
Eejo yang gagah, menjura hormat, lalu mencopot ikat kepala kuningnya.
Perlahan, mulai muncul punuk, dan akhirnya memang punuk membesar menjadikan tuhuh Sunan Kembang Kuning nyaris terjerembab ke depan.
“Para santri semua, saya tugaskan Sunan Kembang Kuning untuk syiar di wilayah yang tak mungkin terjamah oleh kami. Daerah-daerah yang wingit, dan daerah yang masih dalam kekuasaan para dedemit tanah Jawa. Daerah yang agama Hindunya masih sangat kental, yaitu wilayah selatan, kerajaan Majapahit,” kata Sunan Ampel.
“Dengan gabungan ilmunya yang unik antara Hindu dan Islam, tentu Sunan Kembang Kuning akan mudah menaklukkan ilmu dedemit. Kami, tak akan melangkah ke selatan, karena ada semacam kesepakatan dengan penguasa dari laut selatan. Jadi, kalau Sunan Kembang Kuning yang mengarah ke selatan, kami tak mengingkari janji.”
“Nanti, kalau ada waktu, belajarlah kalian semua kepada Sunan Kembang Kuning. Barang satu dua jurus. Rejo, ayo kita berangkat.”
Sunan Ampel melangkah, dan malahan menuntun Sunan Kembang Kuning yang tertatih dan hendak jatuh. Mereka berdua mengobrol kecil, dan tertawa-tawa. Seperti bukan sosok pemimpin dan pengawal, tapi seperti sosok sahabat.
Para santri tetap duduk tercenung sambil tetap duduk.
Tatapan mata mereka memandang sang junjungan dengan pengawalnya. Mereka takjub kepada keduanya. Sang guru adalah sosok panutan yang begitu rendah hati, sedangkan sang pengawal adalah sosok sakti mandraguna tapi begitu sempurna menyembunyikan kesaktiannya.
“Kang, ternyata guru-guru kita adalah murid dari Kanjeng Sunan Kembang Kuning. Begitu hebat ilmunya, tapi begitu terlihat rendah penampilan dirinya. Ini satu jawaban, kenapa guru-guru kita sangat menghindari pakaian bagus, makan mewah, atau kuda yang kuat. Guru-guru kita mengendarai kerbau yang jalannya sangat lamban. Jadi ini alasannya, yaitu meniru kakek guru,” kata satu Pendekar Pencak Kuningan.
Lainnya mengangguk.
Dengan kejadian ini, santri-santri dari Pencak Kuningan kian giat mengaji, berlatih dan bercocok tanam di sekitaran wilayah Ampel Dento. Mereka meyakini, untuk menjadi pendekar pilitanding, bukanlah dengan menempa diri di situasi sulit, seperti di puncak gunung, berendam di air, atau harus puasa tak makan berhari-hari, melainkan dengan kerja nyata, yang bisa dinikmati semuanya.”
Sunan Ampel sungguh senang dengan perkembangan santri dari Pencak Kuningan itu. Hanya butuh beberapa tahun, mereka sudah dilepas kembali ke Sidoarjo.
Sebagai pasukan bayangan, yang akan merapatkan barisan ketika ada ancaman bagi Ampel Dento. Jika kondisi aman, mereka kembali melakukan dakwah atau sebagai petani.
Selain itu, pemimpin mereka, tetap menjadi poros komandan.
Di manakah Sunan Kembang Kuning saat itu?
Sang Sunan dengan tertatih melanjutkan siarnya hingga memasuki bekas kerajaan Singasari. Masih kuatnya pengaruh agama Hindu, dan masih banyaknya pemeluk agama Hindu, menjadikan dia memutuskan untuk tinggal di tlatah Singasari.
Rejo di sebuah desa yang bernama Watu Gede, Sunan Kembang Kuning, dengan kondisi tertatih membangun sebuah gubuk dekat sungai Watugede.
Gubuk ini dibikin tanpa dinding, hanya seperti gubuk di pematang sawah. Tujuannya, agar apapun kegiatan Sunan Kembang Kuning bisa dilihat penduduk Watu Gede, yang masih sangat kental dengan budaya Hindu itu.
