
BAB III
Jawara Tanah Jawa
Kaki Rejo memasuki tanah Majapahit.
Kerajaan besar ini telah lululantak. Pemberontakan demi pemberontakan menjadikan negara besar ini tak terurus. Pasukan dan keluarga kerajaan sudah memilih cari selamat masing-masing.
Rejo menyusuri kota kerajaan dengan perasaan miris. Kota yang dulu indah, kini menjadi kota yang kumuh, kotor dan tak terurus.
Tak ada lagi petugas kerajaan, tak ada lagi orang lalu lalang dengan menggunakan pakaian kemewahan.
Yang ada hanyalah orang-orang dekil, lusuh dan kelaparan.
Rejo terus menyusuri jalan-jalan di ibukota Majapahit etan ini, tanpa ada yang terlihat indah.
Tak mungkin bagi Rejo untuk mendekati kawasan keraton, di mana Raja Wikramawardhana bersemayam. Penjagaan seputar keraton sangat ketat.
Rejo memilih istirahat di sekitaran sawah penduduk. Matanya memandang ke arah istana kerajaan yang tak terawat.
Petani juga tak terlihat menggarap sawahnya. Mereka tak ada daya untuk menggarap, karena kondisinya kelaparan. Semua beras dan hasil bumi, habis disita kerajaan untuk biaya perang dan pemberontakan yang terus muncul sporadis.
"Allahurobbi, bagaimana saya bisa menemukan orang sakti, di kerajaan yang begini mengenaskan?" keluh Rejo.
Dia tak menyangka, kehidupan di kerajaan terbesar dan terkenal ini, sungguh mengenaskan.
Ketika bersama Syech Jumadil Kubro ataupun ketika menjadi lurah di Desa Sugih Waras, tak menemukan satu pun yang kelaparan.
Tetapi, pemandangan di ibukota Majapahit, sungguh jauh dari bayangan Rejo. Tangis anak kecil, lelaki renta yang sudah tak mampu mengangkat senjata, atau ibu-ibu tua, dengan tatapan mata kuyu dan lesu, berpakaian compang-camping, sedang duduk-duduk di teras rumah.
Mereka bertahan hidup dengan memasak sayuran dan rambanan pagar rumah. Untuk ternak, semua tak ada, karena disita tentara untuk bekal perang.
"Negara ini pernah berjaya, dan semua takut kepada Majapahit. Tapi, kini, negeri ini sungguh menuju kehancuran," gumam Rejo sendiri.
"Tapi, apa urusan saya? Bukankah saya ke sini untuk mencari orang sakti yang bisa mengeluarkan ilmu terkutuk dalam diri saya ini. Tapi, bagaimana caranya?"
Rejo bergumam sendiri.
"Mungkin, satu-satunya cara adalah, saya harus menyerbu ke dalam istana. Tapi, sungguh penjagaan sangat ketat. Tapi, kalau ada musuh menyerang melalui pinggiran kota, tentu negara ini akan sangat mudah dihancurkan. Ibukota yang sebegini besar hanya ditinggali para tua renta, ibu-ibu dan anak-anak. Saya kira, pasukan memang dikonsentrasikan di istana, untuk menjaga raja dan keluarganya."
"Tentunya, para pendekar sakti juga berada di dalam istana. Baiklah, kalau memang tidak ada cara lain. Bismillah."
Rejo melangkah mantap menuju ke alun-alun, dan menuju ke regol istana.
(Gapura Wringin Lawang, setinggi 15,5 meter, di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Mojokerto Jawa Timur)
Tentu saja, Rejo menyembunyikan pedang asal Mataram yang dia punya. Jika pasukan Majapahit mengetahui, tentu mereka segera menyerang.
Meski begitu, ada lelaki muda mendatangi Regol, menjadikan pasukan segera memukul kentongan titir.
Ini menciptakan kegaduhan di dalam istana. Beberapa ketua regu segera menuju ke regol utama. Mereka sangat kaget dan mengira ada penyerbuan. Sebab, gerakan pasukan musuh tak terdeteksi.
Beberapa prajurit segera menghunus pedang, dan ada yang mengacungkan tombak. Beberapa kepala regu ikut bergabung.
Rejo melangkah tenang kian mendekati.
"Perkenalkan, nama saya Rejo, Pendekar Gunung Tidar. Saya tidak ada kaitan dengan urusan negeri kalian."
