BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 4c: Bertamu ke Kiai Lembu Areng di Kawah Galunggung


__ADS_3

“Oh ya, tolong engkau mampir ke kerajaan Galunggung dalam wilayah kerajaan besar Galuh. Di sana ada orang sakti, panggilannya Kiai Lembu Areng. Temui dia. Kalau dia banyak berulah, engkau perlu nahi munkar!” teriak Syech Belabelu.


Rejo membalas dengan lambaian tangan, dan terus berjalan perlahan bareng tiga macan.


Rejo memilih jalan yang tak umum. Jika sebelumnya selalu memilih jalan desa, kini Rejo memilih pematang sawah, atau hutan belantara. Harapannya dia tak lagi bertemu manusia, yang bisa memicu dia menjadi sombong. Bahkan, Rejo memilih berjalan di malam hari, dan beristirahat ketika siang.


Perjalanan Rejo menjadi sangat lambat, dan cukup melelahkan. Dia benar-benar tak siap jika bertemu orang yang ketakutan melihat dia berjalan bersama macan.


Mau tidak mau, Rejo akhirnya melewati kawasan Gunung Galunggung juga.


Sebenarnya, Galunggung ini adalah sebuah kerajaan yang cukup disegani. Hanya saja, karena kehebatan Prabu Siliwangi yang menyatukan tanah pasundan dan Galuh, menjadikan Galunggung hanya diperintah oleh Adipati. Rejo tak ingin bertemu adipati, tetapi, Rejo mencari sosok bernama Kiai Lembu Areng, sebagaimana dititahkan oleh Syech Belabelu.


Rejo memilih sebuah gua kecil di kaki Gunung Galunggung sebagai tempat tinggal. Dia menempatkan tiga macan liar yang mengikutinya ini, di dalam gua. Seakan muncul komunikasi dengan bahasa gerak tubuh antara Rejo dan tiga macan.


Macan mengerti, bahwa dia disuruh tinggal sementara di dalam gua. Dan macan seakan yakin, dia tak akan ditinggal begitu saja oleh Rejo.


Tanpa diikuti macan, Rejo dengan leluasa memasuki kampung-kampung di Kadipaten Galunggung ini.


Tujuannya jelas, mencari tahu, siapa sosok Kiai Lembu Areng yang disebut-sebut sosok sakti oleh Syech Belabelu ini.


Di setiap kampung yang disinggahi Rejo, selalu ditanyakan tentang sosok Kiai Lembu Areng. Dan, reaksi yang ditanya, semua sama.


Yaitu tidak menjawab, menatap dengan mimik ketakutan, dan segera pergi begitu saja tanpa sepatah kata.


“Siapa sebenarnya Kiai Lembu Areng ini, kok setiap orang yang saya tanya, sepertinya ketakutan?” gumam Rejo.


Akhirnya Rejo memastikan bahwa tak mungkin dia mendapatkan informasi tentang sosok Kiai Lembu Areng, jika dia hanya sekedar bertanya.


Rejo pun membuat rencana yang cukup gila. Dia libatkan macan betina untuk membuat sandiwara itu.


Caranya, dengan bahasa isyarat, Rejo meminta macan betina untuk memasuki kampung, lalu mengaum sekencang-kencangnya. Harapannya, warga kampung akan ketakutan. Saat itu, muncul Rejo dengan meneriakkan dia murid Kiai Lembu Areng. Lalu menghalau macan. Tentu saja, karena memang sandiwara dan sudah mengenal macan, maka, dengan mudah macan betina ini dihalau.


Yang didapat Rejo, di satu kampung, bukannya mendapat informasi tentang Kiai Lembu Areng, malah semua pintu tertutup rapat. Seakan ketakutan warga kampung itu malah menjadi-jadi.


