
Tapi kesemuanya tak berani mengatakan apapun.
“Bagaimana Resi Wishnu, apa saya diperbolehkan tidur di gubuk ini?”
Yang ditanya tak segera menjawab, karena terlalu mendongkol.
“Kalau tak dijawab, berarti saya boleh tetap tidur di sini.”
Maka, malam itu Sunan Kembang Kuning bersama orang-orang yang suka wiridan tetap berkumpul di gubuk ini.
Mereka wiridan.
Dan termasuk satu pedanda yang beralih ke Islam ini. Terlihat dia sangat menikmati wirid untuk agama barunya itu.
Sang pedanda ini mulai merasakan nikmatnya berzikir kepada Allah, tuhan yang baru dikenalnya tadi siang, meski dia tak tahu arti yang dilantunkannya.
“Allahu Akbar. Itu artinya apa. Tetapi, kenapa ketika saya mengucapkan kata itu, tubuh saya menjadi bergetar hebat. Saya merasakan ada yang merasuki, namun sangat lembut,” kata sang Pedanda.
Dia kian tenggelam dalam zikir, dan tak terasa menjelang pagi.
“Bapak semua, kini telah menjelang pagi. Bapak Pedanda, ada baiknya bapak ikut saya, untuk menunaikan salat subuh.”
“Salat itu apa?” tanya satu di antara mereka.
“Salat adalah menyembah kepada Allah. Dan, kita diwajibkan sebanyak 5 kali dalam sehari. Saat ini, saya dan Bapak Pedanda akan menunaikan salat subuh.”
Lalu, Sunan Kembang Kuning mengajak sang pedanda menuju ke sungai, dan mengajari cara berwudlu.
Usai berwudlu, keduanya kembali ke gubuk, dan meminta orang-orang lainnya duduk di pinggir gubuk, karena mereka berdua akan melaksanakan salat berjamaah.
“Nanti Bapak Pedanda ikuti gerakan saya. Berdiri di samping kanan saya agak ke belakang,” kata Sunan Kembang Kuning.
“Saya harus baca apa?”
“Tak perlu baca apapun. Hanya saja konsentrasi dan meyakini bahwa saat ini Bapak Pedanda sedang menyembah Allah SWT.”
“Mohon maaf, Mbah. Kenapa kami tidak boleh ikut?” tanya satu orang yang duduk di pinggir gubuk.
“Mohon maaf, bapak. Karena bapak belum Islam.”
“Apa itu?”
“Yaitu berpindah dari agama Hindu kepada agama Islam. Yaitu agama yang benar, agama yang mengimani hanya Allah tuhan yang disembah, dan nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
“Bagaimana caranya, “ tanya orang lainnya.
“Yaitu mengucapkan kalimat syahadat. Yaitu, persaksian tidak tuhan selain Alloh, dan Persaksian Nabi Muhammad utusan Alloh.”
“Kami ingin, Mbah.”
“Benar?”
“Benar, Mbah.”
“Yang tidak ingin, juga tak apa-apa, silakan diam. Bagi yang ingin beralih kepada Islam, tirukan apa yang saya ucapkan.”
Maka, dibimbinglah orang-orang mengucapkan kalimat syahadat. Semua ikut mengucapkan.
“Nah, kalian telah Islam. Sekarang, silakan ambil air wudlu dulu. Yaitu bersuci dengan menggunakan air. Bapak Pedanda masih hafal apa saja yang harus dibasuh?”
Sang pedanda mengangguk.
“Tolong diajari.”
Semua akhirnya beranjak menuju ke sungai, lalu berwudlu.
Ketika membasuh bagian tubuhnya, ada getaran terasa.
Kebanyakan dari mereka mengangis tersedu.
Di gubuk, mereka akhirnya berdiri berjajar sebagai makmum.
“Allahu Akbar!”
Semua mengikuti.
“Allahu Akbar.”
Setelah itu, mereka terdiam mendengarkan Alfatihah dan surat pendek yang dibaca Sunan Kembang Kuning.
Lalu rukuk, dan seterusnya hingga salat subuh selesai.
“Assalamualaikum warah matullah!”
Semua diam.
Ternyata, semua berurai air mata.
Sepanjang hidup mereka, belum pernah merasakan sensasi aneh yang sungguh terasa sangat nikmat.
“Kalian baru saja melaksanakan salat subuh. Nanti tengah hari, disaat matahari tepat di tengah, ada salat dzuhur. Kalian ke sini, kita akan salat berjamaah lagi. Yaitu salat bersama seperti tadi.”
__ADS_1
“Dan, ada juga salat asar, maghrib dan isya.”
Semua berpamitan, dan bersalaman.
Maklum mereka merasakan kantuk karena semalaman tak tidur.
