BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 2e: Ajarkan Jurus Sugih Waras


__ADS_3

Gerobak bergerak menjauhi pohon, di mana empat orang warga kampung bersembunyi.


"Allahu Akbar. Ternyata, lurah Rejo mengetahui keberadaan kita di sini. Betapa besar ilmu anak muda ini," kata hati Syuaibi.


Empat orang di pohon pun menggeser duduknya dengan sangat hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, demi bisa melihat dengan jelas dari atas pohon, apa yang bakal terjadi.


Rejo baru menghentikan gerobaknya di jarak aman dari pohon. Sementara anggota begal mengejar dari belakang.


Rejo segera beranjak ke bagian belakang gerobak. Rejo membuka kuda-kuda, di gerobak.


"Saya sudah mengingatkan. Jangan membuat saya marah. Sebab, jika saya sudah marah, saya tak bisa mengontrol diri, dan saya tak tahu apa yang terjadi pada kalian semua. Sungguh."


Tapi anggota begal sudah terlihat marah, setelah melihat beberapa teman mereka kelojotan berguling-guling di tanah, sambil mengerang kesakitan.


Sementara gerombolan begal yang menghadang di tempat kejauhan, segera merengsek mendekat, begitu mengetahui dari jarak jauh, beberapa teman mereka dirobohkan musuh dengan sekali pukul.


Bukan itu saja, kelompok pemanah juga ikut-ikutan mendekat.


Mereka agaknya belum pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Maka, koordinasi begal pun lemah. Ini menjadikan pergerakan mereka kacau.


Tak begitu lama, semua anggota begal sudah mengerumuni gerobak.


"Mana pemimpin kalian. Ini adalah peringatan terakhir saya. Jangan sekali-kali kalian ganggu Desa Sugih Waras lagi. Pilihannya tak banyak. Jawab sekarang, atau kalian harus berhadapan melawan saya. Dan saya tegaskan lagi, jangan membuat saya marah. Jika saya marah, saya tak bisa mengerem nafsu membunuh saya. Saya tak menyadari apa yang bakal terjadi pada kalian semua."


"Ah... banyak omong. Anak-anak serbu," kata seseorang yang berdiri agak di belakang.


Dia agaknya pemimpin, karena Rejo merasakan ada terpaan tenaga dalam cukup besar, saat dia berbicara. Penampilannya pun cukup menakutkan. Dia berkalungkan ular kobra hidup berukuran sepaha orang dewasa.


"Oh, jadi kamu pimpinan begal ini. Engkau yang seharusnya ****** duluan. Jangan suruh anak buahmu mati sia-sia!" teriak Rejo menantang.


Namun, karena patuh kepada sang ketua, anak buah begal segera merengsek maju menyerbu gerobak yang sudah terkepung.


Seperti janjinya, Rejo tak turun dari gerobak.


Puluhan orang yang menyerang dengan berbagai senjata tajam, dihadapi Rejo dengan menggunakan sebatang bambu serut.


"Trak... trak... trak...!"


Bambu beradu melawan berbagai senjata berasal dari logam.


Bukannya bambu itu patah, malahan bisa membuat puluhan penyerang terhuyung.


Empat orang yang menyaksikan, sedari tadi menahan napas, langsung menghembuskan nafas sekencang-kencangnya, karena kaget. Mereka tak menyangka, sebatang bambu serut seukuran kelingking itu, bisa menahan sabeten pedang, golok, menangkis tumbak. Bahkan bisa membuat penyerang terhuyung, meski hanya senjatanya saya yang bersentuhan dengan bambu.


"Jangan membuat saya marah! Bukankah kalian tahu, beberapa teman kalian saya kalahkan dengan mudah. Jangan membuat saya marah!" teriak Rejo.


Bahkan, dengan kemampuan tenaga dalamnya, meski tak turun dari gerobak, Rejo bisa menggeser gerobak menuju ke arah pemimpin begal. Kuda penarik gerobak, mau tidak mau ikut-ikutan bergerak menyamping.


Sembari menggeser gerobak dengan tenaga dalam itu, Rejo juga menangkis dan dan membalas serangan anak buah begal.


