BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 5: Pengawal Sunan Ampel


__ADS_3

BAB V


Menjadi Pengawal Sunan Ampel


Tak terasa, malang melintang di dunia Persilatan di Jawa, menghabiskan umur Rejo. Kini, di usianya yang telah mencapai sekitar 50 tahunan, Rejo akhirnya memilih berhenti berupaya melunturkan ilmu warisan Resi Swadaraya.


Dia sudah membuktikan, sangat sedikit pendekar di tanah Jawa yang bisa menandingi ilmunya.


Telah dicoba berkali-kali untuk menghilangkan ilmu laknat dalam dirinya, dengan menantang orang-orang sakti. Namun, bukannya hilang, malah ilmu yang didapat dari Gunung Tidar itu, seakan tambah hebat. Pasalnya, bertarung itu tak ubahnya sebagai latih tanding belaka.


Wajar, jika Rejo memilih untuk berdiam diri saja. Tiada guna bagi dia untuk berupaya menghilangkan ilmu laknat ini.


Sepanjang pengembaraannya di seantero Jawa, sebenarnya, Rejo sudah mendengar tentang sepak terjang generasi ke dua wali di tanah Jawa. Satu kelompok yang dijuluki Wali Sanga.


Rejo mendengar, bahwa di antara wali-wali itu, terdapat nama Sunan Kali Jaga yang terkenal sangat arif, atau Sunan Muria yang juga pendekar kekar. Bahkan sosok Sunan Gunung Giri, yang terkenal dengan keindahan dan kehebatan permainan pedangnya.


Namun, sebagai sosok yang sudah mengenal Syech Belabelu, Syech Jumadil Kubro, dan mengenal nama Syech Subakir, membuat Rejo keder, begitu mengetahui mereka adalah penerus perjuangan menyiarkan agama Islam di tanah Jawa.


"Tentunya para anggota wali songo ini sangat sakti, bukankah Syech Belabelu, Syech Subakir dan Syech Jumadil Kubro juga terkenal sakti?" gumam Rejo.


Dia juga mendengar tentang sosok wali yang tak mau tunduk pada aturan manusia, yaitu Syech Lemah Bang, atau Syech Siti Jenar.


Harapan Rejo sudah pupus untuk mengikis ilmu laknat itu.


Dan akhirnya Rejo memilih menetap di sebuah hutan bambu kecil, yang terletak antara dua tanah perdikan. Yaitu Tanah Perdikan yang dipimpin Adipati Bungkul dan Tanah Perdikan Ribang Kuning yang dipimpin Ki Wiroseroyo. Kedua adipati ini terkenal sangat sakti.


Beberapa kali, dengan menyamar sebagai pencari kayu bakar, kerap Rejo hadir di tanah perdikan itu, untuk mengetahui dan memelajari perilaku Adipati Bungkul atau pun Adipati Ki Wiroseroyo. Bahkan Rejo kerap mengintip dua orang sakti ini ketika berlatih ilmu kanoragan.


Rasanya, tak pernah bosan bagi Rejo untuk memelajari tindak tanduk dua orang sakti ini.


Meski sudah berusia setengah abad, Rejo masih terlihat kekar dan kokoh, dalam tubuh kurus dan jangkung.


Hebatnya Rejo, sejak menetap di hutan bambu antara dua tanah perdikan ini, dia tak pernah sekali pun pamer ilmu. Dia sangat hati-hati soal ilmu ini, sebab dia takut tak mampu mengendalikan diri sehingga ilmu warisan Gunung Tidar menguasai dirinya, dan dia menjadi ganas.


Jadilah sosok Rejo sebagai pencari kayu, atau berburu ikan di Kali Mas, yang berada tak jauh dari Tanah Terdikan Bungkul.


Beberapa tahun tinggal di sini, Rejo sebenarnya mendapat pelajaran demi pelajaran dengan cara mengintip, mencuri dengar, atau hanya sekedar cerita dari penduduk di dua tanah perdikan.


Rejo melihat, bahwa di dua tanah perdikan ini ada kebiasaan yang berbeda.


Jika di Bungkul, baik penguasa maupun warganya, lebih senang dengan kehidupan sederhana, dan mereka terus menerus berlatih ilmu dan mengasah kepinteran.



Kompleks Makam Mbah Karimah (Ki Wiroseroyo), awalnya adalah istana tanah perdikan Ribang Kuning).


