
Namun, karena tak segera mengeluarkan tantangan sabung ayam, Ki Wiroseroyo hanya sesekali melirik pria berjubah dangan pengawal gagah.
Setelah kemenangan beberapa kali, agaknya Ki Wiroseroyo sudah tak tahan.
"Hei orang asing. Engkau tentu ingin menjajal ayam cebol milikmu itu. Kapan engkau menantang saya?"
Ki Wiroseroyo melirik ayam kate yang dibawa Sang Pengawal.
Raden Rahmat dengan tenang mengatakan singkat.
"Nanti saya tantang, setelah semua ayam di sini kalah."
"Ha ha ha. Sombong sekali engkau dengan ayam cebolmu itu. Ya sudahlah. Tentu nanti sampai waktunya juga, ayam cebolmu akan mati menggelepar. Saya sabar menunggu."
Tentu saja, titah dari sang Adipati ini membuat penonton penasaran. Penonton juga merasa heran, bagaimana mungkin ayam cebol yang dipegang pengawal gagah itu, akan melawan ayam-ayam jawara milik Ki Wiroseroyo. Ayam-ayam milik pangeran atau pejabat yang terlihat gagah-gagah saja, selalu berakhir kematian.
Maka, penonton pun dibuat penasaran, dan rela menunggu sampai selesai.
Memang benar saja, menjelang sore, semua ayam penantang sudah menjadi bangkai, karena dibunuh ayam Ki Wiroseroyo dalam sabung.
"Sekarang, hanya tinggal ayammu. Apa tantanganmu. Barapa taruhanmu?" tanya Ki Wiroseroyo kepada Raden Rahmat.
"Baiklah Kanjeng Adipati. Sudah tiba waktunya bagi saya, untuk mengalahkan sebelas ayam milik Kanjeng Adipati."
"Ha ha ha. Sombong sekali engkau orang asing. Taruh semua taruhanmu di lantai, dan pilih sendiri ayam saya untuk bertarung melawan ayam cebolmu."
"Saya, tidak mau taruhan uang."
"Apa yang engkau mau."
"Taruhan nyawa."
"Hah, sombong sekali engkau!"
Para penonton langsung tegang.
"Saya tak kenal kamu, orang asing. Tiba-tiba datang ke sini untuk cari gara-gara. Engkau menantang taruhan nyawa. Untuk apa saya melayani orang edan sepertimu?
"
"Apa Kanjeng Adipati takut?"
"Hah? Ki Wiroseroyo takut kepadamu? Yang benar saja! Majapahit saja selalu memerhatikan semua omongan saya, dan saya diminta mengabdikan kesaktian saya untuk menjaga Majapahit. Tiba-tiba engkau anak muda berjubah menantang taruhan nyawa? Engkau punya pengawal lagi! Apa-apaan ini?" teriak Ki Wiroseroyo kalap.
Raden Rahmat diam, tapi menatap tajam.
"Pengawalmu itu, sepertinya saya tak asing lagi. Tapi saya tak tahu bertemu di mana. Karena membawa pengawal, tentu engkau bukan orang sembarangan. Siapa sebenarnya kamu?"
"Tak perlu saya tunjukkan siapa saya. Tolong Kanjeng Adipati jawab, apa berani meladeni tantangan saya?"
"Bagaimana mungkin saya melayani tantangan orang edan sepertimu?"
Raden Rahmat menyuruh Rejo maju mendekati Ki Wiroseroyo.
Namun segera dihalangi prajurit.
Rejo melepaskan tali pedang di punggungnya.
"Kasihkan pedangmu kepada Kanjeng Adipati, bersama warangkanya," suruh Raden Rahmat.
Rejo dengan menghormat, dan menaruh pedang di kedua telapak tangannya, dam mulai berjalan berjongkok mendekati singgasana Ki Wiroseroyo.
Begitu di tangan Ki Wiroseroyo, pedang itu diloloskan dari warangka, dan diamati serius.
"Hmm, rupanya pengawalmu berasal dari kerajaan Mataram. Lalu, untuk apa engkau menyuruh pengawalmu menunjukkan pedangnya. Apa mau pamer."
"Tidak. Saya suruh pengawal untuk menunjukkan pedang kepada Kanjeng Adipati, sebab dengan pedang itulah Kanjeng Adipati bisa memenggal kepada saya dan kepada pengawal saya, jika ayam saya kalah."
"Ha ha ha. Jadi ini maksudnya. Baiklah, siaplah untuk saya penggal."
