
"Kenapa saya tak merasakan adanya daun bidara di tangan ini? Kapan daun ini hinggap di tangan?"
Rejo penasaran.
Dia segera memejamkan mata lagi. Konsentrasi di dua telapak tangan yang terbuka.
Hingga sore, tak ada satupun daun yang hinggap di telapak tangannya.
Rejo menghentikan usahanya. Dia pilih istirahat dan rileks di sekitaran kali, dengan memasukkan dua telapak kakinya dalam air.
Fikirannya kosong.
Di saat itu, seekor nyamuk terbang di sekitar lehernya. Tentunya, mata Rejo tak melihat.
Tangan Rejo secara reflek bergerak, dan seperti meraup sesuatu.
Rejo sendiri kaget.
Begitu tangannya dibuka, ada seekor nyamuk yang mati tergencet.
Rejo memandangi nyamuk itu.
"Bagaimana mungkin saya bisa menangkap nyamuk di sekitar leher tadi, padahal saya tidak melihat, tidak mendengar suara terbangnya, bahkan tidak tahu ada nyamuk. Kenapa bisa begitu?"
Rejo mencoba melakukan lagi, tapi dengan konsentrasi penuh. Memang banyak nyamuk berseliweran di sekitarnya. Sesekali tangkapan Rejo memang mengena, tapi lebih sering luput.
Rejo kembali menjadikan dirinya serileks mungkin, tapi fikirannya diarahkan untuk menangkap nyamuk. Namun, hasilnya malahan tidak ada satu pun nyamuk yang berhasil ditangkapnya.
"apa beda konsentrasi dengan rileks? Ketika saya konsentrasi, saya masih bisa menangkap nyamuk meski tidak selalu dapat, tapi ketika saya rileks, malahan saya tidak bisa menangkap nyamuk samasekali. Lalu, bagaimana saya bisa menangkap nyamuk dengan reflek, meski saya tidak melihatnya?"
Rejo berkesimpulan, hasil maksimal ketika tubuh bereaksi secara reflek, bukan dibuat-buat.
Maka, Rejo kembali ke bawah pohon bidara. Dibuat dirinya serileks mungkin. Matanya terpejam. Bahkan nyaris dia tertidur.
Hasilnya, dia merasakan beberapa desiran angin yang terpecah oleh sesuatu.
Desiran angin yang sangat halus itu, berasal dari daun bidara yang jatuh memecah angin sekelilingnya.
Rejo tetap rileks dan santai.
Dan secara reflek, tiba-tiba dua tangan Rejo bergerak.
Rejo sendiri kaget. Begitu membuka mata, di dua telapak tangan tangan Rejo ada daun bidara.
"Oh. Itu rahasianya! Saya tahu. Desiran angin yang sangat lembut itu muncul dari daun bidara yang jatuh dan bergesekan dengan udara di sekitarnya. Kalau saya tahu arah jatuh daun bidara, maka saya nantinya juga akan tahu berat daun ini. Sebab, akan tergambar dari seberapa kencang desiran angin yang bisa saya tangkap dengan telinga ini. Baiklah, akan saya coba."
Kali ini, Rejo memilih posisi berdiri. Rileks dengan mata terpejam.
Lamat-lamat, dia mulai mendengarkan suara lembut desiran angin.
"Di situ!"
Rejo bergerak ke arah desiran angin yang muncul. Telapak tangannya dibuka.
Hap!
Ada satu daun bidara ada di telapak tangannya.
Dicoba dirasakan bobot satu daun itu.
Ada bobotnya.
"Alhamdulillah. Pasti di telapak tangan saya ada daun. Saya merasakan bobot daun ini," kata Rejo sambil membuka matanya.
Benar! Ada satu daun bidara di telapak tangannya.
Rejo kembali memejamkan mata, membuat dirinya serileks mungkin, dan mendengarkan desiran lembut angin di sekitarnya.
Rejo bergerak dan terus bergerak. Rupanya dia merasakan semakin banyak desiran lembut. Itu artinya, ada banyak daun bidara yang jatuh.
Dibuka matanya.
Benar!
Di telapak tangannya, terdapat beberapa daun bidara yang berhasil ditangkapnya.
Rejo melihat sekeliling, banyak daun bidara berserakan.
Rejo mengambil ranting berdaun, lalu daun-daun itu disapu hingga tidak ada satupun satu daun yang tersisa.
Rejo bertekad menangkap semua daun yang jatuh setelahnya. Dengan membersihkan area dari daun bidara, akan menjadi ***** ukur, seberapa banyak daun bidara yang berhasil ditangkap Rejo.
Rejo segera memejamkan mata lagi.
Menjadikan dirinya rileks.
Rejo mulai merasakan desiran halus di sekitarnya.
Rejo mulai bergerak ke segala arah, untuk menangkap daun-daun yang jatuh itu, dalam posisi mata tetap terpejam. Jika dia merasakan tangannya telah penuh daun, dia bergerak ke satu arah, dan menaruhnya.
Demikian seterusnya.
Cukup lama Rejo melakukan ini.
Dan hasilnya, memang hampir seluruh daun bidara yang jatuh berhasil ditangkap. Dengan bukti, teronggok daun bidara itu di satu tempat.