Amat sulit bagi Sunan Kembang Kuning membangun gubuk sendirian. Beberapa hari, Sunan Kembang kuning hanya bisa menyelesaikan empat tiangnya saja. Sebab, dia harus menebang mambu sendiri, menyerut dan menata sedemikian rupa bambu-bambu itu untuk dijadikan tiang.
Sebenarnya, kehadiran Sunan Kembang Kuning di Watu Gede, cukup menyita perhatian penduduk, termasuk Pak Lurah, Ki Serono Puspodiloro.
“Mbah, mbah datang ke sini hendak beribadah kah?” tanya sang Lurah.
“Benar. Saya hendak beribadah.”
“Trus bambu-bambu itu untuk apa?”
“Untuk saya jadikan gubuk. Di gubuk ini, saya akan beribadah.”
“Bukankah untuk bertapa, sudah ada tempatnya. Di sana itu.”
“Tidak, saya akan beribadah di gubuk ini.”
Sebenarnya, Ki Serono Puspodiloro hendak melarang, namun tak tega. Sebab, dia melihat sosok tua yang tertatih dengan punuk besar di punggungnya.
Namun, untuk membantu si bungkuk, tidak berani dilakukan, karena jelas melanggar. Jadi hanya dibiarkan, dan Pak Lurah pun berlalu.
Berhari-hari gubuk yang dibikin belum jadi-jadi. Satu warga yang tak tega akhirnya memberanikan diri membantu, meski dia juga takut seandainya dimarahi oleh Kak Lurah.
Kenapa dimarahi? karena Sunan Kembang Kuning membangun gubuk terlalu dekat dengan tempat mandi keputren.
“Mbah, biar saya bantu. Beberapa hari saya melihat Mbah kesulitan membangun gubuk. Sebenarnya gubuk ini untuk apa?” tanya seseorang.
“Jenengan siapa?”
“Saya penduduk sini, Mbah.”
“Perkenalkan nama saya Rejo, dari kerajaan Mataram.”
“Nama saya Suradi Adimojo. Rumah saya tak jauh dari sini. Saya bantu ya Mbah.”
“Terima kasih anak muda.”
__ADS_1
“Mbah kenapa memilih membuat gubuk di sini?”
“Biar dekat dengan air.”
“Lantas, kalau dekat air, buat apa?”
“Agar bisa bersuci.”
“Apa itu bersuci?”
“Yaitu berwudlu, dan mandi.”
“Bukankah cukup dengan mandi saja, menjadikan badan kita menjadi bersih?”
“Benar, tapi masih kurang cukup. Manusia masih perlu bersuci dan keramas.”
“Bersuci?”
“Ya. Itu harus dilakukan untuk salat.”
“Salat?”
“Ya, Nak. Salat. Yaitu menyembah kepada Tuhan yang satu.”
“Menyembah tuhan? Maksud Mbah, menyembah dewa?”
“Hampir sama, tapi lain. Menyembah Allah, yaitu tuhan yang Maha Kuasa atas segala isi bumi dan langit.”
“Bukankah Dewa yang berkuasa?”
“Engkau masih belum mengerti. Datanglah ke sini, akan saya kasih tahu, siapa Allah, tuhan semesta alam itu.”
“Saya dengar dari Pak Lurah, katanya gubuk ini untuk bertapa.”
“Benar. Bertapa yang benar adalah salat. Dan salat yang benar, harus suci dari hadas kecil dan besar. Untuk suci dari hadas harus wudlu atau mandi.”
“Saya tak mengerti, Mbah.”
“Tak apa-apa Mbah. Besok akan saya ajak teman-teman lain membantu Mbah membangun gubuk. Semoga Pak Lurah tak marah. Sebab terlalu dekat dengan pemandian keputren. Nanti dikira mengintip ibu-ibu mandi.”
“Anak muda. Apa mungkin saya setua ini akan mengintip orang mandi? Yang benar saja.”
“Benar juga ya Mbah. Baiklah, besok saya ajak teman-teman membangun gubuk ini.”
Dan seharian itu, mereka berdua bercerita macam-macam seputar Watu Gede.
Dan memang, esoknya beberapa orang turut membantu, sampai gubuk itu jadi.
