BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 2f: Pamit menuju Majapahit


__ADS_3

"Bapak-bapak semua, titah dari Kanjeng Syech Subakir sudah saya jalankan. Berkat usaha kita semua, kampung kita sekarang sudah aman dari begal, aman dari hewan perusak, aman dari dedemit, bahkan kita sudah mempunyai beberapa tabib. Sudah beberapa tahun saya menetap di desa ini, untuk mendampingi bapak semua latihan. Sekarang, agaknya saya harus meninggalkan desa ini," kata Rejo usai salat Isya.


Jamaah pun kaget. Mereka tak menyangka, Pak Lurah Rejo, meski usianya masih sangat muda, namun bertanggung jawab ini, akan meninggalkan mereka.


"Nak, tolong jangan tinggalkan desa ini," pinta Syuaibi.


"Jika saya tinggal di desa ini, berarti bapak-bapak semua membunuh saya. Banyak yang belum saya lakukan. Saya terlalu muda untuk menetap di sebuah desa," kata Rejo.


Semua terdiam.


"Bapak-bapak semua. Ini adalah kampung Islam pertama di tanah Jawa bagian pedalaman. Memang, sudah muncul kampung-kampung Islam tapi semua ada di pesisir, seperti kampung Leran yang ada kerajaan Ujung Galuh. Tapi, untuk di pedalaman, kampung kita ini yang dihuni muslim. Tentunya, saya sudah tidak khawatir lagi untuk meninggalkan kampung kita ini, karena bapak-bapak sudah menguasai jurus Sugih Waras. Tentu bapak-bapak semua bisa mempertahankan kampung, seandainya kampung kita diserang oleh pemeluk agama lain, atau mungkin dari pihak kerajaan. Jadi, tolong kasih saya penjelasan kenapa saya harus tetap tinggal di kampung ini, sementara usia saya masih muda."


Semua terdiam.


"Bukankah dulu pernah saya omongkan, bahwa saya akan meninggalkan desa ini, setelah Allah menakdirkan kampung ini gemah ripah loj jinawi. Dan itu sudah terbukti sekarang,."


Semua tetap diam.


"Baiklah, kalau boleh saya usulkan, agar kampung ini dikendalikan oleh Bapak Syuaibi. Sangat pas jika imam masjid yang juga seorang lurah."


Meski terdiam, para jamaah masjid juga membenarkan apa yang diutarakan Rejo. Yaitu, Pak Syuaibi memang pantas menjadi lurah, karena memang perannya untuk kampung sangat besar.


Usai berbicara beberapa jam, akhirnya penduduk kampung dengan berat hati meloloskan permintaan Rejo. Bahkan malam itu juga, jabatan Lurah langsung diserahkan Rejo kepada Syuaibi.

__ADS_1


"Besok usai salat subuh saya akan meninggalkan kampung. Tolong titip salam kepada semua warga kampung yang tidak sempat hadir dalam salat jamaah ini."


Usai berpamitan seperti itu, para penduduk pun pulang. Tinggal Rejo dan lurah baru, Syuaibi, yang masih duduk-duduk di beranda masjid.


"Nak Lurah, kami memang tak kuasa menahan nak lurah di desa ini. Sebenarnya, apa yang membuat Nak Lurah ingin meninggalkan kampung?"


"Begini pak, ingat peristiwa saya mengusir begal dulu?"


Syuaibi tercenung.


"Saya yakin, ada yang Bapak tutup-tutupi dari peristiwa itu. Perkiraan saya, bukannya begal yang melarikan diri, tapi begal-begal itu semuanya mati oleh tangan ini," tutur Rejo menunjukkan dua telapak tangannya.


Syuaibi tetap diam.


"Tolong, Bapak cerita sebenarnya."


Syuaibi tetap diam.


"Apa pentingnya bagi Nak Lurah, mengorek peristiwa lama itu?"


"Sangat penting, karena alasan itu juga yang membuat saya ingin keluar kampung."


"Apa hubungannya?"

__ADS_1


"Bapak Syuaibi cerita dulu. Saya dugu begal-begal itu mati karena saya bunuh. Apa benar seperti itu?"


Mau tak mau, akhirnya Syuaibi menyeritakan apa adanya.


"Astaghfirullah. Ternyata benar dugaan saya. Ya Allah, bagaimana saya harus membuang ilmu laknat ini. Bapak Syuaibi, kenapa saya harus keluar dari kampung, karena saya ingin mencari orang sakti yang bisa melenyapkan ilmu terkutuk ini. Andai saya selalu menguasai diri saya, tentu sangat bagus. Tapi bagaimana caranya? Selama ini, saya selalu disibukkan oleh kegiatan warga kampung, jadi tak sempat untuk berlatih."


"Jadi, bak Lurah ingin keluar dari desa ini, karena ingin melenyapkan ilmu dahsyat itu?"


"Bukan dahsyat Pak Syuaibi. Tapi ilmu laknat."


"Nak Lurah kok mempunyai ilmu aneh seperti itu dari mana?"


"Dari Resi Swadaraya di Gunung Tidar. Untuk itulah, sebutan saya juga Pendekar Gunung Tidar. Ilmu itu dimasukkan ke dalam tubuh saya, selain melalui latihan, ternyata juga melalui makanan, hembusan nafas, dan berbagai cara. Karenanya, ilmu itu sekarang saya simpan di tulang ekor. Saya tak ingin ilmu itu menggerus amal ibadah saya, karena kelakukan yang tidak sadari, ketika saya marah-marah."


"Rencana Nak Lurah mau ke mana?"


"Tidak tahu. Tak mungkin lagi saya mengejar Kanjeng Syech Jumadil Kubro, yang saya tidak tahu beliau ada di mana. Mungkin akan saya jelajahi seluruh Jawa, untuk menemukan orang yang bisa melunturkan ilmu saya ini. Apapun caranya."


Memang tak lama setelah itu, Rejo benar-benar pamit.


"Arah mana yang nak Rejo tempuh?" kata Syuaibi yang dipercaya sebagai lurah baru Desa Sugih Waras.


"Saya mungkin akan ke timur. Saya mendengar, di tanah Majapahit masih menyisakan orang-orang sakti. Mungkin dari mereka, ilmu saya ini bisa saya lunturkan," kata Rejo, berpamitan dengan semua warga kampung.

__ADS_1


Rejo dilepas dengan kesedihan mendalam.


Tejo berhasil membangun kampung islami di pedalaman, dalam kondisi gemah ripah loh jinawi.


__ADS_2