormati dan disegani, serta bisa memberikan perlindungan kepada warga jika terjadi serangan.”


Akhirnya, Ki Serono menyatakan setuju. Dan latihan dilakukan di tempat yang jauh, sepasar dua kali. Di sebuah bukit.


Untuk menyamarkan latihan ini, Sunan kembang Kuning hanya mau ditemani satu orang saja, yaitu Ladi, sedangkan para mualaf lain tetap di gubuk, agar tidak membuat warga lain curiga.

__ADS_1


Latihan pun dimulai.


__ADS_2