BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 6h: Santri Dirikan Peguyuban Kuning Seduluran


__ADS_3

“Baiklah, aku mengaku kalah dari engkau. Tapi, aku memilih lagi lawan lainnya. Yaitu, yang di pojokan. Yang belajar dari burung blekok. Ha ha ha. Blekok adalah burung yang cukup disukai ular. Ha ha ha. Terimalah ajalmu. Ayo maju ke sini!” teriak Kiai Nogo Sowo, yang sudah melupakan, bahwa dia baru saja kalah.


Sang Pendekar Blekok yang sudah mulai percaya diri, karena dia aktif berlatih, serta menyaksikan sendiri kemenangan temannya, menjadikan dia tenang.


Perlahan dia melangkah ke arena.


Kiai Nogo Sowo sudah siap menyambut Pendekar Blekok.


Seperti biasa, dia melingkarkan tubuhnya, dan menyisakan kepalanya yang menyemburkan api. Dia siap menerkam sang Pendekar Blekok.


Dalam jarak pertarungan, Pendekar Blekok mulai membuka jurus. Cukup unik. Satu kaki ditekuk, sedangkan dua lengan diarahkan ke depan.


“Ha ha ha. Posisi apa itu, betapa aku dengan mudah menyerangmu. Sungguh, itu tanpa pertahanan sama sekali. Baiklah, aku yang akan menyerang dulu,” teriak Kiai Nogo Sowo.


Secepat itu pula Kiai Nogo Sowo menerjang sangat cepat.


Uniknya, di mata Pendekar Blekok, gerakan ini sangat pelan. Bahkan saking pelannya, gerak api pun bisa dihindari dengan mudah. Apalagi gerak rahang dan tubuh raksasa ular ini.


Sangat mudah dihindari.


Dan Pendekar Blekok menginginkan pertarungan ini berlangsung cepat belaka.


Untuk itu, meski dalam posisi satu kaki terangkat, dia beringsut ke samping mengindari serangan, dan dua lengannya yang ada di depan, dijadikan senjata.


Pilihannya, adalah tamparan.


Andaikan dia mengerucutkan jari-jarinya, bisa jadi efek fatal akan dialami Kiai Nogo Sowo.


Dengan seakan sangat lamban, dia bisa melihat bagian mata Kiai Nogo Sowo.


Dua segera menampar bagian kelopak mata Kiai Nogo Sowo.


“Seplak!!!!”


Suara cukup menggelegar.


Kiai Nogo Sowo menggelepar kesakitan, dan berguling di tanah.


“Adoooooohhhhhhhh!”


Dua kali dia dikalahkan dengan mudah oleh murid Kanjeng Sunan Kembang Kuning.


“Ampun... ampun... ampun,” teriak Kiai Nogo Sowo berguling di tanah.

__ADS_1


Agaknya tamparan Pendekar Blekok tepat di bagian kelopak mata itu, disertai dengan tenaga dalam maksimal. Efeknya, mata kiri Kiai Nogo Sowo lebam, dan bola matanya bercampur dengan darah membeku.


Sunan Kembang Kuning kembali tertatih mendekati Kiai Nogo Sowo. Beberapa kali tangannya mengurut di bagian kelopak mata.


“Bagaimana Kiai? Kok begitu mudah dikalahkan sih. Bukankah Kiai menguasai ilmu tingkat tinggi?” tanya Sunan Kembang Kuning.


Ekor Kiai Nogo Sowo masih memilin-milin menahan sakit.


“Aku tak pernah menghadapi ilmu aneh seperti ini. Sungguh saya tak merasakan getaran tenaga dalam sama sekali pada dua orang itu. Tapi, tiba-tiba saja, begitu mengenai tubuhku, seperti tersengat kilat yang sangat kuat. Sungguh menyakitkan. Sudah, jangan suruh lagi saya melawan santrimu. Aku mengaku kalah, dan jangan lagi engkau ganggu aku,” kata Kiai Nogo Sowo.


“Baiklah, kalau memang itu permintaanmu. Jadi, meski engkau tak melawan murid saya sisanya, engkau sudah mengaku kalah?”


“Benar! Aku mengaku kalah. Saya akan masuk lagi ke dalam tanah untuk tapa brata, dan tolong jangan panggil aku lagi,” kata Kiai Nogo Sowo, sambil menggerak-gerakkan kelopak matanya.


Ada sedikit mengganjal karena darah terlihat membeku.


“Ya sudahlah. Silakan engkau masuk ke dalam tanah lagi.”


Tiba-tiba, Kiai Nogo Sowo melentingkan tubuhnya, dan menghujamkan kepalanya masuk ke dalam tanah.


“Tak pamitan dengan santri saya?”


“Tak usah!”


Tertatih, Sunan Kembang Kuning mendekati sepuluh santrinya.