“Ada apa ini? Mereka sudah ketakutan dengan adanya macan, dan ketika saya teriakkan nama Kiai Lembu Areng, malah membuat warga kampung tambah takut. Siapa sebenarnya Kiai Lembu Areng ini?” gumam Rejo, sambil mengelus leher sang macan betina.


Mereka menuju kampung lain.


Skenario tetap sama. Macan diminta untuk masuk ke kampung dulu, dan diminta mengaum sekencang-kencangnya.


Semua warga kampung langsung semburat berlarian masuk ke rumah masing-masing. Ada yang langsung menutup pintu, ada yang segera mengambil senjata.


Tak ingin terjadi pertengkaran antara warga kampung bersenjata melawan macan betina, Rejo segera berlari menuju ke arah macan, sambil meneriakkan dia murid Kiai Lembu Areng.


Dengan diketahui warga kampung yang sudah menghunus senjata, Rejo segera menghampiri macan betina, seakan memukul dengan sekuat-kuatnya, ke arah kepala macan.


Macan mengerang kesakitan. Jatuh berguling-guling, lalu berlari keluar kampung.


Warga kampung berteriak-teriak.


Rejo lega.


“Kisanak, engkau tentu orang baru di sini. Kami tak pernah mengetahui dirimu di sini,” kata lurah kampung itu.


“Benar, Bapak. Saya kebetulan lewat,” jawab Rejo, sambil menjura hormat ke arah semua orang kampung.


“Terima kasih telah menghalau macan. Tentu engkau bukan orang Pasundan, bukan orang Galunggung.”


“Jenengan kok tahu?”


“Karena tak mungkin memukul macan, jika engkau orang sini, atau orang Pasundan. Kami semua menghormati macan, karena hewan ini kami yakini titisan dari raja kami, Prabu Siliwangi.”


Rejo tercenung kaget.


“Engkau akan terkena musibah, karena berani-beraninya engkau memukul macan.”


“Lalu, senjata yang bapak-bapak pegang itu, bukankah untuk menyakiti macan?” tanya Rejo.


“Engkau keliru, anak muda. Senjata ini memang kami hunus, tetapi bukan untuk membunuh macan, tapi untuk meminta tuah kepada macan itu. Tradisi di kampung kami, jika ada macan datang, kami akan meletakkan semua senjata di tanah, untuk diberkahi macan. Dan macan tentu akan meminta imbalan dengan menerkam satu di antara kami. Kami ikhlas. Dan tentunya yang diterkam macan akan sampai ke nirwana. Bertemu dengan Prabu Siliwangi.”


Rejo kaget.


“Masya Allah....,” bisik Rejo.


“Engkau tadi mengatakan, muridnya Kanjeng Kiai Lembu Areng. Itu juga tidak mungkin.”


“Kenapa?”


“Karena kami tahu, Kanjeng Kiai Lembu Areng, tak mungkin mengangkat murid.”


“Hah!”


Rejo hanya melongo.


Rejo akhirnya memutuskan untuk mengaku dan berkata jujur.


“Mohon ampun. Memang saya bukan murid dari Kiai Lembu Areng. Kenapa tadi saya teriak sebagai murid Kiai Lembu Areng, sebab, setiap saya bertanya tentang sosok Kiai Lembu Areng, tiada satu pun yang menjawab, malah dari matanya bergidik ketakutan, serta segera pergi. Saya penasaran. Mohoin maaf.”


“Hmmm. Untuk apa engkau bertanya tentang Kanjeng Kiai Lembu Areng?”


“Karena saya disuruh guru saya, untuk bertemu Kiai Lembu Areng.”


“Sebenarnya, pantangan bagi kami semua untuk menceritakan siapa Kiai Lembu Areng, tetapi, karena kami meyakini engkau yang berani memukul macan akan terkena musibah, ya sudahlah, kami akan memberitahukan kepadamu, yang akan celaka ini.”


Rejo tercenung.


