
"Jadi, nak Rejo melakukan gerakan aneh di pojokan kolam itu, juga sebagai upaya untuk mengembalikan air menjadi jernih?"
"Benar. Apa yang dilakukan Rejo sekarang, sama dengan apa yang dilakukan Rejo di Desa Jurang Jero. Saya memerintah dia untuk menggali kolam, karena Allah memberi firasat kepada saya, akan terjadi pagebluk di Desa Jurang Jero. Dan ternyata benar, terjadi pagebluk."
"Apa hubungannya dengan berubahnya air di Kolam Segaran?"
"Sebenarnya tidak ada. Tetapi, dengan melakukan gerakan seperti menggali, sebenarnya Rejo memasukkan tenaga dalamnya ke dalam air Kolam Segaran. Hanya saja, dia tak menyadari. Sebenarnya, tak perlu melakukan gerakan apapun, dan cukup berendam di kolam Segaran, sudah bisa mengembalikan warna air. Tetapi, dengan gerakan yang sama diulang-ulang, menjadikan tenaga dalam yang menyebar semakin besar."
Lima murid Syech Jumadil Kubro diam tertegun.
"Jadi, sosok pemuda yang dinilai orang-orang gila itu, sebenarnya sedang beradu ilmu melawan Sesuhunan Raja Wikramawardhana? Kanjeng Syech, kira-kira bakal menang siapa?"
"Tentunya, kita semua sudah tahu jawabnya. Jika memang Kakang Raja Wikramawardhana menang, dia pasti sudah melayani pertarungan di istana. Tetapi, beliau bisa mengukur kekuatan sendiri, maupun kekuatan Rejo. Apalagi, setelah mengetahui Rejo didikan Resi Swadaraya dan Resi Hitu Dawiya secara bersamaan, maka Resi Wikramawardhana memilih mundur, demi Majapahit. Hanya saja, beliau ingin mengukur seberapa teguh pendirian, keinginan, cita-cita, serta kerja keras Rejo. Itu saja."
"Jadi, sebenarnya, Sesuhunan Raja sudah mengetahui bahwa pemuda itu orang pilihan?"
"Benar."
"Kalau memang ilmu Sesuhunan Raja kalah, kenapa beliau tidak memeluk agama Islam saja?"
"Seseorang memeluk agama Islam itu bukan hanya karena kemauan belaka, namun karena hidayah Allah swt. Seperti kalian berlima ini."
Semua mengangguk-angguk.
"Perkara kakang raja ingin memeluk agama Islam atau tidak, saya tidak tahu. Yang jelas, kami sering bertukar fikiran tentang agama masing-masing. Saya mempelajari tata cara Hindu dari Kakang Raja. Sedangkan pengetahuan kakang raja tentang agama Islam, dari saya."
"Jadi, sebenarnya Kakang Raja sudah mengetahui tentang agama Islam. Kalaupun dia seakan-akan tak mengerti tentang agama yang baru masuk Jawa ini, itu hanya sekedar menghormati para bawahannya. Juga menghormati Rejo. Sebenarnya, Kakang raja sudah faham secara garis besar."
"Kakang Raja juga sempat mengatakan, agama Islam agama tanpa kasta, semua sama saja di hadapan Dewa. Ini sebenarnya agama yang benar, karena tidak semua keturunan raja mempunyai budi pekerti yang baik, sedangkan tidak semua sudra menjadi maling. Sungguh, kalau bukan karena kedudukanku sebagai pertapa, dan juga Raja, saya akan berpindah agama. Andai itu terjadi benar, tentu Majapahit akan hancur-hancuran, dan semua bawahan akan melawanku. Begitu kata Kakang raja Wikramawardhana."
"Jadi, ada kemungkinan Sesuhunan Raja akan memeluk Islam seperti kita?"
__ADS_1
"Belum tentu. Buktinya, sampai sekarang beliau masih memeluk agama Hindu. Saya bertemu Kakang Raja, ketika beliau mengundurkan diri dari tahta kerajaan, dan menjadi pertapa. Kami sering berbicara tentang agama. Sekarang, beliau sudah naik tahta lagi, tapi sifat merendahnya masih dipertahankan, dan kehidupan pertapa tak ditinggalkan."
"Anu, Kanjeng Syech, kira-kira sampai kapan nak Rejo akan melakukan gerakan seperti itu?"
"Saya tidak tahu, coba kalian lihat, sudah seberapa merah warna airnya. Nantinya, warna air itu akan memudar dan perlahan menjadi bening. Usai menjadi bening, warna air akan menjadi biru. Nah saat itu pertarungan sebenarnya. Jika Rejo bisa mengembalikan warna air dari biru menjadi bening lagi, maka ikan-ikan yang mati di Kolam Segaran akan kembali hidup."
"Oh iya, Kanjeng Syech. Memang banyak sekali ikan-ikan mati di Kolam Segaran, tetapi tidak membusuk dan badannya tetap segar. Sampai sekarang masih tetap banyak, dan tak ada yang berani mengambil."
"Sebenarnya, ikan-ikan itu tidak mati. Hanya saja kalian melihat seperti ikan mati. Itulah kekuatan sihir. Nah, tugas Rejo saat ini adalah mengembalikan warna air menjadi jernih. Ketika air sudah menjadi biru nanti, Rejo harus bisa menetralisir sihir agar ikan-ikan itu terbebas dari sihir yang ditebar Kakang Raja. Itulah pertarungan sebenarnya."
Lima orang mengangguk-angguk.