"Siapapun yang mendekati istana, harus mati! Demikian titah Raja!" teriak kepala Regu, dengan mengerahkan tenaga dalam.
Rejo menakar kekuatan tenaga dalam sang kepala regu.
Rejo menilai, tenaga dalam itu cukup kurang untuk bisa mengeluarkan ilmu terkutuk dari dalam dirinya.
"Ah, hanya keroco. Tolong panggil pendekar-pendekar sakti yang ada dalam istana. Saya tak ingin melawan kalian yang ilmunya hanya dangkal begitu," teriak Rejo, dengan sengaja memanasi para prajurit.
Harapan Rejo, teriakan yang dibarengi dengan tenaga dalam maksimal itu, bisa terdengar sampai jauh masuk ke dalam istana, dan memancing para pendekar sakti untuk keluar dan bertarung melawan dia.
Beberapa kepala regu terpental dengan sendirinya.
Mereka kaget saat diterpa angin kencang yang berhawa panas. Angin itu meluncur begitu saja ketika Rejo berteriak.
"Kurang ajar. Engkau pamer kesaktian di depan kami. Dikira kami takut?" teriak satu kepala regu.
"Kalian bukan lawan saya. Panggilkan pendekar yang hebat. Sungguh, saya tak ada urusan dengan kalian."
"Kalau begitu, buat apa engkau membuat ulah di sini?"
"Saya hanya ingin bertarung. Lain tidak!"
"Hah!"
"Benar. Saya hanya ingin bertarung."
"Apa engkau ingin menjadi prajurit Majapahit?"
"Tidak. Sekali lagi, saya ingin bertarung. Ini peringatan terakhir. Kalau pendekar hebat kalian tak keluar, maka saya yang akan masuk ke dalam."
"Sungguh lancang, engkau ini. Tidakkah engkau tahu, ini adalah istana."
"Saya tahu. Untuk itu, saya ingin bertarung melawan orang paling sakti di kerajaan ini."
"Engkau ini memang mencari mati!"
"Baiklah, kalau pendekar sakti di istana ini tak mau keluar, biar saya yang masuk."
Sang pemuda ini melangkah.
Semua pasukan penjaga regol dan beberapa kepala regu segera menyerang dan mengepung Rejo.
"Kalian bukan lawan. Minggir."
Puluhan pasukan langsung merengsek.
Rejo hanya cukup menghentakkan satu kakinya ke tanah.
"Duar."
Suara menggelegar muncul dari benturan kaki dan tanah.
Akibatnya, puluhan penyerang langsung terpental.
Beberapa terluka karena tertusuk tombak atau teriris pedang milik temannya sendiri.
Melihat anak buahnya terpelanting begitu saja, tanpa bisa menyentuh Rejo, membuat beberapa kepala regu marah besar.
Mereka segera membuka jurus terbaiknya, dan menyerang secepat kilat.
"Kalian bukan lawan. Minggir!" teriak Rejo.
Hanya dengan teriakan ini, beberapa kepala regu langsung terpelanting berguling di tanah, dan tak mampu bangun lagi.
Rejo dengan tenang melangkah menuju regol.
Begitu kakinya menapak tangga regol. Rejo merasakan ada terpaan hawa panas dari arah samping.
Rejo menoleh, dan melihat sosok tua, sedang duduk bertapa, di sebuah cungkup, yang memang disediakan oleh pihak istana.
"Kula nuwun, wahai Resi," kata Rejo menjura hormat.
"Anak muda, di usiamu, engkau telah menguasai ilmu gedrug bumi. Sungguh butuh puluhan tahun untuk menguasai ilmu itu. Siapa nama gurumu?" tanya sang pertapa.
"Perkenalkan, nama saya Rejo, dari Mataram. Guru saya adalah Resi Swadaraya, dan juga Syech Jumadil Kubro, Syech Subakir, dan Syech Belabelu."
Kata Rejo tetap menjura hormat.
"Oh engkau dari Mataram. Apa engkau juga mengenal Resi Hitu Dawiya. Sosok yang sangat lembut dari Mataram?"
"Iya. Beliau juga salah satu guru saya."
"Kalau engkau murid Resi Hitu Dawiya, kenapa engkau berperangai kasar seperti itu?"
"Saya tidak ingin kasar. Saya ingin bertemu pendekar paling sakti di sini."
