BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 5b: Sunan Ampel Tantang Kiai Ribang Kuning


__ADS_3

"Benarkah Kanjeng Adipati tadi menyerang saya? Kenapa saya tadi jatuh, karena saya kaget atas teriakan kencang Kanjeng Adipati."


"Ah, rasanya tak mungkin. Sebab, kalau orang biasa, atau orang yang memiliki ilmu rendah, tentu sudah muntah darah atas serangan saya tadi."


"Nyatanya, saya orang biasa, tak merasakan apapun. Mungkin saja, serangan Kanjeng Adipati tadi meleset."


"Ha ha ha, engkau ini aneh-aneh saja, bagaimana mungkin serangan saya bisa meleset?"


"Saya tidak tahu."


"Tidak. Rasanya, ada sesuatu yang belum engkau ceritakan kepada saya. Saya merasakan itu, tapi saya tak tahu. Dan juga, engkau memilih tempat tinggal tepat di perbatasan antara Tanah Perdikan Ribang Kuning ini, dengan tanah Perdikan Bungkul. Tentunya, untuk menemukan tempat itu, bukan hal mudah. Dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai ilmu tingkat tinggi."


"Mungkin saja karena kebetulan. Sebab, saya hanya melihat tempat di sekitaran hutan bambu itu, cocok untuk tempat tinggal."


"Saya tidak percaya."


"Mohon maaf Kanjeng Adipati, memang ada apa sih dengan gubuk saya?"


"Tidak ada apa-apa dengan gubukmu. Tetapi, memilih tempat di situ, bukan perkara yang kebetulan. Saya menduga, ini karena ilmu tingkat tinggi milikmu."


"Ilmu yang mana?"


"Saya yakin, semakin tinggi ilmu pendekar, maka, dia semakin bisa menyembunyikan jati diri sebenarnya," kata Ki Wiroseroyo sambil menatap tajam ke mata Rejo.


Mata Rejo seakan dihujam jarum tajam.


Perih, dan sangat menyakitkan.


Lambat laun, Rejo mulai mengeluarkan air mata.


"Ya Allah, ilmu apa ini?" kata hati Rejo.


"Nah, terbukti kan, bahwa kamu mempunyai ilmu tinggi, meski engkau sembunyikan secara rapi."


"Mohon maaf Kanjeng Adipati, apa buktinya?"


"Itu, matamu berair."


"Lantas, kenapa kalau mata saya berair."


"Saya tadi mengeluarkan Aji-aji Sodo Lancip Clorot. Yaitu ilmu tenaga dalam untuk mengukur kekuatan lawan. Caranya, dengan menatap mata sang lawan. Semakin dia kesakitan, berarti semakin tinggi ilmu sang lawan. Nah, engkau tentu kesakitan hingga matamu berair."


"Ah, Kanjeng Adipati ini ada-ada saja. Mata saya berair, karena memang kerap berair. Bagaimana mungkin mata saya tidak berair, karena setiap hari setiap saat harus menatap tanah, dikarenakan bungkuk saya. Bayangkan kalau saya berjalan di terik matahari. Pantulan sinar matahari dari tanah, sungguh panas dan menyakitkan. Itu penyebab mata saya kerap berair. Buktinya lagi, saya tak merasakan apa-apa," kata Rejo berbohong, dan di dalam hati, Rejo sebanyak-banyaknya mengucapkan istighfar.


"Terserahlah. Yang jelas, tanah yang engkau tempati untuk gubuk itu, bukan tanah sembarangan. Saya sebagai adipati di Ribang Kuning dan Kanjeng Adipati Bungkul sudah mengerahkan berbagai ilmu untuk membuat pagar gaib. Selain berfungsi untuk memagari wilayah perdikan, juga untuk upaya menghadang serangan ke Kerajaan Majapahit. Kanjeng Adipati Bungkul juga melakukan serupa. Dan tentunya, ilmu kami berbeda."


Rejo diam. Dia merasa bahwa jati dirinya perlahan mulai terbongkar.