"Saya tadi mengatakan, bahwa Kakang Raja sempat tertarik dan membenarkan agama Islam. Dan Kakang Raja melihat sosok Rejo sebagai pemuda pilihan."
"Benar, Kanjeng Syech."
"Itulah kehebatan dan kerendahan hati Kakang Raja. Dengan pertarungan melawan Rejo ini, sebenarnya, Kakang Raja ingin menitipkan ilmunya kepada Rejo. Dengan cara pertarungan yang aneh ini. Ketika Rejo berendam, maka tenaga dalam Rejo akan menyebar di air Kolam Segaran. Dan ketika air kolam menjadi jernih, ke manakah larinya warna merah itu?"
"Ya masuk ke dalam tubuh Rejo."
Semau terbelalak sembari memandang ke arah Syech Jumadil Kubro.
"Itu adalah ilmu yang dititipkan Kakang Raja kepada Rejo, tanpa disadari."
"Allahu akbar. Jadi, bisa dipastikan Rejo menang dalam pertarungan aneh ini?"
"Benar. Bukan hanya menang, tetapi dia akan mendapatkan ilmu baru dan tenaga dalam yang kian berlipat."
"Dan tahulah kalian, bagaimana cara Rejo bisa mengembalikan air Kolam Segaran yang sudah berwarna biru nanti?"
"Jika Rejo memaksakan menggunakan ilmunya, tentu akan terus gagal. Air biru itu nantinya bisa kembali berwarna bening, jika Rejo menggunakan ilmu barunya yang didapat dari Kakang Raja. Yaitu, ilmu yang dimasukkan secara perlahan selama pertarungannya untuk mengembalikan air kolam dari warna merah menjadi bening."
__ADS_1
"Anu Kanjeng Syech, apa nak Rejo sudah tahu?"
"Belum. Biarkan saja dia menemukan sendiri jalannya."
Lima mualaf yang sudah tahu skenario pertarungan Rejo ini, menjadi penasaran. Untuk itu, hampir setiap hari lima orang ini menyempatkan diri hadir di pinggir Kolam Segaran, untuk melihat apa yang dilakukan Rejo di kolam yang airnya berwarna merah ini.
Memang perlahan setiap hari warna air kolam tidak lagi memerah. Perlahan berubah menjadi jernih. Berubahnya warna air ini belum disadari oleh orang-orang yang ada di pinggir Kolam, karena sebagian besar perhatian tertuju kepada ribuan ikan yang mati. Meski berminggu-minggu mati, ikan-ikan itu tidak membusuk. Termasuk beberapa resi dan pendekar yang mencoba tetap bertahan di seliling kolam. Bahkan mereka tetap melakukan tapa brata.
Sebaliknya, Rejo pun terlihat tak peduli dengan sekelilingnya. Meski orang menilai dia orang gila, atau bahkan banyak yang mengolok , Rejo tak peduli. Rejo tetap saja melakukan gerakan seakan menggali di dalam air, pojokan kolam. Suara kecipak air selalu mengiringi setiap gerakan Rejo seperti menggali tanah.
"Benar-benar anak muda yang istiqomah, dan meyakini apa yang dilakukannya," kata satu mualaf, sambil geleng-geleng kepala.
Mereka melihat upaya Rejo ini berminggu-minggu, demikian dengan beberapa pertapa dan pendekar yang memilih tapa brata di sekitar kolam. Dan hasilnya, perlahan air kolam semakin jernih.
Rejo belum menghentikan kebiasaannya. Setiap pagi, dia masuk ke air kolam dan menuju ke pojokan, serta melakukan gerakan seperti menggali tanah.
Kalau dilihat, memang Rejo seperti orang gila. Kulitnya pucat di bagian bawah karena terendam air, sedangkan tangan hingga kepala hitam legam karena terkena sengatan matahari. Rejo hanya menghentikan kegiatannya barang sebentar untuk salat dan makan atau buang hajat. Itu saja.
Mendapati air kolam kembali jernih, para pertapa merasa dirinya paling berperan besar. Demikian juga pada pendekar. Tidak dengan Rejo, dia seakan tak peduli.
Hanya saja, para pertapa dan pendekar ini bingung, bagaimana harus menghidupkan ikan-ikan yang mati mengambang itu. Mereka juga heran, bagaimana mungkin ikan yang sudah mati berminggu-minggu, tidak membusuk.
Mereka saling klaim dan merasa ilmunya paling hebat. Namun, mendapati ikan mati mengambang itu, mereka hanya bisa terdiam. Mereka merasa sudah mengerahkan seluruh ilmunya. Tentu saja, mereka sudah tak tahu harus berbuat apa lagi.
Sejalan dengan kejernihan air yang membuat seluruh warga suka cita, dan mereka mulai berani menyeburkan diri ke dalam air itu, ternyata dari buah kelapa yang masih terus mengeluarkan gelembung ini, mengeluarkan cairan warna biru.
Perlahan, air kolam Segaran kembali berwarna biru, seperti awal peristiwa aneh ini.
Para pertapa dan pendekar segera melakukan tapa brata lagi. Mereka mengerahkan seluruh ilmunya agar bisa mengembalikan air menjadi jernih.
Mendapati air berubah menjadi biru, barulah menyadarkan Rejo. Ternyata, rejo tak tahu bahwa sebenarnya air sudah menjadi jernih, lalu berubah menjadi biru. Rejo menganggap bahwa warna air dari merah langsung menjadi biru.
__ADS_1