
Meski kencang, namun sangat lembut dan seakan disertai dengan ungkapan cinta dan kasih sayang.
“Mbah, gerakan apa tadi? Kok begitu indah, dan Mbah melakukan sangat tenang. Juga tadi Mbah bicara apa? Kok begitu syahdu kita semua mendengarnya.”
“Saya tadi melakukan salat. Yaitu kewajiban manusia untuk menyembah penciptanya.”
“Maksud Mbah, dewa?”
“Maha Dewa. Saya menyembah Allah, tuhan bagi semuanya. Dia hanya Satu, dan tiada banding.”
“Jadi, bukan dewa?”
“Maha Dewa. Dia adalah tuhan bagi dewa-dewa kalian.”
“Trus, apa yang Mbah baca tadi?”
“Itu adalah wirid untuk memuji Allah swt. Ucapan untuk meminta ampunan, ucapan mengakui ketidakmampuan kita sebagai manusia.”
Semua manggut-manggut.
“Baiklah, mari kita berangkat. Bismillah.”
Sunan Kembang Kuning berjalan tertatih. Sangat pelan. Sementara, Ki Sipang dan teman-temannya berjalan lebih cepat.
Tentu saja, Sunan Kembang kuning ketinggalan.
Mau tak mau, Ki Sipan dan teman-temannya mengurangi kecepatan.
Bahkan, sepanjang hari itu, mereka hanya menempuh jarak tak lebih satu kilometer saja.
Ini yang membuat beberapa anak buah Ki Sipang kesal. Mereka tak terbiasa dengan cara bergerak yang sangat lamban seperti itu.
Uniknya, kini Ki Sipang yang bisa bersabar. Bahkan, kadang dia berjalan berjejer dengan Sunan Kembang Kuning. Ki Sipang memanfaatkan berjalan bareng ini, untuk bertanya segala macam.
Menjelang malam, Sunan Kembang Kuning salat lagi.
Mereka istirahat, di jarak yang sangat dekat dengan titik awal.
Malam tiba, Sunan Kembang Kuning salat lagi, wiridan lagi, dan akhirnya salat isya, ditutup wiridan lagi.
Tengah malam, Sunan Kembang Kuning bangun, lalu salat tahajud.
Hampir semua mata Ki Sipang dan anak buahnya mengikuti semuanya.
“Mbah, boleh gak kita ikut salat bersama Mbah?” pinta Ki Sipang.
“Kenapa tidak?”
“Nanti, kalau Mbah salat, kami akan mengikuti di belakang ya, Mbah.”
“Tapi, kalian harus berwudlu dulu. Ikuti apa yang saya lakukan saat saya berwudlu.”
Dan sebelum berwudlu, kalian harus menjadi orang Islam dulu. Yaitu, membaca kalimat syahadat. Yaitu kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Semua pun membaca kalimat syahadat bersama, dengan bimbingan Sunan Kembang Kuning.
"Kini, kalian sudah menjadi muslim. Nanti, perlahan, kalian harus meninggalkan kebiasaan ibadah ala agama Hindu. Ini penting, karena antara Hindu dan Islam sangat berbeda."
Semua mengangguk-angguk.
"Mbah, karena kita sudah Islam. Saya kira, tak perlu bagi kita untuk melakukan ibadah agama Hindu."
"Alhamdulillah. Itu bagus."
Lalu, mereka pun dibimbing untuk mengambil air wudlu.
Sungguh, Ki Sipang dan teman-temannya merasa nikmat luar biasa.
"Apa setiap kita mau sembahyang, harus melakukan ini?"
"Ya. Agar kita suci dari hadas kecil. Yaitu, semisal kita buang air, kentut atau kencing."
"Nikmat, Mbah. Sungguh sangat nikmat."
"Ya, Islam memang membimbing manusia kepada keselamatan dunia dan akhirat. Karena membimbing untuk selamat, tentu juga membimbing untuk sehat."
Lalu, mereka pun mulai belajar salat.
Usai salat, mereka meminta untuk diulangi lagi.
Maka, Sunan Kembang Kuning pun menjelaskan dan mengajak mereka untuk melaksanakan salat rawatib.
