BODYGUARD SANG SUNAN

BODYGUARD SANG SUNAN
episode 4g: Bertemu Maha Raja Pajajaran Surawisesa


__ADS_3

Beberapa hari setelah dibuka sayembara, memang terlihat beberapa pertapa mulai mendekati telaga darah. Berbagai sesaji disiapkan, termasuk berbagai ubo rampe untuk mengembalikan air menjadi jernih sudah di pasang di setiap sudut, bareng dengan palinggihan yang dibangun warga untuk menaruh sesaji dan membakar dupa.


Rejo terlihat asyik melihat upaya para pertapa ini.


Berbagai gerakan semadi dipraktikkan.


Semua tegang.


Rejo sendiri tak tahu, seberapa besar kekuatan dari kelapa berdesis yang dia buat dengan ilmu warisan Pertapa Wikramawardhana, yang juga raja Majapahit itu.


“Duar!”


Pukulan pertapa yang diarahkan ke telaga, menimbulkan ledakan cukup kencang.


Ledakan ini membuat para penduduk yang ada di sekitar telaga terjingkat. Ada yang berlarian menjauh, ada yang tiarap, ada yang menjura sembah, bahkan ada yang bersujud.


“Persis seperti yang terjadi di telaga segaran dulu,” gumam Rejo.


Yang jelas, Rejo mendapati upaya-upaya para pertapa ini gagal total.


Dan itu yang terjadi di hari-hari berikutnya.


Siliberganti pertapa, pendekar, resi mencoba untuk mengatasi telaga darah ini. Dan semua memang sudah diduga, gagal.


Beberapa hari setelahnya, tak tampak samasekali resi atau pertapa. Yang terlihat hanyalah sampah-sampah bekas sesaji. Atau warga yang meyakini telaga darah ini adalah kutukan dewa, secara rutin melarung sesaji atau membakar dupa di palinggihan.


Sebenarnya, yang ditunggu Rejo hanya satu, yaitu kehadiran Raja di telaga darah ini. Tentunya, jika sudah tak ada yang mampu mengatasi, maka sang Raja Surawisesa yang akan turun tangan sendiri.


Hingga satu ketika, kesempatan itu muncul.


Gelagatnya, sedari subuh, prajurit kerajaan sudah berjaga di sekitaran telaga darah. Bahkan, siapa pun dilarang mendekati telaga darah.


Rejo yang melihat kesempatan ini, segera menyelinap di dekat pohon beringin, lalu memanjat, dan bersembunyi tanpa bersuara di pohon itu. Rejo ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh orang kerajaan Padjajaran.


Ketika matahari sudah meninggi, iring-iringan prajurit mendekati telaga darah. Dan di tengah iringan, ada sosok yang menaiki kuda putih. Sangat gagah dan berwajah tegas.


Gerakannya sangat anggun, dan di depan perutnya, terselip menyamping sebuah gagang senjata terbuat dari gading gajah. Berukir kepala macan.


“Dialah sang raja negeri besar ini,” gumam Rejo yang mengintip dari sela-sela rimbunan daun beringin.


Dan memang begitu adanya, Raja dari sebuah kerajaan besar musuh bebuyutan Kerajaan Majapahit ini, turun dari kuda, dan mulai mendekati telaga.


Matanya menebar ke seluruh penjuru mata angin.


Namun, tatapan matanya lama tertuju ke beringin, di mana Rejo bersembunyi.


Rejo berdegup.


Sang Raja tersenyum.


Lalu, sang raja berjongkok di dekat bibir telaga. Tangannya yang bersih, putih dan terlihat kokoh itu, mulai meraup air darah dari telaga.


“Ini bukan darah. Ini air biasa yang berubah warna saja,” teriak Raja, seakan dia ingin perkataannya didengar oleh orang yang berada di jauhan.


Rejo kian berdegup.


“Saya tahu, ini kerjaan orang Majapahit, karena memang ilmu seperti ini berasal dari sana,” teriak raja lagi.


Para prajurit kaget, dan menjadi ketakutan.


Mereka tak pernah mendengarkan rajanya teriak-teriak, karena raja memang berperangai sangat halus.


Ketika semua prajurit menunduk dan menjura hormat, dan tak ada yang berani menatap raja, sang raja berdiri lalu menatap ke arah beringin.


“Anak muda, saya tahu, engkau bersembunyi di beringin. Keluarlah, buat apa bersembunyi.”


Suara itu muncul begitu saja di dekat telinga Rejo, ditambah dengan terpaan tenaga tak kentara mengarah ke jantung Rejo.

__ADS_1


Ini menandakan sang Raja mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi.


Rejo segera mengatur nafas, agar tak menjadi korban terpaan tenaga dalam ini.


“Mohon ampun, Kanjeng Raja, jika saya lancang dengan bersembunyi di sini,” jawab Rejo, dengan mengerahkan tenaga dalam juga.