“Kanjeng Kiai Lembu Areng, adalah pertapa sakti. Bahkan untuk menyebut namanya saja, kami cukup takut. Hampir sama dengan memukul macan, akan muncul musibah bagi siapa saja yang menyebut nama Kanjeng Kiai Lembu Areng.”


“Lho... bukankah dari tadi bapak menyebut nama Kiai Lembu Areng?”


“Ya, karena kami semua sudah tahu, bahwa yang akan terkena musibah bukanlah kami. Tapi engkau. Kami yakin itu, setelah melihat engkau memukul kepala macan.”


Rejo hanya menatap bingung.


“Kanjeng Kiai Lembu Areng adalah pertapa, yang hidup di kawah Gunung Galunggung. Beliau sangat aneh. Kadang beliau turun ke gunung untuk membunuhi orang-orang. Tapi, di waktu yang lain, beliau turun gunung untuk memberkati orang-orang. Bahkan memberi banyak emas bongkahan. Tapi, yang paling sering adalah turun gunung untuk membunuhi orang-orang.”

__ADS_1


“Jadi, Kia Kanjeng Areng itu tinggal di kawah gunung?”


“Benar. Disebut Kiai Lembu Areng, karena memang tubuhnya menghitam semua seperti arang. Untuk apa gurumu menyuruh engkau menemui Kanjeng Kiai Lembu Areng?”


“Saya juga tak tahu.”


Di saat mereka berdialog ini, macan betina datang dari arah pintu msauk perkampungan.


Kali ini tidak mengaum, tapi berjalan dengan lemah gemulai.


Warga kampung tak menyadari.


Begitu jarak sudah dekat, semua warga kampung kaget. Mereka segera menghunus senjata, dan meletakkan di tanah. Lalu semua duduk bersimpuh ke arah macan dan menjura hormat.


Sang macan, mendatangi Rejo, lalu menggesek-gesekkan tubuhnya di kaki Rejo. Menjilati kaki Rejo, lalu duduk setengah rebahan.


Orang-orang kampung kaget.


Mereka lalu menangis meraung-raung melihat pemandangan ini.


“Duh Gusti, jika macan ini mengampuni anak muda ini, berarti kami yang akan terkena musibah, karena menyebut nama Kiai Lembu Areng.”


Orang-orang menangis sesegukan dengan mimik ketakutan.


Giliran Rejo yang garuk-garuk kepala, karena bingung dan heran.


Dia tak menyangka, sebegitu dalam kepercayaan masyarakat di wilayah kekuasaan Padjajaran ini.


“Bapak semua, kenapa bapak begitu mendewakan macan. Bukankah dia hanya sekedar hewan buas, sedangkan kita, mempunyai otak dan pikiran?”


“Anak muda, macan adalah hewan suci. Macan adalah jelmaan Prabu Siliwangi.”


“Hah?”


“Benar anak muda. Macan, adalah hewan yang suci. Bahkan, jika di kampung ini ada ternak yang dimakan macan, maka si pemilik hewan akan segera menjadi kaya raya. Itu sudah terbukti berkali-kali. Dan kampung kami pun akan sejahtera, rezeki akan berlimpah di kampung ini.”


Rejo hanya diam. Tak mungkin dia meluruskan kepada orang-orang yang mempunyai keyakinan teguh seperti itu.


“Jadi, apa yang sebenarnya engkau inginkan, anak muda?”


“Saya hanya ingin tahu, di mana saya bisa menemui Kiai Lembu Areng. Itu saja.”


“Oh... gitu aja?”


Benar. Itu saja.”


“Silakan engkau menuju ke Gunung Galunggung. Di antara kawah atas dan kawah bawah, ada gua. Di situlah engkau bisa menemui orang yang engkau sebut tadi.”


Rejo hanya geleng-geleng kepala. Sebegitu hebatkah Kiai Lembu Areng, sehingga untuk menyebut namanya saja orang-orang tidak berani.


Rejo pun segera pamit.


