BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 5e: Sunan Ampel Diminta Nikahi Putri Ki Wiroseroyo


__ADS_3

Sejak saat itu, santri penasaran ini mencoba mengintip cara kedatangan Rejo dan Ki Wiroseroyo dan cara pergi keduanya. Namun, selalu gagal.


Sebab, ketika diintip, mereka berdua hanya duduk-duduk saja di belakang masjid. Tetapi, ketika si santri mengalihkan pandangan ke tempat lain atau meninggalkan tempat mengintipnya, tiba-tiba saja dua santri terbaru Sunan Ampel ini menghilang.


Santri penasaran ini selalu gagal melihat proses perginya Rejo dan Ki Wiroseroyo, hingga keduanya telah 'menamatkan' semua kitab, di hari ke sepuluh.


"Kanjeng Sunan, semua buku dan kitab telah kami buka satu persatu secara perlahan. Tapi, kami tak tahu isinya apa," kata Ki Wiroseroyo, yang duduk berdampingan bersama Rejo, usai salat Maghrib berjamaah, di antara santr-santri lain.


"Baiklah. Kalau begitu saya tugaskan Bapak berdua berdua untuk syiar Islam," kata Sunan Ampel, yang duduk di hadapan mereka.


"Bagaimana mungkin kami syiar Islam, sedangkan pengetahuan kami masih dangkal?"


"Lho, bukankah Bapak berdua sudah membuka-buka kitab?"


"Sudah."


"Berarti, Ya sudah. Bapak berdua sudah bisa syiar Islam."


Keduanya diam, tak berani membantah.


"Saya tugaskan Ki Wiroseroyo untuk menghidupkan lagi masjid pertama saya, di dekat Ribang Kuning. Saya sudah mengumumkan kepada penduduk Ribang Kuning, bahwa Bapak akan mengajarkan mantra baru."


"Untuk sementara, Bapak Rejo membantu Ki Wiroseroyo dalam berdakwah di masjid itu. Jika Ki Wiroseroyo sudah bisa ditinggal, saya tugaskan Bapak Rejo untuk berdakwah di pesisir selatan, yang menjadi wilayah Ratu Laut Selatan Nyai Roro Kidul. Namun, ketika saya butuh pengawalan, Bapak Rejo akan saya panggil ke sini secepatnya. Untuk itu, mohon bakiak saya, yang bawa adalah Bapak Rejo. Biar bisa cepat sampai."


Santri penasaran manggut-manggut.


"Oh, jadi dua bapak ini bisa cepat sampai atau cepat menghilang, karena memakai bakiak Kanjeng Sunan?" gumam dia sendirian.


Karena sudah dititahkan seperti itu, Rejo dan Ki Wiroseroyo tak berani membantah.


"Ki Wiroseroyo, karena kemampuan, kedudukan, dan tempat tinggal Bapak di Ribang Kuning, maka jenengan saya kasih sebutan, Sunan Ribang Kuning. Untuk Rejo, saya belum menemukan sebutan yang pantas."


Rejo awalnya terdiam. Sunan Ampel masih berfikir keras.


Rejo memberanikan berbicara.


"Mohon maaf Kanjeng Sunan. Kalau memang sebutan itu perlu dan penting, bolehkah saya memilih nama sebutan saya sendiri?"


Sunan Ampel mengangguk.


"Sebutan apa bapak inginkan?"


"Karena sahabat saya sudah Kanjeng Sunan berikan sebutan Sunan Ribang Kuning, maka saya ingin sebutan saya tak beda jauh dengan sebutan sahabat saya, yaitu Sunan Kembang Kuning."


Sunan Ampel tersenyum, lalu mengangguk.


"Dengan mengucapkan bismillahirrrohmaanirrohiim, dengan ini saya beri sebutan Ki Wiroseroyo dengan nama Sunan Ribang Kuning, sedangkan untuk Bapak Rejo, karena memang bapak-bapak bersahabat, saya beri sebutan Sunan Kembang Kuning. Alhamdilillah."