"Untuk apa?"
"Untuk bertarung melawan saya."
"Untuk apa?"
"Untuk diketahui, siapa yang sebenarnya paling hebat."
"Untuk apa?"
Rejo terdiam.
"Nak. Engkau masih muda dan berilmu tinggi. Apa engkau tidak ingin bergabung bersama Kerajaan Majapahit ini? Engkau pasti diberi kedudukan sangat tinggi di sini."
"Saya tidak ada urusan dengan negara ini. Saya hanya ingin mengetahui dan mencari orang yang bisa mengalahkan saya. Itu saja."
"Untuk apa?"
Rejo tak lagi bisa berkelit.
"Untuk bisa mengeluarkan ilmu laknat dari tubuh saya."
Sang pertapa matanya terbelalak.
"Ilmu laknat?"
"Benar. Saya merasa bahwa ilmu warisan Resi Swadaraya dari Gunung Tidar tidak cocok dengan diri saya. Ilmu itu terlalu kejam."
"Hmmm. Jadi engkau adalah pemuda yang menjadi pembicaraan para Resi itu. Engkau adalah Pendekar Gunung Tidar sebenarnya, sebagaimana yang engkau teriakkan dari luar regol tadi."
"Ya. Saya pendekar Gunung Tidar. Pewaris ilmu laknat Resi Swadaraya. Saya ingin membuang ilmu laknat dan kejam itu."
__ADS_1
"Nak, tak mudah menghapus ilmu yang sudah mengalir di setiap butir darah, tertarik di setiap hembusan nafas, dan bergerak di setiap denyut jantung. Mungkin, satu-satunya cara adalah, engkau harus membunuh dirimu, agar ilmu itu bisa lepas."
"Pertapa. Anda cukup memahami tentang ilmu saya. Apa Anda kenal dengan guru-guru saya tadi?"
"Resi Swadaraya sangat terkenal. Seluruh Jawa mengenal namanya, Disebut namanya saja, semua keder. Dia pemuja Dewa Shiwa, sedangkan Resi Hitu Dawiya sangat dikenal karena sikapnya yang sangat santun, menguasai berbagai kitab suci. Biasanya, ilmu dua resi yang bertentangan itu tidak bisa menyatu dalam satu tubuh, tetapi dalam dirimu ternyata mengalir dua ilmu yang bertentangan. Sungguh, engkau memiliki bakal alam yang luar biasa."
Rejo diam.
"Nak. Banyak orang ingin mempunyai ilmu seperti ilmumu itu. Namun, tidak ada yang kuat. Raga orang yang menerima dua ilmu berbeda ini, umumnya meledak ambyar menjadi serpihan daging saja. Tapi, engkau tetap hidup."
Rejo tetap diam.
"Engkau juga menyebut nama Syech Subakir, Syech Jumadil Kubro dan Syech Belabelu. Saya tahu nama-nama itu. Mereka mengajarkan agama yang menyembah satu dewa saja. Mereka adalah orang-orang sakti. Meski saya tak mengenal mereka, tapi saya tahu. Sebab ada utusan Majapahit untuk menemui orang-orang itu, diajak bergabung dengan Majapahit, namun kesemuanya menolak. Agama yang menyembah satu dewa itu, juga dianut satu teman dari kerajaan Majapahit, yaitu Laksamana Cheng Ho. Dia itu menyembah satu dewa. Dalam perang paregreg beberapa tahun lalu, Majapahit dibantu prajurit Laksamana Cheng Ho. Dia kalau menyembah itu gerakannya aneh-aneh."
Rejo diam.
Rejo berkeyakinan, bahwa Sang Pertapa ini adalah sosok linuwih.
"Engkau menyebut menjadi murid Syech-syech tadi. Apa engkau menyembah banyak dewa atau satu dewa?"
Rejo terpekur sejenak.
"Saya beragama Islam. Bukan hindu. Islam mengajarkan menyembah kepada Allah SWT. Satu-satunya tuhan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Eyang pertapa, engkau sangat banyak pengetahuan tentang Majapahit. Siapakah Anda?" tanya Rejo sambil menjura hormat.
"Oh, perkenalkan, nama saya Wikramawardhana."
Disebut nama ini, Rejo kaget.
"Bukankah Wikrama Wardhana adalah raja di Majapahit ini? Kenapa dia menjadi pertapa?" pikir Rejo.