Begitu Rejo berjalan, sang macan mengikuti. Dari arah rerimbunan menyusul dua anak macan. Mereka melangkah menuju arah yang ditunjukkan warga kampung.


Memang butuh waktu cukup lama bagi Rejo untuk sampai di puncak Gunung Galunggung. Pasalnya, dia semakin hati-hati memilih jalan.



Kawasan Kawah Gunung Galunggung yang menghijau, usai letusan)


Di puncak gunung Galunggung yang penuh kabut ini, Rejo menelisik, di manakah kira-kira tempat tinggal Kiai Lembu Areng.


Ada beberapa gua terlihat.


Rejo segera turun ke kawah, dan mulai menelisik satu per satu gua.


Tidak ditemukan sosok manusia di semua gua.


Namun, keyakinan Rejo mengatakan, Kiai Lembu Areng tentu ada di salah satu gua. Karenanya, Rejo menelisik lebih teliti di setiap gua, yang berbau belerang menyengat ini.


Tidak ditemukan sosok manusia.


”Tentu Kiai Lembu Areng ini orang yang sakti. Bagaimana mungkin bisa bernafas lega, di daerah yang berbau menyengat seperti ini?”


Lambat laun, Rejo merasakan kepalanya pusing, karena terlalu lama menghirup aroma belerang. Rejo memutuskan naik ke puncak lagi untuk mendapatkan udara segar.


Di puncak gunung Galunggung ini, Rejo duduk bersila dengan santai. Pandangan matanya menebar ke seluruh penjuru gua.


“Di manakah gerangan engkau, wahai Kiai Lembu Areng,” bisik Rejo sendiri.


Tak disangka, terdengar tawa terkekeh-kekeh.


Tawa itu sepertinya bersumber dari sosok yang sangat renta, karena ada kesan gemetar. Meski begitu, Rejo merasakan terpaan hawa tenaga dalam yang sangat besar.


Tak lama, perut Rejo mulai mual-mual.


“Ini pasti bukan karena saya menghirup aroma belerang ini, tapi ini disebabkan karena tenaga dalam yang disalurkan melalui suara tadi.”


Rejo segera menghimpun tenaga dalam, untuk menangani rasa mual di perutnya. Namun terlambat. Beberapa saat setelahnya, Rejo muntah-muntah.


“Mohon maaf Kiai Lembu Areng, atas kelancangan saya mendatangi rumah Panjenengan,” kata Rejo dengan pengerahan tenaga dalam sebisanya.


Rejo sudah menyangka, bahwa omongannya dia pasti didengar Kiai Lembu Areng, yang keberadaannya belum diketahui Rejo ini.


Benar adanya. Karena tak lama setelahnya, ada suara.


“Anak muda, siapa engkau? Dan untuk apa engkau ke sini?”


“Perkenalkan, nama saya Rejo, saya disuruh oleh Kanjeng Syech Belabelu untuk ke sini. Saya adalah murid Kanjeng Syech Belabelu.”


“Oh, Belabelu yang gembrot itu? Terus, dia pesan apa sama kamu?”


Rejo tercenung sejenak. Ada keraguan untuk menyampaikan yang sebenarnya.


“Kenapa diam?”

__ADS_1


Rejo masih tak menyahut.


“Anak muda, kenapa engkau diam lama? Apa pesan Belabelu kepadamu?”


Karena tak mungkin menghindar, kalaupun berbohong, Rejo meyakini pasti akan ketahuan. Rejo memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya.


”Pesan Kanjeng Syech Belabelu adalah, saya disuruh menemui Panjenengan. Jika Panjenengan berulah, saya disuruh hai munkar.”


“Maksud dari nahi munkar itu, untuk membunuhku?” demikian muncul satu suara.


“Mungkin artinya tidak jauh dari itu.”


“Ha ha ha. Tetap saja Belabelu ini. Dari dulu, sejak masih kanak-kanak, tak pernah berubah kelakuannya.”