Tujuan Rejo ingin berhadapan langsung melawan pemimpin begal yang lehernya terlilit ular kobra itu.


"Ini peringatan terakhir, jangan membuat saya marah. Sebab, kalau saya marah, saya tak bisa mengontrol kekuatan saya. Nanti kalian semua bisa menjadi korban. Ingat, toh permintaan saya, jangan sekali-kali ganggu warga Desa Sugih Waras. Itu saja."


Namun, anggota begal tetap saja merengsek maju, meski beberapa anggota sudah kelojotan di tanah, karena terluka.


Anggota begal bahkan kian ganas menyerang. Seakan mereka ingin membalaskan dendam teman-temannya yang kesakitan.


Namun, di sela-sela menangkis itu, Rejo merasakan tulang ekornya mulai hangat. Rejo kaget.


"Pergi.... kalian cepat pergi dari sini. Cepat... cepat... saya sudah tak mampu mengontrol diri saya lagi," teriak Rejo mengusir para begal yang menyerangnya.


Sayangnya, tak ada satu pun anggota begal yang percaya, dan terus menyerang Rejo.


Tak ingin jatuh korban, ketika ilmu ganasnya menguasai badan wadag, Rejo segera duduk bersila, mengatur nafas. Dan dia tak mengindahkan lagi serangan yang mengarah ke tubuhnya.


Beberapa sabetan pedang mengenai punggung dan lengan Rejo.


Tapi, Rejo tetap duduk bersila, mengatur nafas, agar ilmu ganas yang disimpan di tulang ekor tidak menyebar dan menguasai dirinya.


Beberapa bacokan lagi mengenai tubuh Rejo.


Darah bercucuran.


Tapi, sudah terlambat.


Ilmu ganas warisan Resi Swadaraya terlanjur menguasai tubuh Rejo.5


Rejo bangkit dengan mata menyala merah.


Empat orang di atas pohon kaget, takut, dan bergidik.


Bahkan bambu yang dipegang Rejo berubah menjadi kilatan api, seakan bambu itu terbakar.


"Arrrrggghhhhhhhh!"


Rejo berteriak sekencang-kencangnya.


Ada semburan api keluar dari mulutnya.


Rejo melenting dari gerobak.


Mata menyala membuat para lawan keder.


Tapi, sudah terlambat.


Rejo sudah tak sadar dengan apa yang diperbuatnya.


Bambu api itu disabetkan ke arah musuh-musuhnya.


Tidak hanya sekedar melukai, bambu itu mampu membelah tubuh, memenggal kepala, dan memutuskan anggota tubuh.


Tak butuh waktu lama, hampir semua anggota begal terbunuh dengan cara yang mengerikan.


Sisanya, segera berlari sekencangnya.


Namun, Rejo yang dikuasai nafsu membunuh dari ilmu ganas ini, terus mengejar dan tidak memberikan kesempatan kepada siapapun yang ada di situ untuk hidup. Para begal yang lari itupun dibunuh dengan cara yang sangat sadis.


Yang terakhir menjadi keganasan ilmu ini adalah pemimpin begal. Meski dia memberikan perlawanan luar biasa, toh akhirnya tumbang setelah ular kobra yang melilit lehernya ditebas menjadi serpihan kecil terlebih dahulu.


Dalam waktu sekejap, hanya tinggal Rejo sendirian, masih memegang senjata bambunya yang menyala.


Empat orang di pohon gemetaran. Mereka takut, bahkan terkencing di celana.


Sama sekali tak berani bergerak.


Lebih-lebih, dengan mata menyala Rejo mendongakkan kepala ke arah pohon itu.


Tanpa suara yang keluar dari mulut Rejo. Bahkan, kadang nafas Rejo bisa menyemburkan api.


Empat orang ini ketakutan.


Hingga menjelang dini hari, barulah nyala di mata Rejo meredup.


Tak lama, Rejo jatuh pingsan di antara mayat-mayat begal.


Empat orang perlahan turun dari pohon, dengan ketakutan.


Perlahan mereka mendekati Rejo, dan mencoba menggoyang-goyang kakinya, dengan sikap siap-siap hendak lari.


Namun, Rejo benar-benar pingsan.