"Eyang pertapa menyebut Wikrama Wardhana, berarti Eyang pertapa adalah raja?"
Sang pertapa hanya tersenyum.
Dia melambai, dan mengajak Rejo untuk duduk di dekatnya.
Rejo menurut, dan segera duduk bersimpuh di depan pertapa, dengan sikap tetap menghormat.
"Benar, Nak. Saya adalah Raja Majapahit. Menjadi raja hanya membuat hidup kita memikirkan keduniawian saja. Karena memang panggilan dewa, saya menjadi Raja. Tapi, saya adalah pertapa. Semua gerak pemerintahan ini dipegang oleh Bhre Tumapel. Saya menjadi pertapa ini, karena memang saya harus melakukannya. Saat ini, Majapahit dilanda pemberontakan demi pemberontakan, dan juga bencana kelaparan. Dalam tapa brata saya, semoga dewa memberikan kemakmuran lagi kepada Majapahit."
Rejo yang masih muda ini, tanpa meninggalkan rasa hormat, namun mengutarakan perkataan yang cukup tajam.
"Bagaimana mungkin menyelesaikan persoalan negara dengan bertapa? Bukankah urusan negara harus diselesaikan dengan kerja nyata. Pemberontakan demi pemberontakan muncul karena memang Majapahit sudah menjadi lemah. Masa kejayaan telah berlalu. Tentunya, butuh kerja keras untuk mengembalikan kekuatan Majapahit, bukan dengan bertapa seperti eyang ini."
Wikrama Wardhana terkekeh.
"Engkau ini masih muda, tapi sudah berilmu tinggi. Dan omonganmu pun tajam. Sungguh, Majapahit memerlukan orang sepertimu untuk mengembalikan kejayaan."
"Kalau kanjeng Syech tidak ada yang mau, bagaimana mungkin saya harus mau? Bagaimana mungkin nantinya saya harus memerangi agama saya sendiri, untuk mengembalikan kejayaan Hindu. Sebaliknya, ayo Eyang Wikrama Wardhana memeluk Islam, pasti nanti akan dibantu semua Syech. Dan saya pun bersedia membantu."
"Saya ini pertapa. Di tataran pertapa, semua agama tak ada bedanya."
"Eyang. Tentu saja ada bedanya. Agama tak memandang usia, tapi siapa yang lebih taqwa kepada Allah SWT, itulah yang akan mendapatkan balasan baik dari Allah SWT."
"Ah sudahlah anak muda. Rasanya tak ada yang bisa mengeluarkan ilmu yang kau sebut laknat itu. Padahal, banyak pendekar pilitanding sangat menginginkan ilmu sepertimu. Karena tak mungkin bagi seseorang memasukkan ilmu bertentangan dalam satu tubuh. Tapi tubuhmu bisa menerima."
"Maksud Kanjeng Raja?"
"Ya. Di Majapahit ini, saya tegaskan, tidak ada lagi yang lebih sakti dari pada kamu. Engkaulah yang paling sakti."
"Saya tak percaya."
"Lho? Engkau ini bagaimana sih? Yang raja Majapahit itu engkau atau aku?"
"Paduka pertapa."
"Nah... itulah. Saya tahu persis seluruh kekuatan seantero Majapahit ini. Kalaulah ada Gajah Mada, tentu ini akan teratasi. Saya tak tahu, berapa tahun lagi Majapahit akan hancur ataukah kembali berjaya. Lebih-lebih, telah mulai ada kekuatan baru di pesisir, yaitu orang Islam. Meski saat ini belum menjadi ancaman Majapahit, bisa jadi satu ketika orang Islam seperti dirimu itulah yang akan menghancurkan Majapahit."
"Jika pertapa sudah tahu bagaimana nasib Majapahit, kenapa tak segera beralih kepada Islam saja. Islam agama rahmatan lil alamin. Memberi manfaat bagi alam semesta."
"Saya ini pertapa, anak muda."
"Ya sudahlah. Sekarang, mohon izinkan saya masuk lebih dalam lagi ke dalam istana."
"Jika engkau masuk ke dalam istana, itu artinya engkau tidak menghormati kedaulatan Majapahit lagi. Saya, Wikrama Wardhana, akan menghadapi kamu sampai mati!"
Rejo tercenung.