Rejo ganti kaget.


“Sejak kanak-kanak?” pikir Rejo.


“Berarti usia Kiai Lembu Areng sudah sangat renta,” lanjut fikir Rejo.


“Anak muda. Engkau bukanlah orang pertama yang datang ke sini. Sudah berpuluh orang mampir ke sini, ketika saya tanya dapat pesan apa dari para wali tanah Jawa itu, umumnya mereka menjawab untuk silaturahim. Itu artinya, mereka berbohong. Padahal, pesan dari seluruh wali tanah Jawa ini sama, persis yang dipesankan kepadamu, yaitu sebisa mungkin membunuhku. Anak muda, baru engkau saja yang mengatakan sebenarnya, tanpa rasa takut. Saya salut kepadamu. Baiklah, saya akan menemuimu.”


Kaget Rejo alang-kepalang.


Dia pun segera menyiapkan segala kemungkinan terburuk, karena dia tak tahu, seperti apa rupa Kiai Lembu Areng ini.


Rejo menebar pandangan di antara gua-gua, tak muncul sosok manusia.


Namun, sosok renta tampak terseok mendaki. Tepat di lubang kawah Gunung Galunggung.


Rejo hanya melongo.


“Bagaimana mungkin Kiai Lembu Areng bisa muncul dari liang kawah yang panas itu?”


Yang terdengar hanya tawa terkekeh.


"Anak muda. Kenapa engkau kaget? Di tempatku, udaranya sejuk kok."


Rejo hanya diam tercengang.


Rejo melihat, meski telah renta, Kiai Lembu Areng bisa menapaki tebing-tebing kawah dengan mudah. Rejo berfikir, bahwa tebing kawah itu pasti panas, karena Rejo bisa melihat ada bara menggelegak nun jauh di bagian bawah.


Ketika jarak sudah dekat, barulah Rejo melihat bahwa wajar sosok ini dipanggil dengan sebutan Kiai Lembu Areng. Sekujur tubuhnya penuh angus. Atau bahkan, bisa jadi memang kulit Kiai Lembu Areng memang sudah gelap dan menghitam.


Rejo memahami bahwa sosok yang dilihatnya itu tentu sosok teramat sakti. Hanya saja, Rejo tak habis pikir, bagaimana caranya melindungi rambut dan baju agar tak terbakar, meski sudah sangat dekat dengan api yang tingkat panasnya luar biasa.


Kiai Lembu Areng kini sudah sampai di puncak Gunung Galunggung, menemui Rejo.


Rejo langsung menjura hormat.


Rejo merasakan hawa sangat panas menyebar dari tubuh Kiai Lembu Areng.


Terpaksa, Rejo mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghadang hawa panas ini.


"Anak muda, saya tahu, engkau pernah mendengar omongan, bahwa tak ada lagi orang sakti di tlatah Jawa. Yang paling sakti adalah putra keturunan Prabu Siliwangi."


Tentu saja Rejo kaget, karena dia mendengarkan perkataan itu berasal dari Raja Majapahit Wikramawardhana.


"Anak muda, yang diomongkan raja dari timur itu memang benar. Saya tak sakti."


Rejo tambah kaget, seakan Kiai Lembu Areng mengetahui apa yang diomongkan.


“Anak muda, selama ini, saya tak pernah menemui orang-orang yang disuruh oleh Wali tlatah Jawa, dikarenakan mereka berbohong. Demi menyenangkan saya, mereka mengatakan bersilaturahim. Padahal, pesannya adalah orang-orang itu disuruh membunuh saya. Dan baru kamu seorang saja, yang berani berkata jujur kepada orang yang sudah renta ini. Untuk itu, saya mau menemuimu. Sekarang, lakukan apa yang menjadi kewajibanmu, yaitu membunuh badan renta ini,” kata Kiai Lembu Areng.