__ADS_1
Usai salat, mereka masih menginginkan untuk melakukan lagi.
Diajak untuk salat hajat.
"Apa boleh kita salat terus?"
"Boleh. Tapi, ada hak orang lain terhadap diri kita. Yaitu keluarga atau tetangga. Kalau kalian salat terus dan terus. Bagaimana dengan kewajiban kita kepada istri dan anak? Atau kepada tetangga? Jadi, yang benar adalah, kita salat dengan sungguh-sungguh, dan sebanyak-banyaknya, tapi kita juga harus melindungi keluarga, memberi mereka makan, dan juga bersilaturahim kepada keluarga."
"Indah sekali agama ini."
"Memang Islam mengajarkan seperti ini."
Dan memang ini yang mereka lakukan adalah salat dan salat. Hanya saja, perjalanan yang ditempuh sangat pendek, karena memang Sunan Kembang Kuning hanya bisa tertatih.
“Kang, kalau cara kita berjalan seperti ini, bagaimana bisa sampai?” bisik seseorang kepada Ki Sipang.
“Hus, kamu gak boleh ngomong seperti itu. Meski pelan, nyatanya Sunan Kembang Kuning sangat sakti. Hati-hati kalau bicara,” kata Ki Sipang.
Agaknya, Sunan Kembang Kuning yang berjalan di belakang, mendengar apa yang dibisikkan.
Perlahan, diambil bakiak milik Sunan Ampel yang diberikan kepadanya. Lalu dipakai.
Dan dalam sekejap, Sunan Kembang Kuning sudah berada di bawah pohon trembesi, sedangkan Ki Sipang dan anak buahnya, masih terlihat kecil. Sunan Kembang Kuning memilih duduk-duduk sambil menunggu kedatangan mereka.
Begitu mendekati pohon trembesi, semuanya terkaget, dan baru sadar, bahwa seseorang yang sedang duduk santai itu adalah Sunan Kembang Kuning. Seakan tak percaya, mereka menoleh ke belakang, dan tentu saya tak ada Sunan Kembang Kuning.
“Mohon maaf, saya tadi mendengar kalian membicarakan cara berjalan saya yang tertatih. Ya, akhirnya saya kencangkan, dan saya sampai di sini duluan,” kata Sunan Kembang Kuning.
Semua mengaso.
“Anak-anak, asal kalian tahu. Saya berjalan tertatih ini, dikarenakan ada punuk di punggung saya. Punuk ini sangat saya sayangi, karena muncul atas doa guru saya, Sunan Ampel. Karenanya, meski saya hanya bisa berjalan tertatih, saya sangat menikmati.”
Semua menunduk takut.
“Andai saya tak mempunyai punuk, saya tentu sosok yang sangat sombong. Agar saya mengingat bahwa kesombongan itu tak pantas disandang manusia, maka saya sangat menikmati mempunyai punuk ini.”
“Dengan punuk ini, saya bisa merasakan kenikmatan rendah hati. Jadi, untuk jalan tertatih, adalah hal yang paling indah dalam hidup saya. Kenapa kalian semua menghina orang yang cacat seperti saya? Jangan,
sekali-kali jangan. Bukankah kalian semua meremehkan saya, dengan cara menyuruh saya melompati kali kecil? Dan bukankah, itu hanya sebagai jalan aga kalian semua merasakan indahnya Islam, nikmatnya iman?”
Semua mengangguk perlahan.
Dan, bukankah dengan jalan tertatih seperti ini, saya bisa melewati kalian begitu saja? Tanpa saya harus bersusah payah? Ingatlah Ki Sipang dan teman-teman semua, jangan sekali-kali melihat seseorang itu dari bentuk fisiknya saja. Bisa jadi, di balik kelemahan fisik seseorang itu, Allah memberikan kehebatan yang tidak kalian punya.
Jangan jadi seperti lidah buaya. Sudah bertubuh rendah, tapi kulitnya seakan berduri, tapi tak bisa melukai. Pandanwangi ibarat para Sunan, sedangkan lidah buaya ibarat para begundal, yang ilmunya cethek tapi gayanya selangit.”
Semua terdiam.
