
Rejo dan orang-orang bangkit dari tiarapnya.
"Ada yang terluka?"
Rejo melihat sekeliling.
Semua tak ada yang menjawab.
Wajah semuanya pias pasi, karena ketakutan luar biasa.
Rejo mengajak mendekati tubuh bergelimpangan.
Orang-orang mendapati tubuh tanpa kepala, tubuh dengan kepala hancur. Tidak ada satu pun dari tubuh pertapa dan pendekar itu yang masih utuh.
"Bapak-ibu, mari kita rawat tubuh para pendekar dan Resi ini," ajak Rejo, sembari mulai mengumpulkan potongan tubuh-tubuh.
Orang-orang, dengan mimik ketakutan, ikut-ikutan memunguti anggota tubuh.
Yang datang ke pinggir kolam semakin banyak, karena mendengarkan suara dentuman tadi. Mereka ikut-ikutan membantu mengumpulkan bagian tubuh yang tercerai berai dan kemana-mana itu.
Atas saran dari mereka, akhirnya potongan tubuh itu, akan diaben (dikremasi,red) di lokasi saja.
Rejo segera meringsut menjauh.
Satu pedanda memimpin upacara aben ini.
Sebagian lainnya berusaha mencari kayu yang dipakai dasaran untuk membakat tubuh-tubuh tak utuh itu.
Rejo memilih duduk di seberang kolam.
Dia hanya mengamati hingga uparaca aben selesai.
Abu dari tubuh para pendekar dan resi ini, akhirnya dilarung di kolam.
Mereka hanya menaburkan dari sisi bibir kolam saja.
Memang sebagian masih takut akan adanya ledakan susulan, karena abu dari para pendekar itu dilarung di kolam Segaran.
Faktanya, tak terjadi apapun.
Rejo merasa geli.
Dan prosesi aben ini memakan waktu hampir seharian.
Menjelang malam, semua selesai.
Semua warga kembali ke rumah masing-masing.
Malam tiba, kolam segaran tak ada orang samasekali.
Hanya Rejo yang duduk bersantai di bawah pohon waru. Mengamati kolam.
Warga tak ada yang berani mendekat. Kolam yang dikhususkan untuk putri raja ini, mendadak mencekam dan menakutkan.
Peristiwa ledakan dahsyat yang menyebabkan kematian puluhan pertapa dan pendekar ini, cukup menjadi momok dalam fikiran warga, mengenai kolam Segaran. Banyak fantasi menyeramkan muncul di tiap fikiran warga. Mereka meyakini kolam Segaran penuh tuah, dihuni raja dedemit yang siap membunuh siapa saja.
Ini menjadikan warga enggan mendekati lagi Kolam Segaran. Mereka setiap pagi dan petang membakar dupa di bibir kolam. Ketika matahari sudah tenggelam, tak ada satu pun yang berani melintas di sekitaran Kolam Segaran.
__ADS_1
Hanya Rejo saja yang duduk di sekitaran bibir kolam. Setiap hari, dia berusaha menemukan cara, bagaimana bisa menaklukkan buah kelapa yang ternyata mempunyai energi dahsyat itu.
Lima orang mualaf yang menjadi murid Syech Jumadil Kubro memang diperintahkan selalu memantau apa yang dilakukan Rejo di sekitaran kolam.
"Hanya duduk termenung," kata sanga mualaf.
"Apa dia tak melakukan apapun?"
"Tidak Kanjeng Syech."
"Dalam beberapa hari ini hanya duduk saja?"
"Benar, Kanjeng Syech. Mungkin anak muda itu agak goncang setelah kejadian tewasnya puluhan pertapa dan pendekar."
"Bisa saja, tapi kemungkinan itu sangat kecil. Begini saja, besok, tolong antar satu ruas lidi ini kepada Rejo. Katakan, kuncinya ada di satu ruas lidi ini. Itu saja," kata Kanjeng Syech.