Sebab, kalau pun pertarungan itu terjadi. Tentu Rejo tak tega untuk menghantam tubuh kurus dan renta seperti Wikrama Wardhana.
"Bapak pertapa yang raja. Tentu saya tidak berani bertarung melawan Kanjeng Raja. Minta tolong, pendekar terhebat saja suruh keluar. Biar saya menghadapinya di sini."
"Anak muda. Saya tegaskan, tidak ada pangeran atau pendekar yang bisa mengalahkan dirimu. Sungguh. Balikkan tubuhmu, dan pulanglah. Engkau tak akan bisa menyelesaikan masalahmu di Majapahit ini."
"Saya sudah kepalang basah. Saya harus bertarung! Mohon Kanjeng Pertapa berkenan mencarikan saya musuh. Sungguh, saya ingin mengeluarkan ilmu laknat ini."
"Engkau ini anak muda yang aneh. Umumnya, semua ingin penyelesaian tanpa ada pertarungan. Tetapi engkau sungguh aneh. Malah menginginkan pertarungan."
"Bapak Pertapa. Kalau memang di Majapahit ini tak ada lagi pendekar yang bisa mengalahkan ilmu laknat ini, saya harus pergi ke mana?"
"Terima kasih bapak Pertapa. Tetapi, saya sudah terlanjur sampai di sini. Tolong panggil pendekar paling hebat di istana ini, suruh melawan saya."
"Tidak ada, anak muda. Semua pendekar hebat sudah saya kerahkan untuk memerangi pemberontakan. Di istana ini, yang paling sakti adalah saya. Apa benar engkau mau bertarung melawan saya?"
Rejo langsung menggeleng.
"Ya sudah kalau begitu. Pergi sana!"
Rejo tak beranjak.
"Saya harus bertarung."
"Lawan saya."
Rejo kembali menggeleng.
"Baik, kalau engkau tak berani melawan pertapa renta. Silakan datangi kolam segaran di Trowulan. Saya akan kerahkan seluruh kesaktian saya, untuk menjadikan kolam itu berwarna biru, dan ikan-ikan saya jadikan mati. Tak usah bertarung fisik kalau engkau tak berani memukul pertapa renta ini. Coba, engkau pulihkan air kolam itu menjadi jernih dan ikan-ikan hidup lagi. Saya yakin, engkau pasti bisa melakukannya, karena engkau sebenarnya menguasai ilmu Dewa Shiwa yang sangat langka," tutur Wikrama Wardhana dengan mimik serius.
Rejo kaget.
Dia tak merasa bahwa pertarungan yang terjadi, justru aneh begini.
Meski begitu, mau tidak mau, Rejo segera menjura hormat, dan berjalan mundur hingga di pintu regol.
Begitu di halaman istana, para penjaga yang sudah tak kesakitan lagi, segera mundur menjauh. Mereka takut.
Rejo segera beranjak pergi, setelah mendapat arah menuju Trowulan.
(Kolam Segaran, berada di Unggaran, Trowulan, Kecamatan Trowulan)
Memang tak butuh waktu lama Rejo bisa sampai ke Trowulan. Dan tak sulit bagi Rejo untuk menemukan kolam raksasa yang diperuntukkan khusus putri dan keluarga raja itu.
Warga kampung mengerumuni kolam. Mereka semua tertegun heran. Sebab, dari arah tengah kolam, muncul semacam gelembung, dan akhirnya merubah warna air menjadi biru. Ribuan ikan mati mengambang.
Ketika Rejo sampai di bibir kolam, warna air sudah biru pekat.
"Allahu akbar. Ilmu apa ini? Bapak pertapa bisa merubah air dari jarak jauh, Sungguh hebat ilmu bapak pertapa. Bagaimana saya bisa mengembalikan warna air kembali jernih?"
"Kenapa Bapak Pertapa mengatakan ilmu laknat ini jauh lebih hebat? Padahal, sungguh saya tidak tahu, bagaimana saya harus mengembalikan air biru dengan gelegak gelembung di tengah kolam ini, kembali jernih?"
Rejo memilih duduk di bibir kolam.
Perlahan, dua kakinya mulai dimasukkan ke dalam air biru itu.
Rejo langsung terjingkat. Dia merasakan ada sengatan seperti sengatan ribuan lebah yang menghujam di dua telapak kakinya.