“Kalian sudah mengatakan, bahwa Kiai Wulung Sunggi adalah sosok yang sangat menakutkan dan ganas, serta kejam. Tapi, apa kalian pernah membuktikan sendiri? Benarkah Kiai Wulung Sunggi itu sosok lidah
buaya, ataukah pandan wangi? Kita semua belum tahu, kalau kita tidak bertemu sendiri. Untuk itu, saya minta kepada kalian mengantar ke beliau. Benar-benar saya ingin berkenalan dengan penerus ilmu Jenggolo itu. Jenggolo adalah kerajaan besar, dipenuhi dengan semangat mengembangkan ilmu pengetahuan, juga ilmu kanoragan. Tentunya, Kiai Wulung Sunggi adalah satu di antaranya, kalau tidak hebat di ilmu kanoragan, tentu dia hebat di ilmu pengetahuan. Atau bahkan dua-duanya. Dan setahu saya, tak pernah ada sosok pendekar penerus ilmu Jenggolo yang bengis dan kejam.”
“Tapi, Mbah. Guru mengatakan sendiri kepada saya, dia akan membunuh saya jika saya bertemu dia lagi,” kata Ki Sipang.
“Kenapa engkau telan mentah-mentah. Jangan-jangan itu bisa diartikan
sebagai cara agar engkau mau mengamalkan ilmu yang engkau kuasai?”
Ki Sipang terdiam.
"Sudahlah. Nanti akan terjawab semua, jika saya sudah bertemu Kiai Wulung Sunggi. Yang jelas, sekarang, kalian semua sudah bisa merasakan indah dan nikmatnya Islam. Mari kita terus meningkatkan ibadah kita,"
kata Sunan Kembang Kuning.
Mereka memang kian asyik mengerjakan salat. Terus dan terus. tak terasa, mereka berjalan bersama selama 40 hari. Dan sembilan orang ini, lambat laun, seakan menjadi murid pertama Sunan Kembang Kuning, karena sang sunan, tak segan menularkan ilmu agama. Termasuk ilmu
kanoragan. Ki Sipang memang lebih cepat menyerap ilmu dari Sang Sunan, karena dia adalah orang yang paling cerdas di antara semuanya, dan juga sudah pernah mengenal ilmu tingkat tinggi, meski berbeda aliran. Dan di hari ke empat puluh satu, mereka akhirnya tiba di sebuah candi.
Di candi dari batu bata ini, ada semacam ceruk agak dalam. Di tempat itulah Kiai Wulung Sunggi menghabiskan waktunya untuk bertapa.
"Siapa di luar?" teriakan serak dan bergetar muncul dari ceruk.
Agaknya, Kiai Wulung Sunggi mengetahui kehadiran mereka.
Sembilan santri Sunan langsung mengeluarkan keringat dingin karena takut.
"Kenapa harus takut kepada manusia, takutlah kepada Allah," kata Sang
Sunan kepada santrinya.
Santri berusaha menghilangkan takut dengan membawa kalimat tayibah.
__ADS_1
"Perkenalkan, nama saya Sunan Kembang Kuning atau Rejo. Saya datang ke sini bersama murid Resi, Ki Sipang. Izinkan kami untuk mendekat," kata Sunan Kembang Kuning.
"Apa kalian semua mencari mati?"
"Kami masih hidup, dan mati adalah urusan Allah swt, bukan urusan Panjenengan dan saya."
"Hmmm. Baru kali ini, saya mendapat jawaban seperti itu. Biasanya, orang-orang pada lari ketakutan. Untuk apa engkau semua datang ke sini?"
"Saya ingin bersilaturahim kepada Panjenengan, dan ingin mencari tahu,
apa benar Jenengan sekejam dan sebengis yang diceritakan orang."
"Lho, bukankah cerita orang itu sudah cukup sebagai bukti saya memang bengis?"
“Mungkin benar bagi murid Jenengan Ki Sipang dan teman-temannya, tapi tidak bagi saya, sebelum saya membuktikan sendiri.”
“Apa? Engkau ingin bukti. Baik. Berarti engkau menantang saya?”
“Saya tidak menantang.”
“Kalau gayamu seperti itu, apa namanya tidak menantang?”
