
Sebagai pemuda berusia belasan, tentu Raden Sumowirejo cukup lugu untuk meretas di alam bebas. Meski dengan kemampuannya, sebenarnya dia sudah bisa disejajarkan dengan pendekar papan atas, tapi secara pengalaman hidup, dia masih bau kencur.
Dia memutuskan untuk pergi ke arah barat, dan banyak aral sudah menghadangnya. Ini terkait dengan sebilah pedang yang diikatkan di punggungnya. Pedang yang dibawa dari Kadipaten Mataram ini, dengan koncer yang menandakan dia seorang putra mahkota.
Tentu saja ini menarik perhatian begal.
Ketika malam hari, kawanan begal mencoba merampok Raden Sumowirejo. Sayangnya, mereka bukanlah lawan seimbang bagi sang Murid Resi Swadaraya ini. Semua begal dengan cara keji. Tubuhnya semburat entah ke mana, terkena pedang Raden Sumowirejo. Kalau tak begitu, tubuh begal ini hancur setelah terkena pukulan sang Pendekar Gunung Tidar ini.
Memang akhirnya sang pemuda Raden Sumowirejo lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Gunung Tidar. Memang tak butuh waktu lama bagi Raden Sumowirejo menjadi terkenal. Ketinggian ilmunya, kebengisannya, dan didukung umurnya yang masih sangat muda, seakan menjadi mesin pendorong bagi terkenalnya nama Pendekar Gunung Tidar.
Ini membuat orang bergidik.
Dan sebenarnya mudah ditebak. Semua tahu, gunung Tidar dihuni oleh Resi Swadaraya yang terkenal sakti, dan tak ada lawannya di tanah Jawa Dwipa.
Kini, muncul di tlatah persilatan, nama Pendekar Gunung Tidar.
Dari ketinggian ilmu dan kebengisannya dalam bertarung, orang semua menduga, bahwa Pendekar Gunung Tidar adalah murid dari Resi Swadaraya.
Para begal sudah tak bernafsu, bahkan ketakutan, ketika bertemu dengan pemuda, yang menyelipkan pedang berkoncer di punggungnya. Karena menyelipkan pedang di punggung memang menjadi ciri khas raden Sumowirejo, agar gerak tangan dan kakinya bisa bebas. Namun, koncer yang berumbai-umbai tertiup angin ini, menjadikan semua orang ketakutan.
Bahkan, terbiasa membunuh orang dengan keji ini, menjadikan wajah Raden Sumowirejo sangat dingin. Tatapan mata sangat tajam, dan gerak yang mantap, membuat semua orang bergidik.
Di sisi lain, desa-desa yang dilewati, sangat berharap Raden Sumowirejo berkenan tinggal di desanya. Dengan begitu, tidak ada satupun begal yang berani memasuki desa. Hanya saja, umumnya Pendekar Sumowirejo memilih singgah dan istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.
Di setiap desa yang disinggahi, dia selalu bertanya tentang seseorang yang berilmu sangat tinggi. Ketika ditanya, siapakah yang ditanyakan?
Raden Sumowirejo tidak bisa menggambarkan.
"Trus? Siapa yang kamu maksud?" tanya Demang Banyuasin, sekitar kawasan Wonosobo.
"Saya tidak tahu?"
"Bagaimana mungkin engkau mencari orang yang tidak engkau ketahui?"
"Saat itu saya sedang berlatih di puncak Gunung Tidar. Tiba-tiba saja saya terpental dan pingsan. Begitu bangun dari pingsan, saya mendapati guru saya sudah meninggal. Tentu ada orang yang membunuh guru saya. Saya ingin bertemu orang itu, dan ingin berguru kepadanya."
"Lho, tapi engkau tidak tahu siapa yang membunuh gurumu."
"Ya itulah......"
"Omong-omong, siapa gurumu?"
"Resi Swadaraya."
Mendengar nama ini disebut, Demang Banyuasin langsung gemetaran. Hampir saja kendi yang dipegangnya terjatuh.
"Jadi.... jadi.... jadi...."
"Memang benar, Bapak. Saya murid Resi Swsadaraya, dan banyak orang memanggil saya dengan sebutan Pendekar Gunbung Tidar. Tapi, saya tak akan menyakiti Bapak."
"Anu, Raden Pendekar...."
"Jangan panggil saya dengan sebutan Raden Pendekar. Nama saya Sumowirejo. Panggil saja saya dengan sebutan Rejo."