"Jadi, Kanjeng Adipati menerima tantangan saya?"
Ki Wiroseroyo terdiam sesaat. Dilihatnya semua mata penonton, pejabat dan pangeran.
"Tidak. Sungguh memalukan bagi Ribang Kuning, karena ayamnya mengalahkan ayam cebol. Tidak, saya tidak mau bertarung."
"Bukankah itu pedang pusaka kerajaan Mataram?"
"Benar."
"Jika ayam Kanjeng Adipati menang, dan kepala kami sudah menggelinding, tentu sebuah peristiwa besar, karena Adipati Ribang Kuning berhasil memenggal keluarga kerajaan Mataram dengan pedangnya sendiri. Tolong pikirkan."
Tiba-tiba saja, dari penonton ada yang berteriak.
"Lawan! Lawan! Lawan!"
Penonton tak sabar melihat ayam cebol itu menjadi bulan-bulanan ayam jawara milik Ki Wiroseroyo.
Sembari menimbang-nimbang pedang itu, Ki Wiroseroyo akhirnya menangguk.
"Karena keinginan rakyat saya. Baiklah, saya terima tantanganmu, dan bersiaplah untuk mati."
"Sebentar, Kanjeng Adipati. Itu terjadi jika ayam saya kalah. Bagaimana kalau ayam saya menang?"
Ki Wiroseroyo kaget.
"Ha ha ha, kamu ini ada-ada saja. Ayam saya tak mungkin kalah dari ayam cebol itu. Untuk melompati ayam saya saja, ayammu tak mampu."
"Bagaimana kalau ayam saya menang?"
"Ah mana mungkin."
"Bagaimana kalau ayam saya menang?"
"Ah tak mungkin."
"Sekali lagi, bagaimana kalau ayam saya menang?"
Raden Rahmat menatap tajam ke arah Ki Wiroseroyo.
"Baiklah, kalau ayammu menang, apa engkau akan memenggal leher saya juga?" kata Ki Wiroseroyo dengan terkekeh geli.
"Baiklah. Tidak seperti itu, kalau ayam saya menang, saya tak ingin memenggal leher Kanjeng Adipati. Saya juga tak mau menguasai Ribang Kuning. Saya hanya ingin, Kanjeng Adipati, dan semua yang hadir di sini, menirukan apa yang saya ucapkan nanti. Jika setuju, kita akan bertarung ayam."
__ADS_1
Dirasa syaratnya sangat ringan, Ki Wiroseroyo langsung mengiyakan.
"Baiklah, ayo kita sabung ayam."
Raden Rahmat meminta ayam kate dari tangan Rejo, dan melangkah ke tengah arena sabung.
Raden Rahmat menelus ayam itu seraya meneriakkan:
"Ash hadu alla ilaha Illahllah. Wa Ash hadu anna muhammadarrosululloh."
"Kau teriak apa itu tadi?" tanya Ki Wiroseroyo.
"Mantra."
"Mantra apa?"
"Mantra biar ayam saya menang."
"Ha.... ha.... ha....., ayam cebolmu bisa menang? Yang bakal terjadi adalah, kepalamu dan kepala pengawalmu akan menggelinding, karena akan saya tebas dengan pedang kalian sendiri. Bersiaplah," kata Ki Wiroseroyo, sambil memainkan pedang itu.
"Kita buktikan di arena sabung. Silakan Kanjeng Adipati menentukan sendiri, mana ayam yang akan diadu melawan ayam saya ini."
Tampak sekali Ki Wiroseroyo meremehkan ayam kate milik Raden Rahmat.
"Engkau saja yang pilih sendiri ayam milik saya. Semua sama saja."
Ki Wiroseroyo sangat yakin, setiap ayam aduan miliknya, bakal menang mudah. Sebab, sebelas ayam aduannya sudah melalui pendadaran tirakat, di mana di dalam tubuhnya dititipkan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi. Bahkan, sejauh ini belum ada satu pun lawan yang mampu mengalahkan ayam milik Ki Wiroseroyo.
Lebih-lebih melihat ayam kate yang dibawa Raden Rahmat. Ayam-ayam yang berukuran jauh lebih besar dan lebih gagah saja, dengan mudah dikalahkan ayam milik Ki Wiroseroyo, apalagi ayam cebol itu.
Justru Raden Rahmat melihat kelemahan mendasar di arena sabung ayam Ribang Kuning ini. Umumnya, yang diadu adalah ayam-ayam dengan postur gagah menjulang. Jadi, sangat mungkin ayam aduan milik Ki Wiroseroyo bakal kesulitan jika berhadapan dengan ayam ukuran cebol.