Sunan Kembang Kuning sendiri memilih tidur di gubuknya.
Menjelang siang, Sunan Kembang Kuning belum bangun dari tidurnya. Saat itu, Pak Lurah mendatanginya. Karena sedang tidur, Pak Lurah tak berani membangunkan.
Pak lurah hanya duduk di bibir lantai gubuk.
Sementara beberapa orang yang lalu lalang, sempat heran melihat pak lurahnya sedang menunggui orang tidur.
Dan menjelang tengah hari, satu per satu orang datang karena ingin melaksanakan salat zuhur berjamaah.”
“Ada apa Pak Lurah kok di sini?”
Ditanya seperti itu, pak Lurah hanya diam seribu bahasa.
Satu per satu datang.
Segera mengambil air wudlu. Dan satu orang membangunkan Sunan kembang Kuning.
“Apa jenengan ingin mengatakan sesuatu Pak Lurah?”
Yang ditanya hanya diam, sambil matanya melihat beberapa orang yang mengambil air wudlu.
Bahkan saat salat pun, matanya tak bisa lepas dari gerakan aneh itu.
“Kalian itu melakukan gerakan apa?” tanya Pak Lurah.
“Kami juga tak tahu, karena ini masih baru.”
“Kami sedang melakukan salat, yaitu menyembah Gusti Allah, tuhan semesta alam,” timpal Sunan Kembang Kuning.
“Jadi, seperti sembahyang kami?”
“Benar. Karena kami Islam. Cara ibadah kami ya seperti ini. Namanya salat.”
“Bolehkah saya belajar?”
“Ya tentu saja boleh. Tapi, Pak Lurah harus Islam dulu. Kalau Pak Lurah tak Islam, tentu akan sia-sia salatnya.”
“Wah, kalau seperti itu, saya tidak bisa. Saya adalah pemimpin di desa ini. Apa kata warga lain, kalau mengetahui saya menjadi Islam. Apa kalau sudah Islam itu, boleh beribadah di pura?”
“Ya tentu saja tidak boleh Pak Lurah. Agama tidak bisa digabung-gabung. Ibaratnya, Pak Lurah makan sekalian minum. Apa bisa?”
“Baiklah, apa dengan salat itu bisa untuk membangkitkan tenaga dalam? Kok tenaga dalam Si Mbah sangat besar?”
“Pak Lurah jika berkenan, silakan di situ dulu, kami hendak wiridan dulu,”
Kegiatan wiridan inilah yang ditunggu-tunggu oleh jemaah gubuk Mbah Bungkuk ini.
Sejenak kemudian mulai terdengar suara wirid bersama-sama.
Bukan hanya Pak Lurah yang berada di situ yang dibuat merinding. Beberapa wanita yang sedang mencuci di kali pun dibuat merinding.
Beberapa pria yang sedang memancing dan menjala ikan, ikutan merinding.
Kian lama, wirid semakin kencang dilantunkan.
Suaranya menembus tiap celah. Seakan meledakkan hati.
Tubuh Pak Lurah sampai bergetar sangat kencang. Tubuh Pak Lurah menggigil, keringat dingin bercucuran.
Tak lama tubuh Pak Lurah terjatuh bersimpuh.
Dia tak merasakan bahwa bibirnya ikut-ikutan mengatakan hal yang tak diketahui artinya itu. Bahkan, kian lama kian kencang.
Ini yang mengagetkan beberapa pemancing.
Bahkan, mereka sampai-sampai melongokkan kepalanya untuk mempertegas, bahwa yang bersuara kencang adalah Pak Lurah.
Tak salah, memang.
Ketika wirid berakhir, dan semua mulai beranjak.
Pak Lurah masih tersimpuh. Air matanya terus bercucuran.
Bahkan, untuk berdiri saja dia tak mampu.
Pak Lurah baru menyadari, bahwa hanya dia yang meneriakkan kata-kata aneh itu.
Tak lama, dia menangis sesegukan.
"Aneh... saya tiba-tiba saja mengikuti kata-kata aneh itu, dan sungguh sangat indah. Tubuh ini bergetar. Hati ini tenteram," kata Pak Lurah dalam sesegukan.
"Pak Lurah, itu namanya hidayah. Jangan ditolak. Pak Lurah aslinya ingin memeluk agama Islam, seperti kami," kata Sunan Kembang Kuning.
Tubuh Pak Lurah segera dibopong dan didudukkan di gubuk.
__ADS_1
Wajah Pak Lurah masih terlihat linglung.
Satu orang mengulurkan air untuk diminum.
Para pemancing tegang. Benarkah Pak Lurah akan memilih Islam daripada agama nenek moyang?
Hening sesaat.