"Anu.... nak Rejo. Sedari awal saya sudah curiga dengan melihat koncer di pedangmu. Jangan-jangan, ini yang disebut Pendekar Gunung Tidar yang menggemparkan itu. Apalagi usiamu masih sangat muda."
"Memangnya, apa cerita orang tentang diri saya?"
"Engkau diceritakan sebagai pendekar sadis. Jika membunuh lawan, pasti tubuh si lawan tak disisakan samasekali. Umumnya, lawanmu hanya disisakan kepalanya saja. Sedangkan tubuhnya, entah ambyar ke mana. Engkau diceritakan, membunuh lawan hanya dengan sentilan tangan. Itu yang kami dengar di desa ini."
"Ah bapak ini ada-ada saja. Saya dulu itu ikut berperang bersama Kadipaten Mataram melawan Majapahit untuk melepaskan diri. Berhubung saya sudah bosan karena menang terus, saya pilih minggat. Saya juga tak tega melihat penderitaan rakyat hanya gara-gara perang yang sebenarnya ingin memuaskan nafsu raja saja. Untuk itu saya minggat."
"Anu... Nak Rejo. Apa benar engkau adalah putra mahkota, kok koncer di pedangmu berwarna khusus untuk putra mahkota?"
"Benar Pak. Saya sebenarnya disiapkan untuk menjadi adipati. Tapi, saya memilih pergi, karena tak tahan melihat penderitaan orang-orang desa yang kelaparan."
"Apa benar engkau membunuh dengan keji?"
"Benar. Tapi, yang saya bunuh adalah musuh. Lawan bertarungku. Dan semuanya adalah para perampok."
"Apa tidak mungkin hanya dengan sekedar melukai?"
"Saya tidak bisa mengerem letupan ilmu saya. Ilmu saya baru berhenti setelah semua musuh saya hancur berantakan."
Demang Banyuasin hanya terbengong.
"Saya tidak membunuh orang sembarangan. Asalkan saya tidak diganggu, tentu saya tak akan mengeluarkan ilmu pencak silat saya."
"Oh begitu.... Lalu, rencanamu apa?"
"Saya mencari orang paling sakti yang bisa membunuh guru saya itu."
"Saya sendiri tidak tahu Nak Rejo. Tetapi, warga kampung sini tahu semua, bahwa di tanah Jawa ini, berkeliaran orang-orang berjubah, yang berasal dari negeri sangat jauh. Mereka di sini, mengenalkan agama baru. Entah apa namanya. Kalau tak salah, jumlah mereka ada sembilan orang. Dan murid mereka juga sudah mulai banyak. Kata orang-orang, umumnya mereka sangat sakti. Bisa jadi, satu dari merekalah yang membunuh gurumu."
"Apa Bapak tahu tempat tinggal mereka?"
"Saya tidak tahu. Tetapi, di kawasan pantai selatan, daerah Gunung Kidul, kalau tak salah, ada yang tinggal di sana. Itupun saya hanya dengar-dengar saja. Katanya orangnya sakti. Orang-orang biasa memanggil dengan sebutan Syech Belabelu."
"Di mana saya bisa menemui dia?"
"Kamu berjalan terus ke arah selatan, hingga kamu menemukan pantai. Tentunya, dia tinggal di sekitar sana."
Karena memang tekad besar menemukan siapa pembunuh gurunya, dan pemilik pedang bengkok, menjadikan Raden Sumowirejo memilih mencari sosok yang dipanggil Syech Belabelu ini.
Perjalanan menuju ke Gunung Kidul memang tak menemui aral berarti. Hanya saja, ketika Pendekar Gunung Tidar Rejo hendak menuju ke sebuah bangunan sederhana berbahan welit ini, dia seakan terkena empasan tenaga yang sangat besar.
Pendekar Gunung Tidar Rejo mencoba bertahan. Perlahan, dicoba dilangkahkan kakinya, tapi tetap berat.
Pendekar Gunung Tidar Rejo memilih duduk bersila.
Ditenangkan fikiran dan jiwanya. Dengan warisan ilmu dari Resi Swadaraya, dia bisa melihat sosok yang ada di balik bangunan sederhana itu.
(Makam Syech Bela Belu, di Damiaking Bantul. foto: situsbudaya.id)
Sosok tambun, dengan berpakaian jubah, sedang memutar tasbih. Tampak dia tenang dalam kesendiriannya. Pendekar Gunung Tidar Rejo tak ingin mengusik. Dan memilih untuk menunggu. Dia segera menutup diri, dan mulai bersikap seperti pertapa.