Karena itu, baliak yang didoakan dan menjelma menjadi ayam ini, bukanlah ayam yang gagah. Melainkan hanya ayam kate, yang tingginya, tak lebih dari paha ayam aduan Ki Wiroseroyo.
"Silakan Kanjeng Adipati memilih sendiri. Ayam saya siap untuk menang," kata Raden Rahmat, sambil berjongkok mengelus ayamnya, di tengah arena sabung.
Semua penonton menunggu dengan tegang dan penasaran.
Dan akhirnya Ki Wiroseroyo memanggil satu prajurit untuk mengambil ayam aduan dari satu kurungan.
"Ayam ini bernama Begundal Cemani. Ini ayam yang paling muda dan belum banyak bertarung. Coba lawan ayam saya ini," kata Ki Wiroseroyo meremehkan.
Prajurit segera melepas ayam jago hitam legam ini di tengah arena.
"Ash hadu alla ilaha Illahllah. Wa Ash hadu anna muhammadarrosululloh."
Teriakan Raden Rahmat sekali lagi, sambil mengelus dan meniup kepala ayam katenya.
Lalu, ayam itu dilepas di arena sabung.
Dua ayam beda ukuran ini berhadapan.
Bulu-bulu di leher mulai berdiri, tanda dua ayam jago ini siap menggebrak.
Agaknya, strategi dengan ayam kate ini berhasil. Ayam bernama Begundal Cemani dibuat kesulitan menyerang dan menggebrak.
Setiap kali hendak menggebrak, si ayam kate ini menerobos di sela kaki ayam raksasa itu.
Ayam kate ini agaknya memerihitungkan dengan benar, kapan akan menyerang.
Para penonton pun mulai bosan, karena ayam milik Raden Rahmat hanya menghindar dan berlari terus-terusan.
Namun, setelah diyakini ayam raksasa bernama Begundal Cemani ini sudah kelelahan, sang ayam kate segera berbalik arah, dan langsung menggebrak bagian leher sang lawan.
Taji lancipnya yang mungil mengenai sasaran. Satu taji menancap di mata kiri ayam, dan satu taji lainnya menancap di leher ayam raksasa itu.
Meski ayam raksasa masih bisa memberikan perlawanan, dengan darah mengucur di kelopak matanya, dan lehernya memuncratkan darah, tapi sangat lemah.
Semua penonton yang semula mulai jemu, terperanjat menyaksikan serangan kilat si ayam kate yang tepat sasaran itu.
Semua diam membisu.
Tak lama, ayam raksasa dengan darah hitam kental itu, ambruk, menggelepar, lalu mati.
Ki Wiroseroyo kaget alang-kepalang. Bahkan dia sampai terjingkat dari kursinya, melihat ayam aduan miliknya menggelepar meregang nyawa. Lebih-lebih lagi, ayam aduan itu sudah dititipi tenaga dalam luar biasa, dan lebih memalukan lagi, yang mengalahkan adalah ayam cebol.
Dengan tenang, Raden Rahmat memasuki arena sabung, mengambil ayam kate miliknya.
"Sudah terbukti kan, ayam saya menang. Ayo, keluarkan lagi ayam yang lebih hebat. Akan saya kalahkan lagi."
Perlahan, dari rasa kaget mulai berganti menjadi rasa marah.
Ki Wiroseroyo memanggil prajurit. Kali ini dia menyiapkan ayam jago yang paling hebat.
Sebelum dibawa ke arena sabung, Ki Wiroseroyo mengelus ayam itu, dia komat-kamit membaca mantra, lalu meniup kepala ayam itu.
Raden Rahmat melangkah lagi memasuki arena sabung.
"Ash hadu alla ilaha Illahllah. Wa Ash hadu anna muhammadarrosululloh."
Dielus ayam, lalu ditiup kepalanya.
"Kanjeng Adipati, mantramu tak akan bisa mengalahkan mantra yang saya ucapkan. Silakan lepas lagi ayamnya."
Dan memang pertarungan ayam pun terjadi.
Seperti sebelumnya, ayam kate hanya berlari-lari dan menghindar. Namun, begitu ayam lawan sudah kelelahan, sekali gerak, ayam kate menang.
"Jangankan satu ayam, sisa 9 ayam, masukkan ke arena sabung semua. Insya Allah, ayam saya yang cebol ini, akan membunuhnya satu per satu."