"Uuuuufffhhhhh! Mengerikan," bisik Syuaibi.


Tiga lainnya mengangguk.


"Lebih baik kita segera membuat lubang besar untuk mengubur semua anggota begal ini, dan jangan sampai ada anggota tubuh yang ketinggalan. Kita biarkan Pak Lurah istirahat di gerobak. Saya punya keyakinan, Pak Lurah tidak tahu apa yang baru saja dilakukan. Untuk itu, sesegera mungkin kita mengubur semua mayat ini, lalu kita bawa Pak Lurah ke desa untuk kita obati," perintah Syuaibi.


Maka, empat orang ini segera membuat lubang besar dengan alat sekenanya. Dirasa lubang itu cukup untuk memasukkan semua mayat begal, termasuk anggota-anggota tubuh yang tercecer, segera mereka mengubur lagi lubang itu.


Ketika matahari menjelang terbit, Syuaibi mengajak mereka bertiga salat subuh darurat dengan pakaian penuh lumpur dan darah.


Usai salat subuh yang sudah mulai benderang itu, mereka segera menjalankan gerobak menuju ke sungai.


Dengan hati-hati, mereka membersihkan sisa-sisa darah yang tercecer di gerobak, dan menggantikan baju Rejo yang penuh lumpur dan darah, dengan baju bersih. Mereka juga membersihkan darah dari luka Rejo.


Usai semua bersih dari darah, barulah mereka berempat menjalankan gerobak menuju desa.


Rejo belum siuman.


Bahkan, sampai di masjid, Rejo juga belum siuman.


Warga kampung yang mulai beraktivitas, langsung mengurungkan niatnya ke sawah, kebun atau berburu, tapi mereka berbondong menuju masjid.


Empat orang ini sudah sepakat untuk mengubur cerita mengerikan tadi malam. Mereka segera merawat luka-luka Rejo, dengan ditempeli tumbukan daun tumbuhan obat.


Karena rasa perih dari luka inilah, menjadikan Rejo siuman.

__ADS_1


"Lho, saya sudah di sini?"


"Benar, Nak Lurah," jawab Syuaibi, dan memang mereka bertiga sepakat, hanya Syuaibi saya yang berbicara.


"Bagaimana dengan begal-begal yang saya hadapi?"


"Oh, mereka semua lari tunggang-langgang," jawab Syuaibi, mencoba berdusta.


"Lho? Bagaimana Bapak bisa tahu, padahal saat itu hanya ada saya dan begal?" tanya Rejo menyelidik.


Syuaibi tertawa sambil garuk-garuk kepala.


"Wah ketahuan...."


"Ketahuan apa?"


"Begini Nak Lurah, saat itu saya berniat membantu Nak lurah, untuk itu saya bersembunyi di pohon dekat begal menghadang nak Lurah."


"Oh, jadi bapak yang ada di pohon itu? Saya merasakan getaran manusia di pohon itu, Tapi, setahu saya, lebih dari satu. Siapa saja, selain Pak Syuaibi?"


Tiga orang segera membungkuk hormat, sembari gemetaran.


"Jadi, bapak berempat ini yang berada di pohon?"


"Benar, Pak Lurah," jawab Syuaibi.


"Kenapa mereka bertiga gemetaran begitu?" tanya Rejo kepada Syuaibi.


Syuaibi tercenung sejenak. Segera dia berfikir keras untuk menemukan jawabnya.


"Kami ini bukan petarung, bukan pendekar. Kami hanya penduduk biasa. Mohon dimaklumi kalau sampai gemetaran, karena rasa takut kami."


"Lho lainnya kok gak gemetaran? Sebenarnya ini ada apa?"


Syuaibi terdiam.


Suasana jadi hening.


Rejo juga diam.


"Insya Allah, kampung kita sudah aman dari begal. Nak Lurah usai mengusir mereka sampai tunggang langgang, langsung pingsan. Lihat itu tubuh Nak Lurah banyak luka sabetan pedang seperti itu. Itu sebuah pertarungan yang cukup sengit. Wajar kalau Nak Lurah mendapatkan luka sebanyak itu, karena menghadapi para begal itu sendirian."


Rejo melihat ke tubuhnya. Memang penuh luka.