Sedangkan tempat dia berdiri, tetap bersih dari daun bidara.
"Baiklah. Sekarang saya semakin yakin, bahwa saya sudah mengetahui seberapa berat bobot satu daun bidara."
Rejo meningkatkan latihannya, dengan mengambil satu ranting kecil. Ranting itu dijatuhkan ke arah telapak tangannya yang terbuka. Rejo menelaah desiran angin yang muncul ketika ranting itu jatuh.
"Hmm. Bobotnya sekitar 60 puluhan daun bidara."
Rejo terlihat asyik untuk meningkatkan kemampuan barunya ini. Berbagai benda di sekitarnya diukur bobotnya, dengan tolok ukur satu daun bidara.
Kian lama, benda yang diukur bobotnya semakin berat. Dia tak lagi memakai ukuran daun bidara, tapi satu kerikil kecil. Lalu, ditingkatkan menjadi satu kerikil sekepalan tangan.
Hingga akhirnya, dua telapak tangan Rejo benar-benar bisa mendeteksi bobot satu benda.
Rejo mulai mendekati satu batu seukuran kerbau.
Ditempelkan telapak tangannya di batu itu.
"Hmmm. Batu ini mempunyai bobot sekitar 150 batu sekepala kerbau."
Hanya saja, Rejo harus bisa mengetahui, seberapa besar tenaga dalam yang harus dikeluarkan agar bisa mengangkat batu besar itu tanpa hancur.
Rejo mulai memompa tenaga dalam di telapak tangannya. Perlahan demi perlahan, sambil mulai merasakan beratnya batu.
Cukup lama, Rejo melakukan ini.
Dia berusaha sabar.
Hingga satu ketika, dia merasakan, tenaga dalam yang tersalur di tangannya, setara dengan bobot batu besar itu.
Rejo menambah sedikit demi sedikit tenaga dalamnya.
Pada tataran tertentu, bukannya batu se ukuran kerbau itu terangkat, malahan pecah berantakan.
Rejo kaget.
"Ada apa ini? Padahal, saya sudah tahu bobotnya, dan saya juga hati-hati dalam mengerahkan tenaga dalam. Apa yang salah?"
Tejo mencoba mencari tahu.
Setelah merenung dan mengamati batu se kerbau, barulah Rejo memahami, apa yang dilakukan terlalu gegabah. Rejo menemukan alur batu. Layaknya tubuh manusia yang di dalam tubuh itu ada ribuan otot dan alur aliran darah.
"Tentu saja batu ini hancur berantakan, karena saya belum memahami alur batu. Jadi, agar saya bisa mengangkat batu sekerbau ini tanpa pecah berantakan, maka saya harus hati-hati meletakkan telapak tangan, dan memahami alur batu agar tidak berantakan. Bukan saya mengeluarkan tenaga dalam, kalau bisa malah menyerap energi batu ke dalam tubuh saya. Penyerapan energi ini sama artinya dengan perekat di antara alur batu, sehingga tidak pecah berantakan. Yang saya butuhkan sekarang hanyalah, bagaimana saya bisa menyedot energi batu hingga masuk ke dalam telapak tangan saya. Dan mengukur bagaimana saya bisa mengorganisir energi batu, sehingga bisa mengangkatnya. Baiklah, saya akan mencobanya."
Rejo mulai menyiapkan diri. Dipelajari bobot satu batu, dan tentu energi yang tersimpan di batu itu setara dengan bobotnya. Rejo memelajari alur batu. Dia berusaha menemukan titik pusat alur batu. Dan tentu saja cukup sulit karena pusat umumnya berada di tengah. Namun, Rejo bisa menemukan titik paling pejal dan paling keras. Di situlah telapak tangan Rejo ditempelkan.
Rejo mengatur nafas, dan berusaha mendeteksi energi yang tersimpan di batu itu.
"Dapat!" setelah sekian lama mencoba.
Perlahan, sejalan dengan Rejo mengatur nafas, dicoba menyerap energi batu di kedua telapak tangannya.
Mulai masuk. Namun, secepat itu pula, energi batu kembali ke batu.
"Bagaimana saya bisa menahannya?"
Rejo ingat kegiatannya membuat kolam.
Bagaimana mungkin permukaan tanah yang sudah dikeruk bisa menutup lagi? Tentu itu tidak mungkin, kecuali cara membuangnya ke atas dan jatuh lagi ke lubang yang dibuat.
"Tentu tak terlalu berbeda dengan menyerap energi batu ini. Bukankah saya juga seperti menyangkul tanah?"
Rejo mencoba lagi. Kali ini, energi dari batu yang diserap di telapak tangannya, dialirkan ke seluruh tubuh, dan dikunci di bagian kaki.
"Dapat!"
Energi batu itu tak kembali masuk ke batu.
Kian lama kian banyak energi batu yang disimpan di kakinya. Hanya saja, di batu itu sendiri sudah penuh energi lagi, yang berasal dari tanah.
Ketika energi batu yang di kaki dibuka.
"Blar!"
Batu besar itu pecah lagi.
"Apa yang salah?"