Perkataan yang langsung ditujukan kepada telinga sang Raja ini, langsung direaksi oleh Raja, dengan cara melambaikan tangan memanggil.


Rejo mulai waspada.


Jangan-jangan, ketika dia menampakkan diri, bakal ada perintah untuk dihujani dengan anak panah.


“Tidak mungkin anak muda. Saya bukanlah sosok pengecut. Keluarlah dari persembunyianmu. Saya tak mungkin menghujani tamuku dengan anak panah.”


Kata itu terngiang di telinga Rejo. Tapi, kali ini tidak disertai dengan degupan jantung.


Artinya, Sang Raja sudah mengurangi tenaga dalamnya.


Rejo berpikir sejenak, sebelum memutuskan untuk turun dari pohon beringin.


Semua prajurit masih menunduk.


Rejo melangkah dengan menjaga keawasan dan siap bereaksi dengan segala kemungkinan terburuk.


Beberapa langkah, dan sudah memastikan tak akan muncul serangan baginya, Rejo segera berjongkok dan berjalan sambil menghatur sembah ke arah raja.


“Saya tahu, ini ulahmu,” kata sang Raja Surawisesa.


Rejo tercenung, kaget, dan berdebar.


Perasaannya berkecamuk.


Dia tak menyangka, dengan mudahnya sang Raja bisa menebak perbuatannya.


“Anak muda, apa sulitnya bagi saya untuk mencari tahu siapa pelakunya. Sebab, engkau memang berwajah sangat berbeda dengan kami. Kulitmu hitam, dan juga gaya berjalan serta perilakumu persis orang Majapahit. Dan lagi, perbuatan meracuni air kolam memang ciri ilmu dari Raja Wikramawardhana, Raja Majapahit, yang menjadi musuh bebuyutan kami,” kata sang Raja.


“Anak muda, amat mudah bagi saya untuk mengembalikan air kolam ini menjadi jernih lagi. Tidak seperti upayamu dulu, saat engkau menjernihkan lagi air Kolam Segaran di Majapahit. Jadi, buat apa engkau bertarung melawan saya, engkau pasti kalah.”


Rejo berdebar. Tak terasa, mulai muncul rasa takut.


Keringat dingin mulai bercucuran.


“Coba perhatikan,” kata Raja, sambil berjalan menuju ke Telaga Maharena Wijaya.


Raja menarik kujang dari warangkanya.


“Anak muda, ini adalah pusaka kerajaan. Perhatikan.”


Sang Raja mencelupkan ujung kujang ke air telaga.


Tanpa terjadi reaksi apa pun, tapi perlahan air telaga yang berwarna merah darah itu, berubah menjadi kian jernih.


“Anak muda, cerita tentang pertarunganmu di Kolam Segaran sudah saya dengar. Betapa sulitnya bagimu untuk menjernihkan air kolam. Tetapi, begitu mudahnya bagi saya untuk menjernihkan Telaga Maharena Wijaya ini.”


Rejo benar-benar didera ketakutan.


“Tetapi, saya tahu, engkau bukan orang sembarangan. Hanya orang sakti saja yang bisa memerintah harimau. Di sini, macan adalah hewan suci, tingkatannya sedikit di bawah sapi. Dan engkau telah membuktikannya. Saya tahu, macan yang menuruti kemauanmu ada tiga ekor. Itu bukan main-main. Anak muda, coba ceritakan siapa dirimu sebenarnya.”


Rejo menjura hormat.


Keringat dingin masih mengucur.


“Ampun Kanjeng Raja, Perkenalkan nama saya Rejo. Saya adalah murid Resi Hitu Dawiya dari Mataram, dan Resi Swadaraya dari Gunung Tidar. Saya mendapat beberapa ilmu dari Syech Subakir, dan Syech Belabelu.”


“Wow, engkau benar-benar bukan orang kebanyakan. Guru-gurumu adalah orang-orang terhebat di Jawa Dwipa ini. Lalu, tujuan apa sebenarnya engkau sampai datang ke Padjajaran ini?”


“Saya sebenarnya ingin menghilangkan ilmu Resi Swadaraya yang sangat ganas. Untuk itu, saya mencari orang-orang sakti, agar ilmu Gunung Tidar ini bisa menghilang dari diri saya.”

__ADS_1


“Oh.... Jadi engkau adalah Pendekar Gunung Tidar yang terkenal itu? Memang cerita yang sampai ke Padjajaran ini, engkau terkenal sangat bengis dan kejam. Tetapi, bukankah ilmu itu adalah ilmu hebat. Kenapa harus dibuang?”


“Jika saya membunuh, saya tidak pernah sadar. Gerakan demi gerakannya selalu meminta nyawa. Saya tidak suka itu.”


“Lalu?”