"Nah, di tanah yang engkau tinggali itu, adalah persinggungan dari dua pagar gaib. Kamu tahu apa artinya?"


Rejo menggeleng.


"Artinya, di situ, terjadi benturan dua energi yang sama besar. Dua energi itu saya pastikan berbeda, karena ilmu saya dan Kanjeng Adipati Bungkul berbeda. Meski begitu, kami mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebagai benteng bagi Kerajaan Majapahit untuk serangan dari kali atau laut."


"Tentunya, dengan benturan dua energi itu, akan berakibat kepada siapapun yang mendekat. Nah, nyatanya, engkau tinggal di sana, dan dibuktinya engkau sehat-sehat saja. Ini menandakan bahwa dalam dirimu mengalir tenaga dalam yang melebihi energi pagar gaib itu. Hanya saja, begaimana mungkin engkau bisa menyembunyikannya begitu rapi. Saya penasaran."


Rejo tertawa terkekeh.

__ADS_1


"Baru kali ini, ada yang mengatakan orang bungkuk mempunyai kesaktian. Dan saya mengucapkan terima kasih, jika saya dinilai Kanjeng Adipati Ribang Kuning yang terkenal sakti ini, mengatakan saya juga orang sakti."


Ribang Kuning pun ikut tertawa terbahak.


Usai mengobrol cukup lama, Rejo pamitan.


"Rejo, kalau ada waktu, mainlah ke sini. Saya senang mengobrol denganmu."


Rejo mengangguk, dan berpamitan.


Rejo pun mengiyakan permintaan Ki Wiroseroyo.


Hampir setiap ada kesempatan, Rejo bermain ke tanah Perdikan Ribang Kuning untuk mengobrol bersama sang Adipati.


Mereka menjadi akrab, bahkan sudah mengarah menjadi sabahat.


Jika pada awalnya, mereka mengobrolkan tentang kesaktian, kini mereka mengobrol tentang apa saja. Bahkan, untuk obrolan yang tak penting sekali pun.


Saking akrabnya, jika Rejo tak bertandang, prajurit disuruh Ki Wiroseroyo untuk menjemput dengan kereta kuda. Rejo pun mau hadir.


Hebatnya, sejauh ini, Ki Wiroseroyo tak tahu siapa sebenarnya Rejo. Dan Rejo sangat hati-hati dalam menyembunyikan jati dirinya sebagai Pendekar Gunung Tidar.


Hingga satu hari, saat digelar waktu sabung ayam, Rejo hendak berangkat ke Ribang Kuning. Tetapi, Rejo mengurungkan, karena dia melihat Raden Rahmat sudah duduk-duduk di bawah pohon waru.


"Kanjeng Raden sudah lama duduk di sini? Kenapa tidak masuk ke gubuk saya? Saya tadi istirahat."


"Belum lama, kok Bapak Rejo. Saya menunggu Bapak Rejo di sini, karena saya minta Bapak Rejo menemani saya."


"Baiklah Kanjeng Raden. Kemana pun Kanjeng raden pergi, akan saya temani. Kapan kita pergi?"


"Tetapi, yang saya minta tolong, bukan Bapak menemani saya, tapi mengawal saya."


"Bagaimana mungkin saya mengawal Kanjeng Raden, yang dikawal jauh lebih sehat daripada yang mengawal."


"Bapak... bapak... ada-ada saja. Ya tentu saja, yang mengawal harus lebih gagah daripada yang dikawal."


"Hah, bagaimana mungkin? Bukankah saya bungkuk. Dan untuk berjalan saja saya kesulitan serta tertatih."


"Baiklah. Saya tetap ingin bapak Rejo kawal. Apa Bapak Rejo bersedia?"


"Saya ikhlas. Saya siap mengawal Kanjeng Raden."


"Kalau begitu, tolong Bapak Rejo ambil pedang pusaka kerajaan Mataram milik bapak. Saya tunggu di sini."