Sedangkan di Tanah Perdikan Ribang Kuning, Ki Wiroseroyo, yang dikenal sangat sakti ini, lebih suka menggelar sabung ayam. Saking senangnya adu ayam, dia mempunyai sebelas ayam yang semuanya terbukti jawara. Hampir setiap sepasar sekali, Ki Wiroseroyo selalu menggelar adu ayam.


Tidak sedikit ayam-ayam milik adipati-adipati yang dikalahkan dengan mudah oleh ayam milik Ki Wiroseroyo. Bahkan, jika tantangan itu muncul, sang musuh disuruh memilih sendiri satu musuh di antara sebelas ayam milik Ki Wiroseroyo.


Rejo kerap menyaksian adu ayam ini.


Faktanya, kerap ilmu-ilmu kanoragan dititipkan ke ayam sebelum bertarung. Jadi, sebenarnya, adu ayam ini, tak lain adalah adu ilmu antar pemiliknya. Hebatnya, ayam milik Ki Wiroseroyo selalu menang.


Karena Rejo memang sudah lelah dengan dunia kanoragan, dia tak ingin menunjukkan jati diri. Dia malah banyak berkerumun dengan orang-orang yang menonton sabung ayam itu. Sebenarnya Rejo merasakan adanya kilatan-kilatan atau samberan tenaga dalam yang berasal dari luar arena. Namun, Rejo hanya ‘menikmati’ sensasi itu saja. Dan semua bisa teratasi dengan mudah oleh Adipati Ki Wiroseroyo.


Namun, untuk tanah perdikan Adipati Bungkul, meski Rejo kerap mengintip berbagai kegiatan yang banyak mengarah kepada kanoragan, Rejo tak berani.


Rejo memang pernah mendengar bahwa Adipati Bungkul adalah satu orang yang berjasa untuk Kerajaan Majapahit. Dia diberi Tanah Perdikan Bungkul, sebagai bentuk terima kasih pihak istana.


Selain itu, penempatan Adipati Bungkul di dekat Kali Mas, sangat penting sebagai pintu masuk ke arah kerajaan Majapahit yang ada di pedalaman.


Jadi, Adipati Bungkul ini sebagai palang pintu pertama untuk memukul mundur para penyerang yang melewati sungai.


Rejo mendengar cerita, bahwa Adipati Bungkul telah memeluk Islam. Yang mengislamkan adalah Raden Rahmad, sosok keluarga Kerajaan Majapahit, yang kini tinggal di Tanah Perdikan Ampel Denta.


Rejo mendengar bahwa di Ampel Denta telah berdiri pesantren, yaitu tempat untuk mengajarkan agama Islam. Di pesantren ini, mempunyai santri cukup banyak.


Bahkan, Raden rahmat sendiri adalah menantu dari Adipati Bungkul ini.


Namun, Rejo belum pernah bertemu dengan sosok yang bernama Raden Rahmad itu. Pun juga Rejo belum pernah mendatangi pesantren Ampel Dento.


Hanya saja, yang menggelitik hati Rejo, sosok yang bisa mengislamkan Adipati Bungkul, pasti bukan orang sembarangan. Dia pasti mempunyai ilmu kanoragan tingkat tinggi. Bahkan, diangkat menjadi menantu.


“Siapakah Raden Rahmat itu?” gumam Rejo, ketika mengintip kegiatan di Tanah Perdikan Bungkul.


Lebih-lebih ketika warga Tanah Perdikan Bungkul dan pasukannya, berlatih pencak silat. Dari tempat persembunyiannya, Rejo bisa merasakan kehebatan tenaga dalam dari arena latihan.


Untuk itu, Rejo sebenarnya penasaran, seberapa tinggi orang yang bisa mengislamkan Adipati Bungkul ini?


Tentunya, ilmunya jauh lebih tinggi.


Namun, semua pertanyaan itu segera terkubur dalam diri Rejo, ketika dia tenggelam dalam suara krietan bambu saat di rumahnya. Ketenangan luar biasa dirasakan Rejo.


Hingga satu ketika, ketika dia berjalan memunguti kayu bakar. Dari kejauhan dia melihat sosok berjubah berjalan ke arahnya.

__ADS_1


Melihat sosok yang telah lama tak pernah dilihat, membuat Rejo berdebar kencang.


Rejo menghentikan mencari kayu bakar, dan berdiri mematung.


“Siapakah dia?”


“Tentunya, dia seorang muslim, karena berjubah.”


“Kelihatan, usianya jauh lebih muda dari saya. Tentunya dia berilmu tinggi, sebab, tidak semua rakyat di sini bisa menerima sosok asing yang beragama Islam. Dia berani menunjukkan jati dirinya, tentu dia bisa melindungi dirinya jika ada serangan.”