Dua pergelangan kaki Rejo merasa linu luar biasa. Bahkan, ketika Rejo berniat bangkit dari duduknya, langsung terjerembab. Untungnya, dia masih bisa berpegangan pada lantai, sehingga tubuhnya tidak meluncur ke air kolam.
"Ilmu apa ini? Begini hebat kok Bapak Pertapa mengatakan kalah jika melawan saya?"
Rejo akhirnya tetap memutuskan duduk di bibir kolam, tapi kakinya tak dimasukkan ke dalam air.
Matanya menatap ribuan ikan yang mengambang. Mati.
Rejo lalu menatap ke sekeliling. Kerumunan orang semakin banyak. Ada beberapa dukun, Resi, dan pendekar, mencoba untuk menghentikan gelembung di tengah kolam, dengan cara masing-masing.
Satu per satu terpental, dan akhirnya semua menyerah begitu saja.
Menjelang malam, kerumunan orang mulai surut. Tinggal beberapa orang saja yang masih menetap di bibir kolam itu. Umumnya, mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, yang mencoba untuk menaklukkan gelembung aneh ini.
Beberapa pertapa, resi, tampak semedi. Beberapa pendekar mulai merapal jurus-jurus andalan.
Rejo segera beranjak, untuk mengambil air wudhu, lalu melaksanakan salat di bibir kolam.
Rejo tak beranjak dari tempatnya, hingga tengah malam.
Barulah menjelang dini hari, di saat pertapa tenggelam dalam tapa bratanya, dan beberapa pendekar tertidur kelelahan. Rejo beranjak mendekati air kolam.
Dicoba dikerahkan tenaga dalam di jari kelingkingnya. Jari itu dicelup secara perlahan-lahan ke dalam air kolam.
Terasa sengatan di ujung kelingking. Rejo mencoba bertahan dengan menambah tenaga dalam di kelingkingnya. Semakin di tambah, sengatan semakin berlipat-lipat. Dicoba dikurangi tenaga dalam di kelingking, sengatan juga berkurang.
"Oh... jadi begini caranya muncul sengatan itu," gumam Rejo sambil manggut-manggut.
Berbeda dengan pendekar lain berusaha mengerahkan sebesar-besarnya tenaga dalam, Rejo malah berupaya sebaliknya. Sedapat mungkin dia menyembunyikan tenaga dalamnya.
Ilmu dari Resi Swadaraya disimpan rapat-rapat di tulang ekor, sedangkan ilmu-ilmu lain mencoba disimpan di setiap anggota tubuhnya.
Rejo berharap, ketika semua ilmu tenaga dalamnya tersembunyi, maka dia tak akan tersengat air warna biru itu. Tujuannya, Rejo masuk ke dalam kolam Segaran, dan ingin mengetahui penyebab munculnya gelembung di tengah kolam itu.
Rejo duduk bersila, mencoba mendeteksi seluruh aliran darahnya. Dan berusaha menemukan titik-titik tenaga dalam di tubuhnya. Simpul-simpul tenaga cakra itu akhirnya ditutup rapat-rapat.
Setelah semua titik cakra tertutup rapat, Rejo menjadi sosok manusia biasa tanpa penguasaan tenaga dalam. Untuk mengetahuinya, Rejo mencoba mencelupkan jari kelingkingnya. Dan dicoba dikerahkan tenaga dalam, yang sebenarnya terkunci rapat-rapat itu.
Rejo tak merasakan sengatan.
__ADS_1
Kini, seluruh telapak tangannya dicelup, tak terasa sengatan.
Dua kaki Rejo dimasukkan ke dalam kolam, tak terasa sengatan.
Perlahan, Rejo melepas baju, dan mulai melangkah menuju ke arah tengah kolam.
Ternyata, semakin ke tengah, kolam semakin dalam.
Masalahnya, Rejo tak bisa berenang.
Sebenarnya, tiada masalah jika bisa mengerahkan tenaga dalam.
Ketika menjadi manusia biasa, Rejo kini mulai kesulitan.
Namun, tekat besar Rejo untuk mencapai gelembung, yang menjadikan dia berusaha keras tidak tenggelam. Rejo menggerakkan kaki dan tangan sebisanya.
Munculnya suara kecipak di tengah malam ini, mengundang perhatian para pertapa, Resi dan pendekar yang sedang tapa brata.
Mereka membuka matanya, dan kaget melihat sosok manusia berusaha mendekati gelembung.
