
“Ini sudah saya siapkan permintaan saya, yang saya tulis di daun lontar. Dan sudah saya bungkus dengan daun pisang. Tolong, sekali-kali jangan dibuka, sampai Bapak-bapak semua mengalahkan Si Bungkuk. Buka dan baca dulu permintaan saya, barulah bunuh si Bungkuk jika Bapak-bapak memang menginginkannya.”
Bungkusan itu diserahkan kepada Sudarno untuk disimpan.
“Baiklah, Bapak-bapak. Kita mulai latihan. Ingat, ini adalah satu-satunya ilmu yang bisa mengalahkan si Bungkuk. Jadi, saya berharap, dipelajari dan dilatih dengan sungguh-sungguh.”
Diawali ke-24 orang itu disuruh mandi keramas di Kolam Segaran. Lalu. semua diminta untuk semadi di pinggir Kolam, memanjatkan puja dewa. Sudarno memimpin.
“Ingat Bapak-bapak, meski pun panas terik matahari, tolong jangan buyarkan semadi. Yang bisa bapak lakukan, adalah rasakan seakan bapak berendam sebatas leher dalam Kolam, untuk mengurangi panas. Ingat pesan saya. Selama bapak tidak bisa melakukan hal itu, maka kita tak bisa melangkah lebih jauh untuk mempelajari ilmu Bayu Segoro.”
Kawis Guwo berlalu.
Ke-24 orang ini, berupaya semadi setenang mungkin. Awalnya, memang terkesan khusu, dan lancar. Namun, ketika matahari mulai terik, Bapak-bapak ini mulai merasakan kepanasan. Panas di kepala, mulai membuat pening kepala. Bahkan, rasanya ditusuk-tusuk jarum.
Kondisi kelelahan dan tubuh penuh peluh ini, menjadikan konsetrasi mereka agak kesulitan. Jangankan untuk membayangkan seakan berendam di air Kolam, untuk mempertahankan khusu saja cukup sulit.
Mereka mencoba bertahan.
Banyak warga sekitar yang melihatnya, dan umumnya memandang sebagai hal biasa. Sebab, yang melakukan semadi, bukan saja mereka. Kerap, Kolam Segaran digunakan untuk melatih ilmu kanoragan. Jadi, bukan sesuatu yang aneh.
Matahari kian terik, dan mulai tepat di ubun-ubun.
Mereka merasa, seakan matahari sangat dekat. Panasnya begitu menusuk. Jarum-jarum ribuan jumlahnya, seakan menghujani kepala mereka.
Satu orang ambruk.
Satu lagi ambruk.
Satu lagi ambruk.
Semua ambruk.
Mereka merangkak menuju ke Kolam Segaran, dan memasukkan kepala mereka dalam air. Langsung terasa dingin.
Mereka menengadah ke atas.
Heran.
Sebab, matahari ternyata tertutup mendung.
“Kok terasa panas?”
Semua saling memandang.
Akhirnya mereka memilih duduk-duduk di bawah pohon waru, menunggu kedatangan Kawis Guwo. Yang ditunggu hingga sore dan malam tak datang.
“Jangan-jangan kita dipermainkan oleh anak muda itu,” celetuk salah satunya.
Tak ada yang menjawab. Hingga semua tertidur pada malam hari.
Mereka dibangunkan ketika menjelang fajar.
“Ayo, Bapak-bapak, mulai latihan lagi. Ingat, bayangkan, Bapak-bapak berendam dalam air Kolam sebatas leher,” kata Kawis Guwo yang membangunkan satu per satu.
Tanpa kata, mereka langsung mengambil sikap semadi, lalu mereka pun memulai semadi.
Kawis Guwo berlalu.
Kejadian di hari kedua, tak beda jauh. Malah lebih parah.
Belum lagi matahari terbit, kepala mereka sudah seperti kejatuhan ribuan jarum dari atas.
“Ada apa ini? Kok kepala kita terasa dihujani jarum, sangat perih, panas seperti terkena terik matahari,” keluh satu warga Watu Gede, yang memutuskan tidak melanjutan semadi, dan segera mencelupkan kepala ke air Kolam Segaran.
Satu per satu membuyarkan semadi.
Berbarengan mencelupkan kepala dan seluruh tubuh dalam Kolam Segaran.
Mereka berendam lebih lama, karena rasa hujaman jarum di ubun-ubun tak segera hilang. Meski beberapa kali membenamkan kepala ke dalam air, rasa hujaman jarum kian perih. Beberapa orang sampai-sampai meraba ubun-ubunnya, namun menemukan yang aneh, hanya sekumpulan rambut.
Mereka tak tahan.