"Jadi, bapak-bapak semua, jangan khawatir jika bepergian malam hari di sekitar desa kita. Para begal sudah diusir oleh Nak Lurah," teriak Syuaibi kepada penduduk desa yang berkerumun di luar masjid.


"Sekarang, Bapak Lurah akan saya rawat, dan silakan Bapak ibu semua, pergi ke sawah, ke kebun atau berburu."


Maka, penduduk pun bubar.


Yang tidak beranjak empat orang, yaitu yang berniat membantu, dan Rejo yang berbaring.


"Bapak-bapak, saya merasakan ada yang ditutup-tutupi. Coba ceritakan sebenarnya."


Tiga orang menunduk. Syuaibi segera bertutur.


"Apa selama ini kami suka berbohong? Dan apa manfaatnya bagi kami membohongi Nak Lurah. Bukankah Nak Lurah pemimpin kami?" jawab Syuaibi.


Rejo tak menjawab. Meski dalam hati tetap meyakini, ada yang ditutup-tutupi.


"Ya sudahlah. Untuk sementara, biarkan saya sendirian istirahat di serambi masjid. Silakan bapak-bapak semua pulang. Sungguh saya sangat letih."


Rejo kemudian dibopong menuju serambi masjid.


Usai menyiapkan alas untuk berbaring, hingga darah yang mengucur dari luka Rejo tak mengotori masjid, mereka berempat meninggalkan Rejo.


Karena sangat letih, seharian Rejo tak bangun.


Para jamaah salat wajib, tak ada yang berani membangunkan Rejo. Mereka hanya melihat dari dekat, apakah Rejo masih bernapas atau tidak.


Bahkan, untuk wiridan berjamaah pun dilafalkan lirih, takut jika suara kencang akan membangunkan sang Lurah.


Rejo baru bangun usai salat dluhur esok harinya.


Lukanya sudah mengering.


Rejo merasakan tubuhnya lebih segar.


Dilihatnya matahari telah lingsir.


"Bapak, berapa lama saya tertidur?"


"Nak Lurah tidur seharian. Kami sepakat tak membangunkan Nak Lurah."


"Jadi saya meninggalkan salat, sejak dluhur kemarin sampai sekarang?"


"Benar."


"Baiklah, kalau begitu, saya pamit ke masjid lagi, untuk mengganti salat saya."


Tak lama, setelah Rejo berlalu, datang tiga orang yang kemarin ikut berada di pohon.


"Bapak, minta tolong kepada Bapak, agar mau menyampaikan kepada Nak Lurah. Yaitu, agar Nak Lurah mau mengajari warga kampung sini pencak silat, agar kita semua bisa menjaga kampung kita ini."


"Apa itu perlu?"


"Kalau melihat pertarungan kemarin, sungguh, ilmu Nak Lurah bukan ilmu sembarangan. Alangkah baiknya jika kami-kami juga belajar sedikit untuk menjaga diri, menjaga keluarga, dan menjaga kampung."


Karena didesak tiga orang, akhirnya Syuaibi bersedia menyampaikan kepada Rejo.


"Nak, tiga orang yang kemarin di pohon, mengharapkan Nak Lurah mau mengajari mereka dan orang-orang kampung yang mau, barang satu atau dua jurus. Mereka berharap, mampu menjaga diri, menjaga keluarga dan menjaga kampung."


"Apa itu perlu? Apa bapak semua tidak diajari oleh Kanjeng Syech Subakir?"


"Tidak Nak. Kami hanya belajar ilmu agama saja."


"Baiklah. Saya mau mengajari, tapi bukan berarti saya lebih hebat dari bapak-bapak semua. Hanya saja, yang akan saya ajarkan adalah jurus-jurus untuk mendukung sugih dan untuk mendukung waras, sesuai nama desa kita ini.


"Terserah Nak Rejo saja."


Dan, kesanggupan Rejo mengajarkan jurus ini segera dikabarkan kepada seluruh warga kampung. Tentu saja, yang paling antusias adalah empat orang yang mengetahui kehandalan ilmu Rejo.


Usai salat Isya, puluhan warga kampung yang ingin belajar pencak silat, sudah menunggu Rejo yang masih wiridan.