"Tidak, saya tak akan meninggalkan agama nenek moyang. Terima kasih. Tetaplah kalian di sini, saya tak akan memindahkan gubuk ini. Dan saya tak akan datang ke sini lagi," kata dia.
Lega para pemancing itu.
Hanya saja, mereka dibuat heran.
Usai wirid itu berakhir, tak ada satu pun ikan yang berhasil ditangkap.
Padahal, saat orang-orang itu wiridan, ikan berkumpul dan amat mudah untuk memancingnya.
“Benarkah, ada hubungan antara ikan dengan bacaan yang mereka baca?” tanya satu pemancing.
“Atau kita minta diajari bacaan tadi, untuk kita baca saat memancing?”
Dan ternyata usulan ini akhirnya diterima.
Mereka pun mendekati gubuk.
“Mohon maaf semuanya. Bukannya kami lancang, bisakah bapak mengajarkan bacaan aneh itu kepada kami?”
“Kenapa?”
”Karena saat kalian semua membaca bacaan aneh itu, tangkapan kami banyak. Begitu bacaan itu berhenti, kami tak mendapatkan ikan sama sekali. Mungkin, dengan kami membaca kata-kata aneh itu, tangkapan ikan akan kembali banyak,” kata satu di antara pemancing.
Cepat-cepat Sunan Kembang Kuning menghampiri.
“Oh silakan. Tapi syaratnya, tak boleh pelit kepada orang lain. Ajarkan ya. Nantinya, bukan lantas yang menbaca dua orang, ikan sepuluh dibagi dua. Tidak begitu, yang ada adalah setiap orang akan mendapat ikan sepuluh. Kalian bersedia mengamalkannya?”
“Baik Mbah, kami bersedia.”
Lalu, orang-orang itu pun diajari sampai hapal.
“Sekarang silakan Bapak semua mencari ikan. Silakan dicoba.”
Benar adanya, begitu mereka kembali ke sungai dengan melafalkan kalimat toyyibah, ikan-ikan datang lagi.
Tangkapannya malahan paling banyak dibandingkan seumur hidup mereka menjadi pemancing.
“Luar biasa mantra ini. Ikan pun bisa menurut doa ini.”
Sementara Pak Lurah sendiri mulai bisa bangkit dan menegaskan sikapnya.
Pak lurah mulai gontai pulang.
“Saya tak akan melarang bagi warga saya untuk melantunkan wirid ini,” kata Pak Lurah.
Tentu saja, omongan Pak Lurah ini cepat menyebar sampai ke penjuru kampung. Warga kampung menjadi bertanya-tanya tentang agama baru itu.
Namun, pedanda berupaya mencegah mereka untuk ikut-ikutan melantunkan wirid.
Diam-diam, memang beberapa orang mengintip kegiatan di gubuk pinggir kali ini.
Mereka mulai mengikuti wirid itu.
Sangat menikmati.
“Ini bahasa apa? Kok indah dan nikmat sekali dilantunkan?” gumam mereka sendiri.
Dan ketika perjalanan pulang pun, mereka tetap melantunkan kata-kata aneh ini.
Namun tidak demikian dengan beberapa pedanda. Kekalahan sang pedanda tersakti menjadikan mereka segera mengirim utusan ke kawasan Gunung Penanggungan, di mana di puncaknya tinggal seorang pertapa Hindu paling sakti di zamannya, Resi Witjak Jaya Arga.
“Apa? Ada orang bungkuk mengacak-acak tempat suci?” tanya Resi Witjak, begitu menerima utusan pedanda Singosari ini.
“Benar, Kanjeng Resi Witjak. Ilmu Resi Wishnu berhasil dimusnahkan oleh Si Bungkuk yang mengaku bernama Sunan Kembang Kuning ini,” kata pedanda.
“Apa? Ilmu Resi Wishnu dibuang? Seperti apa rupa si bungkuk itu, sehingga bisa mengalahkan resi terhebat di Singasari?”
Semua pedanda terdiam.
Muka Resi Witjak merah padam menahan marah.
“Baik, akan saya hadapi dia, daripada orang-orang menjadi pengkhianat agama.”
Serta merta mereka pun turun dari puncak Penanggungan.
Memang, kesaktian Resi Witjak tiada duanya. Ketika beberapa pedanda cukup kesulitan menapaki batu-batu lancip.
Resi Witjak bisa menuruni dengan mulus, sebab dia melayang. Kaki dan jubahnya tak menyentuh tanah.
Hanya karena ingin berangkat bersama, menjadikan Resi Witjak tak menambah kecepatan terbangnya.
“Kalian langsung pulang, saya masih harus menyiapkan beberapa senjata,” usir Resi Witjak kepada para pedanda.
__ADS_1
Resi Witjak segera bersiul sangat kencang.
Dari kejauhan, melangkah gemulai seekor macan loreng.