Jarak antara keduanya semakin dekat.


Terlihat, meski berusia muda, orang berjubah itu bertelekan tongkat, dan memakai sandal bakiak, yang terbuat dari kayu jati tua.


Ketika sudah dalam jarak pandang, sang pemuda berjubah ini menganggukkan kapala, dan tersenyum.


Rejo membalas senyuman dan juga anggukan kepala.


Tak ada sepatah kata yang meluncur dari mulut keduanya.


Pemuda berjubah ini pun menatap lurus ke depan tanpa melirik.


Hanya Rejo saja yang berusaha mencuri pandangan kepada pemuda ini.


Posturnya tegap dan agak gemuk. Kulit kuning dan bermata agak sipit. Jalannya mantap, dan anggun. Tak ada kesan ragu-ragu dalam melangkah. Jubahnya meski tak baru, dan penuh debu di bagian bawah, tetap saja terlihat rapi dan bersih.


“Tentu anak muda berjubah ini bukan orang sembarangan. Gaya berjalannya menunjukkan dia adalah sosok terpelajar dan dari kalangan kerajaan. Siapakah dia?”


Jarak mereka semakin menjauh. Sosok berjubah itu berjalan ke arah utara. Rejo terus melihat punggung sang pemuda berjubah hingga menghilang di tikungan.


Pertemuan berikutnya, di tempat yang sama, membuat Rejo penasaran.


Dia sengaja berdiri tepat di tengah jalan setapak, untuk menghalangi.


"Bapak, mengapa engkau menutupi jalan? Bukankah, siapa pun berhak untuk melewati jalan ini?" tanya pemuda berjubah ini.


"Anak muda, memang ini jalan umum. Tapi, saya kita bertemu di sini, beberapa hari lalu, saya melihat engkau bukanlah orang sembarangan. Langkahmu yang tegap dan mantap, tenang, dan nafasmu sangat teratur, menandakan engkau bukan orang sembarangan. Saya hanya penasaran saja, siapakah engkau ini anak muda?"


"Bapak, bukankah kalau hanya sekedar bertanya, siapa saya, tak perlu harus berbuat zalim dengan menutup jalan?"


"Anak muda, tentunya, jika saya tak menutup jalan, kita tidak saling berhadapan seperti ini."


"Lantas, kalau sudah berhadapan seperti ini, Bapak sebenarnya menginginkan apa? Merampok saya? Atau menantang saya?"


"Tidak anak muda. Saya tidak ingin merampok dan juga tidak ingin menantang. Saya hanya ingin berkenalan saja."


"Anak muda, kalau begitu, saya meminta maaf. Bukan maksud saya ingin menantang sampeyan."


"Sudah terlanjur, bapak menutup jalan. Berarti bapak menantang saya."


Rejo kebingungan.


Rejo melihat, di hadapannya ini sosok pemuda yang berbadan kekar agak gemuk, berkulit bersih, dengan mata sipit namun tatapannya tajam menghujam.


Bahkan Rejo sempat didera katakutan dan menyesal telah menutup jalan anak muda ini.


"Kalau bapak tak menantang, biar saya yang menantang Bapak bertarung. Silakan tunggu kedatangan saya, kapan saja, saya akan menjajal beberapa jurus melawan Bapak. Terserah waktunya. Intinya, begitu kita bertemu, maka kita akan bertarung secara jantan, di mana saja," tantang anak muda itu.


"Nak, saya ini sudah tua, engkau tidak sopan kepada orang tua."


"Dalam dunia persilatan tak ada tua muda. Yang ada, siapa menutup jalan, berarti dia menantang. Itu saja. Baiklah Pak, tolong beri saya jalan, untuk kali ini. Tetapi, pertemuan berikutnya, kita akan bertarung."


Rejo agak memiringkan tubuhnya.


Sang pemuda dengan miyak wangi yang aromanya lembut melintas, melewati Rejo.


Rejo hanya menatap dengan perasaan was-was.


"Bisakah saya mengalahkan anak muda yang sangat percaya diri ini? Siapakah dia?"


Setelahnya, berhari-hari Rejo tak berani keluar gubuknya, karena takut akan bertemu anak muda gagah itu. Dia sempat ragu, akankah bisa memenangkan pertarungan.


Hanya saja, Rejo yang memang banyak menghabiskan waktu untuk berkelana ini, tak tahan terlalu lama di dalam gubuk. Dia memilih keluar.


Namun, betapa kagetnya Rejo, anak muda berjubah itu, ternyata sudah berdiri tak jauh dari rumahnya.