Ki Wiroseroyo mulai kalap. Harga dirinya sebagai Adipati yang terkenal sakti, dan mempunyai ayam aduan hebat seakan tercabik.
"Engkau sudah menghina saya."
"Tidak. Sungguh tidak. Saya pun belum meminta taruhan, yaitu Kanjeng Adipati mengikuti apa yang saya ucapkan. Belum. Sampai seluruh ayam aduan milik Adipati bisa dikalahkan," kata Raden Rahmat.
Para pejabat dan pangeran hanya bisa melongo. Tapi, mereka mulai tertarik dengan mantra yang diucapkan raden Rahmat. Mereka menunggu, sebenarnya, apa mantra itu, dan ingin menghaoalnya.
Kepalang tanggung, akhirnya Ki Wiroseroyo meminta persetujuan untuk melepas 5 ayam aduannya. Dan Raden Rahmat menyetujui.
Pertarungan antara satu ayam kate melawan 5 ayam raksasa itu, seakan tak imbang. Tapi, faktanya, satu per satu dari lima ayam raksasa itu tumbang meregang nyawa.
Peluh Ki Wiroseroyo bercucuran deras.
__ADS_1
"Siapa anak muda ini, kenapa ayam-ayam saya bisa kalah dan mati, padahal di setiap ayam ini saya titipi tenaga dalam, dan telah saya tirakati berbulan-bulan. Siapa sebenarnya anak muda ini?" pikir Ki Wiroseroyo.
Sebenarnya, untuk menjaga kemungkinan dipermalukan lebih dalam lagi, Ki Wiroseroyo hendak mengakhiri pertarungan itu.
Tetapi, para penonton berteriak-teriak meminta sabung ayam dilanjutkan, untuk mengetahui siapa sebenarnya yang akan memenangkan pertarungan.
"Ayam Kanjeng Adipati tinggal empat. Silakan keluarkan semua, termasuk titipi dengan semua ilmu yang Kanjeng Adipati punya, saya tetap mengandalkan mantra saya. Dan Insya Allah sayalah yang menang."
Mendengar tantangan itu, Ki Wiroseroyo tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. Sebenarnya, dia tahu, ayam yang akan dititipi seluruh ilmunya, tak akan bisa berumur panjang. Paling banter, hanya mampu bertahan selama tujuh hari, setelah itu akan mati dengan kondisi tubuh gosong. Namun, karena sudah kepalang malu, Ki Wiroseroyo menerima tantangan itu.
Empat ayamnya sudah disiapkan. Seluruh pusaka yang dipunya, dikeluarkan dari tempat semayamnya. Bahkan, karena kesaktiannya, di empat ayam ini, ditanam keris-keris kecil.
Bahkan, karena ilmu tingkat tingginya, mata empat ayam ini berubah menyala.
Sungguh, ini menakutkan para penonton, yang hatinya berdebar-debar tersambar getaran tenaga dalam luar biasa, yang tepancar dari tiap ayam aduan ini.
Raden Rahmat, bukannya melepas ayamnya, tapi menebar pandangan sekeliling. Dilihatnya penonton, seorang ibu tua yang ditemani anak ayam kecil. Agaknya, anak ayam ini ikut ke mana saja, si tuan pergi.
Raden Rahmat mendatangi ibu tua itu, mengajak omong, dan meminjam anak ayam.
Si ibu tua ini mengizinkan.
Dengan memegang anak ayam itu, Raden Rahmat memasuki arena.
"Ash hadu alla ilaha Illahllah. Wa Ash hadu anna muhammadarrosululloh."
Usai berteriak, dielusnya anak ayam itu, lalu ditiup di bagian kepala.
"Anak ayam, dengan izin Allah swt. Kalahkan empat ayam besar itu," bisik raden Rahmat kepada ayam kecil itu.
Begitu dilepas di arena sabung. Tentu saja, ayam kecil itu menjadi bulan-bulanan empat ayam aduan besar itu.
Penonton bersorak sorai.
Si ibu pemilik anak ayam, tak tega melihat hewan piaraannya berguling-guling kena gebrak empat ayam jago raksasa itu.
Hanya saja, peluh dingin mengalir dari dahi Ki Wiroseroyo. Dia didera ketakutan luar biasa. Sebab, dia melihat gelagat, empat ayam miliknya, bakal menyusul tujuh ayam aduan lainnya, alias menggelepar tewas.
Ki Wiroseroyo melihat, meski berguling-guling, anak ayam ini sebenarnya melakukan serangan sedikit demi sedikit.
