BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 7h: Tubuh Penguasa Penanggungan Dikoyak Elang Raksasa


__ADS_3

Tanpa disadari, dalam diri Resi Witjak muncul sisi kemanusiaan.


“Rasa apa ini, begitu syahdu dalam hati? Sungguh sepanjang saya menguasai ilmu kanoragan tingkat tinggi, saya tak pernah merasakan kesyahduan seperti ini. Duh Hyang Widhi, apa ini dinamakan kemanusiaan itu?”


“Itu adalah khittah kita sebagai manusia. Kita mempunyai akal dan budi. Nah, yang resi rasakan adalah hidayah dari Allah,” kata lembut di telinga sang resi.


“Benarkah?”


“Benar. Resi dipilih Allah untuk menerima hidayah. Terserah Resi, mau menerima atau tidak?”


“Bagaimana cara menerima hidayah dari Sang Hyang Widi itu?”


“Bukan Sang Hyang Widi, tapi Allah.”


“Iya... itu... bagaimana caranya?”


“Dengan mengucapkan kalimat syahadat.”


“Apa itu?”


“Memberi kesaksian bahwa tidak tuhan selain Allah, dan memberi kesaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”


“Saya mau. Tolong ajari saya.”


“Ikuti yang saya ucapkan. Ashadu Anlaa ilaaha Illallah. Waashhadu Anna Muhammadarrasuulullah.”


Resi Witjak mengikuti ucapan itu, sampai tiga kali.


“Wahai Resi sekarang engkau telah menjadi muslim. Karena darurat, engkau silakan mengerahkan ilmu versi Hindu dulu, nanti, kalau elang sudah terusir, akan kita pilah, mana ilmu yang merusak akidah dan mana yang tidak,” kata suara dalam bisikan.


“Kalau saya pakai ilmu Hindu, berarti saya kembali Hindu?”


“Tentu tidak, Resi. Karena memang terpaksa.”


“Saya merasakan sangat nikmat dengan hidayah ini. Saya pilih tidak menggunakan ilmu Hindu. Saya akan menghadapi elang dengan kemampuan saya sebagai manusia biasa saja.”


“Jangan.”


Namun terlambat.


Elang sudah sangat dekat.


Resi segera melompat ke air untuk menghindari cakar elang.


Namun terlambat.


Satu cakar elang sempat melukai lengannya.


Darah mengucur deras.


Resi meraih bambu untuk dijadikan senjata.


Resi tetap menaiki batu besar.


Dan dia teriak-teriak keras. Karena elang masih terbang berputar-putar di angkasa, tanda dia akan mencari mangsa di bawahnya.


Resi menggerak-gerakkan bambu di tangannya, agar elang memperhatikan dia. Tujuannya, untuk menyelamatkan kerumunan orang-orang dari kemungkinan menjadi mangsa.


Elang mulai menukik tajam.


Resi berniat melawan elang dengan tenaga kasarnya.


Dalam hati Resi mulai asyik melafalkan syahadatain itu sebisanya.


Tanpa rasa takut.


Elang semakin mendekat.


Resi menyiapkan bambunya untuk dijadikan alat pukul.


Jarak semakin dekat.


Resi mengibaskan mambu di tangannya.


“Buk!”


Elang terpukul bagian dada. Namun, elang tak merasakan apapun. Bahkan dua cakar elang berhasil meraih tubuh Resi Witjak.


Beberapa kukunya menancap di bagian perut Resi Witjak.


Darah mengucur.


“Uuuh....” keluh Resi Witjak.


Bambu di tangannya lepas.


Resi Witjak berhasil dibawa terbang.


Agaknya, kekuatan resi Witjak mulai melemah.


Dan akhirnya, Resi Witjak pingsan.


Elang raksasa hinggap di sebuah puncak bukit.


Tubuh Resi Witjak tak berdaya.

__ADS_1


Sekali patuk di bagian leher, berhasil mengoyak. Darah mengucur.


Dua kali patuk, kepala resi Witjak terlepas.


Bagian perut tubuh Resi Witjak dilahap oleh elang raksasa. Puas memakan hingga kenyang, Elang terbang sambil memekik.


Pekikan elang ini terdengar oleh Sunan Kembang Kuning yang mengantar macan raksasa sampai ke sebuah gua dan di dekatnya terdapat sungai kecil.


Dielus kepala macan itu. Sang macan menurut, lalu duduk di gua.


Pilihan Sunan Kembang Kuning mengajak macan ke gua itu, dikarenakan ada sungai kecil. Dengan harapan, ada binatang yang meminum di sungai itu. Nah, binatang itulah yang nantinya dimangsa oleh macan raksasa. Dengan demikian macan tak sampai menyatroni perkampungan.


Dan bergegas Sunan Kembang Kuning meninggalkan gua itu.


Sang Sunan khawatir akan nasib Resi Witjak yang baru saja menjadi mualaf ini. Pekikan elang adalah pekikan kemenangan dan pekikan elang yang kenyang.