"Hoi.... cepat keluar dari kolam. Apa engkau tidak takut mati?" teriak seseorang dari pinggir kolam.
Rejo tetap saja berusaha menggerakkan tangan dan kaki untuk mendekati pusat gelembung.
Perlahan demi perlahan, jarak antara Rejo dan gelembung semakin dekat. Para pendekar, resi dan pertapa yang ada di pinggir kolam semakin tegang. Mereka ingin mengetahui, apa yang terjadi, jika sosok manusia mendekati gelembung itu. Padahal, mereka umumnya dibuat terpental ketika menembakkan tenaga dalam ke arah gelembung.
Orang-orang yang ada di pinggir kolam semakin tegang. Mereka dibuat berdebar, apa yang akan terjadi pada sosok yang mendekati gelembung.
Nyatanya, rejo semakin dekat kepada pusat gelembung. Dan tidak terjadi apa-apa.
Semua terbelalak.
Rejo kini, tepat di atas gelembung.
Tetap tidak terjadi apa-apa.
Karena ingin tahu apa yang menyebabkan terjadinya gelembung, Rejo memutuskan untuk menyelam ke dasar kolam, agar mengetahui sumber gelembung itu.
Dengan mata terpejam, dan menarik nafas panjang, Rejo segera menyelam di air biru itu.
Malam tanpa bulan, menyebabkan penglihatan orang-orang di pinggir kolam tidak bisa jelas. Mereka menganggap Rejo tenggelam.
Perlahan, Rejo menuju dasar kolam. Dia merasakan terpaan gelembung dari telapak tangannya.
Diikuti sampai dasar.
Dengan mata tetap tertutup, Rejo mulai meraba-raba dasar kolam. Mencari sesuatu yang menyebabkan gelembung.
Tak perlu waktu lama bagi Rejo untuk menemukan sumber gelembung itu.
Dengan dua tangan, benda bulat itu dibawa ke permukaan.
Rejo mengira, itu adalah sebuah kelapa.
Di permukaan Rejo membuka matanya, dan melihat apa yang ditemukan di dasar kolam.
Benar. Itu adalah sebuah kelapa.
Dari permukaan kulit kelapa itu, muncul suara mendesis. Ketika dimasukkan ke dalam air, muncul gelembung.
"Ohhh, jadi ini penyebab gelembung. Baik, akan saya bawa ke pinggir," gumam Rejo sendiri.
Orang-orang di pinggir kolam, dibuat tertegun. Sosok yang dikira tenggelam itu, ternyata masih hidup, dan mulai berenang ke pinggir kolam sambil membawa sesuatu di satu tangannya.
Mereka beranjak menuju ke tempat Rejo menepi. Mereka ingin tahu, apa yang dibawa Rejo.
"Apa yang engkau bawa itu?"
"Entah. Bentuknya seperti kelapa. Benda ini mendesis seperti mengeluarkan udara. Benda inilah yang menimbulkan gelembung warna biru," jawab Rejo, hendak mengangkat denda itu dari air.
"Duar!"
Ledakan muncul ketika kelapa itu terangkat dari air.
Rejo langsung melepaskannya.
Orang-orang yang berkerumun, terpelanting semua. Mereka seakan terkena hempasan angin kencang, bersamaan dengan munculnya ledakan.
Adapun Rejo tak merasakan apapun.
Kelapa itu masuk air lagi, dan hendak tenggelam.
Secepat itu pula, Rejo segera meraihnya lagi.
Kali ini, kelapa tak diangkat dari air, hanya dipegangi di permukaan air.
Suara desisnya tetap ada.
Rejo menatap tajam ke arah kelapa.
"Sungguh ilmu yang unik. Apa yang harus kulakukan?"
Orang-orang balik lagi berkerumun.
"Anak muda, engkau kok tidak terpental?"
"Untuk memegang kelapa ini, kita dilarang mengerahkan tenaga dalam."
Orang-orang manggut-manggut.
Rejo segera meminta dicarikan tali kepada orang-orang yang ada di pinggir kolam.
Dengan tali yang didapat, buah kelapa ini diikat agar mudah untuk diambil untuk esok hari.
Kelapa itu kembali tenggelam, setelah diberi tali.
Rejo naik dari kolam.
Rejo duduk di bibir kolam, bersama para pertapa, resi atau pendekar.