Lalu, Kanjeng Sunan Ampel memimpin doa, dan diamini semua.


"Mohon maaf Kanjeng Sunan. Kenapa disebut Ribang Kuning?" tanya satu Santri memberanikan diri.


Ki Wiroseroyo, yang disebut Sunan Ribang Kuning, menatap ke arah Sunan Ampel.


Sunan Ampel mengangguk, tanda memberikan persetujuan agar Ki Wiroseroyo berbicara.


"Kanjeng Sunan dan semuanya, karena saya bersama Adipati Bungkul dinilai berjasa mengusir penyerang dari arah utara dan Kali Mas, maka saya dan Adipati Bungkul diberi ganjaran tanah perdikan. Tanah perdikan Adipati Bungkul atau Ki Supo disebut Bungkul. Sedangkan, saya kasih nama tanah perdikan itu dengan sebutan Ribang Kuning. Kenapa? Karena di tanah yang diberikan kepada saya itu, banyak ditumbuhi kembang ribang (bunga sepatu). Setahu saya, semua kembang ribang berwarna merah, sedangkan di tanah hadiah itu, semua ribang berwarna kuning. Untuk itu, saya sebut tanah perdikan itu sebagai Tanah Ribang Kuning."


Saat berbicara ini, tidak sedikit santri yang tersenyum geli. Ini tak lain karena saat berbicara panjang lebar, Ki Wiroseroyo ini mengucapkan dengan cedal. Dia kesulitan menyebut huruf R dengan benar. Jadi, yang muncul dari mulutnya, seakan huruf L.


Ini juga yang menyebabkan, nama Sunan Ribang Kuning kurang begitu dikenal. Yang muncul adalah nama Ki Bang Kuning. Dan nama Ki Bang Kuning lebih dikenal daripada Ribang Kuning.


Sunan Ampel yang mendengar cerita ini, dan melihat gelagat senyum para santrinya itu, ikut-ikutan tersenyum.


"Baiklah, Sunan Ribang Kuning, kami mendengarnya seperti Ki Bang Kuning. Ya tak apa-apa, keduanya sama saja."


Ki Wiroseroyo mengangguk gembira, dan tertawa lebar.


"Saya juga tak menyangka, sahabat saya memilih sebutan Sunan Kembang Kuning. Itu kan artinya sama saja dengan Ribang Kuning. Alhamdulillah, saya mempunyai sahabat yang sangat menghargai tanah Ribang Kuning dan saya," kata Ki Wiroseroyo.


Mereka berdua pun berniat pamitan untuk pulang.


Namun, sebelum mereka berdua melangkah keluar masjid, Ki Wiroseroyo mengajak Rejo untuk balik lagi masuk masjid.

__ADS_1


"Kanjeng Sunan Ampel. Mohon maaf, bukannya saya lancang. Dengan ini, saya Ki Wiroseroyo menolak berdakwah di Ribang Kuning, kecuali Kanjeng Sunan Ampel meluluskan satu permintaan saya."


Semua santri kaget. Termasuk Rejo yang duduk di sampingnya, sampai terjingkat dengan mata membelalak menatap ke arah Ki Wiroseroyo.


Ki Wiroseroyo sendiri, menatap tajam ke arah Kanjeng Sunan Ampel.


Kanjeng Sunan Ampel tetap tenang.


Beberapa saat semua terdiam.


Suasana masjid hening.


Semua menunggu perkataan Sunan Ampel.


"Apa permintaanmu?"


"Saya hanya minta satu saja. Saya sampaikan, jika Kanjeng Sunan sudah meluluskannya."


"Bagaimana saya bisa meluluskan permintaan bapak, kalau saya tidak tahu, bapak minta apa."


"Saya hanya minta satu."


"Meski hanya satu, kalau saya tidak tahu."