Rejo untuk sementara menghentikan keinginannya memindah batu sebesar kerbau. Dia memilih bermunajat kepada Allah swt, untuk meminta petunjuk agar bisa memecahkan persoalan yang dihadapinya.
Satu hal yang diyakini Rejo. Jika dia tak bisa menemukan jawaban atas persoalannya ini, tentu tak akan ditinggal begitu saja oleh Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
Dengan keyakinan ini, Rejo berupaya keras bisa memindahkan batu sebesar kerbau dengan baik.
"Jika saya bisa memindahkan batu besar itu, tentu saya bisa membedakan mana godaan setan dan mana yang bukan. Bukankah saya di sini untuk mengetahui bagaimana cara setan menggoda dan mengusik hati manusia. Dan saya fikir, ini langkah yang harus saya lalui. Jika saya tak bisa memindahkan batu besar ini, saya yakin Kanjeng Syech Jumadil Kubro tak akan segera kemari. Atau sebaliknya, jika saya menunggu kedatangan Kanjeng Syech Jumadil Kubro untuk bertanya tentang cara memindahkan batu, tentu saya hanya menyia-nyiakan waktu. Saya harus menemukan!"
Meski keyakinannya tinggi, namun tetap saja Rejo menemukan kebuntuan. Bahkan cenderung melamun.
Hingga satu ketika, dia teringat cerita kanjeng Syech Jumadil Kubro saat dia mengalahkan gendruwo di Desa Jurang Jero.
Rejo tercenung.
Seakan dia mendapatkan ilham dari Allah swt.
"Bukankah saat itu, Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengatakan, bahwa dalam diri saya terdapat dua kekuatan yang saling bertolak belakang. Halus dan kasar, keras dan lembut. Jangan-jangan, cerita itu bukan hanya menggambarkan saat saya mengalahkan gedruwo, tapi juga berfungsi untuk peristiwa saat ini. Yaitu, ketika saya harus memindahkan batu sebesar kerbau ini."
"Batu ini keras. Saya menggunakan energi tenaga dalam yang keras. Ketika saya menarik energi batu, juga energi yang keras. Tentunya, jika keras bertemu dengan keras, maka yang muncul adalah benturan yang keras juga. Maka, seharusnya saya mengeluarkan energi yang lembut, agar batu tidak pecah. Tapi, saya menemukan energi lembut dari mana?"
Rejo seperti orang gila. Dia berbicara sendiri, sembari kakinya dimasukkan ke dalam air kali.
Sesekali diangkat kakinya, lalu dijatuhkan tiba-tiba.
Kecipak air menjadikan air semburat sementara, lalu berkumpul lagi.
Rejo menatap lamat-lamat air kali yang mengalir lambat itu.
"Ini dia. Ini energi lembut yang saya butuhkan untuik bisa mengangkat batu besar ini."
Rejo segera melepas bajunya, dan duduk bersila di sungai yang landai.
__ADS_1
Dua telapak tangannya mulai dimasukkan ke dalam air.
Rejo mendeteksi energi air.
"Lembut memang energi air ini. Baik akan saya coba!"
Rejo berkonsentrasi mulai menghimpun energi air sebanyak-banyaknya, hingga setara dengan energi batu.
Ketika diyakini telah sepadan. Rejo menghampiri satu batu sebesar kerbau. Dicari alur batu, dan mencari titik paling keras di batu itu. Dua telapak tangan Rejo ditempelkan.
"Blar!"
Batu itu hancur lagi.
Rejo kaget. Dia tak menyangka, kalau energi air yang lembut, tetap membuat batu sebesar kerbau pecah berantakan.
"Apa yang salah?"
Rejo memang pemuda cerdas yang tak mudah putus asa. Dia sangat meyakini bahwa untuk mengangkat batu sebesar kerbau ini, diperlukan energi keras dan lembut. Hanya saja, dia harus menemukan caranya, sehingga batu tak ambyar begitu disentuh telapak tangan Rejo.
Rejo berkali-kali melihat kedua telapak tangannya.
“Karena disentuh tangan ini, batu-batu itu ambyar. Jadi, kalau tidak ingin ambyar, ya tentu saja batu itu tak perlu terkena telapak tangan. Lalu, bagaimana bisa mengangkat batu besar tanpa memegang?”
Tentunya, memang butuh energi keras dan lembut.
“Jadi, tanpa menyentuh batu, dan tanpa beradu energi, sehingga batu tidak ambyar.”
Tak butuh lama bagi Rejo untuk menemukan jawabnya. Sebab, dalam latihan pencak silat, dan saat dia mengerahkan tenaga dalam, dia sempat melihat rumput yang ‘menjauh’ saat kaki Rejo menapak di dekatnya.
Daya tolak dari telapak kaki Rejo, memang bisa menggerakkan rumput, meski dia tak memegangnya.
“Saat saya berlatih, memang ada daya tolak dari kaki saya, sehingga bisa membuat rumput dan alang-alang tersibak, meski tak tersentuh. Tapi ini adalah batu, mampukah saya menggoyang dan memindah, tanpa harus menyentuh?”
“Baiklah, akan saya coba.”
Rejo kembali berendam di air kali. Kali ini, dikumpulkan energi lembut ke sekujur tubuhnya. Rejo berniat menjadikan energi air yang lembut itu, seakan keras seperti batu. Jika ada energi yang sama, tentu akan terjadi daya tolak menolak.