“Anak muda semua. Saya telah mengatakan, gubuk ini untuk bertapa dan semadi. Saya kasih tahu, beginilah cara semedi atau bertapa yang benar.”
Lalu, Sunan Kembang Kuning tertatih menuju ke sungai.
Semua mata mengikuti.
Lalu, mengambil air wudlu.
Dan tertatih Sunan Kembang Kuning menuju gubuk barunya.
Di gubuk tanpa dinding ini, Sunan Kembang Kuning segera salat dua rakaat.
Semua mata menatap dengan keheranan.
“Mbah, kok aneh cara semadi atau bertapa?”
“Ya, memang begitu caranya menyembah kepada Allah SWT. Kalau kalian ingin, akan saya ajarkan.”
“Menyembang siapa, Mbah?”
“Allah.”
“Bukan Dewa?”
__ADS_1
“Bukan. Allah adalah tuhan seru sekalian Alam. Dia, Zat maha menguasai seluruh langit dan bumi, serta isi bumi.”
“Kami masih belum mengerti, mbah.”
“Memang tak perlu kalian mengerti dengan tergesa-gesa. Saya tak akan ke mana-mana. Saya untuk sementara tinggal di sini.”
Dan orang-orang pun berpamitan.
Rejo malam itu sendiri. Dia memilih untuk berzikir, ditemani angin dingin menusuk tulang.
Penduduk merasakan hawa dingin sangat menyengat. Bagi beberapa orang yang tadi menolong membangun gubuk, juga was-was seandainya bakal terjadi apa-apa terhadap si Mbah bungkuk.
Satu orang tak bisa menahan diri, pun beranjak dari rumahnya, menuju ke gubuk baru di pinggir sungai.
Orang itu melihat si Mbah duduk bersila, sambil kepalanya geleng-geleng kepala.
Sang penduduk ini dibuat takjub, sebab tak terkesan si mbah kedinginan sama sekali.
Beberapa hari berlangsung seperti itu, membuat orang-orang tergelitik untuk bertanya langsung.
“Mbah. Mohon maaf, beberapa hari ini saya melihat mbah duduk bersila menghadap ke barat, dan geleng-geleng kepala, padahal udara sangat dingin. Kok bisa mbah?”
“Oh, perkenalkan saya Rejo, dari Mataram. Saya duduk bersila? Itu karena saya sedang semedi.”
“Lho bukankah semedi itu gak boleh bergerak?”
“Kata siapa? Nyatanya saya semedi.”
“Apa tidak kedinginan?”
“Kalian lihat, saya seperti kedinginan apa tidak?”
“Tidak.”
“Ya, karena saya mendapatkan energi dari yang saya baca, dan gerakan geleng-geleng kepala itu. Nyatanya, sekarang saya tak pakai selimut seperti kalian. Saya tidak kedinginan sementara kalian kedinginan.”
“Kalau kalian mau, saya ajari, agar tak kedinginan.”
“Mau, Mbah Rejo.”
“Sini, duduk di gubuk.”
Beberapa orang langsung duduk berjejer di gubuk tanpa dinding dan sempit itu.
“Cara duduk kalian, terserah. Yang penting kalian merasa nyaman.”
Akhirnya mereka memilih duduk bersila semua. Karena sudah terbiasa.
“Posisi tangan kalian, terserah. Yang penting nyaman.”
Mereka memilih menaruh tangan di pangkuan.
“Pejamkan mata.”
Semua menurut.
“Tirukan bacaan saya...Laa ilaha Illallah,” kata Sunan Kembang Kuning dengan perlahan, agar bisa diikuti.
Semua menirukan.
“Lagi.”
Mereka mengucapkan kalimat, laa ilaha illallah.
“Perlahan, gelengkan kepala ke kiri, dan ketika sampai kalimat Illallah, kalian gelengkan ke kanan. Lakukan secara perlahan dan bersama-sama.”
Mereka melakukan yang diperintahkan.
Kian lama kian cepat.
Anehnya, mereka merasakan ada hawa hangat yang mulai menyebar dari hati, dan mempengaruhi seluruh sendi tubuh.
__ADS_1