"Kanjeng Sunan, luluskan dulu, baru saya katakan permintaan saya."


Rejo berdebar. Dia tak menyangka, sang sahabat punya keberanian seperti itu, bahkan cenderung lancang. Tidak seperti itu sikap kepada guru.


Sunan Ampel diam.


Suasana hening.


Ki Wiroseroyo diam, dan tetap menatap tajam ke arah Sunan Ampel.


Cukup lama tanpa suara.


Sunan Ampel akhirnya tersenyum.


"Alhamdulillah, Allahu Akbar. Saya, Ki Wiroseroyo, Adipati Ribang Kuning, menyatakan mendakwahkan Islam dengan jiwa dan raga saya, dengan syarat Kanjeng Sunan Ampel bersedia menikahi putri saya, Karimah," kata Ki Wiroseroyo cukup tegas dan lantang.


Semua terjingkat kaget, termasuk Rejo sampai terjingkat dan jatuh tersungkur, karena sulit menjaga keseimbangan tubuhnya yang bungkuk.


Semua terdiam lagi.


"Kanjeng Sunan tadi sudah menyatakan bersedia meluluskan permintaan saya," kata Ki Wiroseroyo penuh harap.


Kanjeng Sunan Ampel tersenyum.


Tak lama dia mengangguk pelan.


Betapa suka citanya Ki Wiroseroyo melihat anggukan sang Junjungan.


Mereka berdua pun pamit pulang.


"Para santri, ini jalannya takdir," kata Sunan Ampel.


"Demi syiar Islam, saya bersedia, meski saya tidak pernah kenal, seperti putri Ki Wiroseroyo yang bernama Karimah itu. Umurnya berapa? Wajahnya seperti apa? Apakah dia cerewet, pendiam, atau apapun sifat wanita. Sungguh saya tidak tahu."


"Tetapi, sungguh keberadaan Tanah Perdikan Ribang Kuning dan Bungkul sangat penting bagi Pesantren Ampel. Di dua wilayah itu, dipimpin oleh adipati digdaya, yang mana sebelum mengenal Islam, dua wilayah ini sebagai palang pintu bagi penyerang Majapahit yang melalui sungai atau laut utara. Dengan kuatnya Islam di Ribang Kuning maupun Bungkul, Insya Allah kedudukan Ampel akan sangat kuat. Begitu ada yang punya niat menyerang Ampel dari arah pedalaman, tentu akan dihadang oleh Kanjeng Sunan Bungkul dan Sunan Ribang Kuning."


Semua santri lega.


Mereka sebenarnya sudah menduga, bahwa dua santri baru, dan hanya tinggal selama sepuluh hari itu, adalah santri pilitanding.


Dan ini memang terbukti.


Begitu esok harinya, Ki Wiroseroyo mengumpulkan sebagian besar penduduknya, untuk diajak gotong-royong membangun lagi masjid dari bambu yang terlihat reot itu. Dengan bahan seadanya, dibangun lagi masjid itu.


Didampingi sahabatnya, Rejo, Ki Wiroseroyo, yang mengenalkan diri dengan sebutan Sunan Ribang Kuning, karena cedal, sebagian besar penduduknya memanggil dengan sebutan Sunan Ki Bang Kuning ini, mulai mengajarkan Islam.


"Kata Kanjeng Raden Rahmat, Kanjeng Adipati akan mengajarkan kepada kami mantra baru yang lebih dahsyat, agar bisa memenangkan sabung ayam," kata satu penduduknya.


"Memang benar. Tapi, yang pertama, jangan panggil saya dengan sebutan Kanjeng Adipati lagi. Panggil saya Sunan Ribang Kuning, karena nama itu pemberian dari Kanjeng Sunan Ampel. Kedua, yang ada bukanlah matra baru, tetapi pengetahuan tentang agama baru. Agama benar, yang mengantar kita menuju surga sebenarnya. Agama yang mengajarkan kita hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah swt," kata Sunan Ribang Kuning.