Ketika energinya sudah terkumpul sangat besar, dan hampir setara dengan energi batu, rejo bergerak mendekati batu. Bukannya bisa mendekat, malahan rejo terpental berguling-guling di sungai.
“Hmm, awal yang baik. Baiklah, akan saya lakukan.”
Rejo menelisik alur satu batu besar. Setelah menemukan titik paling pejal dan keras, Rejo mulai membuka kuda-kuda, dari jarak sekitaran dua depa. Dua telapak tangan diarahkan kepada dua titik pejal batu yang berseberangan.
Rejo mulai merasakan daya tolak dari batu itu. Rejo melipatgandakan tenaga dalamnya. Meski begitu, Rejo waspada, sekiranya batu besar itu mulai retak, segera dia merubah menjadi energi aslinya, yaitu lembut.
Daya tolak batu semakin kuat. Rejo semakin mencengkeramkan telapak kakinya ke dalam dasar sungai. Dia tidak ingin terpental kedua kalinya.
Kian lama, tenaga yang dikeluarkan Rejo semakin besar. Rejo juga mulai merasakan batu yang ditembak tenaga dalam itu, mulai goyah.
Tak lama kemudian.
“Kraaaak!”
Batu besar itu mulai terguling.
“Hm, saya tak berniat menggelindingkan batu. Saya berniat mengangkat batu.”
Rejo melipatgandakan tenaganya lagi. Sedikit batu mulai terangkat. Rejo sudah terengah-engah. Meski dia tak menyentuh batu, toh batu itu akhirnya bisa terangkat sedikit di atas permukaan air.
Benar!
Rejo berhasil mengangkat batu sebesar kerbau itu.
Rejo mempertahankan telapak tangannya menembak di dua titik berseberangan. Andai dia lepas konsentrasi, pasti batu itu meluncur turun.
Dengan konsentrasi tinggi, tatap mata sangat tajam di satu titik batu besar, Rejo mulai melangkah perlahan. Batu ikut bergerak.
Uniknya, Rejo tak merasakan batu itu berat, sebab tangan Rejo samasekali tak menyentuh batu.
Rejo seakan hanya mendorong ringan saja. Justru batu itu seakan mendapat daya tolak dari bumi dan air sungai. Batu itu benar-benar melayang!
Tak butuh lama, Rejo berhasil memindahkan satu batu besar.
Rejo segera berbalik lagi, mencari batu besar lagi, untuk ditata sedemikian rupa, sehingga bisa menjadi tempat aman bagi binatang yang hendak minum air kali. Sebab, harimau terus mengancam dari seberang kali.
Tak butuh waktu lama Rejo menyelesaikan pekerjaan mengangkat batu-batu besar itu.
"Saya sudah berhasil mengangkat batu besar. Benarkah dosa saya menghancurkan batu-batu ini sudah diampuni Allah? Apakah dengan mengangkat batu-batu besar ini, setan sudah tidak menggoda saya? Pesan dari Kanjeng Syech Jumadil Kubro, saya harus mengetahui bagaimana cara setan menggoda manusia. Saya harus merasakan, menemukan, dan bisa menolak ajakan setan. Tapi, bagaimana mana caranya?"
"Bukankah, upaya saya mengangkat batu besar ini, meski ingin membantu hewan lemah dari ancaman harimau, ada nafsu yang menyelimuti saya, yaitu bagaimana caranya agar saya bisa menguasai ilmu mengangkat batu besar. Bukankah nafsu itu juga dipengaruhi setan? Astaghfirullah, ampuni saya ya Allah yang Maha Pengampun."
"Lalu, bagaimana saya bisa mengetahui yang mana godaan setan, yang mana yang bukan?"
"Ya Allah, berilah hamba-Mu ini pengetahuan yang mencukupi untuk mengetahui godaan setan."
Tak terasa, Rejo langsung menangis sesegukan.
Sendirian.
Tangis Rejo semakin kencang.
"Nak... selamat! Engkau telah mengerti tentang godaan setan," tiba-tiba Syech Jumadil Kubro muncul dari balik pohon besar.
Rejo kaget. Sebab, dia tak merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya. Rejo segera mengusap air matanya.
"Jangan engkau usap air matamu. Biarkan dia menetes, karena itu tetesan kelemahan seorang hamba. Jangan pongah, jangan sok bisa, jangan sok jago. Engkau telah mengerti tentang kelemahan seorang hamba. Itu kunci untuk melawan kepongahan setan."
"Ingatlah, ketika manusia itu merasa dirinya bisa, maka sesungguhnya dia sudah masuk lubang, di mana dalam lubang itu banyak setan gentayangan yang akan menggodanya dari berbagai sisi. Umumnya, seseorang itu mudah menyadari adanya godaan setan ketika dia diajak berbuat dzalim. Tetapi, sangat sedikit orang yang menyadari bahwa dia sedang digoda setan ketika posisi orang itu sedang jaya, sedang merasa dekat kepada Allah swt. Allahu Akbar. Saya juga berlindung kepada Allah atas godaan setan yang halus."