Rejo mengangguk dan membungkuk, lalu tertatih masuk ke gubuknya.


Pedang kerajaan itu ditanting di tangan kiri.


"Pedang sudah saya bawa. Baiklah Kanjeng Raden, kapan kita berangkat."


Raden Rahmat beranjak berdiri, dan mengambil sesuatu dari buntalannya.


Di tangan Raden Rahmat, ada secarik kain berwarna kuning, dan diberikan kepada Rejo.


"Bapak Rejo, tolong pakai kain kuning ini sebagai ikat kepala."


Karena tak mungkin dilakukan sambil berdiri, Rejo duduk, dan mulai memasang kain kuning itu sebagai ikat kepala.

__ADS_1


Allahu Akbar! Begitu memakai kain kuning itu, perlahan punuk di punggung Rejo seakan tenggelam masuk, ke dalam punggungnya.


Rejo merasakan, begitu punuk sudah tak terlihat, badannya menjadi sangat segar. Nafasnya lega. Suaranya tak lagi mengecil, tapi begitu mantap.


Dari tulang ekornya mulai mengalir hawa panas, dan mulai menyebar ke sekujur tubuhnya.


Rejo hanya melongo, dan bingung atas perubahan dirinya.


Dilihat dua lengannya. Ketika bungkuk, lengan itu sangat ringkih dan nggelambir. Tetapi, begitu mengenakan ikat kepala kuning ini, dua lengannya sangat kokoh. Bahkan, jauh lebih kekar daripada sebelumnya.


Rejo beranjak berdiri.


Sungguh gagah, tegap dan kekar.


Segera Rejo bersimpuh menjura hormat kepada Raden Rahmat. Dia sangat meyakini, Raden Rahmat adalah sosok junjungan, dan dia siap mengabdi.


"Bapak Rejo, sekarang engkau telah siap mengawal saya?"


"Kapanpun Kanjeng Raden, saya siap."


"Baiklah Bapak Rejo. Saya ingin berdakwah ke Ribang Kuning."


Rejo tercenung.


"Bukankah hari ini akan digelar sabung ayam, dan didatangi banyak pangeran dan pejabat Majapahit?"


Rejo tercenung kaget. Dia tak menjawab.


"Saya ingin Ki Wiroseroyo masuk Islam."


Rejo diam.


"Saya akan menantang Ki Wiroseroyo adu ayam jago."


"Mohon maaf Kanjeng Raden, bukankah Kanjeng Raden tak bawa ayam jago."


Raden Rahmat lalu melepas satu bakiak kayu jatinya.


Bakiak itu dimasukkan dalam buntalan, lalu Raden Rahmat menengadahkan tangan berdoa kepada Allah.


Rejo yang tak mengerti doa apa yang dibaca, ikut-ikutan menengadahkan tangan dan bilang amin... amin... amin....


Usai berdoa, Raden Rahmat merogoh ke buntalannya.


Yang dipegang saat ini adalah seekor ayam kecil. Ayam kate.


Ayam itu diserahkan kepada Rejo, untuk dibawa.


"Ayam ini yang akan saya tarungkan melawan ayam-ayam jago milik Ki Wiroseroyo."


Setelah Rejo memasang pedang di punggung, mereka pun melangkah kaki menuju ke tanah perdikan Ribang Kuning.


Meski sangat gagah menunduk. Dia sangat sungkan kepada Raden Rahmat.


Raden Rahmat yang selalu mengajak omong Rejo.


Bahkan, ternyata sang junjungan ini sangat jenaka. Beberapa guyonannya, sebenarnya bisa membuat Rejo terpingkal, tapi tawa lepas berusaha ditahan, karena dirasa tidak sopan.

__ADS_1


Sementara di istana Ribang Kuning, penonton dan penantang sabung ayam sudah berjubel. Raden Rahmat yang menggunakan jubah dan dengan kawalan sosok gagah, tentu mengundang perhatian siapapun yang hadir, termasuk Ki Wiroseroyo.


__ADS_2