__ADS_1


Sejak saat itu, usai salat asar, Sunan Ribang Kuning didampingi Sunan Kembang Kuning mengajarkan tentang Islam. Jumlah pemeluknya pun semakin banyak, dan hampir semua penduduknya memilih Islam.


Uniknya, ketika keduanya mendapat pertanyaan-pertanyaan yang sulit mengenai Islam.


Mereka berdua memejamkan mata. Saat itu, seakan terlihat di depan mereka, lembaran-lembaran kitab yang dibuka, saat berada di kamar buku Pesantren Ampel. Mereka tiba-tiba saja, seakan mengerti isi kitab, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.


Selain jemaah takjub atas pengetahuan mereka berdua, dua sunan baru ini sendiri, sebenarnya juga kaget atas kemampuan mereka menjawab pertanyaan sulit, di mana mereka bedua belum pernah mendengar apa jawabnya.


Kian hari, jumlah jemaah yang mengikuti pengajian yang rutin digelar usai salat Ashar ini, kian banyak. Pertanyaan pun kian beraneka ragam. Uniknya, dengan memejamkan mata, Sunan Ribang Kuning maupun Sunan Kembang Kuning bisa menjawab berbagai pertanyaan itu.


Jika jemaah sudah memahami Islam secara lebih dalam, dan ingin belajar mengaji, barulah diarahkan belajar ke Bungkul, yang memang telah mencetak santri yang bisa membaca Alquran.


Satu ketika, saat mengajar mengaji, hadir tamu. Tak lain adalah Kanjeng Sunan Ampel.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Mohon maaf, Bapak Sunan Ribang Kuning dan Sunan Kembang Kuning, kedatangan saya ke sini adalah untuk memenuhi janji saya, yaitu, saya bersedia menjadi menantu Bapak Sunan Ribang Kuning."


"Alhamdulillah. Allahu Akbar."


Usai salat Isya berjamaah, di serambi masjid, dengan disaksikan seluruh jemaah, dilangsungkan pernikahan antara Kanjeng Sunan Ampel dengan Karimah, yang ternyata selalu hadir dalam pengajian yang digelar Bapaknya itu.


Usai akad nikah, Kanjeng Sunan Ampel yang belum pernah bertemu Karimah, dibuat kaget. Ternyata, istrinya masih muda, dan berwajah sangat cantik. Karimah yang tumbuh menjadi remaja ini, hanya menunduk malu, dengan pipi bersemu merah, ketika dipertemukan dengan suaminya.


Esok hari, sepanjang pagi dan siang, digelar walimah di tanah perdikan Ribang Kuning.


Sepanjang hari itu, Sunan Ribang Kuning ditemani Sunan Kembang Kuning yang bungkuk, menerima ucapan dari seluruh penduduk Ribang Kuning dan penduduk Bungkul.


Barulah esok harinya, Karimah diajak ke Pesantren Ampel Denta.


"Bapak Mertua, perkenankan saya mengajak istri saya, Karimah, ke Pesantren Ampel Denta, karena para santri tentu menunggu saya," kata Sunan Ampel.


Sunan Ribang Kuning pun ikhlas melepaskan pengantin baru ini.


Keduanya mencium tangan sang Bapak, dan berpamitan.


"Kakang Ribang Kuning, agaknya kehadiran saya di sini dan menemani kakang mengajarkan Islam di masjid, sudah selesai. Saya ingin mengembangkan dakwah ke pesisir selatan, sebagaimana dititahkan Kanjeng Sunan Ampel," kata Sunan Kembang Kuning, hendak berpamitan juga.


Karena memang mengemban tugas, Sunan Ribang Kuning akhirnya melepas sahabatnya yang bungkuk itu.