“Bapak semua, sekarang terbukti, bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara istiqomah, akan memberikan manfaat luar biasa. Untuk itu, sepertinya, pembelajaran kita sudah selesai. Saya minta kalian pulang ke rumah keluargamu, atau menyiarkan Islam di sini.”


Mendengar ini, sepuluh santrinya kaget.


Mereka seakan tak siap ditinggal sang guru.


“Tidak bisa tidak. Banyak yang harus saya kerjakan. Tidak hanya di sini. Tapi, kalau memang kalian tak mempunyai keluarga, saya minta segeralah menikah. Kalau tidak begitu, silakan kalian menyiarkan Islam di kawasan ini.”


Semua menunduk.


“Dan tugas utama kalian adalah, menjadi benteng paling depan, untuk melindungi pesantren Ampel, sekirakan ada serangan dari pihak Majapahit atau kerajaan-kerajaan Hindu lainnya. Kalian bersembilan harus saling bantu. Ingat, jangan sekali-kali ada pihak yang tak suka dengan Kanjeng Sunan Ampel bisa melancarkan serangan. Insya Allah, bekal kalian sudah lebih dari cukup untuk melindungi Pesatren Ampel di sini."


Semua mengangguk pelan.


Dan perpisahan berlangsung saat itu juga.


Setelah memeluk satu persatu semua santrinya, Sunan Kembang Kuning tertatih perlahan, meninggalkan santinya ini.

__ADS_1


Santri memang disuruh tak boleh mengantar. Cukup melihat dan menghilang di tikungan saja.


“Kita diperintahkan Kanjeng Sunan untuk menyiarkan Islam di sini. Lebih baik kita membagi wilayah dan tugas. Kita harus terus membangun komunikasi, agar kita tahu jika ada serangan, bisa segera berkumpul untuk menghadang,” pinta satu di antara mereka.


“Baiklah. Kita bagi wilayah saja.”


“Sebentar. Hati saya seakan sedih karena ditinggal guru. Bagaimana ini?”


“Untuk mengabadikan nama guru, bagaimana kalau nama-nama kita diganti? Bukankah kita semua tak punya tanggungan keluarga? Jadi kita bisa leluasa menyiarkan agama Islam?"


“Baiklah. Apa maksudmu?”


”Saya ingin mengubah nama saya menjadi Pak Kuning.”


“Dan tentu saja, Mbah Cangkul kita panggil dengan Mbah Kuning.”


“Sepertinya itu bagus. Baiklah. Kalau saya pakai nama Kali Kuning saja, karena saya belajar dari sungai,” kata Ki Sipang.


Ada yang ingin disebut dengan Melati Kuning, Asta Kuning, Kembang Kuning, Ati Kuning.


Dan mereka pun menyiapkan kelompok mereka dengan sebutan Kuning Saduluran.


Wilayah siar mereka pun dibuat sedemikian rupa, sehingga jarak antar mereka tak terlalu jauh atau terlalu dekat.


Sejak saat itu, kelompok Kuning Saduluran cukup terkenal di Sidoarjo. Lebih-lebih, setiap mereka mengangkat murid, yang difungsikan sebagai tentara, untuk menghadang pasukan musuh.


Tak jarang mereka harus berperang melawan tentara dari kerajaan Hindu, yang ingin menyerang Ampel Dento.


Hebatnya, Kuning Saduluran mengharamkan membunuh dalam perang. Jadi, sedahsyat apa pun perang yang terjadi, musuh tak lebih hanya dilukai saja. Dan dipersilakan balik lagi ke kerajaan mereka.


Peran dari Kuning Saduluran cukup vital, dan mempermudah peran dari Tanah Perdikan Bungkul maupun Tanah Perdikan Ribang Kuning untuk melindungi Ampel Dento.


Kuning Seduluran terus mengembangkan Islam, serta merangkul murid sebanyak-banyaknya.


Meski akhirnya mereka menikah, perkumpulan Kuning Saduluran tetap dijaga. Dan dari setiap mereka, akhirnya menurunkan kiai-kiai besar di Sidoarjo.


Peran kumpulan Kuning Seduluran semakin kuat, ketika mereka diminta untuk mengirimkan kader-kader agar belajar ke Pesantren Ampel maupun pesantren Giri Kedaton.


Pencak silat yang dikembangkan pun diberi nama khusus, yaitu pencak silat Kuningan.


Beberapa kader yang sudah mumpuni pencak silat Kuningan inilah, yang dikirim ke Pesantren Ampel atau Giri Kedaton untuk memperdalam Agama Islam.


Pesan khusus dari sesepuh Kuning Seduluran adalah, mereka harus berani berkorban nyawa untuk melindungi Kanjeng Sunan. Meski semua tahu, ilmu Kanjeng Sunan Ampel maupun ilmu Kanjeng Sunan Giri bukanlah tingkat remeh temeh. Malahan kerap para kader Kuning Saduluran ini, dibenarkan gerakan pencak silatnya oleh Kanjeng Sunan.

__ADS_1


__ADS_2