“Jangan-jangan?” fikir Sunan Kembang Kuning.


Kanjeng Sunan segera mengambil teklek pemberian Sunan Ampel, dan segera dikenakan.


Begitu sudah dipakai, kecepatan sang sunan luar biasa.


Dia mengarah ke titik di mana elang terbang berputar-putar. Yaitu sebuah bukit kecil.


Tak berapa lama, Kanjeng Sunan sudah sampai di puncak bukit.


Teklek itu segera dilepas dan disimpan lagi.


Sang Sunan langsung menangis sesegukan begitu melihat kondisi tubuh Resi Witjak. Di mana bagian perutnya telah terburai.


Kepalanya lepas.


Kanjeng Sunan segera mencari keberadaan kepala.


Tak berapa lama sudah bisa ditemukan.


Dilihatnya, wajah Resi Witjak berseri. Ada sunggingan senyum di bibirnya.


“Wahai Resi Witjak, sungguh beruntung engkau. Seperti bayi baru lahir. Tanpa dosa, Insya Allah surga adalah tempatmu. Entah, saya bisa sepertimu atau tidak,” gumam Sunan Kembang Kuning sendiri.


Lalu, isi tubuh yang tercerai berai itu dikumpulkan, lalu dibungkus dengan beberapa pelepah. Dan digendong turun dari bukit.


Perlahan Sunan Kembang Kuning menuju ke sungai, di mana orang-orang masih berkumpul.


Ada air mata mengalir di pipi Sunan Kembang Kuning.


“Bapak Ibu semua. Resi Witjak dikalahkan elang. Jenazah beliau saya panggul ini,” kata Sunan Kembang Kuning.


Semua orang segera mengerumuni Sang Sunan untuk melihat dari dekat jenazah sang Resi terhebat yang mereka kenal.


Sebagian warga menangis sesegukan.


Hanya saja, Sang Sunan melarang warga untuk membuka bungkusan pelepah itu, untuk melihat jenazah sang resi.


Mereka sepakat untuk melakukan upacara aben.


Sunan Kembang Kuning diam saja.


Kepada murid-muridnya di gubuk, yang ikut mengerumuni jenazah, Sunan Kembang Kuning mengatakan: “Resi Witjak sudah mengucap dua kalimat syahadat. Beliau telah mualaf, dan Insya Allah beliau diampuni Allah. Kejadian itu sesaat sebelum elang raksasa menyerang. Untuk itu, beliau bertekad tidak menggunakan ilmu kafirnya. Beliau menghadapi elang raksasa dengan kekuatan kasarnya sebagai manusia. Tentu saja kalah, dan berakhir kepada kematian. Insya Allah, Resi Witjak adalah syuhada. Beliau menyelamatkan ratusan orang, dan mengorbankan dirinya. Beliau sudah ikhtiar semampunya.”


Tentu saja beberapa mualaf ikutan menangis.


Hampir saja mereka mengatakan, agar jenazah Resi Witjak dikubur, sebagaimana syariat Islam. Namun, Sang Sunan mencegah.


Akhirnya tak diutarakan.


Hari itu juga, warga segera berduyun menyusun persiapan aben. Dibuat seindah mungkin.


Beberapa jam kemudian, warga berduyun mendatangi area aben.


Para pedanda menyiapkan segala sesuatunya.


Sunan Kembang Kuning dan warga yang telah mualaf ikut membantu apapun yang bisa dibantu.


Kini, terlihat keakraban di antara semuanya.


Yang terlihat paling bahagia adalah Pak Lurah.


Prosesi aben pun dimulai.


Sunan Kembang Kuning dan beberapa warga mualaf memilih ke gubuk. Melihat dari tempat agak jauh.


“Kanjeng Sunan, kenapa tidak kuburkan saja jenazah Resi Witjak, bukankah beliau sudah mualaf?”


“Tidak perlu. Kita harus menghormati kepercayaan mereka. Resi Witjak adalah salah satu panutan. Biarlah Allah yang menyelesaikan dengan caranya,” kata Sunan Kembang Kuning, sambil mengajak membaca tahlil secara berbisik, yang ditujukan kepada ruh Resi Witjak.


Aben pun digelar.


Api mulai menyala berkobar.


Jenazah Resi Witjak mulai dibakar api.


Warga menangis sesegukan, sambil mengumandangkan doa-doa agama Hindu, mengantar arwah Resi Witjak menuju nirwana.


Api kian membakar apa pun yang menjadi ornamen aben itu.

__ADS_1


Jenazah Resi Witjak tetap dalam bungkus daun dibakar api.


“Kretek... kretek... kretek....”


Pelinggihan akhirnya ambruk.


Menggulung jenazah Resi Witjak.


Api berkobar sangat besar. Menghanguskan apa saja.


Kumandang doa hindu tetap dilantunkan.


Tahlil dari arah gubuk juga dilantunkan.