Sunan Kembang Kuning pun pamit. Pedang kerajaan Mataram, ikat kepala kuning, bakiak pemberian Sunan Ampel, dan dua potong baju, ditaruh di buntalan, dan diikat di punggungnya yang berpunuk.


Sunan Ribang Kuning dan Sunan Kembang Kuning berpelukan, sembari menangis sesegukan.


"Entah kapan saya bisa datang ke sini lagi. Semoga Allah berkenan memertemukan kita lagi," kata Sunan Kembang Kuning.


Seluruh jemaah masjid dan penduduk Ribang Kuning melepas kepergian Rejo atau Sunan Kembang Kuning hingga hilang di tikungan.


Rejo memilih berjalan tertatih ke selatan terus. Pilihannya adalah kota Singasari.


Sepeninggal sahabatnya, Sunan Ribang Kuning seakan kehilangan kegembiraan. Putrinya dibawa suaminya, sedangkan sahabat sejatinya pergi berdakwah.


Sehari-hari, Sunan Ribang Kuning mempersembahkan hidupnya untuk mengembangkan Islam di masjid dan istana Ribang Kuning. Sunan Ribang Kuning lebih fokus mengajarkan tentang fiqih.


Dan di antara sela-sela mengajar fiqih itu, dia juga mengajak seluruh jemaah di masjidnya untuk bersama-sama pergi ke Bungkul untuk belajar baca tulis Alquran.


Meski Sunan Ribang Kuning adalah salahsatu orang tersakti yang dimiliki Majapahit, dia tak mau mengajarkan kesaktian atau ilmu kemakrifatan kepada para santrinya. Dia selalu mengarahkan kepada Kanjeng Sunan Bungkul, jika ada jemaah atau santrinya yang ingin belajar ilmu kedigdayaan secara Islam. Jika ingin memerdalam ilmu tasyawuf, Sunan Ribang Kuning mengarahkan santri untuk belajar di Pesantren Ampel Denta.


"Bapak dan ibu semua, dulu di sini, sangat terkenal sebagai arena sabung ayam yang paling hebat seluruh kerajaan Majapahit, tapi sekarang, saya ingin Ribang Kuning sebagai wilayah Islami. Kita akan membangun kampung Islam di sini. Perilaku kita harus islami, waktu kita harus digunakan untuk mengenalkan Islam kepada siapapun," kata Sunan Ribang Kuning kepada seluruh jemaah masjidnya.


Sunan Ribang Kuning sendiri, juga dalam gemblengan Sunan Bungkul untuk pelajaran baca tulis Alquran. Sebaliknya, jika Sunan Bungkul kesulitan menjawab masalah fiqih, selalu bertanya kepada Sunan Ribang Kuning.


Keduanya sepakat, menyerahkan jiwa dan raganya kepada Islam. Juga sekiranya ada serangan dari Majapahit atau gangguan dari para begal, yang akan menyerang Pesantren Ampel Denta, mereka akan mempertahankan hingga mencapai kemenangan atau mati syahid.


Karena memang terkenal sakti, tentu kerajaan-kerajaan kecil yang masih beragama Hindu, tak berani macam-macam untuk menyatroni Pesantren Ampel Denta.


Hati Sunan Ribang Kuning barulah bisa bersuka ria, ketika setahun kemudian, dia mendapatkan cucu pertama. Karimah melahirkan putri pertama, yang diberi nama Murtosiyah.


Saat Murtosiyah sudah bisa berbicara cedal, dan bisa berjalan, Sunan Ribang Kuning meminta untuk diasuh, sebagai penyenang hatinya. Kanjeng Sunan Ampel dan Nyai Karimah pun meluluskan permintaan Bapaknya itu.


Sejak saat itu, hari-hari Sunan Ribang Kuning semakin ceria. Selain mengajarkan Islam kepada penduduknya, mengajarkan Islam kepada cucu perempuannya, dia juga suka mengajak cucunya ini jalan-jalan.

__ADS_1


__ADS_2