Memang benar, esoknya, saat Rejo masih asyik wiridan usai salat dluha. Dia didatangi satu warga mualaf.
"Nak, ini ada sapu ruas lidi. Kuncinya ada di sini."
Tak menunggu jawaban Rejo, sang mualaf ini segera lari terbirit-birit.
Rejo tersenyum.
Memang sedari awal Rejo yakin, bahwa ada salahsatu Kanjeng Syech yang akan terus memantau dia.
"Saya yakin seyakin-yakinnya, ini pasti dari Kanjeng Syech Jumadil Kubro. Matur nuwun Kanjeng Syech, akan saya coba temukan jawabnya."
Rejo berfikir keras, sebenarnya untuk apa dia diberi lidi yang ringkih ini. Lidi ini pasti patah, seandainya dijadikan alat untuk mengangkat buah kelapa yang selalu mengeluarkan gelembung.
Rejo terus merenung.
Ini dilakukan berhari-hari di pinggir Kolam Segaran. Bedanya, saat ini sudah tak ada lagi hiruk pikuk orang sakti yang ingin mencoba kehebatan melawan kolam yang airnya berwarna biru itu.
Rejo hanya sendirian.
Berhari-hari yang dilakukan Rejo hanyalah memegang dan menimang lidi pemberian seseorang, yang diyakini atas suruhan Kanjeng Syech Jumadil Kubro ini.
"Pemberian lidi ini, tak terpaut jauh dengan peristiwa ledakan yang menewaskan puluhan pertapa dan pendekar. Bisa jadi ada kaitannya."
"Saya melihat sendiri, tewasnya para pertapa itu, karena mereka secara bersama-sama mengerahkan tenaga dalam untuk dihantamkan ke arah kelapa bergelembung itu."
"Lalu muncul ledakan hebat."
"Dan tewaslah mereka."
Rejo terus befikir dan berfikir. Bahkan hingga larut malam.
Nyamuk-nyamuk pun selalu mengerubuti kaki, tangan, dan badan Rejo.
"Plak... plak... plak!"
Rejo berkali-kali menampar kulitnya sendiri untuk membunuh nyamuk yang menggigitnya."
"Nyamuk? Nyamuk? Oh... jadi ini inti dari pemberian lidi ini. Allahu Akbar. Sungguh luar biasa ilmu Kanjeng Syech Jumadil Kubro," teriak Rejo.
Bangkit dari duduknya, lalu berjingkrak-jingkrak kegirangan seperti anak kecil. Tapi wajar saja, usia Rejo memang masih muda.
__ADS_1
Tentu saja Rejo sangat senang bisa menemukan jawaban bagaimana menangani buah kelapa penyebab gelembung ini.
"Terima kasih Ya Allah, sungguh nyamuk ini memberi pelajaran sangat berharga."
Rejo sujud syukur terlebih dahulu.
Rejo lalu mencari duduk yang cukup diterangi cahaya bulan. Dibiarkan nyamuk menggigit kulitnya. Lalu, dengan jari telunjuk, dia mencoba menekan nyamuk itu.
"Ini jawabnya."
"Sama seperti kejadian kematian para pertapa dan pendekar. Mereka mengerahkan tenaga dalam secara bersamaan, artinya tak beda jauh ketika saya mengusir nyamuk dengan menepuk kulit yang digigit. Suara plak ketika saya menepuk kulit, sama persis dengan suara ledakan hebat saat tenaga dalam pertapa mengenai permukaan air. Jadi, jika saya mengerahkan dalam sebesar-besarnya untuk dipukulkan ke permukaan air, tentu yang muncul hanya ledakan, tetapi, tak mampu menembus hingga buah kepala yang ada di dasar kolam."