Mereka semua terdiam. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Di kegelapan malam, masih terlihat gelembung demi gelembung muncul ke permukaan, di dekat bibir kolam, di mana buah kelapa ada.
Kerumunan para pendekar ini barulah bubar menjelang dini hari.
Rejo tinggal sendirian di dekat bibir kolam.
Semua kembali ke tempat masing-masing, dan melanjutkan tapa bratanya.
Rejo segera mengambil air wudhu, dan menghabiskan waktunya untuk salat dan wiridan.
Barulah ketika matahari bersinar, mereka semua bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam kolam.
Ternyata, air kolam tak lagi biru, melainkan menjadi merah.
"Kapan berubahnya air ini? Semestinya tadi malam, ketika kelapa itu saya ambil dari tengah kolam."
Rejo mengamati ribuan bangkai ikan yang mati, tidak ada yang membusuk. Ikan-ikan itu terlihat masih segar, seperti ikan hidup. Hanya saja, posisi mereka mengambang di permukaan.
Rejo mencoba menemukan jawabnya, sementara orang-orang berkumpul semakin banyak. Mereka melihat keanehan kolam Segaran ini. Jika hari kemarin air berwarna biru, kini air berubah menjadi merah.
Tidak sedikit warga sekitar yang mulai membakar dupa di bibir kolam. Mereka berkeyakinan berubahnya air dikarenakan kehendak dewa.
Tidak sedikit pula warga yang mengambil air merah itu untuk dibawa pulang. Mereka berkeyakinan air merah itu ada tuah, meski mereka tahu, ikan-ikan pada mati. Ini artinya, bisa jadi air merah itu mengandung racun.
Rejo yang mengetahui ini ulah Raja Majapahit Wikrama Wardhana, hanya geleng-geleng kepala. Dan tak mungkin bagi Rejo untuk memberi tahu yang sebenarnya terjadi.
"Tentunya, ilmu ini bisa saya kalahkan. Tetapi, jika saya menggunakan ilmu Resi Swadaraya atau Resi Hitu Dawiya, tentu tak ada bedanya, karena sama-sama bersumber dari agama Hindu. Jika saya menggunakan ilmu dari sumber agama Islam, ilmu apa yang bisa saya pakai? Toh selama ini saya tidak mendapatkan ilmu apapun dari Kanjeng Syech?"
Rejo bingung.
Sepanjang hari itu, Rejo lebih banyak menghabiskan waktu untuk melihat tingkah pola warga sekitar, resi, pendekar saat menyikapi perubahan air di Kolam Segaran itu.
Ada yang berdoa sangat khusuk, ada yang membakar dupa, ada yang mencoba melatih ilmu kanoragan, dan banyak lagi tingkah pola lain.
Di saat dalam kondisi setengah melamun, Rejo secara sepintas terbayang wajah Syech Jumadil Kubro. Dan itu terjadi berkali-kali, ketika kondisi Rejo sedang melamun.
"Ada apa ini, kok saya terus terlintas wajah Syech Jumadil Kubro?" gumam Rejo sendiri.
Maka, Rejo mengarahkan pikirannya kepada kemungkinan bisa mengalahkan ilmu raja Wikrama Wardhana dengan ilmu dari Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
"Tapi, ilmu yang mana? Bukankah saya tidak diajarkan apapun oleh beliau, kecuali disuruh membuat kolam besar di Desa Jurang Jero, dan menangkap ikan," gumam Rejo.
Rejo kaget sendirian.
Dia tercenung.
"Jangan-jangan... ini jawabnya agar saya bisa mengalahkan ilmu Raja Wikrama Wardhana."
Rejo segera bangkit dari duduknya.
Dia beranjak salat dua rakaat.
Lalu, dia termenung.
Rejo berusaha memutar ulang lagi peristiwa ketika dia membuat kolam di Desa Jurang Jero dulu. Termasuk menangkap ikan yang kemudian dimasukkan dalam kolam bikinannya dia.
"Apa kaitannya ya?"
Rejo memilih berendam di air yang berwarna merah itu.
Tindakan ini tentu saja mengundang umpat serapah dari berbagai orang di pinggir kolam, yang berkeyakinan berubahnya warna air karena kehendak dewata.
Rejo tak peduli.
Tetap saja Rejo melangkah memasuki kolam dan memilih yang dangkal.
__ADS_1