Rejo segera beranjak berdiri, bersalaman dan mencium tangan Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
"Nak. Ayo kita meninggalkan tempat ini. Engkau sudah mengerti tentang godaan setan?
"Saya tahu keresahanmu. Memang pesan saya kepadamu, cari tahu bagaimana setan menggoda. Tapi engkau telah menemukan jawabnya, yaitu bagaimana upaya menolak ajakan setan, dan menepis sebagian besar godaan setan."
Rejo tambah bingung.
"Apa itu Ya Kanjeng Syech?" tanya Rejo memberanikan diri.
"Benar engkau tak tahu?" tanya Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
Rejo mengangguk.
"Hanya ada satu cara menangkal setan."
"Apa itu, Kanjeng Syech?"
"Yaitu menyadari kelemahan kita sebagai manusia. Selama manusia itu mempunyai perasaan lebih dari pada yang lain, setan dengan sangat mudah menggodanya. Setan dengan sangat mudah menguasai hatinya. Hingga lambat laun dia terjerumus dalam kesesatan yang sirri. Kesesatan yang tak kelihatan. Tak sedikit contoh sejak Nabi Adam, manusia yang tergelincir karena sikap lebih hebat dari lainnya."
"Ohhh....."
Belum lagi Rejo meneruskan ucapannya, Kanjeng Syech Jumadil Kubro menyela:
"Dengan mengetahui ada kelemahan, maka akan menyadari ada yang Maha Hebat, yaitu Allah swt. Dengan begitu, Insya Allah manusia akan selamat dunia akhirat," tandas kanjeng Syech Jumadil Kubro, sambil mengelus rambut Rejo.
"Nak, masih minatkah engkau ingin bertemu dengan Syech Subakir?"
Rejo kaget dengan pertanyaan ini.
Dia tak tahu, bagaimana kehebatan Syech Subakir. Bertemu dan bersama Kanjeng Syech Jumadil Kubro saja, Rejo sudah sangat banyak menyerap berbagai ilmu Islam.
"Apa perlu saya bertemu dengan Kanjeng Syech Subakir? Yang mana untuk wajahnya saja saya tidak tahu. Tetapi, yang jelas, para pinisepuh yang bergelar Syech ini, ilmunya sangat hebat-hebat. Syech Belabelu juga begitu, meski bertubuh sangat gemuk, gerakannya sangat ringan, gerak salatnya tak pernah kesulitan. Kanjeng Syech Jumadil Kubro juga luar biasa. Seperti apa ya kehebatan Kanjeng Syech Subakir itu?" pikir Rejo.
Agaknya, alur fikiran Rejo terbaca oleh Kanjeng Syech Jumadil Kubro.
"Nak, tak boleh engkau membanding-bandingkan kami. Setiap manusia itu pasti diberi Allah kelebihan, tapi dipastikan juga punya kelemahan. Dengan membanding-bandingkan kami, engkau sebenarnya sudah menanamkan ketidakpercayaan di dalam hatimu. Bagaimana engkau akhirnya bisa ikhlas?"
Rejo langsung menunduk.
"Ayo kita meninggalkan kali ini."
Rejo dan Syech Jumadil Kubro berjalan beriringan perlahan.
Mereka banyak membicarakan tentang ilmu Agama Islam.
Di sebuah gubuk persawahan, dua orang ini beristirahat.
Namun, tiba-tiba, Kanjeng Syech Jumadil Kubro berpamitan.
Dia meniti pematang, ke arah rerimbunan bambu.
Rejo tetap duduk istirahat di gubuk.
Namun, lama ditunggu, Syech Jumadil Kubro tak datang-datang.
Takut ada apa-apa, Rejo menyusul ke arah rerimbunan bambu.
Ternyata Rejo tak menemukan Syech Jumadil Kubro. Rejo celingukan mencari-cari. Bahkan, Rejo memutuskan masuk lebih ke dalam, di hutan bambu itu. Tetap saja, tak menemukan Syech Jumadil Kubro.
Semestinya, Syech Jumadil Kubro tak bebas bergerak di dalam hutan bambu ini, karena jubah yang dikenakannya pasti mudah tersangkut di sana-sini oleh duri bambu.
Menyisakan keheranan, Rejo memutuskan kembali ke gubuk di pematang.
Rejo memilih duduk menunggu.
Karena yang ditunggu tak datang-datang, rejo memutuskan salat sendirian. Usai salat dluhur, Rejo melihat sosok berjubah berjalan dari arah berlawanan. Rejo tak tahu siapa yang berjalan mendekati itu. Yang pasti, dia bukan Syech Jumadil Kubro, sebab, warna jubahnya lain.
Kian dekat, Rejo terperanjat kaget. Sebab, yang berjalan mendekat itu adalah Syech Jumadil Kubro, dengan mengenakan jubah abu-abu. Sedangkan saat memasuki rerimbunan bambu tadi, jubah Syech Jumadil Kubro berwarna putih kusam.
"Assalamualaikum. Kenapa engkau di sini?" tanya Syech Jumadil Kubro.
Rejo bingung dan kaget.
"Bukankah, Kanjeng Syech yang mengajak saya meninggalkan sungai?"
"Kapan saya mengajak? Lha ini saya baru datang."