Ternyata, bayangan mereka akan mendapatkan latihan super berat, tak terbukti.


Rejo hanya meminta mereka berbaris, lalu semua mengulurkan dua lengannya. Setiap lengan itu, diremas Rejo sekuat tenaga. Rata-rata yang diremas sampai menggigit bibir bawah karena menahan rasa sakit luar biasa di area yang dicengkeram Rejo.


"Sudah. Sekarang, saya ingin bertanya, siapa di antara bapak-bapak yang bekerja sebagai petani?"


Beberapa orang mengangkat tangan.


"Baiklah, silakan bapak pulang. Jangan lupa, besok pagi tetap mencangkul sawahnya masing-masing, atau menyabit rumput."


Demikian juga kepada pemburu, juga disuruh pulang. Pesan Rejo, mereka esok harus berburu, dan memilih hewan yang pantas untuk diburu. Rejo melarang memburu hewan betina, karena ditakutkan ada anak yang masih butuh perlindungannya.


Meski dibuat bingung bagaimana membedakan hewan jantan dan betina, para pemburu ini akhirnya pulang juga.


Yang tinggal hanya beberapa orang, di antaranya pedagang, dan pembuat anyaman.


"Nah, bapak-bapak, karena kegiatan bapak tidak terlalu menguras tenaga. Saat ini, silakan pulang, tapi, saya meminta bapak untuk berjalan dulu mengelilingi kampung kita ini, sebanyak tiga kali. Mau berjalan silakan, mau berlari silakan. Ingat, sebanyak tiga kali ya. Besok malam usai salat Isya, ajak semuanya ke sini. Ada pelajaran pencak silat lanjutan," tutur Rejo.


Pertemuan pun bubar dalam waktu singkat.


Esoknya, semua antusias hadir, karena dalam benak mereka, bakal dilatih pencak silat.


"Bagaimana bapak-bapak? Apa bapak semua sudah melaksanakan apa yang saya sarankan?"


"Sudah."


Jawab mereka berbareng, masih bersemangat.


"Apa bapak merasakan perubahan?"


"Tidak..."


Jawab berbareng juga masih bersemangat.


"Kok tidak merasakan perubahan, Ya?"


"Ya.... sama saja, seperti sebelum-sebelumnya," jawab satu warga kampung.


Pak Syuaibi, yang juga disuruh jalan memutari kampung sebanyak tiga kali, dalam hatinya membenarkan apa yang diomongkan orang itu.


"Memang sih, saya tak merasakan perubahan apapun, selain rasa capek karena berjalan cukup jauh saja," kata hati Syuaibi.


"Kalau memang tidak merasakan perubahan, berarti besok bapak melakukan apa yang saya sarankan lagi. Tolong temukan ada rasa apa. Sekarang bubar."

__ADS_1


Semua melongo.


Harapan untuk mendapatkan pelajaran pencak silat dari sang pendekar Gunung Tidar, langsung sirna.


Bagi pedagang, malam itu juga, mereka berjalan keliling kampung sebanyak tiga kali lagi.


Esok harinya mereka masih melaksanakan apa yang disarankan Rejo. Bagaimana tidak, karena memang mencangkul menyabit adalah pekerjaan sehari-hari mereka.


Bahkan, bagi pemburu, juga masih tetap hati-hati memilih binatang jantan.


Dan usai salat Isya, mereka berkumpul lagi di pelataran masjid.


"Bagaimana? Apa seperti kemarin, yaitu tidak merasakan adanya perubahan?"


"Masih sama. Tetap, kami tidak merasakan perubahan."


"Kalau gitu, bubar, dan lakukan lagi saran saya."


Demikian seterusnya hingga 10 hari.


Warga pun mulai malas dan harapan untuk dilatih pencak silat pun sirna.


Di malam ke sebelas, yang berkumpul di pelataran masjid, tak lebih dari beberapa orang saja.


"Mana warga kampung lainnya?"