Rejo kaget dan tak bergerak.


"Saya sudah menunggu di depan rumah Bapak, beberapa hari. Saya tahu, bapak ada di dalam rumah. Untuk itu, saya tunggu saja, agar kita bisa bertarung."


Rejo diam. Dadanya berdegup kencang.


"Saya tahu, di dalam gubuk bapak ada pedang bagus dari Mataram. Silakan ambil dan gunakan bertarung."


Rejo tambah kaget. Sebab, pedang dari kerajaan Mataram Hindu itu, disembunyikan sangat rapi dan tak terlihat, di antara dua tiang bambu.

__ADS_1


Rejo pun seperti terkena hipnotis, berbalik masuk gubuk dan mengambil pedangnya.


Kali ini, mereka benar-benar berhadapan.


"Sesuai dengan tantangan saya, jika kita bertemu di mana saja, kita akan bertarung."


Rejo menggenggam warangka pedang di tangan kiri.


"Sekarang, mari kita bertarung di sini."


Silakan loloskan pedang Bapak. Saya akan bersenjatakan tasbih ini," kata si pemuda, sambil menunjukkan tasbihnya.


Rejo tak bereaksi.


"Silakan hunus pedangnya."


Rejo tetap terdiam.


"Bapak, silakan hunus pedangnya."


Rejo mulai terpaksa.


"Lebih baik saya jajal ilmu anak muda ini. Toh tak ada salahnya mencoba."


Rejo mulai menarik gagang pedang.


Anehnya, seakan ada pulut yang sangat kuat, pedang tak mampu diloloskan dari warangka.


Rejo sempat kaget.


Dia lalu mengerahkan tanaga dalam maksimal, agar bisa mencabut pedang dari warangka.


Tetap saja tidak bisa.


Gagang seakan menyatu dengan warangka.


Beberapa kali pun dicoba, tetap saja gagal.


"Oh, jadi pedang itu tak mau keluar dari warangka. Baiklah, kalau begitu, lebih baik kita bertarung dengan tangan kosong."


Anak muda berjubah itu menaruh tongkat dan tasbihnya. Dia berdiri dengan tangan kosong, namun hanya berdiri tegak.


"Silakan Bapak membuka kuda-kuda."


Rejo tambah heran.


Jangankan untuk membuka kuda-kuda, untuk menggerakkan tangan saja dia tak mampu.


Kakinya mulai kesemutan.


Dan tiba-tiba kakinya lemas.


Rejo terjatuh dalam posisi duduk.


Anak muda berjalan mendekat.


Dipegangnya dua pundak Rejo, untuk membantu berdiri.


"Bapak, perkenalkan, nama saya Raden Rahmat, dari Ampel Denta."


Begitu mendengar nama Ampel disebut, Rejo memilih duduk bersimpuh dan menjura hormat.


"Oh, jadi jenengan adalah Raden Rahmat dari kerajaan Majapahit yang tekenal itu?"


"Benar, Bapak. Sekarang, saya tinggal di Ampel Denta."


“Jadi, jenengan adalah menantu dari Adipati Bungkul yang sakti itu? Dan jenengan yang mengislamkan beliau?”


“Bapak, semua karena kehendak Allah swt.”


Rejo memilih tetap menunduk. Meski masih muda, namun yang ada di hadapannya ini, adalah sosok yang mempunyai garis perjuangan jelas, sasarannya tepat, langkahnya pasti. Rejo membandingkan dirinya dengan anak muda ini, sangat tiada banding.


Rejo menghabiskan umurnya untuk mencari lawan hebat, hanya karena dia ingin melepas ilmu laknat warisan Resi Swadaraya. Namun, anak muda ini, menjadikan umurnya jauh lebih berarti dengan melakukan dakwah Islam, seperti wali-wali yang dikenal Rejo sebelumnya.


Untuk alasan itu, Rejo menghormati, dengan cara menunduk.


“Mohon maaf Bapak. Ini adalah jalan yang memang kerap saya lalui, tapi dulu-dulu saya tak menemukan Bapak. Bapak ini berasal dari mana? Dan siapa nama Bapak?”


Rejo pun mulai menyeritakan perjalanan hidupnya.


Raden Rahmat mengajak duduk di bawah pohon bambu.


Rejo meneruskan cerita hidupnya.


“Jadi, Bapak Rejo ini pernah bertemu dengan kanjeng Syech Jumadil Kubro?”

__ADS_1


“Benar. Bahkan, saya mendapatkan beberapa petunjuk ilmu dari beliau.”


__ADS_2