Tentu saja Rejo tak berani. Jangankan untuk membunuh, untuk mengangkat wajah demi melihat bagaimana rupa Kiai Lembu Areng saja, Rejo tak berani.


“Ampun, Kanjeng Kiai. Saya tidak berani.”


“Kenapa?”


“Saya disuruh membunuh Kanjeng Kiai, jika saya mendapatkan kenyataan bahwa Kanjeng Kiai melakukan tindakan munkar. Sejauh ini, saya tak mempunyai dasar samasekali. Bahkan, saya tak tahu apa saja tindakan Kanjeng Kiai. Memang orang-orang di kaki Gunung Galunggung bercerita, bahwa Kanjeng Kiai kerap membunuhi orang-orang. Bahkan, saking takutnya mereka kepada Kanjeng Kiai, untuk menyebut namanya saja, mereka tak berani.”


“Ha ha ha ha.... begitu menakutkannya saya ini? Anak muda, terserah padamu, engkau percaya penduduk itu atau tidak, saya tak ada urusan. Urusan kita adalah, engkau akan membunuh badan renta ini, silakan.”


“Mohon ampun, Kanjeng Kiai, saya tidak berani.”


“Lho, bukankah engkau telah mengetahui dari omongan penduduk, apa saja yang saya lakukan? Bisa disimpulkan bahwa saya ini orang yang kejam dan keji. Silakan bunuh.”


“Mohon ampun, Kanjeng Kiai. Saya tak mungkin membunuh orang lain, hanya dengan mendengarkan kata orang. Saya harus tahu sendiri. Saya akui, ilmu saya mungkin tak bisa membunuh Kanjeng Kiai. Tetapi, jika benar-benar Kanjeng Kiai sama dengan yang diomongkan orang-orang, maka kita mungkin bertarung sampai mati. Kalau pun saya yang mati, maka saya mati syahid.”


“Anak muda, saya menangkap getaran hati yang kokoh dan bersih. Belum pernah saya menemukan orang dengan keteguhan hati sepertimu. Jadi, engkau ingin tahu bagaimana saya sebenarnya? Dan apa saya tindakan saya selama ini. Baiklah, kalau begitu, saya undang kamu untuk masuk ke rumahku, di bawah sana.”


Rejo kaget.


Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam bara api, di dalam kawah gunung?


Kiai Lembu Areng hanya terkekeh.


Rejo lupa, bahwa dia adalah murid dari Resi Swadaraya dari Gunung Tidar yang mempunyai ilma ganas. Bahkan, saat berlatih dulu, mulut Rejo bisa menyemburkan api.


Tubuh Rejo membara.


Karena memang bertujuan ingin menetralisir ilmu ganas inilah, membuat Rejo lupa, bahwa dia sebenarnya sudah terbiasa bergelut dengan api.


“Mohon ampun Kanjeng Kiai, bagaimana caranya saya bisa masuk ke dalam kawah?” tanya Rejo sambil garuk-garuk kepala.


“Kek kek kek, engkau lupa. Engkau bukankah sudah bergelut dengan api sewaktu masih kecil dulu. Apa engkau lupa dengan gurumu, Resi Swadaraya? Dunia persilatan sudah tahu itu semua,” kata Kiai Lembu Areng.


Rejo lagi-lagi kaget.


“Benarkah semua orang sudah tahu?”


“Benar. Bahkan Syech Belabelu, Syech Subakir dan Syeh Jumadil Kubro juga tahu. Jadi, apa yang engkau takutkan? Kawah gunung memang panas, tapi bukankah engkau sebenarnya sudah terbiasa bergelut dengan panas itu? Hanya saja, saya tak ingin kamu masuk rumahku dengan kondisi bajumu terbakar. Itu saja.”


Kiai Lembu Areng segera beranjak. Dia tertatih-tatih menuruni tebing, dan mulai masuk kawah Gunung Galunggung.

__ADS_1


Rejo hanya mengawasi dari puncak tebing.


__ADS_2