Nyaris gila.
Mereka mulai tak malu untuk teriak sekencangnya, dan mengundang perharian beberapa orang.
“Sakit! Sangat sakit! Aduuuuuuh!”
Hanya itu meluncur dari mulut beberapa orang, ketika ditanya orang-orang yang penasaran.
Ketika matahari tepat di tengah hari, sakit hujaman ribuan jarum di ubun-ubun mulai berkurang, dan berangsur menghilang, sejalan dengan lingsirnya matahari ke barat.
“Selama kalian tidak menemukan inti sejati ilmu Bayu Segoro, Bapak-bapak akan didera kesakitan di ubun-ubun. Katanya ingin balas dendam kepada Si Bungkuk, semestinya perlu segera menemukan inti sejati ilmu bayu Segoro,” kata Kawis Guwo, saat bertandang pada malam hari.
“Sakitnya minta ampun, Adi Kawis,” kata Suparno mewakili.
“Benar, memang sangat sakit. Karenanya, temukan inti sejati ilmu ini.”
“Apa intinya?”
“Cari sendiri.”
“Bagaimana cara mencarinya?”
“Ya, cari sendiri.”
“Semua sebenarnya, telah Saya sampaikan.”
“Tolong, sampaikan lagi.”
“Tidak.”
“Tolong, Adik Kawis.”
“Tidak.”
__ADS_1
Semua diam. Kawis Guwo juga diam.
Lama.
Keheningan malam dibalut dingin. Kegelapan malam dicumbu angin.
Tiba-tiba, Kawis Guwo bersyair:
“Bayu
Ajimu Nyang Ngalam Nduyo
Ora Tau Dicucup Rojo.”
“Bayu,
Wujudmu Sirno, Ngeplongke Dodo
Agawe Ruso Rogo Manungso.”
“Bayu,
Ora Katon Nanging Keroso
Ora Keroso Nanging Ono.”
“Bayu,
Cilikmu Duwe Guno
Gedemu Ngerusak Nganti Sirno.”
“Bayu,
Kowe Mung Mahluk
Nurut Sing Moho Kuoso.”
“Bayu,
Ridlone Engkang Moho Luhur
Dadio Konco Sukmo Rogo.”
(Angin,
Berhargamu di Alam Dunia
Tak Pernah Dicium Raja.”
“Angin,
Wujudmu Sirna, Longgarkan Dada
“Angin,
Tidak kelihatan tapi Terasa
Tidak Terasa tapi Ada.”
“Angin,
Kecilmu Punya Manfaat
Besarmu Merusak sampai Memusnahkan.”
“Angin,
Kamu hanya Mahluk
Mematuhi yang Maha Kuasa.”
“Angin,
Ridlo Yang Maha Luhur
Jadilah Teman Sukma Raga.”
Semua mendengarkan, tanpa bicara.
Kawi Guwo berlalu.
“Kakang Suparno, kenapa Adik Kawis bersyair seperti itu?” tanya satu orang, setelah Kawis Guwo sudah tak tampak dalam kegelapan.
“Saya tidak tahu.”
“Mestinya, mempunyai arti. Jika hanya sekedar bersyair, buat apa?”
Pedanda Sudarno tak menjawab.
Semuanya kembali diam.
Untuk menghilangkan dingin menggelitik tulang, beberapa orang memilih jalan-jalan di sekitar Kolam.
Beberapa orang lain berinisiatif mencari kayu untuk membuat api.
Yang lainnya hanya melihat sambil berbaring berselimut baju cadangan.
Kayu yang terkumpul lumayan, dan mereka mulai membuat api.
Angin nyaris tak berhembus. Panas api merata.
Ketika angin berhembus ke barat. Hanya orang yang duduk di sebelah barat api, yang merasa hangat pada wajah dan tubuh depan. Sedangkan, yang di sebelah timur api, punggung mulai digelitik dingin.
“Angin... angin... angin... Ya, karena angin ini menghantarkan panas dan dingin. Tanpa angin, panas api marata kita rasakan, tetapi saat angin berhembus ke barat. Yang sebelah timur, punggungnya mulai dirasuki dingin. Angin hanya mengantarkan, bukan pembuat panas atau dingin. Tanpa angin, yang panas ya tetap panas di sekitarnya saja, yang dingin ya tetap dingin di sekitarnya saja,” kata satu di antara mereka.
__ADS_1
“Benar adik, ini semua karena angin. Ketika kita membuat api, saat api masih kecil tadi, kita tiup-tiup agar api membesar dan bisa membakar kayu. Juga kita hantarkan angin melalui tiupan,” kata Pecdanda Sudarno.