"Untuk itu, Kanjeng Syech Jumadil Kubro mengajari saya melalui lidi kecil ini. Jadi, saya harus mengerahkan tenaga dalam yang besar, karena buah kelapa itu penuh tenaga dalam dari pertapa yang juga Raja Majapahit. Tetapi, bentuknya harus sangat kecil, nyaris sekecil lidi ini. Seperti saya mengusir nyamuk dengan menggunakan satu jari. Tidak ada suara plak. Maka, jika saya menembak buah kelapa di dasar kolam, tentu dengan tenaga dalam yang sekecil lidi, namun penuh tenaga. Tentu tidak akan mengeluarkan ledakan, dan mampu menembus permukaan air."
"Terima kasih Ya Allah, terima kasih Kanjeng Syech."
Rejo mencoba untuk menghimpun tenaga dalam di ujung telunjuknya, lalu ditembakkan ke arah batang pohon waru.
"Dus."
Muncul sedikit asap tepat di titik yang ditembak Rejo. Namun, tak mampu melobangi batang pohon waru itu.
"Selama tenaga dalam ini tak mampu menembus batang waru, tentu kurang kuat untuk mencapai buah kelapa di dasar kolam. Bukankah di permukaan kolam juga dipenuhi tenaga dalam?"
"Nak... engkau harus menghimpun tenaga dalam yang berasal dari Wikramawardhana, yaitu serapan tenaga dalam berwarna merah dari air kolam," tutur lirih Syech Jumadil Kubro, yang mengamati dari jauh apa yang dilakukan Rejo.
"Kenapa tenaga dalam saya tak mampu menembus batang waru?"
Rejo lalu menghimpun tenaga dalam di jari telunjuknya lagi, lalu ditembakkan ke lantai batu kali di pinggir kolam.
"Duak!"
Lantai dari batu kali itu berlubang, dengan retak-retak di pinggirnya. Dan bagian yang terkena tenaga dalam, batunya hancur menjadi pasir.
"Berarti, tenaga dalam ini sebenarnya sudah cukup untuk melubangi batang pohon waru. Buktinya, batu kali ini tembus. Jadi apa yang salah? Kenapa kalau batang pohon waru tak bisa tembus?"
Rejo mulai berfikir cukup dalam.
Rejo lalu menghimpun lagi tenaga dalamnya, lalu ditembakkan ke batang pohon randu.
"Dus!"
Batang pohon randu itu bisa berlubang.
"Hmm. Jadi, masalahnya ada pada pohon warunya, bukan tenaga dalamnya."
Rejo lalu mencari ranting pohon waru. Dipotong-potong pendek, lalu dilemparkan tepat di permukaan pusat gelembung di kolam Segaran.
Ranting-ranting waru itu seakan berkumpul dan menyatu dengan gelembung. Persis seperti buah gayam kering yang dialiri tenaga dalam.
"Ini bukti bahwa pohon waru ini, mempunyai aura yang sama dengan buah kelapa di dasar kolam. Jadi, seandainya saya menembakkan tenaga dalam ke arah buah kelapa, tentu saja tak memberi efek apapun. Bisa jadi, saya malah celaka. Saya harus menemukan cara bagaimana saya bisa menembus batang pohon waru. Dengan demikian, maka saya bisa menembakkan tenaga dalam ke arah buah kelapa di dasar kolam."
Rejo mulai mencoba berbagai cara pengerahan tenaga dalam, bahkan tenaga dalam yang bisa mengeluarkan api dari hidung dan mulut warisan dari Resi Swadaraya. Namun, upayanya tetap saja tak bisa membuat batang pohon waru menjadi berlubang.
Rejo memang berhati-hati untuk upaya terakhirnya ini. Dia tak mau gegabah langsung menembakkan tenaga dalam ke arah buah kelapa di dasar kolam. Rejo ingin seyakin-yakinnya, tembakan tenaga dalamnya langsung memberi dampak positif.
Untuk itu, dia perlu berhari-hari menemukan cara agar tenaga dalamnya mampu melubangi batang pohon waru.
__ADS_1