“Kata Resi Wikramawardhana, di tlatah Majapahit tidak ada yang bisa menandingi. Saya disarankan menantang bertarung Prabu Siliwangi, atau keturunan, atau Raja Padjajaran. Untuk itu, saya datang ke sini. Ternyata, Paduka sudah bisa mengetahui sebelum saya cerita.”


Raja tertawa halus.


“Anak muda, saya mempunyai ratusan orang suruhan yang selalu mengikuti perkembangan di Majapahit. Jadi, jangan heran jika saya banyak tahu tentang dirimu atau kejadian di Majapahit.”


Rejo tetap menjura hormat.


“Mohon maaf, paduka raja, dikarenakan bertemu di sini, saya dititipi salam untuk paduka, yaitu salam dari Kiai Lembu Areng.”


“Hah?”


Rejo kaget, tapi tetap menunduk.


“Jadi, engkau bertemu Kiai Lembu Areng?”


“Benar, Paduka.”


“Kiai Lembu Areng yang tinggal di kawah Gunung Galunggung itu?”


“Benar, Paduka.”


“Salam beliau saya terima. Coba ceritakan, bagaimana pertemuanmu dengan Kanjeng Kiai Lembu Areng?”


Rejo pun bercerita secara detil, diawali dari perintah dari Syech Belabelu hingga perpisahan dengan Kiai Lembu Areng.


“Anak muda, memang engkau jujur dan apa adanya. Saya melihatmu mempunyai sinar menyilaukan di ubun-ubunmu. Saya akui, saya pernah ingin berguru kepada Kiai Lembu Areng, tetapi saya gagal karena tak bisa memasuki rumahnya, sebuah gua di dalam kawah gunung itu. Engkau memang hebat anak muda. Dan engkau memang pantas menjadi lawan pertarungan. Tetapi, engkau lebih layak sebagai tamuku, karena engkau telah menyebut orang-orang besar di Jawa Dwipa ini. Jadi, saya putuskan, kita tidak perlu bertarung, dan kedudukan kita seri. Saya dengan mudah mengembalikan air Telaga menjadi jernih, tapi saya gagal mendapat pelajaran dari Kanjeng Kiai Lembu Areng. Jadi kedudukan kita seri.”


Rasanya, Rejo ingin mengingatkan, bagaimana dengan kemampuan memerintahkan macan?


Tetapi, sang Raja bisa membaca isi pikiran Rejo.


“Anak muda, persoalan engkau bisa memerintahkan macan, itu tak masuk hitungan. Bagaimana mungkin pertandingan dilakukan, jika salah satunya melihat itu sebagai hal yang tak mungkin? Bagaimana saya harus memerintahkan hewan suci?”


Rejo menunduk.


Akhirnya Rejo memberanikan diri berbicara mengakui kekalahannya.


“Mohon ampun Paduka Raja, atas kelancangan saya. Saya mengaku kalah di hadapan Paduka Raja. Memang benar kata Resi Wikramawardhana, Tanah Padjajaran dipenuhi orang-orang sakti. Saya mengakui Paduka Raja sangat sakti.”


Sang Raja Surawisesa mendekati Rejo.


Ditepuk pundak Rejo.


“Raja bertitah, Engkau, Rejo, orang Majapahit, bukanlah musuh, tapi engkau menjadi tamu Raja. Engkau akan dilayani layaknya tamu, dan mari kita ke istana. Ajak juga tiga macan yang menjadi temanmu itu. Nanti, setelah istirahat, ceritakan semua pelajaran yang engkau dapat dari Kanjeng Kiai Lembu Areng.”


Maka, rombongan raja pun balik ke Istana, dan air telaga Maharena Wijaya, sudah kembali jernih. Buah kelapa berdesis, sudah mengambang tanpa berdesis lagi.


Rejo tampak malu-malu berjalan di antara rombongan raja.


Sang Raja memilih menunggu, ketika Rejo berpamitan untuk menjemput tiga macan temannya di hutan.


Akhirnya, rombongan ini pun berjalan menuju ke istana, bersama tiga macan.


Sepanjang jalan, penduduk Padjajaran bersimpuh dan menjura hormat kepada Raja, termasuk kepada tiga macan yang berjalan perlahan itu.


Di istana, Rejo dijamu sebagai tamu agung. Meski begitu, demi menghormati agama Islam yang dianut Rejo, semua bentuk masakan daging dihilangkan. Cara memasak pun dengan peralatan baru. Ini demi menghormati Rejo, yang mengatakan memakan daging **** adalah dilarang.


Beberapa minggu Rejo tinggal di istana Padjajaran. Antara Raja dan Rejo saling bertukar ilmu, hingga dua orang pilitanding ini, sama-sama menguasai berbagai ilmu masing-masing.


Saat berpamitan untuk kembali ke Majapahit, tiga macan teman Rejo memilih tetap tinggal di lingkungan istana. Mereka mendapat perlakuan istimewa dari istana. Seakan tahu diri, tiga macan ini menjadi jinak.

__ADS_1


__ADS_2