"Sungguh, tadi Kanjeng Syech mengajak saya, lalu kita istirahat di gubuk ini. Setelah itu, Kanjeng Syech pamit memasuki rerimbunan bambu di sana itu. Karena lama tak kembali ke sini, saya susul ke rimbunan bambu, tapi saya tak menemukan siapapun di situ. Saya kembali ke sini, dan tiba-tiba Kanjeng Syech muncul dari arah berlawanan. Begitu ceritanya."
"Lho? Kok aneh. Sungguh, saya baru datang dan ke sini memang ingin mengajak engkau pergi, dan ingin bertanya, apa sudah menemukan bagaimana cara setan menggoda manusia," ujar Kanjeng Syech Jumadil Kubro, sambil mengelus jenggotnya.
Rejo bingung hanya bisa melongo.
Kanjeng Syech Jumadil Kubro perlahan mulai tersenyum.
"Saya tadi ngomong apa saja?"
Rejo menyeritakan semuanya.
"Ha ha ha.... apa saya tadi bertanya tentang, apa kamu masih berniat ingin bertemu Syech Subakir?"
"Benar, Kanjeng Syech...."
"Ha ha ha. Hebat.... benar-benar hebat....."
Rejo diam.
"Nak. Ketahuilah, sebenarnya yang datang tadi bukan saya, tapi dia adalah Syech Subakir yang ingin memberikan pelajaran Islam kepadamu. Makanya, dia akhirnya tanya, apa kamu masih ingin bertemu dengan Syech Subakir? Sebenarnya, engkau telah bertemu serta bercakap-cakap. Hanya saja engkau tak menyadari," tutur Syech Jumadil Kubro.
Rejo tercenung.
"Mohon maaf Kanjeng Syech. Bisa jadi malah sebaliknya, yang datang pertama dengan jubah putih adalah benar-benar Kanjeng Syech Jumadil Kubro, sedangkan Panjenengan ini adalah Kanjeng Syech Subakir."
"Pinter.... pinter.... engkau telah mengerti. Sungguh, engkau telah mengerti."
__ADS_1
"Mengerti apa, Kanjeng Syech?"
"Mengerti bagaimana cara setan menggoda. Setan hanya bisa dilawan dengan kepintaran dan kecerdasan, serta mau berpikir. Sungguh, saya belum menemukan orang yang punya pikiran sepertimu. Seandainya saya mengatakan, saya adalah Syech Subakir, apa engkau langsung percaya? Dan tak lama setelahnya, saya akan mengatakan saya adalah Syech Jumadil Kubro. Apa engkau juga percaya juga?"
Rejo terbelalak kaget.
"Ingat-ingat itu. Setan juga akan menggoda seperti itu, kadang mengatakan baik tapi tak lama akan mengatakan buruk. Hanya orang yang mau berpikir saja yang bisa menelaahnya."
"Nak, sekarang. Ada kemungkinan ke tiga, bagaimana jika saya setannya?"
Rejo kaget.
"Ada kan segala kemungkinan itu?"
Rejo mengangguk.
"Ha ha ha. Nak... rasakan dengan hatimu. Bukan dengan mata fisikmu. Selama engkau hanya mengandalkan dengan mata fisikmu, engkau akan banyak tertipu."
Rejo segera menjura hormat, dan mohon untuk menjauh sebentar.
Usai diizinkan, Rejo memilih duduk di tempat teduh, lalu dia menenangkan diri. Ditutup rapat-rapat matanya, dirilekan seluruh ototnya. Rejo berusaha membuka mata batinnya.
Lambat laun, kian tergambar jelas.
Dia melihat seakan sinar biru meliputi sekujur tubuh Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Lalu, dicoba diingat lagi kejadian beberapa waktu sebelumnya, sebelum Kanjeng Syech Jumadil Kubro pamit hendak ke rerimbunan bambu.
Dilihat sosok Kanjeng Syech Jumadil Kubro yang berjalan ke arah rerimbunan bambu, disekelilingnya berpendar sinar putih.
"Hmmm. Memang orang berbeda. Hanya saja, saya tak tahu, siapa yang sebenarnya Kanjeng Syech Jumadil Kubro dan Syech Subakir. Malahan, jangan-jangan bukan keduanya. Bagaimana ini?"
Usai berfikir cukup lama, Rejo ingat sesuatu yang tak mungkin salah. Kanjeng Syech Jumadil Kubro selalu memakai jubah, yang bagian bawahnya banyak tambalan kain, karena memang robek tersangkut ranting-ranting. Rejo ingat, kerap di saat istirahat, Kanjeng Syech Jumadil Kubro menjahit sendiri jubahnya.
Rejo lalu bangkit kembali gubuk di pematang sawah.
"Bagaimana tole, sudah menemukan jawabnya?"
Rejo mengangguk.
Rejo memandangi ujung jubah yang dikenakan Syech Jumadil Kubro.
Juga mencoba melirik satu jubah lain yang ada di buntalan, dari celahnya.
Tak kelihatan.
Tapi, dari satu jubah yang dikenakan ini, Rejo mencoba mengambil satu kesimpulan.