Meski tubuhnya penuh luka terkena taji, anak ayam itu masih bisa bangkit, karena luka yang didapat tidaklah di tempat vital.
Adapun, serangan anak ayam itu, meski tajinya masih mungil dan tumpul, tapi telak mengenai titik-titik vital di leher ayam.
Lebih-lebih, tiap ayam itu dititipi dan diselipi keris pusaka. Tentunya, jika terkena serangan, tentu sang lawan bakal meledak ambyar. Nyatanya, ayam kecil itu masih tegar.
Pertarungan tak berimbang ini hingga memnghipnotis para menonton ke arah rasa kasihan terhadap anak ayam, yang jadi bulan-bulanan, dan darah mengucur dari berbagai tempat. Bahkan penonton mulai berteriak-teriak meminta sabung dihentikan.
Semakin penonton berteriak, semakin peluh dingin mengucur dari dahi Ki Wiroseroyo.
Benar-benar pertarungan yang berlangsung sangat lama.
Namun, ketika semua sudah kelelahan dan para penonton tak berani lagi melihat ke arah arena sabung, si anak ayam, dengan rupa yang tak berbentuk lagi, langsung menggebrak satu ayam.
"Brak!"
"Keok!"
ayam raksasa itu berteriak.
Menggelepar, lalu mati.
Dari perutnya, keluar sebuah keris kecil.
Ayam lainnya, menyusul tewas dengan cara sama.
Kini, hanya tinggal anak ayam sempoyongan berdiri di antara empat ayam yang mati.
Raden Rahmat segera mengambil anak ayam itu, lalu membasuh seluruh luka ayam itu dengan air yang disediakan.
Tak lama, ayam itu kembali bersih, sehat dan tanpa luka.
Anak ayam kembali kepada si ibu tua.
"Sekarang terbukti. Mantra saya jauh lebih ampuh daripada ilmu kanoragan Kanjeng Adipati. Saya berkenan mengajarkan mantra ini kepada yang hadir di sini."
Tentu saja, seluruh penonton mengiyakan gembira.
"Ash hadu alla ilaha Illahllah. Wa Ash hadu anna muhammadarrosululloh."
Kata Raden Rahmat ditirukan semua penonton, termasuk Ki Wiroseroyo.
Mereka mengulang berkali-kali sampai hapal di luar kepala.
"Nah, bapak dan ibu semua. Jika hendak sabung ayam, bacakan mantra tadi, elus bulunya, dan tiup kepalanya. Ayam Bapak ibu akan menang," kata Raden Rahmat.
Lalu, karena malu, Ki Wiroseroyo menyuruh seluruh yang hadir untuk pulang.
Kini, tinggallah Raden Rahmat, sang pengawal yang tak lain adalah Rejo, dan Ki Wiroseroyo dan beberapa prajurit.
"Anak muda, saya akui, engkau yang menang. Ini pedangmu," kata Ki Wiroseroyo sambil mengulurkan pedang kepada sang pengawal.
"Sekarang, saya harus menirukan apa?"
"Tidak ada yang perlu ditirukan. Kanjeng Bupati sudah menirukan mantra tadi. Ya itu, yang perlu ditirukan."
"Anak muda. Mantra itu sebenarnya apa, dari bahasa apa, dan apa artinya?"
"Sebenarnya, itu bukan mantra, tapi disebut sahadatain. Yaitu, pengakuan atas keesaan Allah swt, dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
"Apa maksudnya?"
"Dengan mengucapkan kalimat tadi, berarti Kanjeng Adipati sudah memeluk agama Islam, dan meninggalkan Agama Hindu. Dalam Islam, tidak ada lagi sebutan dewa. Hanya ada satu tuhan yang berhak disembah, yaitu Allah swt."
"Saya masih belum mengerti."
"Begini saja, karena memeluk agama itu adalah pilihan, maka saya pasrahkan kepada pengawal saya, untuk bercerita tentang Islam. Saya kesini lagi tiga hari kemudian. Jika Kanjeng Adipati berkenan memeluk Islam, maka, akan dilanjutkan kepada pelajaran berikutnya. Jika Kanjeng Adipati menolak Islam dan tetap memilih Hindu, juga tidak apa-apa.
Raden Rahmat pun pamit, dan meninggalkan Rejo bersama Ki Wiroseroyo.
Kini, tinggallah mereka berdua.
“Pengawal, siapa namamu?” tanya Ki Wiroseroyo.
__ADS_1