"Mereka sudah malas, Nak Lurah. Sebab, mereka berharap dilatih pencak silat, tapi nyatanya Nak Lurah, hanya menyarankan pekerjaan yang sudah rutin dilakukan sehari-hari. Bahkan tidak disarankan pun mereka tetap melaksanakannya. Warga kampung merasa dipermainkan Nak Lurah, tetapi, untuk ngomong langsung, mereka tidak berani," kata Syuaibi mewakili, beberapa orang yang setia berkumpul itu.


"Mohon maaf, Pak Imam, saya tidak bohong. Semestinya bapak-bapak merasakan adanya perubahan."


"Kami percaya, Nak Lurah tak bohong. Tetapi, kapan sebenarnya kami dilatih jurus-jurus pencak silat?" tanya Syuaibi.


"Sudah," jawab Rejo.


"Kapan?"


"Kita kasih nama saja, Jurus Sugih Waras."


"Kapan, Nak Lurah?" tanya Syuaibi menegaskan.


"Ya, bapak-bapak semua melakukan pekerjaan harian itu."


"Ah, masa....?" tanya Syuaibi seakan tak percaya.


"Bapak-bapak semua ingin bukti? Bahwa bapak-bapak semua sudah mempunyai jurus andalan, yaitu Jurus Sugih Waras?"


Semua mengangguk.


Rejo lalu menunjuk satu bapak yang cukup renta.


"Nama bapak siapa?"


"Ngatijo."


"Bapak setiap pagi bertani?"


"Benar, Nak."


"Baik, mari kita bertarung. Saya tak akan sungkan memukul Bapak Ngatijo sekeras-kerasnya. Mohon, Bapak Ngatijo juga tak sungkan memukul saya."


Awalnya, Ngatijo tak mau. Tetapi, Rejo ingin benar-benar membuktikan bahwa mereka sebenarnya sudah menguasai ilmu pencak silat baru, yang diberi nama jurus sugih waras.


Karena memang tak mengerti pencak silat, Ngatijo hanya berdiri saja di tengah pelataran.


Rejo membuka jurus, dan siap menyerang.


Beberapa mata tegang. Mereka tak mengira, Ngatijo yang renta itu, harus berhadapan melawan pendekar Gunung Tidar.


Rejo menyerang.


Ngatijo hanya melihat bingung.


Rejo mengincar kepala Ngatijo, dengan mengirimkan tendangan.


Ternyata, tiba-tiba Ngatijo jongkok, seakan di posisi menyabit rumput.


Ngatijo sendiri kaget, dia bisa menghindari tendangan Rejo.


Bahkan, secara reflek, tangan kanan Ngatijo, yang seakan memegang sabit, mengincar kaki kiri Rejo yang dipakai untuk tumpuan.


Rejo segera berjumpapalitan menjauh.


Ngatijo tambah kaget.


"Kok bisa ya?"


Belum lagi dia menemukan jawabnya, Rejo segera menyerang kali kedua.


Kali ini, tendangan datar mengarah ke kepala Ngatijo yang masih di posisi jongkok.


Belum lagi tendangan datar mendarat ke kepala Ngatijo. Dia melenting. Posisinya persis seperti orang lagi duduk di bajak sawah.


Bahkan, dua tangan Ngatijo mengepal, giliran mengancam kepala Rejo. Persis seperti gerakan tangan mencangkul.


Semua mata terbelalak. Rasanya, tak mungkin bagi Rejo menghindar dari pukulan Ngatijo.


Benar.


Rejo akhirnya memutuskan tak menghindar, tapi menggunakan dua tangan sebagai tameng.


"Blar!"


Suara menggelegar sangat kencang, ketika tangan Rejo dan Ngatijo beradu.


Rejo terpelanting ke belakang, Ngatijo terlempar dan berguling-guling.


Semua terperangah.


Bahkan, hanya tertegun melihat Ngatijo mengaduh kesakitan.


Rejo segera berlari ke arah Ngatijo. Rejo mengerahkan tenaga dalamnya, dan memijit di beberapa bagian tubuh renta ini.


Tak lama, Ngetijo bisa duduk, dengan nafas ngos-ngosan.


Semua orang segera mengerubuti Ngatijo, lalu duduk memutar.