"Mohon maaf Kanjeng Syech. Kalau tak salah, Panjenengan lah Kanjeng Syech Subakir. Jadi, yang tadi bersama saya hingga beliau ke rerimbunan bambu, adalah benar-benar Kanjeng Syech Jumadil Kubro."
"Apa dasarmu mengatakan saya adalah Subakir?" tanya Kanjeng Syech Jumadil Kubro, sambil tersenyum.
"Saya melihat pendaran sinar warna hijau di sekitar Panjenengan, ini artinya, ilmu Panjengan lebih menonjol di kanoragan, sedangkan pada Kanjeng Syech Jumadil Kubro yang berjalan ke rerimbunan saya melihat pendaran sinar putih. Saya artikan, ilmu beliau lebih kuat di wirid."
"Hmmmm. Lumayan, tapi adakah yang kamu temukan, yang bisa membedakan kami. Jangan-jangan, dua-duanya kami adalah setan?"
"Jika setan, jelas tidak. Kita sebagai manusia berasal dari tanah, tentu sangat bereaksi terhadap api. Jadi saya berkesimpulan, Panjengan bukanlah setan, karena tubuh saya tidak bereaksi samasekali."
"Hmmm bagus.... bagus.... Lalu?"
"Satu lagi, yang saya yakini tak mungkin salah. Ujung jubah."
"Ada apa dengan ujung jubah kami?"
"Saya tahu, jubah Kanjeng Syech Jumadil Kubro banyak yang bolong-bolong karena kerap tersangkur ranting. Beliau juga kerap menjahit sendiri jubahnya. Namun, saya melihat ujung jubah panjenengan sangat berbeda. Selain tidak ada jahitan karena robek, juga saya melihat bagian bawah banyak sekali tertempel debu. Ini menandakan bahwa Panjenengan kerap membuka kuda-kuda, dan membuka ilmu pencak silat. Bukankah Panjenengan kerap menanam pancer di pulau Jawa ini. Jadi, Panjenengan adalah Kanjeng Syech Subakir, meski yang saya lihat wajah Panjenengan saat ini hampir sama dengan Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Itu kesimpulan saya."
"Pinter.... pinter.... inilah bekal menjadi sosok muslim. Tak melulu percaya dengan tatapan mata, tapi lebih mengandalkan kepada mata batin."
Rejo tak berani berbicara lagi. Dia memilih merunduk.
"Nak, lihatlah ke arah rerimbunan bambu sana."
Rejo melihat sosok berjubah berjalan ke arah gubuk.
Jelas terlihat sosok yang datang itu adalah Syech Jumadil Kubro.
Rejo tak sengaja menoleh ke arah samping.
Dilihat sosok asing berjubah.
Garis wajahnya keras, dengan tubuh agak kurus, sorot mata tajam. Guratan otot di dua lengannya yang tersingkap, sangat padat dan keras. Menandakan kekuatan fisiknya luar biasa.
Rejo yakin, bahwa yang duduk di sampingnya adalah Kanjeng Syech Subakir.
Rejo segera melorot turun dari tempat duduk di gubuk, menjura hormat.
"Kanjeng Syech Subakir. Terima kasih atas pelajarannya," kata Rejo sambil menjura hormat.
Syech Subakir mengelus rambut Rejo.
"Bagaimana Kakang, apa Rejo sudah mengerti?" tanya Syech Jumadil Kubro, yang sudah mendekat.
"Sudah. Dia bahkan lebih pinter dari yang saya kira. Bagaimana ini? Bagaimana dengan pengetahuan aqidah dan syariatnya? Apa dia sudah mengerti banyak?"
"Insya Allah sudah siap, Kakang," kata Syech Jumadil Kubro sambil duduk di samping Syech Subakir.
Dada Rejo berdebar sangat kencang.
Dia tak menyangka, bisa bertemu dua Syech yang sangat terkenal di seantero Jawa ini.
"Nak. Bukankah engkau ingin belajar ilmu kepada saya?"
Rejo tak berani bergerak, apalagi mengangguk.
"Kanjeng Syech Subakir."
"Yap.... kalau tidak mau tidak apa-apa. Bagaimana ini? Apa dia kita tinggalkan di sini?" kata Syech Subakir sambil melihat ke arah Syech Jumadil Kubro.
"Terserah," jawab Syech Jumadil Kubro.
Rejo bingung.
"Semua telah jelas sekarang. Engkau tidak mau belajar ilmu kepada saya, dan Syech Jumadil Kubro mengizinkan untuk meninggalkanmu di sini. Baiklah. Itu keputusannya."
Rejo melongo.
Syech Jumadil Kubro juga ikut terdiam.
"Nak..... secara syariat engkau sudah kuat. Itu sudah lebih dari cukup. Carilah Islam dalam pengembaraanmu. Temukan kekuatan Islam, temukan inti dari Islam. Coba atasi godaan setan."
Rejo menunduk.