“Tapi, kenapa ubun-ubun kita seperti dihujam jarum panas? Apa hubungannya dengan syair Adi Kawis Guwo, dan apa hubungannya dengan angin?”
“Setidaknya, kita tahu, angin hanyalah menghantarkan panas dan dingin.”
“Jika sudah tahu, untuk apa, Kakang Darno?”
“Tidak tahu.”
Semua kembali diam. Menikmati hangatnya api.
Beringsut beberapa orang memilih berbaring.
Pedanda Sudarno memilih untuk semadi. Menenangkan pikiran dan melemaskan otot.
Belum lagi Pedanda Sudarno memasuki ruang relaksasi. Dia merasa hujaman ribuan jarum panas menyesaki ubun-ubunnya.
Terlambat.
Semadi dibuyarkan, namun hujaman ribuan jarum panas di ubun-ubun kian terasa.
“Panas, sakit... sangat sakit,” guman Pedanda Sudarno.
Sudarno mencoba bertahan, untuk tidak menghujamkan kepalanya di air Kolam Segaran.
Kian lama kian panas. Seakan ubun-ubunnya meleleh, seakan rambutnya rontok dan terbakar habis.
Sudarno tetap berusaha bertahan.
Hingga di titik nadir. Sudarno sudah tak tahan lagi.
Berlari ke arah Kolam Segaran, dan segera melompat ke air. Dia sudah tak bisa berpikir, bahwa air Kolam Segaran sangat dingin.
“Byur!”
Yang berbaring pun segera terduduk, karena saking kagetnya.
“Ada apa?”
“Tidak tahu. Tadi, Kakang Sudarno semadi. Tiba-tiba dia beranjak dan menceburkan diri ke Kolam.”
Pedanda Sudarno berkali-kali mencelupkan kepalanya ke dalam air. Sementara sekujur tubuhnya kedinginan. Dinginnya air Kolam seakan membasuh seluruh tulang belulangnya.
Gigi Sudarno gemeretak. Entah karena dingin, entah karena panasnya ubun-ubun.
Semua yang telah berdiri di bibir kolam, hanya bisa memandangi bingung.
Sudarno sangat tersiksa. Dia membayangkan, akan tersiksa hingga tengah hari besok, ketika matahari telah lingsir ke barat. Sebab, kejadian tadi siang, sakit di ubun-ubun berangksur menghilang setelah matahari lingsir ke barat.
Dari kegelapan, muncul suara:
“Bayu,
Ora Katon Nanging Keroso
Ora Keroso Nanging Ono.”
(“Angin,
Tidak kelihatan tapi Terasa
Tidak Terasa tapi Ada.”)
Agaknya, Kawis Guwo mengikuti percakapan dan tingkah laku orang-orang yang akan belajar ilmu Bayu Segoro ini.
“Bapak Sudarno, lakukan sesuai syair yang saya ucapkan tadi,” teriak Kawis Guwo dalam kegelapan.
Pedanda Sudarno beringsut menuju ke dangkal, dan bisa duduk bersila sempurna.
Dia mulai semadi.
Hujaman ribuan jarum panas masih menyiksa ubun-ubunnya. Panas luar biasa hingga menembus batang leher, dan terus menembus hingga ke tulang ekor. Hanya bagian paha dan sedikit perut saja yang terasa hangat, karena terendam air sangat dingin.
Sebisa-bisanya Sudarno rileks dan mengatur napas.
“Bayu. Ora katon nanging keroso. Ora keroso nanging ono,” mulutnya menggumamkan syair dengan perlahan.
Tubuh Sudarno menggigil. Gigi gemeretak. Tak jelas, karena kepanasan ataukah kedinginan.
Teman-temannya menyaksikan dari bibir kolam. Merasa kasihan.
Darno berusaha keras bertahan.
“Hilangkan diri! Yang ada hanya angin,” suara teriakan Kawis Guwo di kegelapan.
Darno mencoba menyatu dengan alam. Menyatu dengan air, menyatu dengan panas di ubun-ubun.
“Salah!”
Darno mencoba menyatu dengan lumpur.
“Salah!”
Darno agak resah.
“Bagaimana cara menyatu dengan angin?” pikir Pedanda Sudarno.
Saat itu, tiada udara berhembus. Namun pasti ada.
“Angin pasti ada. Kenapa?” suara teriakan dari arah kegelapan.
Darno menyadari. Angin ada, karena dia bisa bernapas. Angin tak ada, maka tidak akan bisa bernapas.
“Ingatlah burung gereja,” suara teriakan di kegelapan. “Mengepak sayap, tapi tak bisa terbang.”
__ADS_1