"Bapak-bapak kan sudah tahu buktinya. Bapak Ngatijo yang hanya petani ternyata bisa pencak silat, satu jurus unik, yang kita kasih nama jurus sugih waras. Bahkan, tenaga dalam bapak Ngatijo lumayan besar."


"Benar, Nak lurah. Kami juga terkejut mbah Ngatijo bisa memeragakan gerakan unik seperti itu. Kami sekarang percaya," kata Syuaibi.


Maka, malam itu, beberapa orang itu, bersemangat berlatih hingga tengah malam.


Gerakan yang muncul cukup unik. Ada yang hanya seperti orang menyabit, membajak, berlari-lari seperti mengejar buruan, bahkan ada yang hanya sekedar berjalan kadang cepat kadang lambat.


Yang jelas, mereka mempunyai keyakinan tinggi, bahwa dalam diri mereka mengalir tenaga dalam, dan penguasaan jurus baru.


Dan esok harinya, pertarungan antara Mbah Ngatijo melawan Lurah cepat menyebar ke seluruh penjuru kampung. Bahkan cenderung cerita dibesar-besarkan. Tentunya, ini membawa dampak positif.


Pada malam berikutnya, orang-orang pun bersemangat lagi berlatih.


Rejo tersenyum.


"Bapak-bapak semua, pertahanan terbaik adalah kepasrahan kepada Allah swt. Semua gerakan pencak silat yang kita beri nama jurus sugih waras ini, murni gerakan alami, seperti gerakan waktu bapak bekerja. Bapak Ngatijo telah membuktikan sendiri. Dan sekarang, kita akan mengasah jurus baru yang tidak ada pakem gerakan ini, menjadi satu jurus pertahanan yang bisa diandalkan untuk mengamankan keluarga kita, kampung kita, dan agama kita," tutur Rejo.


Warga kampung pun bersemangat.


Setiap latihan, selalu dilakukan sabung antara orang-orang dengan pekerjaan berbeda.


Petani dilawankan pemburu, pedagang dilawankan pemburu, atau pemburu melawan pedagang.


Gerakan yang muncul memang unik dan alami, tetapi semua mengandung tenaga dalam lumayan besar. Bahkan, pertarungan cenderung seakan perang tenaga dalam daripada pukulan dan tendangan secara fisik.


Penduduk kampung akhirnya menemukan sendiri-sendiri gerakan untuk menendang, memukul, menangkis, menghindar. Semua gerakan tak sama antara satu orang dengan orang lainnya.


Dan kian lama, gerakan yang dimunculkan semakin praktis dan tepat sasaran. Jurus sugih waras benar-benar tak bisa ditiru. Bagi seseorang sangat kuat di pukulan, tapi lemah di tendangan atau sebaliknya.


Bisa dikatakan, hampir semua warga Desa Sugih Waras menguasai jurus Sugih Waras, tetapi, mereka mempunyai karakter, gerak, dan kekuatan tenaga dalam yang berbeda-beda. Memang akibatnya jelas, rasa takut mulai terkikis.


Mereka berlatih hingga beberapa tahun dalam pengawasan Rejo. Bahkan, beberapa orang dengan tekun ke sawah atau berburu, menjadikan mereka mulai bisa merasakan kehadiran mahluk halus. Dan mereka pun kian asyik berkomunikasi dengan dedemit yang ada di sekitar desa. Jadi, tak ada alasan lagi bagi warga desa takut akan dedemit.


Hewan perusak tanaman pun seakan enggan menyatroni kebun, sawah desa Sugih Waras, Ini dikarenakan kecepatan lari warga kampung sungguh luar biasa. Mereka bisa mengusir hewan perusak, bahkan bisa menendangnya.


Efek lain dari ilmu aneh ini, ada beberapa orang yang mempunyai bakat bisa menyembuhkan penyakit melalui penyaluran tenaga dalam. Lengkap sudah barokah yang diberikan Allah swt kepada desa Sugih Waras.


Tanaman aman dari gangguan hewan, para dedemit ketakutan, dan penduduknya pun waras, karena di kampung sudah muncul beberapa tabib. Bahkan, para tabib ini mengembangkan pengetahuannya tentang tanaman obat-obatan.


Mendapati ini semua, membuat Rejo bahagia.

__ADS_1


__ADS_2