Umat Hindu meyakini, jenazah Resi Witjak sudah menjadi abu, dan rohnya kembali ke nirwana.


Namun, yang terlihat berikutnya adalah, ketika api padam dan yang hanya kepulan asap putih, serta beberapa bara yang kadang menyala ketika tertiup angin lebih kencang.


Ketika arang kayu disingkapkan, betapa kagetnya para pedanda dan warga kampung.


Mereka melihat jenazah Resi Witjak masih utuh, termasuk daun yang membungkusnya. Daunnya masih hijau, seakan tak tersentuh api sama sekali.


Semua mata terbelalak.


Sunan Kembang Kuning dan beberapa santri mualaf masih di gubuk.


“Jangan ke sana. Kita melihat dari sini saja,” cegah Sunan Kembang Kuning.


“Kita tunggu sampai Pedanda yang mendatangi ke sini.”


Memang, tak seberapa lama, beberapa pedanda mendatangi gubuk.


“Mohon maaf Mbah Bungkuk, tubuh Resi Witjak masih utuh, bahkan daunnya pun tak terbakar.”


“Lantas?”


“Kami akan mencoba membakar lagi dengan api yang lebih besar, dan doa-doa yang lebih kuat. Mungkin, dia masih terhalang menuju nirwana.”


“Silakan. Mari kita bantu menyiapkan kayu-kayunya.”


Akhirnya semua gotong royong menyiapkan kayu-kayu yang lebih besar dan yang telah kering.


Bahkan mengandalkan kayu cemara yang mengandung damar, dengan harapan api cepat membesar.


Maka, seharian itu mereka menyiapkan satu pelinggian bagi Resi Witjak untuk lepas menuju nirwana dengan luar biasa.


Ketika semua siap, tengah malam menggayuti.


Sunan Kembang Kuning dan para mualaf kembali ke gubuk untuk menyiapkan salat dan wiridan.


Para Pedanda akhirnya memutuskan, api dinyalakan pada malam itu juga, dan dipastikan sampai esok tak akan padam, karena saking banyaknya kayu.


Dan semua diputuskan untuk istirahat.


Jadi, api dibiarkan membesar dan membumbung tinggi.


“Bapak semua, kalau kita tak menjaga api itu, bisa jadi akan membakar semuanya. Mari kita jaga bersama-sama, meskipun api membesar, tapi jangan sampai membakar lainnya,” ajak Sunan Kembang Kuning kepada para mualaf.


Akhirnya, mereka pun menggunakan gayung sekenanya, mengambil air dan disiramkan kepada api-api yang mulai membakari pohon-pohon perdu.


Hal ini dilakukan semalaman, agar menjaga api tak menyebar ke mana-mana.


Bahkan, mereka tak berani meninggalkan tempat mereka sebentar pun, dikarenakan api benar-benar membesar.


Hingga salat subuh mereka terbengkalai.


Ketika fajar mulai meninggi, api mulai mengecil.


Saat itu, semuanya sudah benar-benar kehabisan tenaga.


Jangankan untuk melangkah ke gubuk, untuk bersuci saja mereka sudah tak kuat.


Semuanya ambruk di tempat masing-masing. Entah pingsan atau tertidur.


Setidaknya, mereka telah berhasil mengendalikan api agar tidak membakar apa saja di sekitarnya.


Metika matahari sudah mulai menyengat, para warga kampung mulai berdatangan.


Mereka terkejut melihat kondisi Sunan Kembang Kuning dan beberapa muridnya. Dengan wajah hitam legam terkena angus campur keringat dan air, tertidur di sembarang tempat. Ada yang masih pegang gayung, ada yang sebagian badannya terendam di kali, bahkan ada yang terngkurap di bekas kebakaran.


Api belum padam. Jenazah Resi Witjak telah tertutup abu dan puing kayu.


Warga berdatangan.


Demi melihat tumpukan abu yang begitu besar, semua sepakat bahwa kobaran api tadi malam sangat dahsyat. Bahkan ujung-ujung daun di pepohonan pada gosong semua, padahal jaraknya mencapai puluhan meter.


Lebih-lebih para penduduk melihat orang yang bersama Sunan Kembang Kuning pada tertidur atau mungkin pingsan dengan wajah hitam legam tak karuan, juga tempat tidurnya pun tak karuan.


Penduduk akhirnya mematikan sisa-sisa api, karena mereka yakin tubuh Resi Witjak pasti telah menjadi abu. Penduduk bisa membedakan, mana abu dari tulang belulang atau abu dari kayu.


Mereka pun mulai membongkar tumpukan abu yang menggunung itu.


Namun, betapa kagetnya mereka semua, ketika mendapati daun bungkus jenazah Resio Witjak masih hijau, dan jenazah Resi Witjak masih utuh. Bahkan, sekarang malah menebarkan bau wangi kesturi.


Para pedanda sudah tak bisa berbicara lagi.

__ADS_1


Hampir semua penduduk takjub dengan pemandangan di hadapan mata.


__ADS_2