Perlahan, seakan tubuh Pendekar Gunung Tidar Rejo menyatu dengan alam. Dia tersadar tapi seperti tertidur. Dia lupa dan tak ingat apa-apa.
Entah berapa lama dia dalam posisi bertapa seperti itu, hingga sebuah tepukan kuat hinggap di pundaknya. Tepukan ini disertai dengan lontaran tenaga dalam yang sangat kuat.
Mau tidak mau, Pendekar Gunung Tidar Rejo terbangun dari pertapaannya.
"Nak, ayo ikut," kata si tambun.
Pendekar Gunung Tidar Rejo perlahan bangkit. Melemaskan sendi-sendi terlebih dahulu, lalu berjalan mengikuti si Tambun.
"Bapak, saya disuruh ikut ke mana?"
Yang ditanya hanya diam.
Pendekar Gunung Tidar Rejo mencoba menjejeri si tambun.
Tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya.
Meski badannya sangat gemuk, ternyata geraknya sangat gesit. Kakinya hinggap di batu-batu dengan sangat ringan, menuruni bukit. Bahkan, ketika menyeberangi sungai berbatu, si tambun sangat ringan memilih batu-batu yang dihinggapi.
Pendekar Gunung Tidar Rejo dibuat kesulitan mengikuti langkahnya. Meski mengerahkan seluruh kemampuannya, tetap saja Rejot tak mampu mengimbangi gerak si tambun.
Cukup lama berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah padepokan. Di situ ada beberapa orang yang sedang siap-siap di sebuah bangunan.
"Nak. Di sinilah saya biasanya bertemu dengan orang-orang yang ingin belajar ilmu agama Islam. Banyak orang di bangunan itu, karena mereka bersiap-siap untuk melaksanakan salat Jumat. Engkau tunggu di sini saja," kata si Tambun menunjuk ke sebuah batu.
"Kenapa saya tidak boleh ikut?"
"Karena engkau bukan muslim. Orang bukan muslim dilarang masuk masjid. Bangunan itu adalah masjid, tempat kami beribadah dan berserah diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Allah swt," kata Si Tambun.
Seperti terkena sihir, Rejo mengikuti perintah si tambun. Dia duduk di sebuah batu, sambil terus mengawasi ke arah masjid.
Jumlah orang yang duduk berjejer di masjid tidak terlalu banyak. Rejo melihat si tambun berdiri dengan memegang tongkat, lalu berbicara. Dan Rejo melihat akhirnya semua orang berdiri, dan mengikuti gerakan yang dilakukan si tambun, yang berdiri paling depan.
Agak lama Rejo menunggu, hingga akhirnya si Tambun menghampirinya.
"Ayo kita kembali."
Rejo ikut saja.
Seperti saat berangkat, Rejo tak mampu mengimbangi gerak si tambun.
"Sungguh kemampuan orang ini luar biasa. Dengan tubuh sebesar itu, dia bisa bergerak sangat cepat, sedangkan saya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan, tetap saja tak bisa mengejar," gumam Rejo.
Si Tambun melirik ke belakang, seakan dia bisa mendengarkan gumamam Rejo.
"Ah, bisa jadi dia bisa bergerak cepat, karena memang dia sudah sangat hafal dengan kondisi jalan di sini," gumam Rejo lagi, tanpa menyadari arti lirikan Si Tambun.
Tiba-tiba saja, Si Tambun membelokkan arah menuju hutan yang sangat lebat.
Rejo mengikuti dari belakang.
Rejo kian mengerahkan tenaga dalamnya, agar bisa mendekati posisi Si Tambun.
Rejo tak ingin tersesat di hutan.
Tampak si tambun sangat cekatan menghindari seluruh ranting dan dahan pohon yang menjulur ke mana-mana, sedangkan Rejo cukup kerepotan. Bahkan beberapa kali Rejo terjungkal karena kakinya terkait akar pohon atau dahan. Dia segera bangkit dan terus mengejar Si Tambun.
Sebenarnya, Si Tambun hanya mengajak Rejo berputar-putar saja.
Dan ini baru disadari Rejo setelah empat kali memutari tempat yang sama, dan terjatuh setelah kakinya terkait dengan akar yang sama.
"Hah, sedari tadi saya hanya diajak berputar-putar?"
Si Tambun yang melesat menghilang dalam belukar.