"Nak, dalam dirimu, ada dua kekuatan yang bertolak belakang. Saya tahu, bagaimana ilmu ganas Resi Swadaraya, juga ilmu putih dari Resi Hitu Dawiya. Semua sama-sama menonjol dalam dirimu. Kami-kami ini tak bisa mengendalikan dua ilmu aneh dalam dirimu itu. Bisa jadi, jika engkau mempunyai akhlaq buruk, kami berdua, belum tentu bisa mengalahkanmu, meski usiamu masih sangat muda. Sungguh, kekuatan dalam dirimu tidak main-main. Tinggal bagaimana engkau mengendalikannya, atau engkau dikendalikan ilmu itu. Asal tahu, salah satu ciri khas ilmu Resi Swadaraya adalah, selalu mencari musuh untuk adu kesaktian, dan taruhannya adalah mati. Resi Swadaraya menanamkan ilmu, yang paling penting menjadi terhebat. Dan itu sangat kuat dalam dirimu. Sedangkan ilmu Resi Hitu, mengajarkan tentang kedalaman ilmu pengetahuan, keindahan budi. Tentu engkau harus bisa mengetahui mana ajakan kepada kebaikan dan mana ajakan menuju neraka. Itu saya pesan saya," tutur Syech Subakir sambil mengelus rambut Rejo yang terus menunduk.
"Nak. Sepertinya, keputusan tidak bisa berubah lagi. Engkau harus berpisah dengan kami. Selama dalam perjalanan kita, itulah ilmu yang bisa saya ajarkan kepadamu," tambah Syech Jumadil Kubro.
"Satu lagi nak. Saya tidak tahu, beberapa tahun mendatang, apakah engkau menjadi sosok muslim yang baik, ataukah menjadi penjahat yang paling bengis, atau pendekar tak terkalahkan, yang jelas, saya berpesan, mungkin satu ketika engkau akan bertemu dengan keponakan saya, sebagaimana saya ceritakan dulu, namanya Rahmat. Raden Rahmat. Dia sekarang masih di kerajaan Cempa. Bisa jadi, jika Allah menakdirkan kalian bertemu, maka, akan bertemu. Tolong, jaga keponakan saya itu, apapun kondisimu," tutur Syech Jumadil Kubro.
Rejo menunduk.
Namun, kali ini dia merasakan adanya sengatan di rambut yang tadinya dielus Syech Subakir. Sengatan itu kian menguat, dan akhirnya membuat dia mengantuk berat.
Rejo tertidur di posisi duduk.
Entah berapa lama Rejo tertidur. Begitu Rejo membuka mata, dia kaget. Di sekelilingnya, bukankah gubuk di pematang sawah, tapi rerimbunan alang-alang yang sangat tinggi.
Rejo melihat ada serpihan-serpihan kayu, yang agaknya bekas gubuk yang telah hancur.
Rejo kaget alang kepalang.
Rejo bangkit berdiri.
Namun dia ambruk lagi.
Kakinya seakan tak mampu menahan berat tubuh.
"Kenapa ini?"
Rejo terduduk dengan kaki diluruskan.
"Sebenarnya, berapa lama saya tertidur?"
"Semestinya, sawah ini tetap menjadi sawah. Tetapi, kenapa yang ada ini malah tumbuhan alang-alang?"
Rejo mencoba menggerak-gerakkan kaki, dan menekuk, meluruskan kaki.
Rejo mencoba melemaskan seluruh urat-urat di tubuhnya..
Rejo memegang rambutnya. Tumbuh panjang sebahu.
Padahal, saat tertidur, rambut Rejo cukup pendek dan rapi. Kini, rambut itu sudah awut-awutan.
"Sebenarnya, berapa lama saya tertidur?"
"Ya Allah, berilah petunjuk kepada hamba."
Perlahan, Rejo mencoba berdiri dengan hati-hati.
Tak lama, Rejo sudah bisa berjalan tertatih.
Ambruk.
Dia berlatih berjalan lagi, hingga akhirnya dia kokoh berdiri.
Rejo berjalan menyibak alang-alang.
Matanya tertuju pada sebuah kampung nun jauh. Didatangi kampung itu.
"Assalamualaikum," sapa Rejo kepada satu orang yang sedang menguliti bambu.
"Waalaikum salam," jawab orang itu.
"Pak, apa nama desa ini?"
"Kisanak dari mana?"
Rejo bingung tak bisa menjawab.
"Ini memang desa baru, namanya Sugih Waras."
"Desa baru?"
"Benar, Nak. Desa ini baru ada setelah desa sebelumnya hancur ditinggalkan seluruh penduduknya karena terserang pagebluk. Itu sekitar 7 tahun lalu. Desa ini, baru ada sekitar tiga atau empat tahun lalu."
"Bapak tadi menjawab salam saya, apa bapak muslim?"
"Benar Nak. Penghuni desa ini, semuanya muslim. Kami juga disuruh untuk membangun desa ini oleh junjungan kami, Syech Subakir. Dan, kami menurut. Anak ini siapa?"
Rejo cukup kesulitan untuk menyeritakan apa yang terjadi pada dirinya. Sebab, Rejo seakan tak percaya bahwa dia tertidur selama bertahun-tahun.
"Allahu Akbar. Kok aneh ya?"
"Aneh bagaimana, Nak? Sejak ada pagebluk, memang tak ada yang berani mendatangi desa di sana itu. Karena jika mendekat, pasti akan tersambar dan mati."
"Apa ada yang mati karena mendekat?"
"Belum sih, sebab semua takut untuk mendekat."
__ADS_1