“Tidak Kiai. Saya yakin, bahwa Kanjeng Kiai tak sekejam yang diceritakan orang.”
“Kau ingin bukti. Lihat di pojokan candi ini, banyak onggokan bangkai burung yang mati karena mendekat di sini.”
“Memang benar ada banyak bangkai burung, tapi saya tak yakin itu karena kelakuan dari Kanjeng Kiai.”
“Hah?”
“Mohon maaf Kanjeng Kiai, sebelumnya saya sudah pernah bertemu Kiai Lembu Areng yang tinggal di dalam kawah Gunung Galunggung. Meski diceritakan dia orang yang kejam dan menakutkan, ternyata, setelah bertemu, ternyata Kiai Lembu Areng orangnya baik. Saya yakin, Jenengan juga demikian. Dengan munculnya cerita Jenengan kejam, justru menguntungkan, karena tak ada orang yang mengganggu tapa brata Jenengan. Bukankah begitu?”
“Hah.... engkau kenal dengan Kiai Lembu Areng, si penguasa Gunung Galunggung itu?”
“Benar, Kiai.”
Sementara sembilan orang mualaf yang tak tahu siapa Kiai Lembu Areng, hanya diam bengong, dan ketakutan.
“Baiklah. Apa buktinya engkau sudah dari sana?”
“Saya hanya dapat satu pelajaran. Yaitu, kita harus menjunjung kejujuran.”
“Engkau benar. Silakan mendekat.”
Rejo dan sembilan santrinya mendekat ke ceruk di candi itu.
“Kenapa lama sekali?” muncul suara dari dalam ceruk.
“Kanjeng Kiai, saya itu kalau berjalan tertatih. Kalau gak gitu, bisa terjatuh,” kata Rejo sambil tertatih.
Sementara sembilan santrinya, memilih mengekor di belakang sang Sunan. Takut kalau terjadi apa-apa pada diri mereka.
“Kenapa bisa terjadi? Jangan-jangan karena engkau bungkuk? Apa benar seperti itu?”
“Benar. Saya memang bungkuk.”
“Benarkah, engkau bungkuk?”
“Benar, saya memang bungkuk.”
“Sekali lagi, benarkah engkau bungkuk?”
“Benar, Kanjeng Kiai. Saya memang bungkuk,” kata Rejo, tetap tertatih berjalan menuju ceruk.
“Kalau begitu. Berhenti. Silakan duduk di situ, biarkan saya yang keluar dari pertapaan ini.”
Rejo pun menghentikan langkahnya. Sembilan santri juga berhenti. Mereka duduk di belakang sang Sunan.
Perlahan, dari arah ceruk, mulai terlihat tangan ringkih dan kurus.
Lalu, muncul sosok yang tinggal kulit dan tulang. Inilah Kiai Wulung Sunggi, sosok yang dikenal sangat kejam dan bengis.
Matanya melesak ke dalam tengkoraknya. Rambut ubannya sudah mulai rontok, dan nyaris gundul, alisnya yang panjang kadang menutupi lubang mata di batok tengkoraknya. Kumisnya panjang tak terawat.
Begitu keluar dari ceruk, dia tak lagi bisa berdiri, tapi tetap dalam sikap duduk bersila.
Dua dengkulnya inilah yang dijadikan tapak kaki untuk melangkah. Jadi, seakan tertatih. Dia kadang jatuh terjerembab, dan mukanya terantuk tanah. Dia bangun lagi, dan melangkah menggunakan dengkulnya.
Ki Sipang yang melihat kondisi gurunya, sangat kaget. Beberapa tahun lalu, saat dia masih menjadi murid Kiai Wulung Sunggi, tubuh gurunya tak sekurus sekarang. Gurunya masih bisa berjalan dan mengajarkan pencak silat. Kini, yang dilihat hanyalah seperti tengkorak berjalan.
Ki Sipang kasihan, dan rasanya hendak menolong sang guru.
__ADS_1
“Jangan Ki Sipang. Tetap duduk. Gurumu bukan sosok yang suka bantuan,” bisik Sang Sunan, sambil memberikan isyarat tangan, agar Ki Sipang tetap duduk.