__ADS_1
Rejo memilih tak mengikuti, sebab, toh nantinya pasti akan bertemu lagi dengan si tambun, karena hanya berputar-putar saja.
Dugaan Rejo keliru.
Ditunggu lama, Si Tambun ternyata tak muncul. Agaknya, begitu mengetahui Rejo berhenti, Si Tambun segera melanjutkan perjalanan menuju ke pesanggrahannya.
"Hebat. Sungguh hebat bapak gemuk tadi. Dia sudah menyadari kalau saya berhenti, sehingga dia tak memutar lagi. Saya harus berguru kepada dia," gumam Rejo, mulai melangkah perlahan mencoba keluar hutan.
Memang akhirnya Rejo menemukan lagi jalan menuju ke pesanggrahan Si Tambun.
Agaknya, kehadiran Rejo memang ditunggu. Buktinya, Si Tambun terlihat duduk bersila, di depan pesanggrahannya.
Rejo menghampiri.
Rejo menjura hormat.
"Ayo, silakan duduk Nak."
Rejo duduk di hadapan Si Tambun. Tapi, dia tak berani berkata apapun.
"Aku tahu siapa kamu."
Rejo menunduk.
"Bukankah Engkau adalah Pendekar Gunung Tidar yang cukup bengis itu?"
Rejo memilih tetap menunduk.
"Buat apa engkau pasang pedang di punggungmu, dengan koncer yang begitu gagah, kalau kemampuanmu hanya segitu?"
Ucapan ini laksana tamparan keras bagi Rejo.
Tapi dia tak berani bergerak sedikitpun. Dia tetap merunduk.
"Dengan kemampuan seperti itu, engkau menyebut dirimu pendekar paling hebat di tanah Jawa?"
Rejo tambah ciut.
"Bagaimana mungkin? Hanya mengejarku saja, engkau tak mampu. Apalagi hendak melawanku?"
Rejo tambah tak berkutik.
Si Tambun diam.
Rejo memberanikan diri untuk berbicara.
"Anu Mbah... Maukah Mbah mengangkatku menjadi murid?"
"Ha ha ha.....," tawa melengking.
Burung-burung terkaget, segera terbang.
Rejo terkesiap.
Ada empasan tenaga dalam luar biasa besar.
Jantungnya berdebar sangat kencang.
"Mengangkatmu menjadi murid?"
Rejo memberanikan diri mengangguk pelan.
"Coba, kasih alasan, kenapa aku harus mengangkatmu menjadi murid?"
"Karena Mbah mempunyai ilmu yang sangat hebat. Saya ingin menguasai ilmu itu."
"Lantas, kalau engkau telah menguasainya, lalu apa?"
Rejo terdiam dan tertunduk.
"Apa engkau akan membunuhi semua orang-orang di tanah Jawa? Seperti yang engkau lakukan beberapa bulan terakhir?"
Rejo tak berani menjawab.
Tetap menunduk.
"Nak, ketahuilah. Di atas langit ada langit. Menimba ilmu memang harus, tetapi sangat bijak kalau kita melaksanakan dan mengamalkan ilmu yang kita punya itu. Bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk kebaikan ummat."
Rejo tetap terdiam.
"Usiamu masih terlalu muda, jadi ilmumu yang menguasai kamu. Bukan kamu yang menguasai ilmu. Kalau seperti itu, jika engkau menguasai ilmu setan, maka mau tidak mau, engkau juga menjadi setan."
Rejo terdiam dan terus menunduk.
"Matangkan imanmu dulu, barulah belajar ilmu tingkat tinggi."
Rejo mengangguk.
Rejo menunduk.
"Nak, kalau engkau mau belajar ilmu kepadaku, dan aku harus mengangkatmu menjadi murid, tentu itu tak sesuai dengan niatmu."
Rejo kaget, sebab si Tambun bisa mengetahui isi hatinya.
"Bukankah engkau mencari siapa pembunuh gurumu? Dan ingin berguru kepadanya?"
Rejo mengangguk.
Baru kali ini, muncul rasa ketakutan dalam hati Rejo.
"Aku tegaskan. Bukan aku yang membunuh gurumu, jadi bukan aku yang engkau tuju, dan bukan aku pula yang sebenarnya ingin engkau buru untuk dijadikan guru."
"Lantas siapa?" Rejo memberanikan diri bertanya. Tetap dalam posisi merunduk.
"Yang engkau cari adalah Kakang Subakir. Orang memanggilnya dengan Syech Subakir, salahsatu wali songo di Tanah Jawa, yang menyebarkan agama Islam.
"Di manakah saya bisa bertemu beliau?"
"Ha ha ha... hanya sebentar saja, niatmu sudah berubah!"
Rejo terkaget. Dan dia belum mengerti arti ucapan itu.
"Bukankah engkau baru saja ingin menjadi muridku. Setelah aku cerita, tiba-tiba engkau ingin bertemu Kakang Subakir. Anak muda.... usiamu benar-benar belum matang."
Rejo kaget. Dia memilih diam.
"Sebenarnya, engkau ingin berguru kepadaku, ataukah engkau ingin berguru kepada Syech Subakir?"
Rejo tertunduk.
"Kalau engkau mencari Syech Subakir, pemilik pedang bengkok, engkau akan kesulitan karena Kakang tidak pernah menetap di satu daerah. Dia berpindah-pindah untuk berdakwah."
"Kalau engkau ingin menjadi muridku, juga kurang pas. Karena memang niat awal di hatimu ingin berguru ke Syech Subakir. Begini saja, engkau tinggal di sini, untuk memikirkannya. Pelajari gejala di sekitarmu, karena di situ ada pelajaran yang sangat berharga. Aku tinggal dulu, untuk mengajar di masjid."
"Anu Mbah, boleh saya bertanya?"
"Ya, silakan."
"Panjenengan itu siapa?"
"Syech Belabelu."
Si Tambun segera melesat.
Tinggal Rejo sendirian di pesanggrahan itu. Duduk termangu.
"Ternyata, dunia persilatan tak sesederhana yang saya duga. Masih banyak pendekar hebat di tanah Jawa ini. Sebelumnya, saya begitu kagum kepada sosok yang membunuh guru, yang dipanggil Syech Subakir itu, tapi kini saya bertemu dengan sosok aneh, yang mempunyai ilmu juga aneh. Dia sangat sakti. Duh Nyang Widi, saya harus bersikap seperti apa?"
Akhirnya, Rejo memilih duduk-duduk santai di bawah pohon waru. Bahkan dia tak tahu harus melakukan apa. Tujuannya hanya satu, menunggu kedatangan Syech Belabelu.
Namun, yang ditunggu hingga malam tak muncul.
Esok harinya, tetap tak muncul.
Bahkan, hingga lima hari, yang ditunggu tak muncul.
Hari ke enam, Rejo hampir saja beranjak dari tempat itu, hendak menyusul Syech Belabelu di tempatnya mengajar mengaji. Tetapi, niat ini diurungkan,begitu terngiang di telinganya, dia diminta untuk memikirkan apa yang ada di sekitarnya.
"Bukankah pesannya, saya disuruh memikirkan apa yang ada di sini? Baiklah, kalau begitu saya akan mencobanya."
Rejo yakin, sebelum dia menemukan jawabannya, pasti Syech Belabelu tak akan datang.
"Dia itu sungguh sakti. Tentu dia tak akan pulang ke sini, kalau memang saya belum menemukan apa yang diharapkannya. Sekarang, apa sebenarnya yang harus saya fikirkan di sini?"
Awalnya, Rejo mencoba melihat bebatuan di bukit-bukit, tapi dia tak tahu apa yang seharusnya diamati dan difikirkan.
Pandangannya diarahkan kepada sosok rusa yang kebetulan mencari minum di dekat tempat duduknya. Sebuah sungai kecil gemericik. Sang rusa tetap tenang meminum air.
"Trus, kalau saya sudah mengamati rusa, lalu apa?"
Rejo tak mengerti harus melakukan apa. Dia hanya melihat setiap gerak rusa. Setelah puas meminum air, sang rusa dengan santainya melangkah memasuki hutan.
Namun, sang rusa segera menoleh ke kiri. Dua telinganya terangkat. Agaknya ada bahaya mengancam.
Ternyata, sosok anjing hutan segera muncul dari rerimbunan. Rusa segera melesat memasuki hutan. Anjing hutan mengejarnya, dan hilang dari pandangan Rejo.
Tak diketahui selanjutnya. Apakah rusa berhasil diterkam anjing hutan, ataukah anjing hutan gagal.
"Apa peristiwa itu yang harus saya fikirkan? Lalu, pelajaran hidup seperti apa yang bisa saya petik. Bukankah memang hal wajar, jika anjing mengejar rusa untuk bisa bertahan hidup? Juga sebisanya rusa menghindar agar juga bisa bertahan hidup? Lalu apa yang mesti saya petik? Apa menjadi manusia itu harus seperti anjing? Ataukah harus menjadi seperti rusa?"
"Bukankah anjing itu selalu menerkam? Apa manusia juga harus seperti itu? Saya kira tidak demikian. Ataukah, harus menjadi seperti rusa? Yang selalu menjadi hewan buruan? Saya kira juga tidak seperti itu. Lalu apa?"
Namun, sebelum Rejo menemukan jawabnya, kali ini melintas di dekatnya, sebuah ular kobra seukuran paha.
__ADS_1
Rejo cukup kaget, karena jaraknya terlalu dekat. Rejo berusaha tak bergerak samasekali. Bukannya dia takut kepada ular kobra, tetapi dia ingin mengetahui, untuk apa ular kobra itu melintas di tempatnya itu.
Ular menghentikan geraknya.
Dia diam.
Agaknya, tak jauh dari posisi kobra, ada tikus besar sedang mendekati air. Bisa jadi tikus itu hendak meminum.
Rejo tegang. Dia tahu, ular kobra itu mengincar tikus seukuran kaki orang dewasa.
"Bisakah tikus itu lepas dari terkaman kobra?" fikir Rejo penasaran.
Hampir-hampir Rejo menahan nafas, karena tidak ingin mengeluarkan suara samasekali.
Dia ingin melihat kelanjutan sang kobra.
Kobra tetap diam. Sedangkan tikus semakin mendekati posisi kepala kobra. Hanya menunggu beberapa saat saja, pastilah tikus itu sudah masuk mulut kobra.
Rejo berfikiran, tak mungkin bagi tikus itu bisa lolos dari terkaman kobra, sebab jaraknya terlalu dekat.
Dalam satu momen, tiba-tiba ular kobra membuka mulutnya lebar-lebar dan menerkam tikus. Momen sangat cepat ini, sangat sulit diikuti oleh penglihatan Rejo.
Yang terjadi adalah, tikus ternyata berhasil melompat setinggi-tingginya, masuk ke air dangkal, dan segera kabur.
Ular kobra raksasa itu segera mengejar, namun gerakannya tak lagi gesit. Ada tetesan darah di sekitar kepalanya, Ternyata, saat melompat tadi, kaki tikus berhasil ditancapkan di satu mata kobra. Karena kesakitan, kobra segera menutup mulutnya. Momen ini dijadikan tikus untuk kabur.
Rejo hanya melongo menyaksikan perburuan ini.
Dia segera melepas nafas yang beberapa saat tadi tertahan.
"Uuuuufffffhhh."
Mendengar ada suara, kobra sempat menghentikan rayapannya.
Rejo terdiam, dan tangannya segera memegang gagang pedang. Dia segera sigap, meski tetap tenang.
Kobra ternyata memilih mengejar ke arah tikus.
"Apa ini pelajaran untuk saya? Menjadi sosok pendekar harus sekuat dan seberani anjing atau ular kobra?" gumam Rejo sendiri.
"Hmmm, agaknya memang ini pelajaran yang harus saya fikirkan. Agar menjadi kuat, tentu saya harus berlatih dan berlatih. Baiklah. Akan saya lakukan."
Rejo sudah meyakini, mendapatkan apa yang diminta oleh Syech Belabelu. Sejak saat itu, dia berlatih dan berlatih di pesanggrahan Syech Belabelu itu. Karena dengan keyakinan tinggi, menjadikan ilmunya tambah berkembang pesat, tenaga dalamnya berlipat-lipat.
Rejo bukan hanya bisa membuat angin gemuruh atau ledakan guntur. Bahkan, jauh lebih dari itu, kilatan cahaya yang muncul dari pukulannya bisa menghanguskan apapun di dekatnya.
Warga sekitar yang dulunya berani melewati kawasan itu, kali ini takut luar biasa. Mereka menyangka, Syech Belabelu sedang mendadar ilmunya.
"Tapi, memang aneh. Umumnya Syech Belabelu tak pernah membuat suara gaduh seperti ini. Biasanya dengan kesenyapan dan ketenangan. Tapi ini kok aneh... Lebih baik kita jangan mendekat. Lihat, ada asap mengepul lagi, tentu ada yang terbakar di sekitar sana itu," kata satu warga kampung, mengingatkan temannya.
Rejo memang sangat berharap bisa menjadi murid Syech Belabelu, untuk itu, dia berlatih sungguh-sungguh agar membuat Syech Belabelu tertarik padanya.
"Aku harus menjadi kuat laksana anjing, dan aku harus kokoh laksana kobra."
Tak terasa, Rejo sudah berlatih sendirian di tempat itu selama tiga bulan. Bahkan, bisa dikatakan, tenaga dalam Rejo sudah dititik yang tak mungkin ditingkatkan lagi.
Benar-benar sudah di puncak. Untuk memindahkan batu seukuran sapi sekalipun, Rejo hanya cukup mengacungkan telunjuk ke arah batu itu, tanpa harus menyentuh, dan dikibaskan, batu itu segera terlempar jauh, laksana anak panah terlepas dari busur.
Untuk menghancurkan batu sebesar sapi, juga hanya mengarahkan telunjuknya ke arah batu itu saja.
Dalam hitungan detik.
Blar!
Batu itu hancur berkeping-keping.
Rejo semakin punya keyakinan diri dengan kemampuannya. Dan tak sabar menunggu kedatangan Syech Belabelu, dan dia akan menunjukkan kemampuannya itu. Dengan demikian, bisa segera diangkat menjadi murid.
Pada malam Jumat legi, ternyata yang ditunggu selama ini, datang juga.
"Bagaimana Rejo? Sudahkah engkau mendapatkan pelajaran hidup di sini?" tanya Syech Belabelu.
"Sudah Kanjeng Syech."
"Apa itu?"
"Saya berlatih sangat keras, selama Panjenengan tidak ada di sini."
"Apa yang kamu latih?"
"Ilmu bela diri saya."
"Hmmm. Begitu ya? Apa dasarmu sehingga engkau memilih melatih ilmu pencak silatmu?"
"Setelah Panjenengan pergi, saya melihat dua peristiwa yang hampir sama. Pertama, saya melihat anjing hutan hampir saja menerkam rusa yang minum di air kali. Rusa lalu melesat ke hutan. Kedua, saya melihat ular kobra raksasa hampir saja mematuk tikus yang juga hendak minum di kali."
"Pelajarannya?"
"Saya harus menjadi kuat seperti anjing dan kokoh serta mematikan seperti kobra."
"Hanya itu?"
Rejo tercenung.
Bingung.
Dia diam.
"Rejo. Engkau menyarikan pelajaran, ingin menjadi kuat dan kokoh seperti anjing dan kobra. Tapi, engkau tak tahu, berhasilkah anjing itu menerkam rusa, dan berhasilkah kobra itu mematuk tikus? Kalau tidak salah, malahan kaki tikus itu yang berhasil melukai satu mata kobra. Bukankah begitu?"
Rejo kaget alang kepalang.
Sebab, saat peristiwa itu terjadi, hanya dia saja di tempat ini. Bagaimana mungkin Syech Belabelu bisa tahu peristiwa terlukanya mata kobra, karena 'tendangan' tikus?
"Kenapa engkau tak ingin menjadi seperti rusa atau tikus saja?"
Rejo terdiam. Dia tertunduk.
"Berarti engkau belum menemukan apa yang saya minta. Temukan pelajaran hidup di sini."
Rejo tak berani menjawab.
"Sebagai rusa, dia tahu bahwa dia menjadi mangsa hewan buas lain. Karena itu, dia lebih hati-hati dalam bertindak. Kalaupun terpepet dia sudah menemukan cara bagaimana selamat, meski dia sebenarnya mempunyai tanduk untuk mempertahankan diri. Tetapi, kecepatan rusa dalam berlari menjadi cara agar dia selamat. Sama dengan tikus, dia tak mempunyai senjata apapun. Tikus hanya mengandalkan kecepatan dalam berlari untuk menghindari bahaya. Nyatanya, tikus masih berhasil melukai mata ular kobra yang ukurannya lebih besar, mempunyai bisa mematikan," tutur Syech Belabelu.
Rejo kaget, dan dia menunduk.
"Kenapa engkau tak ingin menjadi rusa atau tikus saja?"
Rejo tak berani menjawab.
"Engkau fikir, kalau menguasai ilmu terpuncak, akan tidak bisa dikalahkan?"
Rejo tetap menunduk.
"Engkau salah besar. Sebab, di atas langit masih ada langit. Dan puncaknya, hanya kefanaan yang ada. Sebab, yang Maha berilmu hanyalah Allah swt."
Rejo mulai bingung. Dia tak menyangka kalau pelajaran yang diambil selama ini salah. Sebab, sepanjang hidupnya di istana, berlatih kepada Resi Swadaraya, selalu diajarkan menjadi yang terbaik, menjadi yang terkuat, menjadi yang tersakti. Tapi, kali ini dia dihadapkan pada pilihan yang sebaliknya.
"Tidak perlu menjadi sakti, yang dibutuhkan hidup di dunia adalah menjadi sosok yang pasrah dan nerima apa saja pemberian Allah swt. Keikhlasan jauh lebih tinggi daripada ilmu apapun," tutur Syech Belabelu, seakan menjawab pertanyaan dalam hati Rejo.
"Engkau tak percaya?"
"Saya tidak berniat pamer, tapi saya akan memohon kepada Allah swt, agar engkau mengerti yang sejatinya ilmu. Tunggu di sini," tutur Syech Belabelu, berlalu.
Syech Belabelu menuju kali, tapi sudah mengering dan meranggas. Karena setiap hari terkena api dari letupan tenaga dalam Rejo.
"astaghfirullah. Inikah yang engkau latih selama ini?" teriak Syech Belabelu, sambil geleng kepala.
Syech Belabelu segera melesat pergi. Dia mencari air untuk berwudlu, lalu salat hajat.
Memang disengaja Syech Belabelu salat dua rakaat di dekat Rejo, agar Rejo tahu sejatinya ilmu.
Usai salat, Syech Belabelu lama duduk tafakkur dan berdoa.
Belum lagi, Syech Belabelu beranjak, tiba-tiba turun rintik hujan. Kian lama kian deras.
Hujan berlangsung lama, dan mengikis semua abu. Lama-lama air kali mulai mengalir lagi.
Bukan itu saja, tiba-tiba tangan Syech Belabelu diangkat menuju satu arah, lalu perlahan digerakkan. Dari kejauhan batu-batu besar yang sebelumnya dilontarkan Rejo, dikembalikan ke tempatnya semula. Hanya saja, yang hancur tak bisa kembali utuh.
Rejo tercengang.
Dalam guyuran hujan, Syech Belabelu beranjak dari duduknya, dan mendekati Rejo.
"Nak, ini sejatinya ilmu. Ilmu itu harus memberi manfaat kepada orang lain dan alam semesta. Kalau yang engkau latih hanya bisa merusak dan membuat semua ketakutan, itu bukan ilmu namanya, itu hanya nafsu setan. Engkau bisa membayangkan, betapa banyak hewan yang membutuhkan air untuk minum, dan betapa banyak hewan yang butuh tempat berteduh, atau makanan. Kalau engkau hanguskan semua, mereka tentu akan kesulitan mendapatkan air minum dan makanan. Semoga engkau memahami sejatinya ilmu."
Rejo menunduk.
Tiba-tiba badannya menggigil ketakutan. Dia tak menyangka, betapa kelirunya dia selama ini.
"Sekarang, engkau temukan sejatinya ilmu di sini. Saya mau pergi dulu," kata Syech Belabelu sambil mengelus rambut Rejo.
Rejo sendirian. Dia duduk termenung dalam guyuran hujan.
"Benar-benar luar biasa Bapak Syech Belabelu ini. Saya tak menyangka, bahwa di luar Gunung Tidar banyak pendekar hebat. Saya benar-benar tak menyangka, saya kira Resi Swadaraya adalah orang terhebat, ternyata, ada lagi yang jauh lebih hebat lagi. Duh Syang Hyang Widi, saya harus bagaimana?"
Rejo duduk termenung di bawah pohon waru, yang tak lagi berdaun. Bahkan, bisa dikatakan pohon waru ini sudah mati. Kering di dahan-dahannya, gosong di mana-mana.
Hujan terus mengguyur.
"Kalau orang mengalihkan hujan, itu sudah biasa, tetapi, kalau ada orang menghadirkan hujan, ini benar-benar luar biasa. Sungai yang sebelumnya kering gara-gara perbuatanku, kini mengalir lagi. Kata Syech Belabelu tadi, ilmu yang sejati, harus memberi manfaat kepada orang lain dan alam sekitar. Tapi, ilmuku selama ini, malah membuat kegaduhan, kebakaran, ketakutan. Saya harus bagaimana?"
Kondisi kebingungan dan linglung ini, berlangung hingga puluhan hari. Sayangnya, posisi Rejo tidaklah bertapa, tapi dia benar-benar kebingungan. Dia tak tahu harus berbuat apa. Selama itu pula, hujan silih berganti dengan mendung. Tetapi, matahari sangat jarang bersinar. Suasana